Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan

Teknologi Penginderaan- Lapan Luncurkan Satelit A2 Akhir Tahun Ini

Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejakusuma mengungkapkan, keberhasilan mengorbitkan satelit Lapan-Tubsat memberi semangat bagi pengembangan satelit berikutnya di Indonesia. Dalam hal ini Lapan telah mengembangkan dua satelit, yakni Lapan A2 yang berorbit ekuatorial dan Lapan A3 berorbit polar. “Karena orbitnya yang ekuatorial, Lapan A2 akan melewati wilayah Indonesia 14 kali per hari.Peluncuran A2 dilakukan menggunakan roket India,”ujar Bambang di Bogor kemarin.

Bambang mengaku belum dapat menentukan kepastian tanggal peluncuran A2 karena menunggu India. Ini terkait dengan posisi satelit yang hanya sebagai penumpang di roket India yang lebih besar.Perkiraan peluncuran dilakukan pada akhir tahun. “Ditargetkan antara September hingga Desember 2012 meluncur ke orbit,” ujarnya. Satelit A2 merupakan satelit kedua bikinan Lapan yang akan diluncurkan ke orbit setelah satelit Lapan-Tubsat (A1) diluncurkan lima tahun lalu dan saat ini masih mengorbit. Satelit A2 membawa misi utama untuk melakukan observasi bumi dan alat komunikasi penanganan bencana.

Satelit ini dimuati video RGB camera surveilance,sistem deteksi kapal laut automatic identifiction system (AIS), dan alat komunikasi Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia (Orari) untuk penanganan bencana. A2 juga bisa dipakai sebagai alat pertahanan negara. Bambang mengungkapkan, satelit Lapan-Tubsat yang diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Sriharikota, India, merupakan keberhasilan bagi bangsa Indonesia. “Indonesia patut berbangga karena satelit pertama buatan anak bangsa ini sudah lima tahun mengorbit. Banyak satelit mikro sejenis Lapan-Tubsat hanya mampu bertahan mengorbit di angkasa selama dua tahun,” paparnya.

Menurut Bambang, satelit eksperimen berukuran kecil dengan bobot 57 kg itu mampu mengorbit di ketinggian 650 km.“Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub dan melintasi wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari,”jelasnya. Satelit Lapan-Tubsatini telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana seperti gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan permukaan bumi. “Keberhasilan ini merupakan bukti keandalan para peneliti dan perekayasa Lapan,” imbuhnya.

Ketua Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia Indradi mengaku bangga dan mengapresiasi program Lapan yang akan kembali meluncurkan satelit andalannya untuk kepentingan bangsa. Sebab, selama ini Indonesia masih bergantung pada negara luar untuk pengambilan video dan foto dari angkasa.

“Kami mendukung sekali upaya Lapan dalam mengembangkan sejumlah satelitnya. Ini merupakan lokomotif untuk menyatukan semua kemampuan yang dibutuhkan bangsa semisal pertanian, kehutanan, penataan ruang, mitigasi bencana,dan banyak lagi manfaatnya,”jelasnya. (haryud)

• Seputarindonesia

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Medio 2012, Satelit Telkom-3 Lepas Landas

"Jika tidak ada aral melintang, Insya Allah satelit Telkom-3 akan kami luncurkan pertengahan tahun ini, sekitar Mei-Juni,” ucap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, di Jakarta, Sabtu (25/2/2012).

Satelit yang menelan investasi US$ 200 juta ini telah dua kali mengalami pengunduran jadwal peluncuran. Awalnya, satelit besutan pabrik ISS-Reshetnev Rusia itu akan diluncurkan pada Agustus 2011.

Namun, salah satu mitra lainnya, Thales Aleniaspace, belum menyelesaikan pekerjaan perangkat komunikasi (payload). Padahal, perangkat komunikasi ini sangat memegang peranan penting untuk infrastruktur satelit tersebut.

Telkom sempat optimistis pada akhir 2011 satelit masih bisa diluncurkan, meski akhirnya terpaksa diundur lagi menjadi triwulan pertama 2012. Akhirnya pada Mei-Juni nanti, satelit Telkom-3 siap juga diluncurkan.

Rinaldi menegaskan, tak ada dampak yang ditimbulkan dari pengunduran jadwal peluncuran Satelit Telkom-3 terhadap kualitas layanan yang dimiliki Telkom saat ini.

"Tidak ada hubungannya. Ini satelit baru, bukan menggantikan satelit existing," tegasnya. Telkom-3 akan memperkuat infrastruktur jaringan yang belum terjangkau teresterial serat optik.

Satelit ini juga untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur ICT serta memenuhi keperluan pemerintah dalam kaitan pertahanan dan keamanan (militer), maupun mendukung operasional perusahaan-perusahaan milik pemerintah.

Saat ini, lebih dari 160 transponder di Indonesia dimanfaatkan untuk GSM backhaul, jaringan data dan untuk penyiaran. Sementara pasokan domestik yang dilakukan oleh Telkom sendiri hanya 101 transponder. Permintaan saat ini masih tumbuh untuk keperluan penyiaran (broadcast), 3G, Internet, Triple Play dan Quardruple.

Satelit Telkom-3 berkapasitas setara dengan 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri dari 24 transponder @36MHz Standart C-band, 8 transponder @54 MHz Ext. C-band dan 4 transponder @36 MHz + 6 transponder @54 MHz Ku-Band.

Cakupan geografis Satelit Telkom 3 mencakup: Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext. C-band (Indonesia dan Malaysia) serta Ku-Band (Indonesia).

Dari 42 transponder Satelit Telkom-3 sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group.

Telkom terakhir kali meluncurkan satelit pada 12 November 2005 lalu. Satelit yang dinamakan Telkom-2 itu diluncurkan oleh roket Ariane-5 milik perusahaan ArianeSpace di Kouroue, Guyana, Prancis.( rou / eno )

• detik

Posted in: Satelit,Telkom

#Tag : Satelit Telkom

Satelit Lapan A2 Asli Buatan Anak Negeri

REPUBLIKA.CO.ID, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) kembali akan meluncurkan satelit observasi bumi. Satelit Lapan Orari (A2) dirancang dan dibuat sepenuhnya oleh para ahli Indonesia. "Waktu pembuatannya kurang lebih dua tahun. Satelit ini sepenuhnya dirancang dan dibuat para engineer Lapan. Kami dibimbing jarak jauh oleh engineer senior dari Technishe Universitaet Berlin, Jerman," kata Kepala Deputi Teknologi Kedirgantaraan LAPAN, Soewarto Hardhienata.

Satelit ini akan diluncurkan pada semester dua 2012 di Sriharikota, India. Rencananya satelit akan diangkut ke India pada Juni 2012. Peluncurannya menggunakan roket peluncur satelit PSLV (Polar Satellite Launch Vehicle) milik India.

Satelit ini merupakan pengembangan generasi sebelumnya (A1). Satelit A2 membawa misi mempermudah mitigasi bencana dengan bekerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari), melakukan pengamatan muka bumi Indonesia, dan mengamati arus kapa,l terutama yang berukuran besar di perairan negara. Untuk mendukung misinya satelit ini dilengkapi video RGB Camera Surveilance, Sistem Deteksi Kapal laut Automatic Identifiction System (AIS), dan Alat komunikasi Orari.

