Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Flora. Tampilkan semua postingan

Peneliti: pohon jambu bisa berbuah cengkeh

"Tekhnologinya cukup sederhana, antara lain jambu yang sudah relatif besar dipotong dahannya, setelah bertunas muda langsung disambungkan dengan pucuk cengkeh. Setelah 21 hari entris akan menyatu, maka akan muncul sebatang cengkeh yang siap berbuah cengkeh," kata Rasmi R, di Padang, Rabu.

Menurut dia, penyambungan pohon jambu --yang dimanfaatkan sebagai batang bawah-- itu dengan pucuk cengkeh, nantinya akan memproduksi cengkeh tanpa repot-repot menanam dari awal.

Sedangkan buah cengkeh sendiri, katanya, bernilai komersial karena merupakan salah satu komoditas non migas berskala ekspor ketimbang buah jambu.

"Cengkeh atau `eugenia aromatica` merupakan tanaman yang berasal dari pulau Zanzibar ini pernah menjadi primadona pada hasil perkebunan di Indonesia," katanya, namun kini pamor cengkeh relatif menurun lebih disebabkan oleh monopoli tataniaga, kuota dan serangan hama atau penyakit tanaman.

Ia mengakui dengan merosotnya komoditi cengkeh, penelitian terhadap komoditas itu juga menjadi tidak menarik, mulai dari budidaya, hama dan penyakit.

Hal ini, katanya lagi, juga dipengaruhi adanya kecenderungan penelitian dilakukan pada hal-hal terkini atau yang menjadi populer.

Sementara tanaman jambu sendiri juga masuk genus eugenia dan famili eugenaceae. Genus ini memiliki banyak spesies seperti eugenia jambula (jambu ), eugenia sp (jambu keling) dan jambu air (eugenia sp. ), daun salam dan lainnya.

Setiap spesies ini mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri. Mulai dari ketahanan terhadap tekanan lingkungan, kemampuan adaptasi yang tinggi, ketahanan terhadap hama, penyakit serta pertumbuhan yang cepat.

"Sebagai dasar dalam ilmu budidaya tanaman dan ilmu biologi menjelaskan bahwa tanaman yang satu genus bisa dilakukan penyambungan (enten ), tempelan (okulasi ), susuan dan lain-lain," katanya.

Karena itu pilihan dalam melakukan rekayasa budidaya ini tergantung dengan keahlian yang dimiliki karena mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri.

Sedangkan jambu yang paling tinggi daya tahannya adalah jambu keling, yang buahnya berwarna hitam kalau sudah tua yang ukurannya sebesar ibu jari tangan.

"Tanaman ini banyak tumbuh di daerah padang alang-alang Kabupaten Solok, walau sudah puluhan kali terbakar di bawahnya dia tetap hidup dan batangnya relatif besar. Kalau jambu air juga cukup banyak tumbuh liar di lereng tebing, tepi sungai, dan Ngarai Sianok Bukittinggi," katanya.(F011)

ANTARA News

Posted in: Flora,Ristek

#Tag : Flora Ristek

IPB diminta siapkan ahli silvikultur handal

Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor diminta semaksimal mungkin untuk mempersiapkan ahli-ahli silvikultur yang handal.

"Usulan menanam kembali agar hutan kita lestari, budi daya bagaimana membangun hutan secara `well manage` menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli silvikultur," kata staf pengajar Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Dr Ir Supriyanto melalui kantor Humas IPB, Minggu.

Menurut dia, hutan di Indonesia terbagi pada hutan negara dan hutan rakyat, di mana keduanya membutuhkan ahli silvikultur dimaksud.

Ia mengemukakan, mengapa Indonesia perlu banyak tenaga ahli silvikultur, karena tenaga mereka dibutuhkan untuk dapat membangun hutan-hutan di Indonesia dengan manajemen yang baik.

Supriyanto memberi contoh bahwa luas hutan negara yang mencapai 130 juta hektare, ternyata 43 juta hektare di antaranya belum terjamah.

Di samping itu, kata dia, praktik pembalakan liar (ilegal logging), juta telah mengakibatkan rusaknya hutan-hutan yang ada.

"Karena itulah ahli silvikultur sangat dibutuhkan," katanya.

Sementara itu, staf pengajar Fahutan IPB lainnya Dr Ir Ricky Avensora MScF mengatakan, pengembangan "integrated silvopastural" diyakini mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 persen per tahun, serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri.

