LIPI Kembangkan Aplikasi Buku 3D
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perpustakaan kini bisa diperkaya lagi dengan aplikasi penunjang untuk perpustakaan digital yang kini tengah tren di masyarakat. Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan aplikasi sistem buku elektronik tiga dimensi (3D)."Aplikasi ini khususnya untuk memperkaya khasanah konten perpustakaan digital di tanah air," ujar Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI, Sri Hartinah, Selasa (7/2).Menurutnya, pengembangan perpustakaan digital telah merambah perguruan tinggi (PT) dan lembaga penelitian. Salah satu terobosan yang dilakukan LIPI adalah mengembangkan aplikasi 3D. "Kami tidak hanya mampu mendiseminasikan informasi ilmiah yang ada, namun juga mampu mengemas informasi yang mudah dicerna," jelasnya.Kerangka aplikasi ini, lanjutnya, tak hanya sekedar hasil akhir dalam bentuk kliping 3D, tapi juga proses entry data dan digitalisasi data. Ia berharap, aplikasi baru di dunia literasi ini dapat meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap informasi ilmiah. "Karena konsumsi informasi ilmiah saat ini sudah tak hanya terbatas pada peneliti maupin akademisi saja, namun juga masyarakat luas lainnya," kata Sri Hartinah.• REPUBLIKA.CO.ID
Posted in: Aplikasi,LIPI
LIPI Mengoptimalkan Biogas

Melalui penampungan limbah jamban penduduk secara komunal, peternak sapi dengan tiga ekor sapi bisa memproduksi listrik dan bahan bakar kompor secara mandiri,” kata Kepala Subbidang Sarana Rekayasa Tenaga Listrik dan Mekatronika pada Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika (Telimek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aep Saepudin, Kamis (23/2), di Bandung, Jawa Barat.
Banyak pengembang permukiman mengabaikan tampungan limbah jamban. Tampungan limbah dirancang individual setiap rumah, bahkan banyak di antaranya dirancang meresap ke dalam tanah, sehingga berpotensi menyebarkan bakteri merugikan.
Jika saja tampungan limbah dari 50 jamban dipadukan, niscaya bisa memproduksi biogas. Pemanfaatannya bisa untuk memproduksi listrik untuk penerangan jalan umum atau kepentingan lain menggunakan genset biogas alias bioelektrik.
Peternak sapi yang membuang begitu saja kotoran sapinya bisa merasakan manfaat pembuatan biogas. Keuntungannya, tidak hanya biogas untuk bahan bakar, tetapi juga mendapat pupuk organik, demikian Aep. Pemanfaatan limbah untuk biogas juga membebaskan lingkungan dari bau kotoran sapi sehingga diperoleh udara bersih.
Limbah kotoran sapi yang tak diolah melepaskan gas metana yang mempunyai daya rusak bagi atmosfer 21 kali lipat daripada karbon dioksida. Gas metana adalah biogas. Ketika digunakan untuk bahan bakar, komposisi emisinya tidak lagi metana, tetapi menjadi karbon dioksida.
Pemasaran
Aep mengatakan, untuk mengoptimalkan penerapan teknologi bioelektrik, dibutuhkan pemasaran perangkatnya secara gencar. Caranya lewat pameran LIPI Expo 2011 akhir tahun lalu di Jakarta.
”Peralatan teknologi bioelektrik bisa diperoleh di Koperasi LIPI Bandung,” kata Aep.
Perangkat itu antara lain digester fiberglass (penampung limbah sebagai reaktor biogas) serta genset bensin dan solar yang dikonversi untuk biogas. Di katalog invensi LIPI dinyatakan, harga digester untuk kapasitas 3 meter kubik senilai Rp 5,5 juta, kapasitas 5 meter kubik Rp 8,5 juta, kapasitas 7 meter kubik Rp 11,5 juta, dan kapasitas 9 meter kubik Rp 14,5 juta.
Genset biogas yang disediakan untuk kapasitas produksi listrik 1.000 watt senilai Rp 4 juta, kapasitas listrik 2.500 watt Rp 5 juta, dan kapasitas listrik 5.000 watt Rp 8 juta.
Menurut Aep, teknologi bioelektrik bukan lagi invensi (temuan dari hasil riset), melainkan sudah menjadi inovasi yang mampu menciptakan sistem nilai ekonomi baru.
Aep mencontohkan, berkat bioelektrik, Pondok Pesantren Saung Balong Majalengka, Jawa Barat, bisa menikmati ribuan watt listrik dari jamban komunal. Selain itu, para peternak sapi di Desa Giri Mekar, Kabupaten Bandung, juga menerapkan teknologi bioelektrik untuk menghasilkan listrik dan bahan bakar kompor.
”Penerapan teknologi bioelektrik dengan perangkat digester fiberglass termasuk mudah dan sederhana,” kata Aep.
Substitusi elpiji
Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Unggul Priyanto mengatakan, ketergantungan terhadap elpiji impor mendorong penciptaan substitusi elpiji secara mandiri oleh masyarakat.
Masyarakat yang sudah memasuki era elpiji akan terbebani ketika konsumsi elpiji terus meningkat, sedangkan pemenuhan kebutuhan makin menipis.
”Elpiji dapat diperoleh dari gas alam, tetapi dalam jumlah sedikit, sekitar 8 persen. Begitu pula dari kilang minyak bumi hanya 8 persen,” kata Unggul.
Ia mengatakan, ketersediaan elpiji di tingkat dunia tidak besar. Berbagai negara maju umumnya tidak menggunakan elpiji untuk konsumsi rumah tangga, tetapi gas alam.
”Gas alam ketika disalurkan ke permukiman masyarakat kota sering disebut gas kota. Cara ini sebetulnya yang paling murah dan efisien,” kata Unggul.
Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT MAM Oktaufik menambahkan, seperti dituangkan BPPT pada buku Outlook Energi Indonesia 2011, pada tahun 2011 tingkat kebutuhan elpiji 6,4 juta ton. Di sisi lain, jumlah produksi 2,2 juta ton. Perkiraan kebutuhan elpiji pada tahun 2020 mencapai 9 juta ton. Adapun jumlah produksi hanya 2,5 juta ton.
Karena itu, penerapan teknologi bioelektrik dengan biogas secara sederhana oleh masyarakat diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan elpiji impor.
Meski teknologinya berkapasitas kecil-kecil, bila penerapannya masif, akan mendukung kemandirian dan ketahanan energi, demikian Oktaufik. (Kompas, 2 Maret 2012/ humasristek)
• Ristek
Posted in: Energi,Indonesia Teknologi,LIPI
Northrop Grumman akan Bekerjasama dengan Perusahaan Mitra di Indonesia untuk Membuat Sistem Radar di Darat
![]() |
| Northrop Grumman AN/TPS-78 |
Northrop Grumman AN/TPS-78 adalah generasi terbaru radar mutakhir yang diciptakan dengan kemajuan teknologi transistor berdaya tinggi serta dirancang untuk beroperasi di lingkungan yang sulit dan penuh hambatan. AN/TPS-78 jarak jauh S-Band, yang telah terbukti di lapangan, adalah pilihan Angkatan Laut Amerika dan pelanggan di seluruh dunia.
