Sangkuriang II, Bakal Gusur Popularitas Lele Dumbo?
Ikan leleREPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Kota Sukabumi berhasil mengembangkan lele unggulan yang diberi nama Sangkuriang II.Instansi yang berada di bawah Kementerian dan Kelautan (KKP) tersebut berhasil menemukan varietas ikan lele unggulan, Sangkuriang pada 2004 lalu. Ikan lele sangkuriang merupakan jenis varietas baru menggantikan lele dumbo.Pada 2012 ini, ikan lele sangkuriang satu pun akan dikembangkan genetiknya agar lebih baik. Proses perbaikan genetik dilakukan dengan menyilangkan pejantan lele Sangkuriang I keturunan ke enam (F6) dengan lele betina keturunan kedua (F2) dari Sungai Nil, Afrika. Hasil perkawinan lele ini dinamai Lele Sangkuriang II.‘’Perkembangan lele terbaru lebih cepat,’’ terang Kepala BBPBAT, M Abduh Hidajat, kepada wartawan, Ahad (5/2). Produksi ikan lele Sangkuriang I normalnya sekitar 130 hari dengan bobot rata-rata sekitar 250 gram. Sedangkan Sangkuriang II bisa lebih cepat dari itu.Ukuran dan bobot Sangkuriang II bisa lebih besar dari Sangkuriang I. Hal ini dimungkinkan karena induknya yang dari Afrika mempunyai berat hingga tujuh kilogram. Keunggulan lainnya dapat dilihat dari rasa ikan yang lebih nikmat dibandingkan sebelumnya.Saat ini, ikan lele Sangkuriang II tengah uji multilokasi di sejumlah daerah. Pengujian dilakukan di sentra lele yaitu Kabupaten Bogor, Jawa Timur, dan Yogyakarta.Hasil pengujian nantinya akan memberikan gambaran pasti terkait lama perkembangan dan ukuran lele. Jika berhasil dikembangkan di daerah, maka Sangkuriang II segera diluncurkan pemerintah pusat sebagai varietas baru lele.Abduh mengatakan, pengembangan Sangkuriang II diharapkan mampu meningkatkan kualitas ikan lele di Indonesia. Selain itu menjadi potensi budidaya rakyat yang menjanjikan. Selama ini, benih Sangkuriang I saja telah disebar ke seluruh Indonesia, bahkan hingga ke Provinsi Papua.Luasnya penyebaran Sangkuriang I dipengaruhi tingginya permintaan. Terlebih, warga yang mengembangkan budidaya Lele Sangkuriang mulai meningkat.Munculnya varietas lele Sangkuriang II ternyata sejalan dengan perkembangan budidaya ikan air tawar di Sukabumi. Pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir budidaya ikan lele lebih marak dibandingkan dengan jenis ikan tawar lainnya.‘’Budidaya ikan emas mulai tergusur lele dan nila,’’ terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi, Dedah Herlina. Fenomena ini salah satunya disebabkan adanya potensi pasar yang cukup besar.Dedah menerangkan, pengembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Sukabumi belum tergarap maksimal. Pasalnya, potensi perikanan air tawar yang tergarap baru sekitar 30 persen saja. Luasan areal perikanan ikan air tawar mencapai sekitar 6.000 hektare.• REPUBLIKA.CO.ID
Posted in: Budidaya,Fauna
Ditemukan, Populasi Pesut di Kalimantan Barat
Keberadaan pesut di kawasan perairan tersebut belum pernah diketahui sebelumnya.Populasi pesut (irrawaddy dolphin), ditemukan di Kalimantan
Barat. (ykrasi.110mb.com)
VIVAnews - Tim survei WWF Indonesia, bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut Pontianak berhasil mempelajari dan mendokumentasikan keberadaan populasi Orcaella brevirostris, atau pesut, atau lumba-lumba air payau. Mereka ditemukan di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.
• VIVAnews
Posted in: Fauna
Selain spesies yang dalam bahasa Inggris disebut juga dengan Irrawaddy dolphin, tim peneliti juga menemukan satu kelompok Sousa chinensis atau lumba-lumba putih atau lumba-lumba punggung bungkuk di perairan tersebut. Temuan ini mengindikasikan tingginya keanekaragaman hayati ekosistem air payau di perairan sebelah barat Pulau Kalimantan itu.“Keberadaan pesut di kawasan perairan tersebut belum pernah diketahui sebelumnya, sehingga studi awal ini merupakan langkah menggembirakan,” kata Albertus Tjiu, ahli konservasi satwa dari WWF-Indonesia yang terlibat secara aktif dalam survei itu, dalam keterangan resminya, 7 Februari 2012.Menurut Albert, ditemukannya populasi pesut tersebut mengindikasikan pentingnya peningkatan upaya perlindungan habitat satwa air tersebut, baik di hulu maupun hilir sungai. Termasuk hutan bakau dan nipah di selat-selat sempit di perairan di Pulau Kalimantan.Sebagai informasi, ancaman utama populasi pesut di perairan itu di antaranya adalah konversi hutan mangrove yang menjadi habitat satwa tersebut untuk bahan baku industri arang. Degradasi habitat hutan sekitar perairan untuk bahan baku bubur kertas (pulp) komersial, aktivitas lalu lintas air yang tinggi dan dapat menimbulkan stres bagi satwa, serta tercemarnya air sungai merupakan ancaman lain.“Pelaku usaha yang beroperasi di sekitar perairan itu harus menerapkan praktik pengelolaan usaha yang ramah lingkungan atau best management practices serta memperhatikan sumber-sumber bahan bakunya agar tidak mengancam kelestarian hutan bakau dan perairan tersebut pada umumnya,” kata Albert.Di seluruh dunia, sebenarnya ada dua spesies pesut yakni Orcaella brevirostris dan Orcaella heinsohni (Snubfin dolphin). Perairan-perairan di Indonesia sendiri umumnya dihuni oleh Populasi Orcaella brevirostris.Diperkirakan, populasi tertinggi pesut terdapat di perairan hutan bakau Sundabarn, Bangladesh dan India dengan populasi sekitar 6.000 ekor. Adapun populasi lainnya terdapat di Sungai Mekong Kambodia yaitu sekitar 70 ekor, kemudian di Sungai Ayeyawardi di Myanmar dan Sungai Mahakam Kalimantan Timur.Ketiga lokasi ini dikategorikan memiliki populasi paling kritis (Critically Endangered), sedangkan lainnya dikategorikan sebagai rentan (Vulnerable).“Perairan Kubu Raya dan Kayong Utara habitat pesut berada di hilir kawasan Heart of Borneo yang berada di wilayah Indonesia. Kelestarian hutan di daerah hulu sungai juga menjadi faktor yang sangat penting demi terpeliharanya ekosistem air tawar di bagian hilir di mana terdapat habitat pesut,” kata Tri Agung Rooswiadji, Koordinator Konservasi Air Tawar WWF-Indonesia pada kesempatan yang sama.“Ekosistem perairan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Sebagai spesies yang hidup di dua jenis perairan, tawar dan asin, pesut dapat menjadi spesies indikator yang mengindikasikan sehat atau tidaknya ekosistem perairan tersebut,” lanjut Tri Agung.Temuan terkait populasi dan habitat satwa ini diharapkan dapat menentukan langkah-langkah serta kebijakan yang dibutuhkan untuk perlindungan populasi dan lingkungan di sekitarnya. “Survei di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara ini merupakan survei awal, kami berharap akan ada survei lanjutan di sungai-sungai di bagian hulu seperti Sungai Kapuas, Sejenuh dan Mendawa,” kata Tri Agung.Kris Handoko Kepala Seksi Konservasi dan Pemanfaatan BPSPL Pontianak mengatakan bahwa pihaknya mendukung dilakukannya kajian lebih lanjut mengenai spesies pesut ini dan siap bekerjasama dengan berbagai pihak untuk terlaksananya monitoring dan program konservasi mamalia unik itu.Sebagai gambaran, sejak 2009 hingga saat ini, WWF-Indonesia, BPSPL dan sejumlah mitra lain telah melakukan kajian mengenai populasi dan habitat pesut di Kalimantan yaitu di Sungai Sesayap Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur. Habitat di Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat sendiri mulai dipantau sejak Oktober 2011. (umi)
Badak Jawa di Ujung Kulon Tinggal 35 Ekor
Berdasarkan hasil monitoring pada 2011, dia melanjutkan, populasi badak Jawa diperkirakan kurang dari 60 ekor, dengan 35 ekor yang sudah teridentifikasi. Untuk mengantisipasi kepunahan habitat badak Jawa ini, pengelola TNUK melakukan langkah intensif melalui program JRSCA (Javan Rhino Study and Conservation Area), dengan berupaya meningkatkan jumlah populasi badak Jawa.
