Industri perkapalan nasional tumbuh signifikan
Kapal Basarnas produksi galangan kapal Indonesia ●
Dalam satu dekade terakhir perkembangan industri perkapalan di Indonesia barjalan cukup signifikan, karena selain didukung sebagai negara kepulauan terbesar didunia, pemerintah juga memberi keberpihakan melalui berbagai program dan kebijakan strategis dalam pengembangan industri maritim nasional.
Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam sambutannya pada acara Forum Saudagar Bugis Makassar ke XV di Makassar, Selasa (28/7).
"Program prioritas Nawa Cita diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, memiliki sumber daya yang berkelanjutan, serta mensejahterakan segenap rakyat Indonesia," kata Menperin.
Pada forum tersebut, selain Menperin, narasumber yang hadir adalah Bupati Takalar-Sulawesi Selatan Burhanuddin Baharuddin, Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Penguatan Struktur Industri, Ngakan Timur Antara, Wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Muchlis Patahna, serta Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, Sattar Taba selaku moderator.
Menperin menjelaskan, sebagai negara kepulauan terbesar didunia, Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang kaya diantaranya memiliki cadangan minyak bumi mencapai 9,1 milliar barel di laut, 8500 species ikan, 555 species rumput laut, dan 950 species biota terumbu karang hidup di perairan Indonesia.
Menurut Menperin, industri perkapalan memiliki beberapa karakter khusus antara lain proses produksi yang komplek dan simultan, berdasarkan pesanan, struktur organisasi jaringan dengan mengandalkan outsourcing untuk penyediaan komponen dan tenaga kerja, serta aktifitas utamanya adalah pembangunan kapal baru dan reparasi.
Dari karakter-karakter tersebut dapat disimpulkan bahwa "stakeholder" industri terdiri dari berbagai pihak, diantaranya industri pelayaran, industri komponen, pemerintah, biro klasifikasi, perbankan dan asuransi.
"Bahkan sejak diterapkannya Instruksi Presiden No. 5 tahun 2005 tentang azas cabotage, terjadi peningkatan jumlah armada kapal berbendera Indonesia dari 6.041 unit pada Juni 2005 menjadi 13.224 pada Februari 2014," kata Menperin.
Peningkatan jumlah armada kapal nasional itu berdampak pada peningkatan utilisasi fasilitas reparasi kapal.
Saat ini jumlah galangan kapal di Indonesia mencapai 250 perusahaan, dimana 5 perusahaan berstatus BUMN.
Selanjutnya, galangan kapal nasional saat ini telah mampu membangun berbagai jenis dan ukuran kapal sampai dengan 50.000 DWT dan mereparasi kapal sampai dengan kapasitas 150.000 DWT.
Namun demikian, 250 galangan kapal nasional, hanya sekitar 10 perusahaan yang memiliki kapasitas produksi diatas 10.000 DWT dengan fasilitas "graving dock" terbesar yaitu 300.000 DWT yang berlokasi di Batam dan Banten.
"Oleh karena itu, dalam roadmap yang telah kami susun, pada tahun 2025 industri perkapalan nasional ditargetkan akan mampu membangun berbagai jenis kapal sampai dengan ukuran 200.000 DWT dan didukung dengan industri komponen kapal yang tangguh dan berdaya saing tinggi," tegas Menperin.
Sementara itu, strategi yang dilakukan Kementerian Perindustrian dalam mencapai roadmap tersebut, antara lain; peningkatan daya saing industri perkapalan nasional melalui pemberian insentif fiskal; peningkatan kemampuan desain dan rekayasa kapal melalui pemberdayaan Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional (PDRKN).
Selain itu, penguatan struktur industri perkapalan melalui program bimbingan teknis dan sertifikasi untuk industri komponen kapal; pengembangan kemampuan SDM perkapalan melalui pelatihan dan sertifikasi; serta peningkatan kapasitas produksi melalui pengembangan kawasan khusus industri maritim.
