Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Informasi. Tampilkan semua postingan

Ini Dia 12 Tren Teknologi Informasi Tahun 2012

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Seperti apakah wajah teknologi informasi dunia tahun 2012? Sebuah riset yang dilakukan Fujitsu menemukan ada 12 tren yang diperkirakan akan muncul dan mendorong terjadinya sebuah perubahan di segala aspek.

"Teknologi mobile, layanan Cloud, dan media sosial akan mendatangkan perubahan. Tren-tren itu akan mengubah cara bisnis masyarakat," kata Presiden Direktur Fujitsu Indonesia Achmad Sofwan memberi ilustrasi.

Perubahan itu, kata Sofwan, antara lain terjadi di ranah bisnis. Ia mengambil ilustrasi delivery order Pizza melalui telepon. "Nantinya delivery pizza bukan saja lewat ponsel, tapi juga Internet," kata Sofwan.

Riset itu sendiri melibatkan Global CTO Community Fujitsu, yang terdiri dari para Chief Technology Officer (CTO) dan timnya dalam organisasi Fujitsu di seluruh kawasan dunia. Hasil riset menemukan satu kecenderungan yang menarik. Perspektif yang lebih luas berhasil dihimpun.

Temuan ini, lebih luas dibandingkan apa yang pernah diprediksikan Moore’s Law yang menyatakan bahwa prosesor akan semakin canggih dua kali lipat dari sebelumnya setiap dua tahun. Prosesor hanya satu elemen pendorong perubahan.Tahun 2012, dalam pandangan Fujitsu, akan terjadi banyak perubahan yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan yang ada di ranah teknologi informasi. Kekuatan dimaksud antara lain teknologi mobile, layanan Cloud, media sosial untuk berbisnis dan ledakan data.Perubahan yang diakibatkan diprediksi akan berlangsung secara disruptif dan membongkar aturan yang berlaku saat ini. Tren ini akan mengubah bagaimana cara bisnis, kota-kota bahkan masyarakat, beroperasi. Ketika semua tren ini berjalan, dunia akan terlihat sama sekali berbeda. Setidaknya, ada 12 trend yang akan mengemuka tahun ini.

Real-time insight

Real-time insight akan menjadi salah satu tren. Ini terjadi karena suatu pandangan bahwa manusia hidup dalam dua dunia sekaligus, yakni dunia fisik dan dunia digital. Dunia fisik adalah tempat di mana kita hidup yang terdiri atas jaringan-jaringan komputer dan peranti mobile.Dunia fisik ini didukung oleh dunia digital yang memiliki kekayaan informasi dan kekuatan analisis. Kini kedua dunia itu semakin menyatu dan tersinkronisasi sehingga mampu menghantarkan wawasan-wawasan baru berbasis data dengan kecepatan tinggi.Implikasinya bagi kita adalah:• Kemunculan sistem-sistem yang mampu “merasakan dan bereaksi” dan tidak hanya bisa melakukan transaksi.• Kita akan menjadi lebih proaktif ketimbang reaktif –misalnya di bidang kesehatan yang akan lebih fokus menjaga kesehatan daripada mengobati penyakit.• Kecepatan sangat penting, dan semuanya akan semakin cepat.Bsnis Tanpa BatasSelanjutnya, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, memungkinkan timbulnya konsep bisnis tanpa batas. Fenomena ini, antara lain dipicu oleh kehadiran cloud computing.Layanan Cloud memungkinkan pengguna umum untuk membangun, melakukan konfigurasi dan mengoperasikan sendiri teknologi. Untuk pertama kalinya, pelaku bisnis bisa menggunakan layanan teknologi secara langsung tanpa perlu menunggu waktu lama dan mengeluarkan investasi di muka yang besar.Hasilnya, pelaku bisnis bisa lebih mudah dan cepat berinteraksi dengan konsumennya. Akhirnya, batasan-batasan yang menghambat bisnis tradisional akan menghilang, batas-batas tradisional seperti pasar, lokasi, organisasi, bahasa atau teknologi akan lenyap.Implikasinya bagi kita adalah :• Pergerakan organisasi akan dimulai dari Cloud dan akan berbasiskan Cloud.• Perusahaan teknologi akan menjadi penyedia utilitas.• Kosakata bisnis akan menggantikan kosakata teknologi, dan bisnis akan selalu menjadi aktivitas yang lingkupnya global.

