Green Peace Serahkan Laporan Bahaya PLTN
JAKARTA--MICOM: Lembaga Swadaya Masyarakat Green Peace menyerahkan laporan bahaya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir kepada Kementerian Riset dan Teknologi, Senin (5/3).
"Kami ke Kemristek untuk menyerahkan laporan berjudul 'Belajar Dari Fukushima' supaya bisa jadi pertimbangan pihak Kemristek dalam susunan kebijakan pengembangan energi di Indonesia," kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Green Peace Arif Fiyanto seusai aksi di depan Gedung Kemristek Jakarta.
Arif berharap melalui laporan tersebut pemerintah yang berencana membangun PLTN di Bangka Belitung teringat akan kejadian yang melanda Jepang pada Maret 2011. Saat itu, reaktor di PLTN Fukushima bocor dan terjadi kelebihan panas akibat gempa serta tsunami yang melanda kawasan.
Green Peace mengusulkan kepada Kemristek ketimbang memberikan dana bagi promosi pembangunan PLTN, lebih baik dana dialihkan bagi bidang penelitian pengembangan energi terbarukan lain yang lebih aman.
"Isi laporan lebih menyoroti kepada dampak-dampak kemanusiaan di Fukushima sebagaimana ratusan ribu orang harus hidup di barak pengungsian hingga saat ini. Puluhan ribu lainnya terusir dari tempat tinggal mereka karena paparan radiasi radioaktif yang menetap selama ribuan tahun," jelas Arif.
Arif menilai Indonesia dan Jepang memiliki kesamaan dalam letak geografis yang berada di kawasan rentan bencana alam terutama gempa bumi dan tsunami.
"Jadi bagaimana negara semaju Jepang saja bisa kewalahan menghadapi bencana itu dan kita bisa bayangkan apa yang terjadi jika pemerintah di Indonesia tetap berencana bangun PLTN," tegas Arif. (Ant/OL-9)
• MediaIndonesia
Posted in: Energi,PLTN
DEN: PLTN di Indonesia hampir tidak mungkin
"Secara teknis, nuklir atau PLTN untuk Indonesia itu hampir tidak mungkin, tapi bisa menjadi pilihan terakhir bila ada perkembangan teknologi nuklir ke arah lebih aman," kata anggota DEN Prof Ir Rinaldy Dalimi, PhD di Surabaya, Selasa.
Ia mengemukakan hal itu di sela-sela workshop "Skenario Kebijakan Energi Indonesia Menuju 2050" yang digelar DEN dan LPPM ITS dengan pembicara lain Ir Tumiran M.Eng PhD (DEN/UGM), Prof Mukhtasor PhD (DEN/ITS), unsur ESDM, BP Migas, Kadin Institute Jatim, dan Asosiasi Panas Bumi Indonesia.
Menurut dosen UI itu, ada empat hingga lima alasan yang menyebabkan PLTN hampir tidak mungkin di Indonesia, yakni PLTN akan mengharuskan Indonesia mengimpor uranium, karena uranium Indonesia tidak ekonomis.
"Alasan lain, dunia tidak akan mengizinkan Indonesia melakukan pengayaan uranium, karena Iran saja dilarang, meski pemerintahnya melawan," katanya.
Selain itu, alasan yang cukup berat adalah Indonesia merupakan "kawasan gempa" sehingga risikonya tinggi. "Kalau pun dibangun dengan tahan gempa, tentu biayanya akan mahal, sehingga harganya nuklir juga tidak akan murah, bahkan perlu subsidi," katanya.
Namun, alasan yang juga penting adalah Jepang sudah mematikan 54 unit PLTN pada dua minggu lalu, lalu Jerman juga akan mematikan seluruh PLTN-nya pada tahun 2025.
"Jadi, DEN merekomendasikan PLTN sebagai pilihan terakhir. Artinya, nuklir nggak akan dipilih selama energi alternatif (energi baru terbarukan/EBT) masih ada, apalagi energi alternatif di Indonesia paling beragam di dunia," katanya.
Senada dengan itu, anggota DEN Prof Mukhtasor PhD menilai PLTN itu membutuhkan dukungan finansial yang mahal untuk antisipasi risiko.
