Loading Website
Tampilkan postingan dengan label UMY. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa UMY Ciptakan Alat Ukur Tubuh Ideal

Alat itu akan mengukur apakah orang punya tubuh ideal, terlalu kurus, atau terlalu gemuk.

Alat ukur tubuh ideal otomatis (VIVAnews/Juna Sanbawa)

VIVAnews - Pengukuran tubuh ideal secara manual draws merepotkan karena harus ada operator yang mengukur berat dan tinggi badan. Untuk mengukur tubuh ideal, misalnya saat seleksi calon TNI, Polisi, atau para pencari kerja, tentunya akan lebih praktis jika dilakukan dengan alat digital.Bila ada alat yang dapat secara otomatis melakukan pengukuran bobot tubuh yang ideal, selain lebih praktis, datanya pun akan lebih akurat.Melihat kebutuhan tersebut, Yudi Kristian, salah seorang mahasiswa jurusan Teknik Elektro, Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan penelitian tentang Implementasi Micro Controller pada Alat Deteksi Postur Tubuh Ideal.Yudi, mahasiswa yang akan diwisuda pada Februari tahun ini berhasil mengembangkan alat digital yang berfungsi mengukur postur tubuh seseorang. Micro controller atau pengendali mikro adalah sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip.Menurut Yudi, alatnya akan mengukur secara otomatis apakah seseorang memiliki tubuh ideal, terlalu kurus, atau terlalu gemuk.“Dalam alat tersebut ada dua macam sensor. Yang pertama, sensor tinggi badan, dan yang kedua adalah sensor berat badan,” kata Yudi, Sabtu 4 Februari 2012. “Alat pengukur tinggi dan berat badan konvensional terlebih dahulu dimodifikasi dengan diberi potensiometer multiturn,” ucapnya.Nantinya, kata Yudi, data yang diterima oleh sensor tersebut akan terkonversi otomatis dan muncul dalam bentuk angka pada layar LCD. “Kedua sensor tersebut dihubungkan dengan timbangan, berat badan, dan tinggi badan,” paparnya.Penelitiannya tersebut, lanjut Yudi, berhasil ia selesaikan selama kurang lebih delapan bulan. “Termasuk kegagalan selama proses penelitian," ucapnya.Yudi menambahkan, alat itu juga dapat langsung disambungkan ke PC, sehingga data yang muncul dapat terekam secara otomatis. “Kalau disambungkan ke komputer, dengan software tertentu, data itu dapat terekam otomatis menjadi file. Sehingga kita dapat langsung mencetaknya, tanpa harus mencatat terlebih dahulu,” ujarnya. (art)

• VIVAnews

Posted in: Ristek,UMY

#Tag : Ristek UMY

Mahasiswa Yogya Juara di Korea Berkat Kulit Udang

TEMPO.CO , Yogyakarta - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memanfaatkan kulit udang, cangkang kepiting dan kerang untuk membuat obat penyembuh luka, baik luka terbuka maupun luka bakar. Cangkang dan kulit yang biasanya dibuang setelah daging binatang itu dikonsumsi ternyata mengandung chitosan yang efektif menyembuhkan luka.Berkat limbah kulit udang dan cangkang kerang serta kepiting itu, Barii Hafidh Pramono dan Rizqi Afrian, mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi juara pertama dalam The 1st International Student Conference di Thailand. Kegiatan bertema "Innovations for Harmonious Living in a Borderless Society" itu diselenggarakan oleh Khon Kaen University, Thailand pada 23-25 Januari 2012."Biasanya kepiting dan udang hanya dimanfaatkan dagingnya saja, sementara cangkangnya dibuang, padahal cangkang kepiting, udang, maupun kulit kerang mengandung zat yang disebut chitosan, yang mampu mempercepat penyembuhan luka," kata Barii, Senin, 6 Februari 2012.Dua mahasiswa angkatan 2006 itu berhasil menyingkirkan peserta dari delapan negara lain yaitu Thailand, Cina, Swedia, Laos, Jepang, Inggris, Kamboja, serta Vietnam.Penelitiannya tentang pemanfaatan kulit kerang (chitosan) untuk obat luka bakar termasuk unik karena memanfaatkan limbah untuk dijadikan obat. Barii menemukan fakta bahwa salep dengan kandungan chitosan mampu menyembuhkan luka dengan waktu lebih cepat dibanding dengan salep tanpa chitosan. Salep chitosan juga menghasilkan penyembuhan yang kuat karena mampu menebalkan kolagen sehingga kulit tidak mudah iritasi.Dengan chitosan, luka lebih cepat sembuh karena proses epitelisasi dan kolagenisasi lebih cepat serta menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi. "Selain efektif menyembuhkan luka, cangkang binatang itu mudah ditemukan dan murah," kata Rizki Arfian.(MUH. SYAIFULLAH)• TEMPO.CO

