Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Roket buatan Indonesia ujicoba penembakan di Sumsel

Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenristek, Anny Sulaswatty, dalam penjelasannya menyebutkan bahwa Roket R-Han 122 itu merupakan produksi hasil kerja sama anak bangsa Indonesia, diwujudkan melalui penelitian bersama PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Dahana, didukung penuh Kemenristek.

Ujicoba dan demo penembakan Roket R-Han 122 itu dipusatkan di Puslatpur TNI AD Baturaja, Kabupaten OKU, Sumsel, merupakan bagian dari program pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI yang didukung industri strategis di Indonesia.(B014)

ANTARA News

Posted in: Alutsista,PINDAD,Roket

Lapan Gandeng ITS Buat Roket

JAKARTA - Selama ini, untuk memperkuat bidang pertahanan dan keamanan, Indonesia masih membeli peralatan perang. Salah satunya adalah roket. Untuk itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggandeng sejumlah universitas untuk membuat roket.

Keberhasilan riset tersebut akan menandakan kemandirian Indonesia dalam menghasilkan roket sendiri. Selama ini, Lapan memang telah bisa menghasilkan roket namun ukurannya masih kecil sehingga belum mencukupi sebagai bagian dari teknologi pertahanan negara.

Salah satu universitas yang diajak dalam proyek ini adalah tim dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. ''Selama ini kita selalu membeli roket dari negara lain yang kualitasnya pasti lebih rendah daripada roket di negeri asalnya,'' kata salah satu anggota tim ITS, Widyastuti seperti disitat dari ITS online, Kamis (19/4/2012).

Hal ini tentunya sangat miris. Apalagi ketika mengingat bahwa proyek pembuatan roket di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1960-an, bersamaan dengan India dan Pakistan. ITS memang tidak sendirian dalam proyek ini. Lapan turut menggandeng Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Indonesia (UI), serta beberapa pihak industri. Di dalam kampus, tim ini akan turut melibatkan mahasiswa dari berbagai jenjang untuk kelancaran riset tersebut.

ITS memang belum memiliki program studi khusus bidang teknologi penerbangan dan antariksa. Namun, lebih dari Rp1 miliar telah dikucurkan untuk mendanai proyek yang berlangsung antara Lapan dengan universitas dan pihak industri tersebut.

Selama tiga tahun ke depan, tim dosen-dosen ahli ini akan bekerja sama merakit sebuah roket penuh. Mulai dari nose, body, dan nozzle. Konstruksi tiga bagian tersebut tentunya tidak mudah. Nozzle, atau bagian ujung bawah sekaligus pendorong roket bisa mengalami suhu yang sangat tinggi hingga 3.000 derajat Celsius.

''Diperlukan bahan isolator yang tahan panas tinggi agar nozzle tidak meleleh. Karena itu, riset tim ini akan turut mencakup pengujian bahan-bahan yang sanggup menahan panas ekstrim,'' papar Ketua Tim Riset Roket Suasmoro.

Pengujian-pengujian mengenai berbagai aspek lain juga harus dilaksanakan secara mandiri oleh tim. Hal ini karena teknologi roket sangat jarang disebarluaskan. Masing-masing negara yang memiliki proyek pembuatan roket pasti akan sangat protektif mengenainya.(mrg) (rhs)

- okezone -

Posted in: ITS,LAPAN,Roket

#Tag : ITS LAPAN Roket

Bulgaria Transfer Teknologi Fuse Bomb Ke Indonesia

Indonesia akan siap menghasilkan bom untuk pesawat tempur, khususnya pesawat Sukhoi 27 SK dan 30 MK, sebagai produsen senjata PT Sari Bahari, Malang akan menerima teknologi fuse bomb produksi Armaco dari Bulgaria.

Indonesia selama ini baru mampu memproduksi casing, hulu ledak (warheads) dan bubuk mesiu, dan masih mengimpor fuse bomb.

"Ini adalah langkah kemajuan yang besar bagi Indonesia. Mulai sekarang kita tidak akan lagi tergantung pada negara lain karena kita mampu memenuhi kebutuhan militer Indonesia [TNI] dalam pengadaan bom," kata direktur perusahaan Ricky Hendrik Egam kepada The Jakarta Post pada hari Rabu di Surabaya, Jawa Timur.

Namun Ricky menolak untuk mengungkapkan biaya dari kerjasama antara perusahaannya dengan Armaco.

Dia mengatakan bahwa dengan kerja sama itu, Indonesia memiliki kesempatan untuk memjual fuse bomb kepada negara-negara di Asia yang menggunakan jet tempur pesawat Sukhoi buatan Rusia.

Sebelumnya Perusahaan menghadapi kesulitan dalam mencari negara produsen fuse bomb yang bersedia untuk mentransfer teknologi. Cina telah menolak permintaan perusahaan untuk kerjasama.

PT Sari Bahari telah berhasil menghasilkan bom untuk jet tempur pesawat Sukhoi, baik bom asap dan versi live bomb , dengan bobot antara 100 kilogram sampai 250 kilogram. Perusahaan juga telah mengekspor 70 mm hulu ledak roket asap kepada Angkatan Udara Chili. (SWD)(Jakartapost)(GM)

Posted in: Alutsista,Kerjasama,Roket

Mandiri dengan R-Han 122

 ☮ Roket Pertahanan

Memiliki wilayah luas dengan belasan ribu pulau yang terpencar, Indonesia mengembangkan sistem pertahanan yang strategis untuk mengamankannya. Salah satu sarananya adalah roket. Kemandirian di bidang peroketan mulai dibangun dengan merintis pembuatan roket pertahanan R-Han 122.

Rancang bangun dan rekayasa roket pertahanan merupakan upaya Indonesia membangun kemandirian dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan. Rintisan dimulai lewat prototipe roket pertahanan sistem balistik berdiameter 122 milimeter disebut R-Han 122.

Roket pertahanan ini merupakan derivasi roket eksperimen rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), D230 tipe Rx 1210.

Roket eksperimen (Rx) dikembangkan untuk misi nonmiliter, seperti pemantauan cuaca, pemantauan pelayaran, pertanian, bencana, dan observasi untuk perencanaan tata ruang. Roket dimuati radio, kamera, dan sensor. Adapun roket untuk pertahanan (R-Han) dipasang bahan peledak, demikian paparan Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bidang Hankam.

Sebagai sarana yang dapat digunakan untuk tujuan militer, penguasaan teknologi peroketan tak mudah. Penyebarannya dipagari dengan beberapa aturan, antara lain, missile technology control regime dan center for information on security trade control.

Saat ini teknologi hankam tersebut hanya dimiliki negara tertentu. Di Asia negara yang tergolong maju dalam teknologi ini antara lain China, India, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Kemampuan rekayasa dan rancang bangun peroketan sampai batas tertentu dimiliki oleh BPPT, Balitbang Kemhan, dan PT LEN Industri. Dengan kemampuan masing-masing lembaga, kata Gunawan Wibisono, Asisten Deputi Menristek Bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis, terbentuk Konsorsium Roket Nasional tahun 2007.

Konsorsium terdiri dari Kementerian Ristek, Kementerian Pertahanan, TNI AL, lembaga riset (BPPT dan Lapan), perguruan tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dan Undip), serta industri strategis PT DI, Krakatau Steel, LEN Industri, Pindad, dan Perum Dahana. Konsorsium inti terdiri atas beberapa plasma yang menangani riset material, mekatronika, dan sistem kontrol atau kendali.

Kementerian Ristek menyediakan dana insentif untuk pembuatan prototipe roket. PT DI melaksanakan pengembangan struktur dan desain roket. PT Krakatau Steel menyediakan material untuk tabung dan struktur roket. Bahan bakar roket, yakni propelan, disediakan PT Dahana.

Bagian PT DI adalah membangun sarana peluncur roket dan sistem penembaknya dengan laras sebanyak 16. Kendaraan yang digunakan sebagai anjungan untuk peluncuran adalah jip GAZ buatan Rusia, Nissan Jepang, dan Perkasa buatan Tata, India.

 ☮ Muatan teknologi

Meski bentuk roket sederhana, tabung bermoncong lancip, pembuatannya tidak sederhana. Di dalamnya termuat berbagai komponen berteknologi mutakhir, seperti material maju, mekatronika, dan propulsi.

