UGM Juara Mobile Games Developer War 2

VIVAnews - Mahasiswa UGM kembali menununjukkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, tim Creacle UGM berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi Mobile Games Developer War 2 yang diselenggarakan oleh Agate Studio dan Nokia Indonesia dengan mengusung game berjudul Virtual Pet.
Para mahasiswa tersebut adalah mahasiswa program studi Ilmu Komputer, yakni Rifauddin Tsalitsy dan Fauzan Sandy.
Dalam kompetisi kali, ini setiap developer diberikan tantangan untuk saling berlomba mengembangkan game yang dapat digunakan untuk handphone berbasis apliksi Java.
Para peserta diberi durasi waktu selama 30 hari untuk mempublikasikan game buatannya ke pasaran. Selanjutnya, pemenang dipilih berdasarkan game yang paling banyak diunduh oleh pengguna setelah dirilis di Nokia Store.
“Kami tak pernah menyangka Virtual Pet ini terpilih jadi juara dengan berhasil mencapai nilai unduhan tertinggi. Pada minggu-minggu awal di publikasikan, setiap harinya game ini bisa diunduh sampai 6-8 ribu pengguna,” kata Rifauddin, 27 Februari 2012
Tim Creacle berhasil menjadi juara pertama karena Virtual Pet mereka telah diunduh oleh 153.840 pengguna dari berbagai belahan dunia. Sementara posisi kedua diraih developer Elventales Games, Surabaya yang mengusung aplikasi Sky Express dengan jumlah pengunduh 100.526 pengguna. Berikutnya tempat ketiga diraih developer game Own Games, Bandung yang mengembangkan aplikasi games Beyond the Well yang telah diunduh oleh 75.933 kali.
Rifauddin menyampaikan, game Virtual Pet yang mereka buat memang belum begitu banyak dikembangkan di pasar game. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor yang menarik minat gamers untuk mengunduh game ini. Disamping itu, jenis game yang mereka kembangkan juga bersifat universal bisa dimainkan oleh semua usia dan jenis kelamin.
Dalam Virtual Pet, pengguna diminta untuk memelihara kucing dengan baik. Sejumlah perlakuan harus dilakukan sesuai dengan waktu yang ditentukan seperti memberi makan, tidur , maupun kegiatan lainnya. Apabila hal itu tidak dijalankan dengan benar maka kucing tersebut akan sakit bahkan mati. “Virtual Pet ini sebenarnya mirip dengan permainan Tamagotchi, tapi dalam bentuk virtual,” paparnya
Dalam kompetisi ini, selain mengusung game Virtual Pet, tim Creacle juga mengirim game lain yaitu Alay the Kite Runner. Namun, game yang dikembangkan oleh empat mahasiswa program studi Ilmu Komputer yaitu Gatot Fajar S, M. Chaidir, Eko Nugraha, dan Bagus Seto ini harus puas berada di urutan ke empat dalam kompetisi games tersebut.
• VIVAnews
Posted in: Aplikasi,Awards,Game,UGM
Mengenal Game Lokal Asal Karawaci

TEMPO.CO, Jakarta - Permainan produk lokal, Necronator 2, mengisahkan bangkitnya penguasa kegelapan yang akan menghancurkan Bumi. Ancaman dunia dari kuasa kegelapan menjadi latar belakang cerita permainan buatan Toge Productions, yang merupakan developer lokal di Karawaci, Tangerang.
Target permainannya menyelesaikan seluruh peta yang sudah ada. Caranya, menghancurkan kerajaan (castle) musuh. Pertama, pemain harus membangun pasukan. Pemain pertama-tama harus mengumpulkan emas (gold) dengan merebut bangunan khusus. Bangunan tersebut bisa antara lain berupa lahan pertanian (farm), desa (village), kota (town), atau membunuh setiap musuh.
Jika berhasil menghancurkan kerajaan musuh, pemain bisa membuka peta selanjutnya. Saat itulah tingkat kesulitannya meningkat. Setiap unit pasukan akan memiliki pengalaman (experience) dan level tertentu. Semakin tinggi level pasukan, pemain bisa mengalahkan musuh yang kian kuat.
Pemain (player) bisa memperkuat kemampuan dengan cara lebih sering menggunakan unit tersebut untuk bertempur. Cara ini akan bisa meningkatkan level unit. Cara lainnya tentu dengan meng-upgrade. Adapula berbagai jenis hero dan spell yang bisa di-unlock dan digunakan untuk menghancurkan musuh dalam pertempuran.
Necronator 2 merupakan pemainan strategi real time berbasis Adobe Flash. Pemain bisa memainkannya melalui web-browser. Game ini merupakan kelanjutan dari Necronator. Necronator 2 memiliki sejumlah permainan campaign. Walaupun pada awal peluncurannya baru ada campaign untuk human dengan 15 peta. Permainan campaign lainnya berupa Orc, Elf, undead, dragon, dan Majapahit dengan peta baru.(DUNIAKU | WANTO)
• TEMPO.CO
Posted in: Game
Game Asal Tangerang Raih Penghargaan Amerika
TEMPO.CO , Bandung -Sebuah game buatan Indonesia, Necronator II, merih penghargaan The Mochis Award di ajang Flash Gaming Summit 2012 di San Fransisco, Amerika Serikat. Permainan buatan Toge Production itu menjadi kampiun di kategori Best Game Art. “Ini prestasi kedua setelah tahun lalu juara di kategori lain,” kata salah seorang pembuat game flash itu, Kris Antony, di Bandung.
Necronator II menjadi finalis kategori Community Choice, namun gagal meraih penghargaannya. The Mochis Award merupakan ajang tahunan. Peraih penghargaan ditentukan melalui penilaian dewan juri. Perhelatan ke-4 itu sekarang terdiri dari 9 kategori. Game lain asal Indonesia Marching Zombies ikut menjadi finalis. Game buatan Vini Ramadhani itu masuk di kategori Best Puzzle Game.
Tahun lalu, Necronator II mendapat penghargaan Best Game Art di ajang Flash Gaming Summit di San Francisco, Amerika Serikat (AS). Dua permainan lain garapan Kris dan rekan-rekannya juga berhasil menjadi finalis lewat permainan Infectonator World Dominator dan Planetary Conflict. Planetary Conflict menggondol Best Multiplayer Game.
Infectonator maupun Necronator merupakan permainan bertema zombie. Necronator II terbilang sukses. Sejak dirilis 5 November 2011, permainan ini sudah dimainkan 6,5 juta kali di seluruh dunia. Walaupun permainan ini kurang dilirik di negeri sendiri sehingga pengembang lokal lebih memilih pasar global.
Sedangkan berdasarkan situs Armorgames.com, Necronator II telah dimainkan 4 juta orang di seluruh dunia. Menurut Kris, mereka tak menyangka bisa menang dan disukai banyak orang. Sebagian game, ujarnya, di acara Game Developer Buka-bukaan di Bandung, Jumat 30 Maret 2012, dibuat sederhana. Game lainnya bahkan hanya dikerjakan oleh tim kecil.
“Tapi akhirnya kami kesulitan mengembangkan game itu karena cuma empat orang, jadi jangan nekad juga bikin game,” kata dia.
Kris dan timnya kini mengaku lebih berhati-hati karena game terbaru mereka, Reich of Darkness, menuai kontroversi. Walau telah meminta maaf kepada sebuah lembaga Yahudi yang menyuratinya, permainan tersebut tak lagi bisa dimainkan di salah satu situs. “Kami dikira Neo Nazi,” ujar Kris.(ANWAR SISWADI)
• TEMPO.CO
Posted in: Game
Games Mobile di Indonesia Melesat

TEMPO.CO , Jakarta- Apa jadinya kalau game developer buka-bukaan sepanjang hari? Hasilnya mencengangkan. Rupanya, industri game di Indonesia sudah maju pesat. Ini terungkap dalam pertemuan komunitas game, Gedebuk (http://gedebuk.org) yang menggelar acara Gedebuk Coy! di Hotel Cihampelas 2, Bandung pada 30 Maret 2012.