Satelit A2 yang tergolong mikro ini, akan mengorbit secara ekuatorial. yaitu dari arah barat ke timur, sekitar lintang enam sampai delapan. Satelit ini akan melewati Indonesia setiap 97 menit atau 14 kali sehari. Rencananya satelit ini akan berfungsi sampai sepuluh tahun ke depan.

• REPUBLIKA.CO.ID

Posted in: Indonesia Teknologi,LAPAN,Satelit

Lippo Grup Luncurkan Satelit Lippo Star

Melalui satelit inilah masyarakat kita yang tinggal di pelosok bisa mendapatkan akses informasi

Lippo Group akan meluncurkan Lippo Star, satelit telekomunikasi yang akan membawa Indonesia ke era baru teknologi komunikasi dan informasi. Satelit ini diharapkan mampu mendukung pembangunan nasional dengan cara menghubungkan penduduk Indonesia yang tersebar di 17.000 pulau.

Lippo Group bekerjasama dengan perusahaan asal Jepang SKY Perfect JSat Corporation dan Mitsui Corporation akan meluncurkan satelit yang diberi nama Lippo Star pada pukul 07.13 malam tanggal 15 Mei 2012 di Guyana Perancis (waktu Guyana Perancis, berarti di Indonesia sekitar pukul 05.00 pagi tanggal 16 Mei 2012).

Rezlan Ishar Jenie, Duta besar Indonesia untuk Perancis, mengatakan pada hari Selasa (15/5) bahwa peluncuran ini merupakan satu peristiwa yang sangat penting bagi Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau.

"Melalui satelit inilah masyarakat kita yang tinggal di pelosok bisa mendapatkan akses informasi. ini penting dalam konteks membangun bangsa karena kita mendapatkan akses informasi, pengetahuan, dan memungkinkan kita untuk bisa saling mengenal satu sama lain," ujar Rezlan.

Satelit yang bermuatan 44 KU-Band transponder ini memiliki daya cakup seluruh Indonesia, benua Asia, dan wilayah Oceania pada umumnya. Lippo Star akan diluncurkan dari Ariane Launch Complex no. 3 (ELA 3) milik Arianespace di Kourou, Guyana Perancis. Satelit ini akan segera beroperasi pada tahun ini dan memiliki masa aktif 15 tahun.

Lippo Star seberat 4.350 ton yang dibuat oleh Lockheed Martin Commercial Space System akan dibawa ke posisi orbit 124 derajat bujur timur oleh roket Ariane-5ECA. Dengan satelit ini, anak perusahaan Lippo group bisa menyelenggarakan siaran Direct-To-Home (DTH) ke seluruh Indonesia. Dengan satelit ini juga, akan semakin banyak program televisi yang bisa dihantarkan langsung ke rumah pelanggan di seluruh Indonesia.

"Dalam konteks dunia sekarang kita harus bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Target kita ingin memiliki satelit dan kemampuan sendiri sehingga berbagai hal yang berkaitan dengan keperluan satelit bisa dikerjakan bangsa sendiri," kata Rezlan.

Rezlan mengapresiasi Lippo Group dalam mengembangkan sektor teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia dan berharap Lippo Group dapat menjadi pelopor dalam mengembangkan satelit secara mandiri.

"Dalam konteks kerjasama ini bukan saja kita mendapatkan kemamapuan untuk memanfaatkan satelit tapi juga dapat kemampuan untk meningkatkan kapasitas. Pelan-pelan harus kita bangun. Pada akhirnya kita ingin mandiri," kata Rezlan.

Dengan adanya satelit ini, Lippo Group juga berharap bisa meningkatkan pangsa pasarnya. Berdasarkan hasil penelitian Media Partners Asia, antara tahun 2011-2020, akan ada lebih dari 318 juta sambungan televisi berbayar di Asia. Indonesia berpotensi memiliki 5 persen dari jumlah tersebut.

• Beritasatu

Posted in: Satelit

#Tag : Satelit

Geliat Bisnis Satelit di Indonesia Menggiurkan

Indonesia masih membutuhkan satelit sebagai tulang punggung jaringan karena sebaran dari serat optik belum merata

Ilustrasi

Dikawasan Asia, coumpound annual growth rate (CAGR) atau pertumbuhan untuk bisnis satelit mencapai 1,9 persen pada periode 2008 hingga 2016. Sementara di Indonesia, sejak 2010, bisnis satelit diperkirakan mencapai Rp 5,75 triliun atau tumbuh 10 sampai 15 persen setiap tahunnya. Angka itu berasal dari sewa transponder, penyewaan very small aperture terminal (VSAT), DTH, dan backbone/backhaul operator.

Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) mengungkapkan, Indonesia masih membutuhkan satelit sebagai tulang punggung jaringan karena sebaran dari serat optik belum merata.

Berdasarkan catatan, pemanfaatan transponder di Indonesia saat ini lebih dari 160 unit yang digunakan untuk GSM backhaul, jaringan data, dan selanjutnya untuk penyiaran. Sementara cadangan domestik yang dipasok oleh Telkom, Indosat, Cakrawala, dan PSN hanya 101 transponder.

Permintaan saat ini masih tumbuh untuk keperluan penyiaran (broadcast), 3G, internet, triple play, dan quardraple.

Indonesia sendiri memiliki 159 transponder melalui tujuh satelit milik lokal dengan pertumbuhan 10 persen setiap tahunnya. Sedangkan transponder asing sekitar 125 yang berasal dari berbagai negara seperti China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Belanda, Jerman, Malaysia, dan Singapura melalui 25 satelit.

Melihat potensi tersebut, Lippo Group pun akhirnya masuk ke bisnis ini dengan meluncurkan satelit perdananya bernama Lippo Star. Satelit telekomunikasi yang dibuat oleh Lippo Group bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang, SKY Perfect JSat Corporation dan Mitsui Corporation, sukses diluncurkan dari Guyana Prancis, Selasa (15/5) sore waktu setempat, atau Rabu (16/6) pagi sekitar pukul 05.00 WIB.

Lippo Star akan langsung beroperasi mulai tahun ini, dengan masa aktif mencapai 15 tahun. Berbobot 4.350 kilogram satelit bermuatan 44 KU-Band transponder ini memiliki daya cakup cukup luas, meliputi seluruh Indonesia, benua Asia, serta wilayah Oceania pada umumnya.

Terakhir, PT Telekomunikasi Tbk (Telkom) juga ingin memperkuat bisnisnya dengan meluncurkan satelit Telkom-3, yang sedianya akan diluncurkan pada pertengahan tahun ini dan menelan investasi US$ 200 juta dengan kapasitas 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri dari 24 transponder @36MHz Standart C-band, 8 transponder @54 MHz Ext. C-band dan 4 transponder @36 MHz 6 transponder @54 MHz Ku-Band.

Cakupan geografis satelit Telkom 3 mencakup Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext C-band (Indonesia dan Malaysia), serta Ku-Band (Indonesia). Dari 42 transponder satelit Telkom-3 sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group.

Beritasatu

Posted in: Bisnis,Satelit

#Tag : Bisnis Satelit

Satelit Telkom Segera Mengorbit

JAKARTA - Pertumbuhan bisnis satelit di Indonesia yang kian bagus mendorong PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) segera merealisasikan peluncuran satelit Telkom-3. Rencananya, satelit yang menelan dana investasi USD 200 juta ini akan diluncurkan pada Juni mendatang.