"Jepang saja memerlukan ratusan triliun untuk bangkit dari risiko nuklir yang dialami, apakah Indonesia punya anggaran sebesar itu? APBN kita saja tidak sampai ratusan triliun," kata dosen ITS Surabaya itu.
Oleh karena itu, katanya, pemerintah sebaiknya melirik energi alternatif di Indonesia yang cukup banyak, bahkan dunia juga akan melirik EBT karena harga EBT dengan energi konvensional akan setara pada tahun 2020.(T.E011/M026)
• ANTARA News
Posted in: Energi,Nuklir,PLTN
PLTN Layak Dibangun di Bangka Belitung

KABUPATEN Bangka Barat dan Bangka Selatan, di Propinsi Bangka Belitung, sementara ini, layak jadi lokasi pembangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Berdasarkan hasil studi prakelayakan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), kedua kabupaten tersebut tidak terletak di daerah rawan bencana alam.
"Hasil studi prakelayakan Batan pada 2009 hingga 2011 di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan, menyimpulkan aspek geografi, geologi, geoteknik, gunung api dan gempa cukup baik jika dibandingkan wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera," ujar Kabid Energi Dinas Pertambangan dan Energi, Pemerintah Propinsi Bangka Belitung, M.Taufik, Senin.
Ia menjelaskan, studi prakelayakan akan dilanjutkan studi kelayakan pada 2012 hingga 2013, sehingga data-data yang diperoleh lebih valid dan terinci untuk kelayakan pembangunan PLTN tersebut. "Hasil studi kelayakan nanti, apakah layak atau tidak untuk pembangunan PLTN itu tergantung keputusan pemerintah pusat," ujarnya.
Namun, ia mengakui, kegiatan studi kelayakan ini ditolak masyarakat karena mereka menilai kegiatan sekarang sudah tahap pembangunan PLTN. "Masyarakat menolak kegiatan studi kelayakan ini karena salah mendapatkan informasi dari pihak-pihak yang tidak berkompeten dan tidak mengetahui prosedur dalam pembangunan PLTN," ujarnya.
Menurut dia, pembangunan PLTN di suatu wilayah membutuhkan waktu cukup lama, misalnya studi kelayakan, tapak dan lainnya yang membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun. "Saat ini, sedang dilakukan beberapa pemboran pembangunan tapak di Kabupaten Bangka Barat sebanyak delapan pemboran dan Bangka Selatan tiga pemboran dan pelepasan balon untuk mendapatkan data-data meteologi dan lainnya," ujarnya.
Ia mengatakan, pada kegiatan studi ini akan didata 17 aspek seperti topografi, geografi, geologi, geofisika, geoteknik, kegempaan, kegunungapian, visionografi, hidrologi, meteologi, lepas pantai, budaya masyarakat dan lainnya yang mengunakan peralatan yang mahal dan canggih. Antara
Sumber : Jurnas
Bangka Barat, Bangka Selatan Aman untuk Bangun PLTN
Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan di Provinsi Bangka Belitung dianggap layak untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) karena tidak terletak di daerah rawan bencana alam.
"Hasil studi prakelayakan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada 2009 hingga 2011 di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan, menyimpulkan aspek geografi, geologi, geoteknik, gunung api dan gempa cukup baik jika dibandingkan wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra," ujar Ketua Bidang Energi Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Bangka Belitung M Taufik di Pangkalpinang, Senin (16/7).
Ia menjelaskan, studi prakelayakan akan dilanjutkan studi kelayakan pada 2012 hingga 2013 sehingga data yang diperoleh lebih valid dan terinci untuk kelayakan pembangunan PLTN. "Hasil studi kelayakan nanti, apakah layak atau tidak untuk pembangunan PLTN itu tergantung keputusan pemerintah pusat," ujarnya.
Menurut Taufik, penolakan yang dilontarkan sejumlah warga karena masyarakat mengira sekarang sudah tahap pembangunan PLTN. "Masyarakat menolak kegiatan studi kelayakan ini karena salah mendapatkan informasi dari pihak-pihak yang tidak berkompeten dan tidak mengetahui prosedur dalam pembangunan PLTN," ujarnya.