Hingga lima tahun terakhir, kinerja Industri perkapalan nasional terus mengalami peningkatan. Tercatat pada tahun 2013, pembangunan kapal baru mecapai 859,9 ribu DWT dan reparasi kapal mencapai 8,437 juta DWT. Menperin mengharapkan, strategi pembangunan industri perkapalan nasional mampu mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Seusai forum, Menperin melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) untuk meninjau laboratorium uji dan unit pelayanan publik di BBIHP Makassar.
★ antara

Posted in: Artikel,Industri,Kapal
Menperin harap industri galangan kapal nusantara seperti Batam
Kunker Menperin di Makassar Menteri Perindustrian Saleh Husin mendengarkan penjelasan Direktur Industri Alat Transportasi Darat selaku Komisari PT Industri Kapal Indonesia (IKI) Soerjono mengenai proses produksi kapal disaksikan Dirut PT IKI Saiful Abdat Bandung Bismoro di Makassar, Senin, (3/8).(Kemenperin.go.id) ○
Menteri Perindustrian Saleh Husin menghendaki industri galangan kapal se-nusantara mampu berkembang seperti galangan kapal di Batam, Kepulauan Riau.
"Secara total ada 250 galangan kapal se-Indonesia, sementara 105 di antaranya ada di Batam kemudian sisanya ada di daerah lain. Padahal Indonesia perlu banyak kapal produksi dalam negeri," kata Saleh Husin di PT Industri Kapal Indonesia (IKI), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin.
Saleh Husin menjelaskan faktor yang menjadikan industri galangan kapal di Batam unggul karena adanya fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) dan PPN nol persen.
"Selama ini Batam berkembang karena mendapatkan fasilitas BMDTP dan PPN sehingga tidak kena potongan 5-22 persen atau rata-rata 17 persen," kata Menperin.
Sementara untuk galangan kapal di luar Batam harus merasakan PPN 10 persen sehingga kesulitan bersaing dengan Batam yang juga menjadi zona perdagangan bebas.
"Ketika yang di luar Batam mau ikut bersaing, mereka sudah kalah duluan dengan Batam," imbuh Menperin.
Untuk itu Kemenperin sudah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Kementerian Kelautan Perikanan, dan Kementerian Perhubungan untuk menyepakati pembebasan PPN bagi perusahaan galangan kapal di luar Batam.
"Pasar bebas ASEAN sebentar lagi sehingga perlu secepatnya (pembebasan PPN). Ini akan menjadi kegembiraan bagi industri kapal dalam negeri," katanya.
Selain itu, Menperin berharap PT IKI bisa memimpin industri galangan kapal untuk Indonesia Timur bahkan sampai ekspor.
"Untuk ekspor kenapa tidak? Namun untuk permulaan kami harap PT IKI bisa menguasai operasi di wilayah timur Indonesia," pungkas Saleh Husin. Indonesia masuki era terbaik industri galangan kapal
KRI Kujang 642 produksi PT Palindo, Batam. Merupakan kapal cepat rudal andalan Armabar TNI AL [pr1v4t33r] ○
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan industri galangan kapal Indonesia akan memasuki era terbaiknya karena pemerintah menargetkan Indonesia akan menjadi poros maritim dunia dengan cara optimalisasi transportasi laut.
“Ini membuka optimisme kami, terutama rekan-rekan pengusaha galangan dan pekerjanya. Ini juga menegaskan bahwa saat ini merupakan era terbaik bagi industri perkapalan," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin.
"Artinya pemerintah bukan hanya berwacana memberikan keberpihakan, tapi lebih dari itu, Presiden berani mengambil langkah konkret mewajibkan pembelian kapal dari domestik,” imbuh Saleh Husin.
Menperin berada di Sulawesi Selatan mengunjungi sejumlah pusat industri dan salah satunya galangan kapal milik PT Industri Kapal Indonesia (IKI) yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN).
Saleh Husin berpendapat perkapalan berperan penting dalam konektivitas antar wilayah Indonesia sehingga industri ini harus mampu menopang pengembangan armada kapal nasional baik melalui pembangunan kapal baru maupun jasa reparasi.
PT Industri Kapal Indonesia yang berdiri sejak 1977 sudah membuat kapal, reparasi kapal, alat apung dan produk jasa lain dalam rangka diversifikasi usaha.