Komputasi Human Centric

Komputasi yang berpusat pada manusia (human-centric) dan paham konteks akan menghantarkan layanan dan konten secara langsung, walaupun tanpa diminta. Kemampuan ini menjadi jembatan untuk masuk ke dunia digital dan memanfaatkan semua kelebihan dari dunia digital ke dunia fisik.Melalui kemampuan menambahkan konteks, sistem akan menjadi lebih cerdas untuk membantu manusia berinteraksi dengan lingkungan, teman-teman dan komunitasnya. Konteks akan memperkaya pengalaman manusia menjalani kehidupan sehari-hari.Implikasinya bagi kita adalah:• Skema loyalitas konsumen akan berbalik ikut memberikan manfaat bagi bisnis.• Privasi bukan lagi pertimbangan utama–manusia harus memilih keluar (opt-out) sendiri dari layanan otomatis untuk menjaga informasi pribadinya.• Peranti akan lebih mengenal pemiliknya secara lebih dalam daripada pemilik mengenal perantinya.

Informsi Lebih Penting Daripada Teknologi

Kecenderungan lain yang akan mengemuka adalah informasi lebih utama daripada teknologi. Ketika kita membicarakan “Revolusi Informasi” di dunia TI, selama ini kita lebih memperhatikan “T” dari Teknologi daripada “I” atau Informasi. Padahal informasi ini ada di mana-mana.Setiap pergerakan kita menghasilkan data dan selanjutnya meninggalkan apa yang disebut “jejak digital” ke mana pun kita pergi. Jejak digital ini semakin nyata seiring dengan semakin maraknya teknologi sensor dan benda-benda yang terhubung ke Internet. Hasilnya, kita bisa bisa lebih dalam mengeksploitasi informasi.Implikasinya bagi kita adalah:• Informasi, bukan teknologi yang mendorong kita.• Kompetitor akan memahami pelanggan kita atau jauh lebih paham dibandingkan kita.• Kita akan hidup di tengah “perlombaan senjata informasi.”

Mobilitas semakin alamiah

Kita sudah memasuki era pascaPC yang mengubah sama sekali komputasi di tingkat pengguna akhir. Didorong lonjakan pertumbuhan jaringan mobile dan nirkabel, bentuk dan ukurannya semakin bervariasi. Peranti mobile sudah dipakai untuk banyak hal, namun jenis yang digunakan berbeda-beda, bukan satu peranti yang mampu melakukan segalanya.

Personal Cloud akan menyatukan keragaman peranti tersebut –satu-satunya fasilitas online yang menyimpan data dan konteks seseorang, yang bisa diakses dari peranti apapun yang mereka gunakan. Implikasinya bagi kita:

• Kata “mobile” akan kehilangan maknanya (dalam konteks teknologi) karena sudah dianggap sebagai kelaziman.

• PC dan aplikasi berbasis PC akan menjadi kuno.

• Manusia akan menggunakan banyak komputer dalam kehidupan sehari-harinya.

• REPUBLIKA.CO.ID

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Internet,Teknologi Informasi

Pada sisi lain, Web tidak hanya menyediakan akses informasi. Web mampu menghubungkan jutaan, bahkan miliaran orang. Crowdsourcing –alihdaya kepada kerumunan- memungkinkan kita menyerap pool sumber daya manusia dan menggerakkan mereka sebagai angkatan kerja dengan berdasarkan penugasan namun tanpa biaya tetap.Seiring dengan perkembangan Web, nilai kontribusi dari grup dan komunitas tersebut semakin tinggi. Seperti halnya peranti lunak open source, kontribusi ini digerakkan kesamaan kepentingan dan minat.Crowdsourcing memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia. Pendekatan ini tidak akan menggantikan pola rekrutmen pada umumnya, namun menawarkan alternatif. Implikasinya bagi kita:• Crowdsourcing akan menyediakan berbagai manfaat sumber daya manusia (dengan skala yang bisa diperbesar atau diperkecil) seperti halnya Cloud computing meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi dari sumber daya teknologi.• Crowd (kerumunan) akan menjadi sumber daya manusia utama.• Model bisnis berbasis kerumunan akan muncul.Organisasi Berubah BentukPerubahan yang sifatnya disruptif yang terjadi di industri teknologi (misalnya melalui Cloud computing, big data, mobile dan media sosial) berpotensi mengubah cara bisnis beroperasi. Akses kepada teknologi tidak lagi membutuhkan investasi besar dalam hal kompetensi, modal atau waktu.Di dalam organisasi sendiri, fungsi-fungsi bisnis mengharuskan pemanfaatan teknologi karena tanggung jawabnya semakin besar. Implikasinya bagi kita:• Organisasi akan bertindak sebagai konsumen dan penyedia dalam ekosistem digital.• CAPEX dan depresiasi akan hilang dari neraca keuangan.• Bisnis dan individu harus mengelola rantai pasok informasi dan mendapatkan nilai dari aktivitas tersebut.