Gedebuk Coy! menghadirkan berbagai praktisi industri game berpengalaman di Indonesia. Mereka berbagi cerita dan kiat-kiat pembuatan game dengan game developer dan kalangan media.
Dihadiri oleh 33 studio game dari berbagai kota di Indonesia, termasuk Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Malang serta belasan media, acara ini dibuka oleh inisiator Gedebuk, Aditia Dwiperdana. Dia menjelaskan, Gedebuk akan jadi komunitas yang kondusif untuk mereka yang ingin belajar tentang pembuatan game, studio game pemula, maupun mereka yang sangat menyukai game.
Sejumlah founder dan CEO studio game kemudian mempresentasikan isu-isu yang sedang hangat di industri game Indonesia. Teddy Pandu, Chief Financial Officer Nightspade, membeberkan pengalamannya memperoleh investasi dari East Ventures. "Investor lebih tertarik pada founder yang komitmen menjalankan bisnis, bukan yang sekadar mendirikan bisnis untuk kemudian exit," tegasnya.
Kris Antoni, CEO Toge Productions--produsen game Flash yang terkenal di dunia internasional seperti Necronator dan Infectonator--berbagi kisah sukses. Dia juga berpesan agar game developer berhati-hati saat mengangkat isu sensitif dalam konten game.
Ada pula Guntur Sarwohadi, dari SoybeanSoft, yang menyarankan agar developer mengembangkan game untuk target yang terfokus (niche), bukan satu game untuk semua orang.
Sementara itu Dien Wong dari Altermyth, Wilson Tjandra dari Mintsphere, dan Wimindra Lee dari Agate Studio membagikan analisis mereka tentang tren di masa depan untuk industri game.
Dien Wong mengutarakan konsol akan terus menurun, sementara mobile game akan terus meningkat. Juga bahwa publisher luar mulai melirik pasar Indonesia, bukan hanya sebagai pasar, tapi juga sebagai sumber daya berpotensi besar. "Kita tidak perlu takut dengan hadirnya mereka. Masuk ya masuk saja. Biarlah dengan uang mereka kita bangunkan pasar untuk mereka. Sepuluh tahun lagi, kita bisa berdiri di atas kaki kita sendiri," yakinnya.
Wilson Tj menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh mobile game developer. Sementara Wimindra Lee dari Agate Studio menguak rencana Agate untuk mengembangkan mobile social platform khusus game, Gempon, yang direncanakan perilisannya pada Juni 2012.
Unsur Lokal dalam Game, Pentingkah?
Dua sesi paling menarik di Gedebuk Coy! adalah sesi diskusi. Yang pertama, bertopik "Unsur Lokal dalam Sebuah Game, Pentingkah?", menghadirkan Ivan Chen dari Anantarupa Studio, Eko Nugroho dari Kummara, dan Ricky Nuriadi dari Amulet Studio. Dimoderatori oleh Frida Dwi dari Agate Jogja, diskusi itu menyimpulkan bahwa unsur lokal berguna bagi pengembangan game karena merupakan identitas bangsa, menambah keunikan game itu sendiri, dan mengandung faktor "coolness" (=keren) untuk memikat para gamer.
"Style yang benar-benar 'Indonesia' susah dicari, jadi lebih baik menggunakan pop culture ditambah value lokal supaya lebih mudah diterima masyarakat global," kata Ivan Chen.
Ricky Nuriadi pun mendukung. "Kita masih dalam perjalanan membentuk apa yang nantinya bisa disebut orang sebagai sesuatu yang 'Indonesia banget'."
Eko Nugroho menegaskan, "Mau bikin sesuatu yang positif lewat unsur lokal, boleh. Mau bikin sesuatu yang positif lewat unsur lain, boleh juga. Yang penting positifnya itulah yang diutamakan dan jadi keunikan game itu."[BS]
• TEMPO.CO
Posted in: Game
Game Terbaik Diganjar Rp 30 Juta
Pendaftaran "perang" antarpara pembuat game ini sudah dibuka sejak 19 Maret lalu, dan ditutup pada 5 Mei mendatang.
Bagi para pengembang aplikasi (developer) di seluruh Indonesia yang merasa tertantang untuk membuat game yang berjalan di platform Nokia S40, bisa mendaftar secara gratis dengan mengunjungi tautan ini.
Peserta bisa berasal dari kalangan umum, baik perorangan maupun kelompok (2 orang). Syarat dan ketentuannya bisa dibaca di sini.
Nokia tidak menentukan tema game macam apa yang harus dibuat. Para developer bebas merancang game apapun, namun ada baiknya menyesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Seperti tradisi kompetisi ini, pemenang akan ditentukan bukan oleh sekumpulan juri, tetapi dari perolehan jumlah download aplikasi game yang dilombakan. Untuk tahun ini selain ditentukan jumlah download, aplikasi game peserta akan dinilai langsung oleh seluruh pengunjung yang menghadiri acara pamungkas Mobile Game Developer War 3.
Juara pertamanya akan mendapatkan Rp 30 juta, juara II Rp 20 juta dan juara III Rp 10 juta.
Khusus juara pertama, ada pilihan untuk bekerja sebagai karyawan di Gameloft Indonesia.
Mobile Game Developer War 3 kali ini, merupakan bagian acara dari Jogja Information Technology Session 2012 (JOINTS 2012) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada (Himakom UGM) bekerjasama dengan Nokia Developer.
Pengumuman finalisnya akan diumumkan pada 13 Mei. Rencananya, akan diambil 15 finalis. Sedangkan babak final dan pengumuman pemenangnya akan diselenggarakan pada 20 Mei di Malioboro Mall, Yogyakarta.
• KOMPAS.com
Posted in: Game
15 'Developer' Game Siap "Manggung" di Malioboro
| Mobile Games Developer War 3 |
JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 15 tim pengembang aplikasi akan mempresentasikan game hasil karyanya di depan pengunjung Malioboro Mall, Yogyakarta, pada Minggu (20 Mei 2012).
Mereka adalah para finalis kompetisi pembuatan game untuk platform Nokia S40 bertajuk Mobile Games Developer War 3 yang kini telah mencapai tahap akhir.
Para finalis ini akan memperkenalkan game mereka tak hanya kepada pengunjung mall di Yogyakarta, tetapi juga wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke pusat perbelanjaan tersebut.
Selain itu, peserta juga diharuskan mempresentasikan game-nya di depan para juri.
Kompetisi untuk para pengembang aplikasi game ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada (Himakom UGM) dan Nokia Developer.
Limabelas tim yang akan melaju ke babak final, merupakan saringan dari 93 tim pengembang aplikasi (developer) yang mengikuti kompetisi ini.
Berikut daftar 15 tim yang lolos ke final:
No | Nama Tim | Game |
1 | SingoMalang | Surti dan Tejo |
2 | Ayam Saus Kecap | Kingdom Chronicles |
3 | Boyo Team | Math Book |
4 | Dyon Force | 30 Days Romusha |
5 | HCT | Battle in the Ravine |
6 | ORI | Krupuk |
7 | Ridiculously Photogenic Boys | Terminal Semrawut |
8 | Own Games | Railway Rush |
9 | Chocoarts | Jago Kabo |
10 | TKF201 | Fly to the Dream |
11 | Org.Com | Jonk! |
12 | Elventales | Chase Burger |
13 | Blue Beard | Like a Jones |
14 | Chochobi returns | Kabayan Goes Goes |
15 | Tinker Games | Pig Rider |
Setelah presentasi para finalis dinilai oleh juri, nantinya akan dipilih 3 tim yang berhak masuk ke babak selanjutnya yakni "Live Coding War". Pada babak ini juri menantang 3 besar finalis untuk menyusun kode-kode pemrograman secara langsung di depan publik selama 1 jam.
Setelah ini barulah dipilih juara 1, juara 2, dan juara 3, yang masing-masing mendapat Rp 30 juta, Rp 20 juta, dan 10 juta.
