☆ Suhartina, Penemu Kedelai Tangguh Tahan Kekeringan
MALANG--MICOM: Hari beranjak siang. Terlihat seorang pemulia sedang beraktivitas di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur, Kamis (26/7).
Dengan sabar menyeleksi dan memilah setiap biji kedelai berwarna kuning dalam wadah baskom dan sejumlah wadah plastik berdasarkan ukuran. Hasil seleksi selanjutnya dimasukkan ke bungkus plastik.
Sang pemulia, Suhartina menyapa ramah Media Indonesia sembari mengatakan sedang melakukan kegiatan seleksi galur harapan kedelai DV/2984 -330.
"Biji kedelai ini calon varietas unggul toleran cekaman kekeringan selama fase reproduktif," tegasnya.
Kedelai hasil penelitian selama enam tahun terakhir itu merupakan inovasi terbaru di Indonesia. Memiliki arti penting, solusi mengatasi ketergantungan impor terhadap komoditas pangan.
Selain itu, membuka peluang lebar bagi petani dalam mengembangkan budi daya di musim kemarau, bahkan pada kondisi sangat kering sekali pun.
Ia menjelaskan agroekosistem utama kedelai di Indonesia adalah lahan sawah. Ditanam setelah padi pada musim kemarau 1 dan musim kemarau 2 dengan pola tanam padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai.
Pada kondisi demikian, budi daya kedelai seringkali menghadapi resiko kekeringan. Akibatnya terjadi kekhawatiran terjadi gagal panen. Apalagi akhir-akhir ini terjadi perubahan iklim global yang menyebabkan peningkatan intensitas iklim ekstrim, terutama kekeringan dan kelebihan air atau banjir.
Oleh karena itu, kata dia, perlu inovasi baru varietas unggul yang lebih adaptif. Baik itu varietas berumur genjah atau varietas-varietas yang toleran kekeringan.
Tim pemulia Balitkabi sudah menjalani sidang di hadapan Tim Penilai dan Pelepas Varietas Tanaman Pangan Kementerian Pertanian pada 2 April 2012. Hasil presentasi dinyatakan lulus. Sehingga galur harapan DV/2984-330 siap dilepas sebagai varietas unggul tahun ini.
Dengan pelepasan varietas ini akan menambah koleksi varietas unggul kedelai menjadi 74 varietas, sekaligus memberikan solusi terhadap risiko kekeringan pada tanaman kedelai yang ditanam pada MK2 sekitar Juni-Juli.
Suhartina mengaku sudah menyiapkan sekaligus mengusulkan nama bagi galur harapan kedelai tangguh tersebut sebagai varietas unggul baru dengan nama Dering 1 atau kedelai toleran kekeringan I. (OL-11)
Sumber : MediaIndonesia
Posted in: Artikel,Tokoh
☆ Jokowi ditetapkan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia
Jakarta � Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi wali kota terbaik ketiga dunia. Jokowi dipilih karena reputasinya yang membawa perubahan di Kota Surakarta saat menjabat sebagai wali kota.
Dikutip dari http://www.worldmayor.com, Selasa (8/1), predikat pertama wali kota terbaik dunia jatuh pada Inaki Azkuna, Wali kota Bilbao, Spanyol. Inaki Azkuna dikenal karena kebijakannya yang radikal sehingga mampu menyulap Bilbao dari kota industri menjadi kota pusat pariwisata dan seni internasional.
Saat menjabat, Inaki memutuskan untuk menghabiskan hampir USD 230 juta dari uang publik untuk museum untuk seni modern. Kebijakan ini pun segera mengundang kritik keras karena Inaki dianggap menghambur-hamburkan uang rakyat.
Namun perkembangan sejak saat itu telah membungkam para kritikus. Jumlah pengunjung tahunan ke kota Bilbao meningkat dari 100.000 sebelum pembukaan museum menjadi lebih dari 700.000 pada tahun 2011.
Di posisi kedua wali kota terbaik dunia ini jatuh kepada Lisa SCAFFIDI, Wali kota Perth, Australia Barat. Lisa berhasil meningkatkan profil internasional kota itu. Lisa dianggap wali kota yang membuat kota Perth dikenal sebagai pembuat roti dan susu.
Sedangkan Indonesia diwakili Jokowi. Jokowi selain dianggap sukses mengangkat Surakarta juga sukses dalam kampanye antikorupsi. Kampanyenya melawan korupsi membuatnya mendapatkan reputasi sebagai politisi jujur. Saat menjabat sebagai wali kota Solo, Jokowi juga menolak untuk mengambil gaji.(mdk/hhw)
Terbaik ke-3 dunia, Jokowi kalah dari Wali Kota Bilbao & Perth
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi wali kota terbaik ketiga dunia. Jokowi dipilih karena reputasinya yang membawa perubahan di Kota Surakarta saat menjabat sebagai wali kota. Jokowi kalah dengan Walikota Bilbao, Spanyol dan Walikota Perth, Australia.
Dikutip dari http://www.worldmayor.com, Selasa (8/1), Walikota Bilbao, Spanyol, Inaki Azkuna dikenal karena kebijakannya yang radikal. Dia mampu menyulap Bilbao dari kota industri menjadi kota pusat pariwisata dan seni internasional.
Kebijakan Inaki yang memutuskan untuk menghabiskan hampir USD 230 juta dari uang publik untuk museum untuk seni modern mengundang kritik keras. Inaki dianggap menghambur-hamburkan uang rakyat.
Namun perkembangan sejak saat itu telah membungkam para kritikus. Jumlah pengunjung tahunan ke kota Bilbao meningkat dari 100.000 sebelum pembukaan museum menjadi lebih dari 700.000 pada tahun 2011.
Sementara di posisi kedua wali kota terbaik dunia ini jatuh kepada Lisa Scaffidi, Wali Kota Perth, Australia Barat. Lisa berhasil melambungkan kotanya ke kancah internasional. Di tangan Lisa, Perth dikenal sebagai pembuat roti dan susu yang berkualitas dunia.
Bagaimana dengan Jokowi? Jokowi selain dianggap sukses mengangkat Surakarta juga sukses dalam kampanye antikorupsi. Kampanyenya melawan korupsi membuatnya mendapatkan reputasi sebagai politisi jujur. Saat menjabat sebagai wali kota Solo, Jokowi juga menolak untuk mengambil gaji.
Saat ini, Jokowi telah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pria kalem ini belum berkomentar terkait terpilihnya dia sebagai wali kota terbaik ketiga dunia.(mdk/war)
World Mayor dibanjiri pujian untuk Jokowi
World Mayor menetapkan Jokowi sebagai wali kota terbaik ketiga dunia. Saat polling dibuka segudang pujian untuk Jokowi pun menumpuk. Jokowi banyak dipuji karena kejujurannya dan empatinya yang tinggi.
"Ada di sini daftar panjang testimonial positif dan pujian tulus dan sangat antusias untuk walikota, yang paling terutama untuk kejujuran," seperti dikutip dari http://www.worldmayor.com, Selasa (8/1).
Jokowi terpilih menjadi wali kota Solo sejak Juli 2005. World mayor mencatat, Kota Solo sebelumnya sangat rawan tindak kejahatan, namun oleh Jokowi, Solo atau Surakarta lalu disulap menjadi kota pusat regional untuk seni dan budaya, yang telah mulai untuk menarik pariwisata internasional.
"Dia terlihat sebagai pelayan publik. Kualitas pribadinya, kerendahan hatinya jelas, dan sangat menghargai orang lain," terangnya.
Salah satu yang menarik bagi world mayor adalah kebijakan Jokowi yakni satu jam di kantor dan sisanya dia habiskan dengan blusukan. "Dia baru saja memenangkan pemilihan untuk menjadi gubernur Jakarta dengan margin yang jelas," lanjutnya.
Berikut 10 wali kota terbaik dunia yang dirilis oleh World mayor
1. Iataki Azkuna Wali Kota Bilbao, Spanyol
2. Lisa Scaffidi Wali Kota Perth, Australia
3. Joko Widodo Wali Kota Surakarta, Indonesia
4. Racgis Labeaume Wali Kota Quabbec City, Kanada
5. John F Cook Wali Kota El Paso, Amerika
6. Park Wan-su Wali Kota Changwon City, Korea Selatan
7. Len Brown Wali Kota Auckland, Selandia Baru
8. Edgardo Pamintuan Wali Kota Angeles City, Filipina
9. Mouhib Khatir Wali Kota Zeralda, Aljajair
10. Alfonso Sainchez Garza Wali Kota Matamoros, Meksiko
(mdk/hhw)
• Merdeka

Posted in: Tokoh
☆ Habibie & Ainun Serta Industri Diperkosa
Di sebulan ini, film Indonesia menjadi topik hangat: Habibie dan Ainun. Hingga 3 Januari lalu, penonton mencapai 2,1 juta dalam dua minggu. Angka itu mencatat rekor tertinggi, bahkan kata produsernya akan masuk Museum Rekor Indonesia (MURI). Kendati belum meraih angka 5 juta penonton bak Laskar Pelangi, Habibie & Ainun, fenomenon.
Menjadi fenomena pula, karena berbagai pihak membicarakan ihwal kisah cinta Habibie dan Ainun. Gosip di media sosial, bicara tentang romantis dan kesetiaan Habibie. Bila sudah sampai di sini, sebagai pria, saya pastilah tak sepadan dengan Habibie.
Kendati demikian, pada kesempatan ini ingin saya menulis, premis tersirat lain di film itu. Tak bisa dipungkiri, terungkap kekecewaan Habibie akan industri dirintisnya di saat di ujung pemerintahan Soeharto, terjerembab, terbengkalai, Industri Peswat Terbang Nurtanio (IPTN) - - kini PT Dirgantara Indonesia. Di bagian akhir filmnya Habibie mengajak Ainun ke hanggar pesawat N250. Habibie menggerakkan baling-baling. Tangannya geram. Ia memeluk Ainun.
“Gara-gara ini, waktuku minim untukmu dan anak-anak,” kata Habibie.
“Bayangkan 17.000 pulau di Indonesia butuh alat transportasi cepat, murah.”
Bertekad membangun industri peswat terbang, menderma-baktikan ilmu belajar di Jerman, Habibie pulang dengan semangat cemerlang. Apa lacur, di kemudian hari ia menghadapi kemurungan, pesawat mangkrak berdebu di IPTN. Sebagaimana di film, terang-benderang Habibie menghadapi vendor pengusaha culas, terbiasa menyogok, giliran ditolak mengancam bawa-bawa backing. Juga oknum jenderal di awal-awal membangun industri tidak sreg rencana Habibie. Kuat diugaan sang jenderal memang kaki tangan asing.
Asing-Aseng di ranah kongkalingkong.
Di lapangan sebagaimna pernah saya verifikasi, saya menemukan seorang saksi membayar kolomnis untuk menembus KOMPAS dan TEMPO seharga US $ 5.000 perkolom opini. Kolomnis bernama, mereka berikan tulisan 500 kata. Intinya tulisan memojokkan, menjelekkan IPTN dan program Habibie. Puncaknya ketika IPTN membarter pesawatnya dengan beras ketan dari Thailand, isu miring pun menjadi-jadi.
Padahal, ketika saya sempat pada 2010 lalu ke Emirat Arab, keluarga Syekh Zayed, memberi tempat terhormat kepada Habibie. Peswat N-235 produksi IPTN mereka cat putih dijadikan pesawat VVIP. Dan bila saya tak keliru, Habibie dijadikan keluarga kehormatan, konon diangkat anak. Maka setiap Habibie ke Emirat Arab, pastilah disambut langsung saudaranya, keluarga raja, dihormati sekali.
Lain halnya di negaranya sendiri. Banyak pihak mencibir. Bahkan ketika beberapa time line saya tulis di twitter Minggu malam, ada follower mengaku industrialis hebat. Ia mengatakan pada 1987 sudah menulis bahwa produktifitas IPTN rendah. Bagi saya sosok orang Indonesia demikian sudah termakan isu luar tak ingin tumbuhnya industri manufaktur untuk kepentingan lokal.
Dan lebih sadis lagi, sebagaimana saksi mata Said Didu, di media sosial mengatakan, di saat pertanggung-jawaban Presiden Habibie di DPR, ada anggota DPR bertindak, maaf, bak kaki empat. Mereka berteriak huuuu di saat Habibie masuk sidang pleno DPR. Dalam perkembangan waktu saya menemukan indikasi fakta nyata, ternyata untuk huuu itu ada dana Rp 50 miliar digelontorkan kepada sebuah fraksi di DPR.
Habibie pun tidak diterima pertanggung-jawabannya di DPR.
Industri peswat terbang RI seakan mangkrak.
Dan kemudian seakan terhenti. Fakta nyata-nyata memang disuruh hentikan oleh IMF, melalui surat resmi yang dituangkan ke nota kesepahaman dalam bantuan IMF terhadap Indonesia untuk tidak meneruskan industri strategis termasuk IPTN.
“IPTN dihentikan karena Habibie ingin membangun pesawat jet N 2130, karena memang terbukti sangat laris di pasaran,” kata Said Didu, Mentan Sekjen Kementrian BUMN, di Twitter.
Apa lacur. Industri strategis kita memang diperkosa. Sama halnya sebagaimana acap saya tulis, perusahaan otomotif seperti Perkasa teknologinya didukung oleh Steir pun mangkrak berserak. Potensi? Jangan ditanya.
Kini simaklah pesawat bagaikan N250, kita membeli dari Cina. Bahkan pesawat jet seperti hendak dibangun oleh IPTN, di format hampir sama, dibeli penerbangan nasional ratusan, menjadi belanja terbanyak dalam sejarah beli-beli pesawat dunia.
Lengkaplah sudah.
Di saat orang heboh film Habibie dan Ainun, mata saya berkaca. Membayangkan sahabat saya seperti Dadang Erawan di Bandung. Ia doktor aeronatika, mantan IPTN. Isterinya di Bandung membuat usaha yoghurt berlabel Odise. Lumayan laris. Entah karena isterinya orang Perancis atau memang ada peruntungan di sana, tapi kegigihannya mengikuti tender-tender dunia di pembuatan wind tunel (terowongan angin) untuk uji kelaikan terbang pesawat, satu dua membuahkan hasil. Paling tidak ada saja order kepadanya di harga US $ 1,5 juta dalam setahun. Bagi saya ini luar biasa, bukti bahwa anak-anak Indonesia mumpuni.
Sahabat satunya lagi Hemat Dwi Nuryanto, pendiri Zamrud teknologi. Saya pun kadang merinding dengan karya-karyanya di aplikasi kini. Otomasi radio 2.0 di jaringan www.diradio.net, adalah karyanya. Ia berkantor di gedung di belakang Masjid Salman, Bandung. Bersama timnya mereka membuat aplikasi otomasi radio RISE, yang memudahkan penyiar, pendengar, pengiklan dalam menyimak mengoperasikan radio. Bahkan seorang penyiar dapat me-remote siaran dari gadget-nya di mana pun ada akses internet. Siaran sambil ngopi di gunung pun bisa. Pengiklan dapat menyimak real time penayangannya. Pemilik tahu pendapatan bisnisnya itungan klik.