“Kami perluas habitat binatang ini, juga melakukan penelitian komprehensif tentang badak Jawa,” ucapnya.
Program nasional pemerintah, Dodi melanjutkan, pada 2015 menargetkan populasi badak Jawa menjadi 75 ekor. Upaya lain untuk menjaga populasi ini yakni memonitoring secara terus-menerus badak Jawa melalui video tracking.
Meski demikian, Dodi mengaku terdapat kendala dalam proses ini. Ia mengeluhkan minimnya jumlah kamera pemantau yang ada.
“Kamera kurang dari 40 buah. Ini menjadikan kami harus bagi dalam dua blok,” ujarnya.
Idealnya, dibutuhkan 120 kamera pemantau untuk semua areal hutan lindung ini. Kamera dipasang di hutan selama 8 sampai 9 bulan.
Soal metode monitoring lain, seperti chip pemantau, ia mengatakan memang selama ini wacana itu sudah berkembang. Namun, terbentur pada adaptasi teknologi yang masih mahal. (art)
“Misalnya pemasangan radio collar yang dipantau oleh satelit, masih perlu pre-riset dahulu dan persetujuan para ahli,” ujarnya.
• VIVAnews
Posted in: Fauna,Ilmu Pengetahuan
IPB diminta siapkan ahli silvikultur handal

Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor diminta semaksimal mungkin untuk mempersiapkan ahli-ahli silvikultur yang handal.
"Usulan menanam kembali agar hutan kita lestari, budi daya bagaimana membangun hutan secara `well manage` menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli silvikultur," kata staf pengajar Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Dr Ir Supriyanto melalui kantor Humas IPB, Minggu.
Menurut dia, hutan di Indonesia terbagi pada hutan negara dan hutan rakyat, di mana keduanya membutuhkan ahli silvikultur dimaksud.
Ia mengemukakan, mengapa Indonesia perlu banyak tenaga ahli silvikultur, karena tenaga mereka dibutuhkan untuk dapat membangun hutan-hutan di Indonesia dengan manajemen yang baik.
Supriyanto memberi contoh bahwa luas hutan negara yang mencapai 130 juta hektare, ternyata 43 juta hektare di antaranya belum terjamah.
Di samping itu, kata dia, praktik pembalakan liar (ilegal logging), juta telah mengakibatkan rusaknya hutan-hutan yang ada.
"Karena itulah ahli silvikultur sangat dibutuhkan," katanya.
Sementara itu, staf pengajar Fahutan IPB lainnya Dr Ir Ricky Avensora MScF mengatakan, pengembangan "integrated silvopastural" diyakini mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 persen per tahun, serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri.
"Dalam konteks teknis, jika saja ada satu kabupaten di provinsi yang kaya seperti di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kalimantan Timur, dalam tiga tahun mau fokus menggunakan Rp500 juta/tahun dari anggaran belanja mereka untuk mengembangkan `integrated silvopastural` misalnya, akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun," katanya.
Dalam pandangan Ricky Avenzora, dengan pengembangan "integrated silvopastural" tersebut, maka secara matematis mudah dihitung dan diyakini bahwa pada akhir tahun ketiga di sebuah kabupaten tersebut, akan mampu mempunyai industri peternakan.
Ia mengemukakan, berbagai turunan industri hilirnya setidak-tidaknya mampu mengurangi 20 persen angka pengangguran, nyata ataupun terselubung, di kabupaten tersebut per tahun.
Selain itu, juga akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri pada akhir tahun keenam.(A035/N005)
• ANTARA News
Posted in: Fauna,Flora,IPB
Indonesia kembangkan udang windu tahan virus
Makassar (ANTARANews) - Peneliti Indonesia tengah mengembangkan bibit udang windu (Penaeus monodon) yang tahan penyakit terutama serangan virus sindrom bintik putih (white spot syndrome virus/WSSV).
"Saat ini telah berhasil dikembangkan bibit indukannya. Nantinya indukan ini akan diuji tingkat daya tahannya terhadap penyakit setelah berusia 18-24 bulan," kata Andi Parenrengi, peneliti yang menjadikan temuan ini sebagai bahan desertasinya.
Menurut Andi, bila penelitian ini berhasil dan terbukti bisa menjadi bibit unggul udang windu yang tahan WSSV, besar kemungkinan Indonesia akan kembali bisa menjadi produsen udang yang terbesar di dunia.
Udang windu, atau yang juga dikenal dengan sebutan giant tiger, adalah varietas udang asli Indonesia. Udang jenis ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi, terutama di pasar ekspor.
Namun akibat serangan WVVS yang demikian masif, banyak usaha tambak udang windu yang gulung tikar dan petambak pun beralih memelihara udang putih atau udang vaname (Pennaeus vannamei).
"Meskipun banyak petambak yang berhenti membudidayakan udang windu, kami tetap menjadikan penelitian bibit unggul udang windu tahan virus ini sebagai salah satu fokus pengembangan karena udang jenis ini adalah khas Indonesia," kata Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP), Dr. Rachmansyah di Maros, Sulawesi Selatan.