Tidak tanggung-tanggung, peluncuran satelit itu akan dipimpin oleh sumber daya manusia terbaik yang dimiliki Telkom. Sarwoto, yang baru saja melepas jabatan Direktur Utama PT Telkomsel mendapat penugasan sebagai Chief of The Mission Peluncuran Satelit Telkom-3.

"Sarwoto adalah ahli satelit yang telah teruji dan berpengalaman. Ia diyakini akan dapat menyukseskan peluncuran Satelit Telkom-3 yang rencananya akan meluncur pada Juni 2012," kata Head of Corporate Communication and Affair PT Telkom Eddy Kurnia.

Seperti diketahui, rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Telkom yang digelar pada 11 Mei lalu menetapkan perombakan jajaran direksi. Arief Yahya ditetapkan sebagai Dirut PT Telkom menggantikan Rinaldi Firmansyah.

Perubahan jajaran direksi PT Telkom langsung diikuti dengan perombakan jajaran direksi pada anak perusahaannya, PT Telkomsel. Berdasarkan keputusan rapat pemegang saham yang berlaku efektif mulai 16 Mei 2012, Alex Janangkih Sinaga diangkat menjadi Direktur Utama PT Telkomsel menggantikan Sarwoto.

Eddy Kurnia menjelaskan, keahlian Sarwoto dalam peluncuran satelit Telkom-3 sangat dibutuhkan. Terlebih, sudah dua kali rencana peluncuran ini mengalami pengunduran jadwal. Awalnya, satelit besutan pabrik ISS-Reshetnev Rusia itu akan diluncurkan pada Agustus 2011.

Namun, salah satu mitra lainnya, Thales Aleniaspace, belum menyelesaikan pekerjaan perangkat komunikasi (payload). Padahal, perangkat komunikasi ini sangat memegang peranan penting untuk infrastruktur satelit tersebut. Sempat dijadwal ulang pada 2011, akhirnya satelit ini benar-benar siap diluncurkan pada Juni 2012.

Satelit Telkom-3 berkapasitas 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri dari 24 transponder @36MHz Standart C-band, 8 transponder @54 MHz Ext. C-band, dan 4 transponder @36 MHz 6 transponder @54 MHz Ku-Band.

Dari 42 transponder satelit Telkom-3, sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group. Cakupan geografis satelit Telkom 3 mencakup Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext C-band (Indonesia dan Malaysia), serta Ku-Band (Indonesia).

Di Indonesia, sejak 2010 bisnis satelit diperkirakan mencapai Rp 5,75 triliun atau tumbuh 10 sampai 15 persen setiap tahunnya. Angka itu berasal dari sewa transponder, penyewaan very small aperture terminal (VSAT), DTH, dan backbone/backhaul operator.

Indonesia saat ini memiliki 159 transponder melalui tujuh satelit milik lokal dengan pertumbuhan 10 persen setiap tahunnya. Sedangkan transponder asing sekitar 125 yang berasal dari berbagai negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Belanda, Jerman, Malaysia, dan Singapura melalui 25 satelit. (dri)

• Jpnn

Posted in: Satelit,Telkom

#Tag : Satelit Telkom

Indonesia Akan Terbitkan Satelit Baru

TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienta mengatakan LAPAN akan mengorbitkan satu satelit bikinan Indonesia pada Agustus mendatang.

“Itu satelit seluruhnya bikinan Indonesia,” kata Soewanto di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin siang, 4 Juni 2012.

Satelit yang akan diorbitkan itu diberi nama LAPAN-A2. Ia mengatakan LAPAN menyertakan tiga perangkat utama dalam satelit tersebut. Perangkat pertama adalah pemotret Bumi. Nantinya Indonesia bisa memotret Bumi dari angkasa dengan satelit tersebut.

Perangkat kedua adalah pembaca sinyal kapal. Dengan perangkat tersebut, pemerintah bisa mengetahui setiap kapal besar yang memasuki wilayah perairan Indonesia. “Kapal secara otomatis mengirim sinyal yang akan ditangkap satelit,” kata Soewarto.

Kapal-kapal yang mampu dilacak oleh satelit itu umumnya adalah kapal besar. Satelit belum bisa menangkap keberadaan kapal nelayan kecil yang umumnya terbuat dari kayu. “Selama ada pengirim sinyal, bisa dilacak,” katanya.

Perangkat ketiga adalah penunjang komunikasi radio amatir. Perangkat tersebut akan sangat berguna bagi proses penanggulangan bencana. Ini untuk menjamin alat komunikasi radio amatir tetap menyala dalam situasi genting. “Kalau saat bencana, umumnya alat komunikasi konvensional mati,” ujarnya.

Satelit tersebut akan diorbitkan menggunakan sebuah roket peluncur satelit dari India. Soewarto mengatakan Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur satelit, sehingga pengorbitan satelit dilakukan di India.[ANANDA BADUDU]

♣ TEMPO.CO

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Satelit Karya Indonesia Siap Deteksi Bencana

 Lapan akan luncurkan dua satelit baru untuk penanggulangan bencana.

VIVAnews - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam waktu dekat ini akan meluncurkan dua satelit baru. Keduanya berguna untuk membantu penanggulangan bencana alam di Indonesia.

Deputi Teknologi Aerospace, Soewarto Hardhienata mengatakan, dua satelit yang akan diluncurkan adalah Satelit Lapan A 2 dan Lapan A 3. Masing-masing mempunyai keunggulan dalam pengamatan jarak jauh. Satelit ini bisa memberikan peringatan dini ketika ada bencana.

"Masing-masing satelit mempunyai misi yang berbeda-beda. Selain untuk komunikasi, juga untuk membantu penanggulangan bencana alam," ungkapnya usai memberi materi terhadap peserta workshop ASEAN Cooperation Project on Utilization Space Based Technologies for Disaster Risk Management yang bertempat di Hotel Salak, Bogor pada Selasa 26 Juni 2012.

Menurut Soewarto, kedua satelit yang akan diluncurkan ini merupakan karya bangsa Indonesia

"Oleh karena itu, kami meminta dukungan kepada masyarakat Indonesia dalam pembuatan dua satelit tersebut," ujarnya.

Lapan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Regional Workshop ASEAN Cooperation Project on Utilization Space Based Technologies for Disaster Risk Management. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan lembaga antariksa dan manajemen bencana dari Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, Brunei, Vietnam, dan Indonesia. Menurut kepala Lapan, Taufik Maulana, semua berkumpul guna membahas penanganan bencana berbasis Iptek antariksa.

Berdasarkan data yang didapat Agus Wibowo selaku Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana yang sering terjadi di negara Indonesia yakni bencana hydromologi, banjir, dan puting beliung.

"Tapi, ketiga bencana itu tidak memakan korban jiwa, hanya materi saja. Sedangkan, yang memakan korban jiwa adalah tsunami dan gempa bumi," ujar Agus kepada wartawan.

Menurut Agus, wilayah Indonesia yang rawan terjadi bencana alam yakni Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Untuk tingkat Kabupaten, wilayah yang paling rawan itu Kebumen, Jawa Tengah. (eh)

VIVAnews

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Peluncuran Telkom-3 mundur karena roket rusak

Jakarta (ANTARA News) - Peluncuran satelit Telkom-3 milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk kembali mundur dari jadwal semula pada pertengahan Juni 2012.