Menurut dia, pembangunan PLTN di suatu wilayah membutuhkan waktu cukup lama, misalnya studi kelayakan, tapak dan lainnya yang membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun. "Saat ini, sedang dilakukan beberapa pemboran pembangunan tapak di Kabupaten Bangka Barat sebanyak delapan pemboran dan Bangka Selatan tiga pemboran dan pelepasan balon untuk mendapatkan data-data meteorologi dan lainnya," ujarnya. (Ant/OL-04)
Sumber : Media Indonesia
Pembangunan Bangka Selatan terkendala ketersediaan listrik
Upaya Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel) dalam melakukan pembangunan menghadapi kendala terbatasnya ketersediaan listrik.
"Saat ini, ketersediaan arus listrik untuk kebutuhan masyarakat belum memadai, bahkan ada dua kecamatan sama sekali belum tersentuh listrik PLN," ujar Sekda Kabupaten Bangka Selatan, Ahmad Damiri di Toboali, Senin.
Ia menjelaskan, dua kecamatan dari tujuh kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan yang belum dialiri listrik PLN yaitu Pulau Besar dan Lepar Pongok, serta puluhan desa terpencil lainnya di Kecamatan Toboali, Tukak Sadai, Simpang Rimba, Payung dan Air Gegas.
"Keterbatasan ketersediaan listrik ini tentu menghambat pembangunan daerah di sektor parawisata, pertanian, perikanan, pendidikan, industri, infrastruktur dan investasi," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, Pemkab Bangka Selatan telah menyalurkan ratusan genset.
"Kami telah menyalurkan ratusan genset ke desa-desa terpencil yang belum dialiri listrik, karena listrik ini merupakan kebutuhan utama masyarakat untuk meningkatkan perekonomian, pendidikan dan lainnya," ujarnya.
Menurut dia, bantuan genset ini kurang efisien karena untuk mengerakan mesin genset, masyarakat membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, bensin dan biaya perawatan yang cukup besar.
"Kami berusaha seoptimal mungkin, agar kebutuhan listrik untuk masyarakat terpenuhi dengan terus melobi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi agar pihak PLN segera membuka sambungan arus listrik baru ke desa-desa terpencil tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan, selama ini, pertumbuhan pembangunan dan perekonomian di Kabupaten Bangka Selatan masih rendah jika dibandingkan daerah kabupaten lainnya seperti Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung, Belitung Timur dan Kota Pangkalpinang.
"Ketersediaan listrik di daerah kabupaten lainnya sudah cukup memadai, sementara Bangka Selatan masih kurang sekali, bahkan untuk ketersediaan listrik di Kantor Bupati Bangka Selatan masih dibantu diesel dan genset," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, kami mengharapkan PLN segera membuka sambungan listrik baru, agar masyarakat bisa merasakan pelayanan listrik milik negara tersebut.
"Apabila ketersediaan listrik sudah mencukupi, tentu investor tidak ragu lagi untuk menanamkan modalnya di Bangka Selatan yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikelola dan dikembangkan," ujarnya.
Sumber : Antara
Posted in: Energi,PLTN
Pemerintah wacanakan pembangunan pusat nuklir di Kalbar
| Ilustrasi |
Banjarmasin - Pemerintah pusat mewacanakan untuk membangun pusat nuklir di Provinsi Kalimantan Barat karena di daerah tersebut ditemukan sumber daya alam uranium yang cukup besar.
Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin yang juga ketua Forum Percepatan Pembangunan dan Revitalisasi Kalimantan di Banjarmasin, Senin mengatakan, beberapa waktu lalu dia bersama dengan perwakilan Gubernur wilayah Kalimantan melakukan pertemuan dengan beberapa kementerian antara lain, Kementerian Ekonomi, ESDM dan terkait lainnya.
Salah satu hasil pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah rencana pembangunan pusat pengembangan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan sumber energi lainnya.
"Kalimantan adalah wilayah cukup kaya, bukan hanya tambang batu bara, emas dan lainnya tetapi juga uranium di Kalbar," katanya.
