Tiga Tipe Monorel Canggih Diresmikan di Pabrik PT INKA
Madiun - Hari ini, 3 tipe monorel diresmikan di pabrik kereta PT INKA (Persero), Madiun, Jawa Timur. Datang bersama rombongan, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyaksikan perjanjian kerjasama dan peluncuran prototype atau mock up 3 jenis monorel.
Monorel pertama yang diluncurkan ialah monorel Jabodetabek, hasil pengembangan INKA bersama konsorsorsium BUMN yang diketuai PT Adhi Karya Tbk (ADHI).
Kemudian monorel kedua yakni kerjasama pengembangan monorel bandara Soekarno-Hatta. Yaitu antara konsorsium BUMN pengembang monorel dan PT Angksa Pura II. Monorel ketiga, yakni khusus non penumpang atau angkutan kontainer.
"Monorel ada 3 yang diresmikan. Monorel Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Kuningan, kemudian monorel Bandara Soetta yang menghubungkan terminal 1-3," tutur Dahlan kepada wartawan di dalam Kereta menuju Madiun Jawa Timur, Senin (6/5/2013).
Untuk monorel khusus kontainer, nantinya akan melengkapi angkutan barang di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Jawa Timur. "Akan jadi pelabuhan pertama pakai monorel untuk angkut kontainer," tambahnya.
Di tempat yang sama, saat peluncuran mock up atau contoh monorel Jabodetabek dan monorel kontainer, Dirut INKA Agus Purnomo mengaku, kemampuan untuk merancang dan mengembangkan monorel sudah dimiliki sejak lama. Namun, INKA terus melakukan penyempurnaan membuat monorel berbagai tipe.
"Kereta penggerak sudah lama kami luncurkan, tapi kami terus melakukan penyempurnaan oleh enjiner muda. 2015 kami siap meluncurkan," pungkasnya.(feb/dru)
● detikFinance

Posted in: INKA,Transportasi
★ [Foto] Monorel Made in Madiun Diluncurkan
Menteri BUMN Dahlan Iskan meluncurkan mock up monorel di Kantor Pusat INKA Madiun Jawa Timur.
Ruang dalam monorel nampak megah lebar dan tinggi. Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku kagum melihat mock up atau contoh monorel Jabodetabek, karya PT INKA (Persero).
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku kagum melihat mock up atau contoh monorel Jabodetabek, karya PT INKA (Persero).
Monorail ini rencananya akan beroperasi di Jakarta dan sekitarnya dengan rute tahap 1 adalah Bekasi - Cawang, Cibubur- Cawang, dan Cawang - Kuningan.
Model tiket elektronik monorel juga diluncurkan.
Menteri BUMN Dahlan Iskan meluncurkan mock up monorel di Kantor Pusat INKA Madiun Jawa Timur, Senin (6/5/2013). Monorail ini rencananya akan beroperasi di Jakarta dan sekitarnya dengan rute tahap 1 adalah Bekasi - Cawang, Cibubur- Cawang, dan Cawang - Kuningan.
● detikFoto

Posted in: Foto,Indonesia Teknologi,INKA,Transportasi
Jaringan Monorel Jabodetabek Butuh Rp 7 Triliun
Madiun - Untuk membangun jaringan monorel Jabodetabek yang rencananya dibangun oleh konsorsium BUMN membutuhkan biaya hingga Rp 7 triliun. Pembiayaan proyek itu berasal dari konsorsium BUMN dan pinjaman bank pemerintah.
"Butuh Rp 7 triliun untuk membangun jaringan monorel Jabodetabek. Pembangunan proyek itu ditargetkan rampung dalam dua tahun," ujar Menteri BUMN Dahlan Iskan di sela-sela peluncuran mock-up (produk contoh) monorail di Madiun, Jawa Tengah, Senin (6/5) siang.
Penandatangan produk contoh dan pembiayaan juga dihadiri oleh Wakil Menhub Bambang Susantono, para direksi PT Bank Mandiri, INKA, Adhi Karya, Telkom, Jasa Marga dan sejumlah BUMN lainnya.
Dahlan optimistis, pembangunan jaringan monorel dari Cibubur-Bekasi Timur hingga Pancoran akan tepat waktu. Setelah Perpres di tandatangani Presiden maka konsorsium sudah bisa langsung action di lapangan.
"Yang buat gerbongnya sudah ada PT INKA. Sementara yang bangun rel ada Adhi Karya dan penyedia dana adalah Bank Mandiri. Ini sudah klop kan?" ujar Dahlan.
Sebanyak 7 BUMN diluar perbankan untuk pengembangan kamajuan transportasi terutama yang ramah sosial dan lingkungan. Juga menyampaikan kepada publik atas kesiapan fisik produk moda monorail yang digagas dan dioperasikan konsorsium BUMN.
Sementara untuk membangun monorel di Bandara Soetta membutuhkan biaya sekitar Rp 2,5 triliun. Sementara monorel untuk transportasi kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak mencapai Rp 3,5 triliun.
● Berita Satu

Posted in: INKA,Transportasi
★ [Foto] Melonggok Pabrik Kereta Api Madiun
Sejak tahun 1981 PT Indonesia Kereta Api telah beroperasi di tanah seluas 22,5 Hektar para pekerja terus menyelesiakan pesanan Kereta Api. INKA telah memproduksi ribuan kereta api untuk Indonesia, Selasa (7/5/2013).
Dua orang penkerja sedang menyelesaikan pengerjaan sabungan gerbong yang hampir selesai.
