Medco Kuras Rimau 60 Juta Barel Minyak
Jurnas.com | PT Medco E&P Indonesia menargetkan pengurasan cadangan sekitar 60 juta barel setara minyak yang berada di Lapangan Kaji Semoga, Blok Rimau, Sumatera Selatan, dengan memakai teknologi injeksi surfaktan mulai 2013.Direktur Produksi Medco E&P Indonesia Hartono Nugroho saat temu media di Serpong, Banten, Sabtu (4/2), mengatakan saat ini pihaknya masih melanjutkan proyek percontohan pemanfaatan bahan kimia untuk meningkatkan produksi di lapangan tersebut. "Pada April 2012, kami akan mulai menginjeksikan surfaktan dan Juli 2012 menambahkan bahan polimer, sehingga akhir tahun diharapkan sudah terlihat hasilnya dari pilot project ini dan 2013 mulai diterapkan pada skala penuh," katanya.Menurut dia, saat ini produksi Rimau sudah menurun hingga menjadi 16.000 barel per hari dari sebelumnya pernah mencapai 80.000 barel per hari saat puncaknya.Namun, ia mengharapkan, produksi Rimau bakal kembali mencapai di atas 30.000 barel per hari setelah pemanfaatan injeksi bahan kimia berhasil.Blok Rimau yang mulai diproduksikan 1996 sudah melalui tahapan produksi tingkat primer dan dilanjutkan sekunder dengan menggunakan teknologi banjir air (waterflood).Saat ini, Medco tengah mengerjakan pilot project untuk tahapan produksi tingkat tersier dengan memakai bahan kimia berupa surfaktan dan polimer di Lapangan Kaji Semoga.Medco sudah melakukan studi peningkatan produksi (enhance oil recovery/EOR) di Blok Rimau sejak 2005. Pemanfaatan surfaktan nantinya menjadi pertama yang diterapkan di Indonesia. "Kami ingin tidak hanya menambah produksi dari ladang yang ada dan baru, namun juga mengupayakan dari lapangan dan sumur tua," kata Hartono.Sementara, Dirut Medco E&P Indonesia Frila Berlini Yaman mengatakan, target produksi 2012 mencapai 57.000 barel setara minyak per hari serta menambah cadangan 100 juta barel setara minyak dari hasil eksplorasi di dalam dan luar negeri."Kami akan membor 29 sumur di Indonesia yang terdiri dari 20 produksi dan sembilan eksplorasi," katanya.Lalu, menurut Frila, yang juga menjabat Chief Operating Officer E&P PT Medco Energi Internasional Tbk, kegiatan pengeboran di luar negeri tahun 2012 mencakup 30 sumur di Oman, dua di AS, serta penyelesaian satu sumur dan persiapan satu eksplorasi baru di Libia.Belanja total Medco Energi Internasional pada 2012 dialokasikan US$1,174 miliar yang terdiri dari modal US$356 juta dan operasi US$818 juta.Belanja modal tersebut akan dialokasikan untuk operasional dan pengembangan proyek utama senilai US$206 juta, kegiatan eksplorasi US$77 juta, dan nonmigas US$73 juta. Khusus Medco E&P Indonesia, menurut Frila, akan dialokasikan belanja modal dan operasi sekitar US$630 juta. Antara• Jurnas.com
Posted in: Ekonomi,Tambang
Indonesia Dengan IMF
Indonesia Beli Surat Berharga IMF

JAKARTA - Bank Indonesia berencana membeli surat berharga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF). Hal ini berkaitan dengan niat pemerintah Indonesia memberi pinjaman sekitar 1 miliar dollar AS kepada IMF. Dana ini akan digunakan IMF untuk membantu menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi di Eropa.
"Kita akan membeli surat berharganya IMF. BI yang akan melakukannya, bukan pemerintah. Kita tetap memegang nilai itu dalam bentuk surat berharga dan itu tetap berlaku sebagai cadangan devisa kita," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (10/7/2012).
Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, penempatan dana sebesar 1 miliar dollar AS dalam bentuk surat berharga tak akan mengurangi cadangan devisa Indonesia.
Terkait waktu penempatan dan mekanismenya, Hatta mengatakan, hal tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Bank Indonesia. Saat ini Bank Indonesia dalam mendiskusikan penempatan rencana ini.
Hatta menegaskan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Direktur Eksekutif IMF Christine Lagarde, ketika bertemu di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, tak membahas soal rencana pemerintah Indonesia meminjamkan dana sebesar 1 miliar dollar AS.
IMF: Pentingnya Investasi Langsung Pihak Asing untuk Indonesia
JAKARTA - Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional Christine Lagarde mengatakan, Indonesia memerlukan kebijakan keuangan lebih prudensial. Pada pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (10/7/2012), Lagarde menekankan pentingnya investasi langsung dari pihak asing atau foreign direct investment.
"FDI lebih baik, tak hanya sekedar arus modal yang masuk, yang berpotensi keluar lagi," kata Lagarde seusai bertemu Presiden.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa juga mengatakan, pentingnya investasi langsung asing turut menjadi pokok bahasan Presiden Yudhoyono dan Lagarde.
"Penting bagi Indonesia untuk meningkatkan FDI, karena menurut Lagarde, itulah yang paling sustained. Portofolio juga penting, tapi itu comes and go," kata Hatta kepada para wartawan seusai pertemuan itu.
Baik Yudhoyono dan Lagarde juga membicarakan soal situasi perkembangan perekonomian regional dan global. Presiden Yudhoyono juga menjelaskan kondisi perekonomian Indonesia. Lagarde mengaku terkesan dengan perkembangan perekonomian di Indonesia.
"Saya menyampaikan kepada Presiden Yudhoyono, saya terkesan dengan reformasi yang dilakukan Indonesia selama satu dekade terakhir," kata Lagarde.
Presiden: Sekarang Indonesia Gagah Bertemu IMF
JAKARTA — Suasana pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Christine Lagarde di Kantor Presiden, Selasa (10/7/2012), berbeda saat almarhum presiden kedua RI Soeharto bertemu mantan Direktur Eksekutif IMF Michel Camdessus.
"Sekarang (Indonesia) gagah sama IMF," kata Presiden sesaat sebelum menerima Lagarde di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa.
"CGI (Consultative Group for Indonesia) kita bubarkan. Kita mandiri. Kita tidak harus minta minta-minta," tambah Presiden.
Indonesia dan IMF sebelumnya memiliki hubungan sejarah yang kurang mengenakkan di antara keduanya. Saat Indonesia diterpa krisis ekonomi pada 1997 memaksa Presiden Soeharto kala itu meminta bantuan IMF di bawah Direktur Pelaksana Michel Camdessus.
Pertemuan antara almarhum Presiden Soeharto dan Camdessus berlangsung dingin. Saat itu, tangan Camdessus bersedekap sambil mengawasi almarhum Presiden Soeharto yang membungkuk menandatangani perjanjian utang. Utang dikucurkan tak lama setelah Indonesia diterjang badai krisis moneter.
Indonesia saat itu harus menyerahkan banyak kebijakannya kepada IMF di bawah arahan program penyesuaian struktural yang dibawa lembaga internasional tersebut. Kebijakan IMF tersebut di kemudian hari dinilai banyak kalangan telah melakukan pendekatan yang salah dalam mengatasi krisis di Indonesia kala itu.
Pemerintah Indonesia pada 2007 di bawah Presiden Yudhoyono akhirnya melunasi utang IMF. Presiden juga memutuskan untuk membubarkan CGI yang selama ini sebagai lembaga donor.
Kondisi Indonesia telah berubah. Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Meski dunia sempat dihantam krisis keuangan pada 2008-2009, Indonesia tetap mampu tumbuh positif, sementara hampir di banyak negara harus berjibaku dengan pertumbuhan negatif. Bahkan, pada 2011 Indonesia mampu tumbuh 6,5 persen, sedangkan di belahan Eropa dan Amerika Serikat masih terkendala dengan pertumbuhan yang terhambat akibat krisis.
IMF mengungkapkan, kebutuhan dana sebesar 430 miliar dollar AS untuk mengatasi krisis yang masih membelenggu tersebut. Dalam pertemuan G-20 di Los Cabos, Meksiko, beberapa waktu lalu, negara-negara G-20 berkomitmen untuk turut serta membantu menanggulangi krisis yang dinilai menjadi ancaman bagi perekonomian dunia tersebut.
Indonesia bersama-sama negara anggota G-20 lainnya dalam pertemuan itu berkomitmen untuk ikut memberikan bantuan. Indonesia berkomitmen akan membantu maksimal satu miliar dollar AS guna membantu mengatasi krisis.
Terkait besarannya, kata Hatta, sekitar 1 miliar dollar AS. "Dulu tangan kita di bawah (berutang). Sekarang kita bertemu dengan tangan di atas (meminjami)," kata Hatta.
Sebelumnya, Hatta memastikan pemerintah akan memberikan bantuan pinjaman kepada IMF sebesar 1 milliar dollar AS.
Sumber : Kompas
Posted in: Ekonomi
SBY akan Pamer Ekonomi RI di Wall Street
| Ilustrasi bursa saham AS |
SBY juga dijadwalkan sesi Sidang Majelis Umum PBB dan pertemuan panel tingkat tinggi untuk membahas program pasca berakhirnya Millenium Development Goal's.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan akan menyampaikan prospek ekonomi Indonesia di New York Stock Exchange (NYSE) alias Wall Street dalam kunjungannya ke Amerika Serikat (AS) awal pekan depan
Staf khusus Presiden bidang hubungan internasional Teuku Faizasyah mengatakan, Kepala Negara pada Senin (24/9) akan menghadiri Indonesia Investment Day (IID) di salah satu bursa saham sekaligus pusat ekonomi dunia itu.
