★ Savinna
Prototipe Drone Laut Karya Mahasiswa Indonesia
SAVINNA, Unmanned Surface Vehicle [def.pk] ★
Savinna semacam drone laut yang bisa digunakan untuk mengawasi wilayah laut RI bahkan bisa digunakan untuk kegiatan surveilans dan eksplorasi.
Kapal tanpa awak ini berukuran 2 x 1 meter persegi dengan berat kurang lebih 50 kilogram. Dengan tinggi kurang lebih 0,5 meter, kapal ini bisa dikendalikan menggunakan remote control dan teknologi GPS. Kapal tanpa awak ini memiliki daya jangkau 20 kilo meter dengan kecepatan 6 knot.
Savinna drone laut ini masih terus dikembangkan. Saat ini dirinya tengah mengembangkan agar kapal tanpa awak tersebut dapat digunakan meski terkena arus gelombang besar.
Berikut foto dan Video dari Youtube :
| [def.pk] |
★ Garuda Militer

Posted in: Foto,Indonesia Teknologi,Inovasi,USV,Video
★ STTAL Kembangkan Kapal Tanpa Awak Berbasis Wifi
Bisa Intai Lawan Sambil Bawa Meriam Semangat pengembangan peningkatan teknologi terus digelorakan di lingkungan TNI AL.
Saat ini sejumlah temuan dan pengembangan sistem penunjang pengamanan dan tekonologi maritim terus dilakukan. Sebuah kapal penyusup tanpa awak telah lahir dari anak bangsa.
Saat digelar wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Jumat (15/1/2016), kampus khusus teknologi para prajurit TNI AL itu memamerkan teknologi asli mereka.
Wisuda digelar di Gedung Moelyadi Bumimoro Kobangdikal. Ketua STTAL Laksamana Pettama TNI Siswo Hadi Sumantri bersama senat mewisuda para lulusan STTAL.
"Harus terus diupayakan kemandirian alusista kita. Salah satunya dengan pengembangan teknologi dalam negeri. Kami bangga dengan karya mahasiswa TNI AL di sini," ucap Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Ade Supandi usai meninjau hasil karya terbaik lulusan STTAL.
Sebelum keliling menyaksikan karya terbaik dan produk unggulan STTAL, Ade hadir di wisuda 99 perwira dan bintara di kampus khusus prajurit AL itu.
Di antaranya 18 pewira S2 Analisis Sistem dan Riset Operasi (ASRO). Ini merupakan angkatan pertama.
Kemudian 48 perwira S1 angkatan ke-38 serta 33 bintara program D3 angkatan ke-8 STTAL.
Mereka harus siap ditempatkan di satuan-satuan strategis maritim di lingkungan AL.
"Bentuk ancaman baru kita adalah bila tidak menguasai teknologi," tandas Ade.
KASAL menegaskan bahwa pengembangan SDM dan penguasaan teknologi adalah simultan.
Penguasaan teknologi dibutuhkan untuk peningkatan pertahanan maritim kita.
Ade hadir dalam upacara wisuda menandai berakhirnya masa pendidikan para perwira dan bintara.
Salah satu yang mengesankan adalah dikembangkannya kapal tanpa awak. Meski bukan temuan baru, namun karya para prajurit TNI AL ini mendapat apresiasi khusus.
Tidak saja mematahkan ketergantungan pada alutsista impor. Tapi ada semangat kemandirian dan kreativitas.
Kapal tanpa awak ini diciptakan lebih dulu angkatan sebelumnya. Oleh tim yang diketuai Kapten Laut Ali Khairudin, prajurit mahasiswa S1 Teknik Elektro, kapal itu dikembangkan tahun ini.
"Kapal ini untuk operasi militer maupun nonmiliter. Bisa untuk patroli maritim," kata Ali.
Kapal yang mengadopsi teknologi dengan sitem kompetirisasi dan wifi itu dikendikan dengan remote.
Kapal itu mampu menjangkau hingga kejauhan lebih dari 40 km. Kecepatan sekitar 21 knot. Ukuran kapal ini hampir seukura sekoci.
Dengan warna hitam, kapal tanpa awak itu mampu menembus samudra dengan akselerasi maskimal.
Semula, kapal itu proyeksi awal adalah untuk patroli pengamaan. Namun kini telah dikembangkan untul operasi militer. "Bisa untuk menyapu ranjau," kata Ali.
Meski belum diujicobakan di laut lepas, namun karya anak bangsa itu sukses diujicobakan di waduk di lingkungan TNI AL di Bumimoro.
Kapal tanpa awak itu sukses menjalankan tugas dengan jarak tempuh awal 3 kilometer.
"Kami mengadopsi teknologi KRI Diponegoro yang dikenal paling canggih," tambah Ali.
Meski tanpa awak, kapal itu bisa bergerak dan menyapu lokasi sesuai tujuan dan sasaran. Ada sistem kamera dalam pesawat itu sehingga terus terpantau.
Tidak saja keberadaan kapal, namun sasaran musuh juga mampu diketahui oleh kecanggilan teknologi intai kapal tanpa awak ini.
Di geladak kapal itu juga saat ini dikombinasikan senjata yang bisa dibawa beroprasi. Semacam meriam juga dilengkapi di kapal ini.
Namun para pembuat kapal tanpa awak itu mengakui masih perlu penyempurnaan lebih jauh.
Terutama menyangkut waktu operasional kapal yang masih terbatas pada musim kemarau. Kalau hujan belum bisa, merusak sistem karena belum diantisipasi.
Waterproof terutama belum kedap air. Selain itu masih perlu dukungan sistem satelit. Bukan wifi yang terbatas jangakuannya.
Namun semua data navigasi secara umum pada kapal tanpa awak ini sudah yang terbaik.
Diharapkan, karya anak bangsa itu terus dikembangkan demi kemandirian alutsista.
☠ Tribunnews

