Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Ristek. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa UMY Ciptakan Alat Ukur Tubuh Ideal

Alat itu akan mengukur apakah orang punya tubuh ideal, terlalu kurus, atau terlalu gemuk.

Alat ukur tubuh ideal otomatis (VIVAnews/Juna Sanbawa)

VIVAnews - Pengukuran tubuh ideal secara manual draws merepotkan karena harus ada operator yang mengukur berat dan tinggi badan. Untuk mengukur tubuh ideal, misalnya saat seleksi calon TNI, Polisi, atau para pencari kerja, tentunya akan lebih praktis jika dilakukan dengan alat digital.Bila ada alat yang dapat secara otomatis melakukan pengukuran bobot tubuh yang ideal, selain lebih praktis, datanya pun akan lebih akurat.Melihat kebutuhan tersebut, Yudi Kristian, salah seorang mahasiswa jurusan Teknik Elektro, Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan penelitian tentang Implementasi Micro Controller pada Alat Deteksi Postur Tubuh Ideal.Yudi, mahasiswa yang akan diwisuda pada Februari tahun ini berhasil mengembangkan alat digital yang berfungsi mengukur postur tubuh seseorang. Micro controller atau pengendali mikro adalah sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip.Menurut Yudi, alatnya akan mengukur secara otomatis apakah seseorang memiliki tubuh ideal, terlalu kurus, atau terlalu gemuk.“Dalam alat tersebut ada dua macam sensor. Yang pertama, sensor tinggi badan, dan yang kedua adalah sensor berat badan,” kata Yudi, Sabtu 4 Februari 2012. “Alat pengukur tinggi dan berat badan konvensional terlebih dahulu dimodifikasi dengan diberi potensiometer multiturn,” ucapnya.Nantinya, kata Yudi, data yang diterima oleh sensor tersebut akan terkonversi otomatis dan muncul dalam bentuk angka pada layar LCD. “Kedua sensor tersebut dihubungkan dengan timbangan, berat badan, dan tinggi badan,” paparnya.Penelitiannya tersebut, lanjut Yudi, berhasil ia selesaikan selama kurang lebih delapan bulan. “Termasuk kegagalan selama proses penelitian," ucapnya.Yudi menambahkan, alat itu juga dapat langsung disambungkan ke PC, sehingga data yang muncul dapat terekam secara otomatis. “Kalau disambungkan ke komputer, dengan software tertentu, data itu dapat terekam otomatis menjadi file. Sehingga kita dapat langsung mencetaknya, tanpa harus mencatat terlebih dahulu,” ujarnya. (art)

• VIVAnews

Posted in: Ristek,UMY

#Tag : Ristek UMY

Mahasiswa Yogya Juara di Korea Berkat Kulit Udang

TEMPO.CO , Yogyakarta - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memanfaatkan kulit udang, cangkang kepiting dan kerang untuk membuat obat penyembuh luka, baik luka terbuka maupun luka bakar. Cangkang dan kulit yang biasanya dibuang setelah daging binatang itu dikonsumsi ternyata mengandung chitosan yang efektif menyembuhkan luka.Berkat limbah kulit udang dan cangkang kerang serta kepiting itu, Barii Hafidh Pramono dan Rizqi Afrian, mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi juara pertama dalam The 1st International Student Conference di Thailand. Kegiatan bertema "Innovations for Harmonious Living in a Borderless Society" itu diselenggarakan oleh Khon Kaen University, Thailand pada 23-25 Januari 2012."Biasanya kepiting dan udang hanya dimanfaatkan dagingnya saja, sementara cangkangnya dibuang, padahal cangkang kepiting, udang, maupun kulit kerang mengandung zat yang disebut chitosan, yang mampu mempercepat penyembuhan luka," kata Barii, Senin, 6 Februari 2012.Dua mahasiswa angkatan 2006 itu berhasil menyingkirkan peserta dari delapan negara lain yaitu Thailand, Cina, Swedia, Laos, Jepang, Inggris, Kamboja, serta Vietnam.Penelitiannya tentang pemanfaatan kulit kerang (chitosan) untuk obat luka bakar termasuk unik karena memanfaatkan limbah untuk dijadikan obat. Barii menemukan fakta bahwa salep dengan kandungan chitosan mampu menyembuhkan luka dengan waktu lebih cepat dibanding dengan salep tanpa chitosan. Salep chitosan juga menghasilkan penyembuhan yang kuat karena mampu menebalkan kolagen sehingga kulit tidak mudah iritasi.Dengan chitosan, luka lebih cepat sembuh karena proses epitelisasi dan kolagenisasi lebih cepat serta menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi. "Selain efektif menyembuhkan luka, cangkang binatang itu mudah ditemukan dan murah," kata Rizki Arfian.(MUH. SYAIFULLAH)• TEMPO.CO

Posted in: Awards,Ristek,UMY

#Tag : Awards Ristek UMY

Ini Lima Penelitian Fokus dari Kementerian Riset

Penelitian insektisida alami yang dibuat dari biji dan kulit buah Sirsak. TEMPO/Fatkhurohman Taufiq

TEMPO.CO , Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi memfokuskan penelitian dalam lima bidang pada tahun ini. Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan fokus itu di antaranya mulai dari bidang pangan hingga pertahanan.