"Dalam konteks teknis, jika saja ada satu kabupaten di provinsi yang kaya seperti di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kalimantan Timur, dalam tiga tahun mau fokus menggunakan Rp500 juta/tahun dari anggaran belanja mereka untuk mengembangkan `integrated silvopastural` misalnya, akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun," katanya.

Dalam pandangan Ricky Avenzora, dengan pengembangan "integrated silvopastural" tersebut, maka secara matematis mudah dihitung dan diyakini bahwa pada akhir tahun ketiga di sebuah kabupaten tersebut, akan mampu mempunyai industri peternakan.

Ia mengemukakan, berbagai turunan industri hilirnya setidak-tidaknya mampu mengurangi 20 persen angka pengangguran, nyata ataupun terselubung, di kabupaten tersebut per tahun.

Selain itu, juga akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri pada akhir tahun keenam.(A035/N005)

ANTARA News

Posted in: Fauna,Flora,IPB

#Tag : Fauna Flora IPB

Peneliti LIPI Temukan Anggrek Baru asal Kinabalu

Peneliti LIPI Temukan Anggrek Baru asal Kinabalu BANDUNG--MICOM: Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Destario Metusala menemukan anggrek jenis baru asal Kinabalu, Sabah, Malaysia, dari sebuah koleksi herbarium berusia 50 tahun yang tersimpan rapi di Herbarium Kew, Inggris.

Menurut keterangan tertulis yang dikirim Destario melalui surat elektronik di Bandung, Minggu (1/7), peneliti itu menemukan jenis anggrek baru yang diberi nama 'Cleisocentron kinabaluense Metusala & J.J.Wood. Epithet' secara tidak sengaja saat dia mengobservasi lebih dari 2.000 spesimen herbarium anggrek yang berasal dari kawasan Sabah.

Destario menyebut penemuan itu menjadi kejutan bagi taksonom anggrek di Kew karena mereka tidak menyangka masih ada jenis baru dari kumpulan spesimen yang sebenarnya telah diobservasi berulang kali untuk pembuatan karya ilmiah.

Anggrek 'Cleisocentron kinabaluense' tumbuh secara epifit dan batangnya dapat mencapai 20 sentimeter (cm). Kuntum bunga berukuran panjang 2,2 cm-3 cm dan lebar 1 cm-1,2 cm, sedangkan dalam satu perbungaan tersusun atas 8 sampai 12 kuntum bunga.

Secara morfologi, anggrek ini dekat dengan 'Cleisocentron gokusingii' dan 'Cleisocentron merrillianum', namun berbeda terutama pada kalus yang berada di pangkal bawah bibir bunganya yang menyerupai kantung, serta cuping samping bibir bunga yang tidak bertoreh.

Spesimen jenis baru ini dikoleksi pada 1961 dari dataran berketinggian 2.400 m-3.000 m. Sejak itu belum pernah diketemukan kembali, baik itu koleksi hidup maupun koleksi herbariumnya.

Temuan baru Destario itu dipublikasikan di Malesian Orchid Journal yang terbit di pertengahan 2012. (Ant/OL-15)

MediaIndonesia

Posted in: Flora,LIPI

#Tag : Flora LIPI

Peneliti Unipa temukan tiga jenis pandan baru

Jakarta - Peneliti dari Universitas Negeri Papua (Unipa), Nurhaidah Iriany Sinaga, menemukan tiga jenis "Freycinetia" yang termasuk dalam keluarga pandan di lahan "tailing" yang berada di kawasan pertambangan PT Freeport di Timika, Papua.

"Ditemukan tiga jenis baru dari "Freycinetia" di areal pengendapan "tailing" yakni "Freycinetia megaauriculata Sinaga&Utteridge", "Freycinetia frutonumerata Sinaga, Keim&Purayatmika", dan "Frecinetia ultrapedicellata Sinaga, Keim&Purayatmika"," ujar Nurhaidah di Jakarta, Selasa.

Lahan "tailing" adalah kawasan pengendapan pasir sisa tambang. Sedangkan "Freycinetia" adalah jenis tumbuhan pemanjat yang selalu memerlukan inang untuk ditumpangi.

Nurhaidah mengatakan terdapat 18 jenis dari Freycinetia di kawasan pengendapan pasir sisa tambang itu.

"Saya sendiri bingung, mengapa ditemukan dan bisa hidup di kawasan itu," katanya.

Dia menduga, hal itu karena didukung oleh tiga faktor yakni tanah, iklim, dan vegetasi dari ekosistem sekitar yang masih baik. "Bahkan, di kawasan itu saya juga menemukan terdapat jenis Freycinetia yang tidak bisa hidup di alam terbuka, namun bisa hidup di lahan "tailing"," tambah dia.