Dibandingkan roket generasi lama, R-Han 122 mengalami beberapa pengembangan desain dan material. Pada roket eksperimen menggunakan baja. Pada R-Han digunakan aluminium dan karbon yang dua kali lebih ringan. Bahan itu lebih tahan panas. Untuk menjaga kestabilan dan daya jangkau yang tinggi, material yang digunakan harus tahan terhadap suhu 3.000 derajat celsius, kata Ketua Program Penggabungan Roket Nasional Sutrisno.

Pengembangan lain pada konstruksi roket, pada versi terdahulu, roket menggunakan sirip tetap. Untuk meluncurkan, roket harus ditumpangkan pada peluncur dilengkapi rel. Pada roket generasi baru dipasang sirip lipat yang dilengkapi pegas yang akan menegakkan sirip secara otomatis setelah keluar dari tabung peluncur.

Pada roket terdahulu, tabung propelan diisi langsung dan terikat permanen di tabung roket. Kini tabung propelan dibuat terpisah dan diberi lapisan isolasi termal. Saat ini bahan propelan masih diimpor. Untuk membangun kemandirian, pabrik propelan akan dibangun PT Dahana.

Untuk wahana peluncur, dilakukan modifikasi kendaraan jip berbobot 2,5 ton dan truk berkapasitas 5 ton. Dirancang pula bangun unit peluncur yang memuat 16 roket dan mampu meluncurkan secara otomatis sejumlah roket tersebut dengan hanya menekan satu tombol.

 ☮ Uji peluncuran

Adi Indra Hermanu, Kepala Subbidang Analis Teknologi Hankam Kementerian Ristek, menyatakan, uji coba peluncuran roket R-Han 122 dilaksanakan akhir Maret di Baturaja, Sumatera Selatan. Sebanyak 50 roket diluncurkan di hutan lindung itu. ”Roket R-Han 122 yang diluncurkan rata-rata mampu melesat dengan kecepatan 1,8 mach atau 2.205 km per jam,” ujarnya.

Pada tahap peluncuran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berperan mengoperasikan sistem radar untuk memantau posisi jatuh roket. ITB memasang sistem kamera nirkabel untuk merekam gambar saat roket meluncur sampai di lokasi sasaran.

Dalam penggunaannya, R-Han 122 pada tahap awal akan menjadi senjata dengan sasaran target di darat yang berjarak tembak 15 km. Roket ini akan digunakan TNI AL untuk pengamanan pantai.

Menurut Sonny S Ibrahim, Asisten Direktur Utama PTDI, tahun ini tahap pengembangan teknis selesai. Persiapan industrialisasi saat ini sudah 80 persen.

(Kompas, 31 Mei 2012/ humasristek)

Posted in: Alutsista,BPPT,DI,LAPAN,LEN,PINDAD,Roket

★ UGM-Lapan Siap Produksi Roket Berhulu Ledak

 Ini proyek ambisius Lapan. "Ujung-ujungnya, roket kita mampu antarkan benda ke angkasa."

VIVAnews - Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional membentuk Komunitas Roket Uji Muatan (RUM) dalam rangka pengembangan teknologi industri roket di tanah air.

Menurut rencana, komunitas RUM akan memanfaatkan kawasan Pantai Pandansimo, Bantul, sebagai area pelatihan peluncuran uji roket muatan.

Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, mengatakan teknologi roket perlu dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian bangsa dalam bidang penyediaan persenjataan pertahanan negara. Di samping itu, pengembangan juga diperlukan untuk pemanfaatan roket bagi kesejahteraan masyarakat kendati teknologi ini tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat.

“Ketika dokter dan guru tidak ada, orang akan protes. Tapi kalau tidak ada roket, orang tidak akan protes karena roket tidak bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Kewajiban kita menempatkan sesuatu yang penting menjadi penting dan mewacanakan hal yang penting itu menjadi komitmen politik,” kata Pratikno, dalam keterangan yang diterima VIVAnews, Jumat 8 Juni 2012.

Manurut Pratikno, pengembangan roket menjadi pilihan kebijakan strategis kepentingan jangka panjang yang seharusnya menjadi perhatian negara. “Pengembangan roket butuh investasi yang sangat besar dengan hasil yang penuh risiko dengan manfaat yang abstrak dan jangka panjang. UGM siap kerja sama terhadap hal yang penting dan strategis ini,” katanya.

 Jangkauan 20 Kilometer

Staf Ahli Pertahanan dan Keamanan Kemenristek RI, Ir. Hari Purwanto, M.Sc., DIC, mengatakan Kemenristek tengah merencanakan produksi roket hasil pengembangan Lapan. Roket tersebut direncanakan akan dimanfaatkan untuk pertahanan negara dan sebagai pengganti roket yang dibeli dari luar negeri.

Roket merupakan salah satu teknologi strategis, tetapi memiliki biaya produksi yang sangat mahal. Fungsi roket ada dua macam, yakni di bidang militer dan nonmiliter. “Kami akan produksi 1.000 roket dengan nama R-Han 122. Roket ini merupakan roket pertahanan kaliber 122 yang sudah diberikan hulu ledak. Roket ini akan dimanfaatkan untuk menggantikan roket yang dibeli dari luar negeri,” ujarnya.

Roket yang akan diproduksi memiliki jangkauan 15-20 kilometer. “Ini merupakan investasi besar negara, sekaligus untuk menambah kekuatan pertahanan keamanan dan melengkapi tugas TNI,” ujarnya.

Hari Purwanto menjelaskan, roket menjadi salah satu teknologi penting yang krusial untuk segera dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia. Selama ini, Indonesia lebih banyak mengandalkan roket yang dibeli dari negara lain. ”Roket dikembangkan untuk kepentingan-kepentingan kesejahteraan, misalnya menambah alat utama sistem pertahanan (alusista) sehingga kemanfaatan roket mendesak untuk segera dikembangkan mengingat negara-negara lain telah memiliki teknologi roket mandiri,” tuturnya.

Selain roket, Kemenristek juga tengah mengembangkan teknologi pesawat tempur bersama Korea Selatan dengan nama Fighter Indonesian Experiment. “Kita juga sudah membuat panser sendiri dan telah diekspor ke beberapa negara, seperti Malaysia, Brunei, dan Filipina. Ini merupakan langkah positif dan diharapkan bisa semakin berkembang," ujarnya.

Kepala Lapan, Drs. Bambang Setiawan Tejakusuma, Dipl.Ing., menuturkan program produksi roket merupakan proyek ambisius Lapan. Pasalnya, sedikit negara yang telah memiliki program pengembangan roket, antara lain Rusia, Amerika, Perancis, China, India, Jepang, Korea Utara, Iran, dan Pakistan.

“Kita dalam proses untuk mengembangkan. Ujung-ujungnya, roket yang kita hasilkan mampu mengantarkan benda ke luar angkasa,” katanya. (umi)

 Kemristek Kembangkan 1.000 Roket untuk TNI

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA- Kementerian Riset dan Teknologi akan mengembangkan sekitar 1.000 roket untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia sebagai pertahanan negara.

"Roket hasil pengembangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu akan dimanfaatkan untuk pertahanan negara," kata staf ahli pertahanan dan keamanan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) Hari Purwanto di Yogyakarta, Kamis (7/6).

Menurut dia, Kemristek akan memproduksi 1.000 roket dengan nama Rhan 122. Roket itu merupakan roket pertahanan kaliber 122 yang sudah diberi hulu ledak dan akan dimanfaatkan untuk menggantikan roket yang dibeli dari luar negeri.

"Roket yang akan diproduksi tersebut memiliki jangkauan 15-20 kilometer. Pengembangan roket itu merupakan investasi besar negara sekaligus untuk menambah kekuatan pertahanan keamanan dan melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI," katanya.

Ia mengatakan, roket menjadi salah satu teknologi penting yang krusial untuk segera dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia. Selama ini Indonesia lebih banyak mengandalkan roket yang dibeli dari negara lain.

"Roket dikembangkan untuk kepentingan negara, seperti melengkapi alutsista, sehingga kemanfaatan roket mendesak untuk segera dikembangkan mengingat negara-negara lain telah memiliki teknologi roket mandiri," katanya.