Posted in: Awards,Ristek,UMY

#Tag : Awards Ristek UMY

Cangkang Kepiting Jadi Salep Luka Bakar

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sepertinya tak pernah habis berinovasi. Kemarin dua mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY Barii Hafidh Pramono dan Rizqi Afrian berhasil mengolah chitosan dalam cangkang (rumah) kepiting, kerang, dan udang menjadi salep untuk obat luka bakar.

Selain efektif menyembuhkan luka bakar, penemuan ini juga akan membuat cangkang bernilai ekonomis. Bari Hafidh Pramono mengatakan, ide mengolah cangkang sebagai salep obat luka bakar muncul karena selama ini pemanfaatan kepiting, udang, maupun kerang hanya pada dagingnya. Sementara, cangkang dibuang dan menjadi sampah atau limbah yang tidak terpakai. Padahal berdasarkan literatur, sebenarnya cangkang ini mengandung zat chitosan, yaitu zat yang mampu mempercepat penyembuhan luka, khususnya luka bakar."Berawal dari realita ini, kami kemudian melakukan penelitian kandungan chitosan yang ada di cangkang (kepiting) itu," ungkap Bari Hafidh, mahasiswa FKIK UMY angkatan 2006 ini.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ternyata zat chitosan mampu menyembuhkan luka bakar. Selain itu, dapat menyembuhkan luka bakar lebih cepat dibanding dengan obat atau salep tanpa ada kandungan chitosan. Adapun kolagen adalah sejenis protein yang bermolekul makro sangat penting untuk memelihara kulit."Sehingga chitosan ini tidak akan menyebabkan kulit mudah iritasi sebab chitosan dapat menebalkan kolagen,"ujarnya.Menurut Bari, selama ini pengobatan luka bakar masih menggunakan obat antiseptik yang membutuhkan waktu lama dan belum tentu sempurna. Berbeda jika penyembuhannya dengan salep yang mengandung chitosan, selain luka bakar akan lebih cepat dalam proses epitelisasi dan kolagenisasinya, chitosan juga dapat menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi.Selain untuk pengembangan obat salep berbahan chitosan dari cangkang, penelitian tentang chitosan ini juga berhasil mengantarkan kedua mahasiswa tersebut menjadi juara pertama dalam ajang 'The 1st International Student Conference' di Khon Kaen University, Thailand, 23–25 Januari lalu."Selain juara pertama, untuk kategori lomba poster penelitian ilmiah, mahasiswa UMY menjadi juara ketiga," papar Kepala Humas dan Protokoler UMY Tunjung Sulaksono. (kampus.okezone.com/ humasristek)

• Ristek

Posted in: Ilmu Pengetahuan,UMY

UMY Kenalkan Teknik Melahirkan tanpa Rasa Sakit

http://static.republika.co.id/uploads/images/square/ibu_melahirkan_100921080446.jpg Yogyakarta � Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sejak akhir 2012 lalu telah mengenalkan teknik melahirkan bayi tanpa rasa sakit. Teknik inipun telah diujicobakan terhadap beberapa ibu hamil dan telah menjadi pilihan tersendiri bagi ibu hamil yang ingin melahirkan di Yogyakarta.

Kepala Biro Humas dan Protokol (BHP) UMY, Tunjung Sulaksono, mengatakan teknik ini merupakan hasil pengembangan beberapa inovasi yang dilakukan oleh FKIK UMY.

"Ini merupakan satu inovasi terbaru yang akan terus dikembangkan oleh FKIK UMY," terangnya, Rabu (2/1).

Pengembangan teknik ini dilakukan oleh tim yang dipimpin langsung Dekan FKIK UMY Ardi Pramono. Menurut Ardi Pramono, teknik baru melahirkan tanpa sakit yang dikembangkan pihaknya dikenal dengan teknik Lumbar Epidural Analgesia (LEA). Metode ini, menurutnya, berbeda dengan metode hypnobirthing.

"LEA merupakan cara yang lebih akurat untuk memastikan sang ibu tidak akan merasakan rasa sakit saat melahirkan,” jelasnya.