Perusahaan ini memiliki dua unit produksi yaitu unit galangan Makassar dan Bitung, Sulawesi Utara. Beberapa kapal besar yang telah dibangun ialah KM Makassar yang merupakan kapal full container 4.180 DWT, Kapal Patroli KRI Andai TNI AL, Ferry Ro-Ro (600 GT), Kapal Perintis yang melayani angkutan barang dan penumpang (750 DWT).
“Lokasi dua unit galangan IKI juga strategis. Yang Makassar sebagai poros lalu lintas komoditas, logistik dan penumpang Indonesia barat-timur dan Bitung yang menghadap langsung samudera Pasifik,” ujar Menperin sembari menegaskan mendorong perusahaan ini lebih produktif.
Saleh Husin juga hadir dalam pencanangan Gerakan Peningkatan Ekspor Tiga Kali Lipat dan Sulawesi Selatan ber-SNI di Pelabuhan Peti Kemas Soekarno-Hatta, Makassar.
Presiden RI Joko Widodo yang memimpin pencanangan gerakan ini secara langsung, kemudian melepas pengiriman 27 komoditas Sulawesi Selatan ke 24 negara dengan nilai ekspor mencapai Rp 1,21 trilliun.
★ antara
Posted in: Artikel,BUMN,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Industri,Kapal
Wilmar Bangun Kawasan Industri 1.748 Ha di Serang
Kawasan industri di Serang (dana-detikFinance) ★
Wilmar Group akan membangun kawasan industri terintegrasi 1.748 Hektar (Ha) di Desa Terate, Kecamatan Keramat Watu, Kabupaten Serang, Banten.
Raksasa usaha perkebunan Asia ini, menyiapkan dana Rp 7 triliun untuk merealisasikan rencananya itu.
"Total area yang akan dibangun mencapai total 1.748 hektar. Ini akan menjadi kawasan industri yang strategis karena tidak terlalu jauh dari Jakarta," ujar Direktur Teknik Wilmar Grup Erik Tjia saat menerima kunjungan Kepala BKPM Franky Sibarani di lokasi, Jumat (7/8/2015).
Kawasan Industri ini akan dilengkapi berbagai infrastruktur dari mulai Jalan, Pembangkit Listrik hingga Jaringan Gas Pipa. Saat ini pembangunan kawasan tengah difokuskan pada penyediaan infrastruktur dasar seperti jalan dan penerangan.
"Akhir tahun ini jalan akses dan jalan kawasan bisa selesai," sambungnya.
Pembangunan kawasan industri ini diharapkan bisa menjadi alternatif bagi para investor yang baru ingin menanamkan investasi dan membuka usaha di Indonesia. Kerena, selama ini proses penanaman investasi baru sering terkendala masalah lahan dan infrastruktur penunjangnya.
Pada tahap pertama, kawasan industri ini akan diisi oleh perusahaan yang terafiliasi dengan Wilmar Group. Perusahaan afiliasi itu bergerak di sektor industri perkebunan kelapa sawit dan turunannya.
Saat ini, pabrik yang sudah berproduksi di kawasan industri ini salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan. Perusahaan ini merupakan perusahaan pabrik kemasan minyak goreng untuk merek Fortune dan Sania.
"Saat ini minyak goreng kami datangkan langsung dari Dumai. Ke depan, kita akan bangun pabrik Refinery (Penyulingan) CPO (Crude Palm Oil/Minyak Sawit Mentah). Jadi yang kita datangkan bukan minyak gorengnya tapi bahan bakunya," tutur Erik Tjia. (dna/feb) Ada Pulau Buatan di Kawasan Industri Milik Wilmar Wilmar Group akan membangun kawasan industri baru yang terintegrasi 1.748 Hektar (Ha) di Desa Terate, Kecamatan Keramat Watu, Kabupaten Serang, Banten.
Di dalam rencana pembangunan kawasan industri ini, Wilmar akan melakukan reklamasi alias pengurukan pantai. Sekitar 548 Ha area kawasan industri merupakan daratan hasil reklamasi. Daratan itu direncanakan mirip dengan konsep pulau buatan.