"Memanfaatkan keberadaannya di New York, Presiden akan memberikan Presidential Address mengenai kebangkitan Indonesia sebagai Asia's New Economic Power House," kata dia dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, hari ini.
Teuku menambahkan, dalam pidatonya, Presiden SBY akan menyampaikan langkah-langkah pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Selain menghadiri IID di NYSE, Kepala Negara juga akan menerima kunjungan sejumlah kalangan bisnis AS untuk membahas investasi dan perdagangan.
Sejumlah tokoh bisnis utama AS yang akan bertemu Presiden antara lain, CEO IBM, CEO Honeywell, CEO Cargill, dan CEO Millennium Challenge Corporation.
Selagi di New York, Presiden juga akan menerima dua penghargaan "Valuing Nature Awards for Leadership in the Coral Triangle Initiative" dari The Nature Conservancy, WRI & WWF, serta "USABC 21st Century Economic Achievement" dari US-ASEAN Business Council.
Kedua penghargaan tersebut disampaikan sebagai bentuk apresiasi atas berbagai kemajuan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY atas komitmen Indonesia melestarikan lingkungan. Penghargaan tersebut akan disampaikan dalam kegiatan yang bertemakan Indonesia: Towards Environmental and Economic Sustainability.
Presiden SBY juga dijadwalkan sesi Sidang Majelis Umum PBB dan pertemuan panel tingkat tinggi untuk membahas program pasca berakhirnya Millenium Development Goal's. Kedua pertemuan itu akan berlangsung di Markas Besar PBB.
Presiden dan Ibu Negara beserta rombongan dijadwalkan bertolak ke New York pada Sabtu 22 September mendatang dan tiba kembali di Tanah Air pada 30 September 2012.
( Berita Satu )
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Hatta: Indonesia perkuat kemitraan komprehensif dengan AS
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah Indonesia akan memperkuat kemitraan yang komprehensif dengan Amerika Serikat dalam empat bidang ekonomi.
"Ada keinginan untuk memperdalam kemitraan yang komprehensif antara Indonesia dan Amerika Serikat di berbagai bidang antara lain pendidikan, perdagangan, energi, serta lingkungan hidup," katanya dalam keterangan pers tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sedang melakukan kunjungan ke Washington DC, AS, untuk menghadiri pertemuan mengenai pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan kemitraan kedua negara.
Dalam forum tersebut, Hatta mengatakan tantangan bagi kedua negara untuk menjaga keberlanjutan kemitraan tanpa memandang siklus politik yang berkembang baik di Indonesia dan AS.
"Jakarta dan Washington DC harus menyadari bahwa kerjasama yang solid akan memberikan manfaat bukan hanya Indonesia dan AS, namun juga bagi kawasan dan dunia," katanya.
Selain itu, menurut Hatta, timbul keinginan untuk menjalin kemitraan yang tepat karena hubungan kedua negara tidak hanya menjanjikan, namun juga kompleks.
"Untuk mengelolanya, harus menjadi kemitraan yang setara berdasarkan hubungan yang saling menghormati, jujur dan kerja sama yang seimbang," katanya.
Dalam pertemuan itu, masyarakat internasional juga memberikan apresiasi positif dari perbaikan yang telah dicapai oleh Indonesia, karena pembangunan ekonomi yang dilakukan telah mengalami berbagai kemajuan.
Hal tersebut terlihat dari berbagai ucapan selamat atas kemajuan pembangunan ekonomi Indonesia dan keinginan untuk meningkatkan investasi dari para pengusaha terkemuka dari AS.
Dalam kesempatan tersebut, Hatta memberikan apresiasi kepada USINDO (The United State Indonesia Society) yang menjembatani kemitraan Indonesia dan AS melalui pejabat, politisi, pemimpin opini, akademisi, seniman, dan mahasiswa dari kedua negara.
(S034/N002)
( Antara )
Posted in: Ekonomi,Energi
Produsen Sasis Jerman Incar Pasar Indonesia
Singapura - Produsen sasis kendaraan asal Jerman, ZF Friedrichshafen AG, menargetkan kenaikan angka penjualan di Indonesia. Menurut Ketua Dewan Direktur ZF, Alois Ludwig, pengembangan bisnis di Indonesia bakal memberi sumbangan signifikan untuk mencapai target penjualan Rp 247,6 triliun pada 2015.
"Dengan wilayah yang luas dan penduduk yang banyak, Indonesia menjadi pasar strategis kami," kata dia di sela-sela peringatan 25 tahun ZF Asia Pacific, kemarin.
Sepanjang 2011, Indonesia dan negara-negara di Asia memberi sumbangan 17 persen pada angka penjualan ZF secara global, yang mencapai 15,5 juta euro.
Ludwig mengatakan selain kantor perwakilan di Jakarta, ZF memiliki pabrik perakitan di Riau yang melayani kebutuhan sasis dan sistem kemudi kapal. Saat ditanya mengenai kemungkinan untuk mendirikan pabrik di Indonesia, ia mengatakan hal tersebut tergantung perkembangan industri otomotif nasional.
Di Indonesia, ZF sudah beroperasi selama sepuluh tahun. Perusahaan menyuplai sasis dan komponen kendaraan komersil seperti bus, truk, dan mobil tambang. Untuk kendaraan penumpang, ZF hanya memasok sasis merek premium seperti BMW, Audi dan Porsche.
General Manager ZF Indonesia, Cakra Wira Wiyata, mengatakan produk ZF yang relatif mahal sulit bersaing sasis buatan Jepang yang digunakan kendaraan non premium. Persaingan semakin sulit lantaran masyarakat membutuhkan mobil murah. "Meski harga produk kami lebih mahal, biaya perawatannya bisa lebih kecil,” katanya.
ZF berdiri pada 1915 di Friedrichshafen, kota kecil di selatan Jerman. Perusahaan ini awalnya dibangun untuk mengembangkan industri transmisi pesawat terbang. Pada 1919, ZF fokus pada pengembangan sasis dan sistem kemudi mobil. Produk yang dihasilkan ZF yakni transmisi dan sistem kemudi serta komponen dengan sistem poros lengkap dan modul. Di Indonesia, ZF lebih fokus pada pelayanan purna jual dan bekerja sama dengan perusahaan lokal antara lain Probesco, Chakra Jawara, dan Premium Technica Prima.
© Tempo.Co
Posted in: Ekonomi,Investasi
Presiden: RI Menapaki Babak Baru sebagai Raksasa Ekonomi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan Indonesia mulai menapaki babak baru sebagai raksasa ekonomi dunia, yang muncul dari Asia bersama Tiongkok dan India.
Sebagai negara berpenduduk nomor empat terbesar di dunia, ekonomi Indonesia terus tumbuh dan mengalami transformasi ke arah yang lebih baik.
"Transformasi yang terjadi di Indonesia sangat adaptif, baik dari segi politik, ekonomi dan situasi apapun," kata Presiden saat memberikan Presidential Address pada Indonesia Investment Day di Bursa Efek New York (New York Stock Exchange) di New York, Amerika Serikat, Senin (24/9).
IID bertema Indonesia Rise as Asia's New Economic Power House: Transformation, Opportunities, and Partnership for All.
Hadir pada kesempatan itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Mendag Gita Wirjawan, Menperin MS Hidayat, Menkeu Agus Martowardojo, Mensesneg Sudi Silalahi, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri.
Wartawan Investor Daily Novy Lumanauw melaporkan dari New York, Amerika Serikat, di hadapan sekitar 200 pengusaha AS, Presiden mengatakan dengan Gross Domestic Product (GDP) yang mencapai US$ 1 triliun pada tahun ini, Indonesia tumbuh menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan mencapai 6,3% pada semester pertama 2012.
"Ekonomi Indonesia telah teruji. Ketika dunia dilanda krisis, ekonomi Indonesia tumbuh signifikan dan terjaga," ujar Presiden Yudhoyono.
Di sisi lain, lanjutnya, core inflation tetap terkelola dengan baik yaitu pada 4,28% dan sistem perbankan tetap stabil.
"Indonesia adalah negara yang unik. Demokrasinya pun gaduh (noisy)," kata Presiden.
Undang investor
Pada kesempatan itu, Presiden secara khusus mengundang pengusaha Amerika Serikat untuk berpartisipasi aktif dalam proyek pembangunan yang kini digencarkan pemerintah.
Ia mengatakan, melalui program Masterplan Percepatan Peningkatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) menawarkan berbagai proyek yang tersebar di enam koridor ekonomi.
"Saya mengajak Anda sekalian berinvestasi di Indonesia. Kami menyediakan berbagai proyek pembangunan dan investasi," katanya.
Presiden mengaku, sebagai negara yang berhasil lolos dari badai krisis pada tahun 2008-2009, Indonesia bertekad menjadi surga bagi investor dan menjadikannya sebagai top 10 ekonomi dunia.
"Memang masih banyak kendala. Minimnya infrastruktur dan korupsi menjadi faktor penghalang. Tapi, kita terus mereformasi birokrasi. Syukurlah, reformasi birokrasi sudah on track," kata Presiden.
Namun, ia berjanji pemerintah akan menjadikan MP3EI sebagai blueprint yang dapat digunakan investor untuk berusaha di Indonesia.
"Saya mau pastikan, blueprint ini tidak jangka pendek dan partisan," kata Presiden.