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Ristek

• TEMPO.CO

Gusti seusai mengunjungi Kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yogyakarta, Senin 6 Februari 2012 mengatakan di bidang ketahanan pangan penelitian akan dilakukan untuk pengembangan padi dan sorgum.Di bidang ketahanan energi, Kementerian akan meneliti pengembangan energi terbarukan meliputi tenaga angin, arus laut, panas bumi, matahari serta nuklir. “Pengembangan energi terbarukan ini penting karena saat ini cadangan minyak dan gas kita sudah kian menipis,” kata Gusti. Bahkan, menurutnya, sumur minyak yang ada pun sudah tua sehingga jika ingin menggali sumber minyak baru di tengah laut butuh teknologi tinggi serta biaya sangat mahal.Kementerian juga akan melakukan penelitian bidang kesehatan dan obat-obatan dengan menciptakan isotop. Riset ini salah satunya diharapkan bisa mendapatkan suatu media yang dapat mendeteksi berbagai penyakit ganas seperti kanker lebih dini. ”Isotop ini sudah banyak diminta ke luar negeri karena hasil yang kita buat lebih murah dibandingkan buatan luar negeri, sehingga bisa bersaing. Sekarang tinggal kita bantu pengembangan dan peralatannya.”Fokus penelitian keempat adalah manajemen dan teknologi transportasi. Bidang ini akan melibatkan PT LEN dalam pembuatan sinyal kereta api. Hasil riset telah berhasil diuji coba di Stasiun Kereta Api Purworejo. "Alat tersebut bisa membantu kereta api untuk berhenti sendiri jika dalam keadaan darurat, sehingga mampu menekan angka kecelakaan."Adapun penelitian kelima pada sektor industri pertahanan. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan insentif kepada produsen senjata yaitu PT Pindad Bandung, untuk menghasilkan kendaraan panser dan peralatan tempur lain bagi TNI.Pada tahun 2012 Kementerian mengalokasikan anggaran insentif untuk penelitian dan beasiswa senilai Rp 4,2 triliun. Dana ini bisa diakses bagi para pegawai di tujuh Lembaga Pemerintah Non Kementerian, seperti pegawai LAPAN yang ingin kuliah S2 maupun S3.(PRIBADI WICAKSONO)

Pro-Kontra Ahli Atas Bra Warsito

TEMPO/Dwianto Wibowo

TEMPO.CO, Jakarta - Sejak mendapat perhatian luas dari media, bra pembasmi kanker ciptaan Warsito P. Taruno menuai pro dan kontra. Onkolog tak begitu saja percaya bahwa kanker bisa disembuhkan total.

• TEMPO.CO

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Ristek

Para onkolog atau dokter ahli kanker berhati-hati menyikapi temuan Warsito yang diklaim bisa menyembuhkan kanker payudara itu. “Temuan itu belum memenuhi persyaratan untuk diujicobakan kepada manusia,” kata Walta Gautama, dokter spesialis kanker Rumah Sakit Dharmais.Menurut Walta, kutang itu harus menjalani uji klinis dan uji kasus. Setelah itu, dipresentasikan kepada ahli onkologi, pengujian alat medis di laboratorium, tahapan menghantam kanker, hingga uji coba ke makhluk hidup lain, seperti binatang. “Setelah itu, baru layak dicoba ke manusia,” kata dia.Soal cerita sukses alat itu yang menghilangkan kanker payudara Suwarni, kakak Warsito, Walta meragukannya. “Kami sudah sekian lama di bidang ini saja susah mengkategorikan sembuh dari kanker,” ujarnya.Menurut Walta, sejauh ini, dunia medis modern belum menemukan terapi terbaik untuk menyembuhkan kanker. “Hampir tidak ada sembuh seratus persen,” kata dia.Sementara itu, dari sisi radiologi, alat kerja kutang Warsito mendapat apresiasi dan bisa dijelaskan secara ilmiah. “Memang masuk akal dan bisa diterapkan selain di dunia keilmuan saja,” kata ahli radiologi Universitas Gadjah Mada, Gede Bayu Suparta.Menurut Gede, prinsip listrik yang membangkitkan gelombang elektromagnetik bisa diatur sehingga menghasilkan resonansi frekuensi yang diinginkan. “Yakni sel-sel yang hendak dituju,” kata ahli fisika ini.Gede yang juga penemu kendali sistem radiografi digital mendukung temuan Warsito. “Gelombang listrik tidak berbahaya, tapi bisa mengubah struktur atom,” kata dia.Warsito sendiri mengakui, kutang pembunuh kankernya belum diujicobakan ke hewan terlebih dahulu. “Memang seharusnya diuji klinis, dicobakan ke hewan,” kata dia.(TITO SIANIPAR)

Ditemukan, Bra Pembunuh Kanker Payudara

TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO , Jakarta- Penderita kanker payudara Indonesia kini bisa lega. Ada teknologi pengobatan baru yang dikembangkan anak bangsa sendiri.

Cara baru itu dikembangkan Warsito Purwo Taruno, 44 tahun. Warsito adalah seorang ahli tomografi berbasis medan listrik, menemukan bra atau kutang pembasmi kanker.Doktor kimia lulusan Universitas Shizuoka, Jepang ini menciptakan alat baru, berupa bra alias kutang yang memakai medan listrik yang bisa dipakai membunuh sel kanker.

Kutang berbentuk seperti rompi penutup dada itu berisi sejumlah peralatan yang menggunakan medan listrik. Teknologi yang dipakai adalah tomografi medan listrik (electrical Capacitance volume tomography, ECVT) empat dimensi.

Tomografi adalah teknologi pemindai obyek tanpa harus menyentuh bendanya. Ini merupakan terobosan besar dalam teknik memindai, karena ECVT mampu memindai 3D (volumetrik) dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi. Teknologi pemindai semacam CT Scan dan MRI menjadi terlihat kuno.Dengan dasar itu, ia membuat kutang pembunuh kanker yang menggunakan medan listrik. “Prinsipnya memakai sifat paling dasar dari kanker itu sendiri,” kata Warsito kepada Tempo, pekan lalu.

