Perusahaan Minyak Bolivia Tawari Pertamina Kelola Blok Migas

Jurnas.com | PERUSAHAAN minyak dan gas bumi pemerintah Bolivia, Yacimientos Petrolferos Fiscales Bolivianos (YPFB) menawarkan kepada Pertamina dan investor Indonesia mengelola kekayaan sejumlah blok migas.
Saat ini Bolivia punya 15 ladang migas yang telah teruji yang terbagi dalam lima blok migas super besar. "Selain itu, ada 49 blok migas lain yang masih dalam tahap eksplorasi," kata Chairman dan Direktur Utama(Dirut) YPFB Refinacion SA, Roberto Cuadros Arenas dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat.
Menurut Roberto Arenas, Bolovia ingin memperkenalkan kepada perusahaan-perusahaan migas di Indonesia tentang potensi dan keuntungan berinvestasi di negara ini. Ke-15 ladang migas yang ditawarkan berpotensi mengandung gas sebanyak 13 triliun kaki kubik (TCF) dan 900 juta barel minyak.
Untuk seluruh 64 blok berpotensi menghasilkan gas 60 triliun kaki kubik (TCF) dan 250 miliar barel minyak. Ia mengatakan YPFB ingin membangun kerja sama khusus dengan Pertamina.
"Bolivia memandang Pertamina sebagai sebuah institusi terpercaya. YPFB secara khusus datang ke Pertamina untuk membangun sebuah hubungan investasi," kata Roberto Arenas. YPFB tertarik membangun kerja sama dengan Pertamina.
Yang diharapkan dengan pertamina adalah partisipasi eksplorasi dan produksi di Bolivia. Namun Pertamina dipersilahkan melakukan studi kelayakan terlebih dulu untuk partisipasi eksplorasi dan produksi di Bolivia.
Kontrak investasi migas di Bolivia berdurasi 40 tahun, memiliki tingkat keamanan yang sangat tinggi dan kepastian hukum yang sangat bagus. "Bolivia sudah memiliki pasar-pasar hasil migas yang besar dan dekat yakni Brazil dan Argentina," katanya.
Roberto Arenas mengatakan partisipasi pihaknya dalam acara konferensi Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-36 di Jakarta kali ini juga dalam rangka menarik investasi ke Bolivia. YPFB merupakan perusahaan induk milik pemerintah Bolivia. Bidang usahanya mencakup kegiatan eksplorasi dan produksi migas, transportasi dan hilir (downstream) termasuk refinasi.
Model kontrak migas Bolivia mirip dengan pola kontrak di Indonesia, yakni pola bagi hasil 82:18. Namun partisipasi YPFB memiliki saham minimal 51 persen di setiap perusahaan migas yang beroperasi di Bolivia. Antara
Posted in: Pertamina,Tambang
Pertamina Jajaki Kerja Sama di Kazakhstan

JAKARTA - PT Pertamina dan Korea National Oil Corporation (KNOC) meneken nota kesepahaman untuk mempelajari kemungkinan kerja sama bisnis hulu migas di wilayah kerja kedua perusahaan maupun wilayah potensial yang diminati keduanya, termasuk di Kazakhstan.
Penandatangan MoU dilakukan Kamis (24/5) oleh President Director & CEO PT Pertamina Karen Agustiawan dan President Director & CEO KNOC Young Won Kang. "Pertamina dan KNOC akan mengkaji kemungkinan untuk eksplorasi, pengembangan, dan produksi hidrokarbon di berbagai wilayah baik domestik maupun global, termasuk di Kazakhstan," kata Karen.
Pertamina dan KNOC juga berencana melakukan studi geologi, geofisika, dan studi-studi terkait di wilayah kerja terbuka di Indonesia. Di samping itu, kedua perusahaan akan melakukan kerja sama dalam pengembangan kemampuan professional antara kedua perusahaan melalui pertukaran ekspertis dengan mekanisme secondmen.
Dalam kerja sama itu, Pertamina dan KNOC akan membentuk working group yang beranggotakan perwakilan dari masing-masing perusahaan. "Terkait dengan kebijakan ketahanan energi nasional masa depan, Pertamina akan terus menggalakkan kerja sama sejenis dengan berbagai perusahaan migas, khususnya dengan NOC mancanegara," ujar dia. (lum)
• Jpnn
Posted in: Bisnis,Pertamina
Pertamina Investasi Geothermal Terbesar Dunia

JAKARTA - Pengembangan geothermal atau panas bumi di Indonesia akan memasuki babak baru. Ini terkait dengan keberhasilan Pertamina Geothermal Energy (PGE) menggandeng Pemerintah Selandia Baru dan Bank Dunia dalam pengembangan panas bumi di Indonesia.
Presiden Direktur PT PGE Slamet Riadhy mengatakan, Pertamina meluncurkan program investasi energi panas bumi sebesar 1.000 megawatt (MW). "Ini adalah yang terbesar di dunia," ujarnya Senin (18/6).
Menurut Slamet, proyek tersebut merupakan kerjasama dengan Pemerintah Selandia Baru yang menyediakan dana hibah senilai USD 6,95 juta untuk bantuan teknis, serta fasilitas pendanaan dari Bank Dunia senilai USD 300 juta untuk mengembangkan pembangkit listrik dengan kapasitas 150 MW. "Proyek ini dilakukan di wilayah Sumatera dan Sulawesi," katanya.
Slamet mengatakan, bantuan teknis yang didanai oleh hibah dari Pemerintah Selandia Baru akan memperkuat kapabilitas PGE melalui pelatihan, pertukaran ilmu dan pembangunan kapasitas. Pemerintah Selandia Baru juga berencana mendukung industri secara lebih luas melalui Program Bantuan Industri Geothermal yang saat ini masih dalam tahap persiapan.
Stefan Koeberle, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan bahwa pengembangan energi panas bumi sangat penting bagi Indonesia untuk mencukupi kebutuhan listrik sekaligus mengoptimalkan potensi energi ramah lingkungan. "Apalagi, pemerintah Indonesia sedang giat mengembangkan energi terbarukan," ucapnya.