Sebelum menghadiri IID, Presiden bertemu 12 pengusaha terkemuka AS untuk membicarakan tentang langkah-langkah meningkatkan investasi di Indonesia.
Pertemuan yang dikemas dalam bentuk Executive Roundtable Breakfast digelar di Gedung Bursa Efek New York, Amerika Serikat, pada Senin (24/9).
Para pengusaha yang bertemu Kepala Negara adalah Chairman and CEO of the Coca-Cola Company Muhtar Kent, CEO and Chairman of Celanes Mark C. Rohr, Chairman of the Board, President and CEO Procter & Gamble Robert A McDonald, President and CEO for Performance Materials and Technology Honeywell Andreas Kramvis dan President, Chairman and CEO the Dow Chemical Company Andrew N Liveris.
Selanjutnya, Chairman, President and Chief Executive Officer ACE Group Evan G Greenberg, President Goldman Sachs Inc Gary D Cohn, Chairman of the Board and CEO of Cargill Gregory R Page, Executive Vice President of Worldwide Operations Mattel Inc Tomas A Debrowski, Vice Chairman and Chief Financial Officer General Electric Keith S Sherin, Vice President International Government Relations The Boeing Company Stanley Roth, dan Executive Vice President The Hershey Company Bert Alfonso.
¤ Berita Satu
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Ekonomi Indonesia Lebih Hebat Dari AS?
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. FOTO: ANTARA
Indonesia pernah mengalami krisis parah tahun 1998. Belajar dari krisis tersebut, Indonesia tetap bisa melangkah dengan hebat sampai saat ini
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mampu bertahan di tengah krisis Eropa. Ekonomi Indonesia bahkan lebih baik dari Amerika Serikat dan dapat mengalahkan Tiongkok dalam 10 tahun mendatang bila masalah infrastruktur dibereskan. Itulah sebabnya, Indonesia akan menjadi the new economic market.
“Indonesia pernah mengalami krisis parah tahun 1998. Belajar dari krisis tersebut, Indonesia tetap bisa melangkah dengan hebat sampai saat ini, walaupun pada 2008 mengalami perlambatan. Tetapi saat ini, Indonesia menjadi negara baru dengan perekonomian yang selalu berkembang,” ujar peraih Nobel bidang ekonomi, Thomas J Sargent dalam seminar bertajuk Banking Industry in an Extremely Dynamic World: Becoming Prospereous and Proper di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, kemarin.
Menurut Sargent, pengelolaan makro dan mikro ekonomi di Indonesia dilakukan secara prudent sehingga mampu mengantisipasi krisis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai lebih dari 6 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di dunia yang hanya tumbuh sekitar 3 persen.
Dia menjelaskan, meskipun sekarang masih di bawah Tiongkok, peluang perekonomian Indonesia untuk bisa sejajar dengan Negeri Tirai Bambu itu sangat besar. “Sekitar 10 tahun lagi Indonesia bisa menjadi lebih hebat asalkan masalah seperti infrastruktur bisa dibereskan,” ungkap dia.
Sargent berpendapat, dalam kondisi infrastruktur masih lemah, perekonomian Indonesia bisa tumbuh tinggi. Dia melihat fundamental ekonomi Indonesia aman terlihat dari belanja pemerintah, neraca keuangan, serta rasio utang perbankan nasional.
( Berita Satu )
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
2017, Indonesia Diperkirakan Alami Resesi
Jakarta - Kepala Ekonom Danareksa Sekuritas Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi Indonesia belum akan melambat paling tidak hingga pertengahan tahun depan. Hal ini mengacu pada data sistem peringatan dini yang dimiliki Danareksa.
Jika melihat pada siklus bisnis, ekonomi Indonesia masih akan tumbuh hingga 2016. Ia mengatakan, pada Maret 2009, sinyal lembah pertama berbunyi dan ekonomi berada di titik terbawah.
"Melihat pada siklus bisnis, jika ekspansi dimulai Maret 2009, harusnya bisa terus sampai 2016," ucap Purbaya dalam Indonesia Knowledge Forum, Kamis, 27 September 2012.
Kondisi defisit neraca berjalan pada neraca pembayaran Indonesia dinilai wajar oleh Purbaya. Defisit memang terjadi lantaran ekspor melambat sedangkan impor tinggi, namun sekitar 35 persen porsi impor adalah barang modal.
"Investor asing masuk banyak. Secara otomatis mereka akan impor barang modal untuk ekspansi. Jadi, pasti transaksi berjalan negatif. Tidak perlu khawatir," ucapnya.
Dia menyatakan tidak setuju dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mengerem pertumbuhan kredit melalui aturan batasan minimal uang muka kredit pemilikan rumah dan kendaraan bermotor.
Menurutnya, ekonomi Indonesia belum memanas. Jika ingin mendorong kehati-hatian, BI seharusnya meminta lembaga pembiayaan dan bank mengelola klien atau nasabahnya dengan baik.
Menurut pengamatannya, sektor finansial juga cukup kuat. Mengacu pada banking pressure index, sektor finansial masih pada kondisi aman. "Jika bergerak menuju atau melewati 0,5 persen bank dalam keadaan tertekan, peluang sistemic default besar," ujarnya. Saat ini, indeksnya minus sekitar 0,4 persen.
Selain itu, BI dan Pemerintah Indonesia juga sudah banyak belajar dari pengalaman krisis 1998 dan 2008. "Respons kebijakan lebih baik," ujarnya. Jika tetap dipertahankan seperti ini, Purbaya yakin Indonesia bisa terus bertumbuh hingga 2016. Tapi Jika otoritas salah bertindak, maka siklus ekspansi bisa lebih pendek.
Ekonomi Indonesia ke depan masih akan disokong oleh tiga pilar yakni konsumsi domestik, investasi, dan ekspor. Daya beli masyarakat juga tampak masih tinggi terpantau dari tingginya indeks kepercayaan konsumen.
"Sekarang berada di level tertinggi selama 7 tahun. Ekonomi baik, masyarakat siap belanja terus," ujarnya.
Adapun resesi pasca fase ekspansi berakhir tak bisa dielakkan, tapi Indonesia bisa mengupayakan agar ketika ekonomi tak jatuh terlalu dalam. "Jika respons kebijakan moneter bagus bisa mengurangi kedalaman resesi," ujarnya.
© Tempo.Co
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Krisis Utang

Duit Recapital Ditunda, Masa Depan Bumi Makin Tidak Jelas
Bagaimana Bumi Resources akan melunasi utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) yang beban bunga sangat besar?
| Aktivitas penambangan batu bara di Kalteng (ANTARA) |
Masa depan keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) semakin tidak jelas, setelah perusahaan tambang batubara terbesar Indonesia ini menunda pencairan dana investasi pada PT Recapital Asset Management.
Menurut jadwal, dana investasi senilai Rp 2,3 triliun ini 'jatuh tempo' pada 27 Agustus silam. Tapi, sesuai dengan keterangan Direktur Bumi Dileep Srivastava, penempatan dana tersebut itu kembali diperpanjang karena kondisi pasar "tidak menguntungkan".
Ribut-ribut soal penempatan dana investasi Bumi di Recapital mulai meletup akhir tahun lalu ketika Nathaniel Rothschild, salah seorang pemegang saham Bumi Resources melalui Bumi Plc (perusahaan yang tercatat di bursa London) mengirim surat kepada Presiden Direktur Bumi Resources Ari Hudaya. Nathaniel minta agar dana-dana investasi segera dicairkan untuk membayar utang.
Nah, penundaan pencairan ini sekali lagi, memperbesar pertanyaan: Bagaimana Bumi Resources akan melunasi utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) yang beban bunga sangat besar?
Jka dana investasi di Recapital cair, Bumi bisa mempercepat penyelesaian utangnya ke CIC senilai US$ 638 juta (Rp 6,38 triliun) yang jatuh tempo pada Oktober 2012 mendatang. Alhasil, bisa mengurangi beban bunga dan utang perseroan yang mencapai Rp 30 triliun hingga 2014 mendatang.
Pencairan yang seharusnya dilakukan 27 Agustus 2012 tersebut telah tertunda untuk kedua kalinya. Investasi di Recapital seharusnya ditarik pada semester I-2012.
Sekedar mengingat, penempatan dana Bumi di Recapital diteken pada Agustus 2008 dalam bentuk kontrak pengelolaan dana (KPD). Recapital diberi wewenang mengelola dana Bumi senilai US$ 350 juta selama 6 bulan. Pada 2 September 2009, Bumi menambahkan US$ 50 juta dana investasi untuk dikelola selama 6 bulan kemudian. Tahun lalu, kedua pihak memperpanjang kesepakatan hingga 27 Agustus 2012.
Direktur Bumi, Dileep Srivastava, dalam penjelasannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI) Juli lalu mengatakan, imbal hasil yang diraih Bumi Resources di Recapital maksimal sebesar 6 persen per tahun. Sedangkan komisi yang harus dibayar perseroan kepada Recapital adalah 0,25 persen.
Recapital adalah perusahaan investasi yang didirikan Rosan Roeslani, Sandiaga Uno, dan Elvin Ramli. Rosan kini menjabat non-executive director Bumi Plc, induk usaha Bumi Resources, sekaligus presiden direktur PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), anak usaha Bumi Plc.
Selain di Recapital, Bumi juga memiliki penempatan dana investasi di Bukit Mutiara senilai US$ 260 juta. Bumi sedianya akan menarik dana investasi US$ 130 juta dari Bukit Mutiara pada Maret 2012. Sisanya akan ditarik di semester I-2013. Tapi rencana penarikan piutang tersebut tak terealisasi hingga kini.