Menurut dia, selain mengembangkan roket, Kemristek juga mengembangkan teknologi pesawat tempur bersama Korea Selatan dengan nama Fighter Indonesian Experiment.

"Indonesia juga sudah membuat panser sendiri dan telah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Hal itu merupakan langkah positif dan diharapkan bisa semakin berkembang," kata Hari. ♣ VIVAnews ♣

Posted in: LAPAN,Roket,UGM

#Tag : LAPAN Roket UGM

Lapan Kembangkan Roket untuk Belajar

Liputan6.com, Sleman: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) terus mengembangkan teknologi roket yang lebih sederhana dan mudah dipelajari. Di antaranya dengan mengembangkan roket uji muatan yang hanya berdaya jelajah satu kilometer.

Dibanding dengan roket yang sudah ada, roket uji muatan memang lebih sederhana karena hanya mempunyai panjang 1145 milimeter dengan diameter 76 milimeter dan berat 4,5 kilogram. Daya jelajahnya hanya mencapai ketinggian satu km dengan muatan maksimal 2,5 kilogram.

Kondisi itu tentu berbeda dengan roket buatan luar negeri seperti Roket K-13 buatan Rusia. Meski posturnya terlihat lebih besar, daya jelajah roket yang selama ini dimiliki militer Indonesia itu ternyata bisa jauh lebih tinggi yaitu mencapai 22 kilometer.

Meski secara teknologi kalah, Lapan tak malu memamerkan teknologi yang dikembangkan itu kepada masyarakat terutama mahasiswa. Benar saja, roket buatan Lapan menarik minat mahasiswa UGM. Selama ini UGM dikenal perintis pengembangan teknologi roket di Tanah Air.(JUM)(Liputan 6)

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket

40 Tim Ikuti Kompetisi Roket Indonesia

VIVAnews – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kompetisi muatan roket Indonesia 2012. Kompetisi ini digelar di Pantai Congot, Kulonprogo, Yogyakarta, dan diikuti oleh 40 tim dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia.

Dalam kontes muatan roket ini, masing-masing tim harus unjuk kemampuan roket hasil produksi mereka. Para peserta berlomba-lomba memasangkan teknologi ke dalam roket setinggi 1 meter itu, misalnya kamera pemantau, pengukur kecepatan, pengukur suhu, dan pengukur ketinggian.

Selanjutnya juri akan menilai kemampuan roket-roket buatan 40 tim itu saat roket diluncurkan, karena ketika diluncurkan itulah kecanggihan dan ketangguhan perangkat teknologi di dalam masing-masing roket dapat terlihat.

Juara kompetisi ini adalah roket yang berhasil terpisah dari roket peluncur dan dapat terbang maksimal setinggi 2 km, untuk kemudian berbalik menuju sasaran yang telah ditentukan. Lihat video kompetisi muatan roket itu di sini.

Kompetisi muatan roket tahun ini mencatat rekor karena dari seluruh tim yang ikut berlomba, ada 35 roket yang berhasil diterbangkan. Masyarakat sekitar pun mengapresiasi kompetisi ini. Mereka terkesan dengan teknologi buatan putra-putri bangsa yang membanggakan ini.

VIVAnews

Posted in: Roket

#Tag : Roket

Indonesia siap luncurkan roket RX-550

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, mengatakan tahun ini Indonesia sudah siap meluncurkan roket RX-550 (Kaliber 550mm) dengan jangkauan 300 km yang akan membawa peralatan pengukur atmosfer.

"Kita sedang mengembangkan roket RX-550 dan siap meluncurkannya tahun ini," kata Menristek dalam jumpa pers tentang peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 di Jakarta, Jumat.

Roket RX-550 yang merupakan roket terbesar yang pernah dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadi bukti atas kemampuan bangsa Indonesia mengembangkan teknologi tinggi, ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lapan Bambang Tedjasukmana mengatakan, setelah Idul Fitri atau sekitar akhir Agustus hingga September pihaknya akan melakukan uji statik roket RX-550 untuk yang kedua kalinya.

"Uji statik roket ini merupakan uji di darat untuk mengetahui kinerjanya misalnya daya dorongnya saat akan tinggal landas, atau kemulusannya saat dinyalakan," katanya.

Setelah uji statik bisa dilalui, RX-550 akan diuji terbang, agar tahun depan roket ini bisa diluncurkan, ujarnya.

Untuk peluncuran tersebut, ujar Bambang, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemda Morotai, Maluku Utara, karena RX-550 akan diterbangkan dari Morotai yang lokasinya sangat bagus untuk peluncuran roket.

"Morotai itu langsung menghadap Pasifik, jadinya roket Sonda ini akan langsung dilepas di atas samudra Pasifik untuk keperluan pengukuran atmosfer," katanya.

 Mobil Listrik

Menristek dalam kesempatan sama juga menyebutkan bahwa Indonesia menargetkan sudah bisa memproduksi mobil listrik sendiri pada 2018, setelah prototipe produksi dihasilkan.

"Saat ini kita baru di level lima dari sembilan level yang harus dilalui dalam technology readyness level," katanya.

Soal mobil listrik, ujarnya, segala komponennya sudah siap dibuat di dalam negeri, selain itu pemerintah juga sudah siap membangun stasiun-stasiun pengisian energi listrik bagi batere mobil tersebut, namun komponen baterenya yang masih tergantung pada impor akan terus dilakukan riset.(D009)

(Antara)

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket

Karnaval IPTEK Indonesia Unggulkan Roket dan Mobil Listrik

Kementerian Riset dan Teknologi akan menyelenggarakan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Bandung pada 8-11 Agustus 2012. Karnaval ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) itu bertujuan, sebagai pemicu motivasi bagi perkembangan inovasi bangsa.

"Kami ingin menggugah bangsa Indonesia bahwa sebetulnya banyak produk-produk yang dihasilkan. Kami berharap masyarakat mau memanfaatkan produk kita sendiri," papar Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di Jakarta, Jumat sore (3/8/2012).

Dengan semakin banyaknya orang yang memanfaatkan produk buatan dalam negeri, menurutnya, pelan-pelan kualitas produk akan berubah menjadi semakin baik.

Dia menambahkan, inovasi di dalam karnaval Hakteknas ada tujuh bidang penelitian yang dijadikan fokus, yaitu pertanian dan ketahanan pangan, energi, kesehatan, obat, ICT, nanoteknologi serta pertahanan.

 Roket dan Mobil Listrik

Dari sekian banyak inovasi teknologi yang akan dipamerkan di karnaval Hakteknas, dua yang diunggulkan adalah mobil listrik dan roket. Inovasi roket tersebut masih dalam tahap uji coba. Nantinya ini diharapkan bisa dipakai untuk meluncurkan satelit buatan sendiri.

"Target kami, pada 2014 roket ini sudah bisa meluncur sampai jarak tiga digit kilometer. Jarak ini penting, karena untuk meletakkan satelit kita di luar angkasa minimal harus di ketinggian 100 kilometer," jelas Gusti.

Sedangkan untuk mobil listrik, ia menyayangkan tipe city car masih belum selesai digarap. Walaupun begitu, Gusti menilai mobil listrik yang dikembangkan di Indonesia sudah cukup baik. "Kesiapan kita di mobil listrik sudah ada di tingkat lima dari sembilan level," imbuhnya.

Pengembangan mobil listrik tersebut selanjutnya akan dilakukan dengan fokus pada beberapa teknologi inti, seperti desain, propolsi dan transmisi, baterai, serta alat charger. "Soal propolsi dan transmisi, ini masih banyak impornya. Baterai juga impor. Tapi perlu diketahui, di internasional pun baterai perkembangannya masih minim," pungkasnya. (adl)

(Okezone)

Posted in: Indonesia Teknologi,Roket

Roket dan Panser Indonesia Disukai Dunia

http://assets.kompas.com/data/photo/2010/01/15/1803441p.JPG Indonesia juga sudah mengembangkan industri pertahanan nasional. Panser Anoa buatan PT Pindad ini salah satu contohnya.(Foto: KOMPAS/DWI BAYU RADIUS)

Teknologi militer untuk pertahanan dan keamanan tidak lagi didominasi Amerika dan Eropa. Kini Indonesia pun sudah memproduksi sendiri persenjataan militer.