Menurut Koeberle, saat ini energi geothermal adalah satu-satunya energi yang mampu menggantikan tenaga berbasis batu bara. Energi geothermal adalah sumber daya energi yang bersih dan dapat diandalkan, dan tersedia di daerah-daerah dimana kebutuhan energi kian signifikan dan terus menkingkat.
Data Kementerian ESDM menunjukkan, potensi energi panas bumi Indonesia tercatat sekitar 29 ribu MW yang merupakan potensi panas bumi terbesar di dunia atau sekitar 40 persen dari potensi dunia. Namun, meski memiliki potensi yang sangat besar, pemanfaatan panas bumi di Indonesia masih sangat minim.
Saat ini, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) baru mencapai 1.226 MW atau 4,2 persen dari potensi panas bumi Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah sudah merencanakan pengembangan PLTP tahun 2010-2016 sebesar 3.967 MW, melalui program Pembangkit Listrik 10.000 MW tahap II. (owi/kim)
♣ Jpnn
Posted in: Pertamina,Tambang
Pertamina Beli Saham Perusahaan Minyak Venezuela
Ekspansi Pertamina

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina segera menjadi pemegang 32% saham perusahaan migas nasional Venezuela, Petrodelta SA.
Pertamina membeli seluruh saham Petrodelta yang dimiliki perusahaan migas Amerika Serikat, Harvest Natural Resources Inc. Kabarnya, nilai akuisisi ini mencapai US$ 725 juta atau hampir Rp 7 triliun (US$ 1=Rp 9.500).
Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan, menyatakan sudah meneken perjanjian pembelian saham dengan Harvest Natural.
"Dengan akuisisi tersebut, Pertamina berharap bekerjasama lebih erat dengan Petróleos de Venezuela SA (PDVSA)," ujar Karen, Jumat (22/6).
PDVSA adalah perusahaan migas nasional Venezuela mitra Harvest dalam joint venture Petrodelta. PDVSA mengelola Petrodelta lewat anak usahanya, Corporación Venezolana del Petróleo SA (CVP), yang memiliki 60% saham Petrodelta. Satu mitra lainnya adalah Vinccler O&G Tech, perusahaan lokal Venezuela yang mengantongi 8% saham sisanya.
Akuisisi Pertamina akan efektif setelah kedua pihak memenuhi prasyarat. Yaitu, Pertamina dan Harvest mendapat persetujuan dari pemegang sahamnya dan juga dari pemerintah Venezuela.
Menurut Vice President Communication Pertamina, Mochamad Harun, nilai akuisisi ini bisa diketahui usai penutupan transaksi. "Paling lambat Januari 2013," ujarnya.
Menurut Bloomberg dan Reuters, Pertamina akan membayar US$ 725 juta secara tunai. Tapi, seorang sumber KONTAN menyebutkan, nilai akuisisi itu antara US$ 108 juta-US$ 115 juta.
Petrodelta adalah operator dan pemegang hak konsesi sejumlah blok migas dari pemerintah Venezuela hingga tahun 2027. Blok migas itu terdiri dari lapangan Uracoa, Bombal, Tucupita, El Salto, El Inseno dan Temblador. Total wilayahnya mencapai 1.000 km2.
♣ Tribunnews
Posted in: Bisnis,Investasi,Pertamina
Irak Tawarkan Blok Migas
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Irak mengundang PT Pertamina (Persero), untuk berinvestasi di salah satu negara produsen minyak terbesar di dunia itu.

Perseroan tersebut dipersilakan untuk turut mengembangkan lapangan migas di negara itu, sebagai operator maupun pemilik hak partisipasi salah satu blok migas.
Demikian disampaikan Wakil Perdana Menteri Irak Urusan Energi, Hussain Al-Shahristani, saat memberikan kuliah umum, Selasa (26/6/2012), di Kantor Pusat PT Pertamina, Jakarta.
Menurut Hussain, Irak merupakan salah satu negara prdusen minyak tertua di dunia, dengan lapangan-lapangan raksasa yang memproduksi minyak sejakt ahun 1920-an.
Irak saat ini memiliki cadangan terbukti 143 miliar barrel atau 11 persen dari total cadangan minyak dunia. Negara itu juga diperkirakan memiliki cadangan gas 3,5 triliun kubik meter.
Dari 78 lapangan minyak di Irak, 9 lapangan di antaranya digolongkan sebagai super raksasa, dengan cadangan minyak 5 miliar barrel per lapangan, dan 23 lapangan di antaranya termasuk lapangan raksasa dengan cadangan lebih dari 1 miliar barrel per lapangan.
Kluster lapangan-lapangan super raksasa di Irak bagian tenggara, merupakan salah satu kluster lapangan migas terbesar di dunia.
Namun, produksi minyak di negara itu juga dipengaruhi turbulensi situasi geopolitik selama lebih dari tiga dekade terakhir ini. Perang, embargo, dan minimnya investasi, serta eksodus personel teknis dan manajemen dan infrastruktur yang telah tua, telah menghambat pengembangan sektor perminyakan.
Saat ini proyek terbesar dalam industri perminyakan adalah pengembangan lapangan Kashegan di kawasan Kazakhstan. Kashegan memiliki volume 39 miliar barrel, dan diproyeksikan puncak produksi mencapai 1,5 juta barrel per hari.
Ini bisa dibandingkan dengan lapangan Majnoon di Irak, yang juga memiliki volume 39 miliar barrel dan diproyeksikan bisa memproduksi minyak 1,8 juta barrel per hari.
Dalam lelang blok migas di Irak putaran pertama dan kedua, yaitu Blok Rumaila, Zubair dan West Qurna 1, serta West Qurna 2, memiliki skala hampir sama.
Irak juga telah meluncurkan lima proyek migas dengan skala hampir sama, atau lebih besar dari proyek terbesar dalam sejarah industri.
Irak menandatangani kontrak-kontrak dengan perusahaan-perusahaan migas, untuk mengembangan 12 lapangan minyak dengan kapasitas produksi lebih dari 11 juta barrel per hari dalam 6 tahun, dan diperkirakan menelan biaya investasi 170 miliar dollar AS.
Kegiatan produksi di lapangan ini telah dimulai, dan produksi telah meningkat dari 2,3 juta barrel per hari pada tahun 2010 menjadi 3 juta barrel per hari saat ini.