Sel kanker yang akan membelah diberi medan listrik dengan takaran tertentu, pada frekuensi 50 kilohertz--5 megahertz, mekanisme pembelahan sel kanker lumpuh.Adapun pengaruh medan listrik itu pada sel sehat belum diketahui dengan persis, namun Warsito yakin tak banyak. Akibatnya, sel kanker tak bisa menyelesaikan fase pembelahan. “Lama-kelamaan sel tersebut mati, lalu akhirnya punah karena tak bisa berkembang biak,” ujarnya.(TITO SIANIPAR)

Harga Bra Pembunuh Kanker tak sampai Rp 10 Juta

Peminat Bra Pembunuh Kanker Hngga Arab Saudi

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Ristek

Majulah Bangsaku ...

• TEMPO.CO

TEMPO.CO , Jakarta-Bra pembunuh kanker temuan Warsito Purwo Taruno menggegerkan dunia medis dan keilmuan. Arab Saudi tertarik dan memesannya.'Pasien' Warsito datang dari berbagai penjuru Indonesia, misalnya Bekasi, Surabaya, Banjarmasin, Bandung, Medan, dan lainnya. “Memang repot. Tapi sudah konsekuensi,” ujar Warsito. (baca: Harga Bra Pembunuh Kanker Tak Sampai Rp 10 Juta)Pemakai kutang Warsito asal Banjarmasin, Erlin Fualita, 44 tahun, mengaku mengalami perubahan berarti setelah menggunakannya. Tentu dengan beberapa efek samping dari pembuangan sel kanker yang mati. Seperti keringat, air seni, dan feses yang lebih berbau.“Peluhnya bau hangus,” ujar Syamsir Rahman, suami Erlin. Ia berharap alat terapi Warsito bisa berfungsi pada istrinya yang mengidap kanker payudara stadium tiga. (lihat: Ditemukan, Bra Pembunuh Kanker Payudara).Selain di dalam negeri, dunia internasional juga tertarik sama penemuan Warsito ini. Universitas King of Abdulaziz, Arab Saudi, dan sebuah rumah sakit di India, telah memesan alat tersebut dalam jumlah banyak untuk uji pakai. “Saya juga ingin melihat fenomena hasil penelitian ini,” kata Warsito.Amerika dan Jepang juga dikabarkan tertarik untuk menerapkan penemuannya ini. Di dua negara ini, Warsito sempat menimba ilmu dan bekerja. Jika diakui dunia internasional, maka penanganan kanker payudara kini tidak lagi membutuhkan harga mahal.(TITO SIANIPAR | AYU CIPTA (Tangerang))

TEMPO.CO , Jakarta-Sejak menemukan kutang pembunuh kanker, sudah lebih dari tiga ratus orang datang ke toko Warsito Purwo Taruno, 44 tahun, untuk membeli bra itu. Namun ia tak menjualnya, melainkan menyewakannya dengan harga murah.Warsito mengatakan tidak menjual kutang. “Saya pakai sistem hak guna pakai,” kata ayah empat anak ini. "Setiap orang yang sudah sembuh dan selesai memakainya, harus mengembalikan."Harga sewa yang diberlakukan juga tidak mahal. “Hanya Rp 1 juta sampai Rp 5 juta,” kata dia. Dengan harga itu, diharapkan manfaat penemuannya bisa dirasakan lebih banyak orang.Kutang berbentuk seperti rompi penutup dada itu bernama Breast Cancer Electrocapacitive Therapy. (baca: Ditemukan, Bra Pembunuh Kanker Payudara). Bahannya bersifat isolatif, antibakteri dan air. Semua pengerjaannya dilakukan di laboratotiumnya di kawasan Modern Land, Tangerang.(TITO SIANIPAR)

Ditemukan Pengawet dari Daging Sapi Lokal

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 8/2 (ANTARA) - Peneliti asal Indonesia menemukan bakteri yang berasal dari daging sapi lokal mampu mengawetkan olahan daging. Demikian laporan penelitian saat Seminar ITSF tentang Pengetahuan Alam dan Teknologi di Balai Kartini, Jakarta pada Rabu (8/2)."Bakteriosin yang diproduksi oleh bakteri asam laktat efektif menjadi pengawet makanan alami, namun hal itu terbatas karena sifat antimikrobanya hanya aktif dalam kondisi asam. Kami menemukan plantaricin sebagai salah satu jenis bakteriosin yang diproduksi 'Lactobacillus plantarum' dari daging sapi lokal," kata peneliti Irma Isnafia Arief seusai seminar."Ada penerbit di Jerman yang ingin siarkan penemuan saya dengan hanya mengirim laporan penelitian ini kemudian dibayar dengan sistem royalti," kata Irma menambahkan jika telah diterbitkan dan dikenal masyarakat dunia maka akan menaikkan nama Indonesia.Untuk penelitian lanjutan, Irma memperkirakan dalam waktu satu tahun dia bisa mendapatkan "Lactobacillus" yang benar-benar murni."Kami perkirakan kalau ada dananya kami bisa selesaikan dalam jangka waktu satu tahun dan akan bisa daftar paten," harap Irma yang menambahkan Universitas Osaka di Jepang telah mengajak kerja sama pelanjutan penelitian tersebut.• REPUBLIKA.CO.ID