Ada pula pemenang kategori game konten lokal terbaik yang dipilih oleh pengunjung mall. Pengunjung mall Malioboro akan diberi kesempatan untuk memilih game konten lokal favoritnya saat babak final diselenggarakan.
Selain itu, ada juga kategori best download, dimana pemenangnya merupakan game yang paling banyak di-download di Nokia Store selama rangkaian lomba ini berlangsung.
• KOMPAS.com
Posted in: Aplikasi,Game
Hari Ini Industri Game Berkumpul di Serpong
Game Developers Gathering 2012 di Tangerang ini terbuka untuk publik dan gratis.
VIVAnews - Universitas Multimedia Nasional (UMN), Serpong, Tangerang, Banten menjadi tuan rumah penyelenggaraan Game Developers Gathering (GDG) 2012 pada Sabtu 26 Mei 2012. Gelaran tahunan ini menjadi wadah berkumpulnya pemuka industri game.
Pengembang game profesional, investor, dan pemerhati game berkumpul untuk saling membagi ilmu, pengalaman, pendapat, dan peluang usaha. Menurut pernyataan tertulisnya, GDG bertujuan untuk mengembangkan industri kreatif, khususnya industri game di Indonesia.
Acara yang digelar dengan kerjasama UMN bersama pengembang game terkemuka di Indonesia, Toge Productions ini terbuka untuk publik dan gratis. Para pakar game turut berbicara dalam seminar yang disebutkan mulai pada pukul 09.30 WIB.
Ajang perkumpulan industri game ini menghadirkan pembicara Noritaka Kobayashi (VP GREE Singapore), Toshihiko Suyama (Direktur Pengembangan Pemasaran DeNA), Hironao Kunimitsu (CEO Gumi) pada sesi pertama acara.
Acara dilanjutkan dengan diskusi bersama Ronald Widjaja (Penghasil Game Faunia Rancher), Anton Soehary (CEO Touchten), dan Wilson Tjandra (Penata Artistik Mintsphere). Usai makan siang, Toshi Namba (Wakil Presiden Eksekutif CyberAgent America, Inc Amoeba Pico), Eric Chen (Pemimpin Mochi Media), dan Gregorius Martinus (Pemimpin Artistik BoomZap) akan melanjutkan seminar.
Diskusi yang berlangsung di Function Hall UMN Serpong ini berlangsung hingga pukul 17.30 WIB. Pembicara pada sore hari ini terdiri dari Yusup (Dosen Teknologi UMN), Abianingrum (Manager Pemasaran Mobile Game Altermyth), dan Arief Widhiyasa (CEO Agate Studio).
Acara ini ditutup dengan Perayaan Penghargaan Tantangan Game, door prize, dan foto bersama. Para pelajar dan pekerja game profesional mendapat kesempatan yang sama untuk memamerkan hasil karyanya di sini. GDG berharap dapat membuka jejaring industri game dalam gelaran rutinnya ini. (umi)
• VIVAnews
Posted in: Game,Ilmu Pengetahuan
Simulator Militer Ditawarkan untuk Game
| KOMPAS/Didit Putra - Pemain tengah menjajal game yang dibuat Komunitas 3D Animasi. |
BANDUNG, KOMPAS.com - Sebuah game militer hasil pengembangan Komunitas 3D Animasi dengan sudut pandang orang ketiga dipamerkan di Bandung Digital Valley, Jumat (8/6).
Template tersebut sebelumnya adalah simulator tempur yang sempat digunakan oleh pusat pendidikan militer di Kota Bandung.
"Tentunya seluruh bagian mengenai taktik maupun isi simulasi harus dicopot karena tergolong rahasia," kata pendiri Komunitas 3D Animasi, Harry Riyadi.
Itulah produk dari Komunitas 3D Animasi, salah satu perusahaan rintisan yang menjadi peserta inkubasi di Bandung Digital Valley selama enam bulan.
Game tersebut berisi seorang tentara yang menyelinap di sebuah rumah kontrakan besar. Sewaktu dijajal, game tersebut terasa belum utuh karena belum jelas plot cerita maupun gameplay-nya. Pembuatnya sendiri memang belum menyiapkan latar belakang cerita di balik game tersebut.
Komunitas 3D Animasi mengerjakan simulator militer yang hingga kini belum ada judulnya selama tiga bulan. Dia mengatakan bahwa simulasi tersebut melatih strategi pertempuran maupun simulasi operasi militer.
Setting lokasinya adalah sebuah tempat kontrakan berisi kamar-kamar yang beberapa di antaranya dipakai bersembunyi oleh teroris bersenjata. Dia menyebut tentang penggunaan helikopter yang juga tidak bisa ditampilkan saat itu karena tergolong rahasia sehingga harus dicopot.
"Kami berencana memoles template ini menjadi sebuah game yang benar-benar baru," kata Harry.
Menggunakan engine Unity 3D, suasana yang khas Indonesia segera terasa dengan jajaran kamar kontrakan yang padat, gantungan baju di depan kamar, hingga poster Iwan Fals di atas dipan bambu.
Namun, kualitas grafisnya memang tertinggal bila dibandingkan dengan game serupa semacam Point Blank. Menurut Harry, pihaknya mengharapkan enam bulan mengikuti inkubasi bisa menjadikan game ini menjadi produk yang siap diterima pasar. (eld)
♣ KOMPAS.com
Posted in: Cyber,Game
"Dreadout", "Game" Hantu Buatan Anak Bandung
| capture game |
BANDUNG, KOMPAS — "Dreadout" adalah sebuah game bergenre survival horror yang tengah dikembangkan oleh studio Digital Happiness yang beralamat di daerah Cigadung, Kota Bandung.
Bila nanti rampung, pemain bakal merasakan pengalaman bermain game horor dengan setting yang sangat Indonesia.
Permainan ini menempatkan pemain sebagai Linda, siswi SMA anggota klub fotografi yang bepergian bersama teman-teman satu klub untuk mendatangi sebuah kota yang sudah lama ditinggalkan.
Di sana, keanehan pun terjadi, seperti satu per satu temannya menghilang tanpa jejak, menyisakan Linda seorang diri. Linda ternyata memiliki kemampuan paranormal untuk melihat penampakan makhluk halus melalui media kamera yang dipegangnya.
"Plotnya memang terdengar klise, tapi kami menyiapkan beberapa twist pada ceritanya," ujar Pendiri Digital Happiness, Rachmad Imron, saat ditemui di Bandung, Jumat (8/6/2012).
Secara sepintas, permainan ini memang menggabungkan beberapa elemen dari game survival horror yang sudah ada di pasaran, seperti "Silent Hill" dengan setting kota yang ditinggalkan maupun "Fatal Frame" dengan penggunaan kamera sebagai alat untuk melihat hantu.
Dari grafis memang tidak bisa dibandingkan dua judul sebelumnya yang digarap oleh studio besar seperti Konami maupun Tecmo, "Dreadout" menggunakan engine grafis Unity 3D, dan masih terlihat berkotak-kotak.
Namun, konten yang cukup menjanjikan adalah isi game-nya. Tokoh protagonis digambarkan dengan pelajar SMA menggunakan baju putih abu-abu dan berlarian di gedung tua bergaya Belanda yang masih bisa ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, cukup membuat suasana mencekam saat dimainkan.
Yang lebih khusus lagi adalah hantu-hantu yang ditampilkan sepanjang permainan. Terdapat pocong yang baru terlihat bila kita membidik dengan kamera.
Menurut Imron, contoh game yang sedang diperagakan adalah menunjukkan gameplay-nya sehingga hantu-hantu tersebut belum bisa diapa-apakan.
"Kami sudah menyiapkan beberapa jenis hantu dari Indonesia untuk ditampilkan dalam permainan ini," kata Imron.