Jenis Freycinetia itu adalah "Freycinetia Oblanceolata Grup".

Hasil penelitian tersebut adalah salah satu dari 16 penelitian yang terangkum dalam buku hasil penelitian Unipa dan PT Freeport.

Bahkan salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa spesies-spesies tanaman asli dapat tumbuh kembali secara alami di tanah yang mengandung "tailing".

Hasil penelitian juga menunjukkan proses perkembangan suksesi alami telah menghadirkan 117 spesies burung, 42 spesies herpeto fauna, 93 spesies kupu-kupu dan 10 spesies mamalia yang kemudian menjadikan area suksesi alami lahan tailing sebagai habitat mereka.

Kawasan pengendapan tailing yang tidak lagi dialiri dalam kurun waktu 8-20 tahun, telah terjadi proses pedogenesis nyata yang mengindikasikan perkembangan tailing membentuk tanah pada tahap awal.

Kondisi itu membantu perkembangan vegetasi yang hadir secara alami, sehingga lahan tersebut bisa dikelola menjadi hutan alami atau lahan budidaya pertanian.(I025/Z003)

© Antara

Posted in: Flora,Ilmu Pengetahuan

Akhirnya Indonesia bisa ekspor manggis ke Australia

Setelah melakukan proses negosiasi akses pasar manggis antara Indonesia dan Australia, akhirnya Tanah Air berhasil mengapalkan satu ton buah manggis ke Sydney, Australia pada 27 November lalu.

Melalui keterangan tertulisnya, Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Imam Pambagyo mengatakan ekspor tersebut dilakukan oleh PT Agung Mustika Selaras.

Dia juga mengatakan, meskipun konsumsi buah manggis di Australia belum besar, namun terbukanya keran ekspor manggis tersebut mencerminkan keberhasilan diplomasi perdagangan Indonesia mengingat Australia memiliki standar kesehatan yang tinggi.

"Dengan telah diterimanya buah manggis asal Indonesia membuktikan bahwa produkmakanan Indonesia telah memenuhi standar Internasional dengan mengedepankankesehatan masyarakat," ujar Iman dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Kamis (6/12).

Keberhasilan tersebut, lanjut dia, diharapkan menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk mendorong ekspor buah-buahan tropis Indonesia ke negara mitra dagang lainnya yang memiliki standar keamanan makanan yang tinggi.

Buah manggis merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura Indonesia dengan nilai ekonomis yang tinggi karena memiliki serapan pasar yang cukup besar. Pada tahun 2011, produksi manggis nasional mencapai 117.600 ton dengan jumlah ekspor manggis mencapai12.600 ton dengan nilai USD 9,9 juta atau setara dengan Rp 94 miliar.

Pasar tujuan utama ekspor manggis selama ini adalah Hong Kong, China, Singapura, Malaysia dan Timur Tengah. Sentra utama manggis yang diekspor umumnya berasal dari daerah Tasikmalaya, Purwakarta, Bogor, Sukabumi, Lampung, Kampar, Purwerejo, Blitung, Lahat, Tapanuli Selatan, Limapuluh Kota, Padang Pariaman, Trenggalek, Blitar, dan Banyuwangi. Tercatat bahwa terdapat 144.037 pohon manggis pada lahan seluas 1.440 hektar yang mampu menghasilkan 1.223 kuintal manggis dengan kualitas ekspor.(mdk/rin)

Merdeka

Posted in: Flora,Ilmu Pengetahuan

Ada Anggrek Bercula di Kalimantan Barat

Ada Anggrek Bercula di Kalimantan Barat Anggrek Malleola inflata Metusala & P.O’Byrne atau anggrek bercula yang ditemukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di belantara Kalimantan Barat. dok. LIPI

Malang | Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mempublikasikan spesies anggrek baru bernama Malleola inflata Metusala & P.O'Byrne yang ditemukan di belantara Kalimantan Barat.

Peneliti Kebun Raya Purwodadi-LIPI, Destario Metusala, menginformasikan bahwa anggrek jenis baru ini pertama dipublikasikan di jurnal internasional Malesian Orchid Volume 11 yang terbit akhir Februari lalu. Namun, lokasi penemuan anggrek tidak disebutkan.

"Mohon maaf sebelumnya, Mas, bahwa lokasi habitat spesifik asal anggrek itu tidak dapat dituliskan atau saya beritahu demi kepentingan konservasi," kata Destario lewat surat elektronik kepada Tempo, Jumat, 1 Maret 2013.

