Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Nuklir. Tampilkan semua postingan

Pelajari Nuklir, Bupati Se-Kaltim Kunjungi Batan Serpong

Kunjungan para kepala daerah ini dalam rangka mempelajari manfaat nuklir bagi kehidupan manusia.

"Tujuan utama dari kunjungan ini adalah agar birokrat daerah bisa menjelaskan kepada masyaralat tentang manfaat dari nuklir itu apa saja," ujar Sehat, staf dari Kementerian Riset dan Teknologi, pagi ini.

Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat, khususnya di daerah, belum memahami manfaat dari nuklir. "Biasanya kalau dengar kata nuklir kan yang ada di kepala adalah sesuatu yang berbahaya dan mengerikan," ujar Sehat.

Ia menambahkan, kunjungan birokrat daerah seperti ini, bisa memberi pemahaman baru dalam sosialisasi mereka kepada masyarakat. "Supaya masyarakat juga bisa tahu, ternyata manfaat nuklir itu bisa untuk pertanian, juga industri," tutur Sehat.

• Jurnas.com

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Nuklir

Indonesia Tak Setuju Proyek Nuklir Korut

Jurnas.com | MESKI jalinan bilateral Indonesia-Korea Utara begitu erat dan berjalan lebih dari 50 tahun, Indonesia tetap tidak setuju Korea Utara mengembangkan proyek nuklir untuk senjata militer.

Anggota Komisi I DPR bidang pertahanan dan hubungan luar negeri, Hayono Isman, mengatakan, Indonesia telah meneken ratifikasi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji-Coba Nuklir (CTBT). "Indonesia tidak menyetujui nuklir sebagai kekuatan militer. Jadi kita tidak sejalan dengan Korea Utara," ujar Hayono di DPR, Jakarta, Selasa (15/5).

Menurutnya, Indonesia hanya menginginkan proyek nuklir digunakan untuk hal-hal di luar kemiliteran. Ia mengatakan, bagi negara-negara yang belum meratifikasi traktat tersebut untuk segera menandatanganinya, sehingga mengurangi potensi perang nuklir.

Menurutnya, bila proyek nuklir ini tetap dikembangkan akan mengancam keamanan perbatasan di kawasan Asia. "Kita tidak hanya membujuk Korea Utra, tapi juga Amerika Serikat, Pakistan, India, dan Korea Utara untuk meneken ratifikasi tersebut," ujarnya.

Menurut Hayono, pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Republik Demokratik Rakyat Korea atau Korea Utara, Kim Yong Nam, adalah peluang bagi Indonesia untuk membantu menciptakan keamanan di kawasan Asia. "Sehingga perbedaan politik maupun pertentangan perbatasan tak semestinya dengan mengambil jalan kekerasan," katanya.

• Jurnas.com

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Nuklir

DEN: PLTN di Indonesia hampir tidak mungkin

"Secara teknis, nuklir atau PLTN untuk Indonesia itu hampir tidak mungkin, tapi bisa menjadi pilihan terakhir bila ada perkembangan teknologi nuklir ke arah lebih aman," kata anggota DEN Prof Ir Rinaldy Dalimi, PhD di Surabaya, Selasa.

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela workshop "Skenario Kebijakan Energi Indonesia Menuju 2050" yang digelar DEN dan LPPM ITS dengan pembicara lain Ir Tumiran M.Eng PhD (DEN/UGM), Prof Mukhtasor PhD (DEN/ITS), unsur ESDM, BP Migas, Kadin Institute Jatim, dan Asosiasi Panas Bumi Indonesia.

Menurut dosen UI itu, ada empat hingga lima alasan yang menyebabkan PLTN hampir tidak mungkin di Indonesia, yakni PLTN akan mengharuskan Indonesia mengimpor uranium, karena uranium Indonesia tidak ekonomis.

"Alasan lain, dunia tidak akan mengizinkan Indonesia melakukan pengayaan uranium, karena Iran saja dilarang, meski pemerintahnya melawan," katanya.

Selain itu, alasan yang cukup berat adalah Indonesia merupakan "kawasan gempa" sehingga risikonya tinggi. "Kalau pun dibangun dengan tahan gempa, tentu biayanya akan mahal, sehingga harganya nuklir juga tidak akan murah, bahkan perlu subsidi," katanya.

Namun, alasan yang juga penting adalah Jepang sudah mematikan 54 unit PLTN pada dua minggu lalu, lalu Jerman juga akan mematikan seluruh PLTN-nya pada tahun 2025.

"Jadi, DEN merekomendasikan PLTN sebagai pilihan terakhir. Artinya, nuklir nggak akan dipilih selama energi alternatif (energi baru terbarukan/EBT) masih ada, apalagi energi alternatif di Indonesia paling beragam di dunia," katanya.

Senada dengan itu, anggota DEN Prof Mukhtasor PhD menilai PLTN itu membutuhkan dukungan finansial yang mahal untuk antisipasi risiko.

"Jepang saja memerlukan ratusan triliun untuk bangkit dari risiko nuklir yang dialami, apakah Indonesia punya anggaran sebesar itu? APBN kita saja tidak sampai ratusan triliun," kata dosen ITS Surabaya itu.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah sebaiknya melirik energi alternatif di Indonesia yang cukup banyak, bahkan dunia juga akan melirik EBT karena harga EBT dengan energi konvensional akan setara pada tahun 2020.(T.E011/M026)

• ANTARA News

Posted in: Energi,Nuklir,PLTN

#Tag : Energi Nuklir PLTN

Dua lagi perusahaan BUMN yang tahun ini melejit melampaui batas negara

 Garuda Kalahkan MAS, bahkan sudah lebih besar dari Air France dan BatanTek Meng-Asia

Manufacturing Hope 30

VIVAnews - Dua lagi perusahaan BUMN yang tahun ini melejit melampaui batas negara: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan PT Batan Teknologi (Persero).

Garuda, secara mengejutkan, saat ini sudah lebih besar dari Malaysia Airlines (MAS) dan Thai Airways, Thailand. Bahkan sudah lebih besar dari Air France! Value Garuda kini sudah mencapai Rp18 triliun. Sudah sekitar Rp1 triliun lebih besar dari MAS dan Thai. Dengan demikian untuk Asia Tenggara kini Garuda tinggal kalah dari Singapore Airlines.

Memang tidak ada alasan bagi Indonesia untuk serba kalah dari sesama negara ASEAN. Di antara 10 negara Asia Tenggara kekuatan ekonomi Indonesia sudah mencapai 51% sendiri. Baru yang 49% dibagi 9 negara lainnya.

Di bawah direksi Garuda yang sekarang dengan Dirut Emirsyah Satar, prestasi itu akan terus bisa dipacu. Inilah direksi yang dari segi umur relatif masih muda-muda. Inilah direksi yang berada di puncak antusias dan gairahnya. Iklim seperti itu secara otomatis akan menjalar dan mewabah ke jajaran di bawah dan di bawahnya lagi.

Ekonomi Indonesia yang terus membaik memang bisa menjadi ladang yang subur bagi Garuda. Penambahan pesawat yang terus dilakukan, termasuk yang kelas 100 tempat duduk, akan membuat Garuda terbang kian tinggi.

Langkah terbarunya untuk bisa dipercaya Kanada sebagai pusat perawatan pesawat Bombardier se Asia Pasifik, memberikan hope yang lebih besar lagi. Dengan demikian GMF AeroAsia, salah satu anak perusahaan Garuda, akan menjadi perusahaan kelas dunia juga. Ini karena pembuat mesin pesawat terkemuka di dunia lainnya, GE dari USA juga sudah mempercayakan perawatan mesin GE ke GMF AeroAsia.

PT Batam Tek

Dua Pemikir Batan

Seperti tidak kalah dengan prestasi Garuda dan enam BUMN kelas dunia lainnya (BRI, Bank Mandiri, Telkom, BNI, PGN, dan Semen Gresik) kini muncul si cabe rawit: PT Batan Teknologi.

Tahun ini di bawah Dirut baru Dr.Ir.Yudiutomo Imardjoko, BatanTek tidak hanya bisa bangkit dari kuburnya bahkan begitu bangkit langsung bisa berlari dengan kencangnya. Larinya pun ke mana-mana termasuk ke puluhan negara Asia.