Digital Happiness adalah satu dari 18 perusahaan rintisan atau startup yang menjadi peserta inkubasi Telkom di Bandung Digital Valley. Di sana, mereka bakal mendapatkan pendampingan teknis maupun manajerial selama enam bulan agar produknya lebih siap dijual.
Imron mengatakan, "Dreadout" direncanakan rampung enam bulan ke depan. Selain versi PC, pihaknya juga menyiapkan versi mobile dengan gameplay yang berbeda. (eld)
♣ KOMPAS.com
Posted in: Game
Ramai-Ramai Bikin Aplikasi Game di Tepi Pantai Ancol
| Narenda Wicaksono - Peserta Coding on The Beach di pantai Ancol, Jakarta. |
JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengembang aplikasi (developer) ramai-ramai menyusun kode bahasa pemrograman di area pantai Bende, Ancol, Jakarta Utara, pada 16 dan 17 Juni 2012. Mereka hendak membuat game untuk platform Nokia dengan karakter Ancol Taman Impian.
Acara bertajuk "Coding on the Beach" ini, diselenggarakan oleh Ancol Taman Impian, Nokia Developer Indonesia, dan perusahaan pembuat game Agate Studio.
Presiden Direktur Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi, menjelaskan, game yang dibuat harus bernuansa Ancol, termasuk fasilitas, wahana, atau hiburan lainnya. "Selain mendukung industri kreatif, kami ingin agar masyarakat lebih mengenal Ancol melalui aplikasi game," ujar Budi.
Acara ini diikuti sekitar 150 developer terpilih dari berbagai daerah. Mereka dipersilakan membuat game yang berjalan di ponsel bersistem operasi S40, S60, Symbian dan Windows Phone. Kebanyakan developer mengaku, ingin membuat game untuk S40.
Developer Manager Nokia South East Asia Narenda Wicaksono, mengatakan, pihaknya mendatangkan developer terbaik yang sudah pernah menerbitkan game di toko aplikasi online Nokia Store.
Dari kompetisi ini, lanjut Narenda, bakal diambil 10 game terbaik. Tiga di antaranya merupakan game dengan prototipe terbaik. "Mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan kembali dan merevisi game agar benar-benar matang," ujar Narenda.
Rencananya, game hasil kompetisi Coding on the Beach akan dirilis pada musim liburan tahun ini.
Posted in: Aplikasi,Game,Internet
Buatan Indonesia, Infinite Sky Tembus Top 10 iPhone App
Game buatan Touch Ten, pengembang game asal Indonesia, berhasil menembus 10 besar aplikasi paling banyak diunduh di Apple App Store. Game itu berjudul Infinite Sky.
Seperti disampaikan oleh Anton Soeharyo, CEO Touchten, game tersebut telah menembus 500 ribu unduhan di App Store. Walhasil Infinite Sky pun bertengger di 10 besar beberapa negara.
Paling signifikan tentunya adalah kemampuannya tercatat di posisi 9, Top 10 Apps (semua kategori) di Amerika Serikat. Di Inggris, game itu tercatat di posisi 5.
Infinite Sky adalah game yang menampilkan aksi pesawat tempur seru dengan grafis 3D. Game ini tersedia secara gratis (untuk waktu tertentu) di Apple App Store dan gratis (untuk seterusnya) di Google Play.
Salah satu fitur game ini adalah in-app purchase untuk membuka fitur atau kemampuan tertentu. Salah satunya, untuk menghadirkan pilot handal bernama Gatotkaca.
Seperti namanya, Infinite Sky (terj.: langit tanpa batas) game ini menampilkan aksi terbang tanpa henti. Selama pesawat belum hancur, pemain bisa terus menerbangkannya.
Sumber : Kompas
Posted in: Aplikasi,Game
Indonesia Diserang Virus Zombie di "Resident Evil 6"
Promosi untuk Resident Evil 6, game baru bertema action melawan serangan virus mematikan yang membuat orang menjadi zombie memang tidak tanggung-tanggung.
Setelah dengan rutin memperlihatkan beragam trailer dan gambar dalam permainan, kini Capcom selaku perusahaan pembuatnya melancarkan kampanye berisi skenario epidemik virus tersebut di dunia nyata.
Kampanye pertama berasal dari website yang beralamat di nohopeleft.com. Melalui website tersebut diberitakan mengenai penyebaran epidemik C-Virus, senjata biologi yang dibuat untuk mengubah manusia menjadi zombie pemakan daging.
Bahkan website ini juga memberikan kesempatan bagi pembacanya untuk melayangkan salam perpisahan ke keluarganya melalui bentuk video dan file audio.
Lebih dari itu, website tersebut juga memberikan informasi mengenai penyebaran virus secara real time di peta dunia, Indonesia termasuk negara yang terjangkit virus. Korban di benua Amerika dan Eropa telah mencapai ribuan, sementara Indonesia masih ada di bawah 500 orang.
Lucunya, penyebaran tersebut berasal dari metode Twitter. Semakin banyak orang yang men-tweet melalui alamat c-virus.nohopeleft.com, semakin besar pula penyebaran di daerah tempat orang tersebut tinggal!
Media promosi lain yang menarik adalah disebarkannya paket kampanye pemilihan presiden pada 2012 di Amerika. Namun, kampanye presiden tersebut bukan untuk Obama atau Romney melainkan untuk Adam Benford – presiden Amerika di dalam game Resident Evil 6.
Paket tersebut berisi pin serta beragam alat kampanye layaknya pemilihan presiden asli. Termasuk juga sebuah surat berisi serangan virus di seluruh dunia dan janji presiden Adam untuk mengatasi krisis tersebut.
( Kompas )
Posted in: Game
Indonesia Kirimkan Gamer AVA Bertarung di IeSF Korsel
IeSF (International e-Sport Federation).(Wikipedia)
Pertandingan game dalam naungan e-Sport Federation ini untuk pertama kalinya diikuti oleh Indonesia.
Indonesia akan mengirim pemain atau gamer AVA (Alliance of Valiant Arms) untuk bertanding di IeSF (International e-Sport Federation) di Korea Selatan yang digelar pada 2 hingga 6 Oktober 2012.
Seperti diungkap Hubungan Masyarakat Asiasoft Indonesia, Artini Asputri dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, hari ini, Jumat (28/9), para gamer setelah mengikuti Road to AVA International Championship 2012 yang digelar Asiasoft di tujuh kota.
Mereka diharapkan akan dapat bertanding dengan baik sehingga membawa nama Indonesia pada pertandingan AVA, IeSF di Korea Selatan, ujarnya.
IeSF merupakan pertandingan e-sport internasional yang diikuti oleh 10 negara diantaranya Indonesia, Amerika, Korea, Jepang, China, Taiwan, Thailand, Filipina, Jerman, dan Belanda.
Pada acara ini, Indonesia untuk pertama kalinya ikut serta IeSF. Juara Road to AVA International Championship 2012 Indonesia adalah Frankenstein NorN yang akan mewakili di championship AVA internasional.
Frankenstein NorN merupakan tim solid yang beranggotakan lima orang masing-masing adalah Alby, Andrew, Angga, Rere dan Nganga yang merupakan gamer AVA yang sudah sering menjadi juara di turnament AVA.
Tim Frankenstein Norn bertekad membuktikan bahwa gamer Indonesia bisa berprestasi dan diakui di tingkat internasional, ucapnya.
Ia mengatakan, Asiasoft sebagai publisher game AVA di Indonesia berkomitmen untuk memajukan perkembangan dunia e-sport di Indonesia dan mendukung penuh pro gamer Indonesia.
Partisipasi Asiasoft dalam IeSF ini merupakan salah satu bukti komitmennya dan memperkenalkan para pro gamer Indonesia di dunia Internasional, katanya.
Asiasoft merasa optimis bahwa Frankenstein NorN dapat mengharumkan nama Bangsa Indonesia di dunia Internasional.
Dengan berlaganya Frankenstein NorN bisa menjadi inspirasi bagi para gamer lain untuk terus berprestasi baik di tingkat nasional dan internasional.