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Ristek

Setelah Payudara, Warsito Sembuhkan Kanker Otak

Romy, Asisten Warsito yang mendampingi pasien kanker otak, WillyTEMPO.CO, Jakarta - Setelah kesuksesannya membuat bra pembunuh kanker payudara, Warsito Purwo Taruno sekarang punya gawean baru: membuat alat pembasmi kanker di otak. Seorang pasiennya sudah sembuh.Menurut Warsito, alat mirip masker pelindung tinju itu sudah diujicobakan kepada Willy Syahputra, 21 tahun. Ia divonis dokter mengidap kanker otak dan harus dioperasi. Fisiknya yang semula normal, tiba-tiba lumpuh setelah dioperasi pada Mei 2011.Seluruh tubuh, termasuk tangan dan kakinya, tak bisa digerakkan. Dari informasi di surat kabar, orang tua Willy kemudian mendatangi Warsito di Ctech Laboratories, The Centre for Tomography Research Wdwar Technology, di Jalan Hartono Raya Modern Land, Tangerang.Willy menjadi sukarelawan dan bersedia diterapi. Seorang asisten Warsito, Romi Imam Sulaiman, mendampingi Willy dan mencatat setiap perkembangannya. Ia kemudian menggunakan brain cancer electro capasitive therapy sejak September 2011 lalu.Sama seperti cara kerja bra pembunuh kanker, alat ini juga mengkonsumsi listrik sebesar 9 volt. Willy kegerahan, pegal di pangkal otak, keringatnya berlendir, dan bau fesesnya jadi lebih tidak enak. “Fase tiga sampai empat hari perang medan listrik,” kata Warsito.Seminggu setelah dipakai, Willy bisa bangun dari tempat tidur dan menggerakkan tangan serta kakinya. Setelah dua bulan dan diperiksakan kembali, kanker di otak Willy hilang. “Ini keajaiban nyata,” ujarnya.Bulan Maret mendatang, Warsito akan mengajak Willy memenuhi undangan mengisi acara di India. “Willy akan diminta mengisahkan hidupnya yang bisa bebas dari sel kanker otak,” kata Warsito.(TITO SIANIPAR)• TEMPO.CO Majulah Bangsaku ...

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Ristek

Fakultas Biologi UGM Kembangkan Gama Anggrek

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan Gama Anggrek, yang merupakan hasil persilangan dari berbagai jenis anggrek alam di Indonesia."Salah satunya adalah persilangan anggrek jenis Vanda tricolor yang ada di lereng Gunung Merapi dengan Vanda limbata yang bisa dijumpai di Nusa Tenggara," kata Kepala Laboratorium Bioteknologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Indrianto di Yogyakarta, Selasa (14/2).Menurut dia, pengembangan Gama Anggrek itu akan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Biologi dan Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM. Pengembangan persilangan jenis anggrek tersebut dilakukan dengan model botolan maupun kompotan."Hal itu dilakukan karena Indonesia kaya dengan berbagai jenis anggrek alam seperti jenis Vanda tricolor dan Vanda limbata," katanya.Ia mengatakan sebagian masyarakat tidak tertarik dengan pengembangan anggrek alam karena kurang indah. Padahal, anggrek alam memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan anggrek hibrida yakni baunya yang lebih wangi dan perhiasan bunganya yang tebal, sehingga lebih awet dan tidak mudah layu."Sebagian kalangan menilai anggrek alam bentuk dan warnanya tidak indah. Padahal, jenis anggrek itu memiliki keunggulan seperti pada perhiasan bunga dan baunya yang wangi," katanya.Menurut dia, pembuatan bibit anggrek alam dalam botol belum mendapat perhatian khusus di masyarakat, padahal kebutuhannya sangat mendesak. Kondisi itu menghasilkan suatu peluang agrobisnis yang menggiurkan.Di sisi lain penyediaan bibit anggrek alam hasil budi daya dapat menurunkan ketergantungan masyarakat pada anggrek alam di habitatnya, sehingga akan mempertahankan kelestarian anggrek alam."Pembuatan kemasan sebagai wadah bibit anggrek botolan yang dirancang secara menarik namun tetap mempertimbangkan faktor-faktor utama penunjang kehidupan bibit anggrek diharapkan semakin meningkatkan ketertarikan masyarakat awam pada bibit anggrek alam botolan," katanya.Ia mengatakan tumbuhan anggrek yang tergolong dalam familia Orchidaceae telah lama dikenal masyarakat luas, baik sebagai tanaman hias maupun bunga potong. Di dunia diperkirakan terdapat sekitar 20.000 jenis anggrek, dan sebagian tersebar di daerah tropis."Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 5.000 jenis anggrek yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian, Indonesia sebagai negara tropis merupakan negara yang mempunyai jenis anggrek terkaya di dunia," katanya.• REPUBLIKA.CO.ID