"Peluncuran satelit Telkom-3 terpaksa mundur lagi karena ada kerusakan pada roket peluncurnya," kata Direktur Keuangan Telkom, Honesti Basyir, di Kantor Kementerian BUMN di Jakarta, Rabu.

Menurut Honesti, kepastian kerusakan roket peluncur diketahui pada awal Juni 2012 setelah roket yang dimaksud akan digunakan oleh salah satu perusahaan.

"Ada perusahaan yang mau meluncurkan satelit sebelum kami (Telkom). Tapi ternyata roketnya mengalami kerusakan. Perusahaan dari negara mana, saya tidak tahu," ujar Honesti.

Untuk itu ia menjelaskan, Telkom masih menunggu hasil investigasi sampai semua "clear" sekaligus memastikan kapan satelit tersebut dapat diluncurkan.

Diketahui sejak tahun 2008, Telkom bersama dengan perusahaan satelit Rusia, Retshesnev, membangun satelit Telkom-3 dengan investasi sekitar 200 juta dolar AS.

Sedianya ditargetkan meluncur pada Agustus 2011, namun mengalami penundaan menjadi akhir 2011 meskipun terpaksa diundurlagi menjadi akhir sekitar Juni 2012.

Satelit Telkom-3 berkapasitas 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri atas 24 transponder @36MHz Standart C-band, 8 transponder @54 MHz Ext, C-band, dan 4 transponder @36 MHz, 6 transponder @54 MHz Ku-Band.

Dari 42 transponder satelit Telkom-3 tersebut, sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersilkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group.

Adapun cakupan geografis satelit Telkom 3 mencakup Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext C-band (Indonesia dan Malaysia), serta Ku-Band (Indonesia).

Menurut Honesti, penundaan pengorbitasn satelit merupakan hal yang biasa dalam industri satelit. "Bahkan menit-menit terakhir bisa dibatalkan baik karena teknis maupun karena masalah cuaca."

Meski demikian ia mengakui, akibat penundaan tersebut tetap mengalami kerugian meskipun dalam jumlah kecil.

"Pasti ada kerugian, Tapi kita kan masih memiliki satelit yang saat ini beroperasi yaitu Telkom-2," ujarnya.

Ketika ditanya mengapa Telkom memilih perusahaan Rusia untuk membangun satelit Telkom-3, Honesti mengatakan, bahwa Rusia memiliki teknologi ruang angkasa yang sudah bagus namun harganya murah.

"Pemilihan perusahaan Rusia dilakukan melalui "bidding", bukan penunjukan langsung," kilahnya.(R017)

Sumber : Antara

Posted in: Satelit,Telkom

#Tag : Satelit Telkom

Satelit Telkom-3 Dikabarkan Hilang

 Satelit Telkom-3 gagal mencapai orbit

Jakarta (ANTARA News) - Satelit Telkom-3 milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, pada Senin (6/8) malam dinyatakan gagal mencapai orbit.

Badan Antariksa Federal Rusia, Roscosmos, satelit Telkom-3 dan Express MD2 yang diluncurkan menggunakan roket proton dengan pendorong Briz-M tidak terdeteksi di orbit transisi.

Sumber dari perusahaan antariksa Rusia yang dikutip RIA Novosti memperkirakan kedua satelit itu praktis tidak akan berhasil mencapai orbit yang diperhitungkan.

Peluncuran satelit Telkom-3 sebelumnya mengalami beberapa kali penundaan. Semula satelit telekomunikasi itu akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2011 lalu diundur dan dijadwalkan kembali pada awal Juni 2012.

Namun satelit Telkom-3 yang akan mencakup Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext C-band (Indonesia dan Malaysia), serta Ku-Band (Indonesia) tersebut akhirnya baru diluncurkan pada 7 Agustus 2012.

Satelit Telkom-3 yang dibangun dengan investasi sekitar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp1,95 triliun itu semula akan diluncurkan bersama satelit Yamal-300K, sementara satelit Ekspress-MD2 akan diluncurkan bersama satelit Ekspress-AM8.

Bagi Telkom, ini adalah kali pertama meluncurkan satelit dengan menggandeng perusahaan Rusia, Reshetnev.

Sebelumnya satelit Telkom-2 diluncurkan menggunakan roket peluncur Ariane-5 milik perusahaan Perancis, ArianeSpace, pada November 2005 di Kouroue, Guyana, Perancis.

Sementara Head Of Corporate Communication and Affair (HCCA) Telkom, Slamet Riyadi, belum bisa memberikan informasi terkait penempatan satelitnya.

"Kami sedang melakukan koordinasi," kata Slamet saat dihubungi ANTARA.(R017)

(Antara)

 Satelit Telkom-3 Dikabarkan Hilang Sebelum Capai Orbit

http://assets.kompas.com/data/photo/2010/11/16/1638527p.jpg
Ilustrasi Satelit Telkom-3(Foto: SKYROCKET.DE)

JAKARTA, KOMPAS.com — Satelit Telkom-3 milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, Senin (6/8/2012) waktu Rusia, dinyatakan hilang beberapa jam sebelum mencapai orbit akibat gagal dalam tahapan Briz-M.

Seperti dikutip dari situs NASAspaceflight.com, satelit Telkom-3 diluncurkan bersama dengan satelit Ekspress-MD2 dengan menggunakan roket pendorong  Proton-M. Disebutkan, tahapan Briz-M  adalah pelepasan tanki bahan bakar diikuti relokasi  instrumen pengarahan dari komando pusat dalam rangka menghindari goncangan ketika tangki pembakar tambahan propelan dilepas.

Badan antariksa Rusia Roscosmos dalam rilisnya menyebutkan, pihaknya belum memastikan kedua satelit tidak masuk orbit walau ada masalah dengan salah satu  Briz-M. Sementara laporan media Rusia, RIA Novosti, memberitakan bahwa kedua satelit tersebut diperkirakan akan hilang karena tidak berhasil mencapai orbit.

 Sejarah kegagalan

Kehilangan dua satelit tersebut menambah sejarah kegagalan peluncuran satelit pada tahapan Briz-M, seperti ketika meluncurkan satelit Ekspress-AM4 tahun 2011. Menurut catatan, peluncuran satelit Telkom-3 mengalami beberapa kali penundaan, yang semula dijadwalkan pada pertengahan tahun 2011 mundur menjadi akhir tahun 2012. Lalu, dijadwalkan kembali awal Juni 2012 dan akhirnya diluncurkan pada 7 Agustus 2012.

Semula satelit Telkom-3 yang dibangun dengan investasi sekitar 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,95 triliun ini akan diluncurkan bersama satelit Yamal-300K, sementara satelit  Ekspress-MD2 diluncurkan bersama satelit Ekspress-AM8.

Bagi Telkom, ini adalah pertama kalinya meluncurkan  satelit dengan menggandeng perusahaan satelit Rusia, Retshesnev, karena sebelumnya satelit Telkom-2 menggunakan roket peluncur Ariane-5 milik perusahaan Perancis, ArianeSpace, pada November 2005 di Kouroue, Guyana, Perancis.

Menurut catatan, satelit Telkom-3 berkapasitas 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri atas 24 transponder @36MHz Standart C-band, 8 transponder @54 MHz Ext, C-band, dan 4 transponder @36 MHz, 6 transponder @54 MHz Ku-Band.