Utang Membumbung
Penundaan pencairan dana investasi di Recapital dan Bukit Mutiara tentu menimbulkan tanda tanya mengingat perusahaan saat ini tengah dililit utang. Dengan kondisi keuangan yang morat-marit hingga merugi US$ 117 juta di semester I-2012, seharusnya Bumi Resources mencairkan piutangnya, sehingga bisa mempercepat pembayaran utang ke CIC. Dengan mempercepat cicilan, beban bunga Bumi akan berkurang.
Morat-maritnya keuangan Bumi dipertegas dalam riset Panin Sekuritas (29/8) lalu yang menilai Bumi diambang kebangkrutan, karena performa keuangan memburuk dan kemampuan membayar utang (solvabilitas) rendah. Beban keuangan Bumi yang tinggi membuat solvabilitas Bumi rendah.
Sebagai informasi, utang Bumi ke CIC sebesar US$ 638 juta yang dijadwalkan Oktober 2012 mendatang merupakan cicilan kedua setelah pada Oktober 2011 lalu, Bumi membayar cicilan pertama sebesar US$ 600 juta.
Adapun total utang Bumi ke CIC yang ditarik 18 September 2009 lalu itu mencapai US$ 1,9 miliar, dan harus dilunasi 2013 mendatang. Asal tahu saja, tingkat pengembalian atau internal rate return (IRR) keseluruhan pinjaman dari CIC sebesar 19 persen per tahun.
Fasilitas utang CIC tersebut terbagi dalam tiga komitmen. Komitmen A senilai US$ 600 juta yang jatuh tempo empat tahun sejak penarikan. Utang ini telah dibayar di semester II-2011 dengan pinjaman sindikasi. Lalu, Komitmen B senilai US$ 600 juta yang jatuh tempo pada 2013. Bumi berupaya menyelesaikannya pada Oktober 2012 nanti. Jika rencana ini terwujud, maka utang tersisa nanti tinggal 700 juta dollar AS.
Sementara komitmen C ini memiliki masa jatuh tempo enam tahun sejak penarikan utang. Perusahaan berharap bisa menyelesaikan sisa pinjaman ini pada kuartal IV-2013.
Mega utang ini dijaminkan dengan saham anak usaha perseroan yakni PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd., PT IndoCoal Kalsel Resources, PT IndoCoal Kaltim Resources dan the Original Subsidiary Guarantors.
Sekedar mengingat, mengacu laporan keuangan Bumi 2011, total utang Bumi yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai US$ 638 juta (Rp 6,38 triliun). Di tahun 2013 utang yang jatuh tempo mencapai US$ 1,1 miliar, 2014 sebesar US$ 635 juta, 2015 sebesar US$ 313 juta, 2016 sebesar US$ 450 juta dan di 2017 sebesar US$ 700 juta. Jika disederhanakan, hingga 2014 Bumi harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$ 3 miliar (Rp 30 triliun).
Sementara dalam laporan riset harian Kim Eng Securities disebutkan, per Juni 2012, Bumi memiliki kas sebesar US$ 212,8 juta dan US$ 106,1 juta. Jauh lebih kecil dengan jumlah utangnya.
Di tengah utang yang membumbung, penundaan pencairan dana investasi di Recapital membuat gerah pemegang saham lainnya. Salah satunya adalah Nathaniel Rotschild, direktur independen Bumi Plc. Adapun Bumi Plc memegang 29,2 persen saham di Bumi Resources. Pria yang akrab disapa Nat ini meminta pembersihan di dalam manajemen keuangan Bumi Resources.
Sebagai salah satu pemegang saham, keinginan Nathaniel cukup beralasan mengingat percepatan pembayaran utang akan meringankan perusahaan.
Namun kenginan Nathaniel membersihkan manajemen Bumi Resources tidak cukup kuat melawan kelompok Bakrie. Justru perselisihan tersebut berujung dengan didepaknya Nathaniel dari kursi co-chairman dan menjadi direktur independen Bumi Plc.
Menyikapi meningkatnya utang, Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava menegaskan, perseroan berkomitmen untuk mengurangi beban utang dan bunga. Dalam dua tahun ke depan, Bumi akan memangkas beban bunga hingga 50 persen. "Kami akan berupaya membayar utang lebih cepat untuk mengurangi beban bunga," kata Dileep saat dikonfirmasi Beritasatu.com.

4 Strategi Bumi Pangkas Utangnya
Ada sejumlah langkah yang menjadi prioritas perusahaan.
| Aktivitas penambangan batu bara di Kalteng (ANTARA) |
PT Bumi Resources Tbkl (BUMI) pada 27 Agustus lalu menunda pencairan dana investasi sebesar US 423 juta (Rp 2,3 triliun) pada PT Recapital Asset Management.
Padahal jika dana tersebut cair, Bumi bisa mempercepat penyelesaian utangnya ke CIC senilai US$ 638 juta (Rp 6,38 triliun) yang jatuh tempo pada Oktober 2012 mendatang. Alhasil, bisa mengurangi beban bunga dan utang perseroan yang mencapai Rp 30 triliun hingga 2014 mendatang.
Lalu apa skenario kelompok usaha Bakrie di sektor batubara ini guna menutupi utangnya yang menggunung ke depan?
Direktur Bumi Dileep Srivastava mengatakan, perseroan sengaja menunda penarikan investasi di Recapital karena kondisi pasar finansial global tengah bergejolak. Jika dana investasi ditarik, akan berdampak negatif terhadap perseroan. Untuk itu, perseroan memutuskan memperpanjang investasi di Recapital.
"Dana investasi itu bukan pinjaman, sehingga tidak ada risiko gagal bayar atau apapun, termasuk jika ada keterlambatan saat penarikan. Kalau kami ambil dananya sekarang, investasinya tidak berkembang,” ujar Dileep kepada Beritasatu.com, di Jakarta, hari ini.
Bumi dan Recapital saat ini sedang melakukan pembicaraan terkait jadwal baru penarikan investasi. "Pembahasan tengah dilakukan antara Bumi Resources dan Recapital terkait jadwal pembayaran yang baru," kata Direktur Bumi Plc, Nick von Schirnding dalam keterangan yang dipublikasi, Selasa (28/8).
Berdasarkan sumber Beritasatu.com, kontrak tersebut diperpanjang untuk setahun ke depan. Meski demikian, dana tersebut bisa dicairkan lebih awal tergantung kesepakatan lebih lanjut. Bumi lebih memilih mencari pinjaman dengan bunga lebih murah, dibanding mencairkan investasinya di Recapital.
Soal pembayaran utang. Dileep mengungkapkan, perseroan tetap akan mempercepat cicilan utang kedua ke CIC. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban bunga. "Kami berinisiatif membayar lebih awal dari yang dijadwalkan," kata Dileep.
Menurut Dileep, jatuh tempo utang Bumi Resources ke CIC yang tersisa US$ 1,3 miliar dari total US$ 1,9 miliar masih lama, yakni pada Oktober 2013. "Namun, kita masih berniat untuk membayar lebih awal dari tanggal jatuh tempo ini, tapi tidak ada paksaan atau waktu yang kaku," kata Dileep.
Dileep juga berkilah, jika Bumi Resources tidak membayar utang US$ 637 juta ke CIC pada Oktober 2012 mendatang, perseroan akan mengalami gagal bayar. "Jadi jika kami tidak membayar pada bulan Oktober tahun ini, kita tidak default," kata Dileep.
Namun teka-teki sumber pembiayaan Bumi Resources untuk membayar utang masih menjadi misteri. Untuk mencari pinjaman ke bank lokal sepertinya sudah mustahil mengingat sejak beberapa tahun terakhir, tidak ada bank lokal yang mau mengucuri pinjaman ke Bumi Resources.
Sementara mencari utangan ke institusional global dinilai sebagian kalangan sudah maksimal. Credit Suisse atau CIC salah satu contoh lembaga keuangan dunia yang masih mau memberikan pinjaman ke Bumi Resources dengan tingkat bunga yang sangat tinggi.
Menyikapi hal itu, Dileep menyatakan, Bumi Resorces akan memperkuat arus kas perusahaan dengan meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya produksi. Selain itu, perseroan juga akan menciptakan nilai tambah dengan memaksimalkan aset-aset yang minoritas.
Di sisi lain, kata Dileep, Bumi akan berupaya menurunkan utang dan beban bunga. Caranya, dengan mencari pinjaman dengan bunga yang lebih rendah dari beban yang selama ini ditanggung. Sayangnya dia tidak menjelaskan lebih lanjut sumber pendanaan tersebut.
Dia hanya mengungkapkan, perseroan akan mengurangi biaya bunga hingga 50 persen dan menurunkan utang/EBITDA menjadi ke 1x dalam dua tahun ke depan. "Kami memiliki sejumlah opsi untuk pembiayaan kembali utang, saat ini masih dalam tahap pembahasan," kata Dileep.
Jika pinjaman mentok, Bumi Resources juga berencana melego sebagian kepemilikannya di Bumi Resorces Mineral Tbk (BRM) guna mendapatkan suntikan dana segar. Menurutnya, saat ini perseroan masih melakukanpembicaraan dengan para calon investor. "Kita akan mencari mitra strategis di BRM," kata Dileep.
Sumber Beritasatu.com mengatakan, Bumi berencana menjual kepemilikannya di BRM sebesar 20 persen pada akhir tahun 2012. Saham tersebut ditawarkan ke sejumlah investor global asal China dan Eropa. Nilai penjualan 20 persen saham BRM ditaksir mencapai US$ 400 juta-US$ 500 juta.