Padahal tahun 2010 lalu BatanTek sudah dicabut nyawanya. Ini gara-gara ada larangan internasional untuk melakukan pengayaan uranium tingkat tinggi. Ini dikhawatirkan bisa disalahgunakan menjadi senjata nuklir.

Sejak itu PT BatanTek berhenti memproduksi radioisotop. Tim BatanTek sudah berusaha mengubah proses pengayaan uranium menjadi tingkat rendah, tapi tidak mampu. Bahkan BatanTek sudah mendatangkan ahli dari USA untuk menularkan pengetahuan proses uranium tingkat rendah. Tapi juga gagal.

Akibatnya rumah-rumah sakit yang selama ini menggunakan radioisotop dari BatanTek memilih membeli dari sumber lain. Semua pelanggan marah dan memutuskan hubungan. BatanTek praktis mati.

Untunglah Dr Yudiutomo datang dan menjadi dirut baru. Anak Maospati, Magetan, lulusan Fakultas Teknik Nuklir UGM ini memang bukan sembarang orang. Dia meraih gelar doktor di bidang nuklir di Iowa State University USA.

Dr Yudiutomo mengajak ahli nuklir sealmamater di UGM, Dr.Ing Kusnanto untuk menjadi direktur produksi. Dr Kusnanto meraih gelar doktor nuklir dari Aachen, Jerman.

Karena PT BatanTek masih dalam keadaan sulit, sejak awal dua ahli nuklir ini memilih menghemat: menyewa satu rumah untuk dihuni berdua. Keluarga ditinggal di Yogya.

Dua orang inilah yang tidak henti-hentinya berpikir bagaimana agar BatanTek bisa melakukan pengayaan uranium tingkat rendah. Siang malam dua ahli ini terus berdiskusi. Keputusan untuk tinggal satu rumah membuat diskusi mereka berlanjut setelah jam kantor sekalipun. Di rumah kontrakan itulah mereka bisa berdiskusi sampai jam 2 dini hari.

Hasilnya luar biasa: mereka menemukan cara baru mengayakan uranium tingkat rendah. Bukan cara yang sudah dikenal di dunia sekarang ini, tapi cara baru yang untuk mudahnya saya beri saja nama "Formula YK" (Yudiutomo Kusnanto).

Formula YK ini menggunakan prinsip electro plating. Menggantikan cara lama sistem foil target. Prinsipnya, sebelum dimasukkan reaktor nuklir uranium itu di-plating dengan rumus tertenu. Cara ini meski kelak diketahui oleh ahli lain pun akan sulit ditiru. Rumus angka-angkanya tidak akan diungkap.

Masalahnya: dari mana perusahaan dapat tambahan modal? Reaktor nuklirnya sih bisa tetap menggunakan reaktor milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang di Serpong itu, tapi banyak peralatan PT BatanTek yang harus diperbaharui atau diperbaiki.

Satu-satunya di Asia

"Perlu berapa?" tanya saya saat rapat dengan dua ahli nuklir itu di Serpong.

"Cukup besar pak, Rp 85 miliar," jawab Dr Yudiutomo.

"Saya carikan!"

Saya pun menghubungi Bank Rakyat Indonesia. Saya memang sangat kagum dan terharu melihat kejeniusan dua ahli ini. Saya bisa merasakan getaran semangatnya yang meluap. Dan saya juga melihat kilatan matanya yang menyiratkan keinginan untuk maju. Inilah ilmuwan yang memiliki kemampuan manajerial yang handal. Intelektual sekaligus entrepreneur!

Dengan penemuan baru Formula YK ini Indonesia berhasil menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu memproduksi radioisotop. Kini seluruh negara Asia datang ke BatanTek untuk membeli radioisotop!

Radioisotop adalah bahan yang sangat penting untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Radioisotop adalah bahan yang tidak bisa dipisahkan dengan kedokteran nuklir. Dengan radioisotop organ-organ di dalam badan bisa dilihat secara berwarna dan tiga dimensi.

Ini sudah beda dengan radiologi yang hanya bisa hitam putih dan dua dimensi.

Maka pemeriksaan melaui MRI, CT, gamma camera, serta operasi yang menggunakan pisau gamma mutlak memerlukan radioisotop. Jepang pun tidak memproduksinya sehingga pasar radioisotop kita amat besar. Apalagi Tiongkok.

Waktu saya mendampingi Presiden SBY makan siang dengan Presiden Hu Jintao di Beijing yang lalu, saya pun promosi radioisotopnya BatanTek. Kebetulan saya berada di sebelah menteri perdagangan Tiongkok. Selama makan siang itu saya terus minta agar Tiongkok membeli radioisotop kita.

Dengan kemampuan Dr Yudiutomo dan timnya menembus pasar Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan negara-negara Asia lainnya, maka masa depan PT Batan Teknologi amat cerah. Tahun ini omsetnya langsung bisa mencapai Rp 200 miliar. Tidak mustahil bakal bisa mencapai Rp 1 triliun dan kemudian Rp 3 triliun di kemudian hari.

Amerika dan Australia, meski mampu membuat radioisotop, mereka bukan pesaing kita. Umur radioisotop ini hanya 60 jam. Setelah itu daya radiasinya habis. Untuk kebutuhan Tiongkok 10 curie, misalnya, Tiongkok harus membeli 60 curie. Yang 50 curie hilang di jalan. Karena itu pengirimannya harus dengan pesawat. Harus dihitung waktu pengirimannya sejak dari Serpong ke bandara dan seterusnya.

Saya tentu ingin dua ahli kita ini tidak berhenti di radioisotop. Keduanya juga optimis pengetahuannya akan sangat berguna untuk pertanian dan pengeboran minyak.

Tapi biarlah BatanTek maju dulu. Jadi raja Asia dulu. Dua tahun lagi kita bicara nuklir untuk mengamankan pangan kita.

(*) Dahlan Iskan adalah Menteri BUMN

VIVAnews

Posted in: BATAN,BUMNIS,Ilmu Pengetahuan,Nuklir

Bapeten gandeng Bakorkamla awasi peredaran bahan nuklir

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) bekerja sama dengan Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) untuk mengawasi dan menanggulangi peredaran ilegal bahan nuklir khusus dan radioaktif lainnya di wilayah laut Indonesia.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahamahan oleh Kepala Bapeten, Natio Lasman dan Kepala Pelaksana Harian Bakorkamla Laksamana Madya TNI Y Didik Heru Purnomo yang disaksikan oleh Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, di Kantor Bapeten, Jakarta, Selasa.

Kepala Bapeten, Natio Lasman, mengatakan, penandatangan nota kesepahaman ini akan dilanjutkan dengan pembuatan prosedur tetap tentang mekanisme pemeriksaan kapal dari zat radioaktif dan bahan nuklir, sebagai petunjuk bagi petugas pelaksana operasi Bakorkamla.

"Ini diperlukan agar Bakorkamla sebagai petugas pelaksana dapat melaksanakan pemeriksaan dengan prosedur dan peralatan yang benar, sehingga pelaksanaannya memenuhi standar keselamatan bagi petugas maupun lingkungan," katanya.

Tak hanya itu, lanjut dia, Bapeten juga akan memberikan program pelatihan yang ekstensif untuk mengoperasikan peralatan dan merespon alarm adanya radiasi yang dipicu oleh upaya-upaya ilegal.

"Bapeten dan Bakorkamla pun akan melakukan pertukaran informasi untuk menunjang pelaksanaan operasi dan pemanfaatan sarana dan prasarana bersama. Bapeten juga akan ikut serta dalam pelaksanaan on board Bakorkamla dan melakukan operasi lapangan bersama," katanya.

Kepala Pelaksana Harian  Bakorkamla Laksamana Madya TNI Y Didik Heru Purnomo mengatakan, pihaknya akan melakukan pengawasan perdagangan gelap zat radioaktif yang berpotensi disalahgunakan sebagai bagian dari dirty bomb.

"Pengawasan ini merupakan langkah strategis karena peredaran zat radioaktif dilakukan melalui laut. Namun sayangnya, jalan masuk ke Indonesia seperti mie diatas piring, ruwet sekali," katanya.