Dari 42 transponder satelit Telkom-3 tersebut, sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group.

Adapun cakupan geografis satelit Telkom-3 mencakup Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext C-band (Indonesia dan Malaysia), serta Ku-Band (Indonesia).

Sementara itu, Head of Corporate Communication and Affair (HCCA) Telkom Slamet Riyadi ketika dihubungi mengatakan belum bisa memberikan informasi. "Kami sedang melakukan koordinasi," ujar Slamet singkat.

(Kompas)

Posted in: Satelit,Telkom

#Tag : Satelit Telkom

Satelit LAPAN-A2 Siap Diluncurkan

Satelit LAPAN-A2 Siap Diluncurkan Ini adalah hasil pencitraan dari satelit Lapan A1 yang bakal diganti oleh Lapan A2 dan Lapan A3.

Bogor - Satelit buatan dalam negeri, LAPAN-A2 atau LAPAN-ORARI telah selesai dibangun dan siap diluncurkan. Kepala Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Ir Suhermanto Msc, mengatakan peluncuran satelit tersebut akan dilakukan pada pertengahan 2013 menggunakan roket India Dairi Sriharikorta.

Pembangunan satelit pemantau (surveilance) ini merupakan pengembangan satelit sebelumnya, satelit LAPAN-A1 atau LAPAN-TUBSAT yang juga diluncurkan dari India pada tahun 2007 lalu dan masih beroperasi hingga saat ini. "Padahal diperkirakan usia LAPAN-A1 hanya mencapai dua tahun," ujar Suhermanto di Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Kecamatan Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/8).

Suhermanto menuturkan, terdapat perbedaan antara satelit LAPAN-A1 dengan satelit LAPAN-A2. Pembuatan satelit LAPAN-A1 dilakukan bekerja sama dengan Technische Universitat Berlin di Jerman dan dikerjakan langsung oleh para peneliti dan perekayasa LAPAN. Sedangkan satelit LAPAN-A2 dari perancangan hingga pembuatannya dilakukan di Pusat Teknologi Satelit LAPAN di Rancabungur, Bogor.

Suhermanto menjelaskan satelit LAPAN-A2 dirancang untuk tiga misi yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. "Satelit ini memiliki sensor Automatic Identification System (AIS) yang dapat mengidentifikasi kapal layar yang melintas pada wilayah yang dilewati oleh satelit LAPAN-A2. Dengan demikian, LAPAN-A2 bisa digunakan untuk memantau lalu lintas wilayah laut Indonesia," jelas Suhermanto.

Satelit yang memiliki bobot 78 kilogram ini direncanakan mengorbit pada ketinggian 650 kilometer. Pada orbit tersebut, satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial ini akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari dengan durasi melintas sekitar 20 menit. "Pada orbit tersebut, AIS LAPAN-A2 mampu mendeteksi dengan radius lebih dari 100 kilometer dan mampu untuk menerima sinyal dari maksimal 2000 kapal dalam satu daerah cakupan," ujar Suhermanto.

( Republika )

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Komponen Satelit Lapan A2 90 persen impor

Jakarta - Sebanyak 90 persen komponen Satelit Lapan A2 ciptaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) masih didatangkan dari luar negeri atau impor, demikian dikatakan Direktur Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Suhermanto. "Komponen yang didatangkan dari luar negeri umumnya elektronika seperti chip, sensor, transmitter, termasuk logam dan kamera," kata Suhermanto di sela-sela jumpa pers di Pusat Teknologi Satelit LAPAN Bogor, Jumat.

Suhermanto mengharapkan industri elektronika di Indonesia mampu mendukung teknologi pembuatan satelit sehingga LAPAN hanya perlu mendesain dan menguji komponen satelit.

"Target (peluncuran Lapan A2) semula (pada) 2012..kami terkait pengujian," kata Suhermanto tentang satelit yang mulai diproduksi sejak 2009 itu.

Terkait peluncur, Suherman mengatakan satelit yang akan dikendalikan dari stasiun bumi Rumpin Serpong Tangerang, Rancabungur Bogor, dan Biak Papua itu menumpang roket PSLV-C23 milik Sriharikota India.

"Muatan utama roket (PSLV-23) itu adalah satelit Aerosat dengan misi astronomi yang berbobot lebih dari 600 kilogram," kata Suherman.

Dalam roket itu, lanjut Suherman, terdapat ruang untuk satelit-satelit kecil berbobot kurang dari 100 kilogram yang disebut 'piggybac'.

"(Peluncuran satelit) kita menunggu (kesiapan) muatan utama. Jadi, kita sudah harus siap sebelum satelit utama itu," kata Suherman.

Suherman mengatakan biaya peluncuran satelit Lapan A2 sekitar separuh dari harga normal peluncuran satelit utama yang mencapai 10ribu dolar AS per kilogram dan belum termasuk asuransi.(I026)

( Antara )

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Tiga Misi Satelit Lapan A2

http://img.antaranews.com/new/2012/08/small/20120831masa_lapan_a2.jpg JAKARTA - Satelit Lapan A2 buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2013 dari India mengemban tiga misi utama, kata Direktur Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Suhermanto.

Saat memberikan keterangan pers di Bogor, Jumat, Suhermanto mengatakan misi pertama satelit yang dibangun sejak tahun 2009 itu adalah memantau permukaan bumi dengan kamera video analog dan kamera digital beresolusi hingga enam meter dan cakupan area gambar 12 kilometer persegi.

Misi keduanya, lanjut dia, membantu komunikasi teks dan suara untuk mitigasi bencana dengan aplikasi Automatic Position Reporting System (APRS) lewat frekuensi S-Band UHF.

Sementara misi ketiga satelit berdimensi 50 x 47 x 38 sentimeter itu adalah mendukung pengawasan wilayah maritim Indonesia dengan memanfaatkan data Automatic Identification System (AIS), terutama pemantauan lalu lintas kapal laut yang mempunyai perangkat transmisi data.

"Kapal-kapal niaga dengan bobot lebih dari 100 ton diwajibkan mengirim identitas mereka," kata Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Robertus Heru Triharjanto tentang misi ketiga Lapan A2.

Heru memperkirakan satelit berbobot 78 kilogram itu dapat digunakan selama tiga tahun dengan lintasan orbit berinklinasi 6-8 derajat dekat garis ekuator.

"Yang membatasi umur satelit adalah daya tahan kameranya. Satelit Tubstat yang diperkirakan hanya berusia tiga tahun sejak 2007 saja masih dapat dioperasikan," kata Heru.

Satelit Lapan A2 yang disebut lebih baik dibanding satelit Lapan A1 atau Tubstat memiliki sistem pengendalian orbit satelit lebih tepat untuk menghasilkan gambar yang lebih rinci.

(Republika)

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Lima Tahun Lagi, RI Mandiri Satelit

Setelah A2, LAPAN siap meluncurkan satelit A3 dan A4.

Model Satelit A2 buatan LAPAN
Model Satelit A2 buatan LAPAN

Setelah mengembangkan satelit A2 yang seluruh tahapnya dilakukan di dalam negeri, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mempersiapkan pembangunan satelit A3 dan satelit A4. Upaya ini merupakan langkah LAPAN dalam mewujudkan pembangunan satelit yang mandiri. Ketua Pusat Satelit LAPAN, Suhermanto, menyebutkan, satelit A2 merupakan progres lanjut dari Satelit A1-Tubsat. Sebelumnya, A1-Tubsat merupakan satelit yang dikembangkan melalui tahap transfer pengetahuan dari luar negeri.

