RI Raup Rp 342 Triliun Dari Pengeboran Migas
Jakarta � Tahun 2012 ini pemerintah yakin bakal meraup penerimaan US$ 36 miliar atau sekitar Rp 342 triliun dari kegiatan hulu migas. Target APBN-P 2012 sebesar US$ 33,48 miliar, meskipun produksi minyak turun.
Produksi minyak pada tahun ini juga berhasil dicapai sebesar 92,47 persen dari target APBN-P 2012 atau sebesar 860.000 barel minyak per hari dari target sebesar 930.000 barel minyak per hari, ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, Rabu (26/12/2012).
Dikatakan Jero, target penerimaan negara hulu migas tahun depan adalah US$ 31,75 miliar, cost recovery US$ 15,5 miliar, sedangkan pendapatan bagian kontraktor migas adalah US$ 9,7 miliar.
Banyak kendala dalam pencapaian produksi minyak pada tahun ini disebabkan antara lain tidak kembalinya produksi Chevron Pacific Indonesia (CPI) sebagai akibat pecahnya pipa anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (TGI) di lapangan Duri, Sumatera.
Selain itu, kata Jero, kendala pencapaian produksi minyak juga karena tertundanya keputusan operator baru di blok West Madura Offshore (WMO). Namun kebakaran Floating Storage Offshore (FSO) Lentera Bangsa di lepas pantai Jawa juga menjadi kendala produksi minyak pada tahun lalu.
Asumsi volume lifting minyak tahun depan ditetapkan sebesar 900.000 barel minyak per hari dan asumsi produksi gas sebesar 7.890 miliar British thermal unit per hari (BBTUD).
"Kami optimistis dapat mencapai target produksi minyak dan gas yang ditetapkan pada tahun depan, kami akan bekerja keras untuk mencapai target tersebut," kata Jero.
» itoday

Posted in: Migas
Konversi BBM ke Gas Hadapi Kendala
Jakarta � Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengakui menghadapi kendala teknis dan nonteknis dalam pelaksanaan program konversi bahan bakar minyak ke gas.
"Kami menghadapi kendala teknis dan nonteknis pada 2012. Misalnya kendala teknis konversi mobil perlu konverter kit yang harus diimpor, dan teknisnya masih sulit," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik dalam konferensi pers kinerja satu tahun menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Rabu (26/12).
Ia mengatakan kendala teknis juga terkait penyiapan bengkel dan mempersiapkan sumber daya manusia dalam menjalankan kebijakan tersebut. Kendala itu menurut dia menyebabkan program itu hingga Oktober 2012 belum berhasil, sehingga anggarannya tidak bisa dimasukkan dalam multiyear.
Kendala nonteknis menurut Jero adalah terkait perijinan dalam pembukaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Dia mengatakan perijinan tidak bisa dilakukan secara cepat karena menyangkut lahan untuk SPBG tersebut. "Tahun depan akan kami terapkan model swasta, sehingga bengkel bisa menangani kendaraan berbahan bakar gas," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Jero menjelaskan beberapa kinerja yang belum berhasil dicapai Kementerian ESDM, selain konversi BBM ke gas. Dia mengatakan pertama penghematan BBM subsidi sudah berhasil, namun belum terlalu besar dan akan ditingkatkan tahun 2013. Saat ini, kuota BBM Bersubsidi untuk tahun 2012 sebesar 44,04 juta KL telah jebol dan terpaksa harus menambah kuota BBM sebesar 1,23 juta KL. "Saya mengakui bahwa sulit sekali masyarakat untuk menghemat BBM," katanya.
Kedua, menurut dia, penggunaan BBM nonsubsidi di kalangan pemerintah sudah berjalan namun masih ada yang membandel menggunakan BBM subsidi dan akan terus diberbaiki tahun depan.
Ketiga, pencurian dan penyelundupan BBM masih terus terjadi dengan berbagai macam modus operandi. Menurut dia selama ini Kementerian ESDM sudah berkoordinasi dengan Kepolisian dan TNI AL untuk mencegah dan menindak tindakan tersebut.
"Mohon pengertian masyarakat karena sulit menangkap penyelundup, dan susah juga mengajak hidup hemat BBM. Namun tahun 2013 kami tetap optimistis," katanya.(Ant/OL-2)
● Media Indonesia

Posted in: Energi,Migas
Pertamina Temukan Cadangan Migas di Langkat
Langkat � PT Pertamina menemukan cadangan minyak dan gas di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, yang mencapai 13,2 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondesat 857,5 BCPD dengan kedalaman 3.150 MD.
Itu dikatakan Manajer Hubungan Masyarakat Pertamina Agus Amperianto di Dusun VII Desa Tanjung Jati Kecamatan Binjai, Kamis (27/12).
Disampaikannya bahwa pengeboran sumur eksplorasi Benggala (BGL) 1 sangat membanggakan. Dari hasil uji produksi pada sumur BGL 1 diperoleh kandungan migas dari gas bumi 13,2 juta standar kaki kubik per hari dan kondesat 857,5 BCPD.
Secara terpisah Bupati Langkat Ngogesa Sitepu yang langsung meninjau sumur minyak temuan Pertamina tersebut menjelaskan rasa senangnya atas temuan kandungan minyak dan gas bumi itu.
"Selaku pimpinan pemerintahan di Langkat, saya merasa senang dan siap mendukung proses eksplorasi ini," ungkapnya.
Ngogesa juga berharap tim dari Pertamina tetap menjaga kestabilan alam dalam proses eksploitasi tersebut.