Menurut dia, terdapat 58 ribu kapal melewati Selat Malaka setiap tahunnya, yang 80 persennya menuju negara industri di Asia Timur dan 60 persennya membawa bahan bakar.

Didik pun mengaku pengawasan zat radioaktif ini belum pernah dilakukan oleh Bakorkamla karena selama ini hanya berurusan dengan kejahatan konvensional. "Kami juga belum menemukan pembuangan limbah yang ditujukan untuk kejahatan misalnya terorisme," katanya.

Sementara itu, Menristek Gusti Muhammad Hatta, menyambut positif kerja sama ini karena sebagai bukti komitmen Indonesia terhadap pengawasan penggunaan radioaktif nuklir.

"Wilayah laut kita luas, banyak pintu masuk dari luar. Ini membuka banyak potensi masuknya limbah dengan kandungan material nuklir atau radioaktif lainnya, sehingga perlu pengawasan lebih," katanya.(S037)

ANTARA News

 Bapeten Bekali Bakorkamla Alat Pendeteksi Zat Radioaktif

Jurnas.com | KEPALA Badan Pengawas Tenaga Nuklir Natio Lasman menyatakan, material nuklir yang terkandung di bumi Nusantara tak boleh didistribusikan ke luar negeri. Kandungan radioaktif yang dapat diolah menjadi material nuklir harus dicatat sejak didalam tanah hingga peredaran dan penggunaannya.

Karenanya Bapeten akan memberikan alat pendeteksi radioaktif pada Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) agar dapat mengawasi peredaran radioaktif yang beredar di wilayah laut Indonesia.

"Kami meminta bantuan pada Bakorkamla agar dapat mengakomodasi pengawasan lalu lintas radioaktif dan mineral yang mengandung bahan di laut. Karena begitu masuk ke laut, kami kesulitan,"kata Kepala Bapeten Natio Lasman usai menandatangani nota kesepahaman Bapeten-Bakorkamla di kantornya di Jakarta, Selasa (3/7).

Menurut Natio, kekayaan bahan tambang Indonesia khususnya yang banyak mengandung zat radio aktif banyak diminati negara lain. Dia mencontohkan, Bangka Belitung dan Kalimantan memiliki material nuklirnya yang berlimpah seperti uranium, thorium. "Sumber energi yang luar biasa, 1 gram uranium itu setara dengan 3 ton batubara,"ujarnya.

Selain memiliki potensi energi yang luar biasa, material nuklir dan zat radioaktif juga dapat menjadi bahan senjata pemusnah massal. Limbah bahan-bahan ini juga dapat menimbulkan dampak buruk bagi alam.

Karena memiliki letak geografis yang strategis, Indonesia menjadi daerah lintas antar negara dalam pengangkutan bahan radioaktif. Laut Indonesia yang luas juga berpotensi menjadi lokasi pembuangan limbah radioaktif. "Karenanya kami akan memberikan alat yang dapat mendeteksi radioaktif di kapal-kapal Bakorkamla agar pengawasan radioaktif ini bisa dilakukan lebih ketat,"jelas Natio.

Menurut dia, alat tersebut akan dikirim pada 2013. Sayangnya, Natio tidak merinci alat pendeteksi radioaktif tersebut. Dia enggan menyebut jumlah, anggaran, dan produsen alat tersebut. "Belum dapat kami informasikan,"tandasnya.

Jurnas.com

Posted in: Bapeten,Nuklir

#Tag : Bapeten Nuklir

Pemerintah wacanakan pembangunan pusat nuklir di Kalbar

Ilustrasi

Banjarmasin - Pemerintah pusat mewacanakan untuk membangun pusat nuklir di Provinsi Kalimantan Barat karena di daerah tersebut ditemukan sumber daya alam uranium yang cukup besar.

Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin yang juga ketua Forum Percepatan Pembangunan dan Revitalisasi Kalimantan di Banjarmasin, Senin mengatakan, beberapa waktu lalu dia bersama dengan perwakilan Gubernur wilayah Kalimantan melakukan pertemuan dengan beberapa kementerian antara lain, Kementerian Ekonomi, ESDM dan terkait lainnya.

Salah satu hasil pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah rencana pembangunan pusat pengembangan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan sumber energi lainnya.

"Kalimantan adalah wilayah cukup kaya, bukan hanya tambang batu bara, emas dan lainnya tetapi juga uranium di Kalbar," katanya.

Karena bahan baku utama energi nuklir tersebut banyak di temukan di Kalbar, sehingga diwacanakan untuk mengembangkan energi tersebut untuk pembangunan pemenuhan energi masa depan Kalimantan.

Rencana tersebut, kata dia, juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang kini masih kurang, sehingga pelaksanaan MP3EI serta Permen ESDM tentang larangan bahan baku energi keluar dari Indonesia bisa segera diwujudkan.

"Kami sangat berharap berbagai infrastruktur, jalan, jembatan dan bandara udara, pelabuhan laut dan energi di wilayah Kalimantan bisa diselesaikan pada 2014," katanya.

Tanpa dukungan infrastruktur dan energi yang memadai, tambah dia, pelaksanaan MP3EI dan Permen ESDM tersebut akan sulit untuk direalisasikan.

Apalagi, kata dia, beberapa negara importir tambang seperti Jepang, China, dan beberapa negara lainnya, kini sudah mulai mengurangi permintaan karena ditemukannya gas yang cukup besar di Amerika dan Australia.

Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah, walaupun kini tambang bukan lagi satu-satunya tumpuan perekonomian Kalsel.

"Kedepan kita akan mengembangkan sektor perekonomian dalam arti luas, selain juga mendorong tumbuhnya investasi terutama industri skala besar," katanya.

Kini, tambah Gubernur, yang sudah siap untuk beroperasi adalah tiga perusahaan bijih besi di Kabupatan Tanah Laut dan Tanah Bumbu, sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan MP3EI.

( Antara )

Posted in: Energi,Nuklir,PLTN

#Tag : Energi Nuklir PLTN

Bangun Pabrik Isotop Nuklir, Batan Teknologi Kucurkan Rp 1,7 T

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTUOhnAniegsirFu_rI2iWLudXzUKmHkITxFnUiBve07dZ-RAKW JAKARTA - PT Batan Teknologi (Persero) berencana membangun pabrik yang memproduksi isotop nuklir di Amerika Serikat (AS). Pengadaan isotop tersebut, nantinya akan digunakan untuk keperluan kesehatan.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkapkan, pendanaan pabrik isotop nuklir yang akan dibangun PT Batan Teknologi dibiayai Eximbank. Dahlan menyebutkan Batantek memperoleh dana sebesar Rp 1,7 triliun.

"Iya betul, itu (pembiayaan) dari Eximbank. Betul pendanaannya dari sana," ujar Dahlan Iskan, kala ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu(26/9/2012).

Dahlan menuturkan, meski Batantek memperoleh pendanaan dari Eximbank. Namun pihak AS juga memiliki investasi yang lebih besar. Menurut dia, kepemilikan pabrik isotop nuklir tersebut nantinya mayoritas dipegang oleh pihak AS. "Mereka mayoritas karena mereka investasi lebih besar, investasi kita Rp 1,7 triliun," ujar Dahlan.

Hingga saat ini, Dahlan masih menunggu kabar dari Direktur Utama PT Batantek mengenai laporan ke pemegang saham AS. Selain itu, dia juga berkoordinasi dengan pemegang saham pihak Indonesia. "Nah, kalau nanti pemegang saham setuju baru lah direalisasikan," katanya.

Dahlan menjelaskan, produk yang dihasilkan pabrik reaktor nuklir isotop di Amerika akan berbentuk menyerupai cairan. cairan itu nantinya akan mampu mendeteksi penyakit seseorang. Dengan cara menyuntikan cairan radio isotop itu seperti dikatakan Dahlan, akan mampu mendeteksi penyakit seseorang.