Banyak organisasi yang kemudian memanfaatkan layanan ini dan terus mencari cara untuk mengeksploitasi saluran baru ini sebelum kompetitor mendahuluinya. Tantangan disini adalah ketika memasuki media sosial, organisasi dihadapkan kepada tata nilai yang sama sekali berbeda dari nilai tradisional. Misalnya di dalam bisnis, kita ingin semua hal berlangsung rutin dan bisa diprediksikan. Namun sosial media adalah kebalikannya.Sosial media dikendalikan oleh keinginan dan kepentingan masing-masing orang di dalamnya. Implikasinya bagi kita:• Media sosial akan menjadi sarana utama untuk berkolaborasi.• Batas-batas antara pelanggan dan pemasok akan semakin kabur.• Peranti, aplikasi dan layanan akan bisa mendukung media sosial dan akan membuat kita online secara terus menerus.Komunitas yang Makin Berpengaruh

Seiring dengan meluasnya layanan internet, jejaring sosial dan media sosial , menjadi semakin populer. Dari fenomena itulah, riset yang dilakukan Fjitsu menemukan sebuah perspektif baru tentang pemanfatkan media sosial untuk kepentingan yang lebih luas laggi.

Namun inovasi membawa transformasi ke pasar, dan dengan perubahan yang semakin cepat, pendekatan ini mulai ditinggalkan. Organisasi harus bisa menghadirkan banyak pilihan. Ke depan, organisasi akan menghilangkan batasan-batasan teknologi seperti fat client dan aplikasi yang terpisah dalam banyak silo.Implikasinya bagi kita:• Standarisasi menciptakan lingkungan yang dinamis, tidak statis.• Manusia akan menggunakan teknologinya sendiri di tempat kerjanya.• “Information supply chain” akan menggantikan Reference Architecture.

Ada pandangan bahwa pilihan ibarat pedang bermata dua –di satu sisi ada nilai dari tersedianya pilihan, di sisi lain ada biaya yang timbul. Di masa lalu, organisasi mengelola biaya ini dengan membatasi pilihan dengan solusi-solusi satu untuk semua ukuran –“one size fits all.”

One Size Fits All.

Sebagian besar perubahan yang terjadi hari ini telah mendorong organisasi menembus batas-batas tradisionalnya. Misalnya dalam hal media sosial, Cloud (dan layanan Cloud personal) serta peranti mobile di mana data tidak lagi terikat pada satu teknologi tertentu.Komputasi semakin menjadi sebuah hubungan antara manusia dan informasi dan bukan lagi teknologi sebagai pengelola informasi. Implikasinya pada kehidupan kita:• Data-data pribadi akan memiliki nilai uang dan menjadi mata uang yang mapan.• Keamanan akan berfokus pada manusian dan informasi, bukan kepemilikan dan pengendalian.• Organisasi akan lebih sering melihat ke luar daripada ke dalam.

Tak Lagi Terikat Teknologi Tertentu

Koneksi internet yang semakin meluas dan masif banyak dimanfatkan berbagai kalangan, termasuk diantara para pebisnis. Tidak mengherankan jika dalam lima tahun terakhir ini tumbuh pesat toko online.Seiring dengan menjamurkan toko online konsep B2C atau bussines to consumer makin marak pula. Secara sederhana B2C adalah suatu usaha atau bisnis yang menjual produk atau layanan secara langsung kepada end user.Toko online dan B2C, merupakan gelombang baru dalam berbisnis antara lain karena mampu menyediakan mekanisme yang sederhana untuk berjualan produk dan layanan. Untuk pertama kalinya, organisasi bisa bertukar layanan dengan sesamanya. Model transaksi akan mendorong nilai dan efisiensi secara lebih besar.Implikasinya bagi kehidupan kita:• Adalah pasar yang mendefinisikan layanan dan kualitas layanan tersebut.• Pilihan aplikasi akan berubah secara berkala.• Hubungan bisnis yang dinamis akan menjadi norma (tidak lagi aliansi statis).

Bussines to Consumer (B2C)

Terkoneksinya aneka peranti ke internet merupakan perspektif ke lima versi Fujitsu yang akan menjadi tren dan mengubah teknologi informasi sepanjang 2012. Mengutip berbagai studi, Fujitsu memperkirakan bahwa tahun ini ada sekitar 4 miliar peranti yang terhubung dengan internet. Jumlah perangkat yang terkoneksi dengan internet akan mengalami peningkatan yang signifikan.Diperkirakan jumlah ini akan melonjak menjadi 15 miliar pada 2015 dan 20 miliar pada 2020 seiring dengan turunnya biaya prosesor dan pemancar nirkabel. Kemampuan koneksi bukan lagi monopoli komputer, tetapi semua mesin seperti vending machine, meteran parkir bahkan tempat sampah- akan mampu memancarkan informasi tentang status lingkungan di sekitarnya baik secara pasif, responsif bahkan secara otonom.Hasilnya adalah dunia yang penuh dengan benda cerdas. Implikasi bagi kita atas fenomena itu adalah:• Mayoritas benda yang terkoneksi ini tidak memiliki pengguna manusia sehingga tidak memiliki antar muka pengguna manusia.• Adalah mesin, bukan manusia yang akan lebih banyak memproduksi data di Internet.• Hidup kita akan tergantung dari aliran informasi dari benda-benda dan mesin-mesin ini.

