ITS Kebanjiran Order Bikin Kapal

SURABAYA--MICOM: ITS yang dikenal sebagai universitas teknologi dengan keahlian teknologi perkapalan, energi, dan kelautan kini "panen" pesanan kapal dari berbagai kalangan, di antaranya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), dan bahkan sejumlah kalangan asing.
"PGN memesan kapal untuk mendukung 'Floating Storage and Regasification Unit (FSRU)' PGN dan ITS terlibat mulai tahap perancangan hingga mengawasi pembangunan kapal-kapal pendukung FSRU itu," kata Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Prof. Eko Budi Djatmiko, di Surabaya, Minggu (19/2).
Pesanan itu sendiri merupakan salah satu bagian dari serangkaian kerja sama yang tertuang dalam "Memorandum of Understanding" (MoU) PGN-ITS yang meliputi bidang jasa konsultasi, pendidikan, penelitian dan pengembangan rancang bangun dan rekayasa.
"Jadi, PGN akan melibatkan ITS dalam mendukung distribusi dan transportasi gas domestik. Itu penting bagi ITS guna mendukung strategi ITS untuk meraih 'international recognition' di bidang kelautan dan perkapalan," katanya.
Saat ini, kata dia, PGN sendiri telah mengoperasikan FSRU di Sumatera Utara, Labuhan Maringgai, dan Belawan, namun pemerintah juga menuntut PGN untuk mengembangkan fasilitas LNG dan memperbanyak unit FSRU.
Oleh karena itu, PGN memesan kapal kepada ITS karena FSRU itu memerlukan kapal-kapal pendukung dalam operasionalnya, seperti "tug boat", "crew boat", dan "mooring boat".
"PGN yang diwakili Direktur Teknologi dan Pengembangan, Jobi Trinanda Hasjim, telah menandatangani kerja sama PGN-ITS itu pada 17 Februari lalu. Kerja sama untuk kurun waktu 36 bulan itu akan menjadi langkah awal yang baik untuk PGN dan ITS," katanya.
Tidak hanya itu, Pembantu Rektor IV ITS Surabaya Prof.Dr. Darminto, M.Sc. menyatakan Kemenristek juga memesan desain kapal patroli rudal kepada ITS.
"Ada 16 konsorsium yang terlibat dalam proyek kapal patroli rudal itu dan ITS diminta untuk membantu dalam desain atau perancangan, tapi ITS juga diminta untuk mengawasi sampai kapal itu benar-benar terwujud," katanya.
Ia menilai kepercayaan pemerintah itu menunjukkan adanya pengakuan atas kemampuan bangsa sendiri dalam merancang dan memproduksi kapal sesuai kebutuhan.
"Itu bagus karena Indonesia merupakan kawasan bahari dengan 2/3 merupakan kawasan laut. Orientasi ke laut itu penting, terutama kapal-kapal sederhana untuk mewujudkan 'connecting' antarpulau," katanya.
Apalagi, tenaga ahli lokal cukup tersedia di ITS, termasuk tenaga ahli yang berstandar RINA, bukannya justru membayar tenaga ahli asing dengan biaya mahal.(Ant/X-12)
• MediaIndonesia
Posted in: ITS,Kapal,PGN
PGN Tambah Pasokan Gas Industri Jatim

JAKARTA - Kabar gembira untuk industri di Jawa Timur (Jatim). PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menyatakan siap untuk menambah pasokan gas bagi pelanggan industri di Jatim.
Direktur Utama PT PGN Hendi P. Santoso mengatakan, seiring dengan meningkatnya tambahan pasokan gas dari perusahaan migas ke PGN, maka secara bertahap mulai Juni 2012, pelanggan industri Jawa Timur akan menikmati kebutuhan energi gas bumi sesuai kontrak.
"Hingga Juni 2012, maksimum kontrak pelanggan industri di Jatim ada di kisaran 150 MMscfd (juta kaki kubik per hari, Red). Peningkatan pemakaian akan terus naik sampai akhir 2013 hingga dikisaran 180 MMscfd," ujarnya Minggu (17/6).
Menurut Hendi, saat ini PGN dan pelanggan industri tengah menyiapkan infrastruktur untuk penambahan pasokan gas. "Selain tambahan pasokan gas untuk pelanggan existing (yang sudah ada saat ini, Red), PGN juga akan memasok gas untuk pelanggan industri baru," katanya.