Baik Dadang dan Hemat, punya pula teman seangkatan. Nah ini bikin saya marah. Teman mereka itu sudah lama bekerja membuat pesawat tanpa awak untuk Malaysia. Entah untuk apa bagi Malaysia. Saya duga ya untuk memata-matai Indonesia. Maka suatu hari pernah saya laporkan ke Menkopulhukam, Djoko Suyanto, agar anak-anak hebat seperti ini dibawa pulang. Saya diminta ketemu Deputinya, alhasil katanya belum ada anggaran untuk itu. Padahal membawa pulang ajak omong, sementara dengan biaya Rp 5 juta juga beres, lalu berikutnya bisa dibuat rencana kerja, program dan sebagainya.
Brain drain insinyur hebat yang disekolahkan Habibie banyak sekali, bukan hanya seperti cerita di atas. Di industri pesawat Boeing beberapa manajer mantan IPTN.
Maka atas dasar itu, saya lantang saja bicara. Orang Indonesia menghina IPTN, menghina Habibie, dengan huuu di DPR misalnya, lebih jauh membuat segala kehebatan bangsa sendiri mati, sejatinya jasadnya saja manusia. Hatinya tak lebih dari sosok berkaki empat. Mungkin tepatnya manusia berkaki empat anteknya IMF beserta sekutu.
Lain tidak.
• Iwan Piliang, Citizen Reporter (kompasiana)

Posted in: Artikel,Tokoh
☆ Yum Soemarsono, Bapak Helikopter Indonesia
YUM Soemarsono lahir di desa Banyurip, Purworejo, pada tanggal 10 April 1916. Ia adalah salah satu tokoh bangsa Indonesia yang mengembangkan pesawat terbang, dalam hal ini pesawat terbang helikopter.
Konon, Yum Soemarsono berhasil menyelesaikan pesawat helikopternya di usia 32 tahun atau pada tahun 1948, yang berarti hanya berselisih 9 tahun saja setelah Igor Sikorsky menerbangkan helikopter pertama di dunia. Hal ini menjadi sangat menarik karena sebenarnya, Yum Soemarsono pada awalnya diarahkan untuk menjadi anggota Angkatan Darat (AD) tetapi dengan keinginannya sendiri, ia lalu masuk ke Angkatan Udara (AU). Dalam salah satu memoar yang ditulisnya sendiri, dengan tulisan tangan tertulis sebagai berikut :
“Walaupun Penulis (Yum Soemarsono) ditargetkan menjadi komandan Bengkel Induk PALAD (Peralatan Angkatan Darat) di Bandung berpangkat kapten AD, Penulis bersama-sama Soendrio “Duet” yang membuat Helikopter pertama di Indonesia memilih melamar ke AU melalui Pak Soerjadarma yang kebetulan menerima “Duet” di halaman Rumah sore hari di Yogya 3 hari sebelum Beliau pergi mengikuti konperensi meja bundar di Negeri Belanda (Ibu Surya saksi).
Soeryadarma menerima kita berdua untuk dikerjakan di Litbang AU Yogyakarta. Penulis sendiri merangkap menjadi Instruktur dari SPen di Jogya tahun 1950 dalam Benteng dalam mata pelajaran Aerodinamika dan Aircraft Structure. Murid-murid pertama : Soebambang, Andoko, Soemitro, Dono Indarto dan Soewarto.”
Salah satu dari helikopter ciptaannya sangat menarik perhatian banyak pihak dan mengundang kekaguman tidak sedikit ahli di bidang penerbangan masa itu. Tidak bisa dibayangkan, adalah bahwa seluruh dari hasil hitung-hitungan rancangannya itu “asli”. Rekayasa dan perhitungan-perhitungan yang sebenarnya sangat detil dan pelik dalam disain rancang-bangun pesawat helikopter sama sekali tidak meniru dari yang sudah ada.
Bahkan “rotor-stabilizer”, yang merupakan bagian yang sangat vital dari sebuah rotor helikopter, dibuatnya berdasarkan intuisi. Seorang Instruktur Penerbang dari pabrik pembuat Helikopter terkenal di Amerika Serikat, Hiller Helicopter Inc., bernama Leonard Parish, tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat karya-karya Yum Soemarsono. Kebetulan kala itu, pada tahun 1954, Parish berada di Indonesia dalam rangka menunaikan tugas untuk menerbangkan dan merawat sebuah Helikopter Hiller yang baru saja dibeli oleh Pemerintah Indonesia. Tentang hubungannya dengan orang Amerika bernama Parish dan juga dengan Wiweko, Yum Soemarsono menulis di catatan hariannya seperti ini :
“Wiweko dan Penerbang-penerbang keluar dari AU setelah clash dengan KSAU Soeryadarma. Penulis (Yum Soemarsono) dilatih terbang ulang oleh Parish, seorang Amerika. Penulis, di samping menjadi murid menjabat Kepala Seksi Bengkel di Husein, tahun 1953.”
Yum Soemarsono tengah melaksanakan uji terbang pesawat helikopter buatannya dan berhasil menerbangkan hingga sejauh 50 meter dengan ketinggian sekitar satu meter. Parish sendiri tidak hanya berkesempatan menyaksikan demo udara ini akan tetapi juga menyempatkan diri untuk turut menerbangkannya. Konon, Parish inilah yang berangkat dari kekagumannya melihat keberhasilan seorang Yum Soemarsono dengan karya yang spektakuler tersebut kemudian menyarankan agar pesawat terbang helikopter itu dinamakan “Soemarkopter”. Dalam catatan pribadi, sebenarnya Soemarsono menulis tentang helikopternya yang ketiga di tahun 1954 sebagai berikut :
“Seorang ahli Teknik teman Pilot Parish bernama Neff bersama-sama melihat Helikopter buatan penulis (Yum Soemarsono) yang ketiga. Mereka nyeletuk, “This is a real Chopper, Soem. Call it “SoemarCopter”. Did Nurtanio know it?”
Yum Soemarsono menyelesaikan pesawat helikopter rancangannya pada kurun waktu antara tahun 1948 hingga 1968. Helikopter pertamanya, RI-H, berhasil diselesaikan pada tahun 1948 sementara yang kedua, YSH, sempat melayang 10 cm di udara di lapangan Sekip, Yogyakarta, pada tahun 1950. Berikutnya adalah pesawat helikopter terakhir karyanya yang diberi nama “Kepik”, pemberian nama dari Bung Karno. Pada penerbangan dengan “Kepik” inilah, musibah menimpa Yum Soemarsono.
Kecelakaan terjadi di Lapangan Pindad, Bandung, pada tanggal 22 Maret 1964 pukul 16.30 yaitu ketika Yum Soemarsono melakukan uji terbang yang ketujuh. Sebenarnya, badan pesawat helikopter itu sendiri sudah berhasil terangkat dengan sempurna akan tetapi salah satu daun rotor lepas dari kedudukannya dan melesat dengan kecepatan tinggi melewati kening Yum. Bagaikan sebuah pisau yang sangat tajam langsung menebas tangan kirinya serta menyabet Dali hingga tewas seketika. Selama lebih kurang satu setengah tahun, Yum menghilang dan tidak terlihat aktifitas terbangnya lagi.
Namun, setelah itu, Yum mulai aktif kembali sebagai Pilot Kepresidenan meski hanya memiliki satu tangan saja. Ia berhasil menggunakan tangan palsunya yang dilengkapi dengan peralatan khusus yang dirancangnya sendiri untuk tetap melaksanakan tugas sebagai Pilot Helikopter. Kabarnya, alat khusus di tangan palsu Yum Soemarsono yang dapat digunakan untuk menggerakkan “collector” di kokpit helikopter itu merupakan hasil kerja kerasnya sendiri. Salah satu sahabat Yum seorang berkebangsaan Perancis telah berusaha mematenkannya untuk Yum Soemarsono namun hingga kini tidak diketahui lagi kabar beritanya.
Sampai dengan akhir hayatnya, Yum masih saja menerbangkan helikopter pribadinya. Yum Soemarsono, sang genius dan pemberani itu, menghadap Sang Maha Kuasa pada tanggal 5 Maret 1999, hanya lebih kurang sebulan sebelum dia mencapai usia 83 tahun. Ayah dari enam anak dan kakek dari 21 cucu ini telah mewariskan nilai-nilai keteladanan dan kepeloporan di bidang penerbangan, terutama dalam sikap hidupnya yang tidak mengenal kata menyerah dalam merancang dan menerbangkan pesawat helikopter. Kehilangan satu tangan dalam penerbangan uji coba tidak cukup untuk dapat menyurutkan niat besarnya dalam berkarya dan tetap membuat serta menerbangkan sendiri pesawat helikopter di Indonesia.
Dalam catatan harian yang tercecer dari almarhum, Yum Soemarsono juga menulis tentang musibah yang membawa hikmah. Agak kurang jelas, uraian tulisan ini dalam konteks apa, tetapi tertulis di situ sebagai berikut :
“Musibah yang membawa hikmah. Penulis (Yum Soemarsono) yang telah pindah ke SPL Husein Sastranegara meneruskan pembuatan Heli ketiga dengan motor Continental 60 HP bantuan dari Karno Barkah, putranya Ibu Guru Penulis sewaktu di SD Temanggung, Ibu Soemaryo.”
Paling tidak, kutipan tulisan tersebut, menggambarkan betapa Yum Soemarsono memang memiliki tekad kuat dalam usahanya membuat helikopter.
Sebagai catatan tambahan, dari kekaguman dua orang Amerika, Parish dan Neff, Yum Soemarsono kemudian disponsori untuk latihan terbang Heli free of charge di Hiller Company dan Sikorsky USA pada tahun 1955. Kesempatan tersebut juga digunakan oleh Yum Soemarsono untuk mengikuti kursus tentang Disain Helikopter. Di tahun 1957, Yum Soemarsono dikirim lagi ke Texas.
Itulah Yum Soemarsono, yang sejak tahun 1965 berstatus sebagai Pilot Helikopter bertangan satu masih bertugas terbang selama lebih dari 7 tahun menyemprot hama tebu. Yum Soemarsono telah membukukan tidak kurang dari 8000 jam terbang termasuk dengan kondisi bertangan satu sebagi penerbang yang sekaligus sebagai pelopor dan perancang pesawat helikopter di Indonesia.
© Chappy Hakim
Posted in: Artikel,Tokoh
☆ Wiweko Soepono
Dari Blitar ke Kelas Dunia
WIWEKO Soepono, lahir tanggal 18 Januari 1923 di Blitar, Jawa Timur. Dia adalah putra dari keluarga “ambtenaar”, pasangan Soepono yang asli Banyumas dengan Boentarmi, seorang wanita asal Solo. Sejak kecil Wiweko gemar membaca dan menyukai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia kemudian dikenal sebagai seorang pekerja keras yang tidak pernah kenal dengan kata menyerah.
Diluar waktu sekolah dia banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang menjadi hobi beratnya yaitu aeromodelling. Upayanya termasuk juga berusaha membuat merancang, membuat dan sekaligus menerbangkannya. Bersama sejumlah teman, termasuk sinyo Belanda, Wiweko membentuk dan kemudian juga memimpin sebuah Aeroclub. Dia juga berlangganan dan sering berdiskusi dengan wartawan majalah Vliegwereld, yang merupakan satu-satunya majalah kedirgantaraan yang terbit dan beredar di Indonesia kala itu. Semenjak masih bocah, dia telah banyak mendengar dan ikut serta dalam banyak diskusi dengan ayahnya yang seorang nasionalis tulen bersama dengan rekan-rekan dalam pergerakan nasional.
Dia telah mengenal sejak usia dini mengenai paham nasionalistis yang mencakup tentang Self Help dan Self determination. Dia juga sering mendengar dan mengikuti banyak cerita dan pidato dari Ir. Soekarno, yang juga berasal dari Blitar terutama dalam hal membangun semangat persatuan dan kemerdekaan kepada seluruh rakyat yang tengah terjajah. Diluar waktu sekolah pun, Wiweko sering memperhatikan sekelompok remaja berseragam KBI, Kepanduan Bangsa Indonesia yang berdasi merah putih, giat berlatih.
Setelah tumbuh menjadi pemuda dan mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, dia langsung bergabung dengan kelompok pemuda pejuang Priangan. Bersama dengan pemuda Suryadarma, Mashudi, Sarbini Somawinata, Abdul Haris Nasution, Sutoyo dan lain-lain, Wiweko mengadakan musyawarah dan memutuskan untuk segera merebut pangkalan udara dari tangan Jepang yang baru kalah perang melawan sekutu. Sempat mereka menguasai sejumlah pesawat terbang dan berbagai fasilitas penerbangan yang ada di pangkalan udara Andir, meski kemudian terusir oleh pasukan sekutu yang diboncengi tentara Belanda yang memang ingin kembali berkuasa di Indonesia.
Walau dalam keadaan terusir dan harus menyingkir keluar kota, dia tidak pernah berputus asa. Dengan semangat juang, berbekal pengetahuan dan pengalaman dibidang kedirgantaraan walau masih sangat terbatas, dia langsung bergabung dengan TKR, Jawatan Penerbangan yang baru saja terbentuk dan kemudian resmi menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia.
Pada usia yang baru mencapai 25 tahun Wiweko Soepono telah berani sekali menyatakan wawasan dan sikapnya dalam bidang kedirgantaraan. Sewaktu pemerintah perjuangan di tahun 1948 mengambil kebijaksanaan tentang Civil Aviation yang cenderung akan bergantung saja kepada American-Indonesian Corporation dan banyak memberi konsesi kepada pihak asing, dengan tegas dan berani Wiweko Soepono menentangnya.
Menurut dia, perhubungan udara begitu penting bagi satu Negara yang Merdeka, terutama dalam bidang politik, strategi dan perkembangan ekonomi bangsa. Dia memiliki keyakinan yang sangat besar, bahwa Indonesia sebagai bangsa pasti memiliki kemampuan yang cukup dan tidak kalah dari bangsa lain dalam mengelola system dari perhubungan udara nasionalnya.
Wiweko Soepono, tidak hanya berani untuk berbeda dalam visi, akan tetapi dia juga memang pandai dalam menyusun suatu konsep. Salah satu contoh, pada satu saat, bersamaan dengan protesnya dalam penyelenggaraan perhubungan udara nasional, Wiweko menyertakan juga didalamnya satu konsep usulan tentang pembentukan sebuah Skadron Transport sebagai unsur operasi penerbangan perintis di tanah air.
Di awal kemerdekaan Republik Indonesia, dia pulalah yang kemudian merealisasikan usulan tersebut dengan mendirikan Djawatan Angkutan Udara Militer atau DAUM. Secara teratur DAUM, terbang menjalankan misi kenegaraan, seperti membawa pejabat militer dan sipil dalam menjangkau wilayah tanah air yang saat itu masih banyak yang terisolasi.
Pandangan dan sikapnya ini adalah merupakan refleksi dari penilaian tentang begitu pentingnya perhubungan udara di Indonesia yang diyakininya akan menentukan kemampuan bangsa dalam mengelola perhubungan udara nasional dalam satu Air Integrity, satu kesatuan wilayah udara nasional. Kini telah menjadi satu realita dari pemahaman bahwa sarana Angkutan Udara Nasional dalam konteks perhubungan udara yang terintegrasi akan sangat menentukan utuhnya Negara Indonesia sebagai satu Negara Kesatuan yang sekaligus akan banyak membantu perjalanan bangsa menuju kesejahteraan masayarakat.