Posted in: Ristek,UGM

#Tag : Ristek UGM

BPPT-Jepang kerjasama kembangkan turbin angin

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan teknologi turbin angin Tomonokaze yang mampu membangkitkan listrik dengan baik dari kondisi kecepatan angin yang rendah seperti di Indonesia. "Berbeda dengan Eropa yang rata-rata kecepatan anginnya sampai 12 meter per detik, di Indonesia kecepatan anginnya hanya 3-6 m/detik," kata Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar seusai Penandatangana nota kesepahaman (MoU) kerja sama dengan Jepang mengembangkan turbin angin Tomonokaze di Jakarta, Rabu. Dengan kecepatan angin rendah, lanjut dia, turbin angin sulit berputar, atau kalaupun bisa berputar daya listrik yang dihasilkan sedikit, namun teknologi Tomonokaze mampu membuat turbin bisa berputar cepat meski dengan kecepatan angin 3-6 m/detik dan memberi daya yang juga lebih besar. Karena itu pihaknya bersama Tomo Wind Energy akan menguji kelaikan teknologi tersebut di Taman Teknologi Terbarukan di pantai Baron Yogyakarta sebanyak satu unit dengan kapasitas 4 kW. Saat ini di taman tersebut sudah ada pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) 15 kW, surya 36 kW dan biofuel 25 kW. "Jika sudah dikembangkan sesuai dengan kondisi di Indonesia, Jepang berminat membangun industri turbin angin di Indonesia dengan material yang juga berasal dari Indonesia," katanya. Selama ini, ujarnya, untuk memenuhi kebutuhan energi yang dibangkitkan dari angin, Indonesia mengimpor turbin, karena BPPT (laboratorium aerogasdinamika dan getaran) dan Lapan hanya memenuhi pesanan-pesanan kecil saja dimana investasi yang diperlukan 8 dolar AS per Watt. Saat ini Indonesia baru memanfaatkan energi angin sebesar kurang dari 2 MW, padahal potensinya 9.300 MW. Hanya saja potensi itu diakuinya tersebar di lokasi-lokasi terpencil misalnya di tepi pantai selatan Jawa dan Indonesia timur. Sementara itu Deputi teknologi informasi energi dan material BPPT Dr Unggul Priyanto mengatakan keunggulan teknologi Tomonokaze terletak pada disainnya yang dilihat dari "blade" dan motornya, serta terletak pada materialnya yang ringan dan kuat dari bahan yang seluruhnya komposit. Sementara itu, CEO Tomo Wind Energy Kazuki Nomoto mengatakan, pihaknya sudah mengembangkan teknologi turbin angin sejak 20 tahun lalu, sedangkan teknologi terbaru Tomonokaze adalah yang keempat. "Teknologi ini sudah dicoba dan terpasang di Kyusu yang kondisi kecepatan anginnya sangat rendah, hanya 1 meter/detik, setinggi 6 meter. Namun turbin ini bisa berputar dengan cepat," katanya sambil memperlihatkan foto. Daya listrik yang dihasilkan dari PLTB ini, jelasnya, tergantung dari kecepatan anginya. Jika kecepatan angin hanya 4-5 m/ detik daya yang dihasilkan sekitar 10 kW per hari.(D009)• ANTARA News

Posted in: BPPT,Energi,Ristek

#Tag : BPPT Energi Ristek

SMK Negeri 3 Madiun Olah Limbah Sampah Plastik Jadi BBM

MADIUN--MICOM: Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengapresiasi temuan mesin atau alat pengolah limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif karya para siswa dan pengajar SMK Negeri 3 Kota Madiun.

Hal itu disampaikan gubernur saat acara Pencanangan Gerakan Ramah Lingkungan Menuju Kemakmuran dan Pemanfaatan Sampah Plastik Sebagai BBM Alternatif di Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPSA) Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Sabtu (18/2).

Bersamaan dengan acara ini, Gubernur Jatim juga memberikan bantuan mesin pengolah limbah sampah plastik menjadi BBM alternatif kepada 12 sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Timur.

"Ini kelasnya sudah 'discovery'. Tidak ada kata yang paling tepat selain luar biasa. Mereka ini telah melakukan inovasi dengan mengubah sampah plastik yang selama ini beban, menjadi energi," ujar Gubernur Jawa, Timur Soekarwo kepada wartawan.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mendukung pengembangan alat ini untuk memperkuat kelas menengah ke bawah masyarakat Jawa Timur dalam mengurangi angka kemiskinan.

"Riset ini harus dibiayai untuk menjadi ekonomis dan digunakan untuk masyarakat. Temuan ini selaras dengan program Pemprov Jatim terkait penurunan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan pembangunan kelas menengah," katanya.

Pihaknya menilai dengan menggandeng Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan (KAPAL) Jawa Timur, temuan mesin pengolah limbah sampah plastik menjadi BBM alternatif akan semakin berkembang dan menyentuh masyarakat.

"Untuk langkah awal, mesin tersebut akan diberikan kepada sejumlah SMK di Jawa Timur. Kedepan, penggunaan alat ini terus didorong untuk ditempatkan di pengolahan-pengolahan sampah yang ada," terang dia. (Ant/OL-9)

• MediaIndonesia

Posted in: Energi,Indonesia Teknologi,Inovasi,Ristek

Solusi Penyaring Air Kotor Jadi Air Bersih

Sekelompok mahasiswa Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, yang terdiri dari Bambang, Dedik Sumaryanta, dan Alfian Syahril Mustofa menciptakan alat penyaring air sederhana. Proyek akhir di bawah bimbingan Jarwo Puspito, M.P. (dosen FT UNY) ini, berfungsi untuk menyaring air kotor yang terdapat di lingkungan masyarakat menjadi air bersih yang layak digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci hal-hal lain. Sementara untuk minum tetap memerlukan proses perebusan agar lebih aman. Selain itu, alat ini dapat juga digunakan untuk sirkulasi air yang digunakan untuk kolam ikan dengan tujuan menjadikan derajat keasaman (pH) netral sehingga tidak perlu mengganti air.

Kepada redaksi Web UNY, Alfian, salah satu anggota kelompok, menjelaskan latar belakang pembuataan alat ini disebabkan oleh banyaknya air tanah dan air permukaan yang telah tercemar kotoran. Saat ini di sebagian kota-kota besar Indonesia, banyak air kotor yang tersebar untuk keperluan rumah tangga. Selain itu, air juga dicemari logam-logam berat yang bersifat racun atau memiliki kandungan ion besi dan mangan yang tinggi.