"Kami berharap ada tambahan jumlah sama pada tahun ini. Meski ada banyak tantangan yang dihadapi, tetapi kami berkeyakinan bahwa sektor perminyakan di Irak dapat mencapai target dengan dukungan dana dan teknis dari perusahaan-perusahaan terbaik dalam industri ini," kata Hussain menambahkan.
Sementara itu terkait sumber daya gas bumi dalam bauran energi nasional di Irak, khususnya minyak untuk pembangkit listrik yang ramah lingkungan, Pemerintah Irak menawarkan tiga lapangan gas dalam tender putaran ketiga yaitu lapangan Akkas, Mansuriyah dan Siba. Total cadangan di tiga lapangan itu, sekitar 700 miliar meter kubik, dan mampu mengoperasikan pembangkit listrik serta industri petrokimia.
Lelang putaran ketiga telah dilaksanakan bulan lalu, dan ini difokuskan pada blok eksplorasi. Tiga blok telah diberikan kepada pemenang tender dan diharapkan bahwa mereka akan menambah cadangan terbukti minyak dan gas bumi.
Pertamina Berminat Akuisisi Blok Migas di Irak
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) berminat untuk mengakuisisi blok minyak dan gas bumi yang telah berproduksi di Irak. Untuk itu, perseroan tersebut meminta dukungan pemerintah untuk memberi kemudahan dalam berinvestasi di negara tersebut demi meningkatkan cadangan minyak dan gas bumi agar dapat memperkuat ketahanan energi nasional.
Jadi kami menginginkan investasi di Irak karena cadangan dan produksinya besar. -- Husen.
Hal ini disampaikan Direktur Hulu PT Pertamina Muhamada Husen, usai menghadiri acara kuliah umum yang disampaikan Wakil Perdana Menteri Urusan Energi Irak, Hussain Al-Shahristani, di Kantor Pusat PT Pertamina, Selasa (26/6/2012), di Jakarta.
Menurut Dirut Pertamina Karen Agustiawan, sebagai perusahaan energi nasional yang terintegrasi milik Indonesia, Pertamina menjadi tulang punggung negara dalam mengamankan sumber energi untuk kepentingan nasional. Pertamina terlibat dalam produksi minyak dan gas bumi nasional dan membangun kapasitas dalam pengembangan sumber energi baru terbarukan.
Menghadapi berbagai tantangan energi, Pertamina berpandangan pentingnya kerja sama internasional dan regional untuk memenuhi harapan para pemangku kepentingan Pertamina. Irak dan Indonesia memiliki relasi yang panjang. Lebih lanjut, pada tahun 2002, Pertamina sebagai perusahaan migas berbendera Indonesia memperoleh hak partisipasi untuk mengoperasikan Blok 3-Western Dessert.
"Pemerintah Indonesia bersama dengan Pertamina terus melanjutkan kerjasama dengan Irak sebagai mitra strategis untuk menghadapi tantangan energi ke depan. Saat ini, kami tengah mencari peluang kerja sama dengan Pemerintah Irak, khususnya untuk mengoperasikan Lapangan Tuba dan mengaktifkan kembali Blok 3 Western Dessert," ujarnya.
Pada kesempatan sama, Muhamad Husen menyatakan, Pertamina saat ini memfokuskan pada penerapan strategi akuisisi blok-blok migas yang berproduksi di luar negeri. Hal ini diharapkan dapat memperbesar volume produksi migas Pertamina dan hasil produksinya bisa dibawa ke dalam negeri untuk mengamankan energi nasional. "Ini masih bagian dari perundingan," paparnya.
"Strategi kami adalah, kami berangkat ke lapangan migas yang telah berproduksi, hanya mengambil porsi atau sebagian hak partisipasi, di mana operatornya juga bukan kami. Misalnya di sini ada beberapa blok, maka disesuaikan dengan dana yang kami punya," ujar Husen.
Sejauh ini Pertamina belum mempersiapkan dana khusus untuk mengakuisisi blok migas di Irak tersebut. Jadi, nantinya rencana investasi migas di Irak tersebut akan mengambil bagian dari alokasi dana investasi yang dianggarkan perseroan itu untuk satu tahun ini.
Proses akuisisi itu akan menggunakan skema business to business. Pihaknya juga meminta pemerintah mendukung perseroan tersebut agar lebih kuat lagi. "Seperti perusahaan minyak milik negara lainnya di dunia, ada dukungan kuat dari pemerintahnya. Jadi pendekatan kami ke semua lapangan di luar negeri yang akan diakuisisi, kami minta di belakang pemerintah," kata dia. Perundingan dengan pihak Irak diperkirakan baru tuntas pada tahun depan. Menurut Husen, setelah kedatangan delegasi dari Pemerintah Irak, Pertamina akan membentuk tim yang akan intens membahas rencana kerja sama ini dengan pihak Irak, dan ada orang-orang yang didedikasikan untuk bekerja di Irak. "Jadi kami menginginkan investasi di Irak karena cadangan dan produksinya besar," kata Husen.
♣ KOMPAS.com
Posted in: Pertamina,Tambang
Dahlan Iskan Minta Pertamina Beli BBM Langsung dari Sumber
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan meminta Pertamina membeli bahan bakar minyak langsung dari sumbernya, bukan dari pedagang (pengecer). Hal itu untuk meningkatkan kapasitas produksi BBM yang diperlukan di Tanah Air.
"Rencananya, di kuartal III-2012, kami minta Pertamina beli bahan mentah BBM langsung dari sumbernya, tidak lewat perantara," kata Dahlan selepas rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (27/6/2012).
Menurut Dahlan, Pertamina sebagai perusahaan minyak terbesar seharusnya mengimpor minyak dari kilang-kilang minyak. Saat ini, Pertamina tengah mengkaji rencana pembelian BBM dan minyak dari sumber minyak tersebut. Guna merealisasikan rencana itu, Dahlan menyetujui langkah Pertamina untuk mengakuisisi ladang minyak di Timur Tengah.
"Itu salah satu usulan yang kami berikan agar mereka memiliki sendiri," tuturnya.