Kita mengenal Maskapai sang pembawa bendera merah putih , Garuda Indonesian Airways. Ditangan Garuda inilah, kehormatan dan kebanggaan serta promosi bangsa Indonesia dipanggung global dalam penyelenggaraan angkutan udara dipertaruhkan. Garuda Indonesia pernah dipimpin oleh seorang Pilot kawakan bernama Wiweko, penerbang Asia pertama yang pernah menembus samudra pasifik (dari Oakland, AS ke Jakarta) seorang diri dengan pesawat terbang. Itu sebabnya, sebagai pimpinan sebuah Maskapai dia mampu berorientasi kepada bidang penerbangan secara total.
Sebagai Pilot, dia tau saat membeli banyak pesawat sekaligus dia persiapkan SDM nya. Wiweko tidak hanya menganalisis dan membahas tuntas dalam hal memilih pesawat terbang yang cocok untuk digunakan di Negara kepulauan ini bersama dengan pabrik pesawat kenamaan didunia, akan tetapi juga merancang disain kokpit pesawat yang sangat spektakuler sepanjang sejarah.
Wiweko telah merubah awak kokpit menjadi hanya dua orang saja. (two men forward facing crew cockpits). Keberhasilan ini dinilai sangat fenomenal. Yang sangat mengagumkan adalah, konon pihak Airbus ingin menggunakan nama Wiweko sebagai “hak paten” dari penemuan ini, dan ditolak secara halus oleh Wiweko. Disain yang tadinya ditentang habis-habisan oleh FAA, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan Amerika Serikat, kini justru telah menjadi standar baku dari disain kokpit pesawat angkut internasional. Disain ini telah mengubah secara revolusioner pengawakan pesawat angkut di dunia, khususnya pesawat sekelas “Jumbo-Jet” yang tadinya hanya bisa diterbangkan dengan 3 orang awak kokpit, sejak saat itu berubah menjadi hanya diawaki 2 orang saja. Ini adalah salah satu kisah sukses Wiweko pada waktu memimpin Garuda, dalam proses penambahan armada udaranya.
Saat itu Garuda sang pembawa bendera melesat maju di angkasa Asia, Eropa dan bahkan pernah sampai ke Amerika Serikat. Garuda Indonesian Airways ditahun 1968-1984, dibawah kepemimpinan Wiweko telah berhasil menguasai tidak hanya pasar domestik akan tetapi juga pasar regional. Disisi lain sang merah putih juga dibawa oleh si Garuda dengan gagahnya ke Eropa dan bahkan Amerika. Ketika memimpin Garuda, Wiweko menjadikan “flag carrier” itu menjadi “airlines” kedua terbesar di belahan bumi Selatan, setelah Japan Air Lines, dengan 79 armada jet. Armada Garuda bahkan lebih besar dari yang dimiliki oleh banyak negara Eropa pada waktu itu. Swiss Air yang beken saat itu misalnya, konon hanya memiliki 55 buah pesawat saja.
Kini, dalam era yang penuh dengan tantangan dan persaingan dalam industri penerbangan dunia, sumbangsih dari seorang Wiweko kiranya sangat sulit untuk dapat dilupakan begitu saja. Wiweko sang Perintis dan Pionir Penerbangan di Indonesia. Nama Wiweko memang tidak seterkenal sesuai dengan karya-karya nya.
(sumber : Dari Blitar ke Kelas Dunia/Primamedia Pustaka)
© Chappy HakimPosted in: Artikel,Tokoh
☆ Kisah Jenderal Besar Soedirman
Soedirman, Bapak Tentara dari Banyumas
Jakarta--Ia mungkin telah jadi ikon: sepotong jalan utama dan sebuah universitas negeri telah menggunakan namanya. Raut lelaki tirus itu pernah tertera pada sehelai uang kertas.
Di Jakarta, tubuhnya yang ringkih diabadikan dalam bentuk patung setinggi 6,5 meter di atas penyangga 5,5 meter. Menghadap utara, dibalut jas yang kedodoran, ia memberi hormat--entah kepada siapa.
Barangkali, hanya sedikit cerita yang kita ingat dari Soedirman--sejumput kenangan dari buku sejarah sekolah menengah. Ia panglima tentara yang pertama, orang yang keras hati. Ia pernah bergerilya dalam gering yang akut--tuberkulosis menggerogoti paru-parunya.
Sejak ia remaja, orang segan kepadanya: karena alim, dia dijuluki kaji. Ia aktif dalam gerakan Hizbul Wathan--kepanduan di bawah payung Muhammadiyah.
Dipilih melalui pemungutan suara sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat/Angkatan Perang Republik Indonesia pada 12 November 1945, Soedirman figur yang sulit dilewatkan begitu saja. Ia mungkin sudah ditakdirkan memimpin tentara.
Dengan banyak pengalaman, tak sulit baginya terpilih sebagai panglima dalam tiga tahap pengumpulan suara. Dia menyisihkan calon-calon lain, termasuk Oerip Soemohardjo--kandidat lain yang mengenyam pendidikan militer Belanda.
Kisah Seorang Perokok Berat
Soedirman adalah seorang perokok kelas berat. Ia merokok sejak remaja. Rokok kreteknya tak bermerek, tingwe alias nglinthing dewe artinya meramu sendiri. Sepulang bergerilya, kondisi kesehatan Soedirman memburuk. Ia masuk Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, 63 tahun, putra bungsu Soedirman, ingat cerita ibunya, Siti Alfiah, bagaimana saat sakit bapaknya tetap ingin merokok.
"Bapak dipaksa berhenti merokok oleh dokter. Karena perokok berat, Bapak tak bisa benar-benar meninggalkan rokok. Bapak meminta Ibu merokok dan meniupkan asap ke mukanya."
Menurut Teguh, belakangan ibunya menjadi perokok. "Barangkali terdengar konyol, tapi Ibu berprinsip menaati perintah Bapak," katanya.
Pada Ahad pagi, 29 Januari 1950, setelah lama terkulai lemas sejak Oktober di rumah peristirahatan tentara di Magelang, mendadak wajah Soedirman tampak cerah. Pagi itu, Ahmad Yani, Gatot Soebroto, serta beberapa petinggi militer dan sipil hadir. Tidak diketahui apa yang dibicarakan.
"Waktu itu, menurut Ibu, tiba-tiba terdengar suara kaleng dan botol pecah mendadak. Bersamaan dengan itu, bendera di halaman melorot setengah tiang. Sampai Ibu bilang ke beberapa pengawal, ’Ah, itu hanya angin’."
Setelah salat magrib, sebagaimana didengar dari Alfiah, Soedirman memanggil istrinya ke kamar. Di dalam, dia berkata, "Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.” Alfiah menuntunnya mengucap Laa Ilaha Illallah, dan Soedirman mengembuskan napas terakhir.
Kisah Asmara di Wiworo Tomo
Soedirman memang begitu sayang kepada istrinya. Menurut Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, 63 tahun, putra bungsu Soedirman, ibunya pernah bercerita bagaimana bapaknya tergolong teliti untuk urusan kosmetik dan busana. "Bapak selalu memilihkan bedak dan busana untuk Ibu. Ibu tinggal mengenakan," ujar Teguh. Bapaknya ternyata juga suka menjaga penampilan agar rapi dan berwibawa, terutama saat berpidato.
Ibunya sekali waktu bercerita, pernah saat Soedirman berpidato, ia merasa cemburu. Soedirman saat itu berpidato di hadapan putri-putri Keraton Solo. Mereka terlihat kagum pada penampilannya yang besus atau selalu rapi. Selesai pidato, Alfiah berseloroh, "Kamu senang, ya? Kalau begitu mau lagi?" Soedirman langsung menjawab, "Ya tidak, kan aku sudah punya kamu."
Kisah asmara Soedirman dan Alfiah dimulai di Perkumpulan Wiworo Tomo, Cilacap. Soedirman tersohor sebagai pemain sepak bola dan pemain tonil atau teater. Dia dijuluki Kajine karena alim. Tatkala menjadi ketua, Soedirman memilih Alfiah sebagai bendahara Perkumpulan. Salah seorang teman Soedirman, menurut Teguh, bercerita, banyak pemuda naksir kepada ibunya tapi tak berani mendekati karena segan kepada sang ayah.
Gosip Soedirman menaksir Alfiah, kata Teguh, bermula dari kebiasaan Soedirman berkunjung ke rumah Sastroatmodjo, orang tua Alfiah. Silaturahmi itu berkedok koordinasi internal Muhammadiyah. Kala itu Soedirman termasuk pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Adapun orang tua Alfiah pengurus Muhammadiyah.
Saat menjadi guru HIS Muhammadiyah, Soedirman dikenal dermawan. Gajinya kerap dipakai membantu tetangga. Tatkala menjadi anggota Badan Penyediaan Pangan, lembaga penarik upeti di bawah Jepang, Soedirman bahkan tidak memaksa warga menyetor upeti jika kekurangan.
"Nenek tahu betul Soedirman muda naksir Alfiah. Nenek merestui karena kagum pada kealimannya. Nenek membujuk Kakek mau menerima Soedirman menjadi menantu. Saat itu, usia Bapak 20 tahun, Ibu 16 tahun."
Menurut Teguh, paman ibunya yang bernama Haji Mukmin, saudagar pemilik hotel, sesungguhnya tidak setuju terhadap perkawinan Alfiah dan Soedirman. Mukmin berkeras Alfiah harus mendapatkan suami dari kalangan orang kaya. Adapun Soedirman anak ajudan wedana, yang bergaji kecil. "Akhirnya, menurut Ibu, semua ongkos pernikahan diam-diam disiapkan Nenek. Strategi itu agar Bapak tidak disepelekan keluarga besar Kakek."
Dari ibunya, Teguh mendengar, pada saat makan bersama keluarga besar, Haji Mukmin menyingkirkan hidangan paling enak dari hadapan bapaknya. Sang ibu tersinggung, tapi bapaknya memilih mengalah. Sikap Haji Mukmin berubah setelah Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar. Ketika diarak ke Cilacap, dia melihat pamannya itu berdiri di pinggir jalan. Soedirman menghentikan mobil, lalu mengajaknya masuk ke mobil.
Soedirman dan Keris Penolak Mortir
Desing pesawat membangunkan Desa Bajulan yang senyap, suatu hari di awal Januari 1949. Penduduk kampung di Nganjuk, Jawa Tengah, yang tengah berada di sawah, halaman, dan jalanan, itu panik masuk ke rumah atau bersembunyi ke sebalik pohonan.
Warga Nganjuk tahu itu pesawat Belanda yang sedang mencari para gerilyawan dan bisa tiba-tiba memuntahkan bom atau peluru. Tak kecuali Jirah. Perempuan 16 tahun itu gemetar di dapur seraya membayangkan gubuknya dihujani peluru.
Di rumahnya ada sembilan laki-laki asing tamu ayah angkatnya, Pak Kedah, yang ia layani makan dan minum. Meski tak paham siapa orang-orang ini, Jirah menduga mereka yang sedang dicari tentara Belanda. Sewaktu pesawat mendekat, dia melihat seorang yang memakai beskap duduk di depan pintu dikelilingi delapan lainnya. “Saya mengintip dan menguping apa yang akan terjadi dari dapur,” kata Jirah, September lalu.
Lelaki pemakai beskap yang oleh semua orang dipanggil ”Kiaine” atau Pak Kiai itu mengeluarkan keris dari pinggangnya. Keris itu ia taruh di depannya. Tangannya merapat dan mulutnya komat-kamit merapal doa. Ajaib. Keris itu berdiri dengan ujung lancipnya menghadap ke langit-langit. Kian dekat suara pesawat, kian nyaring doa mereka.
Keris itu perlahan miring, lalu jatuh ketika bunyi pesawat menjauh. Kiaine menyarungkan keris itu lagi dan para pendoa meminta undur diri dari ruang tamu. Kepada Jirah, seorang pengawal Kiaine bercerita bahwa keris dan doa itu telah menyamarkan rumah dan kampung tersebut dari penglihatan tentara Belanda.
Dari curi-dengar obrolan para tamu dengan ayahnya itu, Jirah samar-samar tahu, orang yang memakai beskap bertubuh tinggi, kurus, dan pendiam dengan napas tercekat yang dipanggil Kiaine tersebut adalah Jenderal Soedirman. “Saya mendapat kepastian itu Pak Dirman justru setelah beliau meninggalkan desa ini,” ujarnya.
Waktu itu Panglima Tentara Indonesia ini sedang bergerilya melawan Belanda, yang secara resmi menginvasi kembali Indonesia untuk kedua kalinya tiga tahun setelah Proklamasi. Jirah ingat, rombongan itu--yang berjumlah 77 orang--datang ke Bajulan pada Jumat Kliwon Januari 1949. Di rumahnya, Soedirman ditemani delapan orang, antara lain Dr Moestopo, Tjokropranolo, dan Soepardjo Roestam. Yang lain menginap di rumah tetangga.
Selama lima hari di Bajulan, tak sekali pun Belanda menjatuhkan bom atau menembaki penduduk. “Itu berkat keris dan doa-doa,” kata Jirah. Soedirman seolah-olah tahu tiap kali Belanda akan datang mencarinya. Karena itu, operasi Belanda mencari buron nomor wahid tersebut selalu gagal.
Cerita Kesaktian Soedirman
Inilah kesaktian sang Jenderal yang merupakan perokok berat ini.
Ceritanya ketika Soedirman sampai di Gunungkidul. Ia tak mengizinkan pasukannya beristirahat lama-lama. Benar saja, beberapa saat kemudian, pasukan Belanda tiba di lokasi peristirahatan pasukannya. Jika Soedirman, yang dalam sakit bengek dan tubuh rapuh, tak segera meminta mereka jalan lagi, pertempuran tak akan bisa dihindari. "Dan bisa jadi pasukan Bapak kalah," kata Teguh.
Soedirman, yang selalu menyamar sepanjang gerilya, juga kerap diminta mengobati orang sakit. Di sebuah desa di Pacitan, Teguh bercerita, Soedirman dan pasukannya kelaparan karena tak menemukan makanan berhari-hari. Mau meminta kepada warga desa, takut ada mata-mata Belanda. Saat rombongan ini beristirahat, seorang penduduk menghampiri mereka dan meminta air mantra untuk kesembuhan istri lurah di situ.
Sang Panglima mengambil air dari sumur, lalu meniupkan doa. Ajaib, istri lurah yang terbaring payah itu bisa bangun setelah minum. Pak Lurah pun menyilakan Soedirman dan anak buahnya beristirahat. Ia menjamunya dengan pelbagai makanan. "Baru setelah itu Bapak mengenalkan diri," kata Teguh.
Sang Jenderal Klenik
Kepercayaan dan kegemaran Soedirman pada supranatural tak hanya terjadi saat gerilya, tapi juga dalam diplomasi formal dengan Belanda. Muhammad Roem punya kisah menarik tentang klenik Soedirman. Syahdan, suatu pagi beberapa hari menjelang perundingan Renville di Yogyakarta pada 17 Januari 1948, Roem dipanggil Presiden Sukarno.