Kedatangan bupati untuk meninjau sejauh mana eksplorasi yang telah dilakukan tim Pertamina sekaligus berharap tim dapat memberikan laporan terhadap hasil pelaksanaan eksplorasi sampai saat ini.
Dirinya berharap ke depan Pertamina EP dapat menemukan lagi sumur migas di lokasi lain wilayah Langkat. (Ant/OL-5)
● Media Indonesia

Posted in: Migas,Pertamina
Awali Pergantian Tahun, Pertamax Naik Rp 200/liter
Jakarta ¤ Mengawali pergantian tahun, Pertamina menaikkan harga jual Pertamax Rp 200 per liter.
“Memang pada 1 Januari 2013 harga Pertamax naik,” kata Vice President Komunikasi Korporat Pertamina, Ali Mundakir, saat dikonfirmasi Sabtu (29/12).
Harga Pertamax di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang semula Rp 9.100 naik menjadi Rp 9.300/liter.
Sedangkan harga jual Pertamax plus masih bertahan di posisi Rp 9.900/liter.
Ia mengaku kenaikan harga Pertamax ini, seiring harga pasar minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah di penghujung tahun.
Saat ditanya kemungkinan turunnya penjualan terkait naiknya BBM non subsidi ini, ia optimis penjualan Pertamax tidak akan menurun.
“Tidak berpengaruh, karena Pertamax punya segmen pasar tersendiri,” terang Ali Mundakir.(setiawan)
¤ Poskota
Posted in: Migas
Pertamina Temukan Sumur Baru di Sangatta
Jakarta | PT Pertamina EP kembali menemukan sumur eksplorasi minyak dan gas (migas) baru, yakni sumur eksplorasi Tapah-1 di Sangatta, Kalimantan Timur.
Sumur ini menghasilkan minyak menembus angka 1.000 barel minyak per hari (BOPD) dan gas 1 standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Manager Humas Pertamina EP Agus Amperianto mengatakan keberhasilan pembuktian cadangan minyak di kompartemen sebelah timur lapangan Sangatta ini diharapkan menjadi momen kebangkitan untuk peningkatan produksi di lapangan Sangatta.
"Hasil uji kandungan lapisan ke-6 dari lapisan batupasir formasi Lower Balikpapan pada kedalaman 1551-1554 m didapatkan laju alir minyak sebesar 1.017 BOPD, dan laju alir gas 1 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD)," ujar Agus dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Minggu (30/12).
Agus menjelaskan sebelumnya pada awal 2012 Pertamina telah ditemukan cadangan minyak di area Sangatta dari sumur eksplorasi Salmon Biru-1 yang terletak 2 km disebelah barat Lapangan Sangatta. Dari sumur tersebut, didapat minyak total 50 barel dan laju alir gas 0.08 MMSCFD. Menurutnya, kegiatan eksplorasi di Salmon Biru berdampak pada temuan di sumur Tapah -1.
"Kegiatan eksplorasi Salmon Biru menerapkan konsep eksplorasi baru pada batupasir formasi Pulubalang yang terbukti menghasilkan hidrokarbon di Lapangan Sangatta," kata dia.
Lebih jauh Agus menjelaskan, kegiatan eksplorasi yang dilakukan tahun 2012 tidak hanya pemboran tetapi juga Survei Seismik 2D West Sangatta (41 Km), 2D North Sangatta (52 Km) ,dan 3D Sturisoma (157 Km2) yang nantinya di harapkan dapat menelurkan prospek-prospek siap bor yang dapat dieksekusi dalam 2 tahun ke depan.
Adapun pada tahun 2013, Pertamina EP pada tahun 2013 menargetkan melakukan pemboran sebanyak 28 sumur dengan target survey seismic 2D eksplorasi adalah sebanyak 817 km serta Survey Seismik 3D adalah 1.488 km2. "Jumlah studi yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 adalah 6 studi," ujar Agus.
Ditambahkannya, target produksi minyak Pertamina EP pada tahun 2013 sekitar 137 ribu barel per hari dan gas sekitar 1.160 MMSCFD dengan estimasi Anggaran Biaya Investasi pada tahun 2013 sekitar Rp 10,3 Triliun. "Estimasi ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan prognosa ABI tahun 2012 sebesar Rp.7,2 Triliun," tukasnya. (Aim/OL-3)
• Micom

Posted in: Migas,Pertamina
Ini Dia Objek Vital Nasional di Sektor Migas 2013
Jakarta � Dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 3407/2012. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan 241 fasilitas minyak dan gas (migas) sebagai objek vital nasional (obvitnas) di sektor ESDM, seperti dikutip situs Kementerian ESDM, Senin (7/1).
Untuk subsektor migas, fasilitas yang termasuk obvitnas di antaranya adalah fasilitas Blok B Offshore dan Onshore di Aceh yang dikelola ExxonMobil Oil Indonesia, Inc, Fasilitas Blok Corridor di Jambi dan Sumater Selatan yang dikelola ConocoPhilips (Grisikk) Ltd, Fasilitas Blok Offshore North West Java serta Onshore Receiving Facility di Laut Jawa, Jawa Barat, dikelola PHE ONWJ dan area Cepu di Jawa Tengah yang dikelola PT Pertamina EP.
Selain itu, fasilitas Blok Pangkah di Laut Jawa dan Gresik, Jawa Timur, dikelola oleh Hess (Indonesia- Pangkah) Ltd, fasilitas Blok East Kalimantan termasuk fasilitas Offshore dan Onshore di Kalimantan Timur yang dikelola Chevron Indonesia Company.