Dahlan juga mengingatkan, Pertamina tidak harus mengakuisisi sumber minyak di Irak 100 persen, tetapi bisa juga hanya 100.000 barrel. Di Irak, ladang minyak juga ada yang besar dan kecil sehingga Pertamina bisa memilih mana yang lebih baik cadangan minyaknya.
"Untuk penjatahan minyak dilakukan dua kali, April dan September. Tapi, September ini tidak bisa karena terlambat. Kami minta April untuk penjatahan," katanya.
Sebelumnya, Deputi Perdana Menteri Irak Hussain Ibrahim Saleh al-Shahristani pernah menawari Pertamina untuk berinvestasi di Irak. "Saya sudah bicara dengan Karen (Direktur Utama Pertamina). Namun, Pertamina lebih tertarik dengan lapangan produksi daripada lapangan yang harus dieksplorasi," ujarnya.
♣ KOMPAS.com
Posted in: Pertamina
Pertamina Bangun Infrastruktur BBG Rp 2 Triliun
TEMPO.CO, Jakarta- PT Pertamina (Persero) bersiap membelanjakan dana senilai Rp 2 triliun untuk membangun infrastruktur penyaluran bahan bakar gas. Menurut Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto, dana tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk penunjang pengadaan bahan bakar gas.
"Kami mengantongi surat kuasa penggunaan anggaran dari Badan Pengatur Hulu Miyakl dan Gas (BP Migas)," kata dia dalam acara The Italian Converter Kits Industry and Technology di Hotel Shangri-La, Kamis, 28 Juni 2012.
Dana tersebut, kata Hari melanjutkan, akan digunakan untuk membangun 33 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), 20 SPBG on-line, Stasiun Pengisian Induk serta 5 Unit Pengisian Bahan Bakar Gas Portable. Dari seluruh SPBG yang akan dibangun, tiga diantaranya berada di Surabaya. Ia mengatakan proyek tersebut rencananya selesai pada akhir 2012.
"Kami terlebih dulu harus bisa meyakinkan para produsen kendaraan bermotor bahwa pemerintah serius dalam proyek ini," katanya.
Kini, Pertamina dan pemerintah gencar melakukan sosialisasi penggunaan BBG kepada pengguna kendaraan dan pabrikan otomotif. Hari mengatakan hal ini dilakukan dengan cara penyediaan sarana penunjang sebanyak mungkin. Ia juga mengapresiasi promosi converter kit yang dilakukan pemerintah Italia karena sejalan dengan program penghematan bahan bakar yang sedang digenjot pemerintah Indonesia.
♣ TEMPO.CO
Posted in: Energi,Pertamina
Pertamina Lubricants Ekspor Pelumas ke-21 Negara
JAKARTA- Pertamina Lubricants tidak hanya memasarkan pelumas di dalam negeri saja. Produsen pelumas dalam negeri itu juga memasarkan produknya di pasar luar negeri.
"Kami ekspor ke-21 negara. Pasar terbesar ada di Singapura, Australia, China dan Jepang." ungkap Syafanir Sayuti, Retail Marketing Manager Lubricant Business Unit Pertamina saat peluncuran pelumas terbaru Fastron Techno SAE 10W40 API SN, di Jakarta, Sabtu (30/6/2012).
Lebih lanjut Sayuti menambahkan bahwa produk yang baru saja diluncurkan ini belum akan diekspor. "Produknya baru siap dipasaran lokal dua bulan lagi, mungkin ekspor juga siap diwaktu yang bersamaan," katanya.
Sementara itu untuk produk terbarunya Pertamina menargetkan penjualan cukup tinggi. "Penjualan yang kita harapkan dapat menguasai market 20-25 persen di kelasnya." imbuhnya.
Lalu Pertamina membidik segmen mana? "Segmen pasar yang kita bidik kelas premium, mobil yg dibawah kelas premium pun bisa menggunakan pelumas ini." tutup Sayuti. (uky)
♣ Okezone
Posted in: Ilmu Pengetahuan,Pertamina
Pertamina Kembangkan Infrastruktur BBG
Ilustrasi. Antrean yang terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di jalan Pemuda, Jakarta Timur (8/5/2011).(Foto: KONTAN/MURADI)
JAKARTA, KOMPAS.com --- PT Pertamina (Persero) akan mengembangkan infrastruktur penyediaan bahan bakar gas sebagai bagian dari program konversi bahan bakar minyak ke BBG.Untuk itu pemerintah akan menggulirkan dana sekitar Rp 2,1 triliun yang bersumber dari APBN.Menurut Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Ali Mundakir, Rabu (1/8), di Jakarta, Pertamina siap menyukseskan program konversi BBM ke gas alam pada transportasi jalan yang akan mulai digencarkan pada tahun ini.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga BBG Untuk Transportasi Jalan, pemerintah telah menugaskan Pertamina untuk menyediakan dan mendistribusikan BBG jenis CNG atau compressed natural gas.
Dengan ketetapan ini, Pertamina siap menyukseskan program konversi BBM ke BBG untuk transportasi jalan yang akan digencarkan mulai tahun ini.
"Sejalan dengan Perpres, program konversi BBM ke BBG untuk transportasi jalan harus mulai berjalan tahun ini. Untuk itu, kami mempersiapkannya sebaik mungkin dengan penyediaan infrastruktur yang diperlukan untuk memastikan program tersebut berjalan dengan baik," kata Ali Mundakir.
Pertamina mulai tahun ini juga akan membangun sebanyak 5 mother station, 9 stasiun cabang (daughter station), 14 SPBG online dengan pipa gas berikut revitalisasi 6 SPBG yang sudah ada, serta 5 mobile refueling station, dan infrastruktur lain.
Pemerintah akan menggulirkan dana sekitar Rp2,1 triliun yang bersumber dari APBN untuk pembangunan infrastruktur tersebut.
"Sampai akhir tahun, Pertamina akan menyelesaikan pembangunan 4 SPBG online baik dari dana sendiri maupun APBN, berlokasi di DKI Jakarta," ujarnya.
Selain itu, PT Pertamina Gas (Pertagas, anak perusahaan Pertamina) akan menuntaskan satu proyek percontohakn infrastruktur (mother daughter system) di Bitung, Bekasi.
