Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Situs Perkampungan Zaman Mataram Kuno Kembali Digali

TEMANGGUNG--MICOM : Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan eskavasi tahap kedua pada temuan Situs Perkampungan Zaman Mataram Kuno Abad ke X di Dusun Liangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.

Pada eskavasi tahap kedua ini diturunkan sebanyak sembilan personel yang tergabung dalam Tim Penelitian Situs Liangan. Eskavasi sudah dilakukan sejak sepekan terakhir. Dalam pekerjaannya, tim dibantu warga sekitar untuk melakukan penggalian, serta membersihkan situs.

"Setidaknya ada lima titik yang kami gali dalam eskavasi tahap kedua ini. Dua titik di antaranya dengan menelusuri pagar candi ke arah barat sampai 80 meter karena ini belum ketemu ujungnya. Kalau yang ke arah timur sudah ketemu ujungnya," terang Ketua Tim Penelitian Situs Liangan, Sugeng Riyanto, Sabtu (16/6).

Selanjutnya, titik ketiga penggalian, katanya, dengan menelusuri tangga halaman candi dimana ada dua saluran air. Kemudian pihaknya mencari di balik jalan, lalu menemukan tangga dan selasar lagi. Hanya saja pihaknya belum mengetahui selasar tersebut akan sampai mana.

"Untuk titik ke empat, kita telusuri struktur boldes atau batu-batu bulat. Kemungkinan itu pagar atau talut. Sedangkan titik galian kelima, kita telusuri pagar luar,"katanya.

Situs tersebut ditemukan pertama kali oleh para penambang galian C akhir 2008 lalu. Pada 2011, Balai Arkeologi melakukan eskavasi tahap pertama terhadap situs tersebut.

Pada penggalian kedua ini, ia memprediksi adanya temuan baru karena dimungkinkan ada lebih dari satu candi. Indikasinya, di seberang sungai juga ditemukan arca-arca candi lagi. (TS/OL-9)

MediaIndonesia

Posted in: Arkeologi,Situs

#Tag : Arkeologi Situs

Pelajari Kapal Selam Hitler, Peneliti RI Kurang Dana

Penelitian lebih dalam baru bisa dilakukan mulai tahun 2015.

Kapal selam U-Boot milik Jerman yang karam [foto ilustrasi]
Ilustrasi
Ketua Tim Peneliti Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas) Priyatno Hadi mengatakan penemuan kapal selam tentara Nazi era Hitler di perairan Karimun Jawa, Jepara Jawa Tengah, patut disyukuri. Hal itu membuktikan kemampuan peneliti Indonesia di mata internasional.

"Selama ini hanya peneliti asing yang sering mencuat. (Temuan) ini menjadi bukti bahwa peneliti kita sebenarnya juga mampu," ujar Priyatno kepada VIVAnews, Rabu 20 November 2013.

Pembuktian itu makin penting dalam kondisi penelitian RI yang masih terbatas dalam hal anggaran. Priyatno mengatakan, kemungkinan studi lebih dalam kapal selam Hilter itu baru bisa dilakukan pada tahun 2015.

"Riset kami sangat tergantung dengan APBN. Untuk 2014, anggaran kami belum siap untuk mendalami riset ini," jelas Priyatno. Namun, dia belum bisa menyebut berapa perkiraan anggaran yang terpakai untuk mempelajari kapal selam Jerman itu.

Menurutnya, temuan ini juga menjadi momentum bagi Pusat Arkenas untuk mengambil alih penelitian arkeologi bawah laut. Karena sejak hampir tiga dekade riset arkeologi laut di bawah kendali Direktorat Peninggalan Bawah Laut Kementerian Keluatan.

"Dulu, riset seperti ini dipegang Arkenas. Tapi, pada tahun 1986 diambil alih institusi lain. Nah, yang penting saat ini pusat Arkenas punya tugas baru, yaitu menangani arkeologi bawah laut," kata dia.

Ia menceritakan penghentian penelitian arkeologi bawah laut oleh Arkenas disebabkan raibnya tim peneliti Arkenas saat melaksanakan riset. "Peneliti kami tak ditemukan saat meneliti di perairan Riau. Sejak 1986 makanya berhenti total," Priyatno mengisahkan.

Sebagaimana diketahui, peneliti Pusat Arkenas berhasil menemukan bangkai kapal selam U-Boat jenis U-168 beserta jasad awaknya. Kapal era Hilter itu berukuran panjang 76 meter dan garis tengah 4,9 meter. Saat ditemukan, kapal itu dalam kondisi rusak.(eh)

  ● Vivanews

Posted in: Arkeologi,Ilmu Pengetahuan

Arkeolog temukan sisa candi abad ke-14 di Badung

Ilustrasi--Dua peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar melakukan pengukuran di bekas-bekas candi yang ditemukan di Kelurahan Penatih, Denpasar, Selasa (23/10). Arkeolog memperkirakan candi tanpa ukiran tersebut dibangun abad 13 sampai 15 Masehi. (ANTARA/Nyoman Budhiana) ★

Arkeolog dari Balai Besar Arkeologi Denpasar, Bali, menemukan tumpukan sisa-sisa candi yang dibangun pada abad ke-14 di Pura Gelang Agung, Banjar Buangga, Kecamatan Petang, Badung.

Kepala Balai Besar Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa di Mangupura, Senin, menjelaskan peneliti menemukan tumpukan batu padas yang tersusun rapi di kedalaman satu hingga 1,5 meter di tiga titik galian.