Internet telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Bila kemudian muncul pertanyaan, berapa peranti di dunia ini yang terhubung dengan internet.

Hanya 10 Persen Orang Indonesia Melek Teknologi

TEMPO.CO, Jakarta - Penerapan teknologi di kalangan masyarakat masih terbatas di kalangan berpendidikan dan mereka yang tinggal di kota besar. Innovators and experts in computer technology, Michael S. Sunggiardi, mengatakan, dari 239 juta penduduk Indonesia, hanya 10 persennya atau sebanyak 23,9 juta orang yang melek teknologi.

Kendati saat ini diperkirakan terdapat sekitar 80 juta orang yang mengakses Internet, namun angka itu tidak merujuk pada mereka yang benar-benar memahami teknologi informasi. Dari jumlah itu, 72 juta orang di antaranya menggunakan Internet untuk berjejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.

"Melek teknologi dalam arti mereka bukan early adaptors dan terus mengikuti perkembangan teknologi," kata Michael dalam diskusi tentang penerapan cloud computing di Jakarta, Rabu, 22 Februari 2012.

Menurut pria yang sudah berjibaku dengan dunia komputer di Tanah Air sejak tahun 1982 ini, dari 497 kota besar di Indonesia, hanya 10 di antaranya yang siap mengadopsi teknologi tingkat tinggi, seperti komputasi awan. "Pulau Jawa dan Sumatera tentunya," ujarnya.

Sementara itu, daerah di luar wilayah itu, apalagi Indonesia timur, kata dia, penggunaan teknologi masih sangat minim, bahkan di bawah minus. Salah satu alasan rendahnya serapan teknologi informasi di wilayah ini lantaran infrastruktur yang belum terbangun.

Tahun ini rencananya pemerintah akan membangun jaringan serat optik nasional yang menjangkau 33 provinsi, 440 kota/kabupaten. Jaringan serat optik ini direntangkan menggunakan kabel laut dan kabel di daratan dengan panjang masing-masing 35.280 dan 21.807 kilometer.(RINI KUSTIANI)

• TEMPO.CO

Posted in: Teknologi Informasi

RIM Berencana Gandeng ITB untuk Pengembangan Teknologi Komunikasi Bergerak

Kepala Lembaga Inovasi dan Kewirausahaan ITB, Suhono Harso Supangkat menjelaskan, saat ini pihak RIM tengah menjajaki kerja sama dengan ITB dalam penelitian teknologi mobile communication.

"Ini awal kerja sama, namun tetap perlu ada hal-hal yang akan dibicarakan lebih lanjut. Saat ini masih dalam tahap letter of intent," ujar Suhono dalam acara Forum Sosialisasi Komunikasi Ekspor Impor, ITB, Bandung, Sabtu (3/3).

Suhono menambahkan, pihak ITB akan segera bertemu pihak RIM untuk membicarakan detilnya. Perjanjian kerja sama, tambah Suhono, baru akan dipastikan April mendatang," ujarnya.

Suhono merinci, salah satu kompensasi dari bentuk kerja sama yang dijalin dengan RIM adalah pemberian beasiswa penelitian dalam bidang teknologi mobile communication bagi mahasiswa S-2 dan S-3 ITB.

"Intinya memang pada pengembangan teknologi mobile communication. Nanti bisa jadi akan dibangun Blackberry Innovation Center di ITB atau Indonesia," tambahnya.

• REPUBLIKA.CO.ID

Posted in: ITB,Teknologi Informasi

Menristek : Industri Dalam Negeri Tidak Percaya Riset Kampus

Diakui Menristek, masih ada ketidakpercayaan industri di Indonesia menggunakan riset-riset kampus dan menindaklanjutinya dalam produksi massal. Kebanyakan menggunakan riset-riset lembaga asing yang biayanya sangat besar dengan kualitas yang memang bisa dipastikan.

Riset-riset kampus di Indonesia sebenarnya tidak kalah. Ini yang menjadi tugas Kemenristek untuk mendorong industri di Indonesia lebih percaya riset kampus. “Kami merangsang kampus untuk lebih banyak menghasilkan riset dengan kualitas baik dan bisa diterapkan ekonomis di industri,” kata dia.