Presiden meminta Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan itu menemui Soedirman di rumahnya. "Sebagai ketua delegasi, jiwa Saudara harus diperkuat," kata Presiden. "Temuilah segera Panglima Soedirman." Meski awalnya menolak, Roem, yang tak mengerti urusan klenik, menuruti saran itu.
Di rumahnya, Soedirman sudah menunggu. Sang Panglima ditemani seorang anak muda yang ia kenalkan kepada Roem sebagai "orang pintar". Rupanya, anak muda yang dikenal Roem tak punya pekerjaan tetap itu yang akan "memperkuat jiwa" Menteri Dalam Negeri ini. Dukun itu kemudian memberinya secarik kertas. "Jimat ini tak boleh terpisah dari Saudara," kata Soedirman. "Kalau hilang, kekuatannya bisa berbalik. Jagalah sebaik-baiknya."
Jimat itu menemani Roem menghadapi delegasi Belanda yang keras kepala tak mau hengkang dari Indonesia. Seorang diplomat Amerika Serikat yang jadi penengah rundingan itu memuji Roem dan delegasi Indonesia. "Saya sudah kesal karena Belanda begitu legalistik, tapi kalian bisa melawannya dengan legalistik juga. You are wonderful," katanya, seperti ditulis Roem dalam Jimat Diplomat. Roem, lulusan Rechts School (Sekolah Hukum) di Jakarta, hanya mesem sambil meraba jimat itu di saku celananya.
Akan tetapi, cerita paling absurd yang pernah didengar anak bungsunya, Mohamad Teguh Sudirman, adalah kisah seorang santri dari Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Kepadanya, santri itu menceritakan kisah gurunya yang ikut bergerilya bersama Soedirman. Dalam sebuah pertempuran sengit, menurut santri itu, Soedirman menjatuhkan pesawat Belanda dengan meniupkan bubuk merica. Teguh berkomentar, "Gila, ini tak masuk nalar."
Soedirman Penganut Kejawen Sumarah
Soedirman terkenal punya firasat dan perhitungan jitu semasa bergerilya. Jenderal dari Banyumas dan percaya klenik ini dikabarkan memiliki bermacam kesaktian.
Soedirman disebut sebagai penganut aliran kejawen Sumarah. Ia gemar mengoleksi keris. Ia juga percaya benda pusaka itu punya tuah yang bisa melindunginya.
Anak bungsu Soedirman, Mohamad Teguh Sudirman, bercerita sewaktu ayahnya terpojok di lereng Gunung Wilis, Tulungagung, keris ayahnya bisa menyelamatkan pasukannya. Padahal ketika itu tentara gerilyawan tak punya celah meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda.
Soedirman tiba-tiba mencabut cundrik, keris kecil pemberian seorang kiai di Pacitan, dan mengarahkannya ke langit. Tak berapa lama, awan hitam bergulung-gulung, petir dan angin menghantam-hantam. Hujan lebat pun turun dan membuyarkan kesolidan pengepungan Belanda. Lagi-lagi pasukan Soedirman selamat.
Cundrik itu ia tinggalkan di rumah penduduk. Beberapa tahun setelah Soedirman meninggal pada 1950, Panglima Kodam V Brawijaya Kolonel Sarbini datang ke rumahnya di Kota Baru, Yogyakarta, ditemani seorang petani.
Menurut Teguh, Sarbini bercerita kepada ibunya, Siti Alfiah, petani itu hendak mengembalikan cundrik Soedirman yang dititipkan kepadanya sewaktu gerilya. "Cundrik itu kami titipkan di Museum Soedirman di Bintaran Timur, Yogya," ujar Teguh. "Tapi sekarang hilang.
Bintang Lapangan Sepak Bola
Senin Pon, 18 Maulud 1846 dalam almanak Jawa atau 24 Januari 1916. Seorang bayi lahir di Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Purbalingga. Ia lahir dari rahim Siyem, wanita asal Purwokerto, istri Karsid Kartoworidji, seorang pekerja pabrik gula.
Seperti ditulis Majalah Tempo Senin 12 November 2012, bayi laki-laki itu diberi nama Soedirman. Nama itu diberikan ayah angkatnya, Raden Tjokrosoenarjo, asisten wedana di Rembang, Purbalingga. Sejak lahir, ia memang langsung diurus dan tinggal di rumah pasangan Tjokrosoenarjo dan Toeridowati.
Soedirman memasuki masa sekolah pada 1923. Kala itu, berkat status Raden Tjokrosoenarjo yang bekas pejabat, Soedirman kecil bisa memperoleh pendidikan formal di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, setingkat sekolah dasar) pada usia tujuh tahun.
Di sekolah inilah bintang Soedirman mulai bersinar terang. Salah satunya lewat olahraga kegemarannya: sepak bola. Menurut Teguh, saking piawainya memainkan si kulit bundar, Soedirman, yang biasa berposisi sebagai penyerang dijuluki si bintang lapangan.
Pria 62 tahun itu mengatakan ayahnya juga menguasai betul aturan dan tata cara permainan bola sepak. Lantaran dikenal sebagai sosok yang jujur, Soedirman kemudian kerap didaulat menjadi wasit. "Kebiasaan sepak bola ini terbawa terus sampai Bapak remaja menuju dewasa," kata Teguh.
Di Sekolah, Jenderal Soedirman Dijuluki Kaji
Soedirman memasuki masa sekolah pada 1923. Kala itu, berkat status Raden Tjokrosoenarjo, ayah angkatnya yang bekas pejabat, Soedirman kecil bisa memperoleh pendidikan formal di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, setingkat sekolah dasar) pada usia tujuh tahun. Di sekolah milik pemerintah ini, ia dikenal sebagai murid yang sangat rajin, berdisiplin, dan pandai.
Seperti ditulis Majalah Tempo Senin 12 November 2012, Soedirman dikenal sebagai sosok yang tak segan membantu teman-temannya dalam hal apa pun, termasuk pelajaran. Ia sangat antusias mengikuti pelajaran bahasa Inggris, ilmu tata negara, sejarah dunia, sejarah kebangsaan, dan agama Islam. "Saking tekunnya pada pelajaran agama, Soedirman diberi julukan Kaji atau Haji," ujar sejarawan Rushdy Hoesein.
Cara bergaul ayahnya pun luwes, kata anak bungsunya, Mohammad Teguh. Dia bisa memastikan hal itu berdasarkan cerita ibunya. Soedirman bisa berkawan dan menempatkan diri di antara senior ataupun juniornya. "Bapak biasa berada di tengah banyak orang. Soalnya Bapak sangat piawai berpidato," ujarnya. Terutama saat ayahnya getol mengurus organisasi intrasekolah Putra-Putri Wiworotomo.
Soedirman lulus HIS pada 1930. Ia baru masuk ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Parama Wiworotomo, Cilacap, dua tahun setelahnya dan lulus pada 1935.
Bersekolah di MULO merupakan tahapan penting bagi Soedirman. Di sekolah itulah ia mendapatkan pendidikan nasionalisme dari para guru yang kebanyakan aktif di organisasi Boedi Oetomo, seperti Raden Soemojo dan Soewardjo Tirtosoepono, lulusan Akademi Militer Breda di Belanda.
Begini Asal-usul Keluarga Jenderal Soedirman
Soedirman lahir pada Senin Pon, 18 Maulud 1846 dalam almanak Jawa atau 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Soedirman diurus dan tinggal di rumah asisten wedana di Rembang, Raden Tjokrosoenarjo dan istri Toeridowati.
Seperti dimuat Majalah Tempo Senin, 12 November 2012, data Pusat Sejarah Tentara Nasional Indonesia menyebutkan, istri Tjokrosoenarjo adalah kakak kandung ibunda Soedirman. Sejak Soedirman masih di dalam kandungan, Tjokrosoenarjo sudah meminta izin Siyem agar kelak bisa merawat kemenakannya itu.
Setelah Soedirman berusia delapan bulan, Tjokrosoenarjo pensiun dari jabatannya. Berbekal duit pensiun 62,35 gulden, ia memboyong keluarganya, termasuk Soedirman dan orang tuanya, pindah ke sebuah rumah sederhana di Kampung Kemanggisan, Kelurahan Tambakreja, sebelah selatan pusat Kota Cilacap, Jawa Tengah. "Jadi, Bapak cuma numpang lahir di Purbalingga, lalu kehidupannya berlanjut di Cilacap," kata Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, anak bungsu Soedirman, saat ditemui Tempo awal Oktober lalu.
Teguh bercerita, selama ini banyak buku dan literatur digital di dunia maya menulis ngawur soal asal-usul keluarganya. Dari sekian banyak buku tentang ayahnya, Teguh hanya percaya pada buku berjudul Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer karya wartawan senior Julius Pour terbitan 2005.
"Walau bukan buku biografi Bapak, ceritanya cocok semua dengan cerita Ibu," ujar bungsu dari sembilan putra-putri pasangan Soedirman dan Siti Alfiah itu.
Soal asal-usul keluarga sang Panglima Besar, Teguh mengatakan, berdasarkan pernyataan keluarga, Soedirman merupakan anak kandung Tjokrosoenarjo, Asisten Wedana Rembang, bukan anak angkat seperti yang selama ini tertulis di berbagai buku sejarah. "Belum ada satu pun buku yang menulis soal ini (versi keluarga)," katanya.
Tjokrosoenarjo wafat saat Soedirman masih menempuh sekolah guru di Cilacap pada sekitar 1936. Ia mewariskan seluruh hartanya kepada anak tunggalnya itu.
Siti Alfiah, istri Soedirman, beberapa kali berusaha meluruskan soal data sejarah ini, tapi selalu kandas. Janda Soedirman itu pernah berupaya meluruskannya pada 1960-1970-an. Namun, pihak Pusat Sejarah ABRI kala itu malah mengesahkan secara resmi sejarah orang tua Soedirman yang masih kontroversial tersebut lewat pengadilan. "Tapi aneh karena tak ada satu pun anggota keluarga yang diundang," ujar Teguh.
Bagi Teguh, ibundanya adalah satu-satunya orang yang tahu persis soal riwayat sang Jenderal Besar. Sebab, semua dokumen yang berkaitan dengan Soedirman telah dilenyapkan demi kepentingan keamanan sebelum ia berangkat bergerilya.
Menurut Teguh, sejarawan Anhar Gonggong pernah memberinya saran agar ia menuliskan semua riwayat Soedirman dari sudut pandang dan pengakuan keluarga. Namun, hingga kini dia belum pernah mencoba melaksanakan saran Anhar itu.
"Yang jelas, Bapak itu pahlawan nasional. Jasanya banyak, perlu jadi teladan bangsa ini. Itu saja cukup," ucap Teguh.
Bekas Kamar Jenderal Sudirman Bertarif Rp 5 Juta
Yogyakarta - Sebuah kamar di Hotel Inna Garuda, Jalan Malioboro, Yogyakarta, pernah ditempati Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai kantor sekaligus kamar tidur. Anda tertarik menginap di kamar Jenderal Sudirman? Bisa, Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 5 juta per malam untuk tidur di kamar 291 itu.
“Kami menjual nilai sejarah kamar yang pernah digunakan sebagai kantor dan kamar Pak Dirman,” kata Ayub Khan, juru bicara Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Rabu 29 Juni 2011. Menurut Ayub, kamar dengan kelas suite room itu tiap bulan tak pernah sepi penghuni.
Kamar Sudirman ini tertata rapi layaknya kamar hotel berbintang lima. Meski pernah dihuni Pak Dirman, tidak semua perangkat di kamar ini asli. Ada sebagian yang sudah diganti karena termakan usia. Ada beberapa benda peninggalan Sudirman yang masih tersimpan di kamar tersebut, seperti foto Sudirman ketika masih memimpin perang gerilya melawan penjajah Belanda.
Adapun barang peninggalan Sudirman seperti patung, baju, pusaka, hingga tempat tidur kuno yang masih ada kelambu sebagai pemberian istri mendiang Sudirman tidak ditempatkan di kamar itu. Alasannya, tamu banyak yang takut jika benda-benda kuno dipasang di kamar itu. “Kami simpan di tempat lain di hotel,” kata dia.
Kebanyakan para tamu yang menyewa kamar itu adalah kalangan pejabat negara, wisatawan lokal, maupun mancanegara yang sangat berminat terhadap wisata sejarah.
Sebelum kemerdekaan masa penjajahan Belanda, hotel ini bernama Grand Hotel. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, hotel ini berganti nama Hotel Asahi. Kemudian pada zaman kemerdekaan, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Merdeka dan akhirnya menjadi Hotel Inna Garuda.
Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengusulkan kepada pengelola hotel untuk mengembalikan ruang perkantoran dan tempat tinggal Jenderal Sudirman itu seperti zaman dahulu. Pasalnya, kamar itu juga merupakan ikon sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda.
“Akan lebih bagus dan menarik jika kamar itu dikembalikan seperti tempo dahulu. Penataan ruangannya dibuat sama seperti saat Jenderal Sudirman berkantor di sini,” kata Herry.
TIM TEMPO
© Tempo.Co
Posted in: Artikel,Tokoh
☆ Sri Mulyani Masuk 100 Top Global Thinkers 2012
Washington - Sri Mulyani Indrawati, Managing Director Bank Dunia, masuk dalam daftar 100 Top Global Thinkers 2012 versi Foreign Policy. 100 Top Global Thinkers 2012 menjadi cover story majalah politik dan ekonomi ini untuk edisi Desember 2012.
Dalam daftar yang dirilis Senin, 10 Desember 2012, mantan Menteri Keuangan Indonesia ini berada di urutan ke-72 dari 100 pemikir global lainnya.
Foreign Policy menuliskan, Sri Mulyani Indrawati, 50 tahun, mendapat penghargaan yang tinggi karena sebagai Menteri Keuangan selama periode 2005-2010 berhasil melakukan reformasi besar-besaran dengan menindak pejabat Pajak (Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan) yang korupsi.
Sri Mulyani juga dinilai berhasil meningkatkan pendapatan dari Pajak sebanyak empat kali lipat sehingga membuat negara dengan penduduk 250 juta orang berhasil keluar dari krisis keuangan global dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 6 persen.
Saat ini sebagai Managing Director Bank Dunia, kata Foreign Policy, Sri Mulyani berkeliling ke berbagai negara di dunia untuk memberikan saran atau nasehat tentang pertumbuhan ekonomi dunia dengan berkaca dari keajaiban perekonomian Indonesia.
Resepnya sangat sederhana: pemotongan fiskal yang masuk akal plus mendorong kebijakan yang meningkatkan pertumbuhan dengan membebaskan segala hambatan di bidang perdagangan, investasi, dan inovasi.
Majalah Forbes pada Agustus lalu juga menempatkan Sri Mulyani dalam daftar 100 World’s Most Powerfull Women. Sri Mulyani berada di urutan ke-72.
Majalah Forbes menyebutkan, Sri Mulyani yang menjadi Managing Director dan wanita paling senior di Bank Dunia sejak Mei 2012, selama menjadi Menteri Keuangan Indonesia pada 2005-2010, berhasil memotong separuh utang Indonesia dan berhasil ikut menaikkan cadangan devisa negara ke level tertinggi sepanjang masa, yakni US$ 50 miliar.
Majalah Forbes juga mengatakan, sebagai Managing Director Bank Dunia yang membawahi negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, Eropa, dan Timur Tengah banyak memberi perhatian kepada negara-negara berpenghasilan menengah dengan membagi pengalamannya sebagai Menteri Keuangan Indonesia.