"Nanti itu seperti cairan, nanti akan bisa memdeteksi sakit apa dengan cara menyuntikan cairan itu, cairan itu namanya radio isotop, yang bisa mendeteksi penyakit," jelas dia

Cairan itu yang nantinya akan membedakan organ-organ tubuh, sehingga ketika cairan itu masuk maka akan kelihatan penyakitnya apa. "Lebih untuk mendeteksi," tambah dia.

Menurutnya, cairan ini akan menggantikan penggunaan citiscan, namun lebih praktirs karena hanya di suntikan. "Ini sangat aman, enggak berbahaya, ini sangat aman," tegas Dahlan.

Sebelumnya, Dahlan mengatakan bahwa Batan Teknologi punya peluang menjadi produsen radio isotop atau kedokteran nuklir terbesar di dunia. "Batan Teknologi ini peluangnya besar, negara lain enggak ada yang bisa buat kecuali Indonesia," katanya.

Dia menjelaskan, alasan Batan membangun pabriknya di sana, karena jika diproduksi di Indonesia tetap harus dibawa ke AS. Dalam perjalanan tersebut, dikhawatirkan radiasi isotop tersebut akan habis. "Kalau dikirim ke AS itu radiasinya hilang, satu-satunya cara mendirikan perusahaan di AS," jelasnya.

© Okezone

Posted in: BATAN,Nuklir

#Tag : BATAN Nuklir

Teknologi Nuklir Mampu Tingkatkan Produktifitas Pertanian

Jakarta - Kepala Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) Hendig Winarno mengatakan, salah satu penerapan teknologi radiasi dan isotop dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas pertanian.

"Dalam benih kedelai yang akan kami luncurkan akhir tahun ini, kami berhasil membuat benih super yang dapat dipanen setelah 69 hari, kemudian dari sisi produktifitas dalam satu hektar dapat menghasilkan 2,5 ton kedelai," katanya di sela-sela acara fungsi Isotop dan Radiasi untuk Mitigasi Perubahan Iklim dan Antisipasi Dampaknya Terhadap Ketahanan Pangan, Kesehatan, Industri, dan Lingkungan, di Jakarta, Selasa (9/10/2012).

Penerapan proses radiasi guna mendapatkan keragaman genetik, membuat hasil panen yang melimpah dan memiliki umur yang relatif singkat ketimbang benih kedelai yang tidak menggunakan proses radiasi.

Meski demikian, PATIR pun terus berupaya agar benih terbaru ini dapat menghasilkan panen yang optimal. Hendig menambahkan, meski baru menghasilkan 2,5 ton per hektar,  PATIR terus mengembangkan agar benih bari ini dapat menembus 4 ton per hektar seperti benih dengan varietas Mutiara.

Selain itu, Hendig juga mengungkapkan bahwa untuk mencukupi kebutuhan benih di seluruh Indonesia. Hanya memerlukan 1,5 ton benih yang dikembangkan dengan teknologi radiasi.(amr)

© Okezone

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Nuklir

Nuklir Dibutuhkan Guna Sokong Ekonomi Indonesia

Ilustrasi PLTN

(Foto Corbis.com)

Jakarta - Direktur Industri, Iptek dan BUMN Bappenas, Mesdin Kornelis Simarmata mengatakan, guna menyokong Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Indonesia memerlukan kehandalan sumber energi yang mendekati 100 persen.

"Industri di Indonesia merupakan padat energi, oleh karena itu untuk mendukung industri Tanah Air, nuklir menjadi sumber energi yang dapat dihandalkan," ujar Mesdin kepada Okezone di Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Mesdin menambahkan, industri padat energi dan modal seperti, pemurnian serta peleburan logam, pengolahan CPO, dan pengolahan karet membutuhkan energi listrik yang mumpuni.

"Sayangnya, pasokan energi belum mencukupi. Oleh karena itu PLTN dapat menyokong kebutuhan energi," imbuh Mesdin.

Bukan hanya dari sisi industri nuklir, dalam bidang pangan, pengaplikasian teknologi nuklir dapat membantu ketahanan pangan dan menembus target 10 juta ton pada 2014.

"Bibit unggul yang telah diproses dengan teknologi radiasi telah menyumbang bibit unggul padi, kedelai, sorgum, dan lainnya," paparnya di sela-sela acara Seminar Geologi Nuklir dan Sumber Daya Tambang di kantor BATAN, Pasar Jumat, Jakarta.

Di sisi lain, industri makanan juga  memerlukan teknologi pengawetan yang tidak merusak kesehatan. Oleh sebab itu, metode pengawetan dengan teknologi radiasi dapat diandalakan dan berkontribusi dalam industri makanan di Tanah Air.

Selain itu, dari aspek kesehatan, kata Mesdin, disaat ekonomi tumbuh, kesehatan akan tumbuh. Oleh karena itu diperlukan alat diagnosa(gamma camera, diagnostic kits, dan obat-obatan yang ditelurkan dari pengaplikasian teknologi radiasi dan radio isotop BATAN.(amr)

© Okezone

Posted in: BATAN,Ekonomi,Energi,Nuklir

Iran Bersedia Bantu RI Kembangkan Nuklir

Ilustrasi PLTN

(Foto Corbis)

Kuwait - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan, Iran bersedia membantu Indonesia mengembangkan PLTN nuklir. Kesediaan Iran ini disampaikan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang didampingi beberapa menterinya kepada Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asian Cooperation Dialog (ACD) di Kuwait.

“Indonesia butuh nuklir untuk menggantikan tenaga minyak dan gas yang mungkin habis pada 2050,” kata Rudi dalam pertemuannya bersama Ahmadinejad, di Kuwait, Rabu, 17 Oktober 2012. Iran sudah menyatakan kesiapannya membantu mengembangkan PLTN nuklir di Indonesia.

Rudi menjelaskan, Indonesia membutuhkan nuklir tapi hanya untuk skala menengah. Kebutuhan nuklir ini, selain karena negara kepulauan yang butuh pembangkit banyak, Indonesia juga hanya ingin mengembangkan nuklir skala menengah agar negara lain tidak merasa terancam.

Potensi pengembangan PLTN skala menengah itu, Rudi menambahkan, terdapat di Belitung, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. “Pemerintah daerahnya sudah mau,” ujarnya.

Hanya saja, bentuk kerja sama pengembangan nuklir ini belum konkrit karena baru pembicaraan awal. Namun, Rudi meyakinkan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa pernah mengungkapkan pemerintah akan mencari pendanaan dari Kuwait untuk beberapa proyek. Kuwait akan menggelontorkan pendanaan melalui lembaga pendanaan pelat merah Kuwait yaitu Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFEAD).

© Tempo.Co

Posted in: Energi,Ilmu Pengetahuan,Nuklir

Menristek: PLTN Solusi Ketersediaan Listrik

Wina - Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mendukung dibangunnya pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia. Menurut dia, PLTN bisa mengurangi efek rumah kaca.

"Itu sesuai dengan program pemerintah dan direncanakan pada 2020," kata Hatta saat pertemuan dengan warga Indonesia di Kedutaan Besar Indonesia di Wina, Austria, tadi malam, Rabu 24 Oktober 2012.

Menurut Hatta, PLTN menjadi solusi ketersediaan energi listrik nasional. "Bayangkan satu gramnya bisa menghasilkan satu megawatt (listrik) untuk siang dan malam," kata Hatta yang juga anggota Dewan Energi Nasional itu.

Pembangunan PLTN, kata Hatta, juga bisa menekan efek rumah kaca yang selama ini dihasilkan lewat pembangkit listrik yang menggunakan minyak bumi. "Tapi efek rumah kaca yang paling besar memang dihasilkan oleh deforestation," ujar Hatta.

Menteri Teknologi Hatta berada di Wina, Austria dalam rangka menghadiri konferensi internasional ke-40 IIASA (International Institute for Applied Systems Analysis). "Pak Menteri sebagai salah satu pembicara," kata Duta Besar Indonesia untuk Austria, Rachmat Budimana.

Menurut Rachmat, dalam konferensi itu Hatta berada sejajar dengan peraih nobel Thomas Schelling. "Itu merupakan hal yang membanggakan," kata mantan Direktur Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri ini.