Ardi mengatakan teknik LEA merupakan teknik dengan  jenis anastesi lokal yang diberikan pada otot-otot melahirkan. Sehingga, teknik ini tidak akan menimbulkan rasa nyeri saat melahirkan.

Dengan teknik ini, anastesi akan dipasang di antara ruas tulang belakang pada saat ibu sudah merasakan rasa nyeri di awal proses kelahiran. Dengan begitu, ibu yang akan melahirkan tidak akan merasa kesakitan.

• Republika

Posted in: UMY

#Tag : UMY

Mahasiswa UMY Ciptakan Kunci Otomatis Bagi Tunanetra

Foto : Kharrik Ngibad Mukhlashin/UMY Jakarta | Kejahatan timbul bukan hanya karena ada niat tapi juga terbukanya kesempatan. Untuk itu, salah satu bentuk proteksi yang dapat kita lakukan adalah menjaga pintu rumah maupun kamar yang berisi barang berharga selalu terkunci.

Namun, bagi tunanetra hal ini tidak mudah dilakukan. Sebab, mereka kesulitan untuk menggunakan kunci konvensional. Beruntung mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kharrik Ngibad Mukhlashin menemukan solusi dengan menghadirkan "Alat Bantu Tunanetra Berbasis Micro Controller."

Kharrik berhasil mengembangkan alat bantu tunanetra dalam bentuk kunci pintu untuk mempermudah mereka membuka maupun menutup pintu. Pada alat tersebut terdapat pengendali mikro atau micro controller yang akan mengeluarkan suara.

Menurut Kharrik, sebenarnya kunci pintu ini sama dengan kunci pintu yang menggunakan micro controller lain yang sudah berkembang di tengah masyarakat. “Kami memang sengaja membuat inovasi baru dengan kunci pintu ini, karena memang tujuannya untuk para tunanetra, sehingga perbedaannya adalah alat ini akan mengeluarkan suara “membuka dan menutup” yang menandakan pintu itu sudah terbuka atau tertutup,” tutur Kharrik, seperti disitat dari situs UMY, Selasa (15/1/2013).

Selain itu, lanjutnya, alat ini dikembangkan dengan Radio Frekuensi ID (RFID). “Jadi dalam alat ini hanya terdapat satu ID yang telah tersistem dan akan dihubungkan dengan reader dari alat tersebut. Kemudian akan menuju sistem mikro, sistem mikro inilah yang nanti akan membaca perintah dan akan menghasilkan suara membuka atau menutup,” paparnya.

Kharrik menjelaskan, penggunaan dari alat ini pun begitu mudah dan sangat praktis. Alat tersebut cukup dipasang di dalam pintu. Kemudian pengguna hanya perlu mendekatkan ID dengan jarak 4 cm di depan atau di belakang pintu.

"Setelah keluar suara “pintu terbuka” maka tandanya pintu tersebut tidak terkunci. Sebaliknya jika keluar suara “pintu tertutup” otomatis pintu tersebut sudah terkunci,” urai Kharrik.

Selain itu, alat bantu tunanetra dalam bentuk kunci ini hanya akan cocok dengan satu ID yang telah disesmatisasi khusus dengan alat tersebut. “Kalau ID lain yang digunakan, maka sistem mikro dalam alat ini tidak akan dapat membaca perintah dan menghasilkan suara “pintu terbuka” atau “pintu tertutup”. Jadi alat ini bisa membantu pemilik rumah khususnya tunanetra dalam menjaga barang-barang berharga di dalam rumahnya,” imbuhnya.

Penelitian ini menghabiskan waktu sekira enam bulan dari penelitian awal. Mulai dari melakukan penelitian di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta sampai alat ini berhasil digunakan. "Memang butuh waktu yang lumayan lama karena kita juga harus mencoba kembali saat alat ini belum bekerja sesuai harapan,” jelasnya.

Dia berharap, alat inovasinya ini bisa dimanfaatkan oleh tunanetra seluruh Indonesia dan juga bisa disempurnakan lagi. “Inovasi alat bantu kunci pintu ini masih perlu disempurnakan lagi. Untuk bisa digunakan pada lima hingga enam pintu lain cukup dengan menggunakan satu ID yang telah tersistem,” kata Kharrik.(mrg)

Okezone

Posted in: UMY

#Tag : UMY

Mahasiswa UMY Kembangkan Alat Pendeteksi Pembuluh Darah Balita

_MG_2077 Pembuluh darah pada balita sangat rentan akan potensi kerusakan pembuluh darah jika terjadi kesalahan penyuntikan. Untuk itu perlu adanya sebuah alat yang mampu mendeteksi pembuluh darah balita untuk meminimalisir kesalahan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Ade Pajar Pirdianto, Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengembangkan teknologi untuk pendekteksi pembuluh darah balita, Rabu (15/05) di Kampus Terpadu UMY. Alat yang akan diikutsertakan dalam Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) tanggal 16-17 Mei di Surabaya ini terdiri dari Ade Pajar Pirdianto, Muholidin, dan Aan Kurniawan.