● Tempo

Posted in: Tokoh
☆ Aleta Baun, Perempuan Pahlawan Lingkungan dari NTT
Perjuangan Mama Aleta membuahkan hasil setelah 11 tahun.
| Aleta Baun |
Aleta Baun, seorang ibu dari Nusa Tenggara Timur, meraih penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 atas jasa-jasanya di bidang konservasi alam. Mama Aleta menerima langsung Goldman Environmental Prize 2013 dalam satu upacara khusus di San Francisco Opera House, Amerika Serikat, sekitar pukul 17.00, Senin 15 April 2013, waktu San Fransisco, atau pukul 07.00, 16 April 2013 WIB.
Goldman Environmental Prize 2013 merupakan Hadiah Lingkungan Hidup yang diberikan setiap tahun kepada pahlawan lingkungan hidup, masing-masing mewakili enam kawasan besar di dunia. Lima lainnya adalah Jonathan Deal (Afrika Selatan), Kimberly Wasserman (AS), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), dan Nohra Padilla (Kolombia).
Aleta lahir dari keluarga petani di kaki Gunung Mutis, Timor, Nusa Tenggara Timur. Di usia muda, dia kehilangan ibunya sehingga dia dibesarkan perempuan lain di sukunya, Suku Mollo.
Sebagai seseorang yang hidupnya dibentuk oleh nilai-nilai dari tetua suku, Aleta menjadi pemimpin di komunitasnya, sehingga lama-lama dikenal sebagai Mama Aleta. Seperti dilansir laman Goldman Prize, Suku Mollo berabad-abad bertahan hidup dari keanekaragaman hayati di Gunung Mutis yang disakralkan. Mereka mengumpulkan makanan dan obat-obatan dari hutan, menanam di tanah subur dan menenun baju dari serat alami.
Perjuangan Mama Aleta telah dimulai pada 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan industri kehutanan. Gunung Batu Anjaf untuk dikeruk (dibelah) dan diolah menjadi batu marmer. Batu, bagi orang Timor adalah batu nama. Nama marga ada pada batu-batu itu. Kalau batu nama itu dihilangkan, maknanya sama dengan menghilangkan identitas orang Timor.
Bagi Mama Aleta, jika hutan dan batu ditambang, mata air akan hilang. Sementara mereka menggantungkan hidup dari mata air untuk mengairi pertanian dan hutan untuk sumber pangan.
Dia pun bertindak, menyatukan komunitas untuk sama-sama menolak upaya korporasi itu demi mempertahankan identitas Suku Mollo. Keinginannya sederhana, agar masyarakat setempat tidak kehilangan sumber pangan, identitas dan budaya daerah. Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut "protes sambil menenun."
Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah.
Kegigihan perempuan kelahiran Lelobatan, Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 16 Maret 1963 itu mempertahankan tanah leluhurnya dan membangun solidaritas dan menjadi inspirasi bagi kaum tani dan masyarakat adat, khususnya kaum perempuan adat, telah membawanya meraih penghargaan lingkungan hidup "Goldman Environmental Prize 2013".
Penghargaan untuk Masyarakat Adat
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyambut gembira penghargaan Goldman Enviromental Prize 2013 kepada Aleta. “Saya gembira. Ini penghargaan yang pantas buat Mama Aleta. Beliau merupakan Perempuan Adat yang menjadi pemimpin dan memilih menggerakkan perempuan di tengah struktur sosial yang lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki," kata Sekretaris Jenderal AMAN, Abdon Nababan, secara tertulis ke VIVAnews.
Menurut Abdon, Mama Aleta berhasil menggerakkan Masyarakat Adat Mollo untuk kembali percaya pada kekuatan ritual sebagai media yang mempersatukan perjuangan bersama antara masyarakat adat dengan para leluhurnya, salah satunya melawan agresi pembangunan yang masuk dalam bentuk tambang marmer.
"Saya juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga Goldman karena ini kali ketiga pemimpin pergerakan Masyarakat Adat Nusantara menerima Goldman Environmental Prize. Sebelumnya dimenangkan oleh Bapak (alm) Loir Botor Dingit, Kepala Adat Besar Masyarakat Adat Dayak Bentian dari Kalimantan Timur pada tahun 1997 dan Mama Yosepha Alomang dari Orang Amungme di Papua pada tahun 2001," katanya.
Samdhana Institute, lembaga pendukung dan pengusul Mama Aleta ke Goldman Environment Prize, juga menyampaikan ucapan terima kasih. "Penghargaan ini merupakan bentuk penghargaan atas semua perjuangan ibu-ibu petani dan Masyarakat Adat Nusantara yang Mama Aleta wakili sebagai pahlawan dalam pertahanan budaya, pangan, penghidupan berkelanjutan, pemeliharaan dan pengelolaan alam. Ternyata perjuangan beliau dihargai oleh dunia luas lingkungan hidup,” kata Antoinette G. Royo, Direktur Eksekutif Samdhana.
Didirikan sejak 1989 oleh beberapa tokoh masyarakat seperti Richard dan Rhoda Goldman dari San Francisco, Goldman Enviromental Prize saat ini memasuki tahun ke-24. Selain Mama Aleta, Goldman Enviromental Prize 2013 diberikan kepada Jonathan Deal (Afrika Selatan), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), Kimberly Wasserman (AS) dan Nohra Padilla (Kolombia).
Perjuangan Berlanjut
Meski telah berhasil di kampungnya, perjuangan Mama Aleta terus berlanjut. Kini selain aktif di AMAN, Mama Aleta juga membangun jaringan se-Timor Barat untuk memetakan hutan mereka. Tujuannya adalah agar hak ulayat mereka terjaga dari proyek pertambangan, perkebunan atau penebangan hutan. Mama Aleta juga mengembangkan ekonomi alternatif dengan mengenalkan pertanian berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari tenun tradisional.
Perjuangan ini masih berlanjut karena NTT saat ini agresif didekati perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan. Dalam sebuah seminar, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal NTT, Sarah Lery Mboeik, menyatakan, penambangan hanya memberikan kontribusi kurang dari dua persen pada pendapatan daerah. Sebaliknya, pertambangan memberikan kerusakan lingkungan, dan mengurangi lahan produktif.
Tentu saja, penambangan yang diduga mengabaikan dampak lingkungan ini bisa mendatangkan bencana besar, seperti tanah longsor dan kekeringan berkepanjangan. "Penambangan di sana sebagian besar tak memperhatikan Amdal," kata dia, pada November 2011 itu.
Di NTT, menurut Mboeik, tidak kurang dari satu juta hektare lahan warga yang kini dikuasai investor pertambangan. Ironisnya, lebih dari 50 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan. Sebagian besar perusahaan juga memperlakukan masyarakat sebagai pekerja, padahal faktanya, mereka adalah pemilik lahan yang di dalamnya terdapat cadangan tambang.(sj)
● Vivanews

Posted in: Artikel,Tokoh
☆ Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, Dari Mencipta “Pabrik” ke Cakar Ayam
oleh: Retty N. Hakim
Entah berapa persen dari orang-orang yang melalui jalan tol Pr. Dr. Ir. Sedyatmo untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta, yang mengetahui riwayat putra Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama jalan tol itu. Nama beliau mendapat kehormatan tersebut adalah karena jasanya menciptakan sistem pondasi cakar ayam yang digunakan untuk pembangunan jalan tol dan Bandara di daerah Cengkareng yang berawa-rawa itu. Walaupun mungkin temuan-temuan baru yang lebih canggih sudah hadir, tetap saja nama Sedyatmo sebagai seorang penemu pada zamannya sudah tercatat oleh sejarah.
Dalam sebuah buku yang berisi riwayat kehidupan pencipta pondasi cakar ayam ini, "Prof.Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta" terdapat banyak nasihat kehidupan yang patut dibaca para guru dan pelajar atau mahasiswa, bahkan juga oleh orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Seorang inovator, yang artinya adalah seorang yang memperkenalkan sebuah gagasan atau metode yang baru, ternyata tidak selalu harus lahir dari anak-anak dengan pencapaian akademis tinggi. Yang penting adalah kemampuan sang pendidik untuk mengenali kemampuan anak didiknya dan memberinya kesempatan. Seorang anak bangsa juga bisa mengharumkan nama bangsa di bidang teknologi bila didukung oleh negaranya. Sedyatmo kecil adalah anak kreatif yang sejak kecil sudah menciptakan penemuan-penemuan kecilnya, baik itu dalam menciptakan kualitas benang gelasan yang berbobot, maupun dalam menciptakan "pabrik" dari kotoran kerbau yang menjadi bahan permainannya bersama anak-anak desa selama berhari-hari.
Awalnya dia diberi nama R.M. Sarwanto, tetapi karena dia menderita sakit yang tidak kunjung sembuh, maka sebagaimana biasanya kebiasaan masyarakat Jawa, orang tuanya memberinya nama baru yang lebih sesuai yaitu Sedyatmo. Nama ini memiliki arti sebagai anak yang kelak akan menadi anak yang baik dan berguna baik masyarakat, bangsa, dan negaranya. Buku ini juga menarik untuk dibaca oleh para pendidik zaman sekarang yang seringkali masih memaksakan suatu pendapat tanpa memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengembangkan proses berpikirnya. Pada halaman 53 dari buku ini diceritakan bagaimana sebagai murid AMS Sedyatmo menentang pendapat gurunya yang menyatakan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Alih-alih marah, sang guru mencoba menjelaskan sejelas-jelasnya sehingga akhirnya Sedyatmo mengakui kesalahan pemikirannya. Guru ini pula yang kemudian memberikan jaminan kepada rektor THS (sekarang ITB) bahwa Sedyatmo pasti bisa mengikuti perkuliahan di sana walaupun saat itu nilai rata-rata tes yang dikantonginya tidak tinggi. Berkat dukungan guru yang pernah ditentangnya di kelas itu Sedyatmo akhirnya bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke THS.
Keterbukaan seorang pendidik terhadap anak didiknya sangat penting untuk mengembangkan kreativitas anak didik tersebut. Pengalaman Sedyatmo ketika mempertanyakan fungsi teori bilangan khayal kepada professor yang mangajarnya di THS yang juga dituangkan dalam buku biografi ini memperlihatkan keterbukaan sang pendidik. Dengan jujur sang professor menjawab: "Saya tidak dapat menjawab pertanyaanmu, Tuan Sedyatmo, tetapi saya hanya memberitahukan bahwa kalau Tuan tidak memahami benar teori bilangan khayal, maka Tuan tidak akan menjadi insinyur yang baik." Jawaban ini membuat Sedyatmo justru lebih dalam berpikir dan akhirnya mengakui kekuatan imajinasi sebagai salah satu pilar kesuksesan dalam penemuan baru.
Pengagum tokoh perwayangan Bima dan Gatotkaca ini sangat mempercayai penyelenggaraan kuasa Tuhan dalam hidup manusia. Oleh sebab itu dalam acara penganugerahan gelar doktor kehormatan dari ITB, Sedyatmo berpesan kepada para mahasiswa sebagai calon inovator di masa depan untuk selalu memanfaatkan "aji-aji pancasona" atau senjata lima serangkai yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia yaitu imajinasi, intelektual, intuisi, inspirasi, serta insting yang bekerja di luar kesadaran manusia.
Dalam buku ini juga digambarkan Sedyatmo sebagai putra Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi, artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini ia bertumbuh dan belajar untuk menciptakan peluang. Karya pertama yang melecut kepercayaan dirinya sebagai seorang insinyur adalah jembatan air Wiroko yang selesai dibangun pada tahun 1937. Berkat dukungan penuh dari Mangkunegoro VII, maka tentangan dari pemerintah Belanda, bahkan dari almamater Sedyatmo sendiri (THS) tidak menjadi batu sandungan yang berarti baginya. Karya pertamanya itu menjadi pembuka jalan bagi karya-karya selanjutnya.
Sedyatmo memandang kehidupan sebagai peluang dari Tuhan, sehingga ketika harus melepaskan kedudukan dan kekuasaan karena harus pensiun pada usia 55 tahun di tahun 1964 ia tidak memandangnya sebagai kerugian, melainkan justru sebagai kesempatan untuk semakin memperjuangkan temuan pondasi cakar ayamnya. Ia kemudian masih mengabdi di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik hingga tahun 1976. Perjuangan untuk menggunakan pondasi cakar ayam di Cengkareng, yang membawa pengakuan dunia terhadap rancangannya, ternyata bukan perjuangan yang singkat. Inspirasi akan pondasi cakar ayam mucul di tahun 1962 di Pantai Cilincing ketika ia menemani anak-anaknya berlibur di sana. Memang buku ini juga membuka sedikit celah kehidupan pribadi Sedyatmo yang selama 14 tahun, selain bergelut dengan pekerjaannya, juga tetap berusaha memenuhi kewajibannya sebagai orang tua tunggal dari lima orang putrinya. Setelah 14 tahun menduda hadirlah Hj. R. Ay. Sumarpeni Sedyatmo, SH yang kemudian mendampinginya selama 14 tahun terakhir kehidupannya sebagai penyemangat perjuangannya. Buku ini hadir terutama karena kesetiaan sang istri dalam menunaikan amanah untuk menuliskan perjalanan hidup sang suami.
Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa pondasi cakar ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Sementara itu Prof. Dr. Ir. Sedyatmo juga memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima negara asing. Kisah dalam buku ini berguna bagi orang-orang muda Indonesia untuk melihat bagaimana proses sebuah penemuan diterima di dunia internasional. Bagaimana ia memanfaatkan jurnal internasional untuk memperkenalkan temuan-temuannya. Bukan semata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memperlihatkan pula kemampuan seorang putra Indonesia. Rintangan-rintangan yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri menunjukkan betapa pentingnya dukungan Negara kepada para penemu putra bangsa.
Selain itu Sedyatmo menunjukkan pula bagaimana menjadi seorang nasionalis. Ketika orang asing datang melamar hasil temuan cakar ayamnya, di saat dukungan dari bangsa sendiri belum sepenuhnya diperoleh, ia tetap bertahan pada idealismenya untuk mempersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia. Memang pantas ia memperoleh Bintang Mahaputra Indonesia kelas I serta Lencana Pengabdian kepada Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan hanya pemerintah Indonesia yang memberinya penghargaan, bahkan pemerintah Perancis juga memberinya penghargaan Chevalier de la Legion d'Honneur karena keberhasilannya memimpin pelaksanaan pembangunan bendungan Jatiluhur.