Pulau buatan ini rencananya dilengkapi dengan pelabuhan yang akan menjadi infrastruktur penunjang untuk menjamin kelancaran arus barang dari dan menuju kawasan ini.
"Kita akan melakukan reklamasi seluas 548 hektar yang memanjang 5 Km ke arah Utara," kata Direktur Teknik Wilmar Group, Erik Tjia saat menerima kunjungan Kepala BKPM Franky Sibarani di lokasi, Jumat (7/8/2015).
Di tempat yang sama, Wakil Direktur Utama PT Multimas Nabati Asahan MP Tumanggor mengatakan, pihaknya masih menunggu proses perizinan. Bila izin diterima, pembangunan pulau buatan akan dilakukan mulai tahun 2016.
"Sekarang sedang tahap Amdal (analisis dampak lingkungan). Kalau perizinan selesai, awal tahun depan reklamasi bisa mulai," kata dia.
Selanjutnya, Wilmar Group juga akan melengkapi akses kereta api untuk menambah kelancaran arus barang di darat.
"Saat ini sudah ada jalur kereta yang melintasi kawasan kita. Tinggal dibuatkan akses baru plus dengan stasiun bongkar muatnya," jelasnya.
Ditambahkan Erik Tjia, saat ini pihaknya juga tengah mengupayakan pembangunan akses jalan tol yang menghubungkan kawasan industri milik Wilmar dengan Jalan Tol Tangerang-Merak.
"Kami sudah lakukan kajian dan pembebasan lahan. Juga sudah bicara ke BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol). Pembangunannya begitu izin lengkap," tukasnya.Penampakan Calon Pulau Buatan Milik Wilmar di Banten Wilmar Group berencana melengkapi kawasan industri miliknya dengan pulau buatan. Pulau buatan ini merupakan hasil reklamasi. Pulau buatan seluas 548 hektar (ha) itu, nantinya tersambung dengan area industri yang ada di darat.
Total area industri yang akan dibangun oleh Wilmar mencapai 1.748 ha. Kawasan industri ini berlokasi di Desa Terate, Kecamatan Keramat Watu, Kabupaten Serang, Banten.
Dari gambar yang diperoleh detikFinance, pulau buatan milik Wilmar secara desain mirip dengan sayap pesawat terbang. Pulau buatan tersebut memiliki bentangan sepanjang 5 kilometer (km).
Wilmar masih menunggu proses perizinan untuk memulai pembangunan pulau buatan. Ditargetkan, pembangunan pulau reklamasi ini bisa dimulai 2016 setelah izin terbit.
Untuk membangun kawasan industri seluas 1.748 Ha itu, Wilmar menganggarkan Rp 7 triliun. Kawasan industri juga akan dilengkapi fasilitas seperti pelabuhan, jalur kereta hingga akses jalan tol. (feb/ang)
★ detik

Posted in: Bisnis,Ilmu Pengetahuan,Industri,Infrastruktur
Demo di Batam Bikin Perusahaan Asing Hengkang
Jokowi Kerahkan BIN Aksi demo yang membuat perusahaan-perusahaan besar asing di Batam hengkang sudah dilaporkan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebagai tindak lanjut, Jokowi memerintahkan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menyelidiki penyebab pasti fenomena ini. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan Riau, Cahya mengatakan, beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi datang ke Batam dalam kunjungan kerjanya. Kala itu Jokowi datang bersama rombongan, termasuk Kepala BKPM Franky Sibarani. Cahya yang pada awalnya sedikit menduga ada yang aneh dalam aksi demo yang menyebabkan perusahaan besar seperti Siemens, Seagate, Japan Servo, juga perusahaan lainnya hengkang dari Indonesia, melaporkannya pada Jokowi. "Saya selaku Ketua Apindo Kepri, di depan Presiden saya sampaikan. Kami heran, kenapa yang didemo kenapa PMA saja lokal tidak, kami menduga ini ada apa. Saya sudah bilang ini ada apa. Pemerintah harus cari tahu," tutur Cahya kala berbincang dengan detikFinance, Rabu (8/7/2015). Cahya curiga ada udang di balik batu dari fenomena demo yang sudah berlangsung kurang lebih 3 tahun belakangan ini. "Saya bilang