Diantara langkahnya adalah memberi insentif pada penelitian-penelitian di kampus. Ini juga berlaku untuk mahasiswa yang bahkan belum lulus S1. “Kami membuat program kompetisi penelitian yang masing-masing paket dibiayai Rp50 juta,” kata Menristek.

Di sisi lain, Kemenristek juga merangsang industri lebih percaya pada riset kampus melalui BUMN. Berbagai kemudahan juga diberikan pada industri, misalnya fasilitas bebas pajak bagi komponen-komponen riset yang harus diimpor.

Keresahan ini juga dirasakan kalangan kampus. Muhammad Nur Yuniarto Kepala Laboratorium Sistem Otomasi Industri ITS misalnya mengatakan ketidakpercayaan industri pada riset kampus menyebabkan ketertinggalan teknologi otomotif Indonesia setidaknya hingga 50 tahun.

Dia mencontohkan teknologi fuel injection yang sebenarnya ditemukan tahun 1960-an, baru bisa dikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini saja. Itupun masih dalam skala riset dan belum mencapai produksi massal.

“Kalau industri negeri ini memberi kepercayaan pada riset kampus, saya yakin kondisinya tidak seperti ini. Akan banyak inovasi-inovasi teknologi yang lahir dari kampus,” paparnya.

Menristek juga mengakui, diantara penyebab masih kurang dipercayanya riset kampus adalah anggaran riset dalam APBN yang terlalu kecil. Tahun ini, APBN mengalokasikan Rp315 miliar untuk riset kampus. Nominal idealnya, minimal 1% dari Gross Domestic Product (GDP) yang pada 2011 lalu tercatat nilainya Rp1.732 triliun.

Sebagai perbandingan negara yang punya riset cukup maju adalah Jepang yang mengalokasikan 3% dari GDP-nya untuk riset.

“Tapi memang kebutuhan kita masih lebih banyak di sektor lain. Saat ini kita upayakan setidaknya kalangan kampus tetap bisa berkarya dengan riset-riset mereka,” pungkas Menristek.(edy)

Teks Foto :

- Gusti Muhammad Hatta Menristek dengan hasil riset robot buatan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.

Foto : Eddy suarasurabaya.net

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net/16 Maret 2012/humasristek

Posted in: Teknologi Informasi

Andapun Bisa Membuat Turbin Angin Sendiri

Menghasilkan sendiri listrik dari sumber energi angin merupakan salah satu impian bagi mereka yang peduli dengan lingkungan. Sayangnya, perangkat itu saat ini masih terbilang relatif mahal. Namun Anda tetap bisa membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di sekeliling Anda. berikut ini adalah bahan-bahan yang bisa Anda ubah menjadi sebuah pembangkit listrik tenaga bayu yang murah dan mudah.

Roda Sepeda Bekas

Rotor atau bagian berputar adalah bagian yang paling penting dari sebuah pembangkit listrik tenaga bayu. Rotor ini yang berfungsi memindahkan energi angin ke sebuah generator untuk menjadi energi listrik.

Beberapa waktu lalu, seperti yang dikutip dari Treehugger, seseorang yang menyebut dirinya supergokue1 membuat sebuah rotor dari roda sepeda bekas. Dalam video yang diunggahnya ke Youtube, dia mendemonstrasikan kemampuan roda sepeda bekas tersebut dalam menangkap energi angin.

Untuk membuat ide inovatif tersebut, supergokue1 memerlukan selotip aluminium yang sering digunakan untuk membungkus pipa pendingin udara dalam gedung-gedung komersial. Selotip aluminium tersebut digunakan untuk membungkus jari-jari roda yang berdekatan menjadi sebuah bilah rotor sembari memberi bentuk pada bilah tersebut. Hasilnya, rotor mampu berputar kencang.

Proyek yang dilakukan supergokue1 ini masih belum selesai. Rencananya dia akan menggunakan dua buah generator DC untuk mengubah energi kinetik rotor menjadi listrik pada kedua roda sepeda bekasnya.

Pipa PVC

Kali ini pipa PVC bisa dimanfaatkan untuk membuat sebuah pembangkit listrik tenaga bayu dengan sumbu vertikal atau vertical axis wind turbine.

Seperti yang dikutip dari Instructable, sebuah ide yang diunggah oleh Faroun di laman tersebut konon mampu menghasilkan daya hingga 100 Watt hanya dengan beberapa perlengkapan sederhana dan murah.

Faroun menjelaskan bahwa dia hanya membutuhkan 8 buah pipa PVC dengan panjang yang sama, sepasang pipa saluran pembuangan, as roda sepeda bekas, roda bekas sepeda roda tiga, kabel-kabel dan DC motor.

Dengan beberapa bahan yang mudah didapatkan tersebut, Faroun berhasil mendemonstrasikan turbin angin sumbu vertikalnya. Hanya sayangnya, sepertinya Faroun belum memikirkan tentang bagaimana melindungi turbin anginnya dari terjangan angin di atas 35 kilometer per jam.