Juga termasuk fasilitas Blok Mahakam dan Tengah Offshore dan Onshore di Kalimantan Timur yang dikelola Total E&P Indonesie, fasilitas Lapangan dan Kilang LNG Tangguh di Teluk Bintuni.
Untuk Obvitnas di Papua Barat, adalah fasilitas yang dikelola BP Berau Ltd dan fasilitas Blok Kepala Burung di Sorong, Papua, dikelola PetroChina Internasional (Bermuda) Ltd.
Sedangkan fasilitas kegiatan hilir migas yang termasuk obvitnas, antara lain Kilang LNG Arun di Aceh yang dikelola PT Arun NGL, Depot LPG Pangkalan Brandan di Sumatera Utara, dikelola PT Pertamina. Unit Bisnis Strategik 3 (SBU-3) Medan, Batam dan Pekan Baru di Sumatera Utara dan Kepulauan Riau yang dikelola PT PGN,
Selain itu masih ada Kilang Pengolahan LPG Prabumulih di Sumatera Selatan yang dikelola PT Titis Sampurna. Pipa transmisi gas alam Grissik, Pagardewa-Lampung-Banten-Bekasi yang dikelola PT PGN dan fasilitas penyimpanan AKR Lampung yang dikelola PT AKR Corporindo, Tbk.
Fasilitas lainnya adalah, Regasing Fasilities Unit di Lepas Pantai Tanjung Priok Jakarta yang dikelola PT Nusantara Regas, Depo Pengisian Pesawat Udara Soekarno Hatta yang dikelola PT Pertamina (Persero), Kilang LNG Badak Bontang yang dikelola PT Badak NGL. Ada Kilang Methanol Bunyu di Kalimantan Timur yang dikelola PT Pertamina (Persero). Instalasi Biak di Biak, Papua, dikelola PT Pertamina (Persero) dan Jober Timika yang dikelola PT Pertamina (Persero).*
• itoday

Posted in: Migas
Perusahaan Inggris Suntik Rp 115 Triliun untuk LNG Tangguh
Proyek LNG Tangguh menjalani perluasan dengan membangun train 3.
| Proyek LNG Tangguh, Papua |
Perusahaan migas asal Inggris, BP, siap mengucurkan investasi 7,5 miliar pound sterling atau sekitar Rp 115 triliun untuk mengembangkan train 3 kilang LNG Tangguh, Papua. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) telah menyetujui Plan of Further Development atau rencana pengembangan lanjutan untuk lapangan gas Tangguh.
Persetujuan rencana pengembangan lanjutan tersebut diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Inggris, David Cameron, setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Chief Executive BP Group, Bob Dudley, dan BP Presiden Regional Asia Pasifik, William Lin.
"Kesepakatan senilai 7,5 miliar pound adalah berita besar bagi BP, salah satu investor asing terbesar di Indonesia," kata David Cameron dalam keterangan tertulis, Jumat 2 November 2012.
Menurut David, perluasan Tangguh akan menjadi langkah signifikan untuk mewujudkan potensi penuh dari aset strategis utama. Kesepakatan ini merupakan kemajuan dan komitmen jangka panjang Inggris untuk bekerja sama dengan Indonesia.
BP dan mitra dalam proyek Tangguh sekarang akan mulai tender untuk front-end engineering and design jasa guna pengembangan tiga kereta yang diusulkan. Proyek mencakup pembangunan fasilitas penerimaan gas di darat, dermaga, tangki penampungan LNG, dan tangki penyimpanan kondensat yang terletak di Teluk Bintuni, Kabupaten Papua Barat.
Train 3 ini nantinya akan menambah kapasitas produksi LNG Tangguh sebanyak 3,8 juta ton per tahun menjadi 11,4 juta ton per tahun. Pemerintah Indonesia sendiri telah menyatakan akan mengalokasikan 40 produksi train ketiga LNG Tangguh atau sekitar 200 juta kaki kubik per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.(art)
© VIVA.co.id
Posted in: Investasi,Migas,Tambang
Energi fosil sumbang 30 % penerimaan negara
Pemerintah menyatakan sumber energi konvensional atau energi fosil masih menjadi tulang punggung penerimaan negara. Pasalnya, energi fosil telah menyumbang hampir 30 persen dalam APBN 2012.
"Sampai saat ini migas yang katanya sumber energi yang konvensional tetap masih merupakan tulang punggung penerimaan negara hampir 25-30 persen," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Evita Legowo di Hotel Bimasena, Jakarta, Senin (05/11).
Namun, kata Evita, untuk tahun 2013, pemerintah dan DPR telah menyepakati penerimaan negara bukan hanya dari minyak tetapi gas juga masuk ke dalam penerimaan negara. "Jadi makin penting migas dalam penerimaan negara," tegasnya.
Evita mengakui saat ini produksi minyak bumi mengalami penurunan dan pihak BP Migas berusaha untuk mempertahankan penurunan rata-rata (decline rate) yang hampir mencapai 12 persen. "Dengan segala upaya jadi 3 persen," katanya.
Menurut Evita, dengan menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dapat mengambil 45 persen minyak bumi yang berada di sumur-sumur tua atau mayor. "Walaupun kecil prosentasenya. Chevron sudah rencanakan lagi, Pertamina sudah mulai di beberapa lapangan, belum banyak. Untuk kami EOR dengan primary dan secondary maksimal 45 persen bisa diambil yang di perut bumi," jelasnya.