Pak (Jokowi) ini perlu kita dalami. Kadang-kadang, ini kan banyak kompetitor, jangan-jangan hanya akan merusak iklim investasi Indonesia, Batam," tuturnya. Namun Cahya tidak mau berspekulasi siapa kompetitor yang dimaksud. Dia bercerita, kala itu, Jokowi menanggapinya dengan serius. Jokowi menganggap ini bukan lagi persoalan daerah, melainkan persoalan negara yang harus diselesaikan. Jokowi akhirnya meminta Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menyelidiki hal ini. "Pak Presiden bilang, beliau tahu. Ini masalah di (pemerintah) pusat, bukan masalah daerah, tapi masalah negara. Beliau minta BIN untuk menyelidiki," kata Cahya.Heran, Upah Sudah Tinggi Tapi Pekerja di Batam Sering DemoAksi demo cukup sering dilakukan para pekerja di Batam, Kepulauan Riau. Kondisi ini sampai membuat sejumlah perusahaan asing hengkang. Pengusaha bingung apa yang dituntut pekerja, karena upah minimum kota (UMK) di Batam termasuk tinggi. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, mengaku tidak mengerti ada apa di balik aksi demo yang sudah berlangsung selama 3 tahun belakangan ini. Menurutnya, hubungan industrial di perusahaan cukup baik. "Kalau kita tidak begitu mengerti urusan di balik itu ada apa sih. Menurut yang kita pantau, hubungan industrialnya cukup bagus," tutur Hariyadi, kepada berbincang dengan detikFinance, Rabu (8/7/2015). Hariyadi menuturkan, selain hubungan industrial yang baik, upah yang selama ini selalu menjadi tuntutan utama buruh dalam demonstrasi pun bukan jadi persoalan di Batam. Menurutnya, Batam salah satu kota yang memberikan upah yang cukup baik. "Take home pay jauh lebih bagus di sana, dibanding daerah Sumatera lainnya, termasuk Jawa. Itu dikeluhkan banyak investor asing di sana. Kenapa ini selalu dimobilisasi terus, ini sangat merugikan," jelasnya. Seperti diketahui, pemerintah daerah menyetujui UMK Batam pada 2015 sebesar Rp 2.685.302/bulan. Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Sani juga menetapkan Upah Kelompok yang terdiri dari kelompok 1 sebesar Rp 2.873.273, kelompok 2 Rp 2.715.565, dan kelompok 3 Rp 2.689.196. Selain itu, beberapa tunjangan pun diberikan untuk para pekerja di Batam. Termasuk rumah tinggal dan lainnya. "Perumahan juga disiapkan, ada BPJS, ada juga rumah yang sebagian disiapkan atau rusunawa," tuturnya.Tak Biasa dengan Demo, Investor Asing di Batam Pilih Hengkang
Demonstrasi pekerja yang terjadi di beberapa perusahaan asing di Batam, Kepulauan Riau berbuntut hengkangnya beberapa pabrik. Investor asing umumnya sensitif terhadap gangguan seperti demo. Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Imam Haryono mengaku baru mendapatkan laporan terkait maraknya demonstrasi yang menyebabkan hengkangnya beberapa perusahaan besar dari Batam. "Iya itu informasinya benar. Nanti himpunan kawasan industri di sana akan turun tangan itu pasti," tutur Imam kepada detikFinance ditemui di acara buka Puasa Bersama Menteri Perindustrian Saleh Husin di Widya Chandra, Jakarta, Rabu (8/7/2015). Imam pun mengatakan, pengusaha atau investor asing cukup sensitif terhadap adanya demonstrasi, apalagi demo yang mengandung unsur kekerasan, sweeping, anarkis hingga penyanderaan. "Orang-orang asing itu paling takut demo, ditekan. Kalau orang kita mungkin sudah biasa menghadapi demo seperti itu," tuturnya. Imam mengatakan, pemerintah bakal membereskan hal ini agar demonstrasi yang terjadi tak berlarut dan tak ada lagi investor-investor asing yang hengkang. Seperti diketahui, Beberapa perusahaan asing yang tak kuat memghadapi kondisi seperti ini, memutuskan untuk hengkang dari Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Siemens, Japan Servo, Seagate dan lainnya.Ada Perusahaan Hengkang dari Batam, Menperin: Yang Masuk Lebih Banyak