"Dengan perjanjian ini, Northrop Grumman akan membawa kepemimpinan terkemuka dalam radar di darat bersama dengan keahlian terpadu mitra bisnis kami di Indonesia dalam penelitian dan produksi elektronik serta pengetahuan akan kebutuhan unik pemerintah Indonesia," ungkap Robert Royer, Wakil Presiden Sistem Internasional Divisi Sistem Perlindungan Lahan dan Diri Northrop Grumman. "Tim kami ingin berpartisipasi dalam kompetisi radar di darat yang akan digelar di Indonesia dan dirancang untuk membantu Indonesia meningkatkan pengawasan udara dan mengamankan wilayah perbatasan."
Northrop Grumman adalah perusahaan keamanan global terkemuka yang memberikan sistem, produk dan solusi inovatif dalam kedirgantaraan, elektronika, sistem informasi dan layanan teknik bagi pemerintah dan pelanggan komersial di seluruh dunia. Silakan kunjungi http://www.northropgrumman.com untuk informasi lebih lanjut.
Posted in: INTI,LIPI,Radar
AS Selidiki Pencurian Riset Milik Ilmuwan RI
Kimsey dituduh mencuri karena telah mempublikasikan temuan spesies genus tawon baru Megalara Garuda. Penemuan itu melibatkan peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah, namun dimuat pada jurnal Zookeys tanpa menyebutkan peran Rosichon.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengirimkan surat keberatan kepada pemerintah Amerika Serikat.
"Kini dalam pembahasan. Kedua lembaga sedang bekerjasama untuk mengatasi masalah ini. Tapi, ini hanya sebagian kecil masalah," jelas
Kerri Ann Jones selaku Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ilmiah, Kelautan dan Lingkungan Internasional kepada VIVAnews saat ditemui di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Senin 14 Mei 2012.
Ann Jones mengatakan meski terdapat masalah tersebut, kedua lembaga akan terus melanjutkan kerjasama dan kemitraan yang telah terbangun dan terjalin dengan kuat dan erat.
"Kita ada kerjasama yang erat dalam bidang keanekaragaman hayati, kesehatan, perubahan iklim, iptek, dan pertanian," imbuh Jones
Mengenai langkah yang akan dilakukan, Ann hanya menegaskan bahwa masalah ini terus akan dibahas.
Menurutnya, pemerintah Amerika Serikat tetap meletakkan fokus kepentingan pada hubungan kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi. Hubungan yang lebih dalam sudah terbina selama ini.
"Bagaimana langkah kedua lembaga dan sumber daya yang ada mengatasi masalah ini dengan sungguh-sungguh, ini yang terpenting," katanya. (ren)
• VIVAnews
Posted in: Ilmu Pengetahuan,LIPI
LIPI Klaim Pupuk Starmik Dapat Perbaiki Kualitas Tanaman

Jurnas.com | LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengklaim, salah satu hasil penelitiannya, yakni pupuk jenis Starmik, akanmemberikan keuntungan untuk para petani dalam mengelola tanaman. "Starmik sebagai salah satu produk pupuk berfungsi sebagai pengganti bahan kimia argo pada pertanian organik, dapat memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah, menekan penyakit, dan menyuburkan akar serta menjaga kuantitas dan kualitas hasil panen." Hal itu dikatakan peneliti LIPI bidang Mikrobiologis dan Biochemist, Sarjiya Antonius kepada rombongan bupati se Kalimantan Timur yang berkunjung ke Pusat penelitian Bioteknologi LIPI, di Cibinong, Selasa (15/5).
Menurut Anton, Starmik tidak hanya mengatasi berbagai masalah pada tanaman pertanian dan tanah, tapi juga produk yang aman, ramah lingkungan dan bisa dikembangkan secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, Starmik berasal dari berbagai ekosistem tanah yang telah diseleksi. Selain itu, aktivitas enzimnya pun sudah dikarakterisasi sesuai dengan fungsinya, yakni sebagai penyubur tanaman, biokontrol dan bioremediasi lahan. "Hasilnya, tanah menjadi sehat dan subur, kualitas dan produksi pangan meningkat, dan hasil pangannya sehat," tutur Anton.
Menurutnya, Starmik sangat efektif untuk rehabilitasi dan konservasi lahan pasca tambang. Di sini, Starmik akan memulihkan kembali aktivitas biologi tanah sehingga siklus nutrisi kembali normal dan berdampak positif menurunkan emisi gas rumah kaca (N2O). "Peran Starmik sebagai starter pembuatan kompos dengan bahan dasar limbah pertanian," ujar Anton.
Ia menjelaskan, saat ini Starmik sudah disebarkan ke beberapa daerah di Indonesia, seperti Malino, Wonogiri, Ngawi, Sukabumi dan Lampung.
Sementara itu, untuk proses penggunaannya, Anton menyatakan bahwa cukup empat kali, mulai dari awal penanaman sampai panen. "Jadi sejak awal menanam sampai panen, kita cukup menambahkan Starmik empat kali saja," ujarnya.
• Jurnas.com
Posted in: LIPI
LIPI Kembangkan Pisang Unggul
JAKARTA--MICOM: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan pisang varietas baru yang unggul hasil penyilangan antara pisang madu dari Sumatra Barat dengan pisang liar Musa acuminata colla var malaccensis.
"Hasilnya pisang ini akan enak dari segi rasa, tampilan bagus, besar dalam arti satu tandan berisi bertumpuk-tumpuk pisang, namun tahan terhadap hama layu Fusarium dan hama lainnya," kata Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Dr Witjaksono di Jakarta, Selasa (19/6).
Hal itu seusai berdiskusi dengan pakar bioteknologi tanaman tropis dari Queensland University of Technology yang juga merupakan Direktur the Centre for Tropical Crops and Biocommodities
Australia.
Saat ini pihaknya masih terus mencari indukan sampai semua sifat unggul pisang berkumpul di indukan yang terpilih nanti. Namun diperkirakan hasilnya baru bisa dinikmati 5-10 tahun lagi.
Pisang merupakan tanaman buah-buahan tropis beriklim basah dan bersifat monokarpik, yakni hanya sekali berbuah dan sesudah berbuah mati. Tapi, karena bersifat merumpun, pisang mampu terus bertahan.
Ada ratusan jenis pisang, namun di Indonesia hanya sekitar 20 jenis pisang yang dikenal masyarakat yang kebanyakan kultivarnya diploid dan triploid.
"Jika pisang yang dikembangkan dari tetraploid seperti pisang madu dan pisang liar yang diploid menjadi pisang yang triploid, kami akan bisa mengembangkan pasar pisang Indonesia," ujarnya.