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,TNI AL,USV
Mahasiswa UMY Buat PTS Siluman
Sebagai Alternatif Pengawasan Perairan Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah perairan terbesar di bumi, dimana hal tersebut membuat Indonesia memiliki potensi kekayaan ikan yang melimpah. Namun akibat adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan illegal fishing, menjadikan para nelayan tidak dapat memaksimalkan matapencahariannya dan juga kegiatan tersebut dapat merusak biota laut yang hidup di perairan Indonesia. Terlebih di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan) Indonesia yang banyak wilayahnya berupa gugusan pulau kecil yang memerlukan pengawasan secara berkelanjutan. Pengawasan tersebut menjadi perlu dilakukan agar celah-celah wilayah perairan Indonesia tidak menjadi jalan masuk bagi oknum pelaku illegal fishing.
Perlunya sebuah sistem yang dapat bekerja mengawasi wilayah lautan Indonesia tersebut kemudian mendorong salah satu tim Pekan Kreativitas Mahasiswa – Karya Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk membuat PTS (pendeteksi) Siluman. Tim PKM-KC tersebut terdiri dari 4 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yaitu Iwan Tri Sujoko (prodi Teknik Elektro 2014), Wicaksono Aji Wibowo (prodi Teknik Elektro 2013), Vendy Dwi Hendra Nugraha (prodi Teknik Elektro 2013) dan Faiz Evan Saputra (prodi Teknik Mesin 2015).
PTS Siluman karya tim PKM-KC tersebut merupakan sebuah prototype kapal cepat tanpa awak yang berfungsi sebagai pendeteksi kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia. “Wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil ini dapat menjadi celah bagi pelaku illegal fishing untuk masuk. PTS Siluman yang kami buat dapat menjadi sebuah alternatif andalan untuk memberikan pengawasan bagi wilayah-wilayah tersebut sehingga dapat memberikan informasi bagi pihak yang berwajib ketika ada kapal asing yang masuk ke wilayah perairan Indonesia,” ujar Iwan selaku ketua tim PKM-KC tersebut ketika diwawancarai oleh tim BHP pada hari Rabu (21/6).
Dijelaskan oleh Iwan, cara kerja PTS Siluman menggunakan sensor kamera yang mengunci objek benda dengan warna-warna cerah dan kemudian mengambil nilai RGB dari benda yang sudah dilacak. Selanjutnya kamera akan memberi serial informasi gambar seperti massa x, massa y, dan juga pixel. “PTS Siluman ini menggunakan modul kamera yang berfungsi untuk mengolah data citra menjadi informasi dengan metode tracking colour sehingga objek yang sudah terkunci akan mampu terus dikuti oleh kamera. Data informasi ini kemudian dikirim ke base station yang juga dapat memantau secara real time melalui webcam yang terpasang di badan kapal,” jelas Iwan.
PTS Siluman tersebut memiliki dua mode pengoperasian yakni manual dan autonomous. “PTS Siluman ini menggunakan System of Recognition Intelligent yang mampu mengelola dan mengotrol sistem elektronik dari kapal. Sistem ini merupakan user interface yang cukup maju dan mampu menggunakan input suara untuk pengoperasiannya. Misalnya dalam mode manual kapal dapat dikendalikan melalui handphone Android dan diaktifkan dengan perintah suara, ketika sudah diaktifkan maka kapal akan melakukan scanning wilayah dengan kontrol pengguna,” papar Iwan. Sedangkan dalam mode autonomous kapal akan melakukan scanning wilayah secara otomatis sesuai dengan sistem yang sudah diprogram untuk kapal.
PTS Siluman tersebut merupakan kapal Hibrid yang menggunakan bahan bakar minyak dan juga sel surya sebagai bahan bakarnya. “Selain bbm kami juga menggunakan sel surya yang kami manfaatkan untuk mengisi baterai sebagai bahan bakar tambahan. Ini agar kapal tetap bisa bergerak walau bbm sudah habis digunakan. Meski dalam uji ketahanan yang kami lakukan PTS Siluman belum dapat bertahan selama 24 jam, namun kami yakin kapal tersebut dapat beroperasi selama 24 jam ketika sudah disempurnakan,” ungkap Iwan. Selain itu PTS Siluman juga dilengkapi dengan GPS (global positioning system) sebagai sistem navigasinya sehingga posisi dari PTS Siluman dapat menyediakan koordinat posisi kapal secara instan di belahan wilayah manapun dalam kondisi cuaca apapun.
Dalam uji coba yang dilakukan tim PKM-KC tersebut terhadap PTS Siluman terbukti dapat melakukan tugasnya dengan baik, seperti melakukan manuver pelayaran dan melakukan scanning. Tim PKM-KC PTS Siluman berharap ketika program tersebut selesai agar dapat berlanjut untuk menyempurnakan prototype dari PTS Siluman. (raditia)
★ UMY