Masih menurut Rachmansyah, selain pengembangan bibit unggul, BPPBAP juga berhasil mengembangkan teknik Elisa untuk mendeteksi WSSV yang lebih cepat dan lebih murah di lapangan daripada uji di laboratorium.(E012)
♣ ANTARA News
Posted in: Fauna,Ilmu Pengetahuan
Setelah 120 Tahun, Badak Sumatra Akhirnya Melahirkan

Setidaknya dalam 120 tahun terakhir belum ada kelahiran badak secara alamiah di tempat hidup alaminya di dunia ini.
| Badak cula dua (sumber: Antara) |
Setelah ratusan tahun ditunggu-tunggu masyarakat dunia, Ratu, induk betina badak Sumatra bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) melahirkan seekor anak badak jantan pada Sabtu dini hari.
Induk badak yang berlokasi di penangkaran Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Kabupaten Lampung Timur, ini sudah hamil 15-16 bulan. Sekitar pukul 01.00 WIB Sabtu dini hari, seekor bayi badak jantan dalam kondisi sehat, begitu pula dengan induknya.
Kini keduanya dalam pengawasan ketat untuk menjaga kondisi satwa langka itu tetap terjaga. Namun belum diperoleh informasi secara resmi dari pihak Yayasan Badak Indonesia (YABI), Kementerian Kehutanan maupun Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) serta pengelola SRS TNWK.
Kelahiran badak bercula dua ini sangat ditunggu-tunggu dan menjadi catatan sejarah di dunia mengingat setidaknya dalam 120 tahun terakhir belum ada kelahiran badak secara alamiah di tempat hidup alaminya di dunia ini.
Populasi badak Sumatra yang ada di alam saat ini kian menurun. Jumlahnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 200 ekor, sedangkan yang ada di luar habitat alaminya hanya tersisa 10 ekor (empat di TNWK, tiga di Sabah Malaysia, dan tiga ekor di Amerika Serikat).
TNWK berdiri sejak tahun 1998 merupakan tempat penangkaran badak Sumatra dalam upaya melindungi kelestarian populasi badak Sumatera di dunia.
Terdapat empat ekor badak di penangkaran ini, satu ekor jantan yang didatangkan dari Amerika Serikat (badak Andalas), dan tiga ekor betina (Bina, Ratu, dan Rosa).
♣ BeritaSatu
Posted in: Fauna,Ilmu Pengetahuan
Nama Anak Ratu Badak : Andatu

Ratu (12) seekor induk badak Sumatera (dicerorhinus sumatrensis) menemani anaknya berjenis kelamin jantan yang baru berusia beberapa hari di penangkaran semi alami Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Senin (25/6). ANTARA/M Agung Rajasa
TEMPO.CO , Way Kambas- Bayi badak buah perkawinan antara Ratu dan Andalas kini sudah memiliki nama. Andatu, begitu pengelola Suaka Rhino Sumatera (SRS) Way Kambas memberi nama bayi badak yang tampak sehat itu. “Kondisinya mulai stabil. Sejak kemarin Ratu tidak mau jauh dari anaknya yang masih belajar berjalan dengan baik,” kata Dedi Chandra, ketua Tim Dokter yang membantu proses kelahiran Ratu, Senin 25 Juni 2012.
Andatu merupakan kombinasi nama antara Andalas, badak jantan Sumatera kelahiran Cincinnati, Amerika dan Ratu, badak betina asli hutan Way Kambas, Lampung. Andatu sudah mulai menyusu dengan lancar. Dia terus bermanja-manja di dekat kepala ibunya yang terlihat masih lemah. “Kami belum berani mendekat. Hanya memantau dari jarak lima meter dari kandang,” katanya.
Kedua badak itu kini masih ditaruh di kandang satu (paddock) berukuran 30 kali 30 meter untuk mengisolasi dari tiga badak lainnya. Tidak hanya itu, petugas pun tidak sembarangan mengijinkan orang untuk mendekat. Bahkan petugas di Taman Nasional Way Kambas juga tidak bisa masuk ke areal penangkaran.
Penjagaan super ketat itu untuk mencegah penularan penyakit dan virus masuk ke areal penangkaran. Sejumlah jurnalis yang hendak meliput harus mendapat pemeriksaan dari petugas delapan kilometer sebelum masuk areal penangkaran. “Ini peristiwa langka sehingga harus hati-hati,” kata Manajer Fasilitas SRS Sumardi.
Andatu lahir pada hari Sabtu pukul 00.45 WIB, 22 Juni 2012 lalu dengan sehat. Saat ini tim dokter masih terus mengawasi dan merawat induk dan anak badak secara intensif. Keduanya diawasi secara langsung dan melalui layar monitor di kantor pengamatan SRS yang berjarak seratus meter dari kandang Ratu dan Andatu.
Menurut Sumardi, untuk melihat induk dan anak badak secara langsung, tidak boleh dilakukan beramai-ramai. Kedua badak Sumatera itu tidak boleh kaget oleh suara dan gerakan makhluk asing. Pengelola penangkaran juga memasang pagar kawat yang dialiri listrik untuk mencegah binatang liar dari hutan masuk ke kawasan itu. “Induk dan bayi harus steril dari penyakit yang dibawa oleh binatang lain seperti virus kutu babi,” katanya. [NUROCHMAN ARRAZIE]
♣ TEMPO.CO
Berikut Foto yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan
Posted in: Fauna
Harimau Sumatera Korban Perburuan Dirawat Di TSI Bogor
Bengkulu (ANTARA News) - Seekor harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) betina bernama Dara yang menjadi korban perburuan liar di kawasan hutan Bengkulu, dibawa ke Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
"Sesuai perintah Menteri Kehutanan yang sudah mengunjungi Dara beberapa waktu lalu agar dirawat di TSI, jadi hari ini kami pindahkan ke Bogor," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Amon Zamora di Bengkulu, Senin.
Harimau betina yang diperkirakan berusia empat hingga lima tahun itu, diangkut menggunakan pesawat dari Bandara Fatmawati.
Dara ditemukan dalam kondisi terluka parah pada pertengahan Februari, akibat jerat pemburu liar di kawasan Hutan Produksi Terbatas Air Rami, Kabupaten Mukomuko. Jari kaki harimau Sumatera ini nyaris putus.
Tim penyelamat terpaksa mengamputasi jari kaki Dara. Harimau itu dirawat di BKSDA Bengkulu dengan fasilitas seadanya dan kondisinya kini berangsur-angsur membaik.
Dokter satwa liar BKSDA Bengkulu, Erni Suyanti mengatakan, Dara telah menjalani tiga operasi untuk mengamputasi jari kaki. Harimau ini kehilangan tiga jari kaki kanan depan dan empat jari kaki kiri depan.
"Operasi ketiga terhadap Dara dilakukan bekerja sama dengan dokter asal Perancis yang membantu pendanaan operasi," katanya.
Untuk pemulihan lukanya, Dara perlu mendapat perawatan lanjutan yang diharapkan dapat diperoleh dari TSI.(KR-RNI/F002)
♣ ANTARA News
Posted in: Fauna
Peneliti Indonesia temukan dua spesies katak baru
Jakarta (ANTARA News) - Peneliti Indonesia mengidentifikasi dua spesies katak baru yang dinamai Leptobrachium ingeri dan Leptobrachium kanowitense dalam penelitian yang dilakukan di Belitung (Indonesia) dan Sarawak (Malaysia) mulai tahun 2008 sampai 2012.