Penghujung Maret lalu, sebanyak 50 roket R-Han 122 diluncurkan di Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Sjafrie Sjamsoeddin, Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Riset Kementerian Ristek Iptek Teguh Rahardjo, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Eddy Yusuf, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal Nugroho Widyotomo, dan Komandan Kodiklat TNI-AD Letnan Jenderal Gatot Numantyo ikut hadir dalam peristiwa bersejarah itu karena untuk pertama kalinya diluncurkan roket militer buatan Indonesia.

Peluncuran roket berlangsung mulus. Roket R-Han 122 ini merupakan pengembangan roket sebelumnya D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi, yang memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach.

Perjalanan lahirnya roket militer R-Han 122 cukup panjang. Berawal pada 2007 saat Kementerian Riset dan Teknologi membentuk Tim D230 untuk mengembangkan roket berdiameter 122 mm dengan jarak jangkau 20 kilometer. Prototipe roket D-230 ini dibeli Kementerian Pertahanan dan Keamanan untuk memperkuat program seribu roket. Pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketua konsorsium PT Dirgantara Indonesia (DI), sebagai wadah memasuki bisnis massal. Ketua Program Roket Nasional Sonny R Ibrahim menjelaskan rencana pembuatan roket secara massal sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut.

Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Sony menyebutkan, di dalam konsorsium terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan menggunakan platform GAZ, Nissan, dan Perkasa yang sudah dimodifikasi dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak). Kemudian juga PT Dahana menyediakan propellant, PT Krakatau Steel mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT Dirgantara Indonesia membuat desain dan menguji jarak terbang.

Pendukung lain dalam konsorsium adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut menyediakan alat penentu posisi jatuh roket. ITB menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Sejumlah perguruan tinggi lainnya, yakni UGM, ITS, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Suryadharma, ikut terlibat di dalam pengembangan roket tersebut. Nama D-230 kemudian diganti menjadi R-Han 122 karena sudah dibeli Kementerian Pertahanan.

Sistem isolasi termal untuk membuat roket militer tidaklah mudah. Para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122 itu.

Sonny menjelaskan, pada 2003 para periset menggunakan material kritis dengan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi produk justru cepat jebol.

Kemudian para peneliti mulai memperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 derajat Celcius. Pembakaran dengan menghasilkan suhu tinggi bisa berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk material roket, dipilih bahan yang ringan, yakni aluminium, karena bisa menghambat panas. Perubahan-perubahan itu ternyata menghasilkan roket yang tidak pernah rusak saat diujicobakan.

"Karena termalnya bekerja cukup baik, roket itu bisa terbang tepat sasaran dan tidak pernah rusak selama uji roket," imbuh Sonny yang mengatakan bahwa R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran darat dan jarak tembak sampai 15 km.

Tidak hanya roket yang sudah dibuat di dalam negeri. Sebelumnya, PT Pindad telah memproduksi panser yang merupakan hasil pengembangan riset dari BPPT sejak 2003. PT Pindad meneruskan hasil riset BPPT khususnya untuk panser Angkut Personel Sedang (APS). PT Pindad dan BPPT akhirnya mengembangkan riset APS-1 sampai ke APS-3 yang punya kemampuan bermanuver di darat, perairan dangkal dan danau. Pengembangan riset tersebut akhirnya menghasilkan varian 4X4 dan disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya pada varian 6x6.

Ujicoba panser APS-3 ini dilakukan awal 2007 dan pada 10 Agustus 2008 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Kementerian Pertahanan memberi nama APS3-ANOA. Sejak itu Pindad memproduksi 10 panser pertama APS-3 ANOA. Dalam perkembangannya, Pindad terus mengeluarkan seri-seri terbaru APS-3 ANOA ini. Selain varian kombatan, ANOA juga memiliki varian lain seperti untuk angkut medis, logistik, armored recovery vehicle (penderek ranpur yang sedang mogok) dan varian mortir.

Saat ini Kementerian Pertahanan telah memesan 100 panser ANOA yang ternyata disukai negara-negara tetangga. Salah satunya Malaysia yang sudah berminat membeli sejumlah panser ANOA dari PT Pindad. Dan tak kalah penting, panser buatan Indonesia ini juga dipakai untuk kelengkapan persenjataan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon.

( Kompas )

Posted in: Alutsista,Kendaraan Militer,Roket

★ RX 550

 Berusaha Untuk Mandiri

Roket RX 550 LAPAN (Foto audrey)

Sadar akan kebutuhan peralatan pertahanan untuk menjaga kedaulatan, Indonesia mulai mencoba mandiri dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Salah satunya adalah sistem pertahanan rudal peluru kendali jarak menengah dan jauh. Untuk mencapai kemandirian dalam teknologi rudal, bukanlah persoalan mudah. Karena tidak ada negara di dunia yang akan memberikan ilmu teknologi rudal ini.

Indonesia sudah mulai mencoba membuat rudal sejak jaman 60-an, dengan berbekal bantuan dari Rusia pada era Soekarno, Indonesia sempat membuat beberapa roket jarak pendek. Sayangnya program ini tidak berlanjut di masa Soeharto. Salah satu roket yang sempat membanggakan saat itu dinamakan roket Kartika.

Setelah merasakan embargo dari negara barat, Indonesia merasakan pahitnya, merupakan masa yang suram kedua, setelah dahulu Indonesia juga pernah merasakan kesulitan suku cadang dari Uni soviet karena politik yang berbeda pada saat itu. Hampir semua alutsista TNI menjadi lumpuh, karena kesulitan suku cadang dan telah uzurnya alutsista tersebut. Semenjak embargo tersebut, Indonesia berupaya segala cara untuk mendapatkan suku cadang maupun pengganti alutsista dengan melirik peralatan blok timur kembali.

Namun terlihat sekali, setiap Indonesia ingin membeli alutsista dan memodernisasinya, selalu menjadikan pertanyaan negara barat, sedangkan negara tetangga mempunyai alutsista yang modern dan canggih termasuk kualitas dan kuantitasnya tanpa banyak dipermasalahkan. Atas pelajaran tersebut yang tidak mungkin di lupakan bangsa ini, Indonesia kedepan harus mandiri, dan tidak ketergantungan dari negara lain.

Kembali menuju kemandirian untuk membuat rudal bukanlah mudah, perlu riset dan dana yang tidak bisa dibilang murah untuk pengembangannya, dan yang utama dari rudal adalah alat pengendali roket tersebut. Sampai sekarang Indonesia masih bermasalah dengan pengendali roket, sehingga mengajak China untuk membantu dengan join pembuatan rudal C-705 yang akan menjadi cikal bakal rudal nasional, karena akan di produksi di Indonesia dengan lisensi.

Dengan kerjasama tersebut, Indonesia tentunya beruntung, karena dapat belajar ilmu yang sangat berguna untuk membuat rudal sendiri ke depan, tentunya dengan riset dan pengembangan yang akan memakan waktu dan biaya.

RX 550 LAPAN

Roket RX 550 LAPAN berkemampuan jarak 500 km
Para ahli ilmuwan LAPAN telah berjanji dan terus berusaha membuat roket Indonesia yang bisa mengarungi ruang angkasa, serta peluru kendali jarak jauh. LAPAN memiliki rencana ambisius yang akan membanggakan bangsa dengan meluncurkan satelit buatan Indonesia ke ruang angkasa pada tahun 2014.

Untuk itu, LAPAN bekerjasama dengan pabrik baja Krakatau Steel, membuat diameter roket lebih besar dari RX 420. Krakatau Steel berhasil mengerjakannya dan terciptalah roket RX 550 (kaliber 550mm).

RX 550 merupakan komponen tingkat pertama dan kedua dari Roket Pengorbit Satelit yang memiliki panjang 8-10 meter. Saat ini roket RX 550 terus menjalani tahap revisi desain. Lapan menargetkan, RX 550 mampu meluncur hingga 500 km dan rampung pada akhir tahun 2012.

Selain menggarap RX 550, LAPAN dan Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) lainnya juga sedang merancang roket kendali yang mandiri. Salah satunya diberi nama Roket Kendali Nasional atau RKN 200.