Sasis gerbong KA juga dikerjakan disini.
Begini cara produksi Kereta Api sebagai salah satu sarana alternatif moda transportasi di Indonesia.
Dengan luas pabrik 22,5 Hektar para pekerja terus menyelesiakan pesanan Kereta Api.
Pengerjaan Kereta Api ini di lakukan oleh putra-putri terbaik Indonesia.
Diharapkan dengan berkembangnya industri tranportasi INKA dapat menjawab tantangan dari masyarakat untuk terus mengembangkan karya-karyanya.
● detikFinance

Posted in: Foto,Indonesia Teknologi,INKA,Transportasi
★ [Foto] Kereta Api Buatan Indonesia
PT INKA persero merupakan salah satu badan usaha milik negara yang memproduksi Kereta Api Indonesia sejak tahun 1981. Proses dan kegiatan produksi Kereta Api baik untuk kebutuhan dalam dan luar negeri pun terus dilakukan disini, Selasa (7/5/2013).
Sejak awal, PT INKA memang dikenal sebagai produsen lokomotif bertenaga uap di tahun 1981, kini seiring perkembangan jaman semua itu berubah menjadi lebih modern.
Salah satu gerbong terbaru untuk kereta ekonomi AC yang sudah mulai di operasikan juga berasal dari sini.
PT INKA juga memproduksi lokomotif diesel.
Sedikitnya seluruh Kereta Rel Diesel di seluruh Indonesia keluaran PT INKA persero.
Yang terbaru adalah monorail kontainer yang akan digunakan untuk mengangkut barang di Pelabuhan Tanjung Perak ini dikelola oleh Pelindo III.
Yang menghebohkan, ternyata PT INKA juga mampu memproduksi monorel yang sangat dibutuhkan untuk moda taranportasi masal di kota-kota besar.
● detikFinance

Posted in: Foto,Indonesia Teknologi,INKA,Transportasi
INKA Berpeluang Pasok Kereta ke Afrika Selatan
| Ilustrasi |
Peluang INKA ini mengulang rencana serupa BUMN lainnya yaitu PT Wijaya Karya (Persero) yang akan membangun 2.000 unit rumah tapak di Afsel.
"Setelah sukses dengan kerjasama di bidang konstruksi, ada lirikan pemerintah Afrika Selatan dalam pembangunan gerbong kereta api oleh INKA baik untuk pembuatan gerbong kereta penumpang maupun kargo atau barang. Nanti akan dibicarakan lebih detil," ungkap Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan Sjahril Sabaruddin saat ditemui di Trade Expo Indonesia 2013 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Jumat (18/10/2013).
Menurut Sjahril pada 2020 Afrika Selatan mempunyai program pengangkutan berbasis kereta api. Hal ini karena moda transportasi kereta api jauh lebih murah dan cepat dengan harga perawatan jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan transportasi berbasis jalan raya.
"INKA ini kita bertemu dengan mereka dan kita kembangkan. Investasi Afrika Selatan dari pinjaman Prancis. Mereka melakukan ini karena ada proyek pengembangan kereta api. Mereka ada kebijaksanaan baru di tahun 2020 yaitu pengangkutan berbasis kereta api. Berdasaarkan penilai meereka pemeliharaan jalan raya jauh lebih mahal," imbuhnya.
Tetapi ada beberapa syarat yang diminta oleh pemerintah Afrika Selatan. INKA nantinya diharapkan harus mentrasfer teknologi kepada Afrika Selatan. Selain itu, kandungan lokal gerbong kereta api yang dibuat harus lebih tinggi bila dibandingkan yang INKA buat.
"Jadi misalnya kandungan lokal dari Afrika Selatan itu harus tinggi bila Indonesia misalnya 60:40. Kemudian INKA juga harus transfer teknologi. Itu beberapa syarat yang diajukan oleh pemerintah Afrika Selatan," katanya.
Selama ini, pemerintah Afrika Selatan tidak ragu untuk menggunakan produk asal Indonesia. Contohnya banyak mobil yang digunakan oleh orang Afsel diimpor dari Indonesia.
"Jalanan Afsel itu penuh dengan mobil dari Indonesia. Sebut saja Innova dan Avanza. Bahkan di tahun 2012 Avanza kita yang ada di sana ada 48.000 unit sedangkan 18.000 unitnya adalah Innova," katanya.(wij/hen)
● detikFinance

Posted in: INKA
Menhub Jonan Sindir Kualitas Kereta Made in Madiun
Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan menyindir kualitas kereta listrik (KRL) yang diproduksi dan dikembangkan oleh PT Industri Kereta Api (INKA), Madiun, Jawa Timur (Jatim).
Produk KRL buatan INKA pernah dipesan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebanyak beberapa unit, namun rangkaian kereta mengalami masalah padahal masih berusia muda. Kondisi ini berpotensi mengganggu aspek keselamatan.
"Ada yang nggak jalan. Saya nggak ngerti bagaimana proses pengembangannya," kata Jonan di Kemenhub, Jakarta, Senin (27/7/2015).
Armada KRL ini saat ini dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek. Sindirian Jonan bukan tanpa dasar karena pengadaan KRL buatan INKA justru menggandeng produsen kereta kelas dunia asal Jerman, Bombardier. Dengan menggandeng produsen kelas dunia, produk kereta INKA seharusnya memiliki kualitas tinggi dan tidak bermasalah.
"Pembangunan kereta listrik itu dengan konsorsium Bombardier. Kemudian dibayai oleh Bank Exim Jerman," ujarnya.