Dari buku ini juga terungkap bahwa ide awal dari jembatan penghubung Suramadu merupakan hasil mimpi Sedyatmo akan jembatan bahari Ontoseno. Kesan-kesan dari orang-orang yang mengenalnya serta artikel-artikel yang pernah ditulis mengenai dirinya membantu pembaca untuk lebih mengenal pribadi beliau dari sisi-sisi yang berbeda. Satu hal yang sangat menonjol dari karakter Sedyatmo adalah kesabarannya dan kepasrahannya kepada kehendak Yang Kuasa. Kepasrahan itu tidak bersifat pasif, melainkan dengan aktif dia mencari peluang, walaupun tetap bersabar untuk menuai hasil sesuai yang diharapkannya dalam waktu yang diberikan Tuhan. Teknologi bagi Sedyatmo adalah alat untuk mempermudah manusia dan untuk membantu manusia menikmati anugerah alam yang diberikan Yang Maha Kuasa. Walaupun mencari jalan keluar teknologi yang lebih hemat biaya dan hemat waktu, sebenarnya Sedyatmo juga menginginkan karyanya bisa memberi pekerjaan bagi rakyat banyak. Walaupun tidak mengikuti ajakan Bung Karno untuk masuk partai politik, rupanya nasionalisme juga berakar di dadanya. Tidak heran bila dari buku ini kita bisa memperoleh pesan terselubung dari sang inovator agar bangsa Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak lagi pembaharu dan pencipta yang mampu berdiri tegak sejajar dengan penemu lain di hadapan semua bangsa di muka bumi.
Judul Buku: Prof.Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta
Penulis: Drs. Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan
Penerbit Teraju (PT Mizan Publika)
Tebal buku: 363
Cetakan: I, Oktober 2009
● Wikimu

Posted in: Artikel,Tokoh
☆ Kisah Cerita Bos Bukaka ...
Garap Industri Teknologi 30 Tahun Lalu Tanpa Hasil Jakarta ☆ Minat pengusaha di dalam negeri untuk mengembangkan industri berbasis teknologi cukup tinggi. Namun kurangnya perhatian pemerintah terhadap sektor ini sehingga tak berkembang, yang berkembang justru industri pertambangan.
Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama Ahmad Kalla menyindir kebijakan yang diambil pemerintah. Menurutnya pemerintah hanya fokus mengembangkan industri tambang, sedangkan industri berbasis teknologi di Indonesia bergerak mundur.
"Kapan ada industri yang bisa membanggakan selain tambang. Ini adalah contoh yang buruk bukan. Bayang-bayang 30 tahun yang lalu kami (Bukaka) menggebu-gebu membuat teknologi dan kami bangun. Berusaha menjadi pahlawan tetapi keuntungan nggak ada. Akibatnya sejak krismon (krisis moneter) kami tidur nyenyak dan tidak ada satupun teknologi yang kami ciptakan karena nggak ada insentifnya," kata Ahmad saat dialog Kebangkitan Industri Barang Modal Dalam Negeri di Gedung Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (3/04/2014).
Menurut Ahmad, banyak investor asing datang ke Indonesia hanya dengan satu tujuan yaitu berivestasi di sektor tambang. Sedangkan tidak ada ketertarikan investor asing untuk berinvestasi industri barang modal di dalam negeri termasuk sektor teknologi.
"Orang asing pada datang ke sini tetapi tidak ada investasi yang masuk ke barang modal. Tetapi masuk ke tambang," imbuhnya.
Meskipun investasi tambang berkembang pesat di dalam negeri, Bukaka tetap berinvestasi di sektor barang modal di dalam negeri. Salah satunya dengan membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Poso, Sulawesi Tengah.
"Tahun 2003 kami melihat industri yang tepat adalah tanah dan air. Tanah ini adalah tambang dan sawit. Kemudian air kami manfaatkan energi air. Alhamdulillah setelah berjuang kami selesaikan PLTA Poso dengan kapasitas listrik 203 megawatt seperti Jatiluhur," cetusnya.(wij/hen)
Bangun PLTA Berawal dari Beli Buku di Tiongkok Masyarakat Indonesia tidak usah pergi jauh-jauh ke Amerika Serikat (AS) atau Eropa untuk belajar teknologi. Pergi saja ke Tiongkok, karena segala ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang di sana.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama Ahmad Kalla saat dialog soal Kebangkitan Industri Barang Modal Dalam Negeri di Gedung Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (3/4/2014).
"Untuk industri barang modal (industri berbasis teknologi) belajar ke Tiongkok jangan ke Amerika atau Eropa. Praktik teknologi cukup mudah ditemukan di Tiongkok," katanya.
Ia memberikan contoh keberhasilan Bukaka membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso di Sulawesi Tengah. Namun siapa sangka ide pembangunan PLTA Poso didapat dari sebuah buku yang ia di sebuah toko buku di Tiongkok.
"Saya bangun PLTA Poso 203 megawatt dengan membaca buku yang saya beli di Tiongkok. Biasanya di dalam buku itu ada gambar shop drawing yang dijual di toko buku di Tiongkok, modelnya seperti itu," imbuhnya.
Menurutnya cara seperti ini jauh lebih murah dan efisien untuk dilakukan karena tidak perlu biaya untuk pra studi kelayakan. Bahkan dengan informasi yang lengkap di dalam buku itu, saat membuat langsung PLTA Poso, Bukaka tidak menyewa teknisi asing dan hanya menggunakan teknisi yang ada di dalam negeri.
"Jadi tidak perlu lagi ada Research and Development. Jadi menurut saya, mari bekerja yang simpel dulu saja. Membangun PLTA Poso ini semua teknisi yang kita pakai dari dalam negeri dari 0 dan hanya nyontek dari buku itu saja. Jadi nyontek kiri dan kanan saja. Kami bangun juga PLTU di Gresik tidak pakai kontraktor asing. Maksud saya hal yang simpel ini ya dibikin simpel," jelasnya.(wij/hen)
Sindir Soal Dana Subsidi Triliunan Tapi Infrastruktur RI Minim Kalangan pengusaha kerap kali menyindir pemerintah yang lebih banyak menganggarkan dana subsidi termasuk untuk energi. Namun dana infrastruktur sangat minim, sehingga dunia usaha sulit bersaing di tingkat global.
Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama Ahmad Kalla menyatakan pemberian subsidi yang terlalu besar dinilai tidak tepat apalagi kondisi infrastruktur di Indonesia sangat minim.
"Yang mematikan kita ini adalah subsidi. Bayangkan untuk subsidi listrik itu naik dari Rp 42 triliun menjadi Rp 90 triliun. Lalu siapa yang membiayai infrastruktur kita? Kita lihat struktur APBN kita kecil untuk infrastruktur. Anggaran kita itu jauh lebih besar untuk pendidikan, anggaran kementerian, daerah dan umumnya subsidi. Padahal membangun infrastruktur harus banyak insentif," kata Ahmad saat dialog Kebangkitan Industri Barang Modal Dalam Negeri di Gedung Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (3/04/2014).
Ia mencontohkan buruknya infrastruktur di Indonesia terlihat dari minimnya ketersediaan listrik. Padahal permintaan listrik setiap tahun mengalami pertumbuhan. Sayangnya PT PLN (Persero) tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik di dalam negeri, sehingga butuh dukungan swasta.
"Listrik saja untuk kebutuhan normal kita tidak cukup. Target PLN pertumbuhan permintaan listrik yang diberikan hanya 8%. Kalau mau ekonomi melaju 6% per tahun, perlu ada pertumbuhan listrik sebesar 9% dan 1,5% untuk menggantikan infrastruktur listrik yang cukup tua," imbuhnya.
Pemerintah telah menganggarkan pembangunan infrastruktur dalam APBN 2014 sebesar Rp 206 triliun. Jumlah itu tumbuh 11,77% dibandingkan pagu pembangunan infrastruktur APBN Perubahan 2013 yaitu Rp 188 triliun. Sedangkan dana subsidi untuk BBM saja mencapai Rp 200 triliun lebih.
Menurut Ahmad jumlah itu masih kurang untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Pemerintah harus berani mengurangi pemberian subsidi yang kemudian dialokasikan ke anggaran infrastruktur. Bila tidak dilakukan, lebih baik pemerintah tidur saja.
"Lebih baik kita tidur lagi dan lebih enak tidur. Saya pesimis kita bisa bangkit," cetusnya.(wij/hen)
PT Bukaka Pernah Berniat Garap Monorel di Jakarta Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama Ahmad Kalla mengakui perusahaannya ingin ikutan menggarap proyel monorel di Jakarta. Bukaka bahkan sudah membuat prototype monorel yang layak digunakan masyarakat Jakarta. Namun ide itu belum sempat ia berikan kepada Pemprov DKI Jakarta.
"Belum sempat (diberikan ide monorel kepada Pemrov DKI Jakarta). Tetapi monorel sudah kita kembangkan 4 tahun yang lalu. Prototype monorel sudah ada dan sekarang jadi museum di Tambun," kata Ahmad saat ditemui di Gedung Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (3/04/2014).
Mengapa ide monorel Bukaka tidak diajukan ke Pemprov DKI Jakarta? Menurut Ahmad cukup berat bila swasta yang menanggung keseluruhan proyek pembangunan transportasi massal (mass transportation). Seharusnya proyek pembangunan transportasi massal dilakukan oleh pemerintah sepenuhnya.
"Kita juga rugi karena tidak feasible (layak). Kita ingin bangun tetapi dengan harga murah, tanahnya gratis dan lain-lain tetapi tidak mungkin. Negara harus keluarin duit bangun. Atau bisa juga kita yang mengoperasikan sementara kereta dan sarana lainnya pemerintah yang beli," imbuhnya.
Ahmad menuturkan di seluruh dunia pemerintah berkewajiban membangun sarana transportasi massal. Hanya pembangunan transportasi massal di negara Hongkong yang dibiayai oleh swasta karena alasan teknis.
"Ada kesalahan total yang kita lakukan yaitu tidak ada di dunia ini mass transport dibiayai oleh swasta. Cari kan (negaranya), nggak ada kecuali Hong Kong. Penyebabnya kan (Hong Kong) mass transport ini ada stasiunnya dikasihlah section station. Stasiun ini mereka bangun 60 lantai di atasnya yang untung gedungnya. Gedungnya ini akan mensubsidi kepada alat transportasinya/monorelnya," tuturnya.
Bila proyek transportasi massal dikerjakan oleh swasta sepenuhnya maka dipastikan perusahaan itu akan rugi dan mundur di tengah jalan.
"Iya dong harus difasilitasi oleh pemerintahnya. Ada tiba-tiba pengusaha ingin bangun monorel hitungannya dimana, ternyata nggak jalan kan. Karena nggak ada rumus di dunia itu mass transport dibangun oleh swasta. Karena pasti rugi. Hitungannya biaya investasi Rp 10 triliun karcis Rp 9.000/penumpang sehari bisa angkut 200.000. Kalau disubsidi saya juga mau. Tetapi kalau tidak disubsidi penghasilan di karcis tidak akan mungkin," jelasnya.(wij/dru)
★ detik

Posted in: Artikel,Tokoh
☆ "Kita Defisit US$5 Miliar di Tahun 2013"
Amerika memberi subsidi petani US$80-100 miliar per tahun.
Jakarta ♞ Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, mengusulkan agar Indonesia mengimpor dua juta ekor sapi betina produktif per tahun untuk meningkatkan polulasi sapi. Hal ini dinilai penting untuk lebih memudahkan pemerintah mengendalikan tingkat inflasi di masa mendatang.
"Efek sapi ke inflasi ini tidak kecil," ujar Gita dalam kesempatan diskusi bersama tim redaksi VIVA Group di Ruang Rapat ANTV, Kompleks Epicentrum, Jakarta, Senin 13 Januari 2014.
Gita menjelaskan bahwa kondisi stok sapi di dalam negeri tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan permintaan masyarakat yang tinggi terhadap daging. Sehingga 50 persen kebutuhan daging harus dipasok dari impor.
Sementara harga sapi bakalan dan sapi siap potong di negara asal impor begitu tinggi. Gita mengusulkan agar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan direvisi demi memudahkan pemerintah mengimpor sapi berdasarkan zona, bukan negara demi mendapatkan biaya impor sapi lebih rendah.
Impor sapi yang lebih rendah akan membuat harga jual daging di pasar lebih murah. Menurut Gita, ini juga penting mendorong peningkatan konsumsi daging masyarakat. "Kandungan protein daging itu kan tinggi, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Gita.
Gita juga yang merupakan peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, menyatakan komitmen untuk meraih kemenangan dengan strategi menarik simpati pemilih golongan putih alias golput. "Saya lihat golput itu bisa 35-40 persen selama ini. Kenapa tinggi? Supply pemimpin kurang appealing," kata dia.
Simak perbincangan tim Redaksi VIVA Group dengan Gita Wirjawan berikut ini.
Bagaimana dengan Follow up kesepakatan WTO di Bali?
Kemarin di Bali disepakati tiga hal: paket negara miskin, paket pertanian, dan paket fasilitasi perdagangan.
Yang pertama ini paket untuk negara miskin terkait dengan keinginan negara miskin supaya mereka diberikan bantuan, bantuan dari negara maju dan berkembang yang besar supaya kepabeannya, kepelabuhannya, dan apapun lah yang bisa memperlancar ekspor mineral negara miskin agar bisa lebih bagus. Itu di belakangnya ada financial assistant. Yang kedua, perkecualian untuk negara miskin, khususnya negara Afrika. Kalau mereka mau ekspor kapas, mereka dikenakan tarif. Ketiga, tentunya adalah di Asia, kalo ada ekspor dari negara miskin, mayoritas negara Afrika. Kalau di Asia Tenggara, termasuk Laos dan Myanmar. Itu semua disepakati, keinginan negara miskin.
Yang beda dengan WTO Bali ini adalah prinsip single undertaking. Jadi kalau ada suatu negara yang populasinya cuma 5 juta dan dia merupakan salah satu 160 negara anggota, itu dia bisa memveto kesepakatan. Kalau China, penduduknya 1,3 miliar, PDB-nya lebih besar, suaranya satu. Nah ini bagus, 160 negara ini kemarin sepakat untuk mendukung keinginan negara miskin.
Yang kedua, paket pertanian yang disepakati oleh kita semua kemarin pada intinya permintaan grup negara berkembang atau G-33. Memang yang paling vokal itu India. Indonesia sebetulnya Ketua G-33. Tapi Indonesia harus menjaga posisi netral, persepsi objektif, karena kita adalah tuan rumah. Kita mendukung permainan peran oleh India sebagai anggota G-33 untuk kepentingan paket pertanian. Paling penting adalah di mana negara berkembang yang punya sektor pertanian yang besar itu bisa dapat perkecualian antara lain supaya kita bisa berikan subsidi kepada sektor pertanian dan petani. Kita bisa lakukan penimbunan atau stock holding. Jadi seperti beras, gandung, dan produk pertanian tertentu itu bisa ditimbun.
Selama ini kan dilarang, justru yang diperbolehkan itu negara maju. Mereka negara maju itu agak kelewatan, mereka memberikan subsidi kepada petaninya. Kalau di Amerika itu subsidinya US$80-100 miliar per tahun. Kalau di Uni Eropa itu 80 miliar euro per tahun. Sedangkan negara–negara berkembang tidak pernah bisa melakukan subsidi, ini dilarang oleh WTO.
Lalu, kami juga meminta penimbunannya tidak bisa dibatasi seperti apa yang dulu diinginkan Putaran Uruguay tahun 1986, yaitu kalau mau melakukan penimbunan tidak boleh lebih dari 10 persen dari produksi nasional dan berdasarkan harga tahun 1986. Nah, kita bilang tunggu dulu, bos. Ini harga kan sudah berubah di abad 21. Solusi interennya adalah oke anda boleh lakukan subsidi dan lakukan penimbunan tidak ada batasan. Tapi di solusi permanennya kami minta tidak ada batasan-batasan penimbunan seperti di kesepakatan Uruguay dulu dan ini harus menggunakan 15 persen dari harga saat ini. Ini yang nanti akan dirumuskan dalam solusi permanen. Alhamdulillah, kemarin disepakati untuk dapat pengecualian sementara. Itu bagus.