Karena bahan baku utama energi nuklir tersebut banyak di temukan di Kalbar, sehingga diwacanakan untuk mengembangkan energi tersebut untuk pembangunan pemenuhan energi masa depan Kalimantan.
Rencana tersebut, kata dia, juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang kini masih kurang, sehingga pelaksanaan MP3EI serta Permen ESDM tentang larangan bahan baku energi keluar dari Indonesia bisa segera diwujudkan.
"Kami sangat berharap berbagai infrastruktur, jalan, jembatan dan bandara udara, pelabuhan laut dan energi di wilayah Kalimantan bisa diselesaikan pada 2014," katanya.
Tanpa dukungan infrastruktur dan energi yang memadai, tambah dia, pelaksanaan MP3EI dan Permen ESDM tersebut akan sulit untuk direalisasikan.
Apalagi, kata dia, beberapa negara importir tambang seperti Jepang, China, dan beberapa negara lainnya, kini sudah mulai mengurangi permintaan karena ditemukannya gas yang cukup besar di Amerika dan Australia.
Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah, walaupun kini tambang bukan lagi satu-satunya tumpuan perekonomian Kalsel.
"Kedepan kita akan mengembangkan sektor perekonomian dalam arti luas, selain juga mendorong tumbuhnya investasi terutama industri skala besar," katanya.
Kini, tambah Gubernur, yang sudah siap untuk beroperasi adalah tiga perusahaan bijih besi di Kabupatan Tanah Laut dan Tanah Bumbu, sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan MP3EI.
( Antara )
Posted in: Energi,Nuklir,PLTN
Batan nilai banyak wilayah Indonesia stabil untuk PLTN
Jakarta - Tidak semua wilayah Indonesia berada di "ring of fire" atau cincin api yang rentan terhadap gempa dan tsunami, sebaliknya banyak yang cukup stabil bagi berdirinya sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
"Wilayah nusantara memang banyak yang dilewati ring of fire seperti di barat Sumatera atau di selatan Jawa, tapi banyak juga lokasi yang tak terpengaruh oleh cincin api itu dan cukup stabil," kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto di sela Seminar "Impact of Earthquake and Tsunami to NPP" di Jakarta, Kamis.
Saat ini, ujar Djarot yang baru dilantik sebagai kepala Batan beberapa waktu lalu, pihaknya masih mengkaji Pulau Bangka di timur Sumatera yang saat ini dinilai sebagai salah satu wilayah yang cukup stabil.
"Namun pengkajiannya masih berjalan dan dijadwalkan baru selesai pada akhir 2013," tambah Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir Batan Sarwiyana Sastranegara.
Kalimantan dan banyak wilayah lain, ia mengakui memang sangat stabil namun PLTN dengan kemampuannya membangkitkan energi rata-rata 1.000 MW per unit hanya dipasang di wilayah yang masyarakatnya membutuhkan listrik skala besar seperti Jawa-Sumatera.
Ia mengatakan, selama bertahun-tahun Indonesia merdeka, baru memiliki energi listrik 35 ribu MW, padahal pada 2025 Indonesia dituntut memiliki energi listrik berkapasitas 115 ribu MW.
"Dari manakah selisih sebesar ini didapatkan? Tidak mungkin hanya mengandalkan energi fosil, apalagi energi alternatif seperti energi surya dan angin," katanya.
Perlu diketahui, lanjut Sarwiyana, hanya 10 persen energi listrik Jepang berasal dari energi alternatif, dimana 9 persen di antaranya merupakan energi air, sedangkan energi surya, angin dan lainnya hanya 1 persen.
Dikatakan Djarot, ukuran tingkat kemakmuran suatu negara sebanding dengan konsumsi energi per kapita dimana energi per kapita Indonesia saat ini hanya 591 kWh/kapita, sangat rendah dibanding Malaysia 3.490 kWh/kapita, Thailand 2.079 kWh/kapita bahkan Vietnam 799 kWh/kapita.