Adapun komitmen pasokan gas yang dibutuhkan untuk program ini telah diperoleh dari lapangan-lapangan Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP dan pemasok lainnya.
Pada tahap awal, program ini akan diterapkan untuk angkutan umum, di mana pemerintah telah menganggarkan dana untuk pengadaan alat konverter bagi kendaraan sasaran program konversi tersebut.
(Kompas)
Posted in: Energi,Pertamina
Pertamina Butuh Rp 140 T Bangun Kilang, Mobil Listrik Harus Sukses
JAKARTA - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku Indonesia membutuhkan dana sampai Rp 140 triliun untuk membangun dua kilang besar, sehingga semua kebutuhan BBM domestik dapat terpenuhi.
"Kenapa BUMN ngotot mobil listrik harus sukses? Kita bayangkan, kilang Pertamina hanya dapat melayani BBM 70 persen saja untuk kepentingan dalam negeri, yang 30 persen sisanya impor," ujar Dahlan, ditemui di kantor PLN Disjaya, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (5/8/2012).
Menurut dia, agar Pertamina dapat memenuhi 100 persen kebutuhan BBM, maka perusahaan migas pelat merah tersebut membutuhkan pembangunan dua kilang besar dengan investasi sekira Rp 140 triliun.
"Rp 140 triliun ini tidak kecil, APBN kita tidak bisa biayai jadi harus dari pinjaman atau partner asing. Mencari pinjaman dan partner ini juga tidak mudah dan butuh waktu. Karena itu, mobil listrik perlu dilakukan sekarang," tambah mantan dirut PLN ini.
Dahlan mengandaikan, mencari Rp 140 triliun dari pinjaman dan parner asing, pemerintah memerlukan waktu sekira tujuh sampai delapan tahun.
"Jadi kalau kilangnya selesai dibuat, kebutuhan BBM akan naik lagi, subsidi BBM bisa sampai Rp 500 triliun (setahun), ditambah pembangunan kilang jadi Rp 640 triliun, sehingga kendaraan listrik harus sukses," tandas dia. (ade)
(Okezone)
Posted in: Pertamina
Pertamina Uji Coba Pemanfaatan LNG untuk Bahan Bakar
lustrasi : Kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Bontang mulai meninggalkan dermaga kapal, di Bontang, Kalimantan Timur, pada Rabu (25/4/2012). Untuk pertama kalinya, Kilang Bontang yang dioperatori PT Badak NGL mengapalkan LNG yang diproduksinya untuk dikirim ke terminal terapung penerima dan regasifikasi LNG (Floating Storage Regasification Unit/FSRU) Teluk Jakarta, Jawa Barat, untuk memenuhi kebutuhan domestik.(Foto: KOMPAS/EVY RACHMAWATI)
JAKARTA, KOMPAS.com --- PT Pertamina (Persero) mulai melaksanakan uji coba pemanfaatan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) untuk bahan bakar bagi sektor transportasi dan rumah tangga.Hal ini diharapkan bisa menekan konsumsi bahan bakar minyak, mengurangi subsidi, dan menghemat devisa negara.
Sebagai bentuk komitmen dalam merintis pemanfaatan LNG untuk transportasi dan rumah tangga, Pertamina melalui anak perusahaan, PT Badak NGL hari ini melakukan uji coba penggunaan LNG untuk kendaraan operasional perusahaan.Selain itu, uji coba juga dilakukan pada tiga unit kompor rumah tangga.
"Ini titik awal pemanfaatan LNG bagi sektor transportasi dan rumah tangga. Dimulai dari kendaraan operasional Badak NGL, dan diharapkan dapat diperluas pemanfaatannya, di sektor transportasi dan rumah tangga," kata Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan, ketika menyaksikan uji coba pemanfaatan LNG untuk transportasi dan rumah tangga di lingkungan PT Badak NGL, Bontang, melalui konferensi video, Senin (6/8/2012), di Jakarta.
Paradigma bisnis LNG yang sebelumnya berorientasi pada ekspor, kini mulai berubah sejak beroperasinya Floating Storage Regasification Unit Nusantara Regas 1 pada 24 Mei 2012, sebagai terminal penerima, penyimpan, dan regasifikasi LNG pertama di Indonesia yang melayani kebutuhan gas untuk PT PLN.
Menjawab era LNG domestik, pengembangan berbagai aplikasi penggunaan LNG di dalam negeri semakin terbuka lebar, termasuk di antaranya untuk sektor transportasi dan rumah tangga. Berdasarkan data statistik dari NGV Global, saat ini sudah terdapat kurang lebih 15 juta kendaraan berbahan gas yang sedang beroperasi di dunia. Pencatatan tersebut dilakukan terhadap semua jenis kendaraan yang berbahan bakar gas baik berupa LNG, CNG dan LGV.
"Dibandingkan bensin dan solar, LNG lebih ramah lingkungan karena dapat mengurangi emisi sekitar 85 persen. Dan dibandingkan CNG, LNG memiliki nilai densitas energi tiga kali lebih besar pada volume yang sama. LNG dapat disimpan dalam tekanan rendah (1 atmosfer), dan memiliki jarak tempuh yang lebih panjang," ujarnya.
Selain itu, penggunaan LNG sebagai bahan bakar juga mampu mengurangi biaya operasional kendaraan karena harga LNG yang lebih murah dibandingkan harga solar non subsidi. Harga LNG berkisar di 18-20 dollar AS per juta british thermal unit (MMBTU), sedangkan solar nonsubsidi sekitar Rp 9.807 per liter atau setara dengan 31 dollar AS per MMBTU.
"Bahan bakar LNG sangat sesuai apabila digunakan oleh kendaraan berukuran besar dengan jarak operasional yang jauh seperti bus, truk, dan lokomotif, maupun untuk sektor angkutan laut," kata Karen Agustiawan.
(Kompas)
Posted in: Pertamina
Pertamina Ekspor Pelumas ke Vietnam

JAKARTA - Pertamina Lubricants kembali memperluas daerah pemasaran dan penjualan pelumasnya di berbagai Negara. Pada 2012 ini, setelah Cina dan Australia Barat, Pelumas Pertamina menembus pasar Vietnam melalui segmen otomotif dan industri.
Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir pengiriman perdana melalui pelabuhan Tanjung Priok meliputi varian dari Pelumas Pertamina seperti Meditran SX, Mesran Series dan Turalik pada 30 Agustus 2012 lalu. "Diharapkan dalam tiga hari pelumas sudah sampai di pelabuhan Ho Chi Minh City, Vietnam," katanya, Sabtu (1/9).
Vietnam merupakan negara dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang baik di kawasan Asia. Karena perubahan sistem ekonomi yang semula terpusat telah digantikan menjadi ekonomi pasar sosialis berorientasi industrialisasi nasional dan modern.
Akibatnya arus investasi asing semakin meningkat di Vietnam, apalagi dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta orang akan menjadi captive market yang potensial. Namun keterbatasan kekayaan migas menjadikan Vietnam sangat tergantung kepada impor BBM dan Pelumas dari Thailand, Singapore dan beberapa perusahaan multi nasional yang membangun bisnis di Vietnam.
Maka, Pertamina Lubricants telah menunjuk perusahaan Indochina Petroleum Trading Joint Stock Company sebagai Distributor eksklusif di Vietnam. "Dengan network bisnis yang dimiliki, Pertamina yakin penetrasi Pelumas akan berhasil di Vietnam," ujar Ali lagi.
Ali optimis Pelumas Pertamina bisa diterima pasar Vietnam. "Apalagi pelumas ini merupakan yang terbaik dan memiliki harga yang kompetitif," tegasnya.
(Republika)
Posted in: Bisnis,Pertamina
Pertamina Perluas Bisnis Energi
Jakarta - PT Pertamina Persero akan ekspansi merambah bisnis energi dari hulu ke hilir seiring perubahan anggaran dasar dari perusahaan minyak dan gas bumi menjadi perusahaan energi pada dua bulan lalu.
"Konsep bisnis kami sekarang tidak lagi hanya minyak dan gas, tapi lebih luas ke energi," ujar Sekretaris Perusahaan PT Pertamina, Nursatyo Argo, di Jakarta, Senin (1/10). Ia mengatakan perubahan konsep bisnis dari perusahaan minyak dan gas (migas) ke energi tersebut merupakan bagian dari antisipasi semakin menurunnya cadangan bahan bakar fosil dan gas.
"Kami akan mengembangkan bisnis ke berbagai sumber energi, seperti energi terbarukan, panel surya (solar cell), dan panas bumi, bahkan menjadi produsen dan pemasok energi listrik," ujar dia. Pertamina, lanjut Argo, masuk ke bisnis energi juga merupakan bagian dari upaya mendukung pemerintah dalam ketahanan energi nasional.
Untuk itu, Pertamina telah menggandeng PT LEN Industri untuk bekerja sama mengembangkan panel surya, yang ditargetkan studi kelayakannya selesai akhir tahun ini. "MoU nota kesepahamannya sudah ditandatangani beberapa waktu lalu," kata dia. [aan/E-3]
© Koran Jakarta
Posted in: Energi,Pertamina
Korban Tewas Ledakan Pipa Pertamina Bertambah Satu
Penyebab kebakaran pipa minyak mentah diduga akibat aksi penjarahan yang kerap terjadi.
| Ilustrasi Kebakaran |
Sebanyak lima orang tewas dan 18 mengalami luka bakar akibat ledakan pipa minyak mentah milik Pertamina di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (3/10) pagi.
Siaran pers Humas Pertamina EP yang diterima Antara Jambi melaporkan, meledaknya pipa minyak itu telah menimbulkan kebakaran dan sekitar pukul 11.50 WIB, api sudah bisa ditanggulangi.
Dalam musibah itu, belasan korban luka bakar saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Jambi, antara lain RS dr Bratanata (DKT), RSUD Raden Mattaher, dan RS MMC. Para korban mengalami luka bakar antara 20%-80%.
Untuk proses pemadaman telah dilakukan oleh tim Pertamina yang didukung oleh perusahaan dan instansi di sekitar lokasi kejadian. Hingga saat ini, pihak Pertamina masih melakukan investigasi kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian tersebut.
Kebakaran yang terjadi pada KM 219 Kecamatan Bayung Lencir itu diduga kuat akibat aksi penjarahan minyak mentah dari pipa Tempino-Plaju di daerah tersebut.
Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya pipa paralon dan bak galian tanah yang menjadi tempat penampungan minyak jarahan di sekitar lokasi kejadian.
Koordinasi penanggulangan telah dilakukan antara pihak Elnusa selaku pelaksana operation and maintenance Pertamina EP, Kepolisian, BP Migas, BLH Provinsi Sumsel, dan aparatur setempat. Hingga saat ini telah timbul lima korban jiwa dan 18 korban luka bakar.
Pertamina sangat menyayangkan aksi penjarahan minyak yang masih sering terjadi di jalur pipa minyak Tempino-Plaju hingga saat ini. Aksi penjarahan tidak saja merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah tetapi juga telah mengakibatkan kebakaran dan menimbulkan korban jiwa.
Pertamina juga mengimbau kepada masyarakat untuk turut menjaga dan melaporkan jika ada tindakan mencurigakan yang terjadi di sekitar jalur pipa Tempino-Plaju.
Siaran pers itu menyebutkan, aksi penjarahan minyak di jalur pipa Tempino-Plaju sudah sangat memprihatinkan. Kerugian yang ditimbulkan telah mencapai lebih dari Rp200 milia. Aksi penjarahan minyak mentah mengalami peningkatan sejak pertengahan tahun 2012.
Dalam lima bulan terakhir telah terjadi kehilangan sebesar 36.587 barel (Mei 2012), 60.554 barel (Juni 2012), 68.037 barel (Juli 2012), 48.325 barel (Agustus 2012), dan 29.001 barel (September 2012).
Kecamatan Bayung Lencir merupakan wilayah yang memiliki catatan angka penjarahan tertinggi. Pada tahun 2011 terjadi 158 kasus dan hingga September 2012 meningkat menjadi 373 kasus.