Kemenhub akan menetapkan standar ketat terhadap kualitas dan keselamatan armada kereta yang dipesan. Meskipun ada regulasi yang meminta unsur lokal diutamakan namun Jonan lebih melihat pada aspek keselamatan dan kualitas.
"Memang ada regulasi soal kandungan lokal namun saya juga akan minta Perpres soal keselamatan," ujarnya.
Keselamatan transportasi, kata Jonan, adalah hal utama yang tidak bisa ditawar.
"Keselamatan publik nggak boleh dikorbankan. Kalau harus ada TKDN (kandungan lokal) yang besar saya sepakat, cuma nggak boleh diabaikan, aspek keselamatan. Kita nggak pernah bisa tukar nyawa orang ilang. Uang bisa dicari triliunan. Satu hari kena orang terdekat kita kena musibah, kita akan tahu perasaannya," katanya. (feb/hen)
★ detik
Posted in: BUMNIS,INKA,Transportasi
Kereta Made in Madiun
Jonan Sindir Kualitas Kereta Made in Madiun, Ini Kata INKA Kualitas dan standar keselamatan Kereta Rel Listrik (KRL) produksi dalam negeri disindir oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan. KRL yang disindir tersebut dibuat dan dikembangkan oleh PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA di Madiun, Jawa Timur.
Lantas bagaimana penjelasan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kereta api tersebut?
General Manager Perencanaan dan Afffair INKA, I Ketut Astika membenarkan bila KRL yang dipesan oleh Kemenhub mengalami masalah teknis. Kereta yang dioperasikan untuk KRL Commuter Jabodetabek itu, kini sedang menjalani proses investigasi di Jerman.
"Sedang proses investigasi dan perbaikan," kata Ketut kepada detikFinance, Selasa (28/7/2015).
KRL yang dipermasalahkan berjenis KRL KFW. KRL tersebut diproduksi atas kerjasama antara INKA dengan produsen kereta dunia asal Jerman, Bombardier. Permasalahan terjadi pada gearbox.
Fungsi gearbox pada kereta, ujar Ketut, sama dengan fungsi gardan pada mobil yakni sebagai penerus gaya. Lanjut Ketut, permasalahan gearbox yang menimpa KRL produksi bersama tersebut hanya terjadi di Indonesia.
"Masalah utama yang terjadi saat ini, ada pada gearbox yang disuplai oleh Bombardier. Bombardier tetap bertanggung jawab atas masalah ini," ujarnya.
Ketut meminta maaf karena proses investigasi dan perbaikan memakan waktu relatif lama. Gearbox harus dibawa ke Jerman, akibatnya proses perbaikan KRL memakan waktu.
"Untuk proses investigasi dan perbaikannya, gearbox harus dikirim ke Jerman. Itu yang membuat masalah ini belum bisa diatasi langsung," ujarnya.
Seperti diketahui, Kemenhub membeli 9 trainset atau rangkaian KRL produksi lokal dari INKA. 1 trainset terdiri dari 4 unit kereta.
Kemudian, Kemenhub menghibahkan KRL made in Madiun tersebut kepada anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Beberapa unit rangkaian KRL KFW kini dipakai untuk melayani warga Jabodetabek.Pertama di ASEAN, KRL Made in Madiun Dirancang Sejak 1990 PT Industri Kereta Api (Persero) atau disingkat INKA merupakan satu-satunya produsen kereta di tanah air, bahkan di Asia Tenggara. Salah satu produk yang dihasilkan ialah Kereta Rel Listrik (KRL).
KRL produksi anak bangsa tersebut kini telah dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) untuk melayani warga Jabodetabek. KCJ mengoperasikan 2 jenis KRL, yakni KRL produksi INKA dan KRL bekas dari Jepang.
Meski masih disorot soal kualitas, tapi KRL anak bangsa yang memiliki sejarah relatif panjang itu patut diapresiasi.
General Manager Perencanaan Perusahaan dan General Affair INKA, I Ketut Astika menyebut proses pengembangan KRL oleh insinyur INKA dimulai sejak tahun 1990-an.
"Pengembangan KRL di INKA dimulai sejak tahun 1990-an bekerjasama dengan Hyundai," kata Ketut kepada detikFinance, Selasa (28/7/2015).
Setelah keduanya melakukan kerja sama pengembangan KRL. INKA selanjutnya melakukan kerja sama transfer of technology untuk pengembangan KRL dengan BN-Holec PAK, perusahaan gabungan asal Jerman dan Belanda.
Kerjasama dengan BN-Holec PAK ini kemudian melahirkan KRL non AC pertama produksi lokal bernama KRL BN-Holec. KRL tipe ini telah diproduksi puluhan trainset.
Kerjasama pengembangan KRL tidak berhenti sampai di situ. INKA lalu menggandeng produsen kereta asal Jepang yakni Hitachi.
Baru pada tahun 2000, INKA mampu secara mandiri memproduksi KRL buatan sendiri. KRL ini selanjutnya diberi nama KRL-I.
"Kerjasama dengan Hitachi sampai akhirnya tahun 2000 kita mengembangkan KRL sendiri disebut KRL-I. Sejak itu belum ada order lagi dari Kemenhub," ujarnya.
INKA baru menerima order pembuatan KRL pada periode tahun 2010. Kementerian Perhubungan memesan kereta jenis KRL KFW yang diproduksi oleh INKA bersama Bombardier, Jerman. Selanjutnya, KRL jenis inilah yang disindir oleh Menhub Ignasius Jonan.