Anggrek baru itu memiliki keunikan berupa tonjolan kalus berukuran cukup besar yang menyeruak dari bibir bunganya sehingga mirip sebuah cula. Untuk memudahkan pengucapan, maka anggrek baru itu boleh disebut sebagai anggrek bercula. Namun, fungsi cula belum diketahui, kecuali diduga sebagai pengarah bagi probosis serangga yang akan menghisap cairan nektar di dalam struktur bibir bunga. Sedangkan ephitet atau julukan "inflata" diambil dari bentuk bagian bibir bunganya yang menggembung hingga mirip bentuk sebuah guci.

"Penemuan ini tentunya akan semakin meningkatkan scientific value dari koleksi Kebun Raya Purwodadi sekaligus menambah panjang daftar diversitas flora yang dimiliki Indonesia," ujar Rio, panggilan akrab peneliti berusia 30 tahun itu.

Anggrek Malleola inflata adalah anggrek epifit yang batangnya dapat mencapai panjang lebih dari 11 sentimeter. Tangkai perbungaan dengan panjang hingga 8 sentimeter muncul menggantung dari sela-sela pelepah daun dan membawa 8-44 kuntum bunga yang mekar secara simultan. Kuntum bunga berukuran kecil dengan tinggi 8-9 milimeter dan lebar 6-7.5 milimeter, berwarna krem cerah dengan corak garis jingga pada kelopak (sepal) dan mahkota (petal)-nya.

  ● Tempo

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Flora

#Tag : Flora

IPB Siap Ciptakan Rambutan Manis Tanpa Biji

http://images.detik.com/content/2013/06/29/4/rabutan.jpg Jakarta - Institut Pertanian Bogor (IPB) siap menciptakan varian terbaru buah rambutan. Direktur Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB Sobir menargetkan, 5 tahun ke depan masyarakat Indonesia bisa menyicipi buah rambutan tanpa biji.

"Bisa dibayangkan ada buah rambutan tanpa biji? Rambutan tidak berbiji ini 5 tahun ke depan sudah bisa kita bisa pasarkan. Saat ini research (penelitian) masih terus dilakukan," ungkap Sobir di acara Indonesia Fruit Summit 2013 di rumah makan kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (29/6/2013).

Sebelumnya, IPB juga sudah berhasil menciptakan buah pepaya mini yang diberi nama Pepaya California/Calina. Ukuran buah Pepaya Calina jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan jenis Pepaya Bangkok.

Ditambahkan Sobir, dalam waktu dekat IPB juga siap mengeluarkan varian pepaya jenis terbaru yang jauh lebih kecil dan siap konsumsi yang diberi nama Pepaya Calishow.

"Kita fokus untuk menciptakan pepaya yang jauh lebih kecil lagi dan siap dikonsumsi dengan hanya disendok saja yang kita beri nama Pepaya Calishow," imbuhnya.

Tidak hanya itu, IPB juga saat ini sedang meneliti potensi jambu biji, namun tidak berbiji.

"Kalau dulu buah jambu biji yang berbiji itu repot makannya maka kami saat ini sedang meneliti jambu biji yang tidak berbiji," ujar Sobir.(wij/dnl)

  ● detikFinance

Posted in: Flora,IPB

#Tag : Flora IPB

UGM budi daya melon di gumuk pasir

Yogyakarta - Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melakukan budi daya melon kultivar Melodi Gama 3 di kawasan gumuk pasir Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

"Penanaman melon Melodi Gama 3 (MG3) akan terus dilakukan, baik pada musim kemarau maupun musim hujan untuk memperoleh informasi yang lengkap dalam pengembangan strategi budi daya melon di sekitar gumuk pasir," kata ketua tim peneliti Gama Melon, Budi Setiadi Daryono di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, melalui riset yang didanai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tersebut diharapkan budi daya melon di areal gumuk pasir di Kebumen mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

"Penanaman melon kultivar MG3 dilakukan agar budi daya melon di sekitar gumuk pasir lebih efektif dan ramah lingkungan. Gumuk pasir merupakan gundukan pasir yang terbentuk secara alami oleh angin laut di pinggir pantai, yang dapat berfungsi sebagai pelindung areal sekitar pantai dari angin laut," katanya.

Ia mengatakan, melon kultivar MG3 merupakan salah satu kultivar hasil perakitan Fakultas Biologi UGM yang unggul dengan ciri yang khas, antara lain dagingnya berwarna oranye, aroma buahnya harum, rasanya manis, dan tahan terhadap serangan penyakit jamur tepung (powdery mildew).