RKN 200 akan menjadi roket tingkat empat yang berfungsi sebagai roket pengorbit satelit. RKN 200 sedang dirancang untuk memiliki tujuh kali kecepatan suara atau 7 Mach.(Jkgr)

 LAPAN akan Uji Statik Roket RX-550

 Uji Statis RX 550
Roket pengorbit satelit berdiameter 550 mm atau 0,55 meter telah berhasil dirancang bangun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Uji Statik roket RX-550 ini akan dilaksanakan akhir Januari setelah menjalani uji struktur.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Adi Sadewo Salatun di Jakarta, Senin (3/1), menjelaskan, pembuatan RX-550 ini melibatkan PT Krakatau Steel dalam tahap rekayasa. Keterlibatan industri strategis ini dalam pencetakan moncong roket atau nozzle.

Sementara itu, fabrikasi propelan dari material padat ini dilakukan bertahap, yaitu dengan mempertimbangkan ukurannya yang relatif besar, keterbatasan fasilitas yang dimiliki Lapan, dan keamanan proses.

Sutrisno, Kepala Bidang Propelan LAPAN, mengatakan, pembuatan propelan yang terdiri dari delapan bagian ini dimulai September 2010. Setiap bagian atau segmen itu kemudian disatukan menjadi bentuk yang utuh.

Pemeriksaan struktur roket RX-550 yang dipamerkan dalam Indo Defence di Jakarta, November lalu, menurut Adi, dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional yang memiliki fasilitas non destructive test (NDT). Pengetesan ini untuk memeriksa hasil pengelasan pada sambungan setiap segmen dan kemungkinan adanya keretakan pada struktur.

Rencana uji statik RX-550 pada akhir Januari 2011 ini, menurut Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata, mundur dari jadwal semula, pertengahan Desember lalu. "Pengunduran ini menyesuaikan pergeseran pelaksanaan NDT menggunakan sinar X. Kalau uji sinar X hasilnya baik, baru dilakukan uji statik," ujar Soewarto.

 Di Kabupaten Garut

Persiapan peluncuran roket RX-420. (Foto: Lapan)
Uji statik akan dilaksanakan di Instalasi Uji Terbang Roket di pantai selatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Jika uji statik ini berhasil, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan RX-550 untuk uji terbang. Sebelum itu, data uji statik akan dimasukkan dalam simulasi komputer untuk melihat sistem aerodinamika roket. "Dalam simulasi, roket harus mampu masuk ke orbit pada ketinggian 200 kilometer," ungkap Adi.

Sistem simulasi komputer ini akan dilaksanakan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia yang memiliki fasilitas tersebut.

Apabila pengujian ini tidak menunjukkan hasil yang memadai, diameter roket harus ditingkatkan. Selain itu juga perlu dilakukan peremajaan sistem pencampur propelan atau mixer untuk dapat membuat bahan bakar roket yang dapat meluncur hingga ketinggian di atas 230 kilometer. Dalam mempersiapkan peluncuran roket ini, LAPAN juga akan bekerja sama dengan PT Pindad. (YUN/Kompas)

 2014, LAPAN Orbitkan Empat Satelit

Jakarta — Salah satu sasaran utama kinerja Lapan pada 2011 ialah peluncuran satelit Twinsat (Lapan-A2 dan Lapan-Orari) untuk mitigasi bencana. Pengembangan satelit terus berlanjut, hingga pada 2014, Lapan akan memiliki empat satelit buatan sendiri meskipun dalam skala kecil. Selama ini, 10 satelit milik Indonesia masih buatan luar negeri.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Lapan Dr. Adi Sadewo Salatun, M. Sc. saat rapat kerja Menteri Riset dan Teknologi serta jajaran Kepala Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) dengan Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Komisi VII, Gedung Nusantara Lantai I, Senin (17/1).

Selain pengembangan satelit, Lapan juga bersiap melakukan studi kelayakan sarana dan prasarana stasiun peluncuran di Pulau Enggano, menguji statik roket RX-550, serta membahas RUU Keantariksaan dengan DPR. Roket RX-550 saat ini sedang dalam proses pengujian bekerjasama dengan BATAN dan dijadwalkan selesai paling lambat Maret 2011. “Jika semuanya telah siap, maka peluncuran RX-550 merupakan peluncuran roket paling besar sampai saat ini,” ujar Adi.

Dalam rapat tersebut, Kepala Lapan menyampaikan realisasi program utama Lapan 2010. Untuk bidang roket, telah dilakukan integrasi dan pengujian subsistem satelit mikro Lapan-A2 dan Lapan-Orari. Di bidang roket, Lapan mengembangan kemampuan roket nasional untuk keperluan riset ilmiah.

Kemudian, di bidang penginderaan jauh (inderaja), Lapan mengembangkan model pemanfaatan data satelit inderaja untuk pengembangan wilayah, pemantauan dan inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan, serta operasi pelayanan informasi mitigasi bencana (Simba).

Sementara itu di bidang sains antariksa dan atmosfer, Lapan menyuplai model atau data akurat tentang cuaca antariksa, prosedur standar peringatan dini dan mitigasi cuaca antariksa, serta layanan informasi pemanfaatan sains atmosfer. Selain itu, Lapan mendukung penguatan kelembagaan iptek dan regulasi kebijakan pengembangan kedirgantaraan nasional (harmonisasi RUU Keantariksaan).( Humas LAPAN )

Posted in: Indonesia Teknologi,LAPAN,Roket

★ LAPAN Kembali Uji RX-550

Garut - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali menyempurnakan kemampuan roket RX-550 yang segera diluncurkan pada 2013 mendatang.

Dalam persiapannya itu, LAPAN kembali melakukan uji statik motor roket RX-550 yang akan dilakukan pada Sabtu( 29/9) di Kecamatan Pangmeungpek, Kabupaten Garut. Sejumlah alat instalasi mulai dipasang pada roket RX-550 tersebut. Kepala Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Sudihartono menyebutkan, beberapa alat tersebut terdiri dari alat untuk mengukur daya dorong, tekanan, vibrasi, tempratur, dan data visual.

Sejumlah peralatan itu, kata Sudi, akan menentukan apakah motor roket senilai Rp 5 miliar ini akan layak menjalani uji terbang atau tidak di 2013 nanti. ”Roket RX-550 sendiri masih dalam tahapan penelitian dan penyempurnaan. Di 2011 lalu, kami sempat melakukan uji statik. Namun,karena tidak sempurnanya struktur material pada bagian nossel motor roket saat itu, RX-550 masih belum bisa dikatakan layak uji terbang. Sekarang, uji statik motor pendorongnya akan kita lakukan kembali,” kata dia.

Sudi mengungkapkan, belum sempurnanya struktur komponen nossel motor roket disebabkan terbatasnya kualitas material logam. Saat itu, logam pada komponen nossel motor roket hanya memiliki ketebalan 3 mm. ”Idealnya, ketebalan struktur material 6 mm. Sedangkan kondisi saat itu ketebalannya hanya 3 mm. Jadi yang seharusnya material itu bisa menahan panas sebesar 3.000 derajat celcius selama waktu pembakaran propelan sekitar 14 detik, ini malah hanya tahan dalam waktu 7 detik saja. Akibatnya, saat memasuki detik ke 8, material nossel robek dan pecah,” ungkapnya.

Seperti diketahui, nama roket RX-550 diambil dari diameter motor roket yang berdiameter 550 milimeter. Panjang motor roket setidaknya mencapai 6 meter. Sedangkan panjang keseluruhan roket bisa mencapai 9 meter lebih. Fungsi khusus roket RX-550 adalah sebagai pendorong (booster) utama yang akan membawa satelit ke luar angkasa dengan kapasitas bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

Roket ini diprediksi memiliki jarak tempuh sejauh 150 km dengan jangkauan sepanjang 300 km. Roket RX-550 merupakan penyempurnaan beberapa roket produksi Lapan sebelumnya, yaitu RX- 420 di tahun 2009 dan RX-320 di tahun 2008. Karena belum bisa menjangkau target yang ditetapkan, kedua roket itu pada akhirnya disempurnakan kembali melalui proyek pembangunan roket RX-550.