“Padahal, air yang mengandung bakteri patogen atau zat-zat terlarut lainnya dapat berakibat langsung pada kesehatan. Penggunaan air yang tercemar untuk keperluan mandi ataupun cuci dapat berakibat langsung pada kesehatan mata dan kulit seperti kuman, kudis, kurap, dan borok. Penyakit mata juga mudah ditularkan lewat air. Lebih jauh lagi, kulit dapat mengalami iritasi, kering, kusam, dan kehitaman bila menggunakan air dengan kandungan ion besi dan mangan yang tinggi. Makanan juga dapat terkontaminasi akibat peralatan dapur atau alat makan dicuci dengan air yang tercemar. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari seharusnya dilakukan pengolahan air terlebih dahulu agar dapat memenuhi syarat kesehatan”, terangnya Alfian lebih lanjut.

Alfian menjelaskan cara kerja alat ini sebagai berikut. “Pertama, tutup keran 1 dan keran 2, kemudian, isi bak pertama dengan air olahan. Beri koagulan dari arang aktif dan diamkan selama 30 menit. Setelah didiamkan, salurkan air ke tabung yang berisi bahan penyaring yang terdiri dari pasir, kerikil, arang, dan ijuk dengan membuka keran 1 dan tutup keran 2 supaya pasir tetap terendam. Lalu isikan kembali tabung pertama dan lakukan proses koagulasi kembali. Setelah itu, buka keran 1 dan keran 2 sehingga keluar air bersih. Jika air dalam tabung pertama habis, keran 2 cepat ditutup. Pasir tetap dibiarkan dalam keadaan terendam terus meski tidak dioperasikan,”terangnya.

Mahasiswa asal Magelang ini menuturkan bahwa alatnya terdiri dari beberapa komponen utama, antara lain: kerangka alat, bahan penyaring, wadah penampung air/tabung atas, dan wadah bahan penyaring/tabung bawah dengan sistem kerja yang sederhana. Dengan demikian, memungkinkan setiap orang dapat mengoperasikannya. Desain alat ini juga cukup sederhana sehingga mudah dipindahkan ketempat lain tanpa memerlukan alat angkat khusus.

 “Alat dengan taksiran seharga Rp1.800.500,00 ini memiliki dimensi alat panjang 1600, lebar 80, tinggi 1800 mm. Kapasitas tabung 225 liter air dan ± 358 kg bahan penyaring serta memiliki waktu produksi ± 13 detik untuk botol berukuran 500 ml. Sementara bahan yang digunakan untuk konstruksi alat penyaring air sederhana ini adalah kerangka menggunakan baja profil siku bahan ST. 37 dan tabung bahan penyaring menggunakan plat stainless steel,” jelasnya.

“Tingkat keamanan desain konstruksi  alat penyaring air sederhana dapat dikategorikan cukup baik karena memenuhi beberapa syarat, antara lain, konstruksi  alat  yang kuat  dengan didukung rangka yang kokoh dari bahan baja prosil siku, sumber penggerak yang bebas polusi dan tidak bising, dan memenuhi syarat keselamatan kerja bagi operator,” imbuhnya.

Alfian dan kelompoknya berharap alat ini dapat disempurnakan lagi di kemudian hari. “Adapun beberapa saran yang didapat dari para dosen dan kolega untuk langkah pengembangan dan penyempurnaan alat ini. Salah satunya, untuk menghasilkan penyaringan yang baik, alat ini memerlukan komponen tambahan yaitu bahan yang bisa menjadikan air menjadi air murni. Perawatan alat harus selalu diperhatikan yakni bila air yang keluar telah keruh atau alirannya kurang lancar, artinya dalam saringan sudah banyak lumpur, maka bahan penyaring perlu dibersihkan. Terlebih lagi harus senantiasa dilakukan pemeriksaan berkala dan harian,” pungkasnya. (uny.ac.id/ humasristek)

• Ristek

Posted in: Ristek,UNY

#Tag : Ristek UNY

Sampah Plastik Jadi "Minyak"

KOMPAS/LUKI AULIA, Siswa SMKN 3 Madiun menguji coba bahan bakar minyak dari sampah plastik pada mesin sepeda motor rakitan siswa SMKN 1 Madiun, Sabtu (18/2), di Kecamatan Mejayan, Madiun, Jawa Timur.

Luki Aulia

KOMPAS.com - Berawal dari keprihatinan pada sampah plastik yang sulit terurai, siswa SMK Negeri 3 Kimia Madiun mencoba mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Dari uji coba sejak tahun 2008 terciptalah ”minyak plastik” yang bisa digunakan sebagai bahan bakar lampu tempel, kompor, bahkan motor dan mobil.

Berbekal alat pembakaran dan penyulingan (plastic oil destilator) hasil rakitan sendiri yang dibuat dari tabung elpiji ukuran 3 kilogram, jenis plastik apa pun bisa diolah menjadi bahan bakar minyak. Saat ini yang diprioritaskan plastik dari tas keresek dan botol air kemasan. Ke depannya, direncanakan mengolah ban bekas.

Ide yang lahir dari salah seorang guru, Tri Handoko, itu rupanya efektif mengubah 1 kilogram plastik menjadi 1 liter bahan dasar minyak atau minyak mentah. Ketika diolah menjadi premium atau solar, hasilnya tinggal 0,8-0,9 liter. Kotoran yang melekat pada plastik berpengaruh pada kualitas minyak yang dihasilkan.

”Makin bagus plastiknya, makin bersih minyaknya. Kualitas paling bagus dari gelas air kemasan. Kalau tas keresek kurang jernih,” kata Sulistyono, siswa kelas XI Program Keahlian Kimia Industri.