"Keunggulan tersebut membuat petani tidak perlu terlalu banyak menggunakan fungisida sehingga budi daya melon di daerah tersebut menjadi ramah lingkungan," katanya.

Selain melakukan budi daya melon kultivar MG3 di sekitar gumuk pasir, Fakultas Biologi UGM juga memberikan bantuan ribuan benih melon kepada petani agar ditanam pada masa tanam berikutnya.

  ● Antara

Posted in: Flora,UGM

#Tag : Flora UGM

Mahasiswa IPB Temukan Biodisel dari Biji Mahkota Dewa

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/07/rbtifRKMuG.jpg Tanaman mahkota dewa kerap digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Namun, di balik semua khasiat baik yang terkandung di dalam tanaman asli Papua itu, mahkota dewa ternyata juga dapat diolah sebagai bahan bakar.

Inovasi tersebut dilakukan oleh tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni Iga Nugraheni, Asep Andi, dan Ahadyah Ayu Umaiya. Penelitian tersebut berjudul Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis Biji Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dengan Metode Transesterifikasi sebagai Bahan Bakar Alternatif dalam Mewujudkan Masyarakat Mandiri Energi.

Ketua tim Iga menyebut, bahan bakar dari mahkota dewa memiliki berbagai keunggulan dibandingkan bahan bakar nabati lainnya. Tanaman bernama latin Phaleria macrocarpa itu, lanjutnya, tidak akan mengganggu stabilitas pangan nasional.

“Buah mahkota dewa bukan merupakan tanaman pangan, sehingga jika biji mahkota dewa digunakan sebagai bahan bakar nabati, tidak akan mengganggu stabilitas pangan seperti yang terjadi pada bioetanol dari singkong, sagu, jagung, dan tanaman perkebunan lainnya,” ungkap Iga.

Keunggulan lain, kata Iga, biji buah mahkota dewa belum terdaftar sebagai bahan bakar nabati (biofuel) baik di media cetak maupun elektronik. Di samping itu, FAME biji mahkota dewa bersifat biodegradable oil dan tidak dapat digunakan sebagai bahan makanan (non-edible oil).

Menurut Iga, inpirasi pengolahan biji mahkota dewa datang ketika melihat melimpahnya tanaman mohkota di kota asalnya, Blitar. Di Blitar, kulit buah mahkota dewa dikupas dan digunakan sebagai bahan baku obat herbal sementara bijinya dibuang sebagai limbah.

"Saat biji buah mahkota dewa dibakar, api berwarna biru dan bertahan lama. Setelah kami teliti 70 persen bijinya mengandung minyak,” papar peneliti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forces IPB itu.

Untuk mendapatkan FAME biji buah mahkota dewa, tambahnya, perlu dilakukan beberapa proses penelitian secara bertahap. Dimulai dengan pengambilan sampel buah mahkota dewa yang sudah matang berwarna merah kemudian pemisahan biji buah mahkota dewa dari daging buah dan dikeringkan.

Selanjutnya, ekstraksi biji buah mahkota dewa dengan menggunakan alat hot presser hydraulic. Setelah dianalisis, diperoleh hasil FAME biji buah mahkota dewa sebagai bahan baku biodisel.

“Untuk mendapatkan biodiesel murni dibutuhkan beberapa tahapan penelitian lagi. Rencananya, hasil penelitian lanjutan ini akan kami jadikan skripsi dengan fokus tema berbeda-beda," urai Iga.

Dia berharap, melalui inovasi pemanfaatan limbah biji buah mahkota dewa dapat memperkokoh ketahanan energi dan mendorong pengembangan masyarakat mandiri dalam penyediaan energi, sehingga mampu membebaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil.

  ● Okezone

Posted in: Energi,Flora,IPB

#Tag : Energi Flora IPB

Ketahui Lagi Manfaat Jambu Biji

Ia masuk kategori tanaman tropis yang berasal dari Brazil, kemudian menyebar ke Indonesia melalui Thailand.

Jambu biji (wikimedia commons)

Jenis jambu ini memang banyak bijinya, tak heran ia disebut jambu biji atau jambu klutuk, karena kalau bijinya dimakan bunyinya klutuk klutuk. Adapun nama Latinnya Psidium guajava L dari keluarga myrtaceae. Ia masuk kategori tanaman tropis yang berasal dari Brazil, kemudian menyebar ke Indonesia melalui Thailand. Buah tanaman ini berwarna hijau dengan daging buahnya ada yang putih dan merah.