Deputi Kepala LIPI bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Dr Endang Sukara mengatakan, pisang merupakan salah satu komoditas yang mendapat prioritas untuk dikembangkan karena sangat potensial memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. (Ant/OL-5)
♣ MediaIndonesia
LIPI Kawinkan Pisang Madu dan Emas, Inilah Hasilnya
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan varietas pisang unggul. Varietas pisang unggul tersebut diperoleh dengan menyilangkan pisang madu dengan pisang emas.
“Jika pisang madu berhasil disilangkan dengan pisang emas maka akan mendapatkan varietas pisang baru yang kualitas unggul baik dari segi rasa, ukuran ,dan tahan lama terhadap hama terutama hama,” kata Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi, Dr Witjaksono, Selasa (19/6).
Witjaksono mengatakan pisang Indonesia berdasarkan data dari FAO tahun 2010 menduduki peringkat No 6 di dunia. Melihat hal tersebut maka potensi pengembangan penelitian pisang Indonesia untuk mendapatkan varietas pisang yang unggul cukup besar.
“Jika pisang yang dikembangkan dari tetraploid menjadi triploid maka akan bisa mengembangkan pasar pisang Indonesia,” ujar Witjaksono.
Witjaksono menjelaskan pengembangan varietas pisang unggul Indonesia saat ini dilakukan dengan persilangan antar pisang untuk mendapatkan parental (indukan) pisang yang hanya memiliki sifat-sifat unggul.
“Saat ini sedang membuat indukan yang bagus dengan persilangan agar sifat bagus digabung jadi satu. Jadi, ditemukan induk pisang baru yang tidak hanya ukurannya bagus tapi juga tahan terhadap hama,” jelas Witjaksono.
Wakil Kepala LIPI, Endang Sukara, mengatakan penelitian tentang pisang tidak hanya terbatas pada penemuan varietas unggul saja, tapi juga kemudian akan dikembangkan untuk diversifikasi pangan.
“Indonesia memiliki banyak tanaman yang menyimpan karbohidrat tidak hanya pada akar atau batang tapi juga di dalam buah. Salah satunya adalah pisang. Hanya saja kita masih minim dalam teknologi untuk mengolah bagian tanaman lain yang mengandung karbohidrat menjadi bahan pangan yang dapat dikonsumsi,” ujar Endang.
Endang menambahkan terdapat banyak jenis pisang di Indonesia. Hal itu dapat menjadi potensi yang besar untuk diolah terutama dalam rangka diversifikasi pangan. "Pisang di Indonesia sangat besar variasi diversitynya. Potensi yang besar untuk diversifikasi pangan,” kata Endang.
♣ REPUBLIKA.CO.ID
Posted in: LIPI
Mobil Listrik BPPT-LIPI Mampu Tempuh Ratusan Kilometer

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menciptakan mobil bermesin listrik, yang mampu menempuh jarak ratusan kilometer tanpa harus mengisi ulang energi listriknya, kata seorang ahli.
"Mobil ini sepenuhnya berpenggerak listrik, bukan hybrid. Kami sedang menguji untuk penggunaan di wilayah perkotaan," kata Prof. Dr. Agus Hoetman, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi, yang dijumpai di Silang Monas, Jakarta, Kamis saat memimpin stafnya menguji dua mobil listrik ciptaan BPPT-LIPI tersebut.
Agus Hoetman mengatakan, mobil berpenggerak mesin listrik ciptaan BPPT-LIPI ini sangat efisien untuk wilayah perkotaan yang berlalulintas padat dan jalan-jalannya macet.
Itu karena setiap kali mobil berhenti karena macet, maka mesin tidak akan menggunakan energi.
"Mobil ini hemat energi karena tak ada bagian-bagian mesinnya yang harus tetap bergerak meski berhenti, tak seperti mobil bermesin berbahan bakar bensin," kata Agus Hoetman.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya yakin akan tingginya tingkat efesiensi energi dari mobil-mobil listrik ciptaan BPPT-LIPI itu. BPPT-LIPI, jelas Agus akan mendukung keunggulan mobil-mobil listrik itu lewat penggunaan baterai yang juga buatan dalam negeri, sehingga nantinya akan bisa mendukung program penggunaan mobil-mobil listrik ini secara nasional.
Mengenai aspek kemampuan tempuhnya, menurut Staf Ahli Menristek itu, sampai saat ini mobil-mobil itu dirancang mampu menempuh jarak setidak-tidaknya 150km sampai harus mengisi batere kembali (re-charging). Namun saat uji coba di jalan tol Jakarta-Bandung jarak tempuhnya hampir bisa pulang pergi.
Mobil listrik yang sedang diuji di jalan-jalan Jakarta itu berjenis mini bus berwarna merah cerah berkapasitas 16 penumpang dan satu lainnya sebuah mobil Kijang tahun 1994.
♣ REPUBLIKA.CO.ID
Posted in: BPPT,LIPI,Mobil
Minibus Listrik Pertama di Indonesia

Minibus listrik ini diproyeksikan 70% lebih murah biaya perawatannya dibandingkan minibus yang memakai BBM.
| Prototip bus listrik (sumber: Antara) |
Kementerian Riset dan Teknologi meluncurkan prototipe kendaraan menggunakan energi listrik dari batere lithium berkapasitas 17 penumpang yang dibangun oleh ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan minibus listrik dengan kecepatan maksimal 100 km per jam tersebut adalah mobil hasil riset yang siap digunakan untuk keperluan transportasi darat di perkotaan.
Gusti menambahkan meski belum diproduksi secara massal, Kementerian Ristek, LIPI dan sejumlah lembaga negara lainnya sedang berkoordinasi untuk mempersiapkan agar kendaraan ini bisa diproduksi secara massal.
Minibus ini diproyeksikan mampu menurunkan biaya operasional hingga lebih dari 50% dan menurunkan biaya perawatan kendaraan hingga 70% dibandingkan dengan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
"Nantinya, bus listrik ini bisa digunakan sebagai salah satu mobil yang tidak memiliki knalpot karena tidak menggunakan bahan bakar minyak dan oli mesin sehingga sangat efisien dan ramah lingkungan," ujar Hatta sesaat sebelum menaiki kendaraan tersebut untuk uji coba bersama Menteri Perhubungan EE Mangindaan, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Rubi Rubiandini dan sejumlah pejabat kementerian lainnya.
Rute uji coba minibus listrik yang biaya penelitian dan pengembangannya menggunakan biaya Rp 1,5 miliar tersebut berangkat dari kantor Menristek di Jalan Thamrin dan memutar di dekat Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia dan kembali ke kantor Menristek.
"Ini adalah tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. Selama ini kita tahu mobil menggunakan bahan bakar minyak dan gas namun sekarang bisa pakai listrik," ujar Rubi kepada wartawan sesudah uji coba kendaraan tersebut.
Sementara Menhub Mangindaan memberikan masukan minibus tersebut harus memperbaiki kaca jendelanya agar bisa dibuka.