"Sampai dengan tahun 2010 baru ada order yang disebut KRL KFW. Di sini kita bekerjasama dengan Bombardier Jerman," ujarnya.
Kemampuan INKA memproduksi kereta bisa menjadi angin segar bagi kemajuan teknologi transportasi tanah air meskipun masih ada tantangan.
Produk kereta INKA seperti: Kereta Rel Diesel Electric (KRDE), Kereta Diesel Indonesia (KRD-I), Kereta Diesel, KRL, Rail Bus, Lokomotif Diesel Hidraulic (Loko DH), kereta penumpang dan barang, monorel hingga bus gandeng (TransJakarta).
"INKA adalah satu-satunya industri kereta api di Asia Tenggara. Bukan hanya produksi KRL, termasuk kereta lain masih satu-satunya di Asia Tenggara," ujarnya.Penampakan Kereta Listrik Made in Madiun PT Industri Kereta Api (Persero) atau disingkat INKA merupakan satu-satunya produsen kereta di tanah air, bahkan di Asia Tenggara atau ASEAN. Salah satu produk yang dihasilkan dari pabrik mereka di Madiun Jawa Timur ialah Kereta Rel Listrik (KRL) yang kini dipakai di dalam negeri yaitu KRL KFW.
KRL produksi anak bangsa tersebut kini telah dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) untuk melayani warga Jabodetabek. KCJ mengoperasikan 2 jenis KRL, yakni KRL produksi INKA dan KRL bekas dari Jepang.
Meski masih disorot soal kualitas oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan, tapi KRL anak bangsa yang memiliki sejarah relatif panjang itu patut diapresiasi.
Proses pengembangan KRL oleh insinyur INKA dimulai sejak tahun 1990-an bekerjasama dengan Hyundai.
Setelah keduanya melakukan kerja sama pengembangan KRL. INKA selanjutnya melakukan kerja sama transfer of technology untuk pengembangan KRL dengan BN-Holec PAK, perusahaan gabungan asal Jerman dan Belanda.
Kerjasama dengan BN-Holec PAK ini kemudian melahirkan KRL non AC pertama produksi lokal bernama KRL BN-Holec. KRL tipe ini telah diproduksi puluhan trainset.
Kerjasama pengembangan KRL tidak berhenti sampai di situ. INKA lalu menggandeng produsen kereta asal Jepang yakni Hitachi. Baru pada tahun 2000, INKA mampu secara mandiri memproduksi KRL buatan sendiri. KRL ini selanjutnya diberi nama KRL-I.
INKA baru menerima order pembuatan KRL pada periode tahun 2010. Kementerian Perhubungan memesan kereta jenis KRL KFW yang diproduksi oleh INKA bersama Bombardier, Jerman.
Produk kereta INKA antara lain Kereta Rel Diesel Electric (KRDE), Kereta Diesel Indonesia (KRD-I), Kereta Diesel, KRL, Rail Bus, Lokomotif Diesel Hidraulic (Loko DH), kereta penumpang dan barang, monorel hingga bus gandeng (TransJakarta).
Berikut penampakan kereta listrik buatan PT INKA (Foto: PT INKA, jenis KRL KfW), antara lain:
★ detik

Posted in: INKA,Transportasi
PT INKA Garap Kereta Rp 700 Miliar Pesanan Bangladesh
★ Memproduksi 150 kereta penumpang Pembuatan gerbong kereta di pabrik PT Industri Kereta Api (INKA). [TEMPO/Ishomuddin] ☆
PT Industri Kereta Api (Persero) di Madiun, Jawa Timur, sedang menggarap 150 kereta penumpang yang dipesan pemerintah Bangladesh. Pengadaan kereta dengan nilai kontrak sekitar Rp 700 miliar itu berhasil didapat PT INKA setelah memenangkan tender yang juga diikuti perusahaan CNR Tangshan and CSR Nanjing Puzhen dari Cina dan Rites India dari India pada 2006.
"Sistem pengadaannya multi years pada 2015 hingga 2016," kata Humas PT INKA (Persero) Fathor Rosid, Jumat, 20 November 2015.
Sejak Januari 2015, menurut Rosid, PT INKA mulai memproduksi kereta pesanan kereta penumpang dari Bangladesh. Adapun tipe yang diproduksi adalah meter gauge (MG) sebanyak 100 unit dan 50 board gauge (BG).
Menurut Rosid, kedua tipe kereta itu memiliki beberapa perbedaan, satu di antaranya lebar trek atau jarak rel yang akan digunakan. Tipe MG akan digunakan pada rel dengan lebar 1.000 milimeter sedangkan BG pada rel dengan lebar 1.676 milimeter.
Selain itu, kapasitas penumpang untuk kereta tipe MG sebanyak 55-60 kursi, baik ber-air conditioned (AC) ataupun tidak. Sedangkan tipe BG memiliki kapasitas 90 tempat duduk baik untuk yang memiliki fasilitas pendingin ruangan atau tidak.
Manajer Senior PT INKA Cholik Mochamad Zamzam mengatakan pihaknya telah menggarap kereta yang dipesan Bangladesh sejak Januari 2015. Sesuai rencana, 15 rangkaian moda transportasi darat itu mulai dikirim pada Januari tahun depan.
"Sebelas kereta jenis kereta penumpang tanpa pendingin ruangan, dua kereta makan, satu kereta pembangkit, dan satu kereta tidur non-AC," kata Cholik.