Hasil penelitian Amir Hamidy dari Museum Zoologicum Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bersama koleganya dari Kyoto University, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan University of Malaya tersebut dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa tanggal 24 Juli lalu.
Dalam surelnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, Amir yang sedang belajar di Kyoto University mengatakan, L. ingeri teridentifikasi dalam penelitian di Belitung dan daerah pesisir Sarawak sementara L. kanowitense di bagian daratan Sarawak.
"Kata 'ingeri' pada L. ingeri merupakan nama yang saya dedikasikan untuk Prof. Dr. Robert F. Inger dari Field Museum Chicago. Beliau adalah pakar herpetology di Asia Tenggara, terutama Pulau Borneo," kata Amir, penulis utama hasil studi tersebut.
Sedang kata "kanowitense" pada L. kanowitense dipilih mengacu pada Kota Kanowit di Sarawak, dimana L. kanowitense ditemukan, tambahnya.
Ia menjelaskan, karakter gen kedua spesies baru itu berbeda dengan spesies katak yang lain. Pada katak, jarak genetik minimal tiga persen sudah bisa dikatakan berbeda spesies.
"Kami melihat jarak genetik antara katak jenis L. nigrops, L.ingeri dan L. kanowitense sangat besar, lebih dari sembilan persen," kata dia.
Secara morfologi, lanjut dia, jenis katak baru itu juga punya bentuk ujung jari tangan dan kaki, posisi selaput di kaki, dan warna tympanum (bagian telinga), serta warna ventral yang khas.
Amir menjelaskan pula bahwa dari karakter Deoxyribonucleic acid (DNA) bisa diketahui bahwa L. ingeri, L. kanowitense, dan L. nigrops (bukan jenis baru) dahulunya satu nenek moyang.
"Karena perubahan iklim dan perubahan permukaaan air laut pada masa silam, beberapa pulau seperti Borneo, Sumatra dan yang lainnya terpisah dari Asia daratan. Saat pemisahaan itu terjadi isolasi populasi nenek moyang masing-masing jenis tersebut. Setelah terpisah masing-masing jenis berevolusi menjadi jenis yang sekarang," katanya.
Dalam jurnal Zootaxa para peneliti menyebutkan, nenek moyang L. kanowitense tampaknya telah menginvasi Pulau Borneo jauh lebih awal dibandingkan dengan moyang L. ingeri, yang penyebarannya terjadi selama periode glasial Pleistosen.
Menurut Amir, saat ini L. ingeri menghuni daerah Belitung dan pesisir Sarawak dan L. kanowitense hidup di Kota Kanowit, Sarawak. Sementara L. nigrops bisa ditemukan di Semenanjung Malaya, Sarawak dan pantai timur Sumatra (Riau).
Namun peneliti belum tahu pasti populasi jenis-jenis katak itu dan apakah jenis katak baru itu endemis di daerah tersebut.(M035)
Sumber : Antara
Posted in: Fauna,Ilmu Pengetahuan
Dua Bayi Harimau Sumatera Langka Ditemukan
Dua bayi Harimau Sumatera itu dalam kondisi kurus dan dehidrasi berat.
| Dua bayi Harimau Sumatera ditemukan di Jambi |
Dua bayi Harimau Sumatera, ditemukan empat orang warga Pancoran, Desa Ladang Panjang, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi, Jambi. Diperkirakan umur bayi harimau ini dua bulan, dan diketahui berjenis kelamin betina.
"Kedua anak harimau ini ditemukan ketika empat petani ingin menuju kebunnya di perbatasan Jambi-Bayung Lincir (Sumatra Selatan) pada Minggu 2 September 2012," ujar Kepala Seksi Wilayah III, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Nurasman, Senin 3 September 2012.
Dijelaskannya, keempat warga yang menemukan dua bayi harimau itu adalah Doni, Ulin, Simin dan Udin. "Setelah mereka menemukan kedua anak harimau ini sempat dikandangkan semalam di rumah salah satu warga," kata dia,
Dikarenakan warga mengetahui Harimau Sumatera dilindungi, maka tokoh masyarakat setempat mengambil inisiatif melaporkan penemuan bayi harimau ini ke aparat kepolisian Polsek Sungai Gelam. Tidak menunggu lama, setelah mendapat laporan dari warga, jajaran Polsek Sungai Gelam langsung berkoordinasi dengan BKSDA Jambi.
"Mendapat laporan, kami (BKSDA) langsung melakukan evakuasi kedua anak harimau ini. Posisinya sementara dititipkan di kebun binatang Taman Rimba, Jambi untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," ujar Nurasman lagi.
Dikatakannya, kedua anak harimau itu sementara akan dirawat hingga kondisinya membaik hingga bisa dilepas ke alam bebas. Lokasi penemuan bayi harimau itu, kata dia sudah lama terkenal banyak jejak harimau, karena lokasinya dekat dengan kawasan HPH maupun Taman Nasional Berbak (TNB).
Tidak hanya itu, di kawasan Sungai Gelam juga beberapa kali pernah terjadi konflik harimau dengan manusia. Puncaknya, antara 2009-2010 terjadi konflik hingga mengakibatkan beberapa warga meninggal dunia.
Sementara itu, dokter hewan di kebun binatang Taman Rimba, Jambi, Melina mengatakan, kedua bayi Harimau Sumatera itu dalam kondisi kurus dan dehidrasi berat. "Diperkirakan sudah ada satu minggu dua bayi harimau ini dalam kondisi kurang makan minum. Hal ini terlihat dari tubuhnya yang sangat kurus," ujarnya.
Selain itu, kata dia, salah satu harimau juga mengalami hipotermia atau di bawah suhu normal. Dari pengecekan, pernafasan kedua harimau juga dalam kondisi berat akibat kekurangan cairan. "Untuk mengembalikan kondisi tubuhnya butuh waktu. Untuk itu, kami sudah memberikan cairan infus, selimut dan susu hangat. Mudah-mudahan kedua bayi harimau ini cepat membaik," tambahnya.
Berdasarkan data BKSDA Jambi, populasi harimau Sumatera di Jambi diperkirakan antara 300-400 ekor. Kondisi harimau Sumatera di Jambi terancam punah akibat perdagangan ilegal, pembalakan liar hingga konsesi kawasan hutan secara berlebihan.
© VIVA.co.id
Posted in: Fauna
Harimau Putih Kebun Binatang Surabaya Ditemukan Mati
Surabaya -- Koleksi harimau putih Kebun Binatang Surabaya berkurang. Harimau putih bernama Shanti diketahui mati pada Sabtu sore.
Humas Kebun Binatang Surabaya, Antan Warsito mengatakan, Shanti ditemukan mati sekitar pukul 15.30 WIB di kandangnya. Ia juga mengatakan, Shanti adalah harimau yang menderita kelumpuhan.