Siswa yang telah diajari proses pengolahan sejak kelas X ini menjelaskan, dengan suhu 250-400 derajat celsius, proses pengolahan hanya membutuhkan waktu 30 menit. Prosesnya, sampah plastik dibakar di dalam tabung gas, lalu disuling melalui pipa tembaga dan dijernihkan di tabung penadah uap (hidrokarbon). Uap ini lalu mengendap menjadi minyak yang digunakan sebagai bahan bakar.

”Kualitas minyak dari plastik ini lebih baik daripada minyak tanah. Nilai oktannya kira-kira 84-85. Namun, masih di bawah premium dan pertamax,” kata Sulistyono.

Bekerja sama dengan SMKN 1 Madiun yang telah merakit truk mini Esemka, para siswa telah mengujicobakan minyak plastik itu ke mesin sepeda motor dan mesin Toyota Kijang keluaran tahun 1980-an. Namun, rotation per minute-nya (RPM) naik turun sehingga masih harus disempurnakan.

”Masih tersendat-sendat di kecepatan rendah. Namun, kalau gasnya digeber, lancar. Setelah dicek, emisi gas buangnya didominasi oksigen,” kata Nur Wakhid, siswa kelas XII Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Madiun, sambil menggeber mesin sepeda motor seusai diujicoba Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Sabtu (18/2), di Madiun.

Meski telah diuji coba, kata Meidian, rekan sekelas Wakhid, nilai oktannya secara tepat belum dicek karena belum memiliki alatnya. Untuk sementara, hasil uji coba menunjukkan hasil pembakarannya mendekati sempurna. ”Memakai alat cek emisi yang ada di sekolah, kapasitas karbon monoksidanya menunjukkan angka 0 terus,” ujarnya.

Untuk itu, menurut Sulistyono, minyak plastik itu harus disuling lagi agar kadar airnya berkurang. Baik jenis plastik maupun suhu ruangan selama proses pembuatan ikut berpengaruh pada kualitas minyak. Plastik botol air kemasan lebih mudah terurai daripada tas keresek.

Bank sampah

Kepala SMKN 3 Madiun Sulaksono Tavip Rijanto mengatakan, proses ini sebenarnya hanya mengubah plastik yang terbuat dari minyak untuk kembali menjadi minyak.

Karena kebutuhan sampah plastik yang tinggi, siswa semakin sulit memperoleh sampah plastik.

Untuk itu, ia lalu bekerja sama dengan para pemulung agar bersedia menjual sampah plastiknya ke sekolah. Untuk menampung pasokan sampah plastik, rencananya akan dibuat bank sampah plastik di sekolah.

”Sekolah kami fokus ke upaya menjaga lingkungan dengan mengelola limbah. Sudah jadi tradisi di sini,” kata Tavip.

Untuk mengajak masyarakat mengelola sampah plastik, sekolah yang memiliki Program Keahlian Kimia Analis, Kimia Industri, dan Pengawasan Mutu Pangan itu membuat 15 alat pengolah model terbaru. Sebelumnya, para siswa telah membuat lima model yang terus dimodifikasi dan disempurnakan. Ke-15 alat itu telah dibagikan Gubernur Jatim ke SMK lain di Jawa Timur,

Selain minyak plastik, para siswa di sekolah yang didirikan pada 25 Agustus 1965 itu juga rutin menerima pesanan produksi virgin coconut oil, nata de coco, sirup buah, keripik buah, sambal tomat, bumbu pecel, pupuk kompos, dan sabun mandi.

”Setiap minggu para siswa rutin memproduksi 70-80 kilogram nata de coco,” kata Sunardi dari Humas SMKN 3 Madiun. Tak heran, karena kualitasnya yang bagus, siswa SMKN 3 Madiun umumnya sudah ”dipesan” industri sebelum mereka lulus.

KOMPAS.com

Posted in: Energi,Indonesia Teknologi,Ristek

Energi Arus Laut di Selat Alas Diuji Coba

Untuk itu, Kementerian Riset dan Teknologi akan melakukan uji coba pemanfaatan energi arus laut di Selat Alas yang memisahkan Pulau Lombok dan Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

"Kami menguji coba pemanfaatan arus laut di sana (Selat Alas). Lokasinya nanti di Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur," kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di Mataram, kemarin.

Ia mengatakan, riset teknologi kelistrikan itu untuk memberdayakan potensi arus laut yang dilaporkan dapat menghasilkan energi listrik sekitar 75 megawatt (mw).

Riset itu merupakan bagian dari upaya pengembangan energi baru terbaharukan di berbagai daerah di Indonesia sebagai langkah antisipasi semakin menipisnya cadangan energi fosil.

"Mudah-mudahan April mendatang, kami akan memantapkan uji coba itu. Kalau jadi, lumayan karena ada potensi energi listrik 75 mw," ujarnya. (Ant/OL-5)

• MediaIndonesia

Posted in: Energi,Ristek

#Tag : Energi Ristek

Ini Strategi Dekatkan Riset dengan Industri

"Sinergi ini kita jalankan terus. Belum lama ini sudah di bidang obat-obatan, nanti kami lanjutkan ke yang lain," ujar Menristek Gusti Muhammad Hatta di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, Rabu 29 Febuari 2012.

Kementerian Ristek sudah mengembangkan beberapa instrumen kebijakan meliputi insentif SINas (Sistem Inovasi Nasional) yang mendorong iklim kompetitif di antara peneliti untuk menghasilkan karya. Dalam program ini, proposal yang terbaik, yakni mempunyai nilai ekonomi, kemanfaatan bagi masyarakat, dan berkontribusi terhadap pengembangan perekonomian nasional, akan dibiayai oleh pemerintah.