Tumpukan batu padas pertama ditemukan menjulur dari bawah bangunan pura, tepat di depan gedong arca di lokasi tersebut, dan yang kedua ada di sisi timur gedong arca.

Di tempat penggalian terakhir di sisi timur pura, di samping tembok panyengker atau pembatas, juga ditemukan beberapa tumpukan batu padas.

"Di galian ketiga ini banyak batu padas dalam kondisi tidak utuh," ujarnya.

Suarbhawa menduga ada yang merusak tumpukan batu padas itu. "Tim juga menemukan banyak batu padas rusak karena diambil oleh masyarakat sekitar untuk pembangunan tembok panyengker," ujarnya.

Para arkeolog belum bisa mengetahui bentuk candi tersebut. Saat ini para peneliti masih fokus melakukan pengukuran dan mengumpulkan data.

"Saat ini kami fokus mendata, mengukur dan mendokumentasikan setiap temuan," katanya.

Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan 18-31 Maret 2016 itu merupakan lanjutan dari penemuan arca, uang kepeng, sarkopagus dan tumpukan batu padas di tempat yang sama. Ia menambahkan penelitian di lokasi penggalian sementara dihentikan dan akan dilanjutkan lagi tahun depan.

  ★ antara

Posted in: Arkeologi,Artikel,Ilmu Pengetahuan

1.500 Artefak Akan Dikembalikan Belanda ke RI

Kunjungan PM Belanda di Jakarta PM Belanda, Mark Rutte memberikan keris ke Presiden Jokowi di Istana, Rabu (23/11/2016). [Biro Pers Setpres] ☆

Kedatangan PM Belanda, Mark Rutte ke Indonesia membawa kabar baik terkait peninggalan benda-benda bersejarah. Belanda berencana mengembalikan ribuan artefak ke Indonesia.

"Sekarang saya ingin mempersembahkan sebuah keris kepada Tuan Presiden, ini dari koleksi besar artefak-artefak Indonesia di Delft," ujar Rutte di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2016).

Rutte lalu memberikan sebilah keris kepada Presiden Jokowi. Namun keris itu tak dibuka sehingga tak tampak ada berapa luk atau lekuknya.

Rutte menyebut keris itu peninggalan zaman Nusantara. Keris yang tak disebutkan namanya itu dibawa ke Belanda di masa lalu dan kini kembali lagi ke Tanah Air.

"1.500 artefak akan dikembalikan ke Indonesia dan keris ini sebagai simbolisasi," sebut Rutte.

Nantinya Dimuseumkan

Pemerintah Belanda akan mengembalikan 1.500 artefak peninggalan Nusantara. Artefak-artefak itu tadinya tersimpan di Museum Nusantara yang terletak di Delft, Belanda.

"Jadi kan ada museum, Museum Nusantara di Delft yang akan ditutup. Oleh karena itu Belanda memang berniat untuk menyumbangkan berapa item, tadi disebutkan ada 1.500 item kepada pemerintah Indonesia," ujar Menlu Retno Marsudi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2016).

Diwawancara terpisah, Mendikbud Muhadjir Effendi mengapresasi niat pemerintah Belanda mengembalikan artefak. Benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi.

"Saya belum dapat info yang cukup, tapi itu suatu hal yang bagus, memang banyak artefak yang disimpan di sana," kata Muhadjir.

Meski hal ini berkaitan dengan Ditjen Kebudayaan yang ada di bawah Kemdikbud, tetapi Muhadjir belum tahu bagaimana teknis nantinya. Dia akan melakukan kunjungan ke Belanda dahulu untuk pembahasan lebih lanjut.

"(Disimpan) di museum nantinya, museum yang sesuai dengan artefaknya. Misal di Perpustakaan Nasional kalau itu dalam bentuk buku-buku lama, kan banyak sekali dari Leiden segala itu," kata Muhadjir. (bpn/hri)

PM Belanda Berterima Kasih ke RI karena Bantu Cari 3 Bangkai Kapalnya

Tiga bangkai kapal perang Belanda Hr.Ms. De Ruyter, Hr.Ms. Java dan Hr.Ms. Kortenaer yang ada di dasar Laut Jawa hilang. Namun Indonesia bersedia untuk membantu mencari keberadaan bangkai-bangkai kapal tersebut.

"Terima kasih kepada Indonesia yang telah menawarkan bantuan setelah kami mendengar kabar menyedihkan tentang bangkai kapal yang hilang," kata PM Belanda Mark Rutte usai pertemuan dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (23/11/2016).

Rutte menyatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Indonesia terkait pencarian ini. Dia juga ingin segera mengetahui apa penyebab hilangnya bangkai kapal itu.

Hilangnya ketiga bangkai kapal itu juga menyita perhatian nasional di Belanda pada Rabu (16/11) lalu. Perwakilan dari Yayasan Taman Makam Pahlawan setempat, Theo Vleugels mengaku heran bagaimana bisa kapal sebesar itu bisa hilang.

Ketiga kapal perang Belanda Hr.Ms. De Ruyter, Hr.Ms. Java dan Hr.Ms. Kortenaer tenggelam pada 'Pertempuran Laut Jawa 1942' dalam upaya membendung invasi Jepang dari arah Jawa Timur. Seluruh 1.174 prajurit Angkatan Laut Belanda gugur termasuk komandannya, Laksamana Muda Karel Doorman.

Laksamana Muda Karel Doorman kini diangkat sebagai pahlawan nasional, namanya diabadikan sebagai nama kapal dan menjadi nama jalan di berbagai kota di Belanda. (bag/rvk)

  ☠ detik

Posted in: Arkeologi,Artikel,Ilmu Pengetahuan