Evita menambahkan memang teknologi EOR tersebut sangat mahal namun, teknologi tersebut terbukti dapat meningkatkan produksi minyak nasional. "Syaratnya, biaya mahal. Untuk harga minyak bumi USD 100 per barel masih mencakup keekonomiannya. Kontraktor mulai gunakan dengan bener dalam rangka tingkatkan produksi," pungkasnya (mdk/rin)
© Merdeka
Posted in: Energi,Migas
Pemerintah Minta Jatah 40 Persen dari LNG Tangguh
Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Evita H Legowo menyatakan pemerintah masih terus menegosiasikan jatah liquid natural gas nasional pada train III Tangguh. "Pemerintah masih meminta agar alokasi LNG di train III Tangguh untuk pasar domestik bisa lebih dari 40 persen," kata Evita saat ditemui usai acara Development and Deployment of Enchanced Recovery Strategy di Graha Bimasena Senin, 5 November 2012.
Ia mengatakan, pihak British Petroleum sebagai investor train III Tangguh, sudah memberikan sinyal persetujuan penambahan alokasi tersebut. Walau demikian, Evita masih belum mau menyebutkan angka pembagian tersebut. Ia mengatakan hal tersebut baru dapat dipastikan akhir tahun ini setelah seluruh proses negoisasi selesai.
Indonesia dan BP baru saja menandatangani proyek pembangunan LNG senilai US$ 12 miliar atau sekitar Rp 114 triliun (Kurs US$ 1 setara dengan Rp 9.500) di LNG Tangguh. BP menjanjikan ekspansi ini akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik Indonesia. Tak kurang dari 24 kargo gas atau 40 persen produksi domestik Tangguh Train ke-3 ini rencananya akan dialirkan untuk Perusahaan Listrik Negara.
Permintaan penambahan alokasi pembagian produksi gas Tangguh tersebut, kata Evita, dilakukan karena banyak industri yang meminta ketersediaan gas dalam negeri dari train III Tangguh. "Kami minta LNG train II Tangguh tidak hanya untuk PLN, tetapi juga untuk didistribusikan ke industri domestik," kata Evita.
Hal senada juga dikatakan oleh Deputi Perencanaan Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas, Widyawan Prawiraatmadja. Ia mengatakan kemungkinan akan ada revisi dalam struktur pembagian hasil roduksi train III Tangguh. "Sementara ini, kesepakatannya adalah untuk pasar domestik maksimal 40 persen, namun hal ini masih bisa berubah," kata dia.
Sementara mengenai harga LNG train III tangguh, Evita mengatakan pemerintah belum memutuskan harga juas gas produksi train III Tangguh dan formula harganya mengikuti harga minyak mentah Indonesia atau Japan Cocktail Crude. Ia berjanji akan menjelaskan kesepakatan harga gas tersebut pada akhir November mendatang, atau saat PLN dan BP menyepakati harga jual gas Tangguh.
Widyawan berharap harga gas train III Tangguh bisa di atas harga gas yang dibayarkan PLN ke Nusantara Regas dari terminal terapung di Teluk Jakarta. "Semakin tinggi harganya, semakin besar pula pendapatan negara dari train III Tangguh," kata dia.
© Tempo
Posted in: Bisnis,Energi,Migas
Indonesia masih simpan banyak cadangan minyak
Indonesia disinyalir masih mempunyai cadangan minyak yang besar yang terpendam dari cekungan-cekungan yang ada antara Indonesia Barat dan Timur. Saat ini Indonesia memiliki cadangan minyak 4 miliar barel yang cukup untuk ketersediaan 10 tahun saja.
Pakar migas Abdul Muin mengatakan potensi cadangan minyak besar tersebut terdapat pada cekungan yang belum disurvei dan diperiksa. Sehingga, lanjut dia, belum diketahui berapa besar cadangan tersebut. "Banyak dari barat sampai ke timur. Dari Sumatera sampai Papua," ujar Muin dalam acara Focus Group Discusion Kepastian Hukum dan Pengaruhnya Terhadap Investasi di Sektor Migas di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (07/11).
Menurut Muin, saat ini Indonesia memiliki 60 cekungan sepanjang Sumatera dan Papua, namun yang sedang diekplorasi masih terbilang minim. "Memang sebetulnya lapangan-lapangan dan cekungan yang belum diselidiki itu. Seharusnya disisihkan dana dari penerimaan pemerintah," tegasnya.
Muin menambahkan dengan adanya temuan baru tersebut dapat dijual kepada Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) sehingga dapat meningkatkan penerimaan negara. "Kemudian, lapangan yang telah diekplorasi pun juga harus distudi ulang untuk meningkatkan nilai dari lapangan itu," pungkasnya.(mdk/rin)
© Merdeka
Posted in: Migas,Tambang
Indonesia belum siap nasionalisasi migas
Diberikannya kontrak perpanjangan blok migas yang mau habis masa kontraknya kepada perusahaan nasional atau BUMN dinilai dapat mengganggu iklim investasi. Sebab, tidak semua perusahaan nasional memiliki kemampuan teknis dan finansial mengelola industri migas.
"Memberikan semua kontrak karya migas kepada perusahaan dalam negeri itu hanya nasionalisme buta. Itu hanya akan memberikan dampak negatif bagi investasi kita," kata ujar Pakar migas Abdul Muin dalam acara Focus Group Discusion Kepastian Hukum dan Pengaruhnya Terhadap Investasi di Sektor Migas di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (7/11).