Rubi menambahkan sementara kendaraan ini diproyeksikan untuk angkutan kota di Jakarta karena tersedia akses listrik untuk mengisi ulang listrik di baterai yang digunakan untuk menghasilkan tenaga minibus ini.
Rubi menambahkan Kementerian ESDM akan mempersiapkan tempat-tempat pengisian listriknya, Kementerian Perindustrian akan memperbanyaknya melalui produksi setelah LIPI dan BPPT memperbaikinya, dan Kementerian Perhubungan akan menjadi pembeli pertama untuk kemudian digunakan sebagai sarana transportasi dalam kota.
♣ BeritaSatu
Prototipe Mobil Listrik Belum Akan Diproduksi Massal
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Riset dan Teknologi memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Selasa (26/6/2012). Peringatan Harteknas Ke-17 kali ini dimeriahkan dengan peluncuran prototipe mobil bertenaga listrik.
Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menjelaskan, peluncuran mobil listrik ini adalah momentum perjalanan panjang dari kegigihan para ilmuwan, teknolog, peneliti, perekayasa, dan aktivis ilmu pengetahuan dan tekonologi yang berupaya meraih prestasi gemilang.
"Dari masa ke masa terus bermunculan prototipe teknologi yang telah dihasilkan SDM iptek kita," ujar Gusti kepada wartawan, Selasa (26/6/2012) di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Mobil listrik yang berbentuk minibus tersebut adalah hasil riset yang tergolong kendaraan on the road. "Kendaraan ini belum diproduksi secara massal. Kemenristek dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) masih berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk merumuskan langkah senjutnya," tuturnya.
Ia menambahkan, beberapa tahun lalu sudah dihasilkan prototipe mobil listrik konversi (mobil biasa diganti dengan sistem penggerak listrik). Empat bulan lagi, pihak Kemenristek dan LIPI akan meluncurkan prototipe mobil hibrida eksekutif serta sedan listrik hibrida khusus untuk kendaraan dinas Menristek.
♣ KOMPAS.com
Posted in: LIPI,Mobil
Untungnya Pakai Bus Listrik
| Hevina LIPI |
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Meskipun harganya lebih mahal dari kendaraan biasa, mobil listrik memiliki banyak keuntungan. Salah satunya adalah tidak perlu memakan banyak perawatan seperti mobil mesin bensin dan diesel.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengklaim bus listrik karya mereka, Hevina (Hybrid Electric Vehicle Indonesia), dapat menurunkan biaya operasional 50 persen dan menurunkan biaya perawatan 70 persen.
"Perawatannya (mobil listrik) nyaris tidak ada, tidak ada radiator, tidak perlu ganti air aki, tidak perlu ganti filter, pompa bahkan tidak perlu ganti oli mesin," kata Kepala Penelitian LIPI untuk bus listrik Abdul Hapid dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Jakarta kemarin.
Hebatnya, mobil atau bis listrik tidak pakai knalpot sehingga tidak mengeluarkan karbondioksida dan sangat ramah lingkungan.
"Bayangkan jika banjir atau jalanan tergenang air, anda tidak perlu khawatir air akan masuk ke knalpot mobil anda. Berbeda dengan mobil pada umumnya, jika knalpotnya kemasukan air dan masuk ke mesin, maka siap-siap turun mesin," katanya.
Bis listrik itu menggunakan 100 buah baterai lithium (LiFe Po4) 320 VDC/24 A dan dapat mencapai 147 Hp dengan kecepatan maksimal 5000 rpm, torsi 300 Nm sehingga mampu melaju dengan kecepatan 100 km/jam dan daya jelajah 100 km.
Mesin bus itu murni menggunakan tenaga listrik tapi sistemnya masih sama dengan Hybrid Vehicle, electric vehicle conversion.
Spesifikasinya, tipe Brushless DC motor, nominal voltage 320 VDC, peak power 147 HP/110 kW. Motor 5000 rpm, torsi 300 Nm, controller 280 - 380 VDC/ 600 A, baterai pack lithium, Charger input 220 VAC, output 320 VDC, peforma 100 km/h, 150 km/charge.
"Memang investasi awal mobil listrik itu sangatlah mahal tapi dapat menghemat bahan bakar dua kali lipat dari mobil pada umumnya," katanya.
♣ REPUBLIKA.CO.ID
Posted in: LIPI,Mobil
Peneliti LIPI Temukan Anggrek Baru asal Kinabalu
BANDUNG--MICOM: Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Destario Metusala menemukan anggrek jenis baru asal Kinabalu, Sabah, Malaysia, dari sebuah koleksi herbarium berusia 50 tahun yang tersimpan rapi di Herbarium Kew, Inggris.
Menurut keterangan tertulis yang dikirim Destario melalui surat elektronik di Bandung, Minggu (1/7), peneliti itu menemukan jenis anggrek baru yang diberi nama 'Cleisocentron kinabaluense Metusala & J.J.Wood. Epithet' secara tidak sengaja saat dia mengobservasi lebih dari 2.000 spesimen herbarium anggrek yang berasal dari kawasan Sabah.
Destario menyebut penemuan itu menjadi kejutan bagi taksonom anggrek di Kew karena mereka tidak menyangka masih ada jenis baru dari kumpulan spesimen yang sebenarnya telah diobservasi berulang kali untuk pembuatan karya ilmiah.
Anggrek 'Cleisocentron kinabaluense' tumbuh secara epifit dan batangnya dapat mencapai 20 sentimeter (cm). Kuntum bunga berukuran panjang 2,2 cm-3 cm dan lebar 1 cm-1,2 cm, sedangkan dalam satu perbungaan tersusun atas 8 sampai 12 kuntum bunga.
Secara morfologi, anggrek ini dekat dengan 'Cleisocentron gokusingii' dan 'Cleisocentron merrillianum', namun berbeda terutama pada kalus yang berada di pangkal bawah bibir bunganya yang menyerupai kantung, serta cuping samping bibir bunga yang tidak bertoreh.
Spesimen jenis baru ini dikoleksi pada 1961 dari dataran berketinggian 2.400 m-3.000 m. Sejak itu belum pernah diketemukan kembali, baik itu koleksi hidup maupun koleksi herbariumnya.
Temuan baru Destario itu dipublikasikan di Malesian Orchid Journal yang terbit di pertengahan 2012. (Ant/OL-15)
♣ MediaIndonesia
Posted in: Flora,LIPI
Ilmuwan Asia bahas ekonomi "hijau" di Bogor
Bogor - Sekitar 100 ilmuwan dari negara-negara Asia berkumpul di Bogor, Rabu, dalam sebuah simposium internasional tentang peran ilmu pengetahuan dalam mewujudkan ekonomi "hijau."
Simposium internasional dibuka oleh Deputi Bidang Riset dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi, Benyamin Lagitan, itu antara lain akan membahas masalah degradasi lingkungan dalam upaya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Lukman Hakim mengatakan, masalah tersebut harus mendapat perhatian khusus karena sampai sekarang banyak negara Asia masih menghadapi tantangan kompleks untuk mengupayakan pelestarian dan perlindungan lingkungan.