Data PGN menunjukkan, saat ini Strategic Business Unit (SBU) II Jatim melayani lebih dari 12 ribu pelanggan dimana 350 diantaranya"adalah pelanggan industri komersial. Seiring dengan pemenuhan kontrak kebutuhan gas bumi wilayah Jatim, pada Juli 2013 ditargetkan pelanggan industri dan komersial akan tumbuh lebih dari 15 persen menjadi 414 pelanggan.
Sementara itu, terkait dengan keberatan beberapa kalangan industri terkait penyesuaian harga gas untuk pelanggan di Jawa Barat (Jabar), Hendi mengatakan, agar palanggan industri memahami bahwa penyesuaian harga tersebut akan berdampak positif bagi naiknya pasokan gas. "Sama seperti bertambahnya pasokan untuk industri di Jatim," ujarnya.
Terhadap keberatan pelanggan industri Jabar, Hendri mengatakan, sebenarnya PGN sudah melakukan serangkaian program sosialisasi kepada para stakeholder, termasuk dengan kalangan industri baik formal maupun informal.
Dalam forum tersebut manajemen PGN juga menerima banyak masukan dari para pelaku industri. Berbagai informasi dari para stakeholder tersebut kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan penetapan harga gas. "Bahkan, saat ini kami tetap membuka diri untuk menjelaskan kembali posisi serta pertimbangan penyesuaian harga gas bumi kepada semua pihak," katanya.
Hendi mengakui, PGN tidak mungkin menanggung sendiri beban biaya akibat kenaikan harga gas oleh produsen yang mencapai lebih dari 200 persen. "Bahkan, kami sesungguhnya masih menanggung beban porsi pelanggan sebagai dampak kenaikan harga gas oleh produsen," klaimnya. (Owi)
♣ Jpnn
Posted in: Energi,PGN
PGN Incar Investasi LNG di Amerika Serikat
Selain itu, PGN berencana untuk mengakuisisi satu perusahaan migas.
PGN Incar Investasi LNG di Amerika Serikat |
PT Perusahaan Gas Negara Tbk berencana untuk berekspansi ke luar negeri dengan membentuk anak perusahaan yang bergerak di bidang huluLiquefied Natural Gas (gas alam cair/LNG). Selain itu, PGN berencana untuk mengakuisisi satu perusahaan migas di dalam negeri.
"Sampai saat ini, kami masih due diligence (uji tuntas) untuk investasi di domestik dan luar negeri di sektor hulu," kata Sekretaris Perusahaan PGN, Heri Yusup, di Jakarta, Selasa 4 September 2012.
Untuk investasi di luar negeri, menurut Heri, PGN saat ini sedang menjajaki beberapa perusahaan LNG di Amerika Serikat guna menjadi mitra dengan salah satu anak perusahaan PGN, PT Saka Energi.
"PGN sedang fokus mencari LNG di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan gas domestik, salah satunya bagi FSRU Lampung yang sedang dibangun PGN," ujarnya.
Heri menambahkan, selain menjajaki bisnis di AS, PGN saat ini juga sedang mengkaji untuk investasi di negara lainnya antara lain di Afrika dan Asia. "Tidak banyak yang dikaji, namun yang jelas lebih dari satu perusahaan," katanya.
Namun, ia memastikan bahwa rencana investasi di AS masih dalam proses yang panjang, karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui. PGN mengalokasikan investasi hingga Rp5 triliun untuk investasi sektor hulu migas di dalam dan luar negeri.
Sementara itu, untuk akuisisi perusahaan migas dalam negeri, Heri menjelaskan, dapat dilaksanakan pada akhir tahun ini. Saat ini, PGN sedang bernegosiasi mengenai harga saham perusahaan yang akan diakuisisi. PGN mengincar perusahaan migas yang memiliki blok migas yang telah berproduksi.
PGN, dia melanjutkan, akan menjadi pemilik minoritas di perusahaan migas tersebut dengan komposisi kepemilikan saham yang akan diambil kurang dari 30 persen. "Kisaran saham yang mau diambil di bawah 30 persen, namun kalau sudah berjalan bisa ditambah," ujar Heri. (art)
© VIVA.co.id
Posted in: Bisnis,PGN
PGN Incar Tujuh Blok Migas
Aksi Korporasi I Akuisisi di AS Terancam Mundur ke Tahun 2013
"Ada tujuh blok yang diincar, dan semuanya memiliki potensi bagus bagi bisnis perseroan di masa depan," tutur dia kepada wartawan di Yogyakarta, Rabu (10/10). Dia menambahkan saat ini emiten berkode PGAS itu tengah berjuang merampungkan due diligence untuk mengambil alih dua blok migas dari ketujuh blok.