KANDUNGAN DAN MANFAAT.

Jambu biji sangat kaya vitamin C, lebih tinggi dari buah jeruk, dan jauh lebih tinggi daripada kiwi yang disebut-sebut sebagai rajanya vitamin C. Di samping serat, terutama pektin yang merupakan serat larut, jambu biji juga mengandung mineral seperti mangan dan magnesium, serta asam amino esensial seperti tryptophan. Juga fitokimia berkhasiat seperti asam elagat, asam linoleat, dan asam korbigen.

PENYAKIT INFEKSI.

Berkat kandungan vitamin C-nya yang tinggi, buah ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bila dikonsumsi saat menderita radang tenggorok atau flu, akan mempercepat penyembuhan akibat infeksi.

KANKER.

Kandungan vitamin C yang tinggi serta senyawa flavonoid membuat jambu biji memiliki sifat antioksidan yang kuat yang mampu menghambat produksi nitrosamin, zat pemicu kanker. Vitamin C yang cukup dalam darah juga mendorong kerja selenium dalam menghambat sel kanker, terutama kanker paru-paru, prostat, payudara, dan usus besar. Likopen dalam jambu merah mampu menghambat oksidasi lemak sehingga mencegah kanker.

JANTUNG KORONER.

Kadar kalium pada jambu biji membantu jantung berdetak lebih teratur. Kandungan asam elagat, asam linoleat, asam korbigen, dan juga serat mampu mengikat lemak sehingga menghindari terbentuknya plak, penyebab jantung koroner.

DIABETES MELLITUS.

Serat pektinnya mampu berperan menurungkan kadar glukosa darah sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes.

HIPERTENSI.

Jambu biji juga dapat menurunkan tekanan darah tinggi karena kadar kaliumnya, juga seratnya yang mengikat lemak.

LAIN-LAIN.

Vitamin C-nya berperan membentuk kolagen yang bermanfaat untuk penyembuhan luka. Senyawa flavonoidnya memiliki kemampuan sebagai antiradang, antialergi, dan antivirus. Menurut penelitian, daun jambu klutuk dapat membantu menaikkan kadar trombosit pada penderita demam berdarah. Sedangkan buahnya yang kerap dijus lalu diberikan pada penderita demam berdarah tidak berkhasiat menaikkan kadar trombosit tetapi lebih sebagai suplai cairan yang banyak hilang akibat penurunan trombosit.(K. Tatik Wardayati, Sumber: Intisari-online.com)

  ● National Geographic

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ3pBLe7PgNMRqsOToKhT_p7SkxVJx0jSDhHHXNkMPTP3tJ6rScB6zyjYpzAmzenvlC6jtwRUc6MTuOALngf6IYDS5STxduFgKjvVNvssiAzYgRuYCOjYtoCljjOgd6g1d580WDz97EDdH/s605/1.jpg

Posted in: Flora,Tips n Tricks

Dunia Mengakui Tebu Ajaib Berasal dari Tanah Jawa

Pada awal abad ke-20, nama Pasuruan telah ditulis dengan tinta emas dalam sejarah gula Hindia Belanda—bahkan dunia. Kota ini pun melegenda.

Gedung Proefstation voor de Java-suikerindustrie (Stasiun Penelitian untuk Industri Gula di Jawa) di Pasuruan. Kini peninggalan kolonial ini masih berfungsi sama, namun dengan nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (Mahandis Y. Thamrin/NGI).

LIMA BELAS TAHUN setelah berakhirnya dera Cultuur Stelsel. Suatu hari, seorang inspektur kepala pertanian zaman Hindia Belanda bernama Dr. IHF Sollewijn Gelpke tengah serius menuangkan gagasan pada lembaran-lembaran kertas di meja kerjanya. Suatu awal perubahan besar dalam sejarah perkebunan tebu di Jawa dan dunia sedang disiapkan. Pasuruan menjadi takdirnya.

Saya meniti sebuah bilangan di pemukiman lama di tengah Kota Pasuruan. Tibalah di sisi depan sebuah gedung dengan dekorasi kaca dalam bingkai busur dan susunan batu granit di sekeliling dindingnya. Di bagian teras samping terlihat deretan bola-bola lampu cantik masih berfungsi sebagai penerang. Ini adalah sebuah gedung yang dibangun kembali di penghujung dekade 1940-an menggantikan gedung lama yang dibakar massa saat Agresi Militer pertama.