Menurutnya, tahun 2011 lalu hasil insentif riset yang didaftarkan telah menghasilkan 4 merek hasil riset, 6 riset yang telah mendapat hak cipta dan 23 riset yang telah didaftarkan untuk mendapatkan paten.

Untuk tahun ini, ia sangat berharap terdapat tren kenaikan untuk riset yang diberikan insentif. Ia mengatakan anggaran riset tahun ini tidak mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu yakni 95 milyar.

Menutut catatan Kementerian Ristek, hasil riset yang teraplikasi di kalangan industri masih kecil, yakni dibawah 2,6 persen. "Meski dengan anggaran yang sama, kita berharap lebih tinggi," ujarnya.

Untuk mewujudkan konsorsium tersebut, ia berjanji akan mempertemukan hasil riset dengan kalangan industri. Instrumen kebijakan lain yang mendukung riset yakni program insentif Riset Kompetitif dan Insentif Riset Strategis.

Kementerian Ristek sebelumnya sudah mengembangkan pusat unggulan riset di berbagai koridor wilayah di Indonesia untuk meningkatkan daya saing nasional. "Dengan itu kita harapkan indeks riset kita naik," ujarnya. (eh)

• VIVAnews

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Ristek

Mahasiswa UGM Olah Singkong Menjadi Tepung Mocaf

TEMPO.CO, Yogyakarta - Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, berhasil mengolah ubi kayu menjadi tepung mocaf sebagai alternatif pengganti gandum sebagai bahan pembuatan kue atau makanan lainnya.

Lima mahasiswa tersebut adalah Anisa Dian Safitri, Sigit Dwi Cahyono, Ahmad Syukron, Cerah Bintara Nurman, dan Ervaningsih. “Tepung mocaf bisa meminimalisir ketergantungan Indonesia impor gandum,” kata Sigit, Sabtu, 3 Maret 2012.

Sigit menjelaskan pengolahan ubi kayu menjadi mocaf dinilai meningkatkan nilai ekonomis ubi kayu atau singkong. Selama ini singkong hanya diolah dengan cara direbus, digoreng, dibuat keripik, bahkan hanya dipakai bahan campuran pakan ternak.

Menurut Sigit, tepung mocaf memiliki beberapa keunggulan karena memiliki struktur serat yang pendek sehingga mudah dicerna. Selain itu, tepung mocaf aman dikonsumsi penderita autis dan alzheimer karena tidak mengandung gluten. “Tepung mocaf juga tidak banyak menyerap minyak goreng sehingga menghemat penggunaan minyak goreng,” ujarnya.

Pembuatan tepung mocaf tergolong mudah. Singkong dikupas, dicuci, lalu dipotong melintang dengan tebal sekitar 0,5 sentimeter. Singkong yang telah dipotong difermentasi menggunakan bakteri strain L, dimasukkan ke dalam plantarum kedap udara selama kurang lebih tiga hari tiga malam. Proses selanjutnya kembali dicuci, ditiriskan, dan dilakukan pengeringan dengan sinar matahari selama dua hari. Setelah kering, digiling hingga berbentuk tepung.

Sigit menjelaskan pula bahwa satu kali produksi tepung mocaf menggunakan 15 kilogram singkong. Sebab setiap satu kilogram singkong menghasilkan 200 gram tepung mocaf. “Setelah diolah menjadi tepung mocaf, nilai jual singkong meningkat. Biasanya satu kilogram singkong seharga Rp 2.500. Setelah diolah menjadi tepung mocaf, meningkat menjadi Rp 6.500 hingga Rp 8.000 per kilogram.”

Pengolahan ubi kayu menjadi tepung mocaf, kata Sigit, merupakan upaya diversifikasi pangan di Indonesia. Hasil karyanya bersama empat rekannya berhasil memperoleh penghargaan dari Masyarakat Ilmuan dan Teknologi Indonesia (MITI) dalam bentuk Hibah MITI Challenge bersama 19 tim lainnya dari sejumlah daerah di Indonesia.

Sementara itu, Anisa menjelaskan bahwa kelompoknya tak berhenti hanya mengolah ubi kayu menjadi tepung mocaf. Mereka juga berinovasi memanfaatkan mocaf menjadi bahan dasar pembuatan sereal bagi balita. Sereal tersebut diberi nama Seremoni. “Sereal mocaf bernutrisi tinggi karena tepung mocaf ditambah dengan pencampuran tepung kacang merah,” ucapnya.

Anisa menjelaskan pembuatan sereal dilakuan dengan mencampur tepung mocaf (60 persen), tepung kacang merah (20 persen), susu skim (4 persen), serta garam (2 persen).

Selanjutnya, ke dalam adonan ditambah telur (10 persen) dan margarin (4 persen). Setelah semua bahan tercampur, dilakukan pemipihan dengan tebal dua hingga tiga milimeter. Sereal kemudian dibentuk persegi dengan ukuran 1 x 1 sentimeter. Proses terakhir, pipihan sereal dimasukkan ke oven kurang-lebih selama tujuh menit.

Saat ini sereal mocaf belum dipasarkan, namun akan dikembangkan secara bisnis. Saat ini Anisa dan rekan-rekannya masih memfokuskan diri melakukan pendampingan pembuatan tepung mocaf dan sereal mocaf bagi ibu-ibu di Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan pendampingan yang dilakukan sejak Januari 2012 dimaksudkan untuk mengatasi masalah gizi buruk pada balita di daerah tersebut.(PRIBADI WICAKSONO)

• TEMPO.CO

Posted in: Ristek,UGM

#Tag : Ristek UGM