Bagian terakhir dari paket pertanian yang disepakati adalah tarif rate quota atau TRQ. Tarif rate quota ini apa? Ini perlindungan kepada petani. Kalau ada impor produk pertanian dari luar, khususnya dari negara maju atau negara-negara yang kuat, itu kita bisa kenakan tarif sampai 60 persen. Ini cukup tinggi untuk bisa berikan perlindungan kepada petani ataupun sektor pertanian. Ini yang nyata dan bisa dinikmati termasuk oleh Indonesia sekarang. Nah, itu paket pertanian.
Yang terakhir mengenai fasilitasi perdagangan. Ini adalah bagaiman secara keseluruhan, 160 negara anggota, bisa memperlancar kepabeanan, memperlancar sistem kepelabuhanan udara atau laut supaya ekspor impor bisa makin lancar.
Kalau dihitung-hitung kemarin Paket Bali cukup bersejarah, karena selama 18 tahun, sejak 1985 berdirinya WTO, tidak pernah ada kesepakatan. Putaran Doha, bagus kan retorikanya, mulia sekali untuk kepentingan negara berkembang dan negara miskin bisa dilindungi. Tapi, tidak ada yang nyata. (Kesepakatan) Cancun, ada orang Korea yang bakar diri, protes. Lalu di Seatle, demo besar-besaran di Hongkong. Kemudian di Jenewa tidak pernah ada kesepakatan.
Jadi kalau dihitung-hitung, ini adalah 10 persen dari Paket Doha. Paket Doha itu ada 18 sampai 19 hal yang harus disepakati supaya benar-benar terjadi keseimbangan antara negara maju dengan negara berkembang dan negara miskin.
Dari sekian kesepakatan itu, apakah sudah ada yang terealisasi?
Sudah. Paket pertanian. Kita sudah bisa mengenakan tarif sampai 60 persen. Ini sudah diperbolehkan. Jadi kalau ada sikap pemerintah untuk mengenakan tarif terhadap produk-produk pertanian yang bisa bersaing dengan produk lokal, kita bisa mengenakannya sampai 60 persen. Itu tidak akan digugat. Kita juga bisa memberikan subsidi sekarang, itu tidak dianggap pelanggaran oleh WTO.
Kalau kemarin tidak ada kesepakatan di Bali, anggaplah kita memberikan subsidi untuk beras atau apapun lah, kita bisa digugat di WTO. Kita mau lakukan penimbunan jagung, kedelai, beras, rotan, dan lain sebagainya, itu bisa digugat di WTO. Sekarang tidak bisa digugat. Itu sudah effective immediately sejak tanggal 6 Desember 2013. Jadi itu nyata.
Memang India punya kepentingan politik karena mereka akan pemilu bulan Mei. Terus itu sektor pertanian sensitif sekali.
Ini soal pembenahan postur neraca perdagangan. Prediksinya defisit agak menurun. Tapi ditengarai bebannya akan ada di penguatan nilai tukar dolar AS yang lebih tinggi lagi tahun ini. Bagaimana Menteri Perdagangan membenahi postur neraca perdagangan tahun ini agar kita tak masuk zona krisis?
Saya melihat begini, sebelas bulan pertama 2013, ekspor non migas kita volumenya naik 33 persen dan persentase kenaikan volumenya itu lebih tinggi daripada kenaikan 2011 dan 2012. Tahun 2011 kita kan golden year, tapi di 2013 persentasenya lebih bagus dari sisi volume.
Kenapa ekspor non migas 2013 kita, walau surplus, tapi nilanya tidak setinggi surplus tahun 2011? Karena harga komoditi di pasar internasionalnya jatuh sampai akhir semester pertama. Tapi, kalau kita lihat kelapa sawit, bahkan batubara, dan produk-produk komoditas lainnya, sampai bulan September sudah mulai terjadi konsolidasi. Sawit itu sejak September naik, bukan hanya harganya, tapi volumenya juga naik. Ada demand dari China dan India yang sudah meningkat.
Kondisi ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi atau pemulihan ekonomi di negara maju, seperti Jepang dan Amerika Serikat. Amerika Serikat pada kuartal ketiga pertumbuhan ekonominya di atas 4 persen. Kelihatannya harga minyak juga masih stabil, Nimex masih di bawah US$100 dolar atau sekitar US$95 per barel. Walau ini musim dingin, pasar sahamnya terus naik, yield treasury untuk 10 tahun di Amerika sudah lebih dari 3 persen, padahal 5 bulan yang lalu masih 2,4 persen. Artinya, tapering off membuat uang yang ditarik dari seluruh dunia, totalnya lebih dari US$3 triliun dipompa oleh Federal Reserve sejak akhir 2008, imbasnya ke seluruh dunia cari yield di bond (obligasi) dan di capital market (pasar saham). Pasar modal Amerika Serikat kenaikan kinerjanya lebih tinggi daripada pasar modal Asia tahun lalu. Kelihatannya ini pun bakal berkelanjutan.
Kalau pemulihan ekonomi di Amerika dan Jepang bisa berkelanjutan, pasti akan membutuhkan produk-produk yang keluar dari pabrik-pabrik di China dan negara berkembang. Tentunya penggunaan kapasitas di pabrik-pabrik tersebut akan membutuhkan produk-produk primer dari negara seperti Indonesia. Karena itu saya merasa ekspor non migas kita, yang sudah kelihatan volumenya naik 33 persen, ini akan berkelanjutan.
Surplus non migas kita di tahun 2013 sekitar US$6-7 miliar. Sampai akhir November 2013 surplus kurang lebih US$6,5 miliar. Kalau dihitung sampai Desember bisa surplus lagi, tambahan, anggaplah US$7 miliar dolar.
Problemnya kenapa kita selalu defisit. defisit nett-nya adalah minyak mentah. Impornya kan sekitar 400 ribu barrel per hari. Itu menggerogoti neraca perdagangan kita. Impor migas tahun lalu sampai akhir tahun 2013 defisit bisa mencapai US$12 miliar dolar. Defisit migas US$12 miliar, surplus nonmigas US$7 miliar, jadi nett kita defisit US$5 miliar di tahun 2013.
Tapi, saya percaya kalau pemulihan ekonomi negara maju berkelanjutan, surplus non migas kita tahun 2014 meningkat dari US$7 miliar dolar, apa lagi kalau kita bisa naikkan lifting. Tidak mungkin kita bisa turunkan konsumsi. Kalau harga minyak stabil, defisitnya bisa lebih kecil 2014. Defisit 2014 mungkin bisa turun dari capaian 2013 US$5 miliar dolar.
Kalau di rapat kabinet, apakah yang Anda katakan itu adalah prioritas? Apalagi mengingat pemerintahan tinggal beberapa bulan lagi. Apakah ada regulasi dan langkah yang akan segera keluar?
Kalau saya lihat, non migas sudah jalan cukup bagus, pengaruhnya ke postur neraca perdagangan,kita, neraca transaksi berjalan. Tinggal inflasinya. Inflasi ini kan ada impornya juga, imported inflation. Kalau kita lihat, tarif listrik listrik dijaga, harga minyak dijaga, apalagi kalau ada subsititusi ke biodiesel bisa dilakukan, itu double impact, bisa kurangi impor dan subsidi.
Efek dari volatile food terhadap inflasi ini yang menurut saya susah dikendalikan. Karena apa? Kadang kita harus impor cabai. Kita hampir selalu impor bawang putih. Produksi nasional bawang putih hanya 5 persen dari kebutuhan. Itu masih tidak rentan anomali cuaca dari negara asal, jumlahnya juga tidak terlalu besar.
Tapi yang lumayan besar efeknya itu memang sapi. Sapi tuh efek ke inflasi ini tidak kecil. Kita kan impor kan pakai dolar, jadi itu akan dipengaruhi oleh nilai tukar dan bisa berdampak ke inflasi. Apalagi kalau ada anomali cuaca.
Kebutuhan sapi kita tahun 2014 itu bisa sampai sebesar 4 juta ekor. Sedangkan produksi nasional kita yang bisa disembelih itu cuma 2 juta ekor. Jadinya, 50 persen kebutuhan nasional untuk sapi itu harus diimpor.
Problemnya adalah undang-undang kita membatasi dari mana kita bisa impor sapi hidup. Dulu, ada interpretasi Mahkamah Konstitusi yang mana kita harus. menggunakan pendekatan negara, bukan zona. Kalau ada negara asal sapi, ada zona yang bebas dari penyakit mulut dan kuku, tapi satu zona saja tidak bersih, kita tidak boleh menggunakan impor ini.
Negara-negara Asia Tenggara lain menggunakan pendekatan zona. Kalau zonanya bersih, boleh dia impor dari situ. Jadi, zona-zona yang bersih itu disertifikasi oleh PBB, lembaga internasional berbasis Prancis.
Jadi kita tidak boleh beli sapi dari negara lain, hanya dari Australia. Kita boleh mengimpor sapi hidup dari Australia, Selandia Baru, Jepang, Amerika, Kanada. Sedangkan harga sapi hidup di India itu setengah harga dari yang di Australia. Tapi kita tidak boleh impor dari India.
Tapi dulu SBY pernah MoU dengan Brasil?
Ya. Tapi Brasil negaranya jauh. Sapi hidup tidak boleh di kapal lebih dari 8 jam itu katanya dagingnya tidak enak kalau dipotong. Kalau kita ke Malaysia, 80 persen sapi yang mereka impor dari India, makanya sapi di Malaysia itu harganya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Singapura juga sapinya lebih murah daripada di Indonesia, padahal mereka tidak punya peternakan.
Nah, menurut saya Ini yang harus disikapi. Sebetulnya ini kan bisa disikapi. Ini kerjaannya hulu, bukan hilir. Maka undang-undangnya harus diubah.
Sudah coba diangkat isu ini?
Wah, sudah berkali-kali. Kalau ini bisa diubah, kita bisa kendalikan inflasi lebih bagus daripada sebelumnya. Tapi, saya lihat, beras kayaknya terkendali pasokannya daripada tahun lalu. Surplus kan. Cabai, bawang putih, bawang merah, kemarin saya tidak lihat ada tanda-tanda anomali cuaca di 2014 dan relatif stabil.
50 persen sapi dari impor. Harga ditargetkan turun di Rp 76 ribu per kilogram, tapi sekarang harga masih di atas Rp 90 per kilogram ribu waktu desember lalu. Maka ditengarai ada indikasi kartel. Apa yang akan dilakukan Kementerian Perdagangan karena harga belum turun sesuai target?
Waktu kita menargetkan Rp 76 ribu, nilai tukar dolar itu masih kisaran Rp 10 ribu. Sekarang sudah Rp 12 ribu lebih. Jadi kita hitung, sekarang harga sapi Rp 90 ribu dikurangi saja 20 persen, sudah kena target. Kalau saya lihat, aktivitas Rumah Pemotongan Hewan sudah lebih bagus. Mereka sudah dapatkan stok dari luar dan dalam. Harganya sudah lebih bagus secara relatif. Dulu, karena ada kelangkaan, mereka pasang harga yang lebih tinggi.
Dulu. Waktu dolar Rp 10 ribu, itu sapi hidup yang siap potong itu harganya Rp 30-33 ribu per kilogram. Begitu karkas, bisa sampai Rp 60 sekian ribu. Jadi realistis sekali kalau kita targetkan di pasar Rp 76 ribu per kilogram. Tapi tiba-tiba nilai tukar rupiah bergejolak. Ini yang meningkatkan biaya sapi hidup yang masuk ke RPH, termasuk karkas dan di pasar. Ini sudah meningkat harganya.
Kalau kita lihat ke depan, kita akan datangkan sapi bakalan dan siap potong. Sapi bakalan porsinya akan lebih banyak, itu sapi yang didatangkan untuk digemukkan 3-4 bulan, lalu dipotong. Kalau sapi siap potong itu 1-2 minggu itu akan dipotong.
Tapi, untuk jangka menengah saya bilang kita harus impor dengan skala yang lebih besar untuk sapi betina produktif. Ini yang berkali-kali saya push ke Kementerian Pertanian dan Kemenko Perekonomian, dan kabinet. Berapa impornya, ya 2 juta saja per tahun. Setiap sapi betina produktif ini bisa melahirkan 1 anak selama 1 tahun dalam 9 tahun. Kalau itu kita impor 1 juta sampai 2 juta ekor per tahun, ini melipatgandakan populasi sapi.
Sebab problemnya juga populasi sapi kita sudah turun. Dua tahun yang lalu, populasi sapi hampir 16 juta ekor. Sekarang tinggal 13 koma sekian juta ekor. Ini artinya di hulu harus disikapi. Kalau hulunya tidak beres, ya hilirnya yang keteteran.
Sekarang saya sedang prakarsai konsep ini dan mudah-mudahan bisa disetujui oleh kabinet. Kalau sekiranya bisa, ini akan sangat bisa menjawab kebutuhan kita di jangka menengah sampai jangka panjang.
Keberatan kira-kira muncul dari mana untuk program pembenahan di hulu ini?
Seharusnya tidak ada.
Berapa sapi yang akan diimpor untuk tahun ini?
Kalau tahun ini harus mendatangkan kurang lebih 700-an ribu ekor dalam waktu dekat. Ini sapi bakalan dan sapi siap potong. Tapi ini sapi jantan.
Yang harus didatangkan justru yang betina dan produktif. Ini tidak ada larangan dari Australia. Ini harus dimanfaatkan. Mereka ada stoknya. Kalau ini didatangkan, lalu melahirkan setiap tahun satu sapi. Bayangkan kalau stok pertama didatangkan dua juta ekor, selama sembilan tahun bisa membuahkan 18 juta ekor. Apalagi kalau kita setiap tahun impor dua juta ekor sapi betina produktif, itu akan meningkatkan populasi sapi kita. Tapi ini perlu pemikiran jangka menengah dan panjang. Tidak bisa cari untung segera. Ini yang kadang harus digarisbawahi.
Yang 700 ribu ini bakalan?
Bakalan dan siap potong. Tapi, kita bisa memerlukan sampai 2 juta ekor impor. Tahapan pertama, business plan 700 sekian ribu sapi.
Ini di luar yang impor lebaran kemarin?
Ya. Kalau yang kemarin kan kita impor bakalan kuartal keempat itu 40 sekian ribu, diakselerasi dan yang siap potong itu datangkan 75 ribu dengan yang tahapan pertama 25 ribu jadi total 100 ribu.
Mengenai undang-undang yang harus diubah, karena membatasi untuk impor sapi dari negara mana saja tadi, apakah Anda sudah pernah sowan ke partai-partai?
Saya sudah sowan ke Menteri Pertanian. Kuncinya di sana. Ini harus diprakarsai oleh Kementerian Pertanian.Tapi setiap tahun beliau bilangnya Insya Allah terus.
Silakan saja tanya ke Menteri Pertanian. Katanya dia akan bawa ke DPR sejak tiga tahun lalu. Saya bicara soal ini sudah lama lho.
Dengar-dengar Anda akan naikkan harga referensi daging dari Rp 76 ribu? Kira-kira kapan?