Dana pembangunan roket RX-550 ini sebesar Rp 5 miliar. Di bagian lain,Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN Clara Yono Yatini mengatakan, saat ini hanya ada 30 peneliti astronomi, itu pun terpusat di LAPAN. “Sebetulnya banyak, hanya saja kemungkinan penghargaan di dalam negeri terhadap mereka (peneliti antariksa) kurang,” katanya.

( Seputar Indonesia )

Posted in: LAPAN,Roket,Satelit

Ratusan Siswa Ikuti Lomba Roket Air di Jogjakarta

Ratusan Siswa Ikuti Lomba Roket Air di Jogjakarta Yogyakarta -- Jika para pelajar di Jakarta asyik tawuran, di Yogyakarta ratusan pelajar justru tengah sibuk membuktikan diri sebagai pelajar sejati di ajang lomba roket.

Ratusan pelajar tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK terlihat memenuhi lapangan sepakbola SMAN 3 Yogyakarta, Sabtu (29/9). Mereka tidak tengah menggelar pertandingan sepakbola, namun mereka justru terlihat serius bersama kelompoknya masing-masing.

Sebagian terlihat sibuk menggunting, menempel dan merakit roket air dibawah tenda-tenda sebagian lagi sibuk memasang roket air yang mereka bikin dan berusaha meluncurkannya mendekati titik yang ditentukan dewan yuri.

200 tim pelajar dari tingkat SMP/MTs, dan SMA/SMK dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) berlomba dalam peluncuran roket air di lapangan SMAN 3 tersebut. Kegiatan ini merupakan ajang keempat yang di gelar Tamanpintar Yogyakarta.

"Ini event tahunan yang kita lakukan sebagai upaya mengenalkan dan mengembangkan roket air dikalangan pelajar di DIY dan Jateng," terang Ketua Panitia lomba peluncuran roket air 2012, Krismono.

Menurutnya, melalui kegiatan ini pihaknya ingin mengenalkan tehnologi dirgantara secara sederhana kepada pelajar. Melalui event ini pihaknya juga berharap, bisa memupuk kecintaan pelajar terhadap teknologi kedirgantaraan. "Roket air adalah piranti sederhana dalam pengenalan teknologi kedirgantaraan ini," tandasnya.

Diakuinya, sejak digelar pada 2009 lalu pengikut lomba peluncuran roket air tingkat pelajar ini terus meningkat. Pada 2011 lalu jumlah tim yang mengikuti event ini hanya 80 sekolah baik dari SMP maupun SMA. Namun tahun ini jumlah sekolah yang ikut semakin banyak, ada 200 tim dari 200 sekolah di DIY dan Jawa Tengah.

Lomba yang digelar selama sehari ini memperebutkan trophy dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dua kategori yaitu kategori SMP dan kategori SMA. Tim juri untuk ajang ini dari tim STTNas Yogyakarta. Setiap kategori menurutnya diambil juara 1-3 dan Juara Harapan 1-3.

Menurut salah satu tim juri dari STTNas, Abilawa mengatakan, roket air yang dibuat oleh para pelajar tersebut harus memenuhi beberapa unsur sebelum diluncurkan. Syarat tersebut antara lain ukuran tinggi roket maksimal 43 centimeter, dengan berat maksimal 300 gram dan minimal 250 gram.

"Roket ini diluncurkan mendekati tong yang kita tentukan. Nanti kita ukur mana yang mendekati, atau bahkan masuk ke tong tersebut," jelasnya.

© Republika

Posted in: Roket

#Tag : Roket

Nosel roket RX-550 masih bermasalah

LEMBAGA Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) optimistis mampu menerbangkan roket RX-550 pada 2013 mendatang. Keyakinan tersebut tetap dipegang, meski komponen nosel roket RX-550 kembali mengalami masalah dalam uji statis di Stasiun Pengamatan Dirgantara LAPAN Pameungpeuk, Kabupaten Garut, kemarin.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara LAPAN Prof Dr Ing Soewarto Hardhienata mengatakan, desain struktur nosel roket RX-550 masih belum mampu menahan tingginya suhu pembakaran. Akibatnya, komponen material nosel roket terlepas sebelum proses pembakaran propelan berakhir di detik ke 14.

“Evaluasi pasti dilakukan. Secepatnya kami akan mengubah desain struktur nosel roket hingga hasil akhirnya nanti mendekati apa yang diharapkan. Kami yakin target roket RX-550 bisa mengudara di 2013 masih bisa dicapai,” katanya saat ditemui di ruang kontrol Stasiun Pengamatan Dirgantara LAPAN Pameungpeuk, Sabtu 29 September 2012.

Uji statis RX-550 dijadwalkan ulang dalam waktu dekat ini. Menurut Soewarto, seluruh komponen roket RX-550 serupa tengah dibangun kembali.

Optimisme LAPAN dalam program peluncuran roket pengorbit satelit (RPS) bukan tanpa alasan. Pengalaman kesuksesan peluncuran roket RX-420 dan RX-320 beberapa waktu lalu serta panjangnya proses penelitian RX-550 dari 2011 hingga 2012 ini, sangat cukup untuk dijadikan kunci keberhasilan program nasional tersebut.

“RX-550 ditargetkan mampu terbang sejauh 300 km. Itu artinya, pengembangan roket ini dapat dimanfaatkan untuk mengorbitkan satelit. Bila program peluncuran roket pengorbit satelit bisa dicapai, bangsa kita bisa mandiri. Sebab, saat ini kami sudah mampu membuat satelit sendiri,” paparnya.

Diungkapkan Soewarto, Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang telah melakukan pengembangan roket pengorbit satelit. Ia berharap, progam ini dapat mengukir prestasi Indonesia di mata Internasional.

Kepala Pusat Teknologi Wahana Dirgantara LAPAN Yus Kadarusman meyebutkan, Indonesia memiliki beberapa lokasi yang sangat potensial untuk peluncuran roket pengorbit satelit. Beberapa kawasan potensial ini adalah Biak, Pulau Morotai, dan Pulau Enggano.

“Posisi ketiga daerah ini berada di kawasan garis khatulistiwa. Posisi ini dinilai tepat untuk mengorbitkan satelit,” katanya.

 Spesifikasi Roket RX 550

1.      Berfungsi sebagai roket pendorong (booster) utama roket pengorbitsatelit

2.      Diameter motor 550 mm

3.      Panjang roket motor 6 meter

4.      Panjang keseluruhan roket (ditambah dengan komponen lain) 9,5 meter

5.      Daya jangkau (horizontal) 300 km

6.      Jarak tempuh (ketinggian/vertikal) 150 km

7.      Bahan bakar yang digunakan berjenis HPTB (hydroxyl toluen poly butadiene)

8.      Kapasitas bahan bakar 1,8 ton

9.      Biaya total pembuatan roket Rp5 miliar

© Sindo

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket

DPR Disarankan Pelajari Sistem Keantariksaan India dan Iran

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrqFoD5UBCehAlp5A5Xx_q_j1lpPWHD23guGmZ7cH9s5cJcQkTTG08OGFT3cX2EoCwT48-iwzGcGOUDl807uldH2ZXGAIP1IRbktss2p-204Kuh67M274O2QRSMFbUJpOl8o3EUnfskZC_/s400/lapan.jpg AHLI sistem satelit Arifin Nugroho merekomendasikan anggota Komisi VII DPR untuk belajar dari sistem keantariksaan India dan Iran. Kedua negara ini memiliki pola pikir dan karakteristik yang sama dengan Indonesia.

"Kalau mau mencontoh, kepada negara yang memiliki mindset yang hampir sama dengan kita, demografinya hampir sama, kulturnya hampir sama. Negara yang patut untuk dilihat adalah India dan Iran," kata Arifin saat menjadi narasumber RUU Keantariksaan di Komisi VII, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/10).

Kedua negara itu, kata Arifin, sudah berhasil meluncurkan satelit pada orbitnya dan dua-duanya sudah memiliki produk misil untuk security.

Kata mantan ketua Asosiasi Satelit Indonesia ini, keantariksaan jangan diposisikan sebagai proyek mercusuar. Keantariksaan harus didudukkan dalam konteks kesadaran bahwa ruang (space) adalah sebagai geopolitik baru.