Ade menuturkan bahwa alat ini digunakan untuk membantu tim medis baik di rumah sakit maupun Puskesmas dalam melakukan penyuntikan pada balita. “Terkadang tim medis juga mengalami kesulitan untuk melihat dimana letak pembuluh darah pada bayi, dengan adanya alat yang dirancang dengan sinar yang bisa menembus pembuluh darah ini dirasa cocok untuk membantu pekerjaan para medis,” tuturnya.

Ade menjelaskan bahwa alatnya ini merupakan lanjutan dari alat pendeteksi pembuluh darah balita yang sebelumnya sudah pernah diciptakan oleh alumni Teknik Elektro UMY Fajar Harianto. “Kami bertiga mengembangkannya menjadi lebih baik dan lebih efisien. Pada alat sebelumnya hanya digunakan untuk bayi usia kurang dari tiga bulan, sekarang kami mengembangkannya sampai usia dua tahun,” jelasnya.

Selain itu, Muholidin memaparkan bahwa cara kerja alat ini pun sangat mudah, hanya meletakan tangan bayi diatas alat ini maka pembuluh darah bayi tersebut akan terlihat. “Hal ini dikarenakan kita menggunakan sinar Led 4 pin yang memiliki kekuatan bias cahaya melebihi sinar Led lainnya, sehingga pembuluh darah pun bisa terlihat jelas,” paparnya.

Alat ini juga sangat efisien, lanjut mahasiswa angkatan 2011, bisa dilihat dari bentuknya yang sangat ringan dan mudah untuk dibawa “Alat seperti ini memang ada di rumah sakit besar dan bentuk alatnya pun tidak seminimalis alat kami, sehingga memudahkan penggunanya,” imbuhnya.

Disamping itu, Aan menuturkan bahwa alat yang sebelumnya sudah diuji pada balita usia dua tahun ini berhasil lolos babak kualifikasi dari LCEN bidang biomedik. “Kami sangat bangga karena alat kami akan bersaing dengan penemuan lain dari seluruh universitas di Indonesia nantinya, kami berharap bisa menjadi yang terbaik dan juga alat pendeteksi pembuluh darah balita ini bisa dimanfaatkan di dunia kesehatan,” tuturnya.

  ● UNY

Posted in: UMY

#Tag : UMY

Alat Deteksi Pembuluh Darah Bayi yang Hemat Energi

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/07/lNueNgqtX5.jpg Mahasiswa Teknik Elektro (TE) Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan alat pendeteksi pembuluh darah balita generasi ketiga. Kali ini, inovasi yang mereka lakukan terletak pada daya energi yang digunakan alat tersebut.

Salah seorang pengusung Alat Pendeteksi Pembuluh Darah Balita Generasi ketiga, yaitu Dian Budi Santoso menyebut, alat tersebut lebih hemat energi dibandingkan dua generasi sebelumnya. Bersama Fajar Eka Septiyadi, Dhorizqy F S D, Satria, dan Irania Dwi W, karya tersebut akan ikut serta dalam Seminar Internasional di Universitas Hang Tuah Surabaya program elektro medik.

Budi menjelaskan, Alat Pendeteksi Pembuluh Darah Balita Generasi ketiga itu menggunakan optimasi fuzzy logic. Sistem tersebut akan membantu para perawat untuk menemukan nadi pada bayi yang biasanya sulit terdeteksi.

“Fuzzy logic merupakan pengatur cahaya dengan teknik pengontrolan cahaya yang diharapkan dapat menembus kulit dan daging bayi, sehingga membantu perawat untuk menginfus bayi dan juga mencegah pecahnya nadi bayi saat penyuntikan,” ujar Budi.

Dia memaparkan, komponen dari generasi ketiga masih sama dengan alat pendeteksi pembuluh darah generasi sebelumnya. Hanya saja, pada alat generasi ketiga ada pengelompokan usia yang akan berpengaruh pada cahaya yang dikeluarkan.