Plywood

Selain itu Anda juga bisa membuat turbin angin sumbu vertikal dengan menggunakan plywood. Hanya saja penggunaan bahan ini membutuhkan cara yang lebih rumit dibandingkan dua cara di atas, tetapi masih tetap bisa Anda lakukan dengan ekstra kerja keras.

Seperti yang dikutip dari Windstuffnow, turbin angin yang dinamakan Lenz2 ini sebagian besar dibuat dari plywood, aluminium dan magnet sebagai generatornya.

Bagian yang membutuhkan kerja ekstra adalah pada saat membuat bilah rotor, dimana dibutuhkan peralatan memotong plywood dan aluminium foil. Selain itu membangun alternator juga membutuhkan perhatian dan ketelitian yang lebih. Anda bisa membangunnya dengan melihat referensinya di sini.

Kecepatan Angin Cukup

Bahan apapun yang akan Anda ubah menjadi pembangkit listrik tenaga bayu, pastikan Anda sudah menemukan lokasi dengan kecepatan angin yang cukup untuk memutar rotornya. Jika tidak, maka pembangkit listrik tenaga bayu Anda akan menjadi monumen karya Anda yang tak terpakai. (planethijau.com/ humasristek)

Ristek

Posted in: Energi,Teknologi Informasi

Pemerintah Sambut Google Buka Kantor di Indonesia

"Kami mengapresiasi langkah Google," kata juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Gatot Dewa Broto, kepada Tempo, Senin, 26 Maret 2012.

Menurut Gatot, pembukaan kantor perwakilan tersebut merupakan langkah awal Google di Indonesia. "Pada pertengahan tahun lalu, kami sudah meminta Google untuk membuka kantor representatif di Indonesia," ujarnya.

Dengan jutaan pengguna di Indonesia, kata Gatot, memang sudah selayaknya Google membuka kantor perwakilannya di Indonesia. Gatot mengungkapkan sejumlah manfaat dengan pembukaan kantor Google di Indonesia.

Manfaat pertama akan dirasakan langsung oleh perguruan tinggi di Indonesia. Universitas bisa melakukan kerja sama langsung dengan Google melalui kantor perwakilannya. “Tidak perlu lagi ke kantor Google di Singapura atau Hong Kong,” kata Gatot.

Yang kedua, pembukaan kantor Google Indonesia juga akan membuat proses interaksi raksasa mesin pencari itu dengan para pemangku kepentingan di Indonesia bisa berlangsung cepat. Demikian pula bila ada persoalan hukum, penanganannya bisa lebih cepat.

Adapun soal mendirikan server di Indonesia, Gatot mengatakan pemerintah masih menunggu Rancangan Peraturan Pemerintah yang mengatur penyelenggaraan informasi dan transaksi elektronik (ITE). RPP ini merupakan aturan pelaksana dari Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Google akan membuka kantor perwakilan di Indonesia pada Jumat, 30 Maret pekan ini. Selain pembukaan kantor, Google juga akan memperkenalkan Country Head Google Indonesia.

Dalam undangan yang diterima Tempo itu disebutkan kantor representatif Google di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan pengalaman bagi para pengguna, pengiklan, juga mitra dari Google.

Sebelumnya, Country Marketing Manager Indonesia, Google Asia Pasific, Krishna Zulkarnain, mengatakan kantor perwakilan Google merupakan kantor pemasaran dan penjualan seperti halnya kantor Google di Singapura. “Basisnya marketing and sales, jadi tidak ada engineering-nya,” katanya seusai peluncuran program Bisnis Lokal Go Online di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu, 11 Januari.(IQBAL MUHTAROM)

• TEMPO.CO

Posted in: Teknologi Informasi

BRTI: Google ke Indonesia untuk Cari Iklan

foto
mobilitysite.com

TEMPO.CO , Jakarta - Komisoner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Nonot Harsono mengatakan Google sudah seharusnya diperlakukan sebagai sebuah penyedia konten. “Google itu bisa dianggap sebagai content provider global,” kata Nonot kepada Tempo, Senin, 26 Maret 2012.

Hal itu diungkapkan Nonot menanggapi pembukaan kantor perwakilan Google di Indonesia pada Jumat, 30 Maret pekan ini. Selama ini, kata Nonot, Google masih menggunakan baju Internet, sama dengan yang dilakukan oleh produsen BlackBerry, Research In Motion.

Padahal, menurut Nonot, pola bisnis yang sekarang berjalan sudah berubah, dari yang semula menggunakan sistem jaringan menjadi berbasis server. “Dalam prakteknya Google itu penyedia konten dan aplikasi yang menjadi partner operator telekomunikasi,” ujarnya.