"Penguasaan space itu adalah penguasaan suatu resources yang akan membawa suatu tingkat atau kesenioran sebuah bangsa. Itu adalah martabat bangsa," katanya.

"Alangkah indahnya bila bangsa ini sudah beranjak pada penguasaan geopolitik baru ini. Untung ruginya barangkali tak harus menjadi penghalang tetapi kedepankanlah martabat bangsa ini," ujarnya.

"RUU Keantariksaan adalah inisiatif pemerintah dengan inisiatornya, LAPAN. Namun menjadi perdebatan, apakah nantinya otoritas Keantariksaan itu cukup dipegang lembaga khusus atau cukup hanya LAPAN," tambahnya.

© Jurnal Parlemen

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Roket

★ Indonesia Luncurkan Roket Tiga Digit Tahun Depan

Rhan 122

Jakarta - Indonesia siap meluncurkan roket tiga digit atau roket berdaya jangkau 100 km-900 km pada 2013 untuk memperkuat sistem persenjataan negara.

"Tahun depan kita akan mulai menguji statis maupun uji dinamis roket berdaya jangkau tiga digit," kata Asisten Deputi Menteri Riset dan Teknologi bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis Goenawan Wybiesana pada Evaluasi Akhir Tahun di Jakarta, Kamis.

Untuk tahap awal, ujarnya, lebih dulu dikembangkan roket balistik berdaya jangkau 100 km dengan kaliber 350 mm sebanyak 10-20 unit, kemudian dilanjutkan dengan roket balistik kaliber berikutnya, disusul roket kendali.

Kementerian Ristek sebagai bagian dari konsorsium roket, turut mendanai proyek tersebut sebesar Rp 10-15 miliar pada 2013. Selain Kemristek, konsorsium roket beranggotakan PT Pindad, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, Lapan, BPPT, LIPI, ITB, UGM, ITS, dan lainnya.

Teknologi roket, ujarnya, dibangun dari empat kemampuan yakni teknologi material, teknologi sistem kontrol, teknologi eksplosif dan propulsi serta teknologi mekatronik yang seluruhnya sudah dikuasai.

Program roket nasional, ia menerangkan, telah dimulai sejak 2005 dengan mensinergikan berbagai lembaga terkait, dilanjutkan pembuatan desain awal dan uji prototipe serta pengembangan desain pada 2010.

Pada 2011, urainya, konsorsium roket ini meluncurkan freeze prototype 1 (prototipe jadi) yang setelah dibeli Kementerian Pertahanan dinamakan R Han 122 untuk dibuat menjadi massal melalui program 1.000 roket.

"R Han 122 ini memiliki kaliber 122 mm berdaya jangkau 15 km, lalu pada tahun yang sama, daya jangkaunya R Han 122 ditingkatkan menjadi 25 km dan pada 2012 R Han ditingkatkan lagi kalibernya menjadi 200 mm dengan daya jangkau 35 km," katanya.

Sebelum program roket untuk kepentingan pertahanan negara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah lama menguasai teknologi roket untuk kepentingan riset peluncuran satelit.(D009)

● Antara

Posted in: Roket,Satelit

#Tag : Roket Satelit

★ Satu Langkah Lagi Bagi RX-550

Hingga kini Teknologi Roket merupakan salah satu teknologi sensitif yang sulit didapatkan dari pihak luar. Apalagi adanya rezim MTCR yang membatasi jarak jangkau dan muatan roket, membuat teknologi ini eksklusif hanya dimiliki oleh negara maju. Akan tetapi, berbagai kendala itu tidak menghalangi ambisi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk menciptakan Roket Peluncur Satelit (RPS), dimana wujud awal dari RPS itu berupa RX-550.

Dan kini para peneliti LAPAN tengah bergelut dengan proses pengisian Propelan (bahan bakar roket) ke dalam RX-550. Proses pengisian propelan ke dalam motor roket umumnya dilakukan dengan  dua  metode  yaitu free  standing  dan  case   bonded.

Pada cara pertama   propelan   dicetak   secara   terpisah   baru   kemudian   dimasukkan ke   dalam   tabung   motor  roket.  Pada cara yang kedua propelan  langsung  dicetak  ke dalam  tabung  motor  roket  sehingga  terpasang   secara   permanen.

Akan tetapi cara   yang   dilakukan   oleh   LAPAN   bukan salah satu dari dua cara tersebut, dimana propelan dicetak terpisah kemudian   dimasukkan   ke  dalam  tabung  motor roket. Celah  antara   tabung dengan   propelan   diisi dengan material liner yang sekaligus berfungsi untuk mengikat propelan secara   permanen.

Metode yang dilakukan LAPAN ini  banyak menimbulkan masalah terutama untuk motor roket yang berukuran besar. Seperti bahaya saat memotorng propelan, resiko cacat sambungan propelan, kurang presisi dan waktu pengerjaan  yang  lama.

Oleh  karena itu LAPAN perlu menguasai metode case bonded  pada   proses   pembuatan propelan. Propelan yang dicetak dengan cara ini akan mempunyai panjang terbatas karena sulit untuk mencabut mandrel. Untuk membuat motor roket yang berdiameter besar dan panjang secara case bonded maka harus dibuat  menggunakan motor roket  segmented.

Fokus dari  kegiatan adalah melakukan penelitian untuk pembuatan propelan padat berdiameter 550 mm , agar dapat diperolah propelan yang  bebas cacat   seperti porous dan retak. Selanjutnya akan dibuat prototipe unit segmented rocket motor yang menggunakan   propelan  D550  yang   dibuat   secara  case   bonded.

Kegiatan dibagi ke dalam beberapa tahap yaitu: perancangan   prototipe unit  motor roket  segmented,  pembuatan peralatan  casting propelan, proses  pembuatan propelan dan uji  properties serta pembuatan prototipe unit  segmented  rocket  motor.

Hasilnya, telah diperoleh rancangan unit segmented rocket motor diameter 550 mm, insulasi termal yang  telah dipasang pada tabung motor roket, peralatan casting propelan, serta hasil uji properties propelan.

Dengan diperolehnya metode pembuatan propelan D 550 case bonded untuk membuat unit  motor   roket  segmented, maka   akan   dapat   diwujudkan  pembuatan  motor  roket RX   550 yang  dibuat  secara   case  bonded. Namun  demikian  perlu terlebih dahulu harus dikuasai teknik penyambungan motor roket pada motor roket  segmented.

©ARC

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket

★ Membangun Kemandirian Bangsa Dalam Inovasi Iptek Peroketan

Proses uji statik roket di Pusat Teknologi Roket Lapan
Bogor - Tak seperti biasanya, sore itu (13/11) Pusat Teknologi Roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang berada di Tarogong, Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, ramai oleh hiruk pikuk kerumunan orang.

Tak kurang dari seratus orang peserta Forum Bakohumas bekerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi, antusias ingin menyaksikan demonstrasi uji statik roket yang pembuatan, perakitan hingga pengujiannya dilakukan oleh anak-anak bangsa di Pusat Teknologi Roket ini. Sukseskah uji statik roket tersebut?

Sebagai lembaga penelitian dan pengembangan, LAPAN memiliki tugas pokok melaksanakan tugas pemerintah di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam pelaksanaan tugas tersebut, LAPAN memiliki empat pilar utama yakni bidang sains antariksa, bidang penginderaan jauh, bidang teknologi dirgantara serta bidang pengkajian kebijakan dan informasi kedirgantaraan. Teknologi roket, penerbangan dan satelit merupakan bagian dari bidang teknologi dirgantara yang hadir melalui Kedeputian Teknologi Dirgantara LAPAN.

Mendengar kata roket, asosiasi sebagian orang langsung tertuju pada teknologi pertahanan dan keamanan, hulu ledak dan peluru kendali untuk tujuan perang. Padahal, teknologi roket tak melulu soal perang dan invasi. Didalamnya ada proses inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna bagi hajat hidup orang banyak.

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini rasanya tepat untuk memulai perkenalan lebih jauh dengan Pusat Teknologi Roket LAPAN. Dalam menjalankan tugasnya, Pusat Teknologi Roket mengemban fungsi untuk penelitian, pengembangan dan perekayasaan teknologi motor roket, teknologi struktur dan mekanik, teknologi propelan serta teknologi kendali dan telemetri. Fungsi tersebut dijalankan untuk mencapai visi jangka panjang untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang peroketan.