"Sementara pada saat yang sama, negara-negara itu harus menjaga pertumbuhan ekonominya," katanya.
Menurut Lukman, ilmu pengetahuan memainkan peran penting dalam upaya mewujudkan ekonomi "hijau."
"Karena itu penting bagi komunitas ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kontribusi mereka dalam mempromosikan ilmu pengetahuan yang bermanfaatkan green teknologi," katanya.
Simposium bertema Mobilizing Science Toward Green Economy yang diselenggarakan bekerja sama dengan dengan Science Council of Asia itu juga membahas penerapan teknologi "hijau", keamanan dan ketahanan pangan, serta kebijakan ekonomi.
Peneliti dari sejumlah negara Asia termasuk Indonesia, Jepang, Malaysia, Kamboja, Brunai Darusalam, Myanmar, Laos, Korea Selatan, China, Thailand, Singapura, Filipina, India, dan Vietnam hadir dalam simposium tersebut.(KR-LR)
Sumber : Antara
Posted in: Artikel,Ilmu Pengetahuan,LIPI
LIPI Masuk 100 Lembaga Riset Terbaik Dunia
JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) masuk dalam daftar 100 besar lembaga riset terbaik versi Webometrics. LIPI masuk di urutan 99 di antara 7532 lembaga riset lain yang ada di dunia.
Peringkat yang diraih LIPI adalah hasil pemeringkatan Webometrics yang dipublikasikan pada bulan Juli 2012 ini. Situs tersebut memublikasikan pemeringkatan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Januari dan Juli.
Pemeringkatan Webometrics disusun berdasarkan 4 kategori penilaian, yakni Size, Visibility, Rich Files serta Scholar.
Kategori Size, berbobot 10 persen, menilai berdasarkan jumlah laman yang bisa diakses lewat search engine. Visibilitas melihat tautan ke situs lembaga riset tersebut (50 persen). Rich Files dilihat dari file tipe pdf, doc, ppt dan ps yang bisa diakses (10 persen). Scholar dilihat dari paper yang terindeks di Google Scholar, berbobot 30 persen.
Berdasarkan pemeringkatan tersebut, LIPI ternyata juga menjadi satu-satunya lembaga riset di Asia Tenggara yang masuk daftar 100 besar lembaga riset versi Webometrics.
LIPI mengalahkan lembaga riset Malaysia dan Singapura yang mungkin memiliki dana riset lebih besar. Agency for Science, Technology and Research Singapore berada di urutan 228. Di Asia sendiri, lembaga riset negara yang masuk 100 besar antara lain Jepang dan India.
Pemeringkatan Webometrics menunjukkan bahwa lembaga riset Amerika serikat masih mendominasi. Urutan pertama ditempati national Insitute of Health sementara peringkat kedua adalah National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Selain LIPI, lembaga yang juga masuk pemeringakatan Webometrics adalah badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Kementerian Pertanian, yang berada pada urutan nomor 290.
Webometrics menyusun pemeringkatan ini dengan tujuan mempromosikan publikasi riset lewat internet. Dengan cara itu, pengetahuan bisa diakses lebih banyak orang, di-review lebih banyak orang dan akan meningkatkan kualitas publikasi lembaga riset itu sendiri. Publikasi di internet juga lebih murah.
Webometrics adalah inisiatif Cybermetrics Lab, kelompok riset milik Consejo Superior
(Kompas)
Posted in: LIPI
LIPI beri penghargaan kepada Prof. Soekarja Somadikarta
Prof Soekarja Somadikarta juga pernah meraih berbagai penghargaan termasuk diantaranya dari National Academy of Sciences-National Research Council di Washington, Amerika Serikat.(Dokumentasi LIPI)
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI kepada Prof. Soekarja Somadikarta atas peran dan sumbangannya dalam pengembangan ornitologi di Indonesia.
"Beliau adalah akademisi dan ilmuwan dengan keahlian di bidang ornitologi atau taksonomi burung yang kepakaran dan karya-karyanya diakui oleh dunia," kata Kepala LIPI Prof. Lukman Hakim dalam sambutannya pada acara penganugerahan penghargaan di Auditorium LIPI Jakarta, Selasa.
Menurut Lukman, Soekarja adalah peletak dasar ornitologi di Indonesia dan telah menggeluti bidang itu selama lebih dari 40 tahun.
Kepeloporan dan kepakarannya di bidang ornitologi, lanjut dia, saat ini tidak bisa tergantikan oleh ilmuwan yang lain.
Ia mengatakan, kepakaran Soekarja sangat dibutuhkan oleh Indonesia yang merupakan salah satu pusat mega-biodiversity yang memiliki ribuan jenis burung.
"Dalam kiprahnya sebagai seorang akademisi dan pendidik, beliau selalu menekankan pada generasi muda tentang pentingnya memiliki kebanggan dalam meneliti kekayaan yang ada di tanah air kita sendiri," katanya.
Lukman menjelaskan, pemilihan Soekarja sebagai penerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI sudah melalui tahapan penilaian yang cukup panjang sejak awal tahun 2012.
Penghargaan Sarwono Prawirohardjo setiap tahun diberikan kepada ilmuwan, akademisi maupun tokoh masyarakat yang memiliki prestasi tinggi di bidang keilmuan dan pengabdian masyarakat.
Nama penghargaan itu diambil dari nama pimpinan LIPI yang pertama, Prof. Sarwono Prawirohardjo.(SDP-49)
( Antara )
Posted in: Awards,LIPI
LIPI: African Journal Kecolongan Jurnal Inul
Jakarta - Munculnya nama Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis "siluman" dalam salah satu artikel di jurnal African Journal of Agricultural Research (AJAR) tidak bisa dilepaskan dari kelalaian pengelola jurnal dalam menyaring setiap artikel yang masuk. Pengelola jurnal seharusnya melakukan verifikasi sebelum menerbitkan artikel."Bentuk tulisannya mengambil format tulisan ilmiah. Dapat dipahami jika pengelola AJAR kecolongan," kata Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Endang Sukara, Rabu, 29 Agustus 2012.
Nama Inul dan Agnes muncul dalam artikel berjudul "Mapping Indonesian Paddy Fields Using Multiple-Temporal Satellite Imagery" yang dimuat di African Journal of Agricultural Research, volume 7, nomor 28, halaman 4038-4044, yang terbit 24 Juli 2012. Di artikel itu nama Agnes dan Inul ditulis sebagai penulis kedua dan ketiga, mendampingi Nono Lee sebagai penulis pertama.
Nama Nono Lee kembali "berduet" dengan peneliti siluman bernama pejabat palsu. Keduanya tercantum dalam artikel berjudul "Mapping Indonesian Rice Areas Using Multiple-Temporal Satellite Imagery" yang dimuat dalam jurnal Scholarly Journal of Agricultural Science, volume 2, nomor 6, halaman 119-125, yang terbit Juni 2012.