Asiasoft akan terus mendukung pro gamer Indonesia. A.V.A Online ini merupakan sebuah game bergenre MMOFPS Online yang dikembangkan oleh Redduck Studio, anak perusahaan Neowiz Games dari Korea Selatan.
A.V.A Online ini diakui sebagai salah satu Free-To-Play FPS Online terbaik saat ini dan telah memenangkan Korean Game Award ketika pertama kali dirilis di Korea Selatan.
© Berita Satu
Posted in: Game,Ilmu Pengetahuan
Industri Game Tanah Air Butuh Dukungan Pemerintah
Jakarta - Ditengah tumbuh dan berkembangnya para developer aplikasi atau pengembang game lokal, pemerintah diharapkan memperhatikan potensi tersebut.
Hal ini penting, tidak hanya mengubah stigma negatif terkait sifat konsumerisme, tetapi juga mendukung pertumbuhan serta produktivitas di kalangan penggiat teknologi Tanah Air.
Wendy Chandra, Chief Executive Officer dari Megindo Tunggal Sejahtera di sela-sela acara konferensi pers Indonesia Game Show 2012 di Jakarta (9/10/2012) mengatakan, dengan berkembangnya industri game oleh para developer lokal, maka ini bisa saja mendatangkan banyak pemasukan.
Ia mengungkapkan, video game tidak hanya memberikan hiburan semata, tetapi juga bisa menjadi sebuah kekuatan penting yang mendukung kemajuan ekonomi sebuah Negara.
"Penduduk banyak, potensi pasar besar. Internet kini murah, konten berkembang. Kita dilirik oleh perusahaan luar," jelas.
Oleh karena itu, banyak dari pihak asing yang datang ke Indonesia karena melihat potensi menguntungkan tersebut. Lebih lanjut ia mengatak, bahkan, ada developer yang berasal dari Indonesia yang bikin aplikasi dan sukses di Jepang.
"Aplikasi mereka cukup berhasil dan tersedia di iTunes store. Para developer ini juga bisa mengharumkam nama Indonesia," terangnya. Ia mengatakan, misalnya saja studio game asal Bandung, Agate yang ikut serta dalam event Tokyo Game Show di Jepang, mereka bisa menjadikan industri game berkembang.
"Kita ingin, butuh dukungan dari negara, karena mereka membawa nama harum untuk Indonesia," harapnya.
Sejauh ini ia menilai dukungan dari pemerintah masih sangat kurang. "Kalau di Singapura, developer dapat dukungan dana 50 persen. Dukungan pemerintah (di sini) belum ada," tegasnya.
Ia juga berharap, kelak pemerintah melalui Menkominfo atau Kementerian Pariwisata, bisa lebih mendukung lagi industri game di Tanah Air. Bahkan, bila perlu, lanjutnya, perlu diadakan semacam Pelatihan Nasional (PelatNas) yang mendukung kompetensi, baik developer maupun gamer yang bersaing, tidak hanya untuk lingkup nasional, tetapi juga internasional.
Seperti yang dihadirkan melalui ajang IGS 2012, di mana terdapat kompetisi e-sport yang melibatkan para gamer dari Tanah Air, yang mengikuti turnamen game bergengsi.
Untuk game yang dipertandingkan adalah CS Online dan CrossFire (untuk WCG 2012), FIFA 2013, Tekken Tag Team 2, Point Blank, dan DotA (untuk ESWC 2012), DotA 2 dan Counter Strike Global Offensive (untuk TGX 2012).(amr)
© Okezone
Posted in: Game
Telkomsel Bikin Game James Bond di Seluler
Yogyakarta - Para pecinta games atau permainan petualangan di handphone kini bisa berimajinasi menjadi James Bond, agen rahasia. Operator seluler Telkomsel menghadirkan game Flash Bond City hanya dengan mengaktifkan Opera Mini di perangkat ponselnya. Games ini berhadiah laptop, komputer tablet, handphone, dan pulsa.
"Beragam aktivitas dalam Flash Bond City bisa memberikan hiburan dan pengalaman dalam penggunaan layanan mobile broadband Telkomsel," kata Rukmono Cahyadi, Head of Sales & Customer Care Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu, 4 November 2012.
Namun, permainan James Bond ini hanya bisa dinikmati pelanggan Telkomsel di enam kota: Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Balikpapan, dan Makassar. Peluncurkan permainan ini bertepatan dengan pemutaran film James Bond terbaru yang berjudul Sky Fall di gedung biaoskop di berbagai kota mulai 3 November 2012.
Cara menjadi agen James Bond, pelanggan cukup mengaktifkan Opera Mini di perangkat ponsel. Setelah berhasil mengaktifkan Opera Mini, peserta yang mendaftar bisa langsung bermain di www.flashbondcity.com. Para pemain ditantang memecahkan rahasia dan menemukan spot yang ditentukan.
"Pemain game ini juga harus berfoto dengan Mr Bond, agen Bond yang berada di titik tertentu di masing-masing kota selama bulan November 2012," kata dia.
Menurut Gatot Priyo Utomo, Kepala Grapari Telkomsel Yogyakarta, setiap hari akan ada petunjuk, yang bisa menjadi panduan dari satsiun radio di enam kota itu soal keberadaan Mr Bond. Bagi yang paling cepat memecahkan rahasia dan mengunggah foto akan berkesempatan memenangkan hadiah utama yaitu 14 unit Sony Vaio, 14 unit Tablet Sony, 7 unit Playstation Vita dan hadiah mingguan berupa ponsel Sony dan Play Station Portable (PSP) serta hadiah harian pulsa Rp 100.000 dan modem Mobe Wireless ZX701 dari Intertec seharga Rp 100.000.
"Lewat permainan ini kami ingin pelanggan merasakan kehandalan pelayanan paket data yang ada, khususnya segmen anak-anak muda," kata Gatot.
Sri A Yusmeniwati, Head of Corporate Communications Telkomsel Jawa Bali Divison, mengatakan peserta harus bisa membuktikan benar-benar bertemu dengan Mr Bond dengan cara mengunggah hasil foto ke microsite www.flashbondcity.com atau dikirim melalui jejaring sosial twitter dengan mention ke @telkomsel dan hastag sesuai kota lokasi pelanggan berada.
© Tempo
Posted in: Game,Telkomsel
Dua "game developer" Bandung ikuti pameran internasional
| Ilustrasi |
"Kami diundang mewakili Indonesia untuk berpartisipasi pada ajang Game Connection di Paris, rencananya berangkat 26 November nanti," kata CEO Nightspade Multi Kreasi, Dody Dharma di Bandung, Kamis.
Menurut Dody, dalam kegiatan itu akan bertemu dengan para game developer ternama dari berbagai belahan dunia yang selama ini memasok game online di dunia maya.
Ia menyebutkan, dalam ajang itu akan dilakukan sharing pengamanan dan pameran produk game terbaru dari masing-masing produsen game online itu. Selain itu untuk memperkuat jejaring bisnis sejenis dengan rekanan di berbagai negara di dunia.
"Ini ajang besar yang akan diikuti game developer dari seluruh dunia, ini kesempatan emas dan bisa ada kesempatan sharing dengan mereka," kata Dody.
Dalam ajang itu, Nightspade akan memamerkan produk terbarunya antara lain" Give A Dam" serta beberapa game yang telah lama beredar yakni "Don Grafitty", "Taby Litle Mouse" dan lainnya. Produk yang dipamerkan selama ini sudah bisa di download di smartphone, android dan program Windows.
Sementara itu Agate Studio Bandung juga akan mengirimkan dua orang perwakilannya ke ajang Game Connection di Paris itu.
"Alhamdulillah kita diundang ke sana untuk turut berpartisipasi pada ajang itu, dua crew kami akan berangkat," kata Public Relations Officer Agate Studio Bima Ratio dalam surat elektroniknya.