Menurut Cholik, pengiriman 15 kereta pada awal 2015 sudah mulai dipersiapkan PT INKA. Salah satu upayanya dengan menghadirkan pihak Bangladesh Ministry of Railways dan Bangladesh Railways. Kunjungan mereka untuk melihat produksi ke PT INKA telah berlangsung dua kali, pertama pada Januari lalu dan Jumat, 20 November 2015.
☠ Tempo

Posted in: INKA,Transportasi
RI Masih 100% Impor Rel Kereta Api
Industri Baja Ada, Tapi Belum Bisa Bikin Rel Dewasa ini banyak bermunculan moda transportasi baru yang juga berbasis rel seperti kereta cepat, kereta rel tunggal alias monorail hingga kereta ringan (LRT/Light Rail Transit).
Sejalan dengan perkembangan tersebut, dibutuhkan lebih banyak industri yang memproduksi komponen-komponen perkerta apian untuk menunjang keberadaan moda transportasi ini.
Untuk itu, Kementerin Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika menggelar serangkaian acara seminar berjudul Seminar nasionl Industri Penunjang Perkeretaapian di Crown Hotel, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
Seminar ini mengulas berbagai peluang pembukaan industri baru sektor produksi komponen sejalan dengan perkembangan industri perkereta apian yang kian berkembang baik dari jenis moda transportasinya hingga teknologi yang digunakannya.
"Jadi tidak hanya rel, gerbong, dan keretanya saja yang diproduksi, tapi banyak komponen penunjangnnya. Hampir seluruh industri dapat menunjang kereta api. Industri ini yang harus di identifikasi oleh kita dimana potensi pasar yang besar," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan dalam sambutannya pada seminar tersebut.
Putu mengidentifikasi, ada sejumlah industri yang sudah dimiliki Indonesia dan bisa ditingkatkan kapasitasnya untuk menunjang sektor perkeretaapian. Contohnya, lanjut dia, adalah Industri baja untuk membuat rel kereta api.
"Industri baja kita ada. Tapi untuk membuat rel belum ada yang memikirkan dan belum bisa bikin. Karena tidak ada identifikasi itu. Jika sudah di lakukan identifikasi, pasti buat rel kita bisa," paparnya.
Lalu, ada Industri permesinan. Mesin juga memiliki berbagai jenis. Jika ini di identifikasi maka banyak industri penunjang permesinan untuk kereta yang bisa dikembangkan.
"Mesin penunjang kan banyak ada mesin air condition (penyejuk ruangan), mesin motor penggeraknya. Semua ini diperlukan permesinan dan identifikasi juga" jelasnya.
Selain itu, kata dia, industri yang memproduksi alat-alat penunjang lain seperti elektornik persinyalan, tempat penyedian solar sell ditempat-tempat terjangkau perlu dipikirkan juga.
Saat ini sebenarnya Indonesia sudah memiliki PT Industri Kereta Api (INKA) yang punya tugas khusus memproduksi kereta dan perlengkapannya. "Tapi, karena industri penunjang belum ada kinerja PT INKA kurang maksimal," kata dia.
Lewat seminar ini, diharapakan dapat dihasilkan satu kesimpulan yang dapat dijadikan acuan untuk membangkitkan industri-industri yang sudah ada dan mensinergikannya dalam satu kegiatan industri saling berkaitan.
"Dengan terintegrasinya indusri penunjang dan industri pabrikasi maka potensial industri kereta api bisa dikerjakan secara nasional," tutur dia.
Hadir dalam seminar ini sebagai pembicara diantaranya Direktur Sarana Perkeretaapian Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugihartiman dan Manager Pengembangan Bisnis PT INKA, Agung Sedayu.RI Baru Bisa Kuasai 40% Komponen Kereta Api Perkembangan industri perkeretaapian di Indonesia telah dimulai pada 1867 atau 148 tahun sejak era Hindia Belanda. Hingga periode kemerdekaan sampai saat ini Indonesia masih belum bisa memproduksi 100% komponen kereta api.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) alias komponen produksi dalam negeri dalam satu unit kereta di Indonesia masih kurang dari 50%. Sebagian besarnya masih mengandalkan barang impor hingga 60%.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) I Gusti Putu Suryawirwan menyebutkan, dengan industri yang ada saat ini, komponen penunjang yang bisa diproduksi di dalam negeri baru mencapai 40% dari keseluruhan komponen untuk membuat satu unit kereta utuh.
"Kalau dilihat secara umum lebih dari 40% komponen lokal untuk kebutuhan kereta api ini bisa kita penuhi," ujar Putu dalam seminar soal industri kereta di Hotel Crown, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
Sebanyak 40% komponen tersebut berupa gerbong kereta api yang diproduksi oleh PT INKA. Selain itu, peralatan elektronik, persinyalan dan telekomunikasi dibuat oleh PT LAN. Komponen seperti mesin, roda kereta hingga rel kereta masih mengandalkan produk Impor dari berbagai negara seperti China, Jepang dan Eropa.
Angka komponen lokal di kereta bisa ditingkatkan lagi jauh lebih besar bahkan mendekati 100%. Sayangnya, saat ini hal tersebut belum bisa dilakukan.
Ia menjelaskan, untuk menciptakan industri yang perkeretaapian yang besar sangat bergantung pada perencanaan pengembangan perkeretaapian. Komponen penunjang perekeretaapian ini termasuk dalam kategori industri penghasil barang modal yang jumlah diproduksinya tidak mungkin melebihi dari kebutuhan.