© Berita Satu
Posted in: Pertamina
Ingin Mendunia, Pertamina Jual Oli Sampai ke Jepang
Pertamina mengaku sudah menguasai 60% pasar produk pelumas Indonesia.
“Pertamina memiliki visi menjadi world class energy company yang mengintegrasikan bisnis upstream dan downstream termasuk bisnis pelumas. Tentunya bisnis pelumas kami juga harus berstandar world class,” kata Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiwan dalam keterangan tertulis, Sabtu, 6 Oktober 2012.
Untuk merayu konsumen Negeri Sakura, Pertamina bahkan sengaja mengundang Presiden Director of Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Masahiro Nanomi. Bos produsen mobil tersebut diminta memberikan penjelasan dan pengalaman Toyota selama menggunakan produk Pertamina.
Selama ini, untuk pelumas retail, Pertamina telah menjalin kerjasama dengan Inoa Shouji sebagai exclusive country distributor. Bersama-sama dengan country distributor-nya, Pertamina sudah memasok 10 cabang department store NAFCO yang berlokasi di selatan Jepang.
Karen mengklaim, Pertamina telah menjadi pemimpin pangsa pasar di dalam negeri dengan menguasai 60 persen pasar produk pelumas. Dengan kondisi itu, perusahaan kini tengah bergerak agresif ke luar negeri.
Selain Jepang, pelumas Pertamina telah tersebar ke 22 negara, seperti Australia, Uni Emirat Arab, China, Singapura, Myanmar, dan Pakistan.
"Berdasarkan pengalaman kami selama dua tahun terakhir, pasar Jepang sangat menjanjikan untuk produk pelumas Pertamina,” kata Karen.
© VIVA.co.id
Posted in: Bisnis,BUMN,Pertamina
US$ 6,7 Miliar Investasi Pertamina 2013
Jakarta � Investasi PT Pertamina (Persero) pada 2013 akan mencapai US$ 6,77 miliar atau sekitar Rp 64,32 triliun. Investasi itu digunakan untuk merealisasikan proyek-proyek utama perseroan guna meningkatkan dan memperkuat infrastruktur energi nasional.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Ali Mundakir, Kamis 20 Desember 2012 menyatakan, nilai investasi itu termasuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2013 yang telah ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Dari total investasi itu, yakni sebesar US$ 3,1 miliar atau 46 persen, akan dialokasikan bagi bisnis di sektor hulu. Sedangkan proyek-proyek pengolahan mendapatkan alokasi US$ 638 juta, serta sektor pemasaran dan niaga sebesar US$ 546 juta.
Ditambahkan Ali Mundakir, sumber pertumbuhan baru Pertamina, yakni bisnis gas, mendapatkan alokasi investasi cukup signifikan, yaitu US$ 437 juta. Sementara sektor bisnis Pertamina lainnya senilai total US$ 2 miliar.
Pada tahun depan, proyek-proyek utama yang akan digulirkan Pertamina, antara lain, proyek enhanced oil recovery (EOR) di lapangan-lapangan yang telah dinyatakan proven dengan target tambahan produksi sebesar 110 ribu bph pada 2013.*
» itoday

Posted in: Investasi,Pertamina
Pertamina Temukan Cadangan Migas di Langkat
Langkat � PT Pertamina menemukan cadangan minyak dan gas di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, yang mencapai 13,2 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondesat 857,5 BCPD dengan kedalaman 3.150 MD.
Itu dikatakan Manajer Hubungan Masyarakat Pertamina Agus Amperianto di Dusun VII Desa Tanjung Jati Kecamatan Binjai, Kamis (27/12).
Disampaikannya bahwa pengeboran sumur eksplorasi Benggala (BGL) 1 sangat membanggakan. Dari hasil uji produksi pada sumur BGL 1 diperoleh kandungan migas dari gas bumi 13,2 juta standar kaki kubik per hari dan kondesat 857,5 BCPD.
Secara terpisah Bupati Langkat Ngogesa Sitepu yang langsung meninjau sumur minyak temuan Pertamina tersebut menjelaskan rasa senangnya atas temuan kandungan minyak dan gas bumi itu.
"Selaku pimpinan pemerintahan di Langkat, saya merasa senang dan siap mendukung proses eksplorasi ini," ungkapnya.
Ngogesa juga berharap tim dari Pertamina tetap menjaga kestabilan alam dalam proses eksploitasi tersebut.
Kedatangan bupati untuk meninjau sejauh mana eksplorasi yang telah dilakukan tim Pertamina sekaligus berharap tim dapat memberikan laporan terhadap hasil pelaksanaan eksplorasi sampai saat ini.
Dirinya berharap ke depan Pertamina EP dapat menemukan lagi sumur migas di lokasi lain wilayah Langkat. (Ant/OL-5)
● Media Indonesia

Posted in: Migas,Pertamina
Pertamina Temukan Sumur Baru di Sangatta
Jakarta | PT Pertamina EP kembali menemukan sumur eksplorasi minyak dan gas (migas) baru, yakni sumur eksplorasi Tapah-1 di Sangatta, Kalimantan Timur.
Sumur ini menghasilkan minyak menembus angka 1.000 barel minyak per hari (BOPD) dan gas 1 standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Manager Humas Pertamina EP Agus Amperianto mengatakan keberhasilan pembuktian cadangan minyak di kompartemen sebelah timur lapangan Sangatta ini diharapkan menjadi momen kebangkitan untuk peningkatan produksi di lapangan Sangatta.
"Hasil uji kandungan lapisan ke-6 dari lapisan batupasir formasi Lower Balikpapan pada kedalaman 1551-1554 m didapatkan laju alir minyak sebesar 1.017 BOPD, dan laju alir gas 1 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD)," ujar Agus dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Minggu (30/12).
Agus menjelaskan sebelumnya pada awal 2012 Pertamina telah ditemukan cadangan minyak di area Sangatta dari sumur eksplorasi Salmon Biru-1 yang terletak 2 km disebelah barat Lapangan Sangatta. Dari sumur tersebut, didapat minyak total 50 barel dan laju alir gas 0.08 MMSCFD. Menurutnya, kegiatan eksplorasi di Salmon Biru berdampak pada temuan di sumur Tapah -1.