Menurut Bima, keberangkatan kedua game developer Indonesia asal Bandung itu didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Agate mengutus dua crewnya yakni Andrew Pratomo Budianto dan Vincentinus Hening W Ismawan ke ajang internasional itu.(S033)
© Antara
Posted in: Game
Orang Indonesia di Balik Game Assassin's Creed
(oik yusuf/ kompas.com) Richard Bharata (kiri) Level Artis Ubisoft Studios
Indonesia � Seri video game Asassin Creed dari Ubisoft yang kini telah mencapai judul ke lima (Assassin's Creed III) dikenal sebagai permainan yang menyajikan gameplay terbuka di tengah tempat-tempat historis yang tervisualisasi dengan indah.
Dalam seri game ini pemain menjelajahi lokasi-lokasi bersejarah seperti kota Istanbul pada zaman Ottoman, Roma dalam masa renaissance, serta Amerika Serikat sewaktu dilanda perang saudara. Semuanya ditampilkan dengan detil lingkungan dan arsitektur yang akurat sesuai era masing-masing.
Untuk mewujudkan itu semua diperlukan kerja keras yang tidak sedikit, mulai dari riset sejarah, kunjungan ke lokasi yang sesungguhnya, hingga proses pengembangan lingkungan dalam game. Nah, di sinilah Richard Wych Bharata Setiawan, seorang kelahiran Indonesia, memainkan peranannya.
| ubisoft |
Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini menjabat sebagai Level Artist di studio besar Ubisoft di Montreal, Kanada.
Sebagai perancang lingkungan game, Richard terlibat dalam pembuatan sejumlah game dalam seri Assassin's Creed, termasuk Brotherhood dan Revelations yang merupakan ekspansi dari judul Assassin's Creed II. Dia juga turut menangani proses desain dalam seri game populer lain bikinan Ubisoft, yaitu Prince of Persia.
Dari Lokal ke Mancanegara
Richard tidak serta-merta melompat ke Kanada begitu lulus kuliah. Pria yang akan segera menikah dalam waktu dekat ini mengawali karirnya sebagai desainer grafis di Forhet, pada 2005. Kurang lebih setahun kemudian, dia bergabung dengan Matahari studios -- sebuah pengembang game lokal -- sebagai Special Effects Artist.
"Kebetulan, saya lalu dapat informasi bahwa Ubisoft akan membuka studio di Asia Tenggara," ujar Pria yang mengaku belajar mendesain obyek-obyek dalam game secara otodidak ini.
| geekbox.net Salah satu setting lokasi di game Assassins Creed III |
Jadilah Richard mengajukan lamaran sebagai special effects artist. Tetapi posisi yang diinginkannya itu ternyata tidak tersedia. Richard lantas nyemplung sebagai level artist dan modeller di Ubisoft Singapura pada tahun 2008 silam. Dia adalah salah satu dari dua orang Indonesia yang tergabung dalam tim awal studio Ubisoft Singapura yang berjumlah 25 orang.
"Ketika itu ada kejadian lucu di mana saya diminta mengisi form pekerjaan. Saya diberikan laptop, tetapi keyboard-nya menggunakan bahasa Perancis. Lama sekali saya mengisinya karena harus mencari huruf yang tepat satu per satu, ha ha ha," ujar Richard sambil tergelak ketika mengenang pengalamannya tersebut. Maklum, Ubisoft adalah perusahaan asal Perancis, rupanya mereka lupa membawa peralatan yang cocok untuk kawasan Asia Tenggara.
Tiga tahun bekerja di Singapura, Richard lantas pindah ke Studio utama Ubisoft di Montreal, Kanada, di mana dia bermukim hingga kini.
Pengalaman Richard menggunakan keyboard berbahasa Perancis berlanjut dalam bentuk yang berbeda di Montreal, karena Perancis adalah bahasa utama di kota itu. Richard pun makin getol belajar Bahasa Perancis. "Sekarang sudah tidak kaku lagi berbahasa Perancis meskipun masih harus banyak belajar," ujarnya.
Pekerjaan Kolosal
Melihat tampilan dunia dalam seri Game Assassin's Creed yang luas dan begitu mendetail, dapat dibayangkan bahwa pembuatnya pastilah bekerja keras untuk merealisasikan lingkungan game dari gambaran konsep yang ditetapkan sebelumnya.
Di studio Ubisoft, sebagian besar tanggung jawab ini berada di pundak Art Director yang memberikan arahan seputar rancangan game pada sejumlah sub-bagian, termasuk Character Design dan Level Designer yang menjadi atasan Richard.
"Kalau diumpamakan, Level Designer membuat 'mangkuk' lingkungan dunia game berikut 'level box' yang mewakili obyek-obyek dalam dunia game. Level Artist seperti saya kemudian mewujudkan dunia itu sesuai arahan," jelas Richard mengenai bidang pekerjaannya.
Dari situ, Richard bersama tim Level Artist memikirkan kira-kira arsitektur seperti apa yang sesuai dengan setting game, lalu bekerja membuat obyek-obyek dan lingkungan dalam game berdasarkan referensi yang didapat berikut limitasi interaksi dalam game yang ditetapkan oleh programmer.
Kadang proses ini bisa membuat pusing tujuh keliling. Richard memberi contoh salah satu level dalam game Assassin's Creed: Brotherhood yang menampilkan reruntuhan Colosseum di Roma, Italia, lengkap dengan ruang-ruang bawah tanahnya.
| gamesradar.com Colosseum dalam game Assassins Creed: Brotherhood |
"Kami harus membuat Colosseum sesuai dengan keadaannya di abad ke-15, tahun 1400-an, sementara gambar-gambar referensi yang tersedia hanya dari tahun 2000-an," ungkap Richard. Kendati demikian, nyatanya di tengah keterbatasan itu, tim pengembang Ubisoft tetap berhasil memvisualisasikan desain Colosseum yang megah.
Ketika itu, Richard antara lain bertanggung jawab membuat setting dungeon atau ruang tahanan bawah tanah di Colosseum yang juga dipakai sebagai arena kejar-kejaran menggunakan kuda di dalam game. "Proses pembuatannya lama sekali, tapi ketika dimainkan dalam game, lima menit saja level-nya sudah lewat, ha ha ha,"
Dalam proses pembuatan game, Ubisoft menerapkan sistem 'milestone' atau target pencapaian dalam kurun waktu tertentu. Jika sudah dekat waktu deadline, Richard kerap lembur demi merampungkan pekerjaan.
Tantangan dalam melakukan proses desain lingkungan game itu pun selalu mengalami ekskalasi dari judul ke judul. Menurut Richard, ini karena Ubisoft selalu meminta rancangan yang lebih detail untuk game berikutnya. "Pengerjaan dari Assassin's Creed II ke Brotherhood lalu setelah itu ke Revelations, misalnya, selalu harus disertai dengan peningkatan kualitas sehingga kami harus bekerja lebih giat lagi."
Saat semuanya sudah selesai, dunia game kemudian digabungkan dengan bagian-bagian lainnya seperti karakter game hasil rancangan character artist dan fashion designer yang juga dibuat berdasaran referensi faktual.
Hasil karya Richard bisa dilihat di serangkaian judul game dalam seri populer ini, mulai Assassin's Creed II, Assassin's Creed: Brotherhood, Assassin's Creed: Revelations, hingga yang terbaru Assassin's Creed III yang tersedia untuk platform PC dan konsol game seperti Xbox 360 dan PlayStation 3.
Gerilya
Richard mengaku menikmati bekerja di studio terbesar Ubisoft di Montreal. "Suasananya cair, kekeluargaan. Semua karyawan, misalnya, makan siang bersama tanpa memandang posisi atau jabatan."
Meski begitu, pria yang mengaku suka main game untuk melihat-lihat desain lingkungannya dan mencari inspirasi ini masih meyempatkan diri pulang ke tahah air dengan memanfaatkan waktu senggang antar pembuatan judul game.