"Tubsat semua dilakukan di luar negeri (Berlin), dan kami mengikuti konsep mereka. Nah, sekarang A2 kami bawa seluruhnya di dalam negeri. Pengujian, perancangan, operasi, dilakukan di dalam negeri," kata Suhermanto di sela paparan satelit A2 di Pusat Satelit LAPAN, Bogor, Jumat 31 Agustus 2012.

Satelit A3 yang akan menyusul diluncurkan pada 2014 direncanakan menggunakan perangkat lunak pendukung satelit yang dilakukan di dalam negeri. Untuk memenuhi ambisi itu, saat ini LAPAN sudah mulai mengawali dengan mengumpulkan komponen dan bahan pendukung pembuatan satelit A3 dan A4.

Suhermanto mengatakan, komponen satelit A2 hampir seluruhnya berasal dari luar negeri.

Sementara itu, Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit, Robertus Haru Triharjanto, mengatakan, satelit A3 akan hadir dengan muatan kamera observasi bumi dengan kamera 4 band multispectral scanning yang berfungsi untuk memetakan klasifikasi tutupan lahan dan pemantauan lingkungan.

Kamera itu beresolusi 18 m dengan cakupan 120 km dan kamera resolusi 6 m dengan cakupan 12 km x 12 km. Satelit ini juga akan mengorbit 650 km.

"Jadi, bisa mengenali jenis dan umur tanaman yang disensor," ujarnya. Sama seperti A2, Satelit A3 yang berdimensi 50x50x70 cm akan menggunakan sensor AIS dan APRS.

Jika LAPAN sukses meluncurkan Satelit A3, pihak LAPAN akan segera melanjutkan pembangunan satelit khusus untuk operasional pada 2017 dengan menghadirkan Satelit A4.

Satelit ini disebut akan diaplikasikan khusus untuk kehutanan dan perikanan. Khusus untuk pengembangan satelit operasional, LAPAN memberikan sinyal akan menggandeng pihak luar negeri.

"Kami sedang jajaki kerja sama dengan Hokkaido University, Jepang," kata Suhermanto.

Ia menambahkan, dengan suksesnya peluncuran Satelit A2, LAPAN sudah bersiap untuk tahap penguasaan dan pengembangan satelit. Satelit A2 dan A3 masing-masing diprediksi beoperasi selama tiga tahun. (art)

 LAPAN Kejar Pembangunan Satelit, Ini Alasannya

LAPAN mengakui pembangunan satelit di Indonesia terbilang lambat.

ilustrasi peluncuran satelit
ilustrasi peluncuran satelit

Upaya pembangunan satelit dirintis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sejak meluncurkan Satelit A1-Tubsat pada awal tahun 2007 lalu. Pertengahan tahun depan, LAPAN akan segera meluncurkan satelit penerus A1, yakni satelit A2 di India.

Lalu dalam jangka empat tahun setelah meluncurkan satelit A2, LAPAN akan berencana akan meluncurkan dua satelit, satu satelit eksperimental dan satu satelit operasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mewujudkan pembangunan satelit yang mandiri.

Ketua Pusat Satelit LAPAN, Suhermanto mengatakan, pola pembangunan satelit yang dijalani oleh Indonesia memang tergolong lambat. Hal ini diakibatkan dukungan industri teknologi pendukung satelit di Indonesia sangat kurang.

"Biayanya sangat mahal, perlu dukungan industri elektronika, logam yang bagus," kata Suhermanto di kantor Pusat Satelit LAPAN di Bogor, Jumat 31 Agustus 2012.

Ia membandingkan dengan Korea Selatan yang cepat dalam pembangunan satelit. Sebab, dukungan industri elektronikanya bagus.

Korea Selatan, lanjutnya, dalam waktu dekat, langsung dapat mengaplikasikan pengetahuan pembangunan satelit dari luar negeri. Bahkan Korea Selatan kemudian dapat meningkatkan kemampuan membuat roket sebagai wahana peluncur.

Selain problem industri pendukung, di Indoensia pembangunan satelit tekendala oleh regulasi frekuensi, baik itu di dalam negeri maupun frekuensi di luar negeri. Meski terbilang pembangunan satelit Indonesia lambat, tapi Suhermanto mengatakan pola yang dijalankan cukup sistematis dan mendapat pengakuan dari negara lain.

"Pembangunan satelit di sini dinilai baik. Mozambik, Malaysia dan Thailand mengakui pengalaman kita dalam pembangunan satelit," ujarnya.

Ia mengatakan pola pembangunan satelit Indonesia mempunyai visi penguasaan pembuatan satelit mandiri secara bertahap. Awalnya pembangunan satelit dilakukan dengan transfer pengetahun teknologi dari negara luar, kemudian berusaha membuat perangkat lunak maupun keras dari dalam negeri dan oleh para ahli dari Indonesia. "Setelah transfer teknologi, sistem yang ada di dalam satelit harus kita kuasai," ujarnya.

Sistem tesebut di antaranya adalah reaction wheel, star sensor (sebuah navigasi sikap satelit yang dapat menggerakkan kamera), kamera, PCDH (Payload Control Data Handling), transmitter, coding dan encoding dalam pengiriman data.

Dengan sering meluncurkan satelit ke orbit juga berarti Indonesia dapat mengisi slot di luar angkasa. Menurutnya, sangat rugi jika slot di luar angkasa tidak diisi. Sebab, nantinya slot akan dipenuhi oleh satelit dari negara-negara besar.

"Di slot orbit kan bayar, memang sudah diatur slotnya. Tapi kalau tidak dipakai, bisa hilang slot itu, kita harus rebut slot orbit," katanya. (eh)

 Luncur Tahun Depan, Ini Fungsi Satelit A2 LAPAN

LAPAN akan meluncurkan satelit ini di India.

Satelit Tubsat Lapan pernah mengambil citra Kawah Merapi
Satelit Tubsat Lapan pernah mengambil citra Kawah Merapi

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) siap meluncurkan satelit A2. Kelak, satelit ini akan menjalankan misi pengamatan bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio amatir pada pertengahan tahun depan.

Satelit ini merupakan suksesor satelit LAPAN sebelumnya, Satelit A1 Tubsat. Selain memiliki kemampuan memantau permukaan bumi melalui video survailence seperti dalam Satelit A1 Tubsat, dalam versi A2 ini ditambahkan sensor yang lebih, canggih yaitu receiver Automatic Identification System (AIS), muatan radio amatir melalui Automatic Posisition Reporting system (APRS) dan kamera video analog dan digital yang lebih baik.

Sensor Automatic Identification System (AIS) berfungsi untuk mendeteksi kapal laut yang melewati perairan Indonesia. Teknologi ini bahkan juga mampu mendeteksi potensi pencurian ikan di perairan Indonesia.

"Setiap kapal legal dilengkapi dengan transmitter, jadi terlacak posisinya," ujar Robertus Heru Triharjanto, Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit, di Pusat Satelit LAPAN, Rancabungur, Bogor, Jumat 31 Agustus 2012. Untuk saat ini, semua transmitter kapal laut akan di-upgrade untuk menyesuaikan dengan sensor AIS.