Muin mengatakan, industri migas sebisa mungkin jangan dikaitkan dengan kegiatan politik. "Jangan hanya kepentingan sektoral sesaat, karena ke depan kita akan menghadapi krisis energi yang sangat signifikan," tegasnya.
Muin menambahkan, jika ada kontrak migas dengan pihak asing yang akan segera habis, sebaiknya perusahaan dalam negeri seperti PT Pertamina (Persero) tetap harus dilibatkan. Tetapi disarankan tetap harus berpartner dengan perusahaan asing yang sudah mapan.
"Carilah patner asing, kalau bisa yang banyak uangnya. Karena ini sangat strategis bagi industri migas dalam negeri," katanya.
Sebelumnya, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menyatakan keputusan penetapan pengelola blok Mahakam yang hampir habis masa kontraknya pada tahun 2017 merupakan keputusan pemerintah. Namun, BP Migas telah memberikan rekomendasi terkait pengelola blok Mahakam sejak 2010.
Deputi Pengendalian Operasi BP Migas Gde Pradnyana mengatakan pihaknya menyarankan kepada pemerintah agar penetapan pengelola blok tersebut dikaitkan dengan kinerja eksisting operator dan sisa cadangan yang ada saat ini.
"Kami tidak menyarankan nama operator, karena itu adalah kewenangan pemerintah. Secara umum kami menyarankan agar perpanjangan PSC dikaitkan dg kinerja existing operator dan sisa cadangan yg ada," ujar Gde. (mdk/noe)
© Merdeka
Posted in: Migas,Tambang
Alasan Indonesia Masih Ekspor Gas
Saat ini pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur gas.
| Terminal penyimpanan regasifikasi terapung FSRU Jakarta |
Jarman menjelaskan, saat ini infrastruktur gas baru terbangun di Pulau Sumatera dan beberapa wilayah di Pulau Jawa. "RI mewarisi infrastruktur gas yang kurang," katanya dalam diskusi publik "Rasionalisasi Tarif Listrik Menuju Subsidi Tepat Sasaran" di Jakarta, Senin, 26 November 2012.
Untuk itu pemerintah saat ini tengah menggenjot pembangunan infrastruktur gas, seperti membangun terminal penyimpanan regasifikasi terapung (FSRU) di sejumlah wilayah. Pemerintah juga mewajibkan setiap kontrak gas baru untuk memprioritaskan penggunaan dalam negeri.
Ia menjelaskan, dengan menggenjot penggunaan gas untuk domestik maka biaya energi primer akan terus turun. Seperti diketahui gas adalah salah satu sumber daya alam yang memiliki harga murah dibandingkan dengan energi primer lainnya seperti bahan bakar minyak dan batu bara.
Sementara itu Direktur Utama PLN Nur Pamudji menjelaskan, PLN terus memperbaiki bauran energi primer dengan meningkatkan porsi gas dan batu bara dan menurunkan porsi BBM.
"Penggunaan BBM PLN mengalami penurunan besar, tahun lalu 23 persen dan mudah-mudahan menjadi 16 persen pada tutup tahun ini. Sedangkan batu bara tahun lalu 43 persen dan tahun ini bisa 50 persen," katanya.
Pengamat energi, Fabby Tumiwa mengatakan, tren harga energi primer tidak mengalami fluktuasi yang terlalu tinggi, selain BBM. Ia mencontohkan harga gas di Amerika Serikat turun drastis, di bawah US$5 per mmbtu, akibat suksesnya pengembangan shale gas. Murahnya gas di negeri Paman Sam ternyata tidak berbanding lurus dengan harga gas domestik.
"Harga gas di Amerika tidak mempengaruhi harga gas di dalam negeri, malah PLN membayar harga gas di atas itu," katanya.
Turunnya berbagai harga energi primer tersebut dipengaruhi oleh krisis Eropa dan Amerika Serikat yang menyebabkan konsumsi energi turun. PLN harus bisa memanfaatkan penurunan harga energi primer untuk saving menjadi investasi infrastruktur listrik.
Selain itu, ia menyarankan agar peranan BBM terus dikecilkan oleh PLN karena harga BBM paling mudah fluktuatif seiring membaiknya perekonomian dunia. "Komposisi energi harus diperhatikan agar biaya produksi sedikit kebal dengan fluktuasi harga," katanya. (ms)
© VIVA.co
Posted in: Migas
Indonesia Sodorkan Migas ke Investor Norwegia
Sebagian besar penemuan baru sumber minyak dan gas (migas) Indonesia, terletak di laut dalam, tidak lagi di wilayah onshore. Norwegia adalah salah satu negara yang memiliki pengalaman dalam pengembangan jaut dalam. Karena itu, pemerintah mengajak investor dari negara tersebut agar mau menanamkan investasi di Indonesia.
“Kami ingin belajar banyak dan investor Norwegia dapat menanamkan uangnya dengan mengembangkan laut dalam bersama kami,”ujar Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo, Kamis (29/11).
Sebagian besar migas laut dalam baru tersebut berlokasi di Indonesia Timur. Sejumlah kontrak kerja sama pengembangan laut dalam, juga telah ditandatangani.
Potensi sumber daya migas nasional saat ini tersebar dalam 60 cekungan sedimen (basin). Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 cekungan belum pernah dilakukan kegiatan eksplorasi dan sebagian besar berlokasi di laut dalam.