"Makanya kita butuh gambaran yang jelas tentang rencana pengembangan kereta api ke depan. Jumlahnya berapa, peruntukannya bagaimana, spesifikasinya seperti apa. Sehingga, kemampuan supply itu harus sesuaikan dengan rencana kebutuhan. Sekarang kita belum punya (rencana kebutuhan kereta api)," katanya.
Menurutnya, perlu dibuat semacam perencanaan kebutuhan untuk menghitung spesifikasi apa saja yang dibutuhkan di industri perkeretaapian. Sehingga bisa diketahui industri apa saja yang bisa dikembangkan secara maksimal di dalam negeri dan komponen impor bisa berkurang.
"Yang akan kita kembangkan ke arah mana. Meskipun tidak 100% tapi bisa dipenuhi industri dalam negeri," kata Putu.RI Masih 100% Impor Rel Kereta Api Rel adalah kompoenen penting dalam beroperasinya sebuah kereta. Tanpa landasan baja ini, sehebat apa pun sebuah kereta tak bisa berfungsi. Indonesia sebagai negara pengguna moda transportasi kereta, tak memiliki satu pun industri yang memproduski Rel.
Demikian disampaikan Direktur Sarana Perkeretaapian Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Yugihartiman dalam acara seminar berjudul Seminar nasional Industri Penunjang Perkeretaapian di Crowne Plaza, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
"Belum ada industri yang bikin (produksi rel kereta). Kita masih impor dari China, Jepang, dan Eropa Timur," kata Yugi.
Kalangan usaha masih enggan menggarap industri ini karena mereka belum mendapat kepastian perihal keberlangsungan pembangunan kereta di tanah air. Apa lagi, pembuatan rel kereta adalah industri skala besar yang melibatkan volume bahan baku dan produksi dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga membutuhkan kepastian pasar.
"Nanti kalau dibuat, tapi tidak ada pasarnya, susah juga," sambungnya.
Dampak dari ketergantungan impor, peningkatan kualitas rel yang ada pun masih belum bisa dilakukan menyeluruh. Saat ini masih banyak rel kereta di Indonesia yang merupakan peninggalan Belanda dengan spesifikasi yang sudah usang.
Rel kereta peninggalan zaman Belanda, memiliki spesifikasi R33 atau rel yang setiap potongnya memiliki berat 33 kg. Rel ini memiliki ukuran yang relatif kecil.
"Sehingga tidak bisa digunakan untuk kereta api berkecepatan tinggi," jelas Yugi.
Di zaman seperti saat ini, Indonesia membutuhkan rel dengan spesifikasi yang lebih tinggi. Yugi menyebut, yang dibutuhkan Indonesia adalah rel dengan spesifikasi R54. Rel jenis ini sudah mulai digunakan. Misalnya untuk jalur rel ganda lintas Jawa, sebanyak 80-90% sudah menggunakan rel spesifikasi R54 yang berasal dari impor.
"Hanya beberapa lintas cabang yang masih menggunakan rel lama," kata Yugi.
Latar belakang ini membuat Pemerintahan Presiden Joko Widod (Jokowi) giat mendorong berbagai pengembangan perkeretaapian dari mulai Kereta Api, Monorail, Kereta Ringan alias LRT hingga kereta cepat. Bukan hanya di Pulau Jawa, tetapi mulai dibuat rintisanya di berbagai pulau di Indonesia.
"Sampai 2019 ada Trans Sumatera, Kalimantan dan Papua. Investasi di atas Rp 300 triliun dalam pengembangan infrastruktur," katanya.
Dengan cara ini, diharapkan ada stimulus bagi kalangan Industri untuk mau menggarap industri penunjang perkeretaapian terutama rel kereta karena melihat keseriusan pemerintah yang mau membangun kereta api secara besar-besaran.
Contoh proyek kereta yang memakai rel impor adalah Trans Sulawesi. Jalur kereta api rute Trans Sulawesi Makassar-Pare Pare panjang 145,23 km. (dna/hen)
☠ detik

Posted in: Ilmu Pengetahuan,INKA,Transportasi
RI Ingin Kuasai Kereta Cepat
Sekelas Shinkansen dalam 15 Tahun Berbagai proyek moda transportasi berbasis rel mulai dikerjakan tahun ini seperti MRT, LRT dan lainnya. Proyek-proyek ini diharapkan menstimulus berdirinya industri-industri komponen kereta di dalam negeri.
Saat ini Indonesia mampu membuat kereta melalui PT INKA untuk kereta KRL maupun diesel. Harapannya dalam periode 15 tahun ke depan, teknologi kereta yang lebih tinggi seperti kereta cepat, bertahap mulai dikuasai oleh para anak bangsa.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Gusti Putu Suryawirwan mengungkapkan, pihaknya punya cita-cita industri perkeretaapian tanah air bisa memproduksi kereta nasional yang hasilnya bisa dipasarkan di pasar internasional atau diekspor Bahkan INKA sempat memenangkan tender pengadaan kereta oleh Bangladesh.
"Itu cita-cita kami. Kita bawa dan promosikana KA kita keluar (internasional)," kata Putu dalam Seminar di Crowne Plaza, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
Pihaknya mengumpulkan berbagai kalangan untuk berbagi saran dan pengetahuan untuk pengembangan perkeretaapian nasional dalam acara bertajuk Seminar Nasional Industri Penunjang Kereta Api. Saat ini, Kemenperin belum banyak tahun soal informasi pengembangan teknologi perkeretaapian.