Selain faktor tapak yang stabil, tambahnya, teknologi PLTN yang akan dipakai Indoneia harus berbeda dengan teknologi yang digunakan di Fukushima Jepang, apalagi Chernobyl yang masih menggunakan teknologi usang.(D009/Z003)
© Antara
Posted in: BATAN,Energi,PLTN
Rusia Bersedia Bantu Indonesia Bangun PLTN
Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov, menyatakan perusahaan-perusahaan Rusia siap mendampingi Indonesia untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. "Tanpa penggunaan energi atom, sangat sulit bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan akan sumber-sumber energi," kata Ivanov ketika ditemui Tempo di kantornya, Senin, 24 September 2012.
Ia menjelaskan, sebenarnya Rusia tertarik mengembangkan proyek energi terbarukan di Indonesia. Namun, sampai saat ini Rusia belum menandatangani dokumen kerja sama dengan Indonesia dalam bidang itu. Menurut Ivanov, perusahaan-perusahaan energi Rusia sedang mencari tahu secara spesifik bentuk proyek yang dapat dijalankan.
Hal tersebut merupakan langkah awal kerja sama Rusia dan Indonesia dalam bidang energi terbarukan. Ivanov berharap kerja sama tersebut dapat dimulai secepatnya. Ia menuturkan, saat ini perusahaan-perusahan Rusia sedang menjajaki mitra lokal.
Rusia memandang energi terbarukan sebagai bidang yang sangat penting. Ivanov mengklaim negaranya memiliki teknologi paling modern untuk memastikan keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir. Ia menuturkan, ada perusahaan atom Rusia yang sudah berkunjung ke Indonesia beberapa kali. Perusahaan tersebut berbagi pengalaman dengan para ahli dari Indonesia.
Ia menyebut pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai salah satu area kerja sama antara Rusia dan Indonesia di masa mendatang. "Tentu saja penting adalah mencari lokasi yang aman untuk pembangkit energi ini," kata Ivanov. Ia yakin meski di Indonesia terdapat sangat banyak aktivitas vulkanik, masih ada tempat-tempat yang aman untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.
© T empo.Co
Posted in: Energi,PLTN
"Bangun Satu PLTN Saja di Indonesia Didemo!"
DEPOK – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengkritik pemerintah Indonesia yang cenderung lambat dalam mengambil kebijakan dalam rangka pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Padahal, sesuai undang-undang, tahun 2016-2019 PLTN sudah harus dioperasikan, sementara untuk membangun PLTN butuh waktu 10 sampai 15 tahun.
Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir (PPEN) Batan A Sarwiyana Sastratenaya mengungkapkan banyak hal yang mengganjal dalam pembangunan PLTN. Padahal ia meyakini bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sudah betul-betul siap.
“Hal yang mengganjal yakni national position, lalu managemennya, serta keterlibatan pemangku kepentingan salah satunya pemerintah, selama ini masih lemah,” ujarnya kepada wartawan di Universitas Pancasila, Minggu (30/09/12).
Sarwiyana menambahkan saat ini BATAN sedang melakukan studi pembangunan PLTN di Bangka dengan melibatkan ahli-ahli internasional. China, lanjutnya, sejauh ini telah membangun 25 PLTN, sejumlah di antaranya sedang konstruksi.
"PLTN China sudah banyak, karena menyadari rakyatnya banyak. Indonesia keempat penduduk terbesar di dunia, tapi tak memiliki nuklir seperti Nigeria dan Bangladesh. Masa mau berteman dengan yang bodoh-bodoh terus. Amerika punya 100 lebih PLTN tenang saja, Malaysia sedang mulai bangun, kita bangun satu saja kok susah betul, kok pakai didemo terus. Justru dengan adanya sosialisasi PLTN malah menimbulkan kelompok anti PLTN yang punya kepentingan. Kita diganggu terus,” tukasnya.
Menurutnya Bangka adalah pemilihan lokasi yang tepat. Sebab daerahnya cenderung stabil.
“Bangka salah satu ring of fire. Tak ada tempat yang enggak boleh dibangun PLTN sebenarnya, semuanya boleh tak ada. Kenapa di Bangka? Daerahnya stabil, kami cari yang lebih aman, sebenarnya kami pernah membidik lokasi di Muria, namun kita belum selesai, ada masyarakat setempat yang menolak,” paparnya.(wdi)
© Okezone
Posted in: BATAN,PLTN
Batuan Bangka terbaik untuk tapak PLTN
Jakarta - Batuan granit yang membentuk Kepulauan Bangka Belitung merupakan batuan terbaik bagi suatu tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) karena jenis batuan ini sangat stabil dari guncangan gempa.