Ke-22 cekungan tersebut adalah Ketungau, Pembuang, Lombok Bali, Flores, Tukang Besi, Minahasa, Gorontalo, Sala Bangka, South Sula, West Buru, Buru, South Obi, North Obi, East Halmahera, North Halmahera, South Seram, West Weber, Weber, Tanimbar, Waropen dan Jayapura.
Hubungan bilateral Indonesia dan Norwegia dalam bidang energi telah berlangsung lama, dan merupakan implementasi MoU kerja sama bidang energi antara Kementerian ESDM Republik Indonesia dengan Kementerian Industri dan Energi Kerajaan Norwegia yang ditandatangani pada 18 September 1995 lalu di Jakarta.*
itoday
Posted in: Migas
Medco Beli Blok Malik di Yaman
Jakarta � PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC) menyelesaikan penjanjian jual beli hak partisipasi atas Blok 9 (Malik) dengan Reliance Exploration & Production DMCC (REPDMCC).
Direktur Utama MEDC, Lukman Mahfoedz, mengatakan perseroan telah memenuhi seluruh persyaratan pendahuluan yang ditentukan di dalam surat perjanjian jual beli (Sales Purchase Agreement/SPA) senilai US$ 90 juta. Transaksi dilakukan melalui anak usahanya, Medco Yemen Malik Limited (Medco Yemen).
Transaksi ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Perminyakan dan Mineral Republik Yaman pada 24 November 2012.
Menurutnya, dengan telah efektifnya transaksi ini, Medco Yemen memiliki hak partisipasi sebesar 21,25% atas Blok 9 (Malik) yang terletak di Yaman.
"Calvalley Petroleum (Cyprus) Ltd bertindak sebagai operator pada Blok 9 (Malik)," terangnya.
Dari hal tersebut stuktur kepemilikan hak partisipasi di Blok 9 adalah sebagai berikut, Calvalley Petroleum (Cyprus) Ltd sebesar 42,50%, Medco Yemen 21,25%, Hood Oil Limited 21,25% dan Yemen Oil and Gas Company 15%. [hid]
Inilah
Posted in: Bisnis,Migas
2013, Premium dan Solar Bisa Rp 6.000 per Liter
Ilustrasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). (Foto:SP/ Yoseph Kelen)
Jakarta � Penaikan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar bisa dilakukan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1.500 per liter
Pemerintah tak perlu ragu menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 2013. Penaikan harga BBM bersubsidi akan memperkokoh ketahahan fiskal, menyehatkan perekonomian nasional, membantu rakyat miskin, mencegah penyelundupan, menghentikan perilaku boros BBM, dan merangsang inovasi energi terbarukan. Pemerintah juga tak perlu takut karena UU APBN 2013 memberikan kewenangan tersebut.
Penaikan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar bisa dilakukan pemerintah masing-masing sebesar Rp 1.500 per liter atau menjadi Rp 6.000 per liter secara sekaligus. Waktu yang tepat menaikkan harga BBM adalah pada semester I-2013 agar tidak terlalu berdampak terhadap inflasi dan tidak memicu gejolak sosial karena momen-momen penting lebih banyak terjadi pada semester II-2013.
Demikian kesimpulan wawancara Investor Daily dengan Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini, dan Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) Surabaya Irnanda Laksanawan. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Rabu (5/12).
Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, pemerintah belum membahas kemungkinan mengambil opsi penaikan harga BBM bersubsidi pada 2013.
Tiga Tahun Lalu
Menurut Komaidi Notonegoro, jika dilihat dari sisi anggaran, penaikan harga BBM bersubsidi seharusnya dilakukan pemerintah sejak tiga tahun lalu. Namun, karena BBM merupkan komoditas strategis, sejumlah faktor telah memengaruhi kebijakan BBM, mulai faktor politik, pencitraan, hingga yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat.
“Tapi pemerintah harus realistis dengan memper timbangkan faktor anggaran yang terus-menerus jebol akibat terlampauinya kuota. Jadi, sudah sewajarnya opsi penaikan harga BBM bersubsidi menjadi pilihan tahun depan yang seharusnya dilakukan sejak tiga tahun silam,” kata dia.
Komaidi menjelaskan, hanya dengan menaikkan harga BBM bersubsidi, pemerintah bisa mengerem konsumsi BBM yang hampir setiap tahun melampaui kuota. “Penaikan harga BBM lebih menyehatkan perekonomian dan lebih bermaslahat ketimbang berbagai program penghematan dan pembatasan yang tidak jelas hasilnya, termasuk program pengembangan energi terbarukan,” ujar dia.
Komaidi mengungkapkan, penaikan harga paling moderat yang bisa dilakukan pemerintah adalah Rp 1.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter, baik untuk premium maupun solar. Dengan penaikan sebesar itu, total anggaran yang bisa dihemat pemerintah sebesar Rp 65-70 triliun.
● Berita Satu

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Migas
Negara lain takut 'kehilangan' gas dari Indonesia
Jakarta � Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan energi dunia terus meningkat. Di berbagai pertemuan internasional, Indonesia selalu menyuarakan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sebagai pengganti energi fosil.
"Saya katakan Indonesia tidak setuju dengan pemenuhan energi dunia melalui minyak. Kalau negara-negara penghasil minyak mengatakan begitu silakan, tetapi harus ditemukan teknologi yang mampu mengurangi gas karbondioksida (CO2)," ujar Menteri ESDM Jero Wacik dalam rapat kerja dengan DEN di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta Selasa (29/1).