"Shanti lumpuh sejak dahulu, mati di kandang setelah habis diberi makan," katanya.
Menurut dia, selama ini Shanti mengalami kelumpuhan pada tulang pinggul yang tidak berkembang selama tiga tahun. Mayat Shanti sendiri, lanjut dia, sudah diautopsi dan telah dibakar pada Sabtu sore ini.
Namun demikian, lanjut dia, pihaknya belum mengetahui hasil autopsi Shanti.
Dengan demikian, lanjut dia, koleksi satwa Harimau Putih di KBS yang semula ada tujuh ekor, kini menjadi enam ekor.
( Republika )
Posted in: Fauna
Warga pergoki harimau berkeliaran di sekitar permukiman
Warga di beberapa desa di Kecamatan Lubuksandi, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, cemas karena sering memergoki harimau berkeliaran di sekitar kebun dan permukiman mereka.
"Sejak beberapa pekan terakhir kami sering memergoki harimau melintas pada jalan ke kebun bahkan di belakang pondok," kata seorang warga Lubuksandi, Surahmin kepada antara di Bengkulu, Sabtu (20/10).
Meskipun belum mengakibatkan korban manusia atau ternak, katanya, keberadaan harimau itu mengganggu kegiatan sehari-hari masyarakat seperti ke kebun dan ladang.
Biasanya, katanya, warga berani ke kebun sendirian, namun setelah ada harimau di sekitar itu, setiap ke kebun harus lebih dari satu orang.
Beberapa waktu lalu, kata dia, warga berhamburan pulang dari sungai karena dekat tempat mandi warga tersebut, ada harimau menyeberang, sedangkan warga sebagian besar mandi di sungai tersebut.
"Kami sudah melaporkan masalah tersebut ke kepala desa dan camat, namun belum ada petugas turun ke lapangan," katanya.
Seorang pedagang bahan pokok keliling Rizki membenarkan bahwa ada harimau berkeliaran melintas di jalan umum setempat.
"Kami sudah beberapa kali memergoki harimau tersebut saat pulang dari pekan di kawasan eks-tambang batu bara daerah itu," ujarnya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Anggoro Dwi Pujiarto melalui Kepala Bagian Tata Usaha Sumarsono mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan dari lapangan akan keberadaan harimau tersebut.
Beberapa desa daerah itu berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi Taman Buru sehingga bisa saja ada harimau berkeliaran untuk mencari makan.
"Kami mengimbau kepada warga daerah itu untuk selalu siaga dan berhati-hati, tim BKSDA akan turun ke lokasi," ujarnya.(mdk/yan)
© Merdeka
Posted in: Fauna
Macan Tutul Masuk Pemukiman Warga
Warga Desa Kalapa Gunung dibuat geger dengan adanya seekor macan tutul yang turun gunung dan masuk ke perumahan warga Desa setempat, Selasa (16/10/2012). Saat ini, macan tutul ini masih terperangkap di halaman belakang rumah salah seorang warga. Polisi pun masih berupaya melumpuhkan sang macan.
Berdasarkan informasi Kuningan News dilapangan menyebutkan, sekira pukul 06.00 WIB, macan tutul ini ditemukan pertamakalinya oleh salah seorang anak warga Desa Kalapa Gunung. Karena ketakutan, Ia langsung berteriak sehingga memicu perhatian warga lain.
"Awalnya sih macan itu sedang duduk-duduk di dekat rumah warga. Ketika kami mengepungnya, macan itu loncat ke atas rumah. Kemudian terperangkap ke rumah milik bu Rukiah," kata Jejen salah seorang warga kepada Kuningan News di lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, aparat masih berusaha melumpuhkan macan ini. Ratusan warga yang penasaran pun masih berkumpul diluar rumah Rukiah, menunggu hingga macan dilumpuhkan.(dan)
Macan Tutul Berhasil Dilumpukan
Hampir selama 7 jam sejak terperangkap di kandang ayam milik warga Desa Kalapagunung, Kecamatan Kramatmulya, seekor macan tutul yang diduga berasal dari hutan kawasan Gunung Ciremai akhirnya berhasil ditangkap petugas, Selasa (16/10/2012) siang pukul 13.00 WIB.
Dengan peralatan suntik bius, petugas yang didatangkan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Barat, dibantu aparat kepolisian berhasil mengeluarkan macan tutul tersebut dari kandang ayam dan dimasukan ke dalam kerangkeng untuk kemudian dibawa ke Mapolres Kuningan.
Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jawa Barat, Drs Rajendra Supriadi kepada puluhan wartawan mengatakan, pihaknya akan membawa satwa liar tersebut ke balai konservasi satwa di Garut. Hal itu penting dilakukan mengingat keberadaan satwa jenis macan tutul ini dilindungi undang-undang.
“Kita lihat saja nanti apakah akan dikembalikan lagi ke hutan atau seperti apa. Yang jelas satwa ini dilindungi dan akan menjalani rehabilitasi di balai konservasi satwa yang ada di Garut,” kata Rajendra.
Diungkapkannya, baru kali ini pihaknya mengetahui jika ada satwa berjenis macan tutul masuk pemukiman warga di wilayah perkotaan, sehingga dirinya pun sedikit curiga jika satwa tersebut merupakan hewan peliharaan.
“Sudah banyak kami menangkap satwa dalam keadaan mati yang lari dari hutan dan berada di wilayah pemukiman warga. Tapi biasanya pemukiman warganya juga berada di wilayah dekat kaki gunung. Kalau disini (Desa Kalapagunung, red) kan di kota. Tapi saya belum bisa menyimpulkan karena itu bukan kewenangan kami, ada petugas Gunung Ciremai disini,” ungkap Rajendra. (muh)
@ Kuningannews
Posted in: Fauna
Berkeliaran di Kampung, Macan Tutul Ditangkap Warga
Kondisi macan sedang sakit. Tim BKSDA Cianjur tengah memeriksanya.
Seekor macan langka jenis Panthera Pardus atau lebih dikenal sebagai macan tutul ditangkap warga di Bojong Picung, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis dinihari, 8 November 2012. Macan itu sempat membuat warga panik.
Kepala Badan Konserfasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Isis Iskandar, saat melihat macan tersebut berkeliaran di kampung, warga menjadi panik. Warga kemudian menghubungi polisi setempat.
Rencana penangkapan pun dibuat. Macan tutul itu akhirnya berhasil dijerat. Kemudian dimasukkan ke dalam kandang besi sederhana dan diamankan di kantor Polsek setempat.
"Kondisi macan kelihatannya sedang sakit. Jam 10.00 WIB akan dibawa ke Polres Cianjur," kata Isis. Sementara itu, pihak BKSDA sedang memeriksa kondisi macan itu. Memastikan kesehatan dan jenis kelaminya. Ini penting untuk proses penyelamatan selanjutnya.