Inovasi tersebut, lanjutnya, akan membantu mengatur penggunaan energi secara lebih efisien. “Dengan pengelompokan usia, maka kita bisa mengatur nyala led yang ada dalam alat tersebut sehingga tidak semuanya menyala,” jelasnya.

Fajar menambahkan, komponen alat pendeteksi pembuluh darah balita generasi ketiga juga menggunakan LED Super Fluks yang membuat hasil cahayanya lebih terang. “LED atau Light Emitting Diode merupakan lampu pada alat ini yang cahayanya akan menembus kulit balita sehingga pembuluh darahnya akan terlihat,” ungkap Fajar.

Dia menyebut, alat pendeteksi pembuluh darah tersebut telah diuji di Rumah Sakit PKU Yogyakarta. “Alat ini sudah diuji coba langsung oleh perawat kepada balita usia dua minggu sampai usia tiga tahun, dan para perawat tersebut merasakan manfaat dari alat ini,” tuturnya.

Dengan adanya alat itu, dia berharap dapat meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan di Indonesia. “Ini juga akan meningkatkan kualitas tempat pelayanan di rumah sakit dan puskesmas, dengan adanya alat pendeteksi pembuluh darah balita hemat energi ini akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pula,” tutup Fajar.

  ● Okezone

Posted in: Energi,UMY

#Tag : Energi UMY

UMY Jadi Tuan Rumah Kontes Robot Indonesia

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta★

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) akan menjadi tuan rumah kontes robot nasional Indonesia (KRI) yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Riset dan Teknologi 2015 ini.

KRI sendiri akan diselenggarakan pada 11 hingga 14 Juni 2015. KRI tingkat nasional ini nantinya akan diikuti oleh 102 tim, tiap satu tim tersebut memiliki anggota sebanyak tiga hingga lima orang ditambah satu orang dosen pembimbing.

Ketua Penyelenggara KRI 2015, Slamet Riyadi, mengatakan, ada empat kategori perlombaan yang akan diselenggarakan pada KRI nasional tersebut. Keempat kategori itu yakni, Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI), Kontes Robot Sepakbola Indonesia (KRSBI), dan Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI).

"Pada Kontes Robot ABU Indonesia temanya adalah Badminton. Sistem permainan pada perlombaan ini sama halnya seperti perlombaan badminton pada umumnya yang dimainkan oleh manusia. Karena raket, net, dan juga kocknya juga sama seperti pada permainan yang sebenarnya," katanya, Kamis (7/4).

Selain itu, kata dia, tema badminton ini juga disesuaikan dengan kontes robot ABU internasional yang akan dilaksanakan pada Agustus 2015 mendatang.

Menurutnya, semua pemain yang menjadi juara pada tiga kategori lomba, yakni KRAI, KRSBI, dan KRPAI juga akan bertanding kembali di tingkat internasional. Jika pemenang KRAI akan melanjutkan pertandingannya pada Kontes Robot ABU Internasional, maka pemenang KRSBI akan dikirim untuk menjadi perwakilan Indonesia pada Robot Soccer Competition International, dan juara nasional KRPAI akan dikirim ke Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest 2015.

"Untuk lomba robot pemadam api internasional tersebut selalu diselenggarakan di Amerika. Tapi untuk Robot Soccer negara penyelenggaranya selalu berpindah-pindah," katanya.

Sementara untuk kategori KRSI, menjadi kategori lomba robot cukup unik. Karena pada kategori ini, robot yang ditandingkan akan memiliki bentuk seperti manusia. Selain itu, KRSI yang memilih seni tari sebagai perlombaannya ini, pada tahun ini mengambil tema seni tari "Bambangan Cakil".

  ★ Republika

Posted in: Robot,UMY

#Tag : Robot UMY

Mahasiswa UMY Buat PTS Siluman

Sebagai Alternatif Pengawasan Perairan Indonesia https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj88ZhnEFiPhf1kG-TZ-C0HhxWjlX_IuFxm57XCHfOlQG_KbS8apMGrXAxDvTbAr01xYxx1gW_0E_jZmduLd-zyE9hE2TfDdcM3vvUZB7rQC1vLJwVTRdZvULc5CnYpYjqxboiUYfty3fo/s1600/25072014+KRI+Clurit+641.jpg Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah perairan terbesar di bumi, dimana hal tersebut membuat Indonesia memiliki potensi kekayaan ikan yang melimpah. Namun akibat adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan illegal fishing, menjadikan para nelayan tidak dapat memaksimalkan matapencahariannya dan juga kegiatan tersebut dapat merusak biota laut yang hidup di perairan Indonesia. Terlebih di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan) Indonesia yang banyak wilayahnya berupa gugusan pulau kecil yang memerlukan pengawasan secara berkelanjutan. Pengawasan tersebut menjadi perlu dilakukan agar celah-celah wilayah perairan Indonesia tidak menjadi jalan masuk bagi oknum pelaku illegal fishing.