Menteri Perindustrian Saleh Husin tidak khawatir banyaknya perusahaan asing yang hengkang dari Batam akan mempengaruhi investasi. Menurutnya, Indonesia masih menarik untuk investasi. Hal tersebut dikatakan Saleh di sela acara buka puasa bersama bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII), di kompleks Widya Chandra, Jakarta, Rabu (8/7/2015). "Harusnya nggak lah (membuat iklim investasi buruk). Ada juga yang masuk, yang masuk lebih banyak. Jangan hanya lihat yang keluar," tutur Saleh. Dia mengatakan, di samping ada perusahaan-perusahaan yang hengkang, ada juga perusahaan yang masuk dan investasi terus digenjot pemerintah. "Ada yang PHK, tapi ada juga investasi yang menumbuhkan banyak lapangan kerja," tuturnya. Meski begitu, dia mengatakan, pemerintah tak akan tinggal diam menyikapi fenomena hengkangnya perusahaan-perusahaan besar dari Batam ini. Salah satu ujpaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan menjadikan kawasan industri tersebut sebagai objek vital. "Kalau pun mau keluar, paling tidak jangan sampai keluar Indonesia. Kami akan terus komunikasikan," tutupnya. (zul/dnl)
✈️ detik

Posted in: Bisnis,BUMN,Ekonomi,Hankam,Industri
BUMN Wajib Beli Kapal dari Galangan Kapal Dalam Negeri
KMP Legundi produksi dalam negeri ★ Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengakui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang lebih ketat merupakan langkah berani untuk memandirikan pembangunan industri dan infrastruktur. Beberapa penajaman yang dilakukan ialah dengan menyusun rincian aturan dan tentu saja pelaksanaan yang diikuti pengawasan. "Artinya, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Ini negara kita, ya harus dibangun dengan cara dan barang-barang modal sendiri karena kita memang mampu," kata Saleh Husin pada buka bersama dan sarasehan dengan Persatuan Insinyur Indonesia di kediaman Menperin di kompleks Widya Chandra, Jakarta, Rabu (8/7/2015). Penggunaan produk dalam negeri dalam belanja pemerintah diperhitungkan sangat potensial untuk menumbuh kembangkan dan menguatkan struktur industri manufaktur. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang antara lain belanja modal pemerintah pusat pada tahun 2015 sebesar Rp 290 triliun atau 14,22 persen dari total anggaran pemerintah pusat sebesar Rp 2.039,5 triliun. Sementara, kebutuhan belanja modal (capital expenditure) seluruh perusahaan Badan Usaha Milik Negara pada tahun ini mencapai Rp 300 triliun. "Itu uang Indonesia, jadi kita harus berani mengambil kebijakan menggunakan dana kita sendiri untuk memandirikan pembangunan sekaligus menggerakkan industri dalam negeri," ujarnya. Beberapa proyek infrastruktur yang telah menerapkan P3DN Usaha Hulu Migas dikoordinasikan oleh SKK Migas dan di lakukan oleh Kontrak Karya Kerjasama (K3S) dibawah Kementerian ESDM. Begitu juga dengan pembangunan Power Plant & Transmisi Energi PLN dan PGN di bawah Kementerian BUMN. Sebagai contoh, APBN 2015 Kementerian PU dan Perumahan Rakyat Rp 81,3 triliun. Sedangkan Kementerian Perhubungan sebesar Rp 44,9 triliun yang digunakan untu membangun jalan baru sepanjang 143 km, jembatan baru sepanjang 11.716 m, pembangunan jalur kereta api 265 km, dan pengadaan 48 lokomotif. Kandungan lokal pembangunan pembangkit listrik nasional untuk tercapainya target program 35.000 MW pada tahun 2019 juga dipasok oleh industri barang modal dalam negeri. Kementerian Perindustrian bersama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), akan menandatangani Nota