Setelah penangkapan macan tutul tersebut, tim BKSDA terus melakukan patroli sejak pagi tadi. Petugas patroli hutan berkeliling di pegunungan sekitar. Patroli ini untuk melihat kondisi habitat dan kemungkinan lain yang menyebabkan macan tutul ini turun ke perkampungan. (umi)
© VIVA.co.I'd
Posted in: Fauna
Tiga Ekor Gajah Ditemukan Mati di Riau
Riau - Tiga ekor gajah kembali ditemukan mati di kawasan Taman Nasional (TN) Tesso Nilo dekat jalan koridor Basrah PT RAPP-perbatasan Kabupaten Pelalawan dan Kuansing Riau, Ahad (11/11).
Aktivis WWF Riau Syamsidar yang dikonfirmasi Riau Pos Online (JPNN Grup), Ahad pagi tadi (11/11) menjelaskan, ketiga gajah yang ditemukan mati ini semuanya jenis kelamin betina terdiri dari gajah induk, dewasa, dan anak.
Warga menemukan matinya gajah ini diperkirakan tiga hari atau lima hari lalu namun informasi tentang matinya gajah ini baru menyebar sejak Sabtu kemarin (10/11) hingga Ahad ini (11/11).
Menurut Syamsidar, bangkai ketiga gajah ini ditemukan mati berpencar di dalam kawasan hutan tanaman industri Akasia PT RAPP di koridor Basrah. Posisi gajah mati itu dengan gajah lainnya ditemukan berjarak sekitar 200 meter hingga 300 meter, mati berpencar-pencar.
Dulu sebelumnya, seekor gajah jantan Sumatera ditemukan mati di Taman Nasional Tesso Nilo pada 11 Oktober 2012 lalu. Kematian ini menambah daftar panjang kematian gajah di blok hutan Tesso Nilo. Hingga kini, di blok hutan Tesso Nilo terjadi sebelas ekor gajah mati dari Maret hingga November 2012. Sementara itu tiga ekor lainnya terjadi di tiga kabupaten lainnya di Riau.
Otopsi terhadap gajah tersebut dilakukan oleh tim medis dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau bersama dengan kepolisian dan WWF. Sampel organ bagian dalam seperti hati dan limfa gajah ini diambil dan dikirim ke laboratorium veteriner di Bukittinggi dan Bogor.
Dari data yang dikumpulkan di lapangan, diduga gajah ini mati mengkonsumsi makanan yang mengandung racun. Umumnya dari pengalaman warga di lapangan, gajah suka memakan bagian pucuk tanaman kelapa sawit, atau kulit luar tanaman akasia atau tanaman karet karena makanan lain tak banyak tersedia di habitatnya kini hutannya mulai menyempit sementara sebaliknya kawasan kebun sawit, karet, akasia, kakao makin luas.
Nasib gajah Sumatera tahun 2012 tidak menjadi lebih baik padahal tahun 2011 lembaga konservasi internasional IUCN telah meningkatkan status keterancaman satwa ini dari genting menjadi kritis yang berarti satu langkah menuju kepunahan. Lemahnya penegakan hukum terhadap kematian gajah menjadi penyebab terus terjadinya kematian gajah tersebut. Hingga
Oktober 2012, baru satu kasus kematian gajah-gajah tersebut yang mulai diproses yakni kematian gajah di Taman Nasional Tesso Nilo yang terjadi pada 31 Mei 2012.
Radaimon, Ketua Forum Masyarakat Tesso Nilo sangat menyayangkan gajah-gajah di Tesso Nilo terus mengalami kematian. Radaimon mengatakan kehilangan habitat alami di Tesso Nilo karena perambahan masif menjadi salah satu penyebab rangkaian kematian gajah-gajah tersebut. Oleh karena itu penanganan perambahan di Tesso Nilo menjadi hal yang mutlak untuk dilakukan guna menekan angka kematian gajah tersebut.
Ia menambahkan, penegakan hukum terhadap kematian gajah-gajah tersebut harus pula dilakukan agar dapat membuat efek jera agar tidak lagi terjadi pembunuhan terhadap gajah-gajah.
Dari 2004 hingga Oktober 2012 ini menurut catatan WWF terjadi 91 ekor gajah mati di Riau yang sebagian besar disebabkan karena konflik dan perburuan. Ditambah kematian tiga ekor gajah ini maka sejak 2004 hingga November 2012 ini sudah 94 ekor gajah mati di Riau.
Dari angka tersebut hanya satu kasus yang diproses secara hukum yakni kematian gajah karena perburuan di Rokan Hulu pada Agustus 2005. Penegakan hukum terhadap kematian gajah harus diintensifkan untuk menekan kematian gajah di Riau. Pemerintah juga diharapkan dapat mengambil langkah nyata dan segera untuk perlindungan habitat gajah yang semakin mendesak.(azf/rul)
© JPNN
Posted in: Fauna
Menteri LH: Diklaim India, Kasuari Punya Indonesia
Pemerintah akan perjuangkan Kasuari masuk kekayaan hayati Indonesia.
| Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya |
India mengklaim burung Kasuari sebagai keanekaragaman hayati milik mereka. Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengaku heran dengan klaim sepihak negara tersebut.
Kasuari merupakan salah satu hewan endemik yang hidup di Pulau Papua dan sekitarnya. Termasuk beberapa jenis hidup juga di Australia. "Saya juga kasih tahu ke Menteri Lingkungan India, mereka tidak bisa klaim Kasuari milik mereka. Itu kami juga punya burung itu," kata Kambuaya yang asli Papua usai Rapat Koordinasi Nasional Gerakan Indonesia Bersih di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin 12 November 2012.
Meski begitu, pendataan keanekaragaman hayati internasional belum menyentuh inventaris satwa-satwa setiap negara. Oleh karena itu, menurutnya, Pemerintah harus berjuang agar India tidak mengklaim sendiri Kasuari milik mereka.
"Karena kan kita juga punya Kasuari. Itu di kehutanan dan segala macam isinya kita perlu inventarisasi yang baik lagi, terutama mengenai hewan-hewan ini. Soalnya kita juga promosi itu, bahwa Kasuari kita punya," ujarnya.
Salah satu tindak lanjut untuk memperjuangkan agar Kasuari dan hewan endemik Indonesia lainnya diinvetarisasi sebagai keanekaragaman hayati Indonesia adalah dengan memperjuangkannya di konferensi tingkat internasional. "Di konferensi internasional biodiversity tahun depan, di situ kami akan perjuangkan agar Kasuari itu masuk sebagai daftar hewan Indonesia," kata Kambuaya.
Ratifikasi Nagoya Protocol
Sebelumnya, Kambuaya juga meminta DPR agar serius meratifikasi Nagoya Protocol guna menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Dia berharap proses ratifikasi itu bisa selesai di awal tahun depan. “Itu milik kita. Jelas Indonesia harus aktif menjaganya," katanya.
Untuk informasi Indonesia memiliki kekayaan akan keanekaragaman hayati. Saat ini kekayaan jenis mamalia sebanyak 515 jenis, kupu-kupu 121 Jenis, jenis burung 1519 jenis, dan kekayaan jenis amfibi sebanyak 270 jenis.