© Tempo.Co

Posted in: Energi,Nuklir,PLTN

#Tag : Energi Nuklir PLTN

Mencicipi Ikan Goreng Hasil Teknologi Nuklir

http://statik.tempo.co/data/2012/06/06/id_123617/123617_275.jpg Tangerang - Ragu-ragu, Muhammad Sabarudin mengambil ikan Lele goreng dan ikan Nila bakar yang terhidang di sebuah meja prasmanan. Wartawan salah satu media nasional di Jakarta berusia 34 tahun ini terlihat bimbang apakah mengambil lauk ikan itu atau tidak.

Padahal, saat itu dibelakang Sabar antrian makan siang dalam acara panen ikan tawar dengan Suplemen Pakan Ikan produk Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Desa Sumur Bandung, Jayanti, Kabupaten Tangerang, sudah mengular panjang. "Aman ngak yah? Ada radiasi nuklirnya nggak?" katanya.

Namun, keraguan Sabar dan para tamu lainnya yang hadir terjawab ketika rombongan peneliti Batan yang dipimpin Kepala Pusat Diseminasi Iptek Nuklir, Ruslan, mengambil masakan ikan itu dan menyantapnya. "Dijamin aman dari nuklir dan radiasinya," kata Ruslan sambil tersenyum, Selasa, 30 Oktober 2012.

Untuk membuat produk Suplemen Pakan Ikan (SPI) dari Iptek Nuklir ini, Ruslan menjelaskan, penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir hanya dalam proses mendekontaminasi bakteri patogen agar pakan tersebut lebih tanah lama, sehingga pada ikan tidak ada nuklir atau radiasinya. Ia menjamin ikan yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi dan tidak berpengaruh negatif terhadap kesehatan tubuh.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memang tengah mengembangkan pakan ikan yang berasal dari hasil penelitian dan pengembangan Iptek Nuklir. Pakan atau suplemen ikan ini dapat merangsang pertumbuhan dan berat ikan sehingga hasil yang didapat bobotnya lebih berat serta mempercepat masa panen. "Ini adalah salah satu hasil penelitian Iptek Nuklir Batan dibidang ketahanan pangan," kata Ruslan.

Menurut Ruslan, Suplemen Pakan Ikan merupakan produk Batan yang menggunakan bahan limbah pertanian, seperti ampas kelapa sawit, ampas kecap, bungkil kedelai, tepung ikan, menir atau dedak, sementara vitamin dan mineralnya menggunakan vitamin topmix. "Bahan dasar bisa disesuaikan dengan bahan lokal yang mudah didapat didaerah masing-masing seperti ampas kecap bisa diganti ampas tahu," katanya.

Hanya saja, dia menambahkan, produk ini masih memiliki kekurangan, yaitu pakan tidak mengapung seperti pada pakan ikan lainnya. Dengan pakan yang langsung tenggelam, kurang terjangkau oleh ikan, sehingga ketika memberi pakan ke ikan membutuhkan lebih banyak dan secara berulang.

Selain mengembangkan Suplemen Pakan Ikan, Batan juga mengembangkan pejantanan ikan dengan menggunakan hormon testoron. Hormon tersebut, menurut Ruslan, bersifat alami dan tidak mengandung residu kimia karena dari bahan testis sapi. "Tujuannya adalah menjantankan ikan atau sek reversal, karena ikan jantan lebih cepat besar dibanding ikan betina, sehingga menguntungkan karena mempercepat masa panen," katanya.

Peneliti Batan, Ardiyah, menambahkan hasil temuan Iptek Nuklir ini memang diperuntukkan bagi peternak dan budidaya ikan. Sebab, dengan menggunakan Suplemen Pakan Ikan dan pejantanan ikan, para peternak ikan bisa mendapatkan keuntungan yang cukup banyak, seperti bobot ikan bertambah hingga 30 persen dan mempercepat waktu panen dan memangkas biaya operasional.

"Dengan menggunakan pakan ini, masa panen dipercepat hanya sampai 2,5 bulan untuk ikan lele, yang jika tidak menggunakan stimulant bisa sampai 4 bulanan," katanya.

Begitu juga dengan bobot ikan dengan menggunakan suplemen ini, per kilogram ikan Nila atau Lele hanya lima ekor. Sedangkan tanpa suoplemen, per kilogramnya bisa mencapai 7-10 kilogram.

© Tempo

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Nuklir

Forum Nuklir Asia Diikuti 12 Negara

Jakarta - Perwakilan dari 12 negara turut menghadiri pertemuan Forum Kerjasama Nuklir Asia (Forum for Nuclear Cooperation in Asia/FNCA) tingkat menteri dan pejabat senior di Jakarta, 23-24 November 2012, guna membahas pemanfaatan teknologi nuklir di bidang ketenagalistrikan, pertanian, dan kesehatan.

"Di forum ini kami saling `sharing` pengalaman dan kemajuan di bidang masing-masing," kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Wisnubroto pada sela-sela "The 13th FNCA Ministerial Level Meeting" yang dihadiri 70 anggota dari 12 negara, di Jakarta, Sabtu.

Sebanyak 12 negara tersebut yakni dari Indonesia, Jepang, Australia, Bangladesh, China, Kazakhstan, Korea Selatan, Malaysia, Mongolia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Indonesia, ujarnya, akan memaparkan tentang berbagai hasil risetnya yang sudah digunakan dalam pertanian di Indonesia seperti benih padi unggul serta hasil riset dalam peternakan khususnya penggemukan sapi, dan peningkatan susu.

"Melalui jejaring reaktor riset yang sudah terbentuk kami juga bisa saling promosi dan mengungkapkan masalah misalnya ada negara-negara yang kekurangan radio isotop untuk keperluan kesehatan, kami Batan memiliki produknya. Sejauh ini Batan sudah mengekspor radio isotop ke sejumlah negara seperti Bangladesh dan Thailand," katanya.

Sedangkan Jepang, lanjut dia, lebih menekankan pada bagaimana negaranya menangani kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima, baik dari sisi teknis maupun dari sisi sosial.

"Dari sisi teknis Jepang berbagi tentang bagaimana mengatasi kebocoran dan membersihkan daerah-daerah yang terkontaminasi radioaktif dan dari sisi sosial bagaimana memulihkan kondisi masyarakat setelah kejadian tersebut," katanya.

Hadir dalam forum yang dimotori oleh Jepang tersebut antara lain Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, Wakil Menteri Senior Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MEXT) Jepang Shinkun Haku, Menteri Iptek Bangladesh Yeafesh Osman, Menteri Iptek dan Inovasi Malaysia Maximus Johnity Ongkili, serta para kepala badan energi nuklir dan asisten menteri terkait di delapan negara lainnya.

Sementara itu, Menristek Gusti M Hatta di forum tersebut mengatakan, di Indonesia teknologi nuklir sudah terbukti berkontribusi dalam pembangunan dan melalui peran FNCA kontribusi ini diharapkan semakin maju, selain itu juga termonitor, khususnya di bidang pangan dan pertanian, kesehatan, lingkungan dan manajemen keselamatan nuklir.

Gusti juga mengungkapkan bahwa jajak pendapat tentang rencana pembangunan PLTN di Indonesia pada 2012 mengungkapkan bahwa 52,8 persen warga setuju, 24,3 persen menolak dan 22,9 persen tidak tahu.(D009)

© Antara

Posted in: Nuklir

#Tag : Nuklir

Teknologi Nuklir Dibutuhkan untuk Ketahanan Pangan

Terbukti Mampu Ciptakan Produk Unggulan

Krisis ketersediaan pangan telah menjadi permasalahan global dan juga berpengaruh di tingkat nasional. Bahkan krisis pangan menyebabkan negara harus mengimpor kebutuhan pangan dalam jumlah besar, untuk menjamin ketersediaan pangan nasional.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), selama bulan Januari-Juni 2011, impor pangan Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai US$ 5,36 miliar atau kurang lebih Rp 45 triliun. Barang impor mulai dari beras, jagung, terigu, gula garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, bawang merah, cabai hingga buah-buahan.

Adapun data impor pangan selama Januari-Maret 2012 dari Pelindo II cabang Tanjung Priok menunjukkan impor beras sebanyak 330.539 ton, jagung 33.700 ton, tapioka 7.422 ton, gandum 546.932 ton dan garam 25.400 ton.