Pada akhir Agustus lalu, saham Bumi anjlok. Nilai kapitalisasi pasar Bumidi Bursa Efek Indonesia (BEI) tersisa Rp 13,9 triliun pada perdagangan Rabu (29/ 8). Nilai kapitalisasi itu tergerus Rp 40 triliun atau 74 persen dibandingkan posisi tertinggi tahun ini sebesar Rp 54 triliun.
Saham Bumi sempat mencapai harga tertinggi pada 3 Februari 2012 sebesar Rp 2.600. Namun, pada perdagangan 29/8, saham Bumi turun Rp 90 (11,8 persen) menjadi Rp 670. Hingga pukul 15.15 JATS (14/9), saham Bumi naik Rp 80 (10,53 persen) mencapai Rp 840 dari perdagangan sebelumnya Rp 740.
Utang Bumi yang jatuh tempo
1. 2012 mencapai US$ 638 juta (Rp 6,38 triliun).
2. 2013 mencapai US$ 1,1 miliar
3. 2014 mencapai US$ 635 juta
4. 2015 sebesar US$ 313 juta
4, 2016 sebesar US$ 450 juta
5. 2017 sebesar US$ 700 juta.
Jika disederhanakan, hingga 2014 Bumi harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$ 3 miliar (Rp 30 triliun).
Sumber laporan keuangan Bumi 2011

Saham Bumi Tak Ada Kaitan dengan Pendanaan Golkar
Tidak benar bila ada yang menyatakan bahwa Golkar sedang mengalami krisis keuangan.
| Aburizal Bakrie |
Ketua Fraksi Partai Golkar, Setya Novanto, mengatakan anjloknya saham PT Bumi Resources Tbk, yang dimiliki Ketua Umum Partai itu Aburizal Bakrie, tidak berpengaruh terhadap soliditas pendanaan kegiatan partai itu.
Menurut Setya, tidak benar bila ada yang menyatakan bahwa Golkar sedang mengalami krisis keuangan.
Selaku Bendahara Umum Partai Golkar, Setya memastikan semuanya masih berjalan baik, termasuk usaha-usaha bisnis pribadi yang digeluti Aburizal.
"Lagian masalah harga saham yang melorot ini tidak ada hubungan dengan partai. Karena di dalam partai jelas semua pendanaan-pendanaan partai berjalan dengan baik," kata Setya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, hari ini.
Dia juga menyatakan semua biaya yang diperlukan untuk mendukung pencapresan Aburizal Bakrie di 2014 sudah dipersiapkan dengan baik.
"Saya selaku bendahara umum dan ketua fraksi, saya menjalankan sendiri dan semuanya tidak ada masalah," kata dia.
( Berita Satu )
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Dahlan Iskan Yakin RI Akan Jadi Negara Maju
Sayangnya, pemerintah dan birokrasi masih jalan di tempat.
| Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% selama 8 tahun |
"Saya belum menyebut, 136 juta orang itu kelas menengah ke atas. Tetapi umumnya, sudah tidak miskin lagi," kata Dahlan di sela Dies Natalis Ke-50 Universitas Udayana Denpasar, Sabtu 29 September 2012.
Jumlah tersebut, sambung Dahlan, merupakan kelompok yang sudah tidak memikirkan pemenuhan kebutuhan dasarnya lagi. Di sisi lain, kelompok ini susah diajak hidup hemat, susah diajak menderita lagi, tidak suka sesuatu yang lambat, mereka ingin cepat. Selain itu, mereka juga sangat vokal dalam mengeluarkan pikiran dan pendapat baik melalui diskusi, media sosial, dan sarana lainnya.
"Percuma pemerintah mengimbau hemat BBM, percuma disuruh hemat listrik, percuma disuruh kencangkan ikat pinggang. Itu tidak mempan. Dan ini ciri mereka yang sudah tidak miskin lagi," papar Dahlan.
Sayangnya, kata Dahlan, perubahan yang begitu cepat ini tidak dibarengi dengan reformasi birokrasi yang cepat. Dia menilai pemerintah dan birokrasi masih jalan di tempat. "Masih terlalu banyak rapat-rapat, laporan-laporan, perjalanan dinas dan hal kontra-produktif lainnya."
Bagi Dahlan, hal ini lah yang bisa membuat Indonesia berada pada simpang tiga. Pertama, bisa sangat maju. Kedua, bisa semakin mundur, dan ketiga hanya berjalan di tempat.
"Filipina contohnya. Ketika Indonesia masih miskin, mereka sudah jadi negara berkembang dan menengah. Sekarang, ketika Indonesia sudah menjadi negara berkembang, mereka malah semakin mundur, dan lebih miskin dari Indonesia," ujar Dahlan.
Menurut mantan Dirut PLN tersebut, Indonesia punya modal besar untuk dapat naik kelas menjadi negara maju. Bahkan, Dahlan yakin Indonesia bisa masuk menjadi negara maju 10 besar dunia.
Selain kelompok 136 juta orang yang tidak miskin lagi, modal yang bisa menjadikan Indonesia naik kelas dan maju adalah pertumbuhan ekonomi makro dan mikro.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia praktis di atas 6 persen selama 8 tahun terakhir. Saat ini, skala ekonomi Indonesia sudah masuk G-20, yang berarti skala ekonomi Indonesia sudah masuk kelompok negara-negara besar dan sudah urutan ke-15.
“Dalam 5 sampai 10 tahun bisa lebih maju lagi menjadi urutan ke-7. Untuk itu, reformasi di bidang politik, birokrasi akan menjadi faktor penting untuk menentukan Indonesia dalam 5 sampai 10 tahun ke depan,” tegas Dahlan.
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Mengintip Ekonomi Lima Macan Asia 3 Tahun ke Depan
Indonesia masuk salah satu yang dianalisa. Bagaimana hasilnya?
Pialang saham di bursa efek Seoul, Korea Selatan
Lembaga Keuangan internasional, Citigroup, kembali mengeluarkan hasil riset prediksi kondisi perekonomian dunia dalam tiga tahun mendatang. Dalam risetnya, Citi memperkirakan ekonomi global bakal berjuang untuk bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi positif.
Dua negara dengan skala ekonomi terbesar yaitu China dan Jepang diprediksi bakal menghadapi kondisi kurang menguntungkan hingga tiga tahun mendatang.
"Outlook ekonomi dunia dalam kondisi seimbang antara rentannya perekonomian, pemulihan AS yang masih jauh, serta dampak resesi Eropa dengan gelombang baru dari stimulus bank sentra di berbagai negara utama dunia," kata Chief Economist Citigroup, Willem Buiter, seperti dikutip laman businessinsider, Rabu, 25 September 2012.
Buiter menyatakan, Citi memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini akan berakhir di lepas 2,5 persen. Sementara pada tahun depan, ekonomi dunia akan sedikit meningkat menjadi 2,6 persen.
Berikut kondisi perekonomian Asia menurut hasil riset dari Citigroup.
Jepang
Negara matahari terbit ini harus bekerja keras di tengah melambatnya laju ekspor. Pertumbuhan produk domestik bruto diproyeksikan
2012: 2.1%
2013: 1.3%
2014: 0.2%
2015: 1.5%
Analis Citi, Kiichi Murashima, berharap laju ekspor Jepang akan meningkat pada 2013 seiring mulai pulihanya Amerika Serikat dan China serta stabilnya perekonomian Eropa.
China
Negara ini diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan sepanjang 3 tahun mendatang. Berikut proyeksi Citi soal pertumbuhan PDB China:
2012: 7.9%
2013: 7.6%
2014: 7.3%
2015: 7.0%
Minggao Shen dari Citi memperkirakan adanya pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2012. Sayangnya laju ekonomi kembali melambat pada 2013 akibat kekhawatiran naiknya inflasi yang menenggelamkan upaya stimulus China.
India
Walau masih mengalami perlambatan pertumbuhan, ekonomi India semakin menjanjikan didorong oleh upaya reformasi yang mulai menunjukan hasil
Citi memproyeksikan pertumbuhan PDB India dalam 3 tahun mendatang sebagai berikut
2012: 5.4%
2013: 6.2%
2014: 6.9%
2015: 7.3%
Analis Citi, Rohini Malkani mengharapkan upaya reformasi jangka panjang yang dibuat India akan tercapai, termasuk didalamnya kebijakan baru terkait bahan bakar minyak yang berhubungan dengan upaya serta perubahan larangan investasi asing
Korea Selatan
Citi memproyeksikan perekonomian Negara Ginseng ini akan dihantam oleh perlambatan konsumsi domestik disertai melemahnya laju ekspor ke China.
Citi memproyeksikan pertumbuhan PDB India dalam 3 tahun mendatang sebagai berikut
2012: 2.8%
2013: 3.3%
2014: 3.7%
2015: 4.1%
Indonesia
Beruntung bagi Indonesia. Di tengah perekonomian Asia yang mengalami perlambatan, justru Indonesia mengalami keuntungan dari konsumsi domestik yang masih kuat.
Dalam laporannya, Citi memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 3 tahun ke depan akan terus meningkat. Berikut adalah outlook ekonomi Indonesia menurut versi Citi:
2012: 6.2%
2013: 6.1%
2014: 6.3%
2015: 6.5%
(eh)
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Ekonomi RI Jadi Andalan Negara Asia
Negara-negara Asia justru menunjukkan kinerja kurang menyenangkan.