"Setidaknya kami berharap bisa menyelesaikan proses akuisisi dua blok di tahun 2012," kata dia. Sayang, sampai sekarang, manajemen PGN belum bersedia membocorkan blok tersebut. Namun, Heri mengungkapkan luas dari blok migas itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Perseroan memiliki kualifi kasi tersendiri dari blok yang akan diakuisisinya, yakni merupakan blok yang siap berproduksi. "Kalau sudah siap produksi kan bisa langsung eksplorasi. Tapi kalaupun belum tapi punya potensi, bisa juga masuk daftar akuisisi," papar dia.
Saat ini, PGN tengah memproses perizinan akuisisi serta pencanangan studi kelayakan. Begitu pula dengan tahap penyelesaian negosiasi yang masih berlangsung. Keberadaan blok migas itu juga belum bisa dipastikan terkait jatuh tempo kontrak. Pasalnya, pemilik blok kerap berniat melepas asetnya itu lantaran adanya kebutuhan atau keinginan sendiri.
Anggaran Rp 5 Triliun
Perseroan menerapkan strategi negosiasi yang akan dilakukan secara bertahap mengingat perubahan harga sering terjadi di tahap selanjutnya. Karena itu, PGN belum dapat menjelaskan nilai investasi untuk akuisisi dua blok tersebut. Meskipun demikian, pihaknya telah menganggarkan dana 5 triliun rupiah untuk aksi akuisisi blok migas secara keseluruhan.
"Dana yang sudah kami siapkan itu 5 triliun rupiah untuk semua akusisi, bukan hanya akuisisi dua blok migas tersebut," papar dia. Dalam pengambilalihan dua blok migas, perseroan akan membentuk joint venture dengan pihak ketiga. PGN sendiri memastikan mengincar posisi sebagai pemegang saham minoritas atau 30 persen dalam kerja sama itu.
Blok di AS
Berbanding terbalik, progres akuisisi blok migas di Amerika Serikat oleh PGN justru terancam mundur akibat regulasi yang terlalu panjang. Sebelumnya, perseroan berharap dapat merealisasikan proyek akuisisi satu blok Amerika Serikat disclose tahun ini. "Melihat kondisinya, mungkin saja bisa mundur ke tahun 2013," tegas Heri.
Dia menilai perseroan harus berhadapan dengan berbagai persyaratan yang wajib dipenuhi dalam rangka akuisisi di negara Paman Sam itu. Sebelumnya, PGN berharap bisa mulai masuk ke bisnis hulu dengan merampungkan due diligence dengan satu perusahaan minyak dan gas yang berbasis di Amerika Serikat.
"Minimal satulah yang bisa kami selesaikan," ujar dia, beberapa waktu lalu. Rencananya, menurut Heri, perseroan akan mengakuisisi blok gas milik perusahaan tersebut. "Blok gas dari perusahaan oil and gas di Amerika Serikat yang akan kami ambil alih," ucap dia.
Hingga kuartal III ini, Heri menuturkan volume penjualan gas meningkat tipis dari periode triwulan II sebesar 800 mmscf per hari. Walaupun dia enggan membeberkan realisasi penjualan sampai September 2012, perseroan optimistis volume penjualan akan melonjak menjadi sekitar 900 mmscf apabila akuisisi blok migas di Indonesia dapat tercapai. [fik/E-7]
© Koran Jakarta
Posted in: Bisnis,PGN
PGN Tunda Akuisisi Blok Migas
Aksi Korporasi I Terminal Gas Lampung Senilai 200 Juta Dollar AS Mulai Dibangun
Jakarta - Rencana akuisisi blok minyak dan gas (migas) oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) diperkirakan mundur dari jadwal menjadi tahun 2013. Sebelumnya, emiten berkode PGAS itu mengagendakan akuisisi dua blok migas di Indonesia pada tahun ini. Menurut Direktur Perencanaan, Investasi, dan Manajemen Risiko PGN, Wahid Sutopo, proses akuisisi saat ini masih berjalan, seperti tahapan pendekatan dan penjajakan.