Nonot mengatakan pendapatan Google amat bergantung pada rating atau orang yang mengakses mesin pencari tersebut. Adapun untuk mengakses Google, orang membutuhkan jaringan yang disediakan oleh operator. Hal yang sama juga berlaku untuk layanan media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Masalahnya selama ini, kata Nonot, operator menerapkan tarif yang rendah untuk mengakses Internet. Akibatnya pendapatan operator terus menurun meski layanan data terus meningkat.

Namun pada saat yang sama Google menangguk keuntungan karena orang yang mengakses semakin banyak, sehingga trafiknya semakin tinggi. “Ini sama seperti koran yang oplahnya besar, iklannya juga banyak,” katanya.

Menurut Nonot, tujuan Google mendirikan kantor perwakilan di Indonesia bisa dijadikan bukti bahwa mesin pencari ini sekadar mencari iklan dan menjadikan Indonesia sebagai pasar. “Itu menunjukkan bahwa Google memang mencari iklan,” kata Nonot yang mengaku tidak mendapat undangan dari Google untuk acara pembukaan kantor perwakilan tersebut.

Dalam undangan yang diterima Tempo, Google menyebutkan bahwa kantor representatif Google di Indonesia ini diharapkan dapat meningkatkan pengalaman bagi para pengguna, pengiklan, dan mitra dari Google

Karena itu sudah saatnya mulai dicari titik keseimbangan, sehingga operator-operator ikut menikmati keuntungan dari meningkatnya penggunaan layanan data ini.

Nonot menyatakan kalangan operator pun belum terlalu memahami perubahan pola bisnis ini. Kalangan operator di Amerika pun, kata dia, juga mengalami kerugian akibat meningkatnya layanan data ini.

Nonot mengakui bahwa saat ini adalah masa-masa transisi, sehingga regulasi yang mengatur tentang model kerja sama antara penyedia konten seperti Google dan penyedia jaringan harus segera dirumuskan. Regulasi seperti ini pun belum ada contohnya di negara lain. “Ya Indonesia harus memulai,” katanya.

Nonot menilai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik belum bisa digunakan untuk mengatur pola bisnis antara operator dan penyedia konten. “UU ITE itu mengatur pemanfaatan transaksi elektronik, tapi infrastruktur jaringannya sendiri tidak diatur,” ujarnya.(IQBAL MUHTAROM)

• TEMPO.CO

Posted in: Teknologi Informasi

Pengusaha ASEAN Belum Siap Masuk Era Digital

foto
Bluebirdstrat.com

TEMPO.CO , Jakarta - Hasil survei yang digelar tahun lalu oleh IBM terhadap 1.700 chief marketing officer (CMO) di 64 negara, termasuk di wilayah Asia Tenggara, menunjukkan sebagian besar eksekutif pemasaran telah menyadari adanya pergeseran dalam dunia digital yang mempengaruhi cara berinteraksi dengan konsumen secara permanen.

Namun dari jumlah itu hanya 40 persen CMO di ASEAN yang telah menyatakan diri siap dalam menghadapi tantangan digital yang semakin rumit.

Dikutip dari pernyataan tertulisnya, Rabu, 28 Maret 2012, responden memandang terdapat empat tantangan utama yang dihadapi CMO terkait dengan perkembangan dunia digital.

Pertama soal ledakan data, media sosial, beragamnya pilihan saluran dan perangkat, serta pergeseran demografi.

Empat "masalah" ini menjadi faktor penentu yang bersifat universal khususnya pada bagian pemasaran dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan.

Charles Njedu, Senior Engagement Manager, Strategy and Transformation, Global Business Services IBM Singapura, menjelaskan media sosial, sebagai salah satu sumber data tidak terstruktur, akan ikut menjadi faktor yang mendorong perubahan permanen ini.

"Para CMO yang dapat memanfaatkan sumber wawasan baru ini untuk meningkatkan pendapatan, merancang ulang hubungan dengan pelanggan, dan membangun brand," ujarnya.

Namun dalam hasil survei ini ditemukan ternyata para responden masih berpikir dua kali untuk mengadospi teknologi baru demi menaklukkan tantangan digital ini.

Alasannya ada pada pendanaan, ketidakpastian return of investment, dan pengimplementasian sarana.

Njedu menyatakan eksekutif pemasaran tidak seharusnya meremehkan kekuatan media sosial karena pemasar yang berhasil menuai wawasan dari media sosial akan lebih siap menghadapi pergeseran pasar dan teknologi di masa depan.(RATNANING ASIH)

• TEMPO.CO

Posted in: Teknologi Informasi

Kenalkan, 'Instagram' BlackBerry Asli Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta - Grace Tahir terpaksa mengurungkan niatnya mengunggah foto pemandangan dan makanan khas Selandia Baru ke akunnya di Facebook tatkala liburan ke negara itu tahun lalu.