Tidak jelas benar siapa Nono Lee ini. Apakah dia memang benar-benar seorang peneliti bidang pertanian atau bukan. Yang jelas, Endang memastikan, dua artikel ilmiah yang sempat menghebohkan kalangan ilmuwan Tanah Air tersebut dipastikan hasil plagiarisme dan keisengan seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Hal itu dibuktikan dari penelusuran Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI, Sri Hartinah dan timnya, yang menemukan bahwa artikel yang ditulis oleh Nono Lee bersama Inul dan Agnes ternyata diambil dari tulisan Arika Brdhikitta dan Thomas J. Overcamp dengan judul "Estimation of Southeast Asian Rice Paddy Areas with Different Ecosystem from Moderate-Resolution Satellite Imagery" yang dipadukan dengan tulisan Abdul Karim Makarim (Central Research Institute for Food Crops, Jalan Merdeka 147, Bogor, Indonesia) yang berjudul "Bridging the Rice Yield Gap in Indonesia".
AJAR sendiri merupakan jurnal ilmiah yang mempunyai reputasi di regional Afrika. Jurnal ini, kata Endang, bukan jurnal sembarangan karena diterbitkan dan memiliki DOI: 10.5897/AJAR12.148 dan memiliki ISSN 1991-637X©2012 Academic Journals. "Syukurnya, informasi ini sudah sampai kepada pengelola AJAR," katanya.
Kini beberapa akses tautan dan indeks ke artikel ini mulai hilang. Artikel ini juga sudah tidak tertera di daftar isi AJAR. Halaman yang memuat artikel tersebut sudah tidak ada meskipun masih ada di DOAJ (Directory Open Acces Journal).
Endang mengatakan kasus ini sangat serius dan dapat dijadikan pelajaran bagi komunitas ilmiah di Indonesia. Bisa jadi ilmuwan Indonesia dianggap melakukan pelecehan terhadap jurnal di negara lain. "Pengelola jurnal ilmiah di Indonesia perlu lebih teliti menjaring tulisan ilmiah yang masuk ke meja redaksi," ujar dia. Bagi LIPI sendiri, PDII terus melanjutkan penyempurnaan Indonesian Scientific Journal Database (ISJD) di Indonesia.
( Tempo.Co )
Posted in: Ilmu Pengetahuan,LIPI
Kekurangan Peneliti, LIPI Minta Rekrutmen
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang membutuhkan jumlah peneliti yang lebih banyak lagi dari jumlah yang sudah ada saat ini.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lukman Hakim dalam pidatonya saat acara Pengukuhan Profesor Riset LIPI pada Selasa (18/9/2012) di Auditorium LIPI, Jakarta.
"LIPI menghadapi masalah sumber daya manusia. Sudah sekitar tiga tahun ini kami tidak memiliki kesempatan untuk rekrutmen," kata Lukman Hakim.
Ia mengatakan, hal ini sungguh menjadi potret yang memprihatinkan bagi dunia ilmu pengetahuan Indonesia. Bisa dibayangkan di luar sana banyak sekali bibit-bibit peneliti muda yang tidak memiliki kesempatan untuk berkarir dan memperdalam ilmunya.
Oleh karena itu, pada kenyataannya, tak jarang bibit-bibit yang potensial itu malah direkrut oleh negara-negara asing atau perusahaan-perusahaan swasta untuk menjadi peneliti.
Tak hanya itu, dari segi tingkat pendidikan, para peneliti LIPI masih berbeda dengan peneliti di kancah internasinal, yang rata-rata sudah bergelar doktor.
Namun demikian, LIPI tetap mengusahakan untuk memperbanyak ahli atau ilmuwan dengan gelar pendidikan tertinggi agar bisa lebih baik lagi berkontribusi di dunia penelitian Indonesia.
"Dari sekitar 700 peneliti yang kita punya, ada sekitar 400 peneliti yang saat ini sedang mengikuti proses pendidikan," kata Lukman Hakim.
Walaupun hanya memiliki tenaga yang terbatas, LIPI tetap secara maksimal meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada.
Masalah lain yang muncul dari kekurangn jumlah SDM ini adalah, bahwa ternyata dalam jangka waktu tiga tahun ada lebih dari 150 orang yang pensiun, sedangkan jumlah input SDM tidak sebanding dengan outputnya.
Idealnya dalam satu bidang penelitian di LIPI terdiri dari 1 peneliti riset, 2 peneliti madya, dan 4 peneliti muda. Tetapi pada kenyataannya jumlah ideal itu masih belum bisa terpenuhi, bahkan satu orang peneliti bisa merangkap dua tingkat jabatan sekaligus.
Untuk kualifikasi jenjang pendidikan peneliti LIPI, Lukman Hakim mengaku tidak memberikan batasan, namun akan lebih baik jika mereka yang menjadi peneliti adalah mereka yang sudah memiliki gelar S1, S2, dan S3.
Hal ini tentunya juga akan menjadi nilai tersendiri bagi LIPI di mata internasional karena memiliki peneliti yang berasal dari jenjang pendidikan yang tinggi.
Jika rekrutmen tidak segera dilakukan sekarang, ada kekhawatiran beberapa tahun ke depan LIPI kehabisan peneliti karena tidak adanya regenerasi yang cukup seimbang antara jumlah pensiunan dengan jumlah tenaga yang masuk.
Lukman Hakim juga berharap kepada pemerintah yang berwenang agar dalam waktu dekat LIPI diberikan kesempatan untuk melakukan perekrutan peneliti baru.
( Kompas )
Posted in: Ilmu Pengetahuan,LIPI
93 Karya Ilmiah Berlaga di Kompetisi Ilmiah LIPI
Jakarta - Sebanyak 93 karya ilmiah menjadi finalis dalam kompetisi ilmiah yang dihajat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bekerja sama dengan AJB Bumiputera 1912, 25-26 September 2012. Seluruh karya ilmiah adalah penyatuan para finalis dari empat kompetisi ilmiah yang dihajat LIPI sepanjang tahun ini.
Dari jumlah itu, 28 karya ilmiah di antaranya adalah finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-44, 25 karya adalah finalis Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) ke-20, 15 karya adalah finalis Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-11, dan 25 karya adalah finalis National Young Inventor Awards (NYIA) ke-5.
"Pemenangnya akan dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti kompetisi ilmiah tingkat internasional," kata Kepala Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Yusuar, Selasa, 25 September 2012.
Para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja terbagi ke dalam 3 bidang, yakni Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Alam, serta Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa.
Para finalis Lomba Karya Ilmiah Guru terbagi ke dalam 5 bidang, yaitu Sekolah Dasar, SMP bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, SMP bidang Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi, SMA bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, serta SMA bidang Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi.
Untuk para finalis Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia terbagi ke dalam 3 bidang, yakni Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Teknik. Sementara itu, para finalis National Young Inventor Awards tidak terbagi ke dalam bidang-bidang alias terkelompok menjadi satu.