"Kami perkirakan akuisisi baru akan selesai enam sampai sembilan bulan lagi," kata dia kepada wartawan seusai menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (22/10). Itu artinya, agenda akuisisi yang rencananya dijadwalkan pada tahun ini dipastikan molor paling cepat Maret tahun depan atau paling lambat pertengahan 2013.
Awalnya, perseroan percaya diri untuk menuntaskan proses akuisisi tahun 2012 sebanyak dua blok. "Kami tengah berjuang merampungkan due diligence untuk mengambil alih dua blok migas, dan diharapkan tahun ini bisa kelar," papar Sekretaris Perusahaan, Heri Yusup, beberapa waktu lalu.
Wahid melanjutkan pihaknya akan merampungkan pengambilalihan satu blok migas di Tanah Air untuk membantu langkah ekspansi perseroan dari sisi produksi. "Prioritasnya memang di dalam negeri, dan satu blok dulu yang dituntaskan. Jangan serakahlah," ungkap dia.
PGN mengincar blok migas yang sudah mendekati produksi atau brownfield sehingga mudah untuk dilakukan eksplorasi. Aksi nonorganik akuisisi maupun operasional blok tersebut akan direalisasikan oleh anak usaha perseroan, PT Saka Energi Indonesia, mengingat secara aturan rencana itu harus dipisahkan.
Dari sisi pendanaan, dia belum dapat mematok investasi yang dibutuhkan untuk memuluskan aksi nonorganik ini. Sebelumnya, perseroan bakal menggunakan dana dari total investasi sebesar 5 triliun rupiah. "Nanti kalau sudah selesai due diligence, baru akan minta persetujuan komisaris terkait investasi karena angkanya tidak dipatok dari sekarang," jelas dia.
Wahid tak menampik pihaknya membidik beberapa blok migas di Indonesia. Hal itu sesuai dengan pernyataan Heri yang mengincar tujuh blok migas dan semuanya memiliki potensi besar bagi bisnis perseroan di masa depan.
Terminal Gas
Mulai hari ini, PGN telah merealisasikan pembangunan terminal gas cair terapung atau Floating Storage Regassifi cation Unit (FSRU) di wilayah Lampung. Wahid menuturkan pengerjaan konstruksi untuk terminal tersebut ditandai dengan penandatanganan komitmen pada pekan lalu.
"Hari ini mulai ada first cut, dan terminal mulai dibangun per hari ini," ujar dia. Pihaknya sudah mengirimkan tim ahli guna memulai pembangunan yang diperkirakan menelan investasi sekitar 200 juta dollar AS hingga tahun 2015, sesuai target penyelesaian konstruksi. FSRU Lampung didesain memiliki kapasitas terpasang sebesar 3 million tonnes per annum (mtpa/juta ton per tahun).
Seperti diketahui, FSRU di Lampung merupakan bagian dari pengalihan pembangunan proyek FSRU sebelumnya di Belawan, Sumatra Utara. Relokasi proyek tersebut dilakukan lantaran pasokan gas untuk Sumatra Utara akan diambil dari terminal penerima gas dan regasifikasi Arun, Lhokseumawe.
Karena itu, Menteri BUMN, Dahlan Iskan, saat itu resmi membatalkan dan mengalihkan proyek FSRU Belawan ke Lampung. Dalam hal ini, perseroan menggandeng operator penyedia kapal LNG dari Korea, yakni Hoegh. Hoegh merupakan provider yang ditunjuk PGAS untuk menggarap proyek FSRU di Belawan. Hoegh akan memodifikasi desain dan kapasitas FSRU di Lampung sesuai dengan kebutuhan di daerah tersebut. fik/E-7
@ Koran Jakarta
Posted in: PGN,Tambang
PGN Bangun Pipa Gas Bitung-Cimanggis 90 Km Senilai Rp 350 Miliar
Jakarta • PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk akan melakukan pembangunan pipa gas untuk jaringan distribusi Bitung - Cimanggis (Ringline 2) sepanjang 90 Km. Investasi tersebut senilai lebih dari US$ 36 juta atau kurang lebih Rp 350 miliar.