"Kami, Kemenperin saat ini sangat miskin informasi industri perkeretaapian. Sebab itu, diskusi ini mampu membuat identifikasi untuk kemandirian kita menunjang bisnis kereta api ini betul-betul berkembang dan lebih banyak diisi industri dalam negeri," kata Putu.
Menurutnya, bila Indonesia serius mengembangkan industri komponen dan penunjang perkeretaapian maka dalam 10-15 tahun ke depan industri kereta api nasional bisa memiliki Produk Kereta Api yang bisa disejajarkan dengan kereta cepat Shinkansen Jepang.
"Kalau bisa, 10-15 tahun lagi PT KAI sudah bisa menawarkan (ke pasar internasional), ayo kalo mau buat monorel kita sudah mampu. Kita juga bisa sejajar dengan Shinkansen. Dimana dibelakang PT KAI pasukan industri penunjang kita siap," ujarnya. (dna/hen)
☠ detik

Posted in: BUMN,Ilmu Pengetahuan,INKA,Transportasi
INKA Akan Bangun Pabrik Rp 1,2 Triliun
Masih Seleksi Mitra Investor Lokomotif dan kereta produksi PT Industri Kereta Api (Persero). (Dok. Kementerian BUMN) ☆
PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA masih menyeleksi calon investor yang akan dijadikan mitra pembangunan pabrik perakitan baru di Gresik, Jawa Timur. Pabrik yang akan dikhususkan memproduksi kereta diesel dan listrik tersebut diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp 1,2 triliun.
Apabila pabrik tersebut bisa berdiri, Spesialis Senior Pengembangan Bisnis INKA Heru Sulistiyo mengatakan pabrik di Madiun yang selama ini beroperasi akan dikhususkan membuat kereta penumpang dan gerbong barang.
“Investasinya sekitar Rp 1,2 triliun, tapi itu nanti tergantung proyeknya seperti apa,” kata Heru di Jakarta, Rabu (25/11).
Ia menuturkan, INKA akan memanfaatkan lahan seluas 55 hektare yang telah dihibahkan perusahaan pelat merah lainnya yaitu PT Garam (Persero). Lahan tersebut menurut Heru merupakan aset PT Garam yang sudah tidak produktif, sehingga dinilai manajemen akan lebih bermanfaat jika digunakan oleh INKA.
Terkait dengan mitranya nanti, Heru belum bisa memastikan apakah investor asing atau lokal yang akan mereka gandeng. Namun menurut Heru, sangat terbuka kesempatan bagi investor asing untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik tersebut. Karena manajemen tidak membatasi diri hanya mencari mitra lokal.
“Partnernya kami pilih yang credible, cuma belum bisa saya buka sekarang,” ujarnya.
Target Produksi
Dalam rencana manajemen INKA, pabrik Gresik akan mampu menghasilkan 133 kereta penggerak per tahun. Namun sebelum pabrik tersebut selesai, maka pembuatan kereta penggerak masih dikerjakan di Madiun.
INKA sendiri saat ini mampu memproduksi 300 kereta penumpang per tahun, 80 kereta listrik dan diesel per tahun, dan 500 rangka kereta per tahun. (gen)
☠ CNN

Posted in: BUMN,INKA,Transportasi
PT Inka Produksi Lokomotif DH CC-300 Pesanan Pemerintah
♙ Nilai kontrak pembuatan lima unit lokomotif tipe DH CC-300 mencapai Rp 40 Miliar. Kereta Rel Diesel Indonesia produksi PT Inka [inka.co.id] ♙
PT Industri Kereta Api (INKA) di Kota Madiun, Jawa Timur, saat ini sedang menggarap lima unit lokomotif tipe DH CC-300 pesanan dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan dengan nilai kontrak masing-masing Rp 40 miliar.
"Kontrak tersebut kami dapatkan pada tahun 2012 dan diserahkan ke Kementerian Perhubungan pada tahun 2014, dengan nilai kontrak tiap lokomotif sekitar Rp 40 miliar," ujar Senior Manager Secretary, Public Relations, dan CSR, PT INKA, Cholik Mochamad Zam Zam, di Madiun, Jumat (26/2/2016).
Menurut dia, lokomotif tersebut didesain murni untuk Indonesia, mulai dari warnanya yang merah dan putih, serta karakter mesinnya yang sesuai dengan kondisi tanah air.
Dua dari lokomotif pesanan tersebut akan dikirim ke Medan, Sumatra Utara, dan Palembang, Sumatra Selatan, untuk digunakan sebagai kereta kerja guna mendukung pengerjaan proyek Kementerian Perhubungan di daerah tersebut.
"Sehingga pembangunan sarana dan prasarana perkeretaapian di Medan dan Palembang akan lebih cepat dan hemat biaya," kata Cholik.
Adapun, lokomotif yang untuk Medan, saat ini sudah berada di Surabaya dan akan tiba di Medan sekitar 10 Maret mendatang. Sementara untuk Palembang akan dikirim menyusul setelah itu.
Sedangkan, tiga lokomotif dari pesanan yang tersisa, untuk sementara dititipkan oleh pihak Kementerian Perhubungan di PT INKA hingga menunggu lokomotif tersebut digunakan.
Cholik menjelaskan, secara spesifikasi, lokomotif CC-300 memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan lokomotif lainnya seperti tipe diesel elektrik (DE) CC-204. Di antaranya, dibuat untuk tahan banjir.