Yusuar mengatakan, semua finalis kompetisi ilmiah ini--individu maupun kelompok--harus mempresentasikan karyanya di depan dewan juri yang merupakan anggota Konsul Peneliti LIPI di berbagai bidang. Keilmiahan dan inovasi karya akan menjadi faktor utama penilaian. Selain itu, karya ilmiah dan inovasi para finalis juga dipamerkan untuk umum.
Sejumlah inovasi unik muncul dalam kompetisi yang dihajat LIPI saban tahun ini, di antaranya "Pelampung Anti Tsunami yang Dapat Disiapkan secara Massal dalam Waktu Kurang dari 5 Menit" karya Andya Ranithanya dan Stella Chandra Kumala dari SMPN 1 Bogor, "Sepatu Anti Kekerasan Seksual" karya Hibar Syahrul Gafur dari SMPN 1 Bogor, "Bra Penampung dan Penstreil ASI" karya Devika Asmi Pandanwangi dari SMAN 6 Yogyakarta, serta "Canting Otomatis" karya Safira Dwi Tyas Putri dari SMA Sampoerna Akademi Bogor.
Kepala LIPI, Lukman Hakim, mengatakan serangkaian kompetisi ilmiah yang diselenggarakan ini adalah upaya membangkitkan budaya meneliti bagi kalangan remaja dan para pengajar. "Pembinaan penelitian di negara-negara maju dilaksanakan sedari dini lewat afiliasi antara institusi penelitian dan pendidikan formal," ujarnya.
( Tempo.Co )
Posted in: LIPI,Ristek
LIPI Mampu Manfaatkan Mikroba Pengolah Limbah
Pekerja menunggu truk untuk mengangkut sampah yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (22/10/2012). Sampah tersebut menumpuk karena hujan mulai turun dan terbawa oleh aliran Sungai Ciliwung.[Foto KOMPAS/AGUS SUSANTO]
Jakarta - Lembaga penelitian belum dioptimalkan untuk mengolah sampah sungai. Padahal, mereka memiliki sumber daya manusia dan keahlian teknis.
”Kami memiliki alat canggih untuk penelitian mikroba. Penelitinya pun hebat-hebat. Kami pasti mampu (menemukan pengolahan sampah di sungai menggunakan mikroba) jika diberi kesempatan,” kata Endang Sukara, Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa (6/11/2012), di Jakarta.
Ia menanggapi rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendatangkan bakteri asal China untuk mengatasi pencemaran/mengurai sampah di Sungai Ciliwung. Bakteri yang belum disebutkan jenisnya itu rencananya akan diuji coba pada anak sungai Ciliwung, dekat Istana Negara.
Endang yang juga peneliti mikrobiologi mengaku heran dengan rencana impor bakteri asal China. Menurut dia, Indonesia yang beriklim tropis memiliki keanekaragaman bakteri jauh lebih banyak dibandingkan dengan China yang memiliki empat musim.
Sayangnya, potensi ini belum diungkap maksimal. Ia siap menerjunkan penelitinya jika Pemprov DKI Jakarta meminta LIPI menemukan mikroba yang cocok mengurai sampah Sungai Ciliwung. ”Dalam 1 gram ada miliaran mikroba yang jenisnya macam-macam. Pasti di dalamnya ada mikroba yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan, menguraikan sampah atau limbah, ataupun mengurangi bau busuk,” kata Endang.
Satu tahun
Paling lama butuh waktu setahun untuk menemukan dan mengidentifikasi mikroba yang sesuai. Setelah diisolasi dan dikembangbiakkan, bakteri mampu bermultiplikasi hingga 10 pangkat 10 dalam 24 jam.
Endang berharap, kalaupun rencana impor bakteri dilakukan, introduksinya dilakukan sangat hati-hati dan tidak gegabah. Diingatkan, kendali atas bakteri yang dilepaskan di suatu ekosistem (ruang tak terkontrol) sulit dilakukan.
Sementara itu, Sarjiya Antonius, Ketua Kelompok Penelitian Ekologi dan Fisiologi Mikroba Bidang Mikrobiologi Puslit Biologi LIPI, mengatakan, selama ini pihaknya banyak meneliti penanganan limbah di sungai dan aplikasinya pada instalasi pengolah air limbah. Lembaga riset ini juga memiliki koleksi mikroba pendegradasi limbah organik dan juga pestisida tertentu.
Oleh karena itu, mereka siap bila diminta menangani persoalan limbah sungai.
Dengan kemampuan yang dimiliki LIPI dan lembaga riset lainnya di dalam negeri, Sarjiya berharap kerja sama dengan pihak asing melibatkan institusi nasional. Tujuannya, kapasitas dalam negeri diberdayakan.
”Perusahaan asing yang akan bekerja menggunakan agen hayati termasuk mikroba harus berkoordinasi dengan lembaga riset, terutama terkait lingkungan bebas seperti sungai,” ujar Sarjiya.(ICH/YUN)
© Kompas
Posted in: LIPI
LIPI usung bioteknologi untuk pemanfaatan SDA
Bogor - Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar seminar internasional Bioteknologi 2012 dihadiri 120 orang peserta yang membahas peran bioteknologi sebagai kunci pemanfaatan sumber daya alam (SDA).
"Bioteknologi merupakan salah satu upaya efektif dalam memaksimalkan sumber daya alam di Indonesia yang sangat berlimpah," kata Kepala Pusat Penelitian (P2) Bioteknologi LIPI, Dr Ir Witjaksono, saat membuka seminar yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa.
Witjaksono mengatakan, cakupan keilmuan bidang bioteknologi sangat luas, meliputi bioteknologi pertanian, bioteknologi pangan, bioteknologi farmasi dan kesehatan, bioteknologi lingkungan, bioteknologi industri serta bioinformatika.
Menurutnya, upaya memaksimalkan pemanfaatan bidang bioteknologi dan mencari solusi atas tantangan saat ini akan dikupas dalam Seminar Internasional Bioteknologi 2012 yang diselenggarakan di Bogor selama dua hari 13-14 November.
Dijelaskannya, salah satu tujuan penyelenggaraan Seminar Internasional Bioteknologi 2012 adalah mengkomunikasikan dan mencari solusi dalam menghadapi tantangan dan peluang dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam secara maksimal melalui bioteknologi.
"Seminar ini memberikan kesempatan bagi pihak industri dan pakar terkait untuk membagi keahlian dan pengalaman dalam pengembangan produk berbasis bioteknologi dan juga mengenai proses komersialisasi hasil penelitian," katanya.
Witjaksono mengungkapkan, seminar tersebut merupakan wadah bagi para peneliti, akademisi, pakar industri dan para stakeholder lain untuk saling berbagi dan berdiskusi mengenai kemajuan dan perkembangan bioteknologi di berbagai bidang.
Dikatakannya, untuk bidang bioteknologi pertanian, akan diulas mengenai topik penelitian di bidang bioteknologi tanaman dan hewan (ternak), termasuk juga aplikasi teknik-teknik genetika molekuler untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman pangan.