Kemilau pasar keuangan Asia yang telah bersinar lebih dari 10 persen sepanjang 2012 perlahan mulai meredup. Luluh lantaknya kinerja ekspor beberapa negara telah memupuskan kemilau tersebut.
Beruntung bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Negara-negara di kawasan ini diprediksi masih bisa berkilau kendati mengalami perlambatan laju ekspor.
"Pada umumnya, kondisinya sangat berat. Perusahaan kami tak melihat adanya kebangkitan bisnis maupun aktivitas lainnya," kata Managing Director Aberdeen Asset Management, Hugh Young, di Singapura, seperti dikutip laman CNBC, Jumat, 28 September 2012.
Aberdeen merupakan pemilik saham di sejumlah perusahaan di Asia seperti China Mobile, CNOOC, Siam Cement, SembCorp, dan United Plantation.
Perekonomian Singapura saat ini memang tengah mengalami pelemahan dari prediksi awal. Ekspor produk non migas Singapura pada Agustus lalu turun 10,6 persen dibandingkan posisinya pada awal tahun.
Kondisi tak jauh berbeda dialami Korea Selatan dan Thailand yang mengalami penurunan laju ekspor lebih dari 6 persen pada Agustus lalu. "Saya tak begitu yakin ekspor akan naik lagi pada kuartal IV," kata Young. "Tak ada permintaan sama sekali."
Di pasar keuangan, kinerja bursa saham Korea Selatan dan Taiwan juga hanya memberi keuntungan 10 persen. Sementara itu, Hong Kong dan Singapura naik masing-masing 13 dan 16 persen.
Kinerja itu dianggap tak lebih baik dibandingkan kenaikan indeks S&P 500 yang mencapai 15 persen dan bursa Eropa sebesar 8 persen.
"Pada kondisi genting ini, saya tak yakin bursa saham Asia akan bullish," kata Vasu Menon, Vice President Wealth Management Bank OCBC di Singapura.
Harapan ada di Asia Tenggara
Pemodal di kawasan Asia kini tampaknya tinggal bergantung pada Asia Tenggara. Walau mengalami pelemahan ekspor, kondisi ini tampaknya bukan kabar menakutkan.
Menon menilai, cerita mengenai konsumsi dalam negeri di kawasan Asia Tenggara dianggap mampu menopang pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan ini.
Head of Research Asia ING Financial Market, Tom Condon, memperkirakan, bursa saham Asia Tenggara kemungkinan menunjukkan kinerja positif pada tiga bulan terakhir 2012.
Di antara berbagai negara di Asia Tenggara, Menon memberikan apresiasi pada kinerja ekonomi Thailand dan Indonesia.
"Thailand memiliki kisah yang menarik dan kami sangat antusias dengan perkembangan mereka," kata Menon. "Kami sangat optimistis dengan Indonesia, kinerja perekonomian negara ini akan tetap menunjukkan kinerja baik." (art)
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Masuk 10 Besar, "Garuda" Jangan Cuma Kepakkan Sayap
OECD menganggap Indonesia memiliki modal besar menjadi 10 besar dunia.
Indonesia diprediksi masuk jajaran 10 besar negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia. Untuk mencapai impian tersebut, Indonesia diminta tidak hanya membentangkan "sayap"nya, tapi harus dapat terbang tinggi menembus tantangan dan hambatan yang mengadang.
"Saat ini, 'Garuda' sedang membentangkan sayap. Tapi, jangan hanya terbang, tapi harus dapat melanglang buana," ungkap Sekretaris Jenderal Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), Angel Gurria, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis 27 September 2012.
Indonesia dinilai telah memiliki modal dasar dalam mencapai impian tersebut yaitu, mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan yang kuat dan stabil selama 10 tahun terakhir di kisaran 5-6,6 persen.
Selain itu, Indonesia sudah mampu membuktikan kualitasnya, karena berhasil melewati krisis ekonomi global dengan dampak relatif minim. "Kemiskinan di Indonesia juga turun dengan signifikan," tambahnya.
Meski demikian, Gurria mengakui, Indonesia masih memiliki sejumlah tantangan yang harus segera diselesaikan. Tantangan itu berupa peningkatan produktivitas anggaran, mengurangi subsidi energi, dan meningkatkan penerimaan pajak guna pengembangan infrastruktur utama sebagai alat penarik investasi.
Selain itu, Gurria melanjutkan, peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi poin utama terwujudnya ekonomi yang kuat. "Intinya, memastikan pertumbuhan ke depan inklusif dan berkelanjutan," tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, mengaku sependapat dengan OECD. Pemerintah akan memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan inklusif.
Upaya yang dilakukan di antaranya memastikan ketimpangan pendapatan di masyarakat atau gini rasio dapat diseimbangkan. "Sehingga, pemerataan pertumbuhan ekonomi dapat terwujud," ujarnya.
Ekstensifikasi pajak juga terus dilakukan pemerintah. Walaupun diakui, upaya itu memerlukan tenaga ekstra, khususnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak.
"Jadi, kalau bisa menyelaraskan dengan sistem yang progresif, yaitu yang makin kaya makin tinggi, tentu itu akan meningkatkan kualitas perpajakan," tambahnya.
Paket-paket insentif pajak bagi investasi baru juga terus disosialisasikan pemerintah. Upaya itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar fasilitas tersebut jatuh kepada investasi yang memiliki nilai tambah bagi negara.
"Jangan hanya menawar-nawarkan pajak, karena pajak itu ibarat keju. Kalau kejunya itu bolong-bolong, nanti yang terjadi penerimaan negara tidak memadai," ungkapnya. (art)
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Perdagangan RI Kembali Nikmati Surplus
Neraca perdagangan RI surplus US$ 496 juta, apa pemicunya?
Peti Kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta
SETELAH tiga bulan berturut-turut mengalami defisit, neraca perdagangan Indonesia akhirnya kembali surplus pada Agustus 2012. Penurunan impor yang lebih tinggi dari ekspor merupakan faktor utama pendorong surplus pada bulan lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, laju ekspor selama Agustus 2012 mencapai US$ 14,12 miliar, atau turun 24,30 persen dibanding Agustus 2011 dan turun 12,27 persen dari bulan sebelumnya.
Sementara itu, nilai impor Agustus tercatat turun menjadi US$ 13,87 miliar, atau minus 8,02 persen dibandingkan Agustus 2011 dan minus 15,21 persen dibandingkan Juli 2012.
"Neraca perdagangan untuk Agustus 2012 surplus US$ 248,5 juta. Memang, ekspor turun, namun impor juga turun," kata Kepala BPS, Suryamin, di Jakarta, Senin 1 Oktober 2012.
Suryamin mencatat, surplusnya neraca perdagangan pada Agustus 2012 merupakan yang pertama dalam tiga bulan terakhir. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus kembali bergerak positif.
Total ekspor Januari-Agustus tercatat US 127,17 miliar, sedangkan impor Januari-Agustus sebesar US$ 126,67 miliar.
"Kumulatif neraca perdagangan Januari-Agustus 2012 surplus US$ 496,7 juta, setelah defisit tiga bulan terakhir, dari defisit sekitar US$700 juta, turun lagi menjadi US$ 400 juta, turun lagi US$ 300 juta, dan sekarang malah surplus," katanya.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2012, pangsa pasar ekspor non migas Indonesia masih didominasi China sebesar US$ 13,37 miliar, Jepang US$ 12,57 miliar, dan Amerika Serikat US$ 9,90 miliar.
Sementara itu, untuk impor, BPS mencatat Indonesia banyak mendatangkan produk dari China sebesar US$ 19,21 miliar, diikuti Jepang US$ 15,48 miliar dan Thailand sebesar US$ 7,66 miliar. Kontribusi tiga negara tersebut mencapai 42,70 persen.
Negara tujuan impor Indonesia yang lain adalah negara-negara ASEAN sebesar US$ 21,36 miliar atau 21,54 persen serta Uni Eropa sebesar US$ 9 miliar atau 9,08 persen.(art)
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi
ADB: Ekonomi RI Lebih Baik dari Negara Lain
ADB hari ini melansir laporan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia
Suasana gedung bertingkat dan pemukiman di kawasan Kuningan, Jakarta
Bank Pembangunan Asia (ADB) merevisi proyeksi ekonomi negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia, pada 2012 dan 2013. ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya mencapai 6,3 persen namun naik kembali menjadi 6,6 persen di tahun 2013.
Dibandingkan proyeksi yang telah dikeluarkan sebelumnya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia itu terkoreksi masing-masing 0,1 persen. ADB sebelumnya memproyeksi ekonomi Indonesia tumbuh 6,4 persen pada tahun 2012 dan 6,7 persen pada 2013.
Senior Country Economist Indonesia Resident Mission, Edimon Ginting menjelaskan, perkembangan ekonomi global dan Asia yang melemah menyebabkan PDB Indonesia akan menurun dari 6,5 persen pada 2011 menjadi 6,3 persen di 2012.
"Pertumbuhan Indonesia masih jauh lebih baik dari negara-negara lain, daya tahan Indonesia lebih kuat sedikit dari pada negara lain," kata Edimon di Jakarta, Rabu 3 Oktober 2012.
ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali membaik pada 2013 mendatang menjadi 6,6 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh kinerja investasi yang tetap tinggi dan perbaikan ekspor. Faktor pendorong lain adalah re-balancing dalam sumber pertumbuhan ekonomi.
Pada kuartal terakhir tahun ini, Indonesia akan mengalami perbaikan kontribusi pertumbuhan, khususnya dari peningkatan ekspor dan penurunan impor. Nilai tukar dolar AS yang tinggi akan menekan impor. Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia akan meningkat setelah pada September 2012 mengalami perlemahan.