Namun ironisnya, dari jumlah itu, sebanyak 68 spesies dinyatakan kritis terancam punah, 69 spesies kritis endangered dan kategori rentan 517 spesies.
Khusus untuk Kasuari merupakan salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia dan juga menjadi fauna identitas provinsi Papua Barat. Burung besar ini memiliki tiga jenis (spesies), yaitu Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus), Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius), dan Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti).
Burung Kasuari juga merupakan salah satu hewan endemik yang hanya hidup di Pulau Papua dan sekitarnya. Kecuali Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) yang dapat juga ditemukan di benua Australia bagian timur laut. (eh)
© VIVA.co.id
Posted in: Fauna
Kuskus Berbisa Ditemukan di Kalimantan
Racun itu sangat kuat dan bisa menyebabkan alergi Anaphylaxis yang berujung kematian
Jakarta � Sejumlah peneliti dari Inggris dan Amerika Serikat berhasil menemukan spesies kuskus baru di Kalimantan. Uniknya kuskus jenis baru itu mempunyai racun atau bisa pada gigitan mereka.
Kuskus baru yang dinamai Nycticebus kayan itu baru dikenali saat ini, karena kebiasaan mereka yang aktif pada malam hari.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Anna Nekaris dari Oxford Brookes University, Inggris dan Rachel Munds dari University of Missouri, Columbia, Amerika Serikat itu menemukan kuskus beracun itu hidup di hutan Kalimantan dan Filipina.
Yang membedakannya dari kuskus lain yang sudah dikenali sebelumnya, Nycticebus kayan punya pola garis wajah yang menyerupai topeng, dengan mata dikelilingi oleh bulu hitam sementara dahinya berpola lebih variatif.
Racun yang ditemukan pada kuskus ini menjadikannya satu-satunya primata yang mempunyai gigitan berbisa. Racun itu diproduksi oleh kelenjar di bawah siku mereka.
Untuk menggunakan bisanya itu Nycticebus kayan akan menjilat dan mencampurnya dengan ludah mereka. Bisa itu lalu digunakan ketika berburu dan dilumuri pada bulu anak-anak mereka. Cara itu diduga untuk melindungi anak-anaknya dari para predator.
Racun itu sangat kuat dan bisa menyebabkan alergi Anaphylaxis yang berujung kematian.
Penelitian itu juga membuktikan bahwa setidaknya terdapat empat spesies kuskus di Kalimantan dan Filipina yang masing-masing punya pola wajah yang berbeda satu sama lain.
Sebelumnya ilmuwan hanya mengenal satu jenis spesies kuskus yang dinamai Nycticebus managensis. Tetapi penelitian itu mengungkap bahwa Nycticebus bancanus dan Nycticebus borneanus - yang tadinya dikira subspesies dari Nycticebus managensis - adalah spesies baru yang berbeda.
"Artinya di Kalimantan khususnya, yang menjadi tempat asal dari tiga spesies baru ini, akan bertambah lagi spesies kuskus yang terancam punah di daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature)," kata Nekaris.
Selain di Kalimantan dan Filipina, ada juga empat jenis kuskus yang berhabitat di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Hasil penelitian mereka dipublikasikan di American Journal of Primatology.
● Berita Satu

Posted in: Fauna
Spesies baru burung hantu ditemukan di Indonesia
Aktivis pencinta burung mengatakan burung ini sudah diketahui sejak 1896
Sebuah spesies baru burung hantu ditemukan di pulau Lombok dan dinamakan burung hantu Rinjani, sesuai lokasi habitatnya.
Keberadaan spesies ini pertama kali diketahui oleh George Sangster seorang ahli burung dari Museum Sejarah Alam Swedia pada 2003, berdasarkan suaranya yang unik.
Burung ini memiliki "suara teritorial" yang menandakan daerah kekuasaan dan berbeda dari burung hantu lainnya.
Setelah melakukan pembuktian ilmiah selama 10 tahun, Sangster memastikan burung hantu ini adalah spesies baru. Hasil penelitiannya diterbitkan di jurnal sains Plos One.
"Saya terkejut bahwa identitas burung ini tersembunyi sekian lama dari dunia sains," kata Sangster seperti dilaporkan kantor berita Associated Press.
'Bukan sosok asing'
Namun menurut seorang juru bicara dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), keberadaan burung hantu Rinjani telah diketahui sejak abad ke 19.
"Sejatinya burung ini bukan sosok asing bagi para ilmuan karena pertama kali ditemukan naturalis Inggris, alfred Everett pada Mei 1896 dan sempat diduga masuk ke dalam keluarga Celepuk [burung hantu] Maluku yang tersebar di Maluku dan Nusa Tenggara," kata Rahmadi, juru bicara Burung Indonesia pada BBC Indonesia.
"Hanya waktu itu belum diketahui bahwa ia adalah jenis tersendiri karena selain dugaan burung ini juga ada di tempat lain, untuk itu kan harus melalui penelitian sendiri baik morfologi, bentuk, ukuran dan suara," tambahnya.
Indonesia memiliki 1596 jenis burung dari 10.000 jenis burung yang ada di dunia.
Rahmadi mengatakan Burung Indonesia berharap temuan ini dapat menjadi motivasi untuk merawat hutan yang merupakan habitat alami burung liar.
"Penemuan ini memberikan peneguhan pada kita bahwa konservasi alam penting karena Celepuk Rinjani adalah jenis burung yang sangat bergantung pada hutan dan habitatnya, artinya keberadaannya di hutan alami, karena itu demi kelestariannya kita harus menjaga hutan-hutan di Indonesia sehingga burung-burung di dalamnya bisa dilindungi dan dilestarikan," kata dia
• BBC

Posted in: Fauna
Harimau Sumatera Terjerat
Petugas evakuasi harimau korban jerat
Ilustrasi - Harimau sumatera (panthera tigris sumatrae). (FOTO ANTARA/Irsan Mulyadi)
Bengkulu | Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu menyelamatkan dan mengevakuasi seekor harimau Sumatera (Phantera tigris Sumatrae) yang terkena jerat di sekitar Desa Talang Sebaris Kabupaten Seluma, Bengkulu.
"Kondisi harimau betina itu cukup memprihatinkan dengan luka cukup parah karena jerat," kata Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Bengkulu, Jaja Mulyana di Bengkulu, Kamis sore.
Ia mengatakan, keberadaan harimau korban jerat itu diketahui dari informasi warga setempat kepada petugas BKSDA.
Warga yang mengetahui harimau terkena jerat tidak berani mendekat karena khawatir satwa terancam punah itu akan menyerang.
"Setelah menerima laporan itu kami langsung menurunkan petugas ke lokasi dan membawa kerangkeng," katanya.
Atas upaya petugas, harimau dapat dilepaskan dari jerat dan dimasukkan ke kerangkeng untuk upaya penyelamatan.
"Luka di bagian kepala dan kakinya cukup parah sehingga perlu pengobatan intensif, jadi kami bawa ke Bengkulu," tambahnya.