Ketika zaman pemerintahan Hindia Belanda, gedung ini adalah kantor ”Proefstation voor de Java-suikerindustrie” atau Stasiun Penelitian untuk Industri Gula di Jawa. Kini peninggalan kolonial ini masih mempunyai fungsi yang sama, namun dengan label baru tentunya, yaitu Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).

Sayangnya, sebagian bangunan lama sudah dihancurkan untuk pembangunan gedung P3GI pada 1977. Lembaga P3GI merupakan institusi penelitian gula tertua di dunia yang berlokasi di Jalan Pahlawan 25 Pasuruan, Jawa Timur.

Interior gedung Proefstation voor de Java-suikerindustrie. Dari lembaga inilah, pada awal abad ke-20 Pasuruan telah dikenal hingga seantero dunia karena tebu ajaibnya (Mahandis Y. Thamrin/NGI).

Berkat perannya di masa lalu, kini lembaga tersebut menjadi markah sejarah bagi Kota Pasuruan dan dunia. Mengapa kota kecil Pasuran ini sampai dikenal dunia?

Bermula dari artikel Gelpke yang dimuat selama empat hari berturut-turut di harian De Locomotief pada Maret 1885. Dia mencurahkan rasa prihatin terhadap permasalahan industri gula dan mendesak didirikannya lembaga penelitian gula di Jawa.

Sejak saat itu beberapa lembaga penelitian gula pun bermunculan, Proefstation Het Midden Java (Semarang, 1885), Proefstation Suikerret in West-Java (Tegal, 1886), dan Proefstation Oost-Java (Pasuruan, 1887).

Kegelisahan hati Gelpke tentang industri gula memang beralasan. Kira-kira awal 1880-an industri gula di Tanah Jawa sempat geger. Pertama, produksi gula dunia melebihi tingkat konsumsinya. Artinya akan ada pembatasan produksi. Kedua, daya saing rendah karena kualitas gula tebu Jawa masih di bawah standar dan diperparah dengan mewabahnya hama Sereh (Androgon schoenanthus).

Tebu yang terserang hama tersebut cirinya terdapat tutul-tutul pada daun, batang tumbuh pendek. Bahkan daun melipat memanjang, mengerdil, dan menyempit, sehingga mirip tanaman sereh. Lengkaplah sudah masalah tebu kala itu.

SETELAH LIMA TAHUN Proefstation Oost-Java di Pasuruan berkiprah, banyak penelitian yang melaporkan secara deskriptif hama-hama tebu yang berjangkit di Jawa. Dr. JH Wakker, seorang direktur lembaga tersebut pada periode 1892-97 memulai program penyilangan tanaman tebu secara konvensional.

Sebuah varietas perdana yang diharapkan tahan terhadap hama Sereh dilahirkan dengan kode POJ 100. Kode ”POJ” merujuk pada produk lembaga riset "Proefstation Oost-Java".

Pada 1907, atas pertimbangan keuangan, cakupan wilayah dan sinkronisasi program, maka Proefstation Suikerret in West-Java dan Proefstation Oost-Java digabung menjadi Proefstation voor de Java-suikerindustrie yang berkantor tetap di Pasuruan. Tujuan lembaga ini adalah memberikan bantuan dan saran dengan cakupan yang lebih luas kepada industri gula Hindia Belanda, bersifat organisasi non-profit yang dibiayai oleh kontribusi anggotanya.

Setelah empat puluh tahun dalam cengkraman wabah sereh, akhirnya ”Proefstation voor de Java-suikerindustrie” Pasuruan berhasil menemukan klon tebu baru berkode POJ 2878 pada 1921. Sebuah kesuksesan besar untuk industri gula di Jawa dan negara-negara penghasil gula di dunia. Varietas ini tidak hanya tahan terhadap serangan hama Sereh, melainkan juga punya tingkat produktifitas lebih tinggi dibandingkan temuan sebelumnya.

Keunggulan lain, ”Si Wonder Cane” ini dinilai baik sebagai tanaman induk (parent material). Pada akhir 1920-an, hampir 200 ribu hektaree perkebunan tebu di Jawa menggunakan variatas baru ini.

Lilik Koesmihartono, seorang peneliti dan ahli penyakit tanaman di P3GI. Laboratorium tempat dia bekerja merupakan peninggalan akhir abad ke-19. Pada 1930-33 varietas POJ 2878 dari laboratorium ini telah bersemai di Columbia, sisi barat laut Amerika Selatan (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Tahun-tahun berikutnya varietas POJ 2878 asal Pasuruan ini telah menyebar ke perkebunan tebu di penjuru dunia. Sebuah catatan melaporkan, klon tebu asal Pasuruan ini mulai diperkenalkan di Karibia dan Lousiana pada 1924 yang menyelamatkan industri gula mereka dari serangan hama Sereh.