Sementara sensor Automatic Posisition Reporting system (APRS) berfungsi menyediakan fasilitas komunikasi untuk bantuan mitigasi bencana melalui komunikasi teks dan suara via radio amatir.

"Misalnya terjadi bencana, dan komunikasi mati, data dari satelit ini memberikan bantuan komunikasi alternatif melalui radio amatir," tambahnya.

Dua kamera video yang dipasang dalam satelit ini mempunyai resolusi tingkat tinggi 6 m dengan jangkuan masing-masing 12 Km x 12 Km dan 3,5 Km x 3,5 Km. Satelit berdimensi kubus dengan ukuran 50x47x38 cm dan berat 78 kg ini akan diluncurkan melalui roket PSLV-C23 milik India pada pertengahan tahun depan.

"Dalam peluncuran nanti, satelit kita hanya piggy back (muatan roket) saja. Jadi kita menunggu muatan utama roket tersebut," kata Suhermanto, Kepala Pusat Satelit LAPAN.

Seluruh proses pembangunan satelit ini yang meliputi uji coba, desain, perancangan dan operasi dilakukan dari Indonesia. "Begitu diluncurkan kita akan pantau melalui tiga stasiun satelit LAPAN di Serpong, Bogor dan Biak (Papua)," katanya.

Satelit ini akan mengorbit pada ketinggian 650 Km dengan pola equatorial yang menyusuri wilayah RI sebanyak 14 kali, lebih sering jika orbit satelit polarial. "Jadi ini akan lebih optimal memantau wilayah perairan RI, kita juga lakukan optimalisasi kendali satelit agar lebih presisi," ucap Suhermanto.

Suhermanto juga menambahkan, untuk proses peluncuran sampai satelit lepas dari roket sudah diasuransikan. (umi)

© VIVA.co.id

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

★ LAPAN Kembali Uji RX-550

Garut - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali menyempurnakan kemampuan roket RX-550 yang segera diluncurkan pada 2013 mendatang.

Dalam persiapannya itu, LAPAN kembali melakukan uji statik motor roket RX-550 yang akan dilakukan pada Sabtu( 29/9) di Kecamatan Pangmeungpek, Kabupaten Garut. Sejumlah alat instalasi mulai dipasang pada roket RX-550 tersebut. Kepala Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Sudihartono menyebutkan, beberapa alat tersebut terdiri dari alat untuk mengukur daya dorong, tekanan, vibrasi, tempratur, dan data visual.

Sejumlah peralatan itu, kata Sudi, akan menentukan apakah motor roket senilai Rp 5 miliar ini akan layak menjalani uji terbang atau tidak di 2013 nanti. ”Roket RX-550 sendiri masih dalam tahapan penelitian dan penyempurnaan. Di 2011 lalu, kami sempat melakukan uji statik. Namun,karena tidak sempurnanya struktur material pada bagian nossel motor roket saat itu, RX-550 masih belum bisa dikatakan layak uji terbang. Sekarang, uji statik motor pendorongnya akan kita lakukan kembali,” kata dia.

Sudi mengungkapkan, belum sempurnanya struktur komponen nossel motor roket disebabkan terbatasnya kualitas material logam. Saat itu, logam pada komponen nossel motor roket hanya memiliki ketebalan 3 mm. ”Idealnya, ketebalan struktur material 6 mm. Sedangkan kondisi saat itu ketebalannya hanya 3 mm. Jadi yang seharusnya material itu bisa menahan panas sebesar 3.000 derajat celcius selama waktu pembakaran propelan sekitar 14 detik, ini malah hanya tahan dalam waktu 7 detik saja. Akibatnya, saat memasuki detik ke 8, material nossel robek dan pecah,” ungkapnya.

Seperti diketahui, nama roket RX-550 diambil dari diameter motor roket yang berdiameter 550 milimeter. Panjang motor roket setidaknya mencapai 6 meter. Sedangkan panjang keseluruhan roket bisa mencapai 9 meter lebih. Fungsi khusus roket RX-550 adalah sebagai pendorong (booster) utama yang akan membawa satelit ke luar angkasa dengan kapasitas bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

Roket ini diprediksi memiliki jarak tempuh sejauh 150 km dengan jangkauan sepanjang 300 km. Roket RX-550 merupakan penyempurnaan beberapa roket produksi Lapan sebelumnya, yaitu RX- 420 di tahun 2009 dan RX-320 di tahun 2008. Karena belum bisa menjangkau target yang ditetapkan, kedua roket itu pada akhirnya disempurnakan kembali melalui proyek pembangunan roket RX-550.

Dana pembangunan roket RX-550 ini sebesar Rp 5 miliar. Di bagian lain,Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN Clara Yono Yatini mengatakan, saat ini hanya ada 30 peneliti astronomi, itu pun terpusat di LAPAN. “Sebetulnya banyak, hanya saja kemungkinan penghargaan di dalam negeri terhadap mereka (peneliti antariksa) kurang,” katanya.

( Seputar Indonesia )

Posted in: LAPAN,Roket,Satelit

Empat Pulau Dikaji untuk Bandar Antariksa

Ternate, — Empat pulau, yaitu Biak (Papua), Morotai (Maluku Utara), Nias (Sumatera Utara), dan Enggano (Bengkulu), dikaji untuk menjadi lokasi pembangunan bandar antariksa. Bandar antariksa ini diperlukan seiring dengan kian dibutuhkannya satelit untuk penginderaan jauh dan agar Indonesia tidak lagi tergantung pada teknologi dan bandar antariksa negara lain.

Erna Sri Adiningsih dari Pusat Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa mengatakan hal ini saat menjadi pembicara dalam seminar internasional bertajuk percepatan dan pembangunan ekonomi Indonesia menuju industrialisasi kelautan dan perikanan berkelanjutan, di Ternate, Maluku Utara, Rabu (12/9/2012). Seminar diadakan dalam kaitan Sail Morotai 2012.

Dari kajian awal, menurut Erna, keempat pulau tersebut dinilai layak untuk menjadi lokasi bandar antariksa. Di antaranya karena dekat garis khatulistiwa, berada dekat laut bebas, sehingga bisa meminimalkan risiko akibat peluncuran roket dan potensi bencana seperti gempa dan tsunami.

Erna menjelaskan, di Morotai, Maluku Utara, enam lokasi telah dikaji, yaitu di Tanjung Gurango, Pulau Tabailenge, Bido, Mira, Sambiki, dan Sangowo. Dari keenam lokasi itu, yang lebih cocok untuk bandar antariksa berada di Sangowo atau persisnya tiga kilometer dari Sangowo.

"Lima lokasi lainnya kurang cocok karena sudah ada rencana lahan di sana dipakai pemerintah dan karena topografi yang kurang baik," ujarnya.

Erna mengungkapkan, kajian yang telah dilakukan di keempat pulau itu baru kajian awal. Perlu ada penelitian lebih lanjut sebelum memutuskan lokasi yang tepat untuk bandar antariksa.

( Kompas )

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

★ Indonesia Luncurkan Roket Tiga Digit Tahun Depan

Rhan 122

Jakarta - Indonesia siap meluncurkan roket tiga digit atau roket berdaya jangkau 100 km-900 km pada 2013 untuk memperkuat sistem persenjataan negara.