CC-300 memiliki sistem kelistrikan yang terintegrasi dengan penggerak diesel hidrolik yang diletakkan di bagian atas lokomotif, sehingga kereta tetap dapat melaju meski rel tergenang air setinggi 1 meter.
"Selain itu, lokomotif CC-300 juga memiliki mesin sendiri dan mesin cadangan. Sehingga saat digunakan dalam rangkaian kereta api, tidak lagi memerlukan kereta pembangkit," terang Cholik.
Ia menambahkan, secara umum, saat ini PT INKA tidak hanya memproduksi lokomotif, namun juga kereta atau gerbong pesanan dari PT KAI dan juga negara asing.
Di antaranya 150 unit gerbong penumpang pesanan Bangladesh yang nilai kontraknya mencapai 72 juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 900 miliar, kereta kedinasan, dan juga kereta ekonomi (K3) serta kereta eksekutif (K1) pesanan PT KAI.
"Pesanan PT KAI merupakan kereta yang akan digunakan untuk angkutan Lebaran tahun 2016. Ini sedang digarap," kata dia. (Antara)
♙ suara

Posted in: Ilmu Pengetahuan,INKA,Transportasi
RI-Mesir Bahas Potensi Kerja Sama Industri
Pembuatan gerbong kereta di pabrik PT Industri Kereta Api (INKA). TEMPO/Ishomuddin ★
Negara anggota Developing Eight (D-8), termasuk Indonesia, telah memanfaatkan kerja sama internasional untuk meningkatkan pengembangan industri di tingkat bilateral. “Kami telah melakukan pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzi," kata Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono lewat siaran pers diterima di Surabaya, Kamis, 12 Mei 2016.
Sigit mengatakan, pertemuan tersebut banyak membahas berbagai potensi kerja sama di bidang industri antara Indonesia dan Mesir secara bilateral, baik yang sedang di inisiasi maupun yang berpotensi akan menguntungkan kedua negara.
Salah satu pembahasan yang cukup mendapat perhatian adalah rencana kerja sama PT Industri Kereta Api (INKA) dengan perusahaan BUMN di Mesir yang saat ini masih dalam tahap negosiasi.
“PT. INKA berencana mengadakan kontrak kerja sama industri maupun perdagangan dengan salah satu BUMN terkemuka di Mesir, untuk pengadaan gerbong kereta api dan kepala truk, serta membangun fasilitas perawatan dan perbaikannya di Mesir,” papar Sigit.
Dubes RI untuk Mesir dan Dirjen KPAII bersama-sama menyepakati untuk memberikan dukungan penuh agar kerja sama bilateral dapat terwujud dalam waktu dekat. Selain itu, dilakukan pula kerja sama bantuan teknis dan transfer teknologi sebagai tahap lanjutan dari kerjasama tersebut yang ditujukan untuk menjamin akses pasar produk PT. INKA ke pasar Mesir dan negara-negara sekitarnya.
★ Tempo

Posted in: Industri,INKA,Kerjasama
15 Kereta Diekspor ke Bangladesh
Made in Madiun [Imam Wahyudiyanta] ★
Indonesia melakukan ekspor kereta penumpang ke Bangladesh. Untuk tahap awal, sebanyak 15 kereta penumpang dikirim ke Bangladesh.
Total kontrak pengadaan kereta untuk Bangladesh sebanyak 150 kereta penumpang. Kereta penumpang pesanan Bangladesh Railway tersebut adalah buatan PT INKA (Persero).
Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro menyambut positif langkah INKA. Menurut Bambang, INKA mampu mencari celah pasar di luar Indonesia untuk memasarkan produknya.
"Tidak hanya bergantung domestik, tetapi juga mengejar pasar luar negeri, ekspor," ujar Bambang dalam acara pelepasan ekspor tahap pertama gerbong kereta INKA dan peluncuran Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor (KURBE) di Dermaga Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Kamis (31/3/2016).
Proses ekspor kereta ke Bangladesh (Imam Wahyudiyanta/Detik)
Bambang berpesan agar produsen kereta yang bermarkas di Madiun Jawa Timur tersebut memperhatikan kualitas dan kuantitas kereta.
Bambang menambahkan, pembuatan kereta penumpang ekspor ini pendanaannya berasal dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank melalui penugasan khusus/National Interest Account (NIA) sebesar Rp 300 miliar.
"150 kereta penumpang ini secara bertahap akan dikirim ke Bangladesh hingga akhir tahun," lanjut Bambang.
Selain ekspor, hal terpenting lain dari proyek ini adalah multiplier effect yang ditimbulkan. Industri dalam negeri dan UMKM mendapat keuntungan dengan terlibat dalam pembuatan kereta penumpang ekspor ini.
Di tempat yang sama, Direktur Utama INKA, Agus H. Purnomo mengatakan nilai kontrak pembelian 150 kereta penumpang ini sebesar US$ 72,3 juta. Tingkat kandungan lokal dalam pembuatan kereta ini sampai 70%.
Contoh kandungan lokal yang digunakan antara lain rem dari PT Pindad (Persero), besi cor dari PT Barata (Persero), dan plat dari PT Krakatau Steel Tbk.
"Tingginya kandungan lokal mampu menggerakkan setor riil dan manufaktur di dalam negeri," kata Agus.
Pengiriman kereta barang ini diangkut menggunakan MV Seiyo Spring. Pemuatan gerbong kereta ini dilakukan menggunakan unit Harbour Mobile Crane (HMC) milik PT Pelindo III (Persero). (iwd/feb)
★ detik

Posted in: BUMN,INKA