Kita akan naikkan dalam waktu dekat. Tapi, memang sapi ini masalah fundamental lho. Konsumsi kita untuk daging juga masih rendah, di bawah konsumsi negara lain. Konsumsi daging kita masih 2,5 kilogram per kapita per tahun. Argentina itu 55 kilogram, Brazil 40 kilogram, Jerman 40 sampai 45 kilogram. Singapura dan Malaysia sudah 15 kilogram.
Kita masih 2,5 kilogram. Padahal ini penting, karena kandungan protein daging itu kan tinggi, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Stok sapi kita hanya 13 sekian juta. Di Brasil saja stok sapinya 200 juta. padahal penduduknya cuma 49 juta.
Impor sapi betina produktif, yang baru saja saya wacanakan, hitungan saya kalau mau kita naikkan konsumsi daging dari 2,5 kilogram ke 20 kilogram per kapita per tahun kita perlu stok 60 juta ekor sapi. Sekarang cuma 13,5 juta. Jadi memang harus dinaikkan stoknya.
Soal bisnis online 70 sampai 75 pesen dikuasai pemain kuat seperti Facebook dan Google. Apakah ada pengaturan khusus?
Ya. Ini kecenderungannya kalau tidak diatur akan membunuh pemain lokal. Jawabannya akan segera keluar. Kementerian Perdagangan akan menggolkan Rancangan Undang-Undang Perdagangan. Dari zaman Menteri Rahmat Saleh, 30 tahun yang lalu, undang-undang ini tidak pernah gol. Dalam RUU Perdagangan ini salah satu poinnya ada mengenai e-commerce. Selama ini tidak ada kepastian hukum dari e-commerce. Kalau misalnya beli buku di amazoncom, tidak dikenai pajak. Ini mematikan dotcom dotcom lainnya karena kan dikenai pajak. Tapi kalau Facebook, amazon.com, Twitter, e-bay tidak ada pajak. Nah, RUU Perdagangan ini akan memayungi kepentingan kita untuk mengambil sikap fiskal terhadap kompetitor. Insya Allah, akhir bulan ini akan diketok di DPR.
RUU Perdagangan semangatnya, pertama, menghormati kerangka kesepakatan perdagangan sebelumnya. Kalau kita ada perdagangan bebas dengan ASEAN dan segalanya, kita tidak akan mengobok-obok. Kedua, kita mendukung industri dalam negeri.
Ketiga, kita sangat mendukung perlindungan konsumen. Jangan sampai sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung formalin, dimakan oleh anak-anak kita. Juga mainan yang gampang terbakar yang dibuat oleh luar negeri. Keempat, adalah e-commerce. Ini yang satu-satunya futuristik. Bagaimana supaya bisa memberikan perlindungan kepada pelaku usaha lokal.
Kementerian Perdagangan kapan akan menerbitkan Permendag tentang ekspor? Pemerintah telah mengeluarkan larangan tentang ekspor tambang mentah. Kalau sudah ada PP-nya, bagaimana Permendagnya dan kapan keluar?
Jadi kita harus tegap dan tegar terhadap hilirisasi. Masa depan harus tercermin dalam kapasitas kita dalam ekspor barang-barang yang telah diproses. Itu value added tinggi sekali. Di pipe line ini banyak yang sudah bangun smelter. Mereka mengejar supaya bisa ekspor.
Tentang konvensi capres Demokrat, Anda masih ingin terus berkompetisi padahal survei hasil menunjukkan elektabilitas Anda lebih rendah dari Dahlan Iskan?
Ya. Memang rendah banget. Saya akui. Tapi saya punya kepercayaan bahwa lembaga survei tidak selalu benar. Survei itu tidak memotret golput. Saya lihat golput itu bisa 35-40 persen selama ini. Kenapa tinggi? Supply pemimpin kurang appealing.
Tapi kalau saya lihat fenomena sosial media, pengikut saya cukup signifikan meningkat dalam dua bulan terakhir ini. Di Facebook fans sudah lebih dari 1,1 juta. Awal November baru 3 ribuan. Di Twitter follower sudah ada 430 ribu. Ini juga kalau saya perhatikan, banyak yang muda, cewek juga banyak. Saya bisa merasakan komunikasi batinnya bahwa mereka inilah yang selama ini golput. Tapi saya tidak tahu. Biar Yang Di Atas menentukan semua ini dan rakyat. Kami ikhtiar saja semaksimal mungkin sampai titik konvensi. Kalau belum diperkenankan, ya belum diperkenankan. Tapi, saya menghormati opini survei-survei yang ada.
Masih percaya dengan konvensi Demokrat atau ada opsi jadi capres partai lain?
Tidak ada. Saya berteman dengan keluarga pak Ical, bu Mega, dan pimpinan partai lainnya. Tapi saya tidak ada deal-deal dengan siapa pun. Saya untuk sementara ini mengikuti ini dan saya komitmen untuk menang di konvensi. Tapi saya yakin kalau saya berikhtiar saya akan menang di konvensi. Intinya saya harus berikhtiar dan berdoalah.
Saya percaya bahwa konvensi ini yang paling demokratis. Ini satu-satunya mekanisme yang menyajikan pilihan yang bermutu. Ada 11 orang peserta dan disodorkan kepada 250 juta rakyat. Jadi masyarakat tinggal memilih. Jujur saja, ini satu-satunya yang available kan untuk kader muda dan mungkin punya keinginan untuk berkecimpung dalam proses politik.
Anda pernah menyatakan bahwa kabinet sebaiknya tidak boleh ada orang dari parpol. Ini berdasarkan kondisi saat ini menteri-menteri sudah sibuk untuk urusan pemilu. Bagaimana dengan Anda yang sibuk di konvensi?
Saya percaya selama empat tahun terakhir ini mungkin kurangnya koordinasi satu dengan yang lain karena nuansa politik yang kental. Sulit bagi seorang menteri disuruh mengurusi urusan teknis 100 persen, di sisi lain harus urus umbul-umbul dan katering untuk acara partai. Saya percaya bahwa kepemimpinan ke depan, harus dikelilingi teknokrat sebanyak mungkin untuk kepentingan teknis, apalagi untuk kementerian teknis yang sifatnya di hulu.
Bagaimana komentar Anda soal dianggap sebagai antek neolib?
Adakah yang bisa menjelaskan kepada saya arti neolib? Saya mendekatkan diri ke rakyat lewat jembatan komunikasi yang lumayan bagus. Kedua, golputnya dirangkul. Mungkin sekarang mereka belum lihat yang sosok yang appeal. Ketiga, policy saya cukup sangat pro rakyat selama ini.
Saya Menteri Perdagangan yang mengeluarkan peraturan yang membatasi minimarket 150 outlet, saya membatasi restoran franchise 250 outlet. Saya Menteri Perdagangan pertama yang melarang ekspor bahan baku rotan karena ratusan ribu pekerja di Cirebon di-PHK akibat mereka tidak bisa mendapatkan bahan bakunya di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Tapi, sejak policy itu dikeluarkan awal tahun 2012, lebih dari seratus ribu lapangan tersedia kerja di Cirebon dan di kota-kota lainnya di Indonesia.
Saya Menteri Perdagangan pertama yang mengeluarkan peraturan di mana 80 persen produk dijual di retail modern harus di dalam negeri. Saya Menteri Perdagangan pertama yang mengeluarkan Peraturan Menteri di mana ekspor timah kita mengacu ke bursa timah kita harus mengacu ke bursa di Indonesia, bukan ke London. Kenyataannya Indonesia adalah pengekspor terbesar kedua di dunia, kenapa harus harus mengacu ke London Metal Exchange.
Bukti nyata, harga timah di bursa berjangka Indonesia US$ 23.100 per ton, sedangkan di London Metal Exchange cuma US$ 21.000 per ton. Per ton ini bedanya 2.100 dolar. Menurut saya ini untuk kesejahteraan rakyat. Ini kebijakan yang menggunakan harga bursa kita dan ekspor timah September di atas 80 ribu ton. Yang begini-begini menurut saya sih kalau masih dibilang neolib, mungkin kita harus segera diskusi lagi. Itu saja sebagai bahan pertimbangan.
Dan hasil WTO Bali itu Anda bisa lihat hasilnya sangat pro rakyat. Setiap negara miskin dan berkembang punya hak veto. Kalau mereka tidak happy dengan kesepakatannya, mereka tidak akan tinggalkan Bali.
Tapi WTO kurang mencuat beritanya ya?
Saya itu sudah bilang ke seluruh dunia. Seminggu sebelumnya, ada 20 sampai 30 pemred saya undang. Tapi itu mereka kelihatannya memang sudah pesimis. Omongan merekam ini ibarat jenazah dibawa dari Jenewa. Tapi saya tidak begitu pandangannya, ini ibarat orang pingsan yang masih bisa dibangunkan lagi. Dan kenyataannya kan bangun lagi, setelah 18 tahun.
Setiap hari di Bali waktu itu ada media briefing. Tapi ratusan kursi disediakan, yang datang itu bule-bule dari Pakistan, India, Afrika, Amerika Latin. Indonesia? Paling yang kelihatan hanya beberapa.
Padahal ada isu paling mengena, kita bisa kenakan tarif sampai 60 persen untuk produk pertanian impor. Ini proteksi untuk para petani.
Anda kan seorang menteri dan juga peserta konvensi, bagaimana dengan dukungan dari keluarga? Ada pembagian khusus waktu dengan keluarga di tengah kesibukan Anda?
Alhamdulillah, waktu di awal itu selamat waktunya untuk konsultasi dan konsolidasi. Mereka lebih penuh dengan keikhlasan dan menghormati proses.
Weekend Sabtu-Minggu saya dengan anak saya olah raga. Atau paling kita ke mal saja. Kalau ke pasar weekdays. Seminggu 2-3 kali lah cek harga pasar. Dulu, cek harga saham, sekarang saya cek harga cabai dan sebagainya. Hahaha…
Soal agenda konvensi. Bagaimana cara Anda untuk membagi waktunya?
Untuk debat? Mampu. Kita tanggal 21 dan 23 itu juga malam jam 7-9.
Saya sih benar-benar ingin jadi pemimpin berdasarkan 3. Tesis utamanya dari rakyat ke rakyat. Tiga hal yang nyambung ke tesis itu adalah: Pertama, Bagaimana pemimpin bisa lebih mendengar suara rakyat. Kedua, Bagaimana kita bisa urun rembuk bersama rakyat, bukan hanya turun tangan saja. Tapi, mencari jawabannya bersama rakyat dan ada solusi. Ketiga, Jangan sampai ada yang tertinggal, terpinggirkan, atau minoritas, Semuanya harus inklusif. Kalau kita membicarakan kenaikan kesejahteraan lahir dan batin, ini harus semuanya.
Ini komitmen saya dan itu adalah pesan yang ingin saya sampaikan dan ini akan jadi muara kepentingan debat. Ini akan bisa dikupas apakah untuk kepentingan sosial, budaya, keamanan, hukum. Ujung-ujungnya pertama, kepentingan rakyat terjawab. Harga jengkol, kedelai, sapi, itu terjangkau. Fasilitas pendidikan, kesehatan itu terjangkau.
Kedua, Dalam arti kita, bangsa kita, dalam konstruksi geopolitik, harus bisa dirasakan rakyat. Jangan sampai kita sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, populasi terbesar nomor empat di dunia, negara termiskin terbesar di dunia, perekonomian terbesar 15 di dunia tidak dimanfaatkan untuk kepentingan kita. Yang selalu saya ceritakan adalah relevansi kita dalam konstruksi geopolitik, itu harus tercermin dalam kapasitas kita mempengaruhi saudara kita di Palestina, masalah Laut China Selatan, selat Hormus, mempengaruhi apa pun di dunia.
Saya yakin di abad 21 ini kita punya kesempatan dahsyat untuk jadi middle power, kekuatan tengah yang bisa melakukan dua hal.
Pertama, menjembatani deficit shock power antara negara Timur Tengah dan Amerika Serikat.
Kedua, kekuatan tengah yang bisa menjembatani dua perekonomian besar di dunia, yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat. Saya lihat kita itu pilihan peran netral untuk jembatani Tiongkok dan Amerika Serikat yang akan menjadi perekonomian terbesar selama 30-50 tahun ke depan.
Kenapa? Karena Tiongkok sejarahnya dengan Jepang dan Korea Selatan kurang indah. Dan Jepang dengan Korea Selatan juga punya sejarah yang indah dengan Amerika Serikat. Jadinya, diperlukan peran yang netral, secara geografis dan geopolitik. Indonesia harus berperan di situ karena akan memenuhi aspirasi rakyat kalau kita bisa meningkatkan relevansi geopolitik. Nah ini siapa yang akan dicari pemimpin ke depan. Itu alasan saya mengikuti konvensi.
Kritikan internal Demokrat mengenai Anda ikut konvesi capres?
Secara langsung tidak ada.
Tanggapan dari SBY?
Dia yang mengajak saya secara langsung. Pembicaraan pertama dan kedua saya tidak terlalu respon. Tapi, setelah beberapa kali diajak, akhirnya saya bilang: gini-gini saya harus konsolidasi sama keluarga, Pak. Akhirnya, saya duduk sama istri, anak, ibu, dan mertua. Setelah konsolidasi baru saya confirm, ok. Jadi saya siap, ikhlas, dan ikhtiar.
Bukankah Anda sempat mau mundur?
Betul. Mundur dari Mendag. Saya sampaikan dua kali ke Presiden. Pertama, waktu itu saya mau masuk ke konvensi, saya bilang ke beliau, pak, kalau begini, saya mau fokus. Saya tidak mau realita ada benturan kepentingan. Saya seakan-akan menggunakan anggaran sebagai menteri dan saya juga ikut konvensi. Tapi Presiden minta saya terus saja.
Saya percaya bahwa siapa pun yang menang di konvensi itu berpengaruh terhadap elektabilitas populernya Partai Demokrat, bisa positif, netral, dan negatif. Tergantung rakyat melihat bagaimana sosok peserta konvensi.
Jika Anda terpilih sebagai capres di konvensi, apakah bisa memberikan pengaruh elektabilitas besar?
Insya Allah. Saya rasa generasi muda kita ini haus dengan kepemimpinan yang bisa bikin kita lepas landas dan terbang. Saya sih yang tidak bangga kalau bisa lihat kejayaan kita. Yang paling nyata. Kejayaan kita itu apa sih? Di sini ada yang pakai handphone buatan dalam negeri? Kejayaan kita, menurut saya, semuanya pakai handphone buatan Indonesia. Kejayaan kita adalah kebutuhan kita untuk pendidikan, kesehatan, dan segala macam, itu harganya terjangkau. Simpel.
Ya jangan sampai, kita hanya bisa sekedar bukin handphone. Tapi kita buat handphone yang lebih bagus dan lebih murah dari handphone yang dibuat di China. Sekarang produk Samsung, Apple, dan Blackberry sudah dibuat di China.
Apakah Anda akan fokus menjadi capres saja? Tapi jika ada yang meminta Anda jadi orang kedua bagaimana?
Saya sekarang fokus untuk memenangi konvensi dan konvensi itu untuk pemilihan capres. Insya Allah.(eh)
● Vivanews

Posted in: Artikel,Ilmu Pengetahuan,Tokoh