"Tahun depan kita akan mulai menguji statis maupun uji dinamis roket berdaya jangkau tiga digit," kata Asisten Deputi Menteri Riset dan Teknologi bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis Goenawan Wybiesana pada Evaluasi Akhir Tahun di Jakarta, Kamis.

Untuk tahap awal, ujarnya, lebih dulu dikembangkan roket balistik berdaya jangkau 100 km dengan kaliber 350 mm sebanyak 10-20 unit, kemudian dilanjutkan dengan roket balistik kaliber berikutnya, disusul roket kendali.

Kementerian Ristek sebagai bagian dari konsorsium roket, turut mendanai proyek tersebut sebesar Rp 10-15 miliar pada 2013. Selain Kemristek, konsorsium roket beranggotakan PT Pindad, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, Lapan, BPPT, LIPI, ITB, UGM, ITS, dan lainnya.

Teknologi roket, ujarnya, dibangun dari empat kemampuan yakni teknologi material, teknologi sistem kontrol, teknologi eksplosif dan propulsi serta teknologi mekatronik yang seluruhnya sudah dikuasai.

Program roket nasional, ia menerangkan, telah dimulai sejak 2005 dengan mensinergikan berbagai lembaga terkait, dilanjutkan pembuatan desain awal dan uji prototipe serta pengembangan desain pada 2010.

Pada 2011, urainya, konsorsium roket ini meluncurkan freeze prototype 1 (prototipe jadi) yang setelah dibeli Kementerian Pertahanan dinamakan R Han 122 untuk dibuat menjadi massal melalui program 1.000 roket.

"R Han 122 ini memiliki kaliber 122 mm berdaya jangkau 15 km, lalu pada tahun yang sama, daya jangkaunya R Han 122 ditingkatkan menjadi 25 km dan pada 2012 R Han ditingkatkan lagi kalibernya menjadi 200 mm dengan daya jangkau 35 km," katanya.

Sebelum program roket untuk kepentingan pertahanan negara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah lama menguasai teknologi roket untuk kepentingan riset peluncuran satelit.(D009)

● Antara

Posted in: Roket,Satelit

#Tag : Roket Satelit

Telkom-3 Gagal Orbit, Telkom Siapkan Satelit Pengganti

http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/19/1429328p.jpg Jakarta - Setelah satelit Telkom-3 gagal mengorbit dan tak dapat digunakan lagi, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) akan tetap meluncurkan satelit pengganti Telkom-3. Namun, untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, Telkom bakal menyewa satelit.

Complaine Risk Management Telkom Ririk Ardiansyah mengatakan, pihaknya sedang mempertimbangkan untuk menyewa satelit atau membuat satelit baru. "Butuh 4 juta dollar AS untuk sewa satelit dalam jangka waktu 90 hari," katanya usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (18/10/2012).

Telkom telah mengasuransikan sepenuhnya Satelit Telkom-3. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penjamin, siap membayar dana klaim asuransi tersebut.

Berdasarkan data yang dipaparkan Telkom kepada Komisi VI DPR, Telkom dan Jasindo telah mengeluarkan rilis kesepakatan, dan dana asuransi itu keluar selambat-lambatnya pada pertengahan November 2012.

Ririk menambahkan, satelit Telkom-1 secara operasional bisa digunakan sampai 2016, sedangkan Telkom-2 sampai 2020.

Sebelumnya, Direktur Utama Arief Yahya mengatakan kepada KompasTekno, bahwa Telkom tetap harus membuat satelit Telkom-3 demi keamanan nasional. "Bangsa ini butuh keamanan nasional. Militer dan finansial harus kita sendiri yang pegang," tegasnya.

Perlu waktu 2 tahun untuk memanufaktur satelit. Sementara, waktu yang dibutuhkan untuk mendesainnya lebih kurang 6 bulan. "Kalau Telkom menggunakan pemanufaktur yang sama, maka hanya perlu waktu 2 tahun. Sebab, tidak butuh waktu lagi untuk mendesainnya," jelas Arief.

Satelit Telkom-3 gagal mengorbit setelah diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan, 7 Agustus 2012. Kala itu, Telkom menggandeng perusahaan kontraktor satelit ISS Reshetnev asal Rusia. Biaya pembuatan hingga peluncuran Satelit Telkom-3 ini membutuhkan dana 200 juta dollar AS (sekitar Rp 1,9 triliun).

Satelit Telkom-3 memiliki kapasitas 42 transponder, yang terdiri dari 24 transponder Standard C-band 36MHz, 8 transponder Extended C-band 54MHz bandwidth, 4 transponder KU-band 36MHz bandwidth, dan 6 transponder KU-band 54MHz bandwidth.

Cakupan geografis Standard C-band adalah Indonesia dan negara Asia Tenggara lain, Extended C-band mencakup Indonesia dan Malaysia, dan KU-band mencakup seluruh Indonesia.

© Kompas

Posted in: Satelit,Telkom

#Tag : Satelit Telkom

Indonesia Targetkan Bisa Membuat Satelit Mini pada 2025

Yogyakarta - Kepala Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Suhermanto, mengatakan melalui simposium internasional, Indonesia ingin meningkatkan industrialisasi teknologi antariksa dan aplikasinya. Indonesia berusaha mengejar target pada tahun 2025 bisa membuat satelit mini.

"Kami mengejar target agar pada 2025, kami sudah masuk tahapan bisa membuat satelit mini dengan bobot di bawah 500 kg. Kami sedang merancang seluruh kesiapan infrastrukturnya," kata Suhermanto seusai pembukaan Simposium Asia Pacific Space Cooperation Organization (APSCO), di Yogyakarta, Senin (5/11).

Sebanyak 30 negara yang tergabung dalam APSCO berkumpul di Yogyakarta pada 5-8 November untuk membahasa masa depan program pengembangan satelit komunikasi. Simposium itu merupakan wadah pertukuran informasi dan pengalaman di bidang satelit komunikasi dan aplikasi. Selain itu, melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan potensi kerja sama di antara sesama anggota APSCO dan di kawasan Asia Pasifik. YK/P-3

© Koran Jakarta

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit

Tahun 2025, Lapan Punya Target Ini

Serpong - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat NASA punya target mendarat di asteroid dan Mars pada tahun 2025. Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) juga punya target dalam jangka waktu tersebut.

"LAPAN punya target bisa meluncurkan satelit sendiri," kata Bambang Tejasukmana, Kepala LAPAN, Selasa (27/11/2012).

Bambang mengatakan, selama ini, Indonesia selalu menluncurkan satelitnya di negara lain seperti di India dan Rusia. Tahun 2025, diharapkan Indonesia mandiri dalam peluncuran satelit.

"Peluncuran satelit ini adalah tahap awal. Setelah itu baru lunar program (misi ke Bulan), Mars dan yang lebih jauh," jelas Bambang usai seminar "Menyongsong 50 Tahun Kedirgantaaraan Nasional" yang diadakan di Puspiptek Serpong hari ini.

Untuk mendukung target tersebut, LAPAN akan membangun bandar antariksa di Morotai. Wilayah ini strategis sebab terletak di dekat Samudera Pasifik, belum terlalu padat dan dianggap punya risiko sosial yang kecil.

"Saya yakin ini pasti bisa," cetus Bambang.

© Kompas

Posted in: LAPAN,Satelit

#Tag : LAPAN Satelit