"Jenis batuan granit sangat keras dan terbangun utuh hingga kedalaman sampai berkilo-kilometer ke dasar mantel bumi," kata Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Sarwiyana Sastratenaya di sela "Seminar on Natural Hazard Mitigation to Critical Installation" di Universitas Pancasila Jakarta, Sabtu.
Jenis ini ada juga di beberapa tempat di Sumatera bagian timur atau kalimantan bagian barat tapi relatif muda, sedangkan di Bangka relatif tua dengan usia ratusan juta tahun, berarti semakin baik, ujar Sarwijana Sastratenaya.
Bangka, lanjut dia, juga berada di intra-plate (dalam lempeng) yakni lempeng Sunda yang bukan lokasi gempa.
"Banyak wilayah lain di Indonesia berada di inter-plate atau di atas patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia sehingga rawan gempa, seperti di sepanjang Barat Sumatera dan selatan Jawa," ujarnya.
Laut di sekitar Bangka juga merupakan laut dangkal sedalam hanya 20-30 meter sehingga tak memungkinkan munculnya tsunami yang mensyaratkan kedalaman laut sampai ribuan meter.
Selain itu, ujar Sarwiyana, Bangka juga jauh dari gunung api, karena yang terdekat berjarak 350 km yakni Gunung Lumut Balai di Lampung. Ini berbeda dengan Semenanjung Muria, Jepara (tapak sebelumnya) yang masih berdekatan dengan Gunung api Muria meski gunung tersebut tergolong" mati".
Namun demikian, saat ini Bangka sebagai tapak masih berada dalam kajian Batan dengan dana untuk dua tapak yakni di Bangka Barat dan Bangka Selatan selama 2011-2013 sebesar Rp160 miliar.
"Yang jelas Bangka berbeda dengan PLTN Fukushima di Jepang yang tepat berada di atas `ring of fire`, lokasi yang rawan gempa dan tsunami," katanya.
Seminar tersebut juga menghadirkan pakar bangunan berisiko Antonio R Godoy dan pakar seismo-tektonik Prof Leonello Serva.(D009/A011)
© Antara
Posted in: BATAN,PLTN
Kepala Batan Akui Banyak Wilayah Cocok Bangun PLTN
Jakarta � Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto mengakui banyak wilayah di Indonesia yang kondisinya stabil sehingga cocok untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
“Tidak semua wilayah di Indonesia berada di daerah cincin api yang rentan terhadap gempa dan tsunami. Sebaliknya malah banyak daerah tersebut yang cukup stabil dan cocok untuk berdirinya sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN),” katanya.
Wilayah nusantara memang banyak yang dilewati ring of fire atau cincin api seperti di barat Sumatera atau di selatan Jawa, tapi banyak juga lokasi yang tak terpengaruh oleh cincin api itu dan cukup stabil.
Saat ini pihaknya masih mengkaji Pulau Bangka di timur Sumatera yang dinilai sebagai salah satu wilayah yang cukup stabil. Pengkajiannya masih berjalan dan dijadwalkan baru selesai pada akhir 2013.
Kalimantan dan banyak wilayah lain, diakui juga sangat stabil namun PLTN dengan kemampuannya membangkitkan energi rata-rata 1.000 MW per unit hanya dipasang di wilayah yang masyarakatnya membutuhkan listrik skala besar seperti Jawa-Sumatera.
Selama bertahun-tahun Indonesia merdeka, baru memiliki energi listrik 35 ribu MW. Padahal pada 2025 Indonesia dituntut memiliki energi listrik berkapasitas 115 ribu MW.
“Dari manakah selisih sebesar ini didapatkan? Tidak mungkin hanya mengandalkan energi fosil, apalagi energi alternatif seperti energi surya dan angin,” katanya.(faisal/sir)
ۥ Poskota

Posted in: PLTN