"Kebetulan, sekarang lagi in-between, jadi bisa pulang ke rumah," ujar Richard ketika ditemui KompasTekno di sela-sela gelaran Indocomtech 2012 di Jakarta, November lalu. Saat itu, seri game terbaru yang turut ditangani Richard, Assassin's Creed III, memang telah rampung dan baru dirilis ke pasaran.
Soal industri game di Indonesia, Richard mengatakan bahwa sebenarnya terdapat banyak talenta berbakat di Tanah Air. Hanya saja, menurut Richard, di samping belum adanya investor besar yang berani mendanai pembuatan game seperti Assassin's Creed, ada hal lain yang sedikit mengganjal kemajuan dunia game nusantara dalam mengembangkan game berskala besar.
"Banyak yang bagus, tapi kebanyakan dari mereka bergerak seperti pejuang gerilya zaman kemerdekaan, yaitu terpisah-pisah antar daerah. Seandainya saja bisa disatukan, tentu bisa kuat sekali," ujar Richard.
Bagaimana dengan para rekan seprofesi yang memutuskan untuk mengadu nasib di negeri orang, seperti Richard sendiri? Menurut dia, hal tersebut berkaitan dengan besarnya penghargaan atas karya mereka yang bisa diperoleh di luar negeri.
"Namanya juga memenuhi kebutuhan hidup. Di Indonesia banyak talenta pembuat game berkualitas internasional, tapi penghasilannya kurang. Seandainya keadaan itu berubah, pasti semua yang bekerja di luar negeri akan pulang kampung dengan senang hati," tandasnya.
● Kompas

Posted in: Game
Studio Game Indonesia Siap Serbu China
Jakarta � Sebuah studio game asal Indonesia, TouchTen, telah menjalin rekanan dengan perusahaan China, Yodo1, untuk berusaha menembus pasar game di negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia itu.
Dalam keterangan resminya, CEO TouchTen, Anton Soeharyo, berharap game seperti Infinite Sky dan Sky Beauty bisa mencapai sukses yang lebih besar di China.
Yodo1 saat ini diklaim memiliki pengguna aktif melebihi 5 juta orang. Perusahaan ini memang spesialis melokalkan banyak game dari luar China.
Yodo1 saat ini baru menggandeng 9 rekanan untuk menghadirkan game dari luar China. Kebanyakan rekanan itu adalah perusahaan game dari barat. Dari Indonesia, mereka baru mengambil game TouchTen.
Anton berharap masuknya TouchTen ke pasar China juga akan membantu mempromosikan Indonesia sebagai sumber bakat-bakat baru dalam pengembangan dan perancangan game.
Salah satu game yang akan dihadirkan oleh Yodo1 adalah Infinite Sky, sebuah game pertempuran pesawat terbang yang tersedia untuk iOS dan Android.
● Kompas

Posted in: Game
Pemerintah dukung game lokal jadi pemain dunia
Jakarta • Pemerintah mendukung industri game lokal menjadi raja di dalam dan luar negeri.
"Kita akan membangkitkan pelan-pelan industri game lokal untuk diikutsertakan ke festival-festival internasional," kata Kasubdit Karya Kreatif Periklanan Direktorat Ekonomi Kreatif Berbasis Media Kemenparekraf Dadang Djatmika dalam seminar Game Indonesia Bersinergi di Jakarta, Selasa.
Dia mengungkapkan, tahun lalu pemerintah telah membawa beberapa developer ke Tokyo Game Show dan London International Animation Festival (LIAF).
Kemenparekraf juga tengah menjalin kerjasama dengan beberapa negara pembuat game terkenal seperti Korea Selatan, Jepang, dan Inggris.
Menurut Dadang, kerjasama ini telah berbuah datangnya beberapa praktisi internasional untuk berbagi pengalaman mengembangkan game.
Dia menekankan, pengembangan industri game lokal amat penting karena game bukan semata permainan namun juga edukasi dan sumber penghasilan.
"Kita harus mencontoh China, Jepang dan Amerika... Tahun ini kita coba realisasikan Pekan Animasi dulu yang tentu akan melibatkan para pelaku industri game lokal," demikian Dadang.
AGI ajak pelaku industri game bekerjasama
Ketua Asosiasi Game Indonesia (AGI) Andi Suryanto mengajak pelaku industri game lokal bersinergi untuk kemajuan bersama.
"Industri game di Indonesia sudah jalan. Artinya ada developer, publisher, talent, payment, dan EO, tapi masih sendiri-sendiri," ujar Andi dalam diskusi Game Indonesia Bersinergi di Jakarta, Selasa.
Dia berharap AGI menjadi wadah untuk saling bantu mengembangkan industri game Indonesia ke level lebih tinggi lagi.
Andi menginginkan game Indonesia bukan hanya raja di negeri sendiri, tapi juga merambah dunia. Namun, seluruh pelaku industri mesti bersinergi terlebih dahulu.
Andi menjelaskan, dengan bersama-sama, industri game akan lebih kuat sehingga bisa mengatasi masalah apapun, termasuk soal developer lokal yang kerap tidak dihargai publisher.
AGI baru terbentuk satu bulan lalu, dan hanya berangotakan lima perusahaan yaitu Lyto, Megasus, Agate, Logika Interaktif, dan Gudang Voucher.
Andi yang juga Presiden Lyto berharap semua pelaku industri game lokal ikut menjadi anggota asosiasi ini.
Namun beberapa developer lokal malah mengkritik AGI.
"Niatnya bagus, tapi caranya salah, mereka secara sepihak bikin asosiasi tanpa membicarakan terlebih dulu dengan para developer," ujar Panji Prakoso, selaku CEO Tinker, Bandung.
Ivan Chen dari developer Anantarupa pun mengeluhkan hal sama, bahkan kaget terhadap hadirnya AGI.
Dia menagku ingin mengamati terlebih dahulu sepak terjang AGI sebelum memutuskan bergabung.
● Antara

Posted in: Game,Ilmu Pengetahuan,Komputer
Raksasa Teknologi Dunia Mengakui Kepintaran Anak-anak Indonesia
Tim juri sangat terkejut mengetahui game telah diunduh 30.000 kali.
Di tengah buruknya birokrasi dan carut-marutnya sistem ujian nasional, Indonesia patut bangga masih punya anak-anak bangsa yang brilian. Mereka mampu menuai prestasi dalam ajang-ajang perlombaan ilmiah dan teknologi kelas dunia.
Raihan anak-anak bangsa di kompetisi internasional belakangan ini menandakan bahwa mereka bisa cemerlang bila diarahkan dan difasilitasi dengan baik. Fasilitatornya tidak harus pemerintah, namun juga oleh pihak swasta.
Prestasi terkini diukir oleh anak-anak muda asal Madura. Dalam suatu turnamen internasional di Rusia, inovasi mereka diakui oleh raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Microsoft Corp., sebagai penyelenggara kontes tahunan, Imagine Cup.
Turnamen asah otak bagi para inovator muda itu berlangsung untuk kali ke-11, yang tahun ini berlangsung di Kota St. Petersburg, Rusia, selama 8 - 12 Juli 2013. Microsoft Imagine Cup ini merupakan kompetisi bergengsi tingkat dunia untuk pelajar di bidang teknologi, pengembang, dan calon wirausaha untuk menciptakan proyek kreatif.
Ada tiga kategori utama dalam kompetisi itu, terdiri dari Innovation, Games dan World Citizenship. Dari tiga kategori itu, ada peserta dari Indonesia sukses menyabet juara dua di kategori Games.
Tim Solite Studio dari Universitas Trunojoyo Madura, dengan aplikasi game bertajuk 'Save the Hamsters' berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dan menggondol hadiah sebesar US$10.000, setara Rp100 juta.
Asadullohil Ghalib Kubat dari Tim Solite Studio sangat bangga dan gembira dengan keberhasilan timnya menjadi juara kedua di ajang Imagine Cup 2013 Worldwide Finals.
Itulah sebabnya senyum lembar terpancar dari tim ini begitu difoto usai pengumuman pemenang. Mereka adalah salah satu dari 87 pelajar dari 71 negara berkompetisi di final tingkat dunia setelah memenangkan kompetisi online dan lokal dari seluruh dunia.