“Teknologi nuklir untuk pangan saat itu dirasakan sangat besar manfaatnya untuk menjawab solusi masalah ketahanan pangan,” kata Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), dalam Executive Forum ‘Nuklir untuk Pangan’, di Jakarta.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi nuklir tidak melulu untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan senjata nuklir. Buktinya, Batan telah menghasilkan benih padi varietas unggul dengan teknologi mutasi radiasi yang lebih murah, cepat dipanen, tahan lama dan enak rasanya.

Ketua Umum Tani Nelayan, Winarno Tohir, mengakui hasil teknologi nuklir untuk produk pangan, seperti benih padi Mirah. Belum lagi pemuliaan kedelai Mutiara I yang dikembangkan dalam skala besar.

“Kami sangat membutuhkan teknologi nuklir ini karena hasil panennya cukup menjanjikan, Sayangnya, teknologi nuklir ini belum mampu menjawab ketersediaan pangan. Terbukti, sebagian besar kebutuhan pangan kita hasil impor. Mulai bawang, beras, jagung, terigu, gula, garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, cabai, hingga buah-buahan. Kita harus bisa menghentikan ketergantungan pangan ini melalui teknologi nuklir,” kata Tohir. @hidayat

Lensa Indonesia

Posted in: Nuklir,Pangan

#Tag : Nuklir Pangan

Kepala BATAN: "Reaktor Eksperimental Daya Lebih Mudah Diterima Publik"

Jakarta � Energi Nuklir menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk mengatasi persoalan krisis energi di tanah air. Di tengah semakin menipisnya sumber-sumber energi dari fosil seperti minyak bumi dan batu bara, energi nuklir menjadi alternatif sumber energi terbaik untuk memenuhi kebutuhan hampir 260 juta penduduk Indonesia ini. Untuk mewujudkan opsi terbaik ini tentu membutuhkan dukungan seluruh stakeholders.

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun sejalan dengan belum diterimanya secara utuh nilai positif dari rencana pemerintah terhadap pembangunan PLTN oleh sebagian masyarakat, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto mewacanakan gagasan pembangunan reaktor eksperimental daya terlebih dulu sebagai pilihan mendesak untuk mengatasi kebutuhan energi listrik di seluruh wilayah di tanah air.

"Reaktor ekperimental daya diharapkan mampu menjadi role model pembangunan PLTN dalam skala kecil sehingga masyarakat nantinya dapat melihat secara objektif jika bisa diwujudkan bahwa sesungguhnya PLTN itu adalah teknologi yang aman dan ramah lingkungan," jelas insinyur nuklir UGM Yogyakarta.

Untuk mengetahui langkah taktis dan strategis bagaimana mengimplementasikan terobosan program-program BATAN ke depan, Doktor Nuclear Engineering University of Tokyo yang baru dua bulan menjabat sebagai Kepala BATAN ini berkesempatan melakukan wawancara dengan Ag. Sofyan dari Suara Karya. Berikut petikannya :

Apa langkah-langkah yang anda lakukan selepas menerima kepercayaan menjadi Kepala BATAN ?

Pertama kita lakukan pendekatan kepada stakeholders terkait termasuk di dalamnya media massa. Kita juga menggandeng pemangku kepentingan lain termasuk perguruan tinggi, karena BATAN menyadari sebagai lembaga litbang, kita tak akan dapat berdiri sendiri. Salah satunya ITB yang memiliki ahli reaktor nuklir akan intens dilibatkan dalam kerja sama ini. Intinya kita akan lebih mengikat banyak jejaring, karena BATAN tentu tak dapat berjalan sendiri untuk mensukseskan progamnya.

Kita bisa melihat contoh yang bagus dan belajar dari metode yang diterapkan di Jepang dimana sejumlah peneliti dan komunitas intelektual (universitas) turut mendukung dan bekerja bersama-sama dalam menciptakan PLTN yang aman dan bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak. Di Indonesia justru ironis, kami dicap kalau semua yang berkaitan dengan nuklir itu urusannya BATAN saja. Seolah-olah di luar BATAN tak perlu dilibatkan.

Bagaimana respon masyarakat terhadap penggunaan teknologi nuklir ?

Saya menilai persepsi publik terhadap teknologi nuklir semakin positif dan cenderung meningkat. Ada progress yang cukup baik di masyarakat terhadap penerimaan energi nuklir. Itu bisa dilihat pada hasil jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset Andira Karya Persada, yang menurut saya memberikan surprise karena hasilnya menunjukkan persepsi masyarakat yang baik terhadap BATAN dalam konteks bicara tentang teknologi nuklir. Survei menunjukkan setelah Presiden, BATAN dianggap sebagai institusi yang terpercaya berbicara tentang nuklir. Meskipun betul itu memang tugas pokok kita, namun kepercayaan ini tentu menjadi modal yang menggembirakan bagi BATAN untuk melangkah lebih jauh. Hasil survei itu memberikan gambaran positif penerimaan masyarakat pada alternatif penggunaan energi nuklir sebagai opsi mengatasi krisis energi nasional. Secara umum persepsi masyarakat tentang Iptek Nuklir lebih baik di tahun ini. Hal itu bisa kita cermati dengan meningkatnya persepsi positif masyarakat terhadap kegunaan teknologi nuklir.

Bagaimana dinamika persepsi publik terhadap survei tersebut ?

BATAN secara rutin menggiatkan jajak pendapat berdasarkan penetapan Renstra PDIN 2010-2014. Awalnya, pada 2010 persepsi masyarakat secara nasional ditunjukkan dengan angka 59,7 persen menerima pemanfaatan Iptek Nuklir dalam bidang energi melalui pembangunan PLTN, sebanyak 25,5 persen menilai perlunya pembangunan PLTN dan 14,8 persen tidak tahu.

Sedangkan pada 2011, terjadi penurunan penerimaan pembangunan PLTN dengan 49,5 persen setuju, 35,5 persen responden menolak, dan 15 persen tidak tahu. Jajak pendapat dari 7 Oktober hingga 21 Oktober 2012, menemukan bahwa 52,7 persen dari keseluruhan responden menerima pembangunan fasilitas PLTN di Tanah Air, sedangkan 25,23 persen tidak setuju, dan 22,83 persen tidak tahu.

Bagaimana memberikan pemahaman bahwa teknologi nuklir dibutuhkan untuk masa depan ?

Salah satu hal yang penting untuk terus disosialisasikan adalah mengubah mindset, bahwa kita tidak lagi kaya sumber energi. Suatu saat sumber energi dari fosil seperti minyak dan batu bara akan habis. Oleh karenanya BATAN secara aktif mengajak berbagai kalangan, termasuk akademisi dan para jurnalis mempunyai persepsi yang sama terhadap energi alternatif positif lainnya, salah satunya energi nuklir. Saat ini Iptek Nuklir memang telah dipergunakan untuk program nonenergi. Melalui kegiatan ini, nuklir bisa langsung dimanfaatkan melalui berbagai aplikasi yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Contohnya Teknik Serangga Mandul (TSM) dan pemuliaan varietas padi unggul adalah aplikasi teknologi nuklir yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Bagaimana tentang pembangunan PLTN ?

Indonesia masih membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan obsesi itu. Beberapa daerah di wilayah tanah air memang telah mengajukan tawaran untuk menjadikan lokasi alternatif tapak nuklir.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketidakpastian regulasi maupun kebijakan di daerah yang sering berubah-ubah seiring pergantian pimpinan daerah yang bisa berpengaruh terhadap keberlangsungan tapak nuklir ini.

Saya katakan daerah harus memiliki planning jangka panjang yang kuat yang tidak akan membawa pengaruh terhadap policy yang sudah diambil meskipun pucuk pimpinan daerah bisa saja berganti kapan pun.

Di usia ke 54 BATAN, apa harapan anda ?