Jero menceritakan, beberapa waktu lalu dia melakukan pertemuan dengan menteri energi dari beberapa negara untuk membahas kebutuhan energi. Keinginan Indonesia menjadikan EBT sebagai pengganti energi fosil membuat beberapa negara pengimpor gas panik dan khawatir tidak dipasok gas lagi dari Indonesia.
"Yang dipermasalahkan oleh mereka adalah Indonesia akan menutup keran ekspor untuk gas maupun batubara," tegasnya.
Dari kondisi itu, Jero mengajak beberapa investor asing untuk melakukan investasi EBT di Indonesia agar sama-sama tidak ketergantungan terhadap energi fosil.
"Kau punya teknologi, punya uang, investasi lah di sini sehingga kita punya EBT dan bisa berbagi kita," katanya.(mdk/noe)
• Merdeka

Posted in: Energi,Migas
Pemerintah Harus Tegas Soal Kontrak Migas
Indonesia � Pemerintah harus memiliki ketegasan dalam melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan asing di sektor hulu migas. Pengelolaan blok tersebut merupakan hak negara.
"Ketegasan dibutuhkan karena pengelolaannya adalah hak negara," ujar Akademisi Ismail Rumadhan yang ditemui dalam acara Seminar Energy Outlook 2013 di Wisma Antara, Jakarta Senin (10/12).
Hal mendasar dalam memperbaiki kontrak kerja migas adalah sisi produksi sehingga pengambilalihan kontrak kerja harus mempertimbangkan produktivitas sumber ladang migas. "Tata kelola migas harus mempertimbangkan sektor kebijakan, sektor regulasi, dan sektor komersial," katanya.
Dia menilai dari sisi regulasi dalam pembubaran BP Migas, sangat rawan karena tidak jelas siapa penerima mandat pengelolaan migas. Keputusan MK dinilai cenderung mengambang terkait negosiasi kontrak migas itu. "Tentu perlu ada aturan tegas kepada siapa pengelolaan itu.".
Dia menyarankan PT Pertamina harus diikutsertakan dalam kontrak kerja sama tersebut sehingga porsi nasional dalam pengelolaan migas lebih besar. "Perlu peranan signifikan perusahaan nasional apapun jenis kontraknya," katanya.(mdk/arr)
● Merdeka

Posted in: Migas
Pertamina Akuisisi Tiga Blok Migas
Jakarta � PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energy (PHE), mengincar lima blok minyak dan gas (migas) untuk diakuisisi akhir tahun ini. Tiga blok migas sudah didapat, yaitu di lepas pantai Kalimantan Timur dekat perbatasan Indonesia dengan Malaysia.
"Dari tiga blok yang kami akuisisi dari Anadarko Offshore Holding Company LLC, Pertamina akan menjadi operator di Blok Nunukan. Sedangkan di kedua lapangan lainnya, mitra kami sebagai operator," ujar Presiden Direktur PHE, Salis Aprilian kemarin. Penandatanganan kesepakatan definitif untuk transaksi ini telah dilakukan kedua belah pihak pada Senin (10/12) lalu.
Ketiga anak usaha Anadarko yang diakuisisi Pertamina adalah Anadarko Ambalat Limited yang menguasai 33,75 persen hak partisipasi di Blok Ambalat, Anadarko Bukat Limited yang memegang 33,75 persen hak partisipasi Blok Bukat, dan Anadarko Indonesia Nunukan Company yang memiliki 35 persen hak partisipasi Blok Nunukan,"Ketiganya masih dalam tahap eksplorasi," terangnya
Akuisisi blok migas merupakan salah satu strategi Pertamina dalam mengembangkan sektor hulu migas, terutama dalam meningkatkan kemampuan teknologi operasi di laut dalam. Meskipun Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) sudah bubar, namun Pertamina secara internal tetap berupaya mendongkrak produksi migas nasional,"Kita ingin membantu pemerintah," tegasnya.
Ketua Dewan Pakar Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Tunggul K Sirait menilai pemerintah tetap harus campour tangan dalam setiap kontrak hulu migas. Sebab itu diamanatkan dalam UU Nomor 22 Tahun 2001,"Pasal 4 itu, Migas merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh Negara dan diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan," tukasnya
Dia justru meminta lembaga pengganti BP Migas, yaitu SKSP Migas (Satuan Kerja Sementara Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi) agar memperkuat tim hukumnya untuk melindungi persoalan hukum yang berpotensi timbul suata saat nanti,"Fungsi dan kedudukan SKSP Migas harus jelas, jangan sampai kontrak migas yang ditandatangani nanti bermasalah," katanya
Mengenai revisi Undang-Undang Migas sebagai efek dibubarkannya BP Migas, Tunggul menilai sebaiknya tidak dilakukan secara tergesa-geas. Pasalnya, pelaksanaan Pemilu Presiden 2014 kurang 1,5 tahun lagi,"Sebaiknya revisi UU Migas dilakukan setelah Pilpres saja agar bisa dibuat secara tenang, jernih dan lepas dari kepentingan pihak manapun juga. Ini akan lebih baik," tuturnya
Revisi UU Migas itu, lanjutnya, tidak perlu dilakukan secara menyeluruh karena keputusan Mahkamah Konstitusi hanya membatalkan atau menghapus Pasal-pasal yang terkait dengan keberadaan BP Migas saja,"Tidak tentang pasal yang berkaitan dengan tatacara dan atau yang mengatur keberadaan KKKS (kontraktor kontrak kerjasasama) dan tata cara pelaksanaan eksploitasi eksplorasi migas," jelasnya.(wir)
● JPNN

Posted in: Migas,Pertamina
Medco Hidupkan Kembali 11 Sumur Tua
Jakarta � PT Medco Energi Internasional menyatakan tengah mengembangkan sistem enhanced oil recovery (perolehan minyak tahap lanjut) untuk mendorong produksi minyak bumi di ladang tua mereka.