"Kegiatan eksplorasi Salmon Biru menerapkan konsep eksplorasi baru pada batupasir formasi Pulubalang yang terbukti menghasilkan hidrokarbon di Lapangan Sangatta," kata dia.
Lebih jauh Agus menjelaskan, kegiatan eksplorasi yang dilakukan tahun 2012 tidak hanya pemboran tetapi juga Survei Seismik 2D West Sangatta (41 Km), 2D North Sangatta (52 Km) ,dan 3D Sturisoma (157 Km2) yang nantinya di harapkan dapat menelurkan prospek-prospek siap bor yang dapat dieksekusi dalam 2 tahun ke depan.
Adapun pada tahun 2013, Pertamina EP pada tahun 2013 menargetkan melakukan pemboran sebanyak 28 sumur dengan target survey seismic 2D eksplorasi adalah sebanyak 817 km serta Survey Seismik 3D adalah 1.488 km2. "Jumlah studi yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 adalah 6 studi," ujar Agus.
Ditambahkannya, target produksi minyak Pertamina EP pada tahun 2013 sekitar 137 ribu barel per hari dan gas sekitar 1.160 MMSCFD dengan estimasi Anggaran Biaya Investasi pada tahun 2013 sekitar Rp 10,3 Triliun. "Estimasi ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan prognosa ABI tahun 2012 sebesar Rp.7,2 Triliun," tukasnya. (Aim/OL-3)
• Micom

Posted in: Migas,Pertamina
Pertamina Beli Kapal Tanker Buatan Indonesia
Efisiensi biaya transportasi akan meningkatkan daya saing Pertamina.
Jakarta | Perusahaan energi plat merah, PT Pertamina, kembali menambah kapal pengangkut BBM dengan mengoperasikan kapal product oil tanker Mauhau berkapasitas 3.500 Long Ton Deadweight (LTDW) yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, PT Daya Radar Utama, Jakarta.
Kapal Mauhau merupakan kapal milik ke-50 dari total 185 kapal yang dioperasikan Pertamina dalam menjamin keamanan pasokan energi di dalam negeri. Kapal Mauhau akan mulai beroperasi pada akhir pekan pertama Januari 2013 untuk mendistribusikan BBM di wilayah Indonesia.
Kontrak pembangunan kapal Mauhau ditandatangani pada 26 Agustus 2010 dan telah melalui tahapan commissioning atau ujicoba laut pada awal Desember 2012. Kapal yang dibangun oleh salah satu galangan kapal nasional, Daya Radar Utama, membutuhkan investasi sekitar US$11,8 juta.
“Investasi proyek pembangunan kapal baru di galangan kapal dalam negeri ini membuktikan Pertamina telah berkontribusi secara nyata dalam mengembangkan dan memajukan industri maritim nasional," kata Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Ali Mundakir, dalam keterangan tertulis, Kamis 3 Januari 2013.
Ali menjelaskan, di tengah kelesuan industri dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina tetap memberikan kepercayaan kepada galangan kapal nasional. Langkah ini juga merupakan wujud kepatuhan Pertamina terhadap azas cabotage dalam semangat memberdayakan bisnis maritim nasional dalam hal kepemilikan kapal, bendera dan awak kapal.
Penambahan kapal milik Pertamina merupakan langkah terobosan yang diyakini dapat meningkatkan efisiensi biaya transportasi BBM, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi positif bagi kinerja perusahaan.
Efisiensi biaya transportasi akan semakin meningkatkan daya saing Pertamina dalam menghadapi bisnis hilir minyak dan gas bumi yang semakin terbuka.
Hingga akhir 2015, Pertamina direncanakan akan memiliki 61 kapal yang berstatus milik sendiri. Sebanyak 29 kapal atau 47 persen merupakan kapal yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, 24 unit di antaranya telah beroperasi dan lima unit masih dalam tahap konstruksi.
“Pertamina melalui rencana jangka panjang penguatan armada, telah berkomitmen untuk mengedepankan kerjasama dan bersinergi dengan mitra nasional sebagai pembangun kapal yang dibutuhkan perusahaan," katanya.
© VIVA.co.id

Posted in: Kapal,Pertamina
Ditantang Hatta Rajasa, Ini Jawaban Pertamina
Melayani permintaan BBM di seluruh Nusantara tanpa pikir untung rugi.
Pertamina menyambut baik saran Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, terkait dengan pendistribusian BBM bersubsidi. Hatta meminta agar Pertamina menjadi lebih baik dalam melaksanakan Public Service Obligation (PSO).
Pertamina, kata Hatta, sebaiknya mengikuti pola penggunaan Teknologi Informasi (TI) oleh PT AKR Corporindo Tbk yang dianggap sukses menerapkan sistem distribusi minyak.
Menanggapi saran itu, Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Ali Mundakir mengatakan bahwa Pertamina sebagai BUMN selalu berupaya untuk menjalankan amanat PSO tersebut sesuai dengan ketentuan yang ada. Melayani permintaan BBM masyarakat di seluruh pelosok Nusantara, tanpa melihat untung rugi demi ketahanan energi nasional.
"Walaupun pada kenyataannya, Pertamina selalu merugi dalam beberapa tahun terakhir dari pendistribusian BBM bersubsidi," kata Ali Mundakir kepada VIVAnews, Jumat 26 Oktober 2012.
Namun, menurutnya, terlalu naif jika membandingkan peran Pertamina yang begitu luas cakupan wilayah distribusinya, begitu rumit jalur distribusinya, bahkan paling rumit di dunia, dengan peran badan usaha swasta yang hanya di segelintir daerah, yang bahkan daerah itupun sesungguhnya telah dapat ditangani Pertamina tanpa ada pendampingan.
Selain itu, Pertamina berkewajiban untuk menjaga stok BBM pada level aman 20 hari, yang total nilainya Rp 26 triliun, membangun infrastruktur dasar bagi upaya pemenuhan kebutuhan BBM, seperti end depot, terminal, dan terminal transit utama. "Hal-hal itulah yang hingga kini tidak bisa dilakukan oleh badan usaha lain, karena karena faktor keuntungan tentunya masih menjadi pertimbangan utama mereka," katanya.
© VIVA.co.id
Posted in: Energi,Pertamina