“Kemenangan ini memang mengejutkan kami. Tapi kami sebelumnya sudah optimis akan mendapatkan sesuatu di ajang final dunia ini. Setelah kemenangan di tingkat Indonesia kami terus meningkatkan kualitas aplikasi yang kami buat dan mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang final melalui kegiatan mentoring yang disediakan Microsoft Indonesia,” kata Ghalib.
Dia juga menambahkan bahwa mengikuti kompetisi Imagine Cup 2013 Worldwide Finals sangat menegangkan. Semua mengerahkan seluruh energi dan fokus pikirannya untuk berjuang di Imagine Cup 2013.
"Semua kerja keras kami terbayarkan saat kami bisa membawa bendera merah putih Indonesia di panggung Imagine Cup 2013 skala dunia. Rasanya luar biasa bisa ikut membuat sesuatu yang nantinya dirasakan oleh seluruh dunia," kata Ghalib mewakili teman-teman setim.
Tim Juri Imagine Cup sangat terkejut mengetahui bahwa game Save the Hamster telah diunduh 30.000 kali hanya dalam waktu dua minggu, 20.000 pada Windows Phone dan 10.000 pada Windows 8.
"Banyak orang yang mengatakan, Tim Solite Studio akan berada di panggung saat malam penghargaan. Dan itu benar-benar terjadi," ungkap Irving Hutagalung, Audience Marketing Manager Microsoft Indonesia dalam siaran pers ke VIVAnews.
Tim Solite Studio yang terdiri dari Asadullohil Ghalib Kubat (Team Leader), Miftah Alfian Syah (Programmer), Tony Wijaya (Graphic Designer) dan Mukhammad Bagus Muslim (Game Designer).
Menurut Andreas Diantoro, President Director Microsoft Indonesia, ini adalah pertama kalinya tim Imagine Cup dari Indonesia memenangkan penghargaan utama Imagine Cup di skala global.
"Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa developer asal Indonesia sudah diakui, bahkan yang berasal dari pulau kecil seperti Madura," kata Andreas yang menyaksikan kiprah tim Solite Studio.
Menurut dia, kemenangan Tim Solite Studio ini juga patut menjadi teladan bagi developer-developer muda di Indonesia untuk mengikuti jejak kesuksesan mereka.
Maka, Andreas bertekad bahwa perusahaan yang dia kelola senantiasa berkomitmen untuk memberdayakan developer-developer muda melalui kompetisi Imagine Cup, maupun dukungan terhadap pengembangan teknologi informasi di tanah air.
Save The Hamsters adalah game pada platform Windows Phone dan Windows 8 yang menceritakan tentang empat ekor hamster yang tersesat. Tugas pemain adalah membantu mereka untuk pulang ke rumahnya. Hal unik dari Save The Hamster ini adalah permainan ini dipadukan dengan aspek edukasi matematika sehingga menjadi permainan yang menarik.
Irving Hutagalung, Audience Marketing Manager Microsoft Indonesia yang mendampingi Tim Solite Studio selama mengikuti Imagine Cup 2013 Worldwide Finals menjelaskan bahwa kemenangan ini tidaklah mengejutkan.
“Banyak orang mengatakan bahwa presentasi mereka (di Rusia) adalah satu dari sedikit di mana para penonton memberikan pujian."
Tim Juri Imagine Cup, kata Irving, sangat terkejut mengetahui bahwa game Save the Hamster telah diunduh 30.000 kali hanya dalam waktu 2 minggu saja (20.000 pada Windows Phone, 10.000 pada Windows 8).
“Beberapa orang mengatakan kepada kami bahwa mereka bersedia untuk bertaruh bahwa Solite Studio akan berada di panggung saat Malam Penghargaan, dan mereka benar. Juara 1 akan menjadi fantastis, tetapi Juara Kedua Tingkat Dunia juga merupakan prestasi yang menakjubkan,” pungkas Irving.
Kemenangan Solite Studio di Imagine Cup adalah bukti nyata bahwa teknologi informasi dapat memberikan perubahan besar dalam suatu negara. Microsoft Indonesia berharap Solite Studio dapat menjadi digital entrepreneur masa depan bangsa Indonesia.
Turnamen Fisika
Sebelum kisah sukses para anak muda dari Madura itu muncul, bertebaran pula cerita-cerita menyenangkan yang diukir teman-teman mereka setanah air. Salah satunya adalah saat Indonesia sukses menggelar kompetisi Asian Physics Olympiad (APhO) ke-14 di Bogor pada 5-13 Mei 2013.
Indonesia tidak saja berhasil menjadi tuan rumah yang baik, namun juga turut menghasilkan sejumlah pemenang. Acara yang diselenggarakan Surya Institute dan disponsori oleh Telkom Indonesia ini diikuti oleh sekitar 145 peserta dari 20 negara.
Negara-negara yang turut serta dalam acara tahunan tersebut adalah Indonesia, Australia, Azerbaizan, China, Hong Kong, India, Kamboja, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Macao, Malaysia, Mongolia, Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Turkmenistan, Thailand, dan Vietnam.
Menurut Prof Yohanes Putra, Chairman Surya Institute, sejak awal penyelenggaran APhO pada tahun 2000 silam, tim Indonesia merupakan salah satu negara yang menoreh prestasi terbaik.
"Hingga tahun lalu, Indonesia sudah mengantongi 23 medali emas, 15 medali perak, 27 medali perunggu, dan 35 honorable mention atau penghargaan khusus," kata Yohannes.
Untuk tahun ini, Indonesia akan mengirimkan delapan orang yang berasal dari sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.
Siswa yang akan mewakili Indonesia di antaranya Himawan Wicaksono (SMA St Alberus, Malang), Ryan Vitalis Kartiko (SMA Rajawali, Makassar), Justian Harkho (SMA Santa Petrus, Pontianak), Josephine Monika (SMAK Penabur, Gading Serpong, Tangerang), Fidiya Maulida (SMAN 1 Pamekasan), Aryani Paramita (SMAK 3 Jakarta), Andramica Priastyo (SMA Taruna Nusantara), dan Kristo Nugraha Lian (SMAK Penabur, Gading Serpong, Tangerang).
"Delapan orang itu adalah hasil seleksi kami pada bulan September 2012. Kami sudah mempersiapkan tim olimpiade Indonesia selama delapan bulan, dan kami menargetkan dua medali emas," kata Hendra Kwee, Ketua Penyelengara APhO 2013.
Hasilnya sesuai target. Indonesia berhasil meraih target mendali yang diharapkan. Secara umum Indonesia meraih 2 emas, 2 perak, 2 perunggu, dan 2 honorable mention atau penghargaan khusus.
Pada acara pengumumangan pemenang, Bendera Merah Putih berkibar di atas panggung. Anak Indonesia, Himawan Wicaksono, dinobatkan sebagai Absolute Winner di ajang APhO ke-14. Tak hanya itu, Himawan juga mendapat satu medali emas, gelar Best Male Participant dan Best Result in Experimental Competition.
Sementara peserta asal Indonesia yang juga meraih prestasi di antaranya:
1. Josephine Monica meraih satu medali emas dan mendapat gelar Best Female Participant.
2. Kristo Nugraha Lian meraih satu medali perak
3. Aryani Paramita meraih satu medali perak
4. Andramica Priastyo meraih satu medali perunggu
5. Justian Harkho meraih satu medali perunggu
6. Ryan Vitalis Kartiko meraih honorable mention
7. Fidiya Maulida meraih honorable mention.
Yonannes pun berharap acara APhO 2013 ini mampu meningkatkan kecintaan siswa-siswi Indonesia untuk belajar sains dan teknologi. "APhO terus mencetak 'Einstein-Einstein' baru yang kelak bisa memajukan negara Indonesia," ujarnya.
● Vivanews

Posted in: Game,Ilmu Pengetahuan