Pada 1930-33 varietas POJ 2878 telah bersemai di sisi barat laut Amerika Selatan, Columbia. Sampai hari ini perkebunan-perkebunan tebu Columbia masih mengadopsi hasil pemuliaan tebu asal Pasuruan.

Di belahan bumi yang lain, hasil pemuliaan POJ banyak pula diadopsi oleh negara-negara penghasil gula, sebagai contoh pada 1935 di Vietnam. Negara tersebut mulai menggunakan hasil pemuliaan tebu POJ 3016 yang kala itu mampu menghasilkan 18 ton gula per hektare.

Di sinilah untaian asal-usul tanaman tebu yang telah dikembangkan di dunia berasal. Pasuruan memang kota kecil yang punya kenangan semanis tebu bagi dunia, juga kota yang mulia berkat pemuliaan tanaman tebunya. Namun, kini ukiran namanya dalam kaleidoskop sejarah Indonesia telah dilupakan orang. Pasuruan, kapan kau mengguncang dunia lagi?(Mahandis Y. Thamrin/NGI)

  ● National Geographic

Posted in: Artikel,Flora

#Tag : Artikel Flora

10 Manfaat Buah Delima

10 Manfaat Buah Delima Jakarta - Delima bak buah legenda. Disebut dalam banyak hikayat, buah ini ternyata juga sarat manfaat. Selain menawarkan kesegaran rasa, delima juga menawarkan banyak manfaat.

Dalam banyak hikayat, delima disebut sebagai buah 'panjang umur'. Kajian ilmiah membuktikan, delima memang sarat antioksidan yang efektif mencegah penuaan dini. Jus buah delima ada pada skala 2.860 jumlah radikal bebas yang diserap per 100 gram.

Delima juga telah terbukti bermanfaat untuk mengatasi osteoartritis karena mengandung fitonutrien dan polifenol.

Berikut manfaat lain delima berdasar banyak kajian:

Melindungi hati dan ginjal

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak delima mencegah kerusakan ginjal dan melindungi ginjal dari racun berbahaya. Selain itu, delima juga melindungi hati Anda dan membantu untuk meregenerasi hati yang mengalami kerusakan.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Delima dan jus delima meningkatkan kekebalan tubuh. Delima diketahui sarat dengan vitamin C.

Antialergi

Delima kaya akan polifenol dosis tinggi yang telah terbukti mengurangi proses biokimia yang terkait dengan alergi.

Mencegah penyakit jantung

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahwa delima meningkatkan kemampuan tubuh untuk mensintesis kolesterol dan menghancurkan radikal bebas dalam sistem vaskular.

Mencegah kanker

Penelitian di salah satu universitas menunjukkan bahwa jus buah delima dan ekstrak delima dapat menyebabkan kematian sel kanker. Delima juga dapat mencegah kanker payudara dan penurunan perkembangan kedua jenis kanker kulit, karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa.

Melindungi DNA

Fitonutrien dan antioksidan dalam buah delima berinteraksi dengan materi genetik tubuh untuk melindunginya.

Menormalkan tekanan darah

Penelitian awal yang diterbitkan dalam satu jurnal menemukan bahwa ekstrak buah delima dapat membantu mencegah tekanan darah meningkat terkait dengan makan makanan yang tinggi lemak.

Mengatur sindrom metabolik

Penelitian yang dipublikasikan dalam satu jurnal menunjukkan bahwa delima membantu mengatur gula darah, meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, mampu melawan peradangan, dan meningkatkan berbagai faktor lain yang terlibat dalam sindrom metabolis yang kerap dikaitkan dengan obesitas dan pemicu diabetes. Karena efek ini, delima dapat membantu penurunan berat badan.

Melindungi dari infeksi

Penelitian terbaru yang diterbitkan menemukan bahwa ekstrak buah delima meningkatkan efektivitas obat yang digunakan terhadap tumbuhan gram negatif yang selama ini dikenal resisten terhadap obat.

Melindungi dari penyakit Alzheimer

Buah ini bisa mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit yang umumnya terkait usia. Dalam satu penelitian, tikus yang dibiakkan untuk mengembangkan penyakit ini dan diberi ekstrak delima menunjukkan pengurangan akumulasi plak pada amyloidal yang terkait penyakit ini.

  ● Tempo

Posted in: Flora,Tips n Tricks