Jujur saya ingin membawa BATAN kembali ke khittah sebagai lembaga penelitian dan pengembangan (litbang). Khitah BATAN memang seperti itu dan bukan sebagai lembaga pembuat kebijakan energi. Soal itu barangkali adalah otoritas yang bisa diserahkan kepada Kementerian ESDM maupun institusi terkait seperti DEN. BATAN ingin tugas dan fungsinya hanya memberikan masukan atas opsi-opsi terbaik yang bisa dipilih terhadap Iptek Nuklir. Sementara keputusan finalnya dikembalikan kepada pemerintah dengan persetujuan DPR.

Apa tantangan BATAN ke depan ?

Tantangan utama BATAN adalah menyiapkan diri kapan pun pemerintah menghendaki energi nuklir dapat segera diimplementasikan di negeri ini dengan pembangunan PLTN. Kita sekuat tenaga lakukan terus langkah tersebut agar tidak terjadi demotivasi pada seluruh karyawan dan para peneliti di BATAN. Mereka harus punya semangat yang kuat bahwa suatu saat obsesi pembangunan nuklir akan bisa terwujud. Di sisi eksternal, jika kelak policy pemerintah untuk menggunakan energi nuklir dilakukan, kita sudah siap setiap saat kapan pun dan siapa pun pemerintahannya. Untuk mencegah sikap apatis dan skeptis, BATAN menciptakan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi, karena kita memiliki 3 reaktor riset yang menjadi tumpuan melakukan kegiatan.

Reaktor yang sudah ada sejak tahun 1965 harus tetap berjalan dengan baik dan kegiatan yang dilakukan sangat penting untuk menunjukkan eksitensi BATAN tak hanya di tingkat nasional tapi juga di mata internasional. Australia barangkali bisa menjadi contoh yang sangat baik. BATAN-nya Australia tidak punya PLTN, namun tenaga mereka expert dan eksis di seluruh dunia di bidang nuklir. Maka kita harus bisa seperti itu, tanpa PLTN-pun kita harus bisa mencetak tenaga yang expert dan mendunia. Dan kita siap untuk itu.

Penggunaan energi nuklir di masa depan akan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Kita bisa lihat contoh Uni Emirat Arab yang kaya energi, mereka juga telah memikirkan alternatif penggunaan energi nuklir sebagai pilihan tepat masa depan.

Apa sebetulnya obsesi anda sebagai orang yang sudah lama berkutat di bidang kenukliran ?

Dengan berkaca kepada sejarah selama hampir tiga dekade keinginan untuk mewujudkan PLTN belum terlaksana. Saya ingin mewujudkan pembangunan reaktor eksperimental daya yang akan digunakan sebagai reaktor riset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dalam skala kecil tetapi tidak komersial. Ini semacam PLTN mini, dimana di situ masyarakat dapat melihat maket PLTN yang safe sehingga menambah keyakinan pada masyarakat bahwa teknologi nuklir untuk kepentingan energi sesungguhnya aman untuk digunakan.

Keinginan ini adalah upaya terobosan mengingat kesulitan yang demikian besar jika memakai jalur konvensional untuk membangun PLTN. Pembangunan reaktor eksperimental daya ini saya asumsikan lebih mudah diterima selain tidak membutuhkan proses politik yang panjang. Apalagi itu juga masih dalam domain tugas BATAN. *

Suara Karya

Posted in: BATAN,Energi,Nuklir,PLTN

IAEA beri tiga alat pemantau radiasi nuklir

http://img.antaranews.com/new/2012/02/small/20120213IAEALOGO.jpg International Atomic Energy Agency (IAEA) (ANTARA News/Lukisatrio)

 Jakarta Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) akan memberikan tiga unit pemantau radiasi nuklir atau Radiation Portal Monitor (RPM) pada tahun ini.

"Rencananya tambahan RPM tersebut akan dipasang di pelabuhan yang ada di Manado, Makassar dan Semarang," ujar Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman di Jakarta, Selasa.

Dengan ditambahnya tiga alat pemantau tersebut, kata dia, maka RPM yang ada di Indonesia berjumlah tujuh unit. Sebelumnya empat RPM sudah dipasang di Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan dan Batam.

Bapeten, lanjut dia, melakukan pengawasan ketenaganukliran sesuai dengan amanat UU 10/1997. Pengawasan dilakukan melalui tiga cara yakni regulasi, perizinan dan inspeksi.

"RPM tersebut diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya radiasi nuklir pada barang-barang yang masuk ke Tanah Air," katanya.

Ia mengungkapkan saat ini pemanfaatan tenaga nuklir semakin meningkat baik dibidang kesehatan, industri maupun penelitian. Peningkatan tersebut juga harus diimbangi dengan peningkatan dan penguatan kapasitas pengawasan.

As juga menambahkan pengawasan lalu lintas perdagangan bahan nuklir dilakukan secara ketat diperlukan agar terhindar dari penyalahgunaan dan penyimpangan dari sebuah pemanfaatan nuklir untuk tujuan non damai.

Pegawasan lalu lintas perdagangan bahan nuklir secara ketat sesuai dengan peraturan Menteri Perdagangan dan dan Menteri Energi Sumber Daya Mineral yang melarang bahan-bahan mentah yang mengandung unsur-unsur strategis dilarang untuk dijual/diekspor, kecuali diolah terlebih dahulu.***4***

  • Antara

Posted in: Nuklir

#Tag : Nuklir

Indonesia Tidak Akan Pernah Buat Senjata Nuklir

Foto: Orange Jakarta Indonesia berkomitmen untuk tidak menggunakan teknologi nuklirnya untuk membuat senjata nuklir. Indonesia pun dianggap berhak untuk meminta kompensasi dari negara-negara maju atas komitmennya tersebut.

"Indonesia sudah berkomitmen untuk tidak membuat senjata nuklir. Indonesia hanya akan menggunakan teknologi nuklirnya untuk hal-hal yang bermanfaat untuk manusia dan kemanusiaan," ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib, di sela-sela seminar Kawasan ASEAN Tanpa Senjata Nuklir di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/2/2013).

"Dengan komitmennya itu Indonesia berhak untuk mendapatkan kompensasi dari negara-negara maju yang mendukung pemusnahan senjata nuklir," lanjut Nadjib.

Nadjib menerangkan kompensasi yang telah didapatkan Indonesia antara lain bantuan pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang teknologi nuklir. Menurutnya hal tersebut sangat bermanfaat bagi Indonesia karena teknologi nuklir juga dapat digunakan untuk memantau bencana alam.

"Alat-alat yang digunakan dalam teknologi nuklir sangatlah canggih dan dapat juga dipakai untuk memantau bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, seperti tsunami maupun gunung meletus," pungkas anggota Komisi I itu.(faj)

 Indonesia dengan Mudah Mampu Bangun Senjata Nuklir

Indonesia disebut dapat dengan mudah membuat senjata nuklir apabila diinginkan. Hal itu dikarenakan Indonesia kini telah memiliki teknologi nuklir yang cukup maju untuk membuat senjata nuklir.

“Patut diketahui Indonesia dapat dengan mudah memiliki senjata nuklir jika mau. Teknologi nuklir yang kini Indonesia miliki dapat dengan mudah diubah menjadi teknologi untuk mebuat senjata nuklir,” ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib, dalam seminar Kawasan ASEAN Bebas Nuklir di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/2/2013).

“Itu sebabnya komunitas internasional mengawasi sangat ketat negara-negara yang diketahui memiliki tenaga nuklir, seperti Iran,” lanjut Nadjib.

Nadjib menyebut komunitas internasional curiga dengan niat Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir karena teknologi tersebut memang dapat dengan mudah diselewengkan untuk membuat senjata nuklir.

“Iran walaupun sampai sekarang tidak terbukti mengembangkan senjata dan mau bekerja sama dengan IAEA, namun tetap saja pihak Barat curiga dengan Iran,” terang anggota DPR itu.( faj)

  ● Okezone

Posted in: Nuklir

#Tag : Nuklir

Teknologi Nuklir Indonesia Paling Maju di ASEAN

Ilustrasi PLTN
Indonesia, di samping sebagai negara terbesar dalam organisasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), juga merupakan negara dengan teknologi nuklir paling maju.

Hal itu dikatakan anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Muhammad Najib di sela Seminar Maintaining a Southeast Asia Free of Nuclear Weapons di Jakarta, Selasa (12/2).