Perlunya sebuah sistem yang dapat bekerja mengawasi wilayah lautan Indonesia tersebut kemudian mendorong salah satu tim Pekan Kreativitas Mahasiswa – Karya Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk membuat PTS (pendeteksi) Siluman. Tim PKM-KC tersebut terdiri dari 4 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yaitu Iwan Tri Sujoko (prodi Teknik Elektro 2014), Wicaksono Aji Wibowo (prodi Teknik Elektro 2013), Vendy Dwi Hendra Nugraha (prodi Teknik Elektro 2013) dan Faiz Evan Saputra (prodi Teknik Mesin 2015).

PTS Siluman karya tim PKM-KC tersebut merupakan sebuah prototype kapal cepat tanpa awak yang berfungsi sebagai pendeteksi kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia. “Wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil ini dapat menjadi celah bagi pelaku illegal fishing untuk masuk. PTS Siluman yang kami buat dapat menjadi sebuah alternatif andalan untuk memberikan pengawasan bagi wilayah-wilayah tersebut sehingga dapat memberikan informasi bagi pihak yang berwajib ketika ada kapal asing yang masuk ke wilayah perairan Indonesia,” ujar Iwan selaku ketua tim PKM-KC tersebut ketika diwawancarai oleh tim BHP pada hari Rabu (21/6).

Dijelaskan oleh Iwan, cara kerja PTS Siluman menggunakan sensor kamera yang mengunci objek benda dengan warna-warna cerah dan kemudian mengambil nilai RGB dari benda yang sudah dilacak. Selanjutnya kamera akan memberi serial informasi gambar seperti massa x, massa y, dan juga pixel. “PTS Siluman ini menggunakan modul kamera yang berfungsi untuk mengolah data citra menjadi informasi dengan metode tracking colour sehingga objek yang sudah terkunci akan mampu terus dikuti oleh kamera. Data informasi ini kemudian dikirim ke base station yang juga dapat memantau secara real time melalui webcam yang terpasang di badan kapal,” jelas Iwan.

PTS Siluman tersebut memiliki dua mode pengoperasian yakni manual dan autonomous. “PTS Siluman ini menggunakan System of Recognition Intelligent yang mampu mengelola dan mengotrol sistem elektronik dari kapal. Sistem ini merupakan user interface yang cukup maju dan mampu menggunakan input suara untuk pengoperasiannya. Misalnya dalam mode manual kapal dapat dikendalikan melalui handphone Android dan diaktifkan dengan perintah suara, ketika sudah diaktifkan maka kapal akan melakukan scanning wilayah dengan kontrol pengguna,” papar Iwan. Sedangkan dalam mode autonomous kapal akan melakukan scanning wilayah secara otomatis sesuai dengan sistem yang sudah diprogram untuk kapal.

PTS Siluman tersebut merupakan kapal Hibrid yang menggunakan bahan bakar minyak dan juga sel surya sebagai bahan bakarnya. “Selain bbm kami juga menggunakan sel surya yang kami manfaatkan untuk mengisi baterai sebagai bahan bakar tambahan. Ini agar kapal tetap bisa bergerak walau bbm sudah habis digunakan. Meski dalam uji ketahanan yang kami lakukan PTS Siluman belum dapat bertahan selama 24 jam, namun kami yakin kapal tersebut dapat beroperasi selama 24 jam ketika sudah disempurnakan,” ungkap Iwan. Selain itu PTS Siluman juga dilengkapi dengan GPS (global positioning system) sebagai sistem navigasinya sehingga posisi dari PTS Siluman dapat menyediakan koordinat posisi kapal secara instan di belahan wilayah manapun dalam kondisi cuaca apapun.

Dalam uji coba yang dilakukan tim PKM-KC tersebut terhadap PTS Siluman terbukti dapat melakukan tugasnya dengan baik, seperti melakukan manuver pelayaran dan melakukan scanning. Tim PKM-KC PTS Siluman berharap ketika program tersebut selesai agar dapat berlanjut untuk menyempurnakan prototype dari PTS Siluman. (raditia)

  ★ UMY

Posted in: UMY,USV

#Tag : UMY USV