Uji Statik

Dalam ranah iptek peroketan, sebuah roket yang berhasil dibuat tak serta merta bisa langsung diluncurkan. Tahapan yang harus dilaluinya cukup kompleks, salah satunya harus melalui proses yang dinamai uji statik. Beruntung, rombongan peserta Forum Bakohumas yang hadir pada sore itu bisa melihat proses uji statik tersebut.

Untuk uji statik, biasanya dilakukan instalasi alat pengukur performa roket terlebih dahulu. Kepala Bidang Teknologi Motor Roket Ir. Saeri, M.Si menyebutkan beberapa alat tersebut terdiri dari alat untuk mengukur daya dorong, tekanan, vibrasi, temperatur, dan data visual. Sejumlah peralatan itu, jelas Saeri, akan menentukan apakah motor roket layak menjalani uji terbang atau tidak.

"Untuk yang ingin menonton uji statik harap mengambil jarak aman dan mencari posisi menyelamatkan diri masing-masing, semoga uji roket sore ini berhasil," tegas Saeri sebelum uji statik dilakukan. Antusias bercampur rasa was-was dapat terlihat dari wajah peserta Forum Bakohumas. Pasalnya, sempet beredar ‘guyonan’ bahwa roket yang akan diuji statik termasuk roket reject dikarenakan pasokan roket yang dalam kondisi prima telah habis untuk diuji statik. Namun hal itu tidak terbukti karena uji statik berlangsung sukses.

Sebelumnya, mereka disuguhi tayangan video uji terbang berbagai roket yang berhasil dikembangkan LAPAN. Dalam video yang ditampilkan, peserta Forum Bakohumas bisa melihat proses uji terbang yang biasanya dilakukan di Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Video resolusi tinggi tersebut mampu menampilkan uji terbang roket dari berbagai sisi serta dalam gerak lambat hingga kecepatan 300 frame per seconds (fps).

RX 550

Pada 2012 ini, agenda besar peroketan LAPAN ialah dua kali uji statik roket RX-550 serta satu kali uji terbang roket tersebut. Uji statik tersebut merupakan perbaikan dan kelanjutan program uji statik yang telah dilakukan pada 2011. Tujuannya untuk menguji hasil fabrikasi nosel yang tahun sebelumnya masih mengalami masalah serta meningkatkan kinerja roket RX-550 guna mencapai daya dorong sebesar 25 ton dengan waktu pembakaran selama 15 detik.

Lebih jauh, nama roket RX-550 diambil dari diameter motor roket yang berdiameter 550 milimeter dengan panjang motor roket mencapai 6 meter. Sedangkan panjang keseluruhan roket bisa mencapai lebih dari 9 meter. Fungsi khusus roket RX-550 adalah sebagai pendorong (booster) utama yang akan membawa satelit ke luar angkasa dengan kapasitas bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

Roket ini diprediksi memiliki jarak tempuh sejauh 150 km dengan jangkauan sepanjang 300 km. Roket RX-550 ini tidak lain dari roket penyempurnaan beberapa roket produksi LAPAN sebelumnya, yaitu RX- 420 di tahun 2009 dan RX-320 di tahun 2008.

© Kersada/SA Lapan

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket

2013, Lapan Luncurkan Roket dari Morotai

Jakarta Tim survei dari Lapan sedang mengembangkan RPS yang didesain dan dibuat mandiri.

Tim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyurvei sejumlah lokasi di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, untuk dijadikan tempat peluncuran Roket Pengorbit Satelit (RPS) pada 2013.

Sekretaris Bappeda Pulau Morotai Iskandar Latuconsina ketika dihubungi dari Ternate, kemarin, mengatakan bahwatim Lapan telah melakukan survei tempat di wilayah Kabupaten Pulau Morotai, dalam rangka persiapan peluncuran roket.

Menurut dia, tim survei dari Lapan yang dipimpin Prof Dr Ing Soewarto Hardhienata sedang mengembangkan RPS yang didesain dan dibuat secara mandiri untuk mengorbitkan satelit buatan sendiri.

Sejak 2008, secara bertahap upaya untuk mewujudkan RPS telah dilakukan. Hingga kini Lapan telah berhasil meluncurkan RX-320 pada (19/05/2008) dan RX-420 pada (2/7/2009) di stasiun Uji Terbang Pameungpeuk, Jabar.

Lapan juga melakukan uji statis RX-550 pada tahun 2011 dan 2012. Uji statik merupakan pengujian di darat untuk mengetahui kinerja dan daya dorong roket saat akan tinggal landas.

Dia menjelaskan, untuk lokasi uji terbangnya Lapan berkeinginan melakukan kerja sama dengan Pemda Morotai. Selain itu untuk program pengembangan RPS, Lapan juga telah selesai merancang bangun dan menguji satelit Lapan-A2 pada tahun 2012 ini.

"Satelit ini siap diluncurkan pada 2013 di stasiun peluncur di luar negeri. Saat ini Indonesia belum mempunyai bandar antariksa dan wahana peluncur satelit, sehingga satelit buatan Indonesia masih diluncurkan dengan menggunakan wahana peluncur dari negara lain.

Dia mengatakan, di dunia tercatat beberapa negara yang mampu meluncurkan satelit sendiri, termasuk mampu membuat kendaraan peluncur antara lain Rusia, Amerika Serikat, Perancis, Jepang China, India, Israel, Dan Ukraina.

Sedangkan untuk Indonesia nantinya diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam penguasaan tekhnologi roket pengorbit satelit, dan kelak mempunyai bandar antariksa untuk meluncurkan roket buatan sendiri.

● Berita Satu

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket

Belum Ada Laporan Jatuhnya Pecahan Roket di Kaltim

 LAPAN memprediksi pecahan roket jatuh di sekitar Tanjung Redeb, Berau.

Pecahan roket diprediksi jatuh di Tanjung Redeb
Pecahan roket yang gagal membawa satelit Telkom-3 ke orbit diprediksi jatuh di sekitar Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Roket ini diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur pada Agustus tahun lalu.

Kabag Humas Pemkab Berau Mappasikra Mappaseleng mengatakan, belum ada warga yang melaporkan benda asing yang jatuh dari angkasa. "Kami belum mendapat laporan," kata Mappasikra dalam pertemuan dengan seluruh camat dan lurah se-Kabupaten Berau di Tanjung Redeb, Selasa 26 Februari 2013.

Mappasikra menambahkan, Pemkab Berau sudah melakukan koordinasi dengan kepolisian mengenai informasi tersebut. Berau, kata Mappasikra, memiliki wilayah yang cukup luas. Setidaknya Ada 13 kecamatan di kabupaten ini. Selain itu, ada beberapa wilayah yang jaraknya sangat jauh dengan ibu kota kabupaten, itu pun aksesnya sangat sulit.

Jika roket itu jatuh di kawasan yang jauh tersebut, kata Mappasikra, memang cukup sulit untuk memantaunya. "Ya, ada beberapa kecamatan yang berada di perbatasan. Aksesnya sulit dan jaraknya jauh. Kalau jatuhnya di kawasan itu, akan sulit untuk memantaunya."

Secara terpisah, Kapolres Berau AKBP Mukti Juharsa menuturkan, pihaknya juga belum mendapatkan laporan dari masyarakat maupun dari anggotanya terkait jatuhnya pecahan roket tersebut. Namun kepolisian akan melakukan penelusuran terkait informasi jatuhnya pecahan roket di Tanjug Redeb.

"Kalau itu memang jatuhnya di Tanjung Redeb akan kami telusuri informasinya. Tetapi, sampai saat ini memang belum ada laporan tentang pecahan roket itu," imbuhnya.

Sebelumnya, informasi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan bahwa pecahan roket peluncur satelit Telkom 3 berkode 2012-044CL diprediksi jatuh di kawasan Kalimantan Timur tepatnya di dekat Tanjung Redeb, Berau pada pukul 22.52 Wita. LAPAN belum bisa mengonfirmasi kebenarannnya. Sebab, hingga saat ini belum ada laporan warga yang melihat potongan roket.(umi)

  ● Vivanews

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: LAPAN,Roket

#Tag : LAPAN Roket