"Selain itu, pertumbuhan ekspor yang melemah digantikan dengan cepat oleh pertumbuhan investasi, baik swasta maupun pemerintah," katanya.
Tren investasi naik
ADB memprediksi trend pertumbuhan investasi yang cukup tinggi di Indonesia akan terus berlanjut pada 2013. Survey UNCTAC menunjukkan ada perbaikan persepsi investor asing terhadap Indonesia.
Dalam survei itu, peringkat Indonesia sebagai tujuan investasi langsung pemodal asing atau foreign direct investment membaik dari posisi 6 di 2011 menjadi di peringkat 4 setelah China, Amerika Serikat dan India.
"Tingkat kepercayaan dari sektor dunia usaha masih tetap tinggi sehingga investasi dari FDI masih dapat diharapkan," katanya.
Selain itu ADB menilai kebijakan untuk mengantisipasi dampak melemahnya pertumbuhan ekonomi global patut diapresiasi. Pemerintah Indonesia sangat proaktif mengantisipasi dan mengurangi dampak pelemahan ekonomi global dengan cara melanjutkan peningkatan investasi di sektor infrastruktur. Hal ini merupakan kebijakan rebalancing yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dalam jangka pendek dan jangka panjang.
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi
Cadangan Devisa RI Naik Tembus US$ 110,7 Miliar
Posisi uang primer per 28 September 2012 sebesar Rp 638,87 triliun dibanding posisi 31 Agustus 2012 sebesar Rp 657,96 triliun.
Cadangan devisa Indonesia per akhir September 2012 mencapai US$ 110,17 miliar, atau naik US$ 1,18 miliar dibanding akhir Agustus 2012 yang mencapai US$ 108,99 miliar.
Dlaam laporan perkembangan Besaran Moneter Bank Indonesia (BI) Senin (8/10), menyebutkan, penghitungan posisi cadangan devisa itu menggunakan konsep Internasional Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) atas dasar harga berlaku dengan format Official Reserve Asset (ORA).
Cadangan devisa merupakan posisi bersih aktiva luar negeri pemerintah dan bank-bank devisa, yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi internasional. Devisa diperlukan untuk membiayai impor dan membayar utang luar negeri.
Pengelolaan itu dilakukan melalui berbagai jenis transaksi devisa seperti menjual, membeli, dan atau menempatkan devisa, emas dan surat-surat berharga secara tunai atau berjangka termasuk pemberian pinjaman.
Mulai Juli 2000, BI mengubah konsep pencatatan cadangan devisa. Angka cadangan devisa yang dilaporkan hanya menggunakan konsep IRFCL yang merupakan standar pelaporan secara internasional.
Dalam konsep IRFCL, hanya aset yang tergolong likuid yang diperhitungkan sebagai komponen cadangan dan penilaiannya menggunakan kurs yang berlaku saat tanggal pelaporan.
Sebelumnya per akhir Agustus 2012, posisi cadangan devisa RI juga menunjukkan kenaikan yaitu sebesar US$ 2,43 miliar. Jumlah cadangan devisa pada periode itu mencapai US$ 108,99 miliar dibanding akhir Juli 2012 sebesar US$ 106,56 miliar .
Laporan Perkembangan Besaran Moneter BI itu juga menyebutkan posisi uang primer per 28 September 2012 sebesar Rp 638,87 triliun dibanding posisi 31 Agustus 2012 sebesar Rp 657,96 triliun.
Jumlah tersebut antara lain terdiri dari uang kertas dan uang logam yang diedarkan sebesar Rp 384,84 triliun dibanding akhir Agustus 2012 sebesar Rp 405,66 triliun. Selain itu saldo giro bank pada BI sebesar Rp 219,87 triliun dibanding akhir Agustus 2012 sebesar Rp 216,46 triliun.
Sebelumnya per akhir Juli 2012, posisi uang primer mencapai sebesar Rp 634,99 triliun. Jumlah itu terdiri dari antara lain uang kertas dan uang logam yang diedarkan sebesar Rp 384,11 triliun. Selain itu saldo giro bank pada BI sebesar Rp 215,79 triliun.
© Berita Satu
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Indonesia Jadi Negara Besar pada 2015
Mimpi itu bisa terwujud jika Indonesia bisa memanfaatkan 4 kekuatan.
Tokoh muda Indonesia yang tergabung dalam "Forum Garuda Muda," meyakini Indonesia bisa bangkit menjadi bangsa yang besar. Syaratnya, para pemuda memiliki tekad agar negara ini bisa bangkit.
Salah satu tokoh muda bangsa, Anindya N Bakrie, menyatakan, Indonesia saat ini sebetulnya sudah masuk menjadi negara besar. Dengan menempati peringkat 16 ekonomi terbesar dunia, Indonesia bisa bergerak lebih maju ke peringkat 12. Posisi ini menjamin Nusantara bisa lebih stabil dan maju.
"Ada 4 hal yang membuat Indonesia besar," ujar Anindya dalam acara diskusi bertajuk "Menatap Indonesia 2025" di Hotel Trans Luxury, Bandung, Selasa, 9 Oktober 2012.
Hal besar pertama yang dimiliki Indonesia adalah dari sisi ekonomi. Hampir 50 persen perekonomian ASEAN berada di Indonesia. Selain itu, penduduk Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia, setelah China, yakni mencapai 247 juta jiwa. "Negara kita juga menjadi negara demokrasi terbesar ketiga," ujar dia.
Kekuatan lain yang dimiliki Indonesia adalah negara tempat di mana modernisasi dan demokrasi serta Islam tumbuh bersama. Kekuatan ketiga, Indonesia memiliki lahan serta hasil alam yang melimpah.
"Hasil alam ini merupakan anugerah terbesar bangsa kita, di mana sistem politik yang sudah dewasa dalam memandang demokrasi tersebut, sudah terjadi di masyarakat kita," papar Anindya.
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai sebuah negara besar, Indonesia harus bisa menyelaraskan pembangunan infrastruktur yang ada. Kekuatan inilah yang bisa menjadi modal utama keempat bagi Indonesia.
"Asalkan modal ditingkatkan serta pengembangan daerah lebih maju, dan infrastrukturnya didukung pemerintah pusat," kata Anindya.
Dengan berbagai kekuatan yang ada, Anindya meyakini proses Indonesia menjadi sebuah negara besar tak perlu menunggu hingga 2025. "2015 pun saya percaya Indonesia akan besar, bahwa Indonesia akan memainkan peran besar dalam percaturan politik di dunia. Kita jangan jadi penonton, tapi pelaku," ujar dia.(art)
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi
HSBC: Tahun 2026, Transaksi Perdagangan Indonesia Tumbuh 171%
Pertumbuhan transaksi perdagangan Indonesia dari kuartal kedua 2012 hingga kuartal dua 2026 diperkirakan mencapai 171%. Kenaikan itu diyakini akan menjadi yang terbesar dalam lima tahun ke depan.
| HSBC |
Dalam paparan HSBC Present: Internationalisation of Renmimbi - Opportunities & Challengges, yang dihadiri oleh Head of Global Market, HSBC Indonesia, Ali Setiawan, Regional Head of Global Trade and Receivables Finance, HSBC Asia Pacific, Simon P Constantinides dan Head of Global Trade and Receivables Finance, HSBC Indonesia, Nirmala Salli.
Setiap tahunnya transaksi perdagangan Indonesia setidaknya akan tumbuh 8,5%, sebelum melambat jadi 7,7% di 2021 dan kemudian turun kembali menjadi 4,5% di akhir periode 2026, seperti layaknya negara Asia lainnya.
Sementara perusahaan-perusahaan Indonesia memperkirakan kenaikan transaksi perdagangan bisa mencapai 6,9% setiap tahun hingga 2026 mendatang.
Elektronik, mesin-mesin dan percetakan akan menjadi sektor-sektor yang tumbuh paling cepat, dan Meksiko, India dan Brazil akan menjadi negara-negara berkembang pengekspor terbesar.
Indonesia sendiri diharapkan dapat mempertahankan pertumbuhan pasar yang kuat dengan mitra dagangnya di regional, seperti Jepang, China dan Singapura.
Produk komoditas tetap akan menjadi andalan, dimana 13 dari 50 produk komoditas mayoritas diekspor oleh Indonesia.
© Berita Satu
Posted in: Ekonomi
Pertumbuhan Orang Kaya RI Tertinggi Dunia
Sayangnya kekayaan itu tidak merata, 82 persen penduduk tetap miskin.
Satu lagi lembaga internasional memberi apresiasi terhadap perekonomian Indonesia. Kali ini datang dari perusahaan keuangan dunia, Credit Suisse.
Dalam laporan bertajuk Global Wealth Report 2012, Credit Suisse menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang mengalami pertumbuhan orang kaya tercepat di dunia dalam lima tahun mendatang. Indonesia bersanding dengan Kazakhstan, Rusia, Brasil, dan Thailand.
Credit Suisse memperkirakan pertumbuhan kekayaan per kapita orang dewasa dari negara-negara ini dipicu oleh kenaikan produk domestik bruto (PDB) per kapita.
Mongolia sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi akan menikmati kenaikan PDB sebesar 150 persen pada 2017. Sementara itu, Indonesia ditaksir mengalami pertumbuhan PDB hingga 82 persen, Kazakhstan 56 persen, Rusia 55 persen, China 55 persen, dan Thailand 34 persen.