Saat ini harimau terluka itu sudah berada di Kantor BKSDA Bengkulu untuk mendapatkan perawatan dari dokter satwa BKSDA.(KR-RNI/Z002)
Kondisi harimau sumatera terjerat makin membaik
Harimau sumatera yang terjerat perangkap di Sumatera. Menurut survei, 11 harimau sumatera tewas di tangan pemburu liar atau dibunuh warga terkait konflik harimau-manusia. (FOTO ANTARA/FB Anggoro)
Bengkulu | Balai Konservasi Sumber Daya Alam menilai, konsisi harimau sumatera terkena jerat warga yang berhasil dievakuasi pekan lalu kondisinya makin membaik, setelah sempat stres berat.
"Namun berdasarkan saran dokter hewan setempat, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) itu memerlukan perawatan lebih intensif ke rumah sakit hewan," kata Kepala BKSDA Bengkulu, Anggoro Sujatmiko, Rabu.
Ia mengatakan, harimau betina yang diberi nama Tesa itu sekarang mengalami salah satu urat kaki belakang terjepit diduga akibat benturan saat kena jerat belum lama ini.
Sekarang dua kaki belakang hewan dilindungi itu terancam lumpuh meskipun kodisi kesehatannya mulai membaik dan memerlukan perawatan ronsen di rumah sakit hewan.
"Kewajiban kita mengusulkan agar harimau itu bisa di-rontgen supaya bisa mengetahui penyakit dideritanya, terutama pada bagian kaki belakangnya," katanya.
Masalah menetukan lokasi rosen itu tergantung perintah pusat rumah sakit hewan mana yang mau dirujuk, sehingga harimau itu betul-betul kembali sehat.
Sekarang proses pengobatan harimau betina itu dalam tahap penyembuhan dan tinggal dua kaki belakangnya yang belum normal, bila tidak cepat dironsen dikhawatirkan bisa lumpuh, ujarnya.
Kepala Tata Usaha BKSDA Bengkulu, Supartono, mengatakan, harimau itu setelah kena jerat berhasil masuk kerangkeng yang umpannya seekor kambing dan beberapa ekor ayam.
Berdasarkan hasil pemeriksaan pertama saat kondisi harimau itu makin lemas ada beberapa hal pemicu yaitu pada lehernya terluka cukup serius dan membusuk bahkan sudah berulat.
"Saat sudah dalam kerangkeng harimau itu membawa seutas tali diduga jerat dan masih terlilit dilehernya, selain itu, terdapat luka bagian lutut kaki belakang sebelah kanan, kondisinya lemah dan tidak nafsu untuk minum air," ujarnya.
Harimau betina itu berhasil dievakuasi dari wilayah Desa Talang Sebaris, Kecamatan Airpriukan, Kabupaten Seluma, Bengkulu, Kamis (21/2). (*)
● Antara

Posted in: Fauna
Gajah Kerdil Kalimantan Makin Terancam
Gajah Kalimantan sedang menyeberangi sungai di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Foto: WWF Kaltim
Jakarta | Populasi gajah kerdil Kalimantan makin terancam. Habitat gajah berukuran kerdil yang terletak di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, bakal dikonversi menjadi hamparan tanaman karet, jabon, dan sengon. Padahal habitat gajah berada dalam kawasan Jantung Borneo (Heart of Borneo).
Konversi lahan akan dilakukan oleh PT. Borneo Utara Lestari (PT. BUL) dan PT. Intracawood Manufacturing (PT. IWM). Dua perusahaan hutan tanaman industri itu saat ini telah mengantongi izin prinsip dan sedang melakukan anasilis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) untuk proses izin usaha hutan tanaman industri.
Agus Suyitno, Staf WWF-Indonesia Program Kalimantan Timur untuk Mitigasi Konflik Gajah-Manusia, mengatakan, penerbitan izin hutan tanaman industri di areal habitat gajah akan berdampak negatif bagi masyarakat setempat. Jika kawasan tersebut dibuka, gajah liar akan kekurangan pakan alami.
"Akibatnya, gajah akan mencari makan di permukiman masyarakat sehingga memicu terjadinya konflik," kata Agus dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 1 Maret 2013. Menurutnya, pembangunan hutan tanaman industri oleh PT. BUL dan PT. IWM akan memperparah konflik gajah dan manusia yang sudah terjadi sejak 2005.
Kekhawatiran senada juga disampaikan Camat Tulin Onsoi, Santifil Oslo. Menurut Santifil, AMDAL perusahaan tidak sesuai dengan fakta lapangan. Sebab, kawasan calon hutan tanaman industri berada pada habitat gajah kerdil, meski terletak di Kawasan Budidaya Kehutanan. "Areal tersebut jangan dibuka, risikonya besar dan biayanya tinggi," katanya.
Analisis yang dilakukan WWF-Indonesia menunjukkan sekitar 66 persen kawasan yang diusulkan untuk dikonversi oleh PT. BUL dan seluruh kawasan yang diusulkan PT. IWM merupakan habitat gajah kerdil. Atas dasar itu, konversi habitat satwa liar untuk pembangunan hutan tanaman industri semestinya tidak dilakukan karena dapat mengganggu populasi gajah kerdil. Apalagi, kata Agus, sebaran gajah kerdil hanya sampai di Kecamatan Tulin Onsoi.
"Semestinya dihentikan operasinya atau dibatalkan izinnya," Agus menegaskan. Konversi habitat juga bertentangan dengan Permenhut No.P44/Menhut-II/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi untuk Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan.
IUCN mengelompokkan gajah kerdil Kalimantan ke dalam kategori genting kritis. Hasil penelitian WWF-Indonesia dan BKSDA Kalimantan Timur pada 2007-2012 memperkirakan populasi gajah kerdil hanya berada di kisaran 20-80 ekor.
Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) dijuluki gajah kerdil karena ukuran tubuhnya relatif paling kecil di antara subspesies gajah lainnya di dunia. Masyarakat Dayak Agabag di Tulin Onsoi menyebut gajah ini dengan sebutan "Nenek". Mereka menganggap mamalia berbelalai ini satwa sakral yang tidak boleh diganggu atau dimusuhi.
Ilay, wakil ketua adat besar Sungai Tulid--salah satu kawasan yang menjadi wilayah jelajah gajah kerdil--menolak tegas konversi lahan menjadi hutan tanaman industri. Ia mengatakan di wilayah tersebut terdapat hutan adat. "Jika hutan kami dibuka lagi, "Nenek" akan marah dan pasti sering datang ke kampung dan memakan tanaman kami," kata dia.
Risiko konflik gajah dan manusia terus diupayakan di daerah itu. BKSDA Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Nunukan, dan WWF-Indonesia membentuk satuan tugas mitigasi konflik gajah yang beranggotakan masyarakat dari 11 desa di Kecamatan Tulin Onsoi. Satuan tugas bertugas mencegah dan menanggulangi konflik gajah dengan manusia. Upaya ini mulai manampakkan hasil karena intensitas kunjungan gajah ke permukiman masyarakat kini semakin menurun.
● Tempo

Posted in: Fauna