Ketika itu, ia ingin memberikan sentuhan lain di dalam fotonya melalui software perekayasa foto. Sayang, senjata pembidik gambar yang dibawa hanya ponsel BlackBerry dan kamera DSLR.

“Waktu itu kan belum ada aplikasi seperti Instagram di BlackBerry,” kata wanita penggemar fotografi ini kepada Tempo, Selasa lalu. “Dari situ, muncul ide untuk membuat aplikasi Bibbycam.”

Bibbycam adalah peranti lunak perekayasa foto yang dibangun Grace bersama suaminya, Ronald Kumalaputra. Suami-istri yang menekuni pendidikan ekonomi di Amerika Serikat ini membuat software di bawah bendera PT Are Gee.

Grace yang awam soal peranti lunak menggandeng tiga programmer untuk mewujudkan mimpinya. Dia mengaku sempat mengalami kesulitan saat membuat program ini. Misalnya, salah coding dan menerjemahkan rekayasa fotografi yang diinginkan ke dalam bahasa pemrograman.

Namun, berkat ketekunan dan kesabaran, aplikasi Bibbycam akhirnya hadir di BlackBerry App World sejak 18 Januari lalu. Hingga kini, aplikasi gratisan itu sudah diunduh lebih dari 44 ribu kali.

Dari jumlah itu, Bibbycam paling banyak diunduh di Indonesia dengan 28,43 persen, disusul Thailand (13,58 %), Filipina (6,20 %), Amerika Serikat (5,25 %), dan Afrika Selatan (4,30 %). Setiap harinya sekitar 1.000 foto diunggah melalui Bibbycam.

Sebenarnya nama asli aplikasi ini adalah BBcam. “Tapi RIM menolak dengan alasan mirip dengan merek mereka,” kata Ronald. “Akhirnya kami ubah.”

Chief Mobile Developer Bibbycam Martinus Lie mengatakan software ini dapat dipakai di BlackBerry OS 5 ke atas. Di dalamnya terdapat 18 filter, tujuh frame, dan rotasi foto ke delapan arah.

Menurut Grace, yang membedakan Bibbycam dengan aplikasi sejenis adalah tersedianya fitur double filter sehingga pengguna dapat mengkombinasikan dua nuansa sekaligus ke dalam satu foto. Ada pula fitur multiframe yang mampu memuat empat gambar dalam satu layar.

Ketika selesai mengutak-atik foto, Bibbycam juga menyediakan akses langsung supaya Anda dapat membagikan gambar ke Facebook dan Twitter. Pengguna aplikasi Bibbycam didominasi jenis BlackBerry Bold, baik versi 9780, 9700, maupun 9900. Kemudian tipe BlackBerry Curve dan Torch.

Sayang, tampilan antarmuka Bibbycam masih kaku. Di situs BlackBerry App World, beberapa pengguna juga mengeluhkan kesulitan registrasi dan menghapus foto yang sudah diunggah. “Itu masukan buat kami,” kata Grace.

Selain membuat aplikasi untuk BlackBerry, Grace dan Ronald juga berencana membangun software multiplatform yang bergerak di bidang kesehatan. “Kami ingin aplikasi ini berjalan di Android dan iOS,” ujar Ronald.

RINI KUSTIANI

* * *

Serupa tapi Beda

Di BlackBerry App World, ada beberapa aplikasi yang memiliki layanan serupa Bibbycam, di antaranya Molome dan Pixtix. Tentu hanya Bibbycam yang asli buatan Indonesia.

=> Bibbycam

- Versi: 2.0.0

- Rilis 18 Januari 2012

- Ukuran file 1.107 KB

- 18 filter, seperti Sephia, Old Photo, Sunshine, Negative, Posterize, dan terdapat fitur double filter

- Tujuh frame dan dapat menyatukan empat gambar sekaligus

- Membuat album dan tergabung dalam Bibbycam Community

- Tersambung ke Facebook dan Twitter

- Tersambung ke BlackBerry Messenger (minimal BlackBerry OS 6)

=> Molome

- Versi 2.0.7.4

- Rilis 4 Oktober 2011

- Ukuran file 1.735 KB

- Buatan Thailand

- 14 filter, seperti Vignette, Parlo, Croosy, Old Paper, Vintage

- Tergabung dalam Molome Community

- Tersambung ke Facebook dan Twitter

=> PixTrix

- Buatan Cina

- Versi 1.5.0

- Rilis 25 November 2011

- Ukuran file 1.819 KB

- 10 filter

- Tersambung ke Facebook dan Twitter

* * *

TEMPO.CO

Posted in: Teknologi Informasi