"Saat ini kami tengah mengembangkan teknologi EOR dengan metode penyuntikan zat kimia," kata Chief Operation Officer Medco, Frila Berlini Yaman, saat ditemui dalam perayaan ulang tahun Medco ke-20 di The Energy Building, Kamis, 12 Desember 2012.
Frila mengatakan, saat ini Medco telah menguji coba teknologi EOR dengan menyuntikkan surfaktan di 11 sumur tua mereka. Proyek itu sendiri disebut sebagai proyek pilot sebelum menerapkan teknologi yang sama di sumur-sumur Medco lainnya. Saat ini sedang dilakukan uji coba skala kecil untuk melihat peluang kemungkinan perusahaan menggunakan teknik ini untuk kembali mendongkrak produksi sumur tua.
EOR merupakan upaya untuk memperoleh minyak yang masih tersisa dengan melibatkan tambahan energi dalam bentuk air, gas, panas, atau media lainnya untuk memperbaiki efisiensi perolehan. Terdapat beberapa teknik EOR yang telah digunakan di seluruh dunia, yang salah satunya dengan menyuntikkan surfaktan tertentu agar minyak yang belum tereksploitasi dapat naik ke permukaan. "Targetnya, dalam enam bulan ke depan kami sudah memiliki data awalan hasil uji coba EOR di 11 sumur tua tersebut," kata Frila.
Usai mendapat data awalan, ia melanjutkan, perusahaan akan menguji coba kembali teknik EOR yang mereka temukan selama 1,5 tahun. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah teknik EOR yang mereka temukan nantinya dapat bekerja dengan efektif atau tidak. "Teknologi EOR ini memang tidak mudah dilakukan dan membutuhkan biaya besar," kata Frila.
Ia mengatakan, dibutuhkan kajian cukup panjang untuk menemukan teknik EOR yang tepat dan bahan kimia yang sesuai untuk mengembalikan kesuburan sumur minyak tua mereka. Saat ditemukan pun, perusahaan harus mengeluarkan biaya investasi ratusan juta dolar untuk menerapkan teknologi EOR di seluruh ladang minyak tua mereka.
Walaupun demikian, kata Frila, harga itu sangat pantas dikeluarkan, mengingat teknologi EOR mampu mengembalikan produksi normal ladang minyak tua. Bahkan, teknologi ini diperkirakan mampu meningkatkan jumlah produksi minyak sebanyak 30 persen dari kondisi normal. "Biaya teknik EOR dengan penyuntikan bahan kimia ini memang mahal. Sebab, dibutuhkan resep khusus agar dapat mendorong sisa minyak yang belum terproduksi," kata Frila.
Saat ini, kata dia, perusahaan terus memantau perkembangan penggunaan teknologi EOR tersebut. Ia berharap teknologi itu memberikan hasil yang memuaskan sehingga dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengembalikan jumlah produksi sumur tua.
● Tempo

Posted in: Migas
Ditemukan Cadangan Gas Baru di Mamuju
Mamuju � Bupati Mamuju Utara, Sulawesi Barat, Ir. H. Agus Ambo Djiwa, menyampaikan, PT Tately NV yang melakukan pengeboran telah menemukan cadangan gas pada blok Budong-Budong.
"PT Tately yang melakukan pengeboran hingga kedalamam 3.000 meter di bawah perut bumi telah menemukan cadangan gas. Namun, saat itu dihentikan karena tekanan gas dari perut bumi sangat kencang," kata Agus Ambo Djiwa di Mamuju, Sabtu.
Menurutnya, PT Tateli kembali melakukan pengeboran kedua di Kecamatan Baras Kabupaten sekitar 50 kilometer dari kota Mamuju Utara dan hasilnya telah ada potensi cadangan gas.
"Berdasarkan keterangan pihak Tately menyimpulka ada potensi gas bernilai ekonomis. Kita harapkan, tetesan gas yang ditemukan ini dapat dikelola sehingga menjadi potensi penopang percepatan pembangunan di daerah kami," jelasnya.
Bupati meyakini, kandungan gas di daerahnya bisa dikelola dengan baik oleh perusahaan yang telah melakukan investasi besar-besaran di daerahnya.
"Kita berdoa saja, semoga tetesan migas itu benar-benar bisa berproduksi. Ini akan menjadi potensi unggulan untuk menopang bertambahnya sektor pendapatan daerah dan pendapatan negara," jelas Agus.
Ia menyampaikan, sekarang ini daerah Sulbar termasuk Mamuju Utara menjadi lahan sejumlah perusahaan asing untuk melakukan pengelolaan migas.
Selain PT Tately NV sejumlah perusahaan migas lainnya di Sulbar masih melakukan eksplorasi di antaranya PT Exon Mobil yang melakukan eksplorasi di block Suremana dan block Mandar serta PT Marathon Indonesia di block Pasangkayu Kabupaten Mamuju Utara serta Chonoco Philips juga sedang melakukan eksplorasi.
"PT Exon Mobil yang mengelola blok Suremana membubarkan diri karena tidak menemukan migas melainkan menemukan gunung merapi didasar laut, termasuk PT Marathon juga gagal," kata dia.
● Republika

Posted in: Energi,Migas