Najib mengatakan Indonesia saat ini sudah memiliki tiga reaktor nuklir. "Yang pertama didirikan itu di Bandung, lalu Kartini di Yogya, dan di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknolog (Puspiptek)," kata dia.

Teknologi nuklir yang dimiliki Indonesia saat ini, kata dia, sudah mampu menghasilkan bibit-bibit tanaman baru dan obat-obatan.

Indonesia juga sudah berhasil mempengaruhi ASEAN supaya menjadi kawasan bebas senjata nuklir. Langkah itu mendapat apresiasi dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Selain itu, lanjut dia, baik pemerintah maupun DPR sudah memutuskan Indonesia tidak akan mengembangkan kemampuan teknologi nuklir untuk membuat senjata nuklir. "Kita hanya mengembangkan untuk tujuan damai seperti energi, kesehatan, pertanian, peternakan atau hal lain yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan," jelas Najib.(mdk/fas)

  © Merdeka

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Nuklir

#Tag : Nuklir

[Foto] Fasilitas Nuklir Indonesia

Peninjau melihat kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4). Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat Litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia. (ANTARA/ BNPT/RN)

  ● Antara

Posted in: BATAN,Foto,Nuklir

#Tag : BATAN Foto Nuklir

Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi Percontohan

Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi Percontohan Jakarta — Bicara nuklir tentu saja tidak melulu tentang bahaya bom atom, kebocoran radiasi atau pemanfaatan teknologi bagi aspek kehidupan manusia di berbagai bidang.

Satu hal mesti diketahui adalah masalah safety dan security di mana letak reaktor nuklir dan bahan nuklir itu berada.

Bagaimanapun,safety dan securityuntuk mencegah agar bahan nuklir tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Demikian pula dengan keberadaan fasilitas nuklir seperti reaktor nuklir harus dijaga keamanannya 24 jam dalam sehari. Tidak bisa dan tidak boleh diakses oleh orang-orang yang tidak berkepentingan apalagi dengan maksud yang tidak baik.

Safety di bidang nuklir sangat terkait hubungannya dengan security. Safety adalah salah satu komponen utama yang selalu yang ditekankan di dalam pelaksanaan permanfaatan teknologi nuklir. “Masalah safety dan security pada penggunaan teknologi nuklir, akhir -akhir ini menjadi perhatian dari masyarakat dunia yang mengelola dan bergerak memanfaatkan teknologi nuklir.

Intinya safety dan security ini dimaksudkan bagaimana melindungi masyarakat dan lingkungan dari bahaya radiasi,”ungkap Kepala Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir (PKTN) Ferly Hermana yang ditemui di kantornya di kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Lebih jauh dijelaskan Ferly, security adalah menjaga agar sumber radioaktif dan bahan nuklir tidak berpindah tangan ke orang yang tidak bertanggung jawab. Keterkaitan safety dan security, intinya bila security lemah otomatis akan berdampak padasafety-nya.

Masalah safety dan security itu sudah diatur dalam peraturan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang mengikat bagi setiap anggotanya. Dan, Indonesia juga telah mengatur hal yang sama dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Perka BAPETEN) No.1 Tahun 2009 tentang Sistem Proteksi Fisik untuk Instalasi dan Bahan Nuklir.

BAPETEN selaku badan pengawas yang intinya mengatur keamanan sumber radiasi dan keamanan fasilitas nuklir. ”Untuk fasilitas nuklir itu adanya di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Sedangkan bahan nuklir adanya di BATAN Pasar Jumat, Jakarta,”tutur Ferly yang baru saja pulang dari Malaysia. Di sana dia mempresentasikan tentang safety dan security fasilitas dan bahan nuklir.

Ferly juga memaparkan bahwa tugas dari PKTN mengkoordinasi-kan keamanan di kawasan nuklir Serpong bila ada kedaruratan nuklir. “Sistem keamanan dan keselamatan di kawasan ini termasuk yang terbaik di regional Aseandan akan menjadi percontohan di kawasan Asia Pasifik. Bahkan, para pengamat nuklir mengatakan bahwa infrastruktur di Kawasan Nuklir Serpong sudah menyelenggarakan sistem proteksi fisik yang baik sebagai pusat nuklir di Indonesia,” ungkap Ferly. Diibaratkan oleh para ahli nuklir dan pengamat nuklir, infrastruktur Kawasan Nuklir Serpong seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam skala yang kecil.

Sejauh ini di kawasan Puspiptek Serpong diterapkan physical protection atau proteksi fisik yang memiliki tiga fungsi yakni Detection,Delay, dan Response. Deteksi dengan menggunakan alat-alat deteksi diperuntukkan melihat ruangan berbagai kegiatan dan aktifitas baik indoor maupun outdoor. Dari sebuah ruangan yang berisi belasan monitor terpantau berbagai kegiatan di sana.

Sedangkan Delay, pagar- pagar yang dibuat sesuai dengan aturan dan dibuat berlapis. Ketika memasuki Kawasan Nuklir Serpong, maka disebut zona atau limited area. Bila sudah memasuki kawasan BATAN disebut protected area. Protected area yang dibatasi pagar kuning hanya orangorang yang berkepentingan saja yang bisa memasuki area itu dan dengan menggunakan kartu khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Area lebih ke dalam lagi yaitu area yang lebih dekat ke pusat bahan nuklir, yang disebut inner area. Untuk bisa masuk ke area ini pengawasan keamanan lebih ketat lagi.”Jadi, pengamanan berlapis-lapis, kelihatannya kaku dan keras, tapi lebih baik kami mencegah dari pada menanggulangi jikasudah ada kejadian,” ungkap Ferly.

Fungsi physical protection yang ketiga adalah Respon yang diselenggarakan oleh Unit Pengamanan Nuklir (UPN). “Kita punya tim-tim UPN tim rescue, tim damkar, tim medis, tim lingkungan,tim keteknikan,”jelas Ferly. Ferly juga menjelaskan ketika memasuki area Puspiptek, siapa saja yang akan memasuki kawasan yang dikelolanya akan ditanyakan keperluan dan mau bertemu dengan siapa.

”Nah ketika mobil berhenti, sebelum masuk ke dalam, di perhentian mobil atau kendaraan motor itu sudah ada kamera pemantau hingga ke bagian bawah kendaraan. Jadi, di bawah mobil itu tersedia kamera,” paparnya. Jalur jalan pun tidak dibuat lurus tapi berbelok-belok agar tidak langsung, dan menghambat ke tempat tujuan, agar apabila ada yang bermaksud tidak baik bisa dicegah terlebih dahulu.

Prosedur keamanan, setiap kendaraan baikmobil maupun motor yang masuk diperiksa dan harus mempunyai pass ranmor yang mencantumkan nama pemilik kendaraan dan nomor plat kendaraan. Demikian juga setiap pegawai harus menggunakan badge selama di dalam kawasan.

Untuk yang masuk lokasi pagar kuning ada alat magnetic card reader yang dapat memonitor keluar masuk karyawan, masuknya kapan dan jam berapa? Jadi bila ada kejadian, bisa didetek siapakah pegawai tersebut masih ada di dalam pagar kuning atau sudah ada di luar. Dan, tidak semua yang bisa masuk pagar kuning kemudian bisa masuk reaktor nulklir. Ada pagar dan lapisan lagi yang harus dilewati dengan ketentuan yang makin ketat.

Kondisi yang agak ribet itu disadari oleh Ferly sebagai penanggung jawab. Namun, demi safety dan security tadi harus ditegakkan.”Semua itu kami lakukan demi keamanan dan keselamatan kita semua, termasuk kami yang menjadi pengelola di kawasan sini maupun masyarakat di luar sana,” tutur Ferly lagi.

Untuk tetap waspada dengan keamanan dan keselamatan setiap tahunnya Tim Respon melakukan latihan dengan rutin dan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. "Alhamdulillah sejak reaktor riset ini berdiri hingga dua puluh enam tahun kemudian, kita tetap aman dan selamat. Bahkan mendapat pujian dari berbagai negara untuk masalah safety dan security” Ferly mengungkapkan.(adv. media ind)

  ● BATAN

Posted in: Bapeten,BATAN,Energi,Nuklir