"Kamis, 20 Maret 2013 lalu, PGN telah menandatangani pengadaan pipa baja untuk jaringan distribusi Bitung - Cimanggis (Ringline 2) sepanjang 90 Km. Pipa baja dipasok oleh KSO PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk, PT KHI Pipe Industries, PT Indal Steel Pipe dengan diameter pipa 24 inchi senilai lebih dari US$ 36 juta," ujar Direktur Teknologi dan Pengembangan PGN Djoko Saputro dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/3/2013).
Ditambahkan Djoko, saat ini PGN juga masih dalam proses penyelesaian Proyek Pembangunan jaringan distribusi Cikande – Bitung (CP3B). Jaringan ini merupakan bagian dari distribusi Bojonegara-Bitung, dimana distribusi Bojonegara – Cikande (CP3A) telah beroperasi tahun lalu.
"PGN telah menyelesaikan konstruksi CP3B lebih dari 55 %. Penyelesaian kedua jalur tersebut akan memperluas jangkauan penyaluran gas bumi dari pipa transmisi SSWJ yang mengalir melalui Stasiun Bojonegara, dimana akan disalurkan ke pelanggan di jaringan distribusi melalui offtake di Cikande dan Bitung," ungkapnya.
Seperti diketahui sumber gas dari pipa transmisi SSWJ ke Jawa Bagian Barat dialirkan melalui dua stasiun, yaitu Bojonegara dan Muara Bekasi.
Proyek distribusi Bitung-Cimanggis merupakan kelanjutan kedua jaringan distribusi utama tersebut yang akan menghubungkan dengan jaringan distribusi eksiting yang telah beroperasi dari Muara Bekasi-Cimanggis.
Nantinya jaringan distribusi dari Bojonegara-Cimanggis tersebut akan dapat menyalurkan gas bumi dengan kapasitas maksimum sampai 216 MMMSCFD dengan penyaluran melalui Offtake Cikande dan Bitung sebesar 148 MMSCFD dan penyaluran ke pipeline Bitung – Cimanggis sebesar 68 MMSCFD.
"Jaringan-jaringan ini mempunyai nilai strategis dalam meningkatkan kehandalan penyaluran gas di jaringan distribusi Jawa Bagian Barat, yang meliputi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat serta dapat menjangkau pasar-pasar baru. Hal ini sejalan dengan komitmen untuk melayani dan meningkatkan kepuasan pelanggan serta bukti nyata kontribusi PGN dalam menjalankan amanah pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur gas bumi," tandas Djoko.(rrd/hen)
• detikFinance

Posted in: PGN
Sinergi Tiga BUMN Untuk Kapal BBG
Dua hari yang lalu, Kamis (3/9), tiga BUMN yaitu PT Perusahaan Gas Negara (PGN), PT Pelni dan PT ASDP Indonesia Ferry (ASDP) menandatangani kesepakatan kerjasama konversi penggunaan BBM menjadi BBG. PGN akan memasok kebutuhan BBG bagi armada kapal laut yang dioperasikan oleh dua BUMN Pelayaran, yakni PT. Pelni dan ASDP.
Selama ini, konsumsi BBM armada kapal laut PT Pelni mencapai sekitar 33,4 juta liter per bulan. ASDP sebesar 3,5 juta liter per bulan, sedangkan kapal perintis milik Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla) sebesar 14,4 juta liter per bulan. Kapal Perintis milik Ditjen Hubla dioperasikan oleh PT Pelni.
PGN melansir bahwa penggunaan BBG dapat menghemat biaya bahan bakar di kedua BUMN pelayaran tersebut hingga 40% dibanding menggunakan BBM. Menteri BUMN berharap program konversi ini mampu membuat ongkos transportasi laut di Indonesia menjadi lebih murah dan bersaing.
Belum dapat dipastikan kapan realisasi penggunaan BBG tersebut. Ketiga BUMN ini masih akan melakukan studi persiapan pengembangan infrastruktur dan teknologi BBG.
Catatan Jurnal Maritim, pada Juni tahun ini IMO (International Maritime Organization) sudah menerbitkan regulasi yang mengatur penggunaan BBG untuk jenis kapal non LNG Carrier. Regulasi yang disebut IGF code ini akan dimasukkan di dalam SOLAS.
IGF Code mengatur konstruksi dan pemipaan yang aman pada kapal yang menggunakan BBG. IGF Code juga akan berpengaruh pada penambahan aturan di SCTW untuk mengatur prosedur kerja dan pelatihan bagi ABK pada kapal BBG. [AS]
★ JMOL

Posted in: Energi,PGN