"Dalam seminar ini juga akan dibagas bagaimana mengurangi akibat negatif dari cekaman biotik dan abiotik, pupuk alami (biovertilizer), pemanfaatan genetika molekuler dan biologi reproduksi untuk meningatkan kualitas dan produktivitas hewan ternak, serta alikasi bioteknologi dalam penelitian pakan dan produksinya," katanya.
Sementara itu, lanjut Witjaksono, untuk bidang bioteknologi pangan, akan dibahas penelitian dalam bidang nutrigenomik, pengembangan pangan fungsional, aplikasi bioteknologi untuk meningkatkan kualitas nutrisi, rasa, tekstur dan penampilan makanan, keamanan pangan, serta toksikologi dan mikrobiologi pangan.
Sejauh ini, kata Witjaksono, bidang bioteknologi farmasi dan kesehatan yang mencakup industri farmasi telah banyak memperoleh manfaat dari hasil penelitian berbasis bioteknologi, antara lain pengembangan vaksin dan obat-obatan, kosmetik, aplikasi kultur sel dalam penelitian kesehatan dan farmasi, terapi dan diagnostik, nutrasetika dan juga kimia bahan alam.
Witjaksono menambahkan, dibidang bioteknologi dan industri dibahas pula pemanfaatan proses bioteknologi untuk aplikasi industri, bioproses, biorefinery (produksi bioetanol dan biodisel).
Sementara berkaitan dengan bioinformatika, pembahasan akan mencakup penelitian di bidang genomik, proteomik, metabolimik, protein modeling, dan juga aplikasinya, seperti drug discovery and design.
"Dalam seminar ini, kita mengundang peneliti, akademisi dan stakeholder dari dunia industri untuk duduk bersama, mengetahui peran bioteknologi sebagai kunci pemanfaatan sumber daya alam. Sehingga kedepan hasil riset dan industri bisa berjalan seiring," katanya.
Ketua Panitia Seminar Bioteknologi 2012, Anggia Prasetyoputri menyebutkan seminar diikuti sebanyak 140 orang peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, dan para pengambil keputusan di dunia industri.
Seminar juga dihadiri oleh peserta dari sejumlah negara seperti Jepang, Australia, Jerman, dan Malaysia. (KR-LR)
© Antara
Posted in: LIPI
Anti-Kolesterol dan Kanker Asli Indonesia
Jakarta - Potensi sumber bahan baku obat di Indonesia sangat melimpah, tapi sayang belum banyak yang tergali secara maksimal. Padahal, dari sekian banyak sumber bahan baku alami obat ini, menurut peneliti utama pada Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Hanafi, telah ditemukan obat antikanker dan antikolesterol.
"Tumbuhan dan mikroba tersebut antara lain Garcinia (apel Jawa), Curcuma (kunyit), Hedyotis (rumput mutiara), Pseudomonas (bakteri gram negatif yang banyak ditemukan di tanah dan air), dan Streptomyces (bakteri gram positif yang menghasilkan spora)," ujar Muhammad Hanafi dalam orasi ilmiahnya yang disampaikan dalam pengukuhan gelar profesornya di Auditorium LIPI, Jumat, 23 November 2012.
Menurut Hanafi, temuan berupa obat herbal atau fitofarmaka itu berupa ekstrak aktif dari tumbuhan dan mikroba yang telah diisolasi dan diidentifikasi senyawa aktifnya. Hasil isolasi tersebut berupa zat kalanon, UK-3A, dan phenazina serta sintesis turunan dan analognya memiliki potensi menghambat perkembangan sel kanker.
Hasil uji praklinis atau tahap pengujian yang dilakukan sebelum uji klinik pada manusia, yang telah dilakukan Hanafi, menunjukkan bahwa senyawa tumbuhan dan mikroba tersebut mampu menurunkan jumlah sel kanker. "Sayangnya, senyawa tumbuhan dan mikroba tersebut masih bersifat toksik atau racun," ujar Hanafi.
Tidak hanya itu, seyawa turunan yang terdapat dalam tumbuhan dan organisme tersebut yang dikenal dengan nama Lovastatin atau Lipistatin memiliki potensi sebagai obat antikolesterol. Karena itu, kata Hanafi, penting sekali penelitian ini dilanjutkan ke tahap uji klinis, terutama mengingat manfaatnya di bidang kesehatan dan kehidupan manusia.
Hanafi menambahkan, untuk mengembangkan potensi bahan obat utama dari alam (tumbuhan dan mikroba) untuk dijadikan obat antikanker dan antikolesterol diperlukan skala prioritas dan tindakan yang fokus. "Diperlukan pula komunikasi lebih awal, intensif, serta komitmen dengan pihak industri farmasi guna melancarkan komersialisasi hasil penelitian yang sedang dan telah dicapai," ujar Hanafi.
Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki potensi alam sangat besar, dengan jumlah keanekaragaman tumbuhan mencapai 30 ribu spesies. Dengan jumlah itu, tidak heran Indonesia disebut sebagai megacenter dari biodiversitas dunia. Dari jumlah itu pula, sebanyak 9 ribu tanaman di Indonesia memiliki khasiat obat.
© Tempo.Co
Posted in: Ilmu Pengetahuan,LIPI
Setahun, 50 Penelitian Dipatenkan LIPI
CIBINONG Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan berkontribusi untuk pembangunan Kabupaten Bogor. Salah satunya dengan menyumbangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), melalaui program inkubasi teknologi.
“Per tahun kita menghasilkan 50 penelitian yang sudah bisa dipatenkan,” tegas Kepala Pusat Inovasi LIPI, Prof Bambang Subyanto saat peresmian Gedung Inovasi di Cibinong Sciense Center (CSC), Rabu (13/2).
Gedung itu, lanjut Bambang, untuk melahirkan berbagai usaha atau perusahaan berbasis teknologi, terutama teknologi yang berasal dari hasil-hasil riset LIPI. Gedung ini mewadahi bebagai kegiatan yang bersifat mengakselerasi adopsi hasil-hasil riset LIPI oleh para stakeholder.
“Di gedung Inovasi ini pun ada program inkubasi teknologi yang bertujuan untuk memfasilitasi komersialisasi hasil-hasil penelitian dan juga akusisi maupun pemanfaatan teknologi unggul.
Tujuannya untuk mempromosikan eksploitasi suber daya lokal dan meningkatkan daya saing dari industri nasional melalui skema alih teknologi. Ia menambahkan saat ini tercatat 10 teknologi LIPI telah dikembangkan menjadi produk contoh (prototype), 17 teknologi telah melalui tahapan pra-inkubasi dan 15 teknologi sedang melalui tahapan inkubasi. Ia berharap lahir perusahaan bebasis teknologi yang siap bersaing di pasar domestik. “Oleh karenanya sinergi antara LIPI dengan Pemerintah Daerah serta para pengusaha sangat dibutuhkan,” pungkasnya. (*/sal)
• JPNN
Posted in: LIPI