Posted in: UMY,USV
[Video] Pandawa 35
✈ Kapal Tanpa Awak STTALVideo liputan NETtv perihal kapal tanpa awak inovasi mahasiswa STTAL.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut, kembangkan kapal tanpa awak dan anti radar. Kapal Ini, dapat digunakan untuk membantu operasi personel dalam menjalankan tugas.
✈ Youtube

Posted in: Alutsista,Hankam,Ilmu Pengetahuan,Inovasi,TNI AL,USV,Video
Indonesia Mengembangkan Teknologi Kapal Selam Tak Berawak
Hiu Merah produksi PT RMI telah diuji Kemhan [Robo Marine Indonesia] ☆
Indonesia sedang mengembangkan teknologi kapal selam tak berawak dengan harapan mengamankan wilayah laut yang luas negara itu dengan biaya yang efisien.
Kapal selam tak berawak, yang disebut Kaledupa, akan dapat beroperasi pada kedalaman 150 meter, direktur Departemen Pertahanan untuk industri pertahanan dan teknologi, Brig. Jenderal Jan Pieter Ate, Selasa.
Produk ini dibuat oleh PT Robo Marine Indonesia, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Bandung, Jawa Barat.
"Kementerian Pertahanan telah memerintahkan industri pertahanan untuk mengembangkan teknologi untuk kapal selam tak berawak ini. Kami telah menunjuk PT Robo Marine Indonesia karena perusahaan memiliki keterampilan dalam teknologi ini," kata Jan Pieter The Jakarta Post.
Kaledupa diuji pada hari Minggu di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, untuk mendapatkan sertifikat kementerian kelayakan.
Jan Pieter mengatakan Kaledupa memiliki banyak kekuatan. Misalnya, ia memiliki teknologi penginderaan bawah air, perekam bawah air dengan resolusi HD dan alat-alat pencahayaan LED yang membantu kapal selam melihat ratusan meter di bawah laut.
"Selama pengujian, Kaledupa berhasil membuktikan semua kelebihannya. Kami berharap perkembangan teknologi baru ini akan mengurangi ketergantungan kita pada sistem persenjataan asing," katanya. (Hwa/The Jakarta Post)
☠ Garuda Militer

Posted in: Alutsista,Hankam,Ilmu Pengetahuan,Inovasi,Kapal Selam,USV