"Pertumbuhan PDB ini akan menjadi pemicu utama akumulasi kekayaan penduduk selama lima tahun mendatang," kata laporan yang dipublikasikan di Swiss, Rabu 10 Oktober 2012.
Lembaga keuangan internasional ini menaksir, jumlah orang kaya di dunia bakal naik 18 juta atau mendekati 46 juta orang pada 2017.
Pengkategorian orang kaya dunia yang dibuat Credit Suisse dalam empat golongan yaitu di bawah US$ 10 ribu, antara US$ 10 ribu-100 ribu, US$ 100 ribu-1 juta, dan di atas US$ 1 juta per kapita.
Pada 2017 nanti, jumlah orang kaya Indonesia dengan kekayaan lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 9,5 miliar akan meningkat 99 persen atau hampir dua kali lipat dari 104 ribu orang pada tahun ini menjadi 207 ribu pada 2017. Sedangkan Brasil dan Rusia masing-masing naik 119 dan 109 persen.
Prediksi ini berdasarkan prosentase jumlah orang kaya yang meningkat lebih dari empat kali lipat sejak tahun 2000, setelah krisis keuangan menghantam pada 1997-1998. "Pemulihan ini sangat mengesankan," tulis laporan itu.
Krisis pada akhir dekade 1990 telah menyebabkan perekonomian Indonesia mundur selangkah, namun perekonomian pulih dengan cepat dan kekayaan per kapita orang dewasa saat ini jauh di atas tingkat sebelum krisis. Penurunan kekayaan dalam dolar AS sempat terjadi pada 2007-2008 dan 2011-2012, namun ini sepenuhnya berasal dari fluktuasi nilai tukar.
Dalam laporan itu, Credit Suisse juga menyoroti kekayaan yang tidak merata. Indonesia yang memiliki penduduk 237 juta jiwa dan penduduk dewasa 155 juta ini, 82 persennya masih miskin. Mereka memiliki total kekayaan tak lebih dari USS$ 10 ribu atau sekitar Rp 95 juta.
Prosentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk miskin dunia yang hanya 69 persen. "Fakta ini mencerminkan telah terjadi peningkatan kekayaan yang sangat kuat, namun masih rendah menurut standar internasional."
Sementara itu saat ini 16,4 persen penduduk Indonesia memiliki kekayaan antara US$ 10 ribu-100 ribu, 1,2 persen penduduk dengan kekayaan US$ 100 ribu-1 juta, dan kekayaan di atas US$ 1 juta hanya dimiliki oleh 0,1 persen penduduk. Total kekayaan ini US$ 1,7 triliun.
Asia terkaya
Credit Suisse juga menyatakan Asia menjadi wilayah terkaya di dunia untuk pertama kalinya sepanjang masa. Studi terbarunya itu menemukan bahwa wilayah Asia melampaui Eropa dalam hal kekayaan rumah tangga periode 12 bulan yang berakhir Juni.
Krisis Amerika dan Eropa telah membawa kekayaan rumah tangga global turun 5,2 persen. Penurunan tertinggi terjadi di Eropa, sebesar 14 persen menjadi US$ 69,3 triliun.
"Kekayaan Asia terbukti lebih tangguh, hanya menyusut 1,9 persen dibandingkan periode yang sama, dengan nilai US$ 74,1 triliun," tulis laporan itu.
Penurunan tajam tersebut memungkinkan kawasan Asia-Pasifik --mencakup Asia dan Australia-- menyalip Eropa dalam hal total kekayaan, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terlebih lagi, laporan itu mengatakan, orang Asia akan menjadi kaya lebih cepat dibandingkan wilayah lain dalam beberapa tahun ke depan.
Populasi jutawan di Asia diperkirakan tumbuh 70 persen selama lima tahun ke depan menjadi 11,7 juta, dengan Jepang dan China pencetak jutawan baru terbanyak.
Namun, laporan Credit Suisse menyimpulkan bahwa bangsa terkaya di dunia masih tetap Swiss, dengan kekayaan rata-rata US$ 468 ribu per orang dewasa. Kekayaan ini tujuh tingkat di atas AS, di mana orang dewasa memiliki kekayaan rata-rata US$ 262 ribu.
Tiga negara Asia-Pasifik yang memiliki kekayaan tertinggi adalah Australia di peringkat kedua dengan kekayaan rata-rata US$ 355 ribu per orang dewasa. Sementara itu, Jepang (US$ 270 ribu) dan Singapura (US$ 258 ribu) masing-masing di peringkat kelima dan kedelapan. Singapura juga menjadi rumah jutawan terbanyak per kapita di dunia, menurut sebuah studi yang dirilis Boston Consulting Group awal tahun ini.
© VIVA.co.id
Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan
Bank Dunia: Ekonomi RI Terbukti Kuat
Perekonomian global dan Indonesia saat ini sangat kontras.
| PDB Indonesia tumbuh 6,1 persen pada 2012 |
Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbukti tetap kuat menghadapi pelemahan ekonomi dunia, karena didorong oleh kuatnya konsumsi pribadi dan meningkatnya investasi.
Dalam laporan Perkembangan Triwulan Perekonomian Indonesia edisi Oktober 2012 yang diterbitkan Bank Dunia menunjukkan laju ekonomi Indonesia tetap bertahan kuat di kuartal kedua, meningkat sebesar 6,4 persen dan sedikit di atas pertumbuhan kuartal pertama sebesar 6,3 persen.
Ekonom Utama dan Penasehat Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop menjelaskan perekonomian global dan Indonesia saat ini sangat kontras, di saat perekonomian global sangat rapuh, Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan dibarengi dengan besarnya kepercayaan investor.
"Namun dengan tetap tingginya ketidakpastian global, tantangan Indonesia adalah menjaga ketahanan ini," kata Ndiame dalam "Indonesia Economic Quarterly" di Jakarta, Senin 15 Oktober 2012.
Ia menjelaskan berbagai negara kuat seperti China dan India sedang mengalami pelemahan ekonomi yang tajam. Ia mengakui salah satu kunci ketahanan Indonesia adalah konsumsi domestik, namun sisi investasilah yang menjadi kunci kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Investasi di Indonesia telah berkembang secara dinamis dan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia secara jangka panjang. Bank Dunia mengapresiasi Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis dan mendorong investasi di infrastruktur.
Bank Dunia memproyeksikan PDB Indonesia tumbuh 6,1 persen pada 2012 dan meningkat menjadi 6,3 persen untuk 2013. Ia menyarankan agar pemerintah Indonesia memperhatikan secara serius dampak pelemahan ekonomi China yang akan terasa ke Jepang dan Korea Selatan.
"Korea Selatan adalah salah satu mitra besar Indonesia, China juga memiliki pasar yang kuat di Indonesia," katanya. (eh)
© VIVA.co.id
Bank Dunia: PDB Indonesia Cuma Tumbuh 6,1 Persen
Jakarta - Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2012 hanya sebesar 6,1 persen. Angka ini lebih rendah ketimbang target pemerintah sebesar 6,4 persen. Penyebabnya adalah ketidakpastian perekonomian di zona Euro dan kemungkinan kontraksi fiskal di Amerika Serikat.
"Ada risiko-risiko perlambatan perekonomian lebih lanjut di sejumlah mitra perdagangan utama Indonesia, seperti Cina," kata ekonom utama dan penasihat ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiam Diop, dalam rilis Bank Dunia, Senin, 15 Oktober 2012.
Tindakan pemangkasan ini, menurut Bank Dunia, sebagai langkah menyeimbangkan pelemahan dunia internasional atas permintaan dalam negeri. Meski begitu, Bank Dunia memprediksi PDB akan meningkat menjadi 6,3 persen pada tahun 2013.
Menurut Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle, meski perekonomian Indonesia menguat, Indonesia harus menjaganya dengan tetap mendukung iklim investasi. “Caranya dengan memastikan peraturan yang jelas dan konsisten, serta terus meningkatkan kualitas belanja pemerintah," ujarnya.
Ke depan, pemerintah harus siap menghadapi tantangan perekonomian, seperti krisis jangka pendek. Pemerintah juga harus mendorong pertumbuhan, seperti memperkuat investasi pada infrastruktur baru, keterampilan dan pendidikan, serta memperkuat perlindungan sosial.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pertumbuhan ekonomi tinggi Indonesia belum masuk ke kategori overheating karena masih di bawah output potensialnya. "Tingkat pertumbuhan ekonomi saat ini 6,4 persen pada triwulan II-2012, masih berada di bawah output potensial, yang menurut perkiraan sebesar 6,7 persen," katanya pekan lalu.
Overheating merupakan kondisi ketika sisi permintaan dalam perekonomian tumbuh sangat cepat dan melampaui kapasitas produksi nasional. Dari sisi domestik, kondisi ini tercermin pada tingginya tekanan inflasi fundamental dan dari sisi eksternal terlihat pada besarnya defisit transaksi berjalan.
Sejumlah indikator yang biasanya menunjukkan pemanasan ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang melebihi tingkat output potensial, kredit yang tumbuh tinggi dan harga aset yang terlalu tinggi (bubble). Untungnya, inflasi inti tercatat tetap rendah dan terkendali 4,16 persen pada Agustus 2012 atau masih di kisaran yang diprediksi Bank Indonesia sebesar 3,5 persen hingga 5,5 persen.
Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini 6,4 persen dan meningkat menjadi 6,6 persen tahun depan. Kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi dan investasi swasta, dinilai mampu mengkompensasi penurunan ekspor akibat dampak penurunan pertumbuhan ekonomi global.
© Tempo.Co
Posted in: Ekonomi