Kesepahaman dalam rangka pengawasan pelaksanaan program P3DN pada pengadaan barang/jasa Pemerintah yang akan dilakukan pada hari Kamis, 9 Juli 2015 di Istana Wakil Presiden RI. Kemenperin juga melakukan koordinasi insentif dengan Kementerian ESDM. Dalam rapat terbatas, diungkapkan perlunya revisi tentang Permen ESDM Nomor 15 Tahun 2013 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Pada Kegiatan Usaha Hulu Migas. "Apalagi Presiden Jokowi telah memberi perhatian dan bahkan instruksi langsung soal pipa gas Gresik-Semarang dan mewajibkan kementerian serta BUMN wajib membeli kapal dari galangan kapal dalam negeri," pungkas Menperin. Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar percaya, peningkatan TKDN adalah salah satu elemen penting dan strategis yang harus mendapat perhatian pemerintah, jika ingin memacu industri dalam negeri. "Manfaat dan nilai tambah yang akan kita peroleh pun juga akan lebih besar. Disitulah TKDN menjadi kunci,” kata Bobby. Pada kesempatan yang sama, anggota DPR RI Airlangga Hartarto menekankan pelaksanaan TKDN karena regulasi dari inpres sampai PP sudah ada. Dia berharap kebijakan ini didukung oleh semua pihak demi kepentingan industri sendiri. "TKDN memang masalah yang dihadapi bangsa saat ini. Di masa lalu masalah ini juga pernah muncul, namun yang sangat penting, kita harus selalu memiliki niat untuk mengatasi masalah itu," tegasnya. Dia juga mencermati penghitungan TKDN untuk ponsel 4G LTE menyasar perangkat keras dan lunak. Dengan aturan TKDN minimal 30 persen mulai 2017, imbuh Airlangga, maka tinggal penyusunan petunjuk teknisnya.
✈️ detik

Posted in: Bisnis,BUMN,Ekonomi,Industri,Infrastruktur,Kapal
★ Produk unggulan Indonesia tampil di pameran industri Rusia
Dokumentasi prajurit TNI berjalan di depan panser Anoa 6x6 di sela penyerahan 24 unit panser itu dari PT Pindad, di Markas Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/3). 24 panser buatan PT Pindad itu akan digunakan Satgas Batalyon Komposit TNI Kontingen Garuda XXXV-/United Nations Mission In Darfur (UNAMID) dalam payung Pasukan Perdamaian PBB, di Darfur-Sudan. Anoa termasuk produk unggulan PT Pindad yang ditawarkan ke internasional. (ANTARA FOTO/Jafkhairi)
Produk-produk unggulan Indonesia tampil di pameran industri Rusia bertajuk The 6th International Industrial Exhibition (Innoprom), pada 8-11 Juli 2015, di Ekaterinburg Expo Center, Rusia.
"Kementerian Perindustrian memfasilitasi penyewaan lahan, pembuatan desain dan pembangunan booth pada area seluas 30 meter persegi yang berlokasi di Hall 3 No 3A7, Ekaterinburg Expo Center, Rusia,” kata Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Penguatan Struktur Industri Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara, melalui siaran pers di Jakarta, Jumat.
Di booth Kementerian Perindustrian itu, lanjutnya, menampilkan berbagai produk unggulan produksi PT Petrokimia Gresik, PT Semen Tonasa dan PT PINDAD yang telah menerapkan teknologi dalam rangka konservasi sumber daya di dalam proses produksinya.
“Animo pengunjung di booth kami cukup tinggi, dimana mereka ingin mengetahui banyak perkembangan teknologi yang ada di Indonesia khususnya untuk sektor industri," ujar Antara.
Setiap hari, lanjut Antara, secara keseluruhan pameran dikunjungi sebanyak 3.000 orang.
Dia menjelaskan, Innoprom merupakan pameran industri internasional terbesar di Rusia yang berfokus pada pengembangan teknologi di bidang industri.
Pameran ini dibuka langsung PM Rusia, Dmitry Medvedev, didampingi Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov.
Secara keseluruhan terdapat 70 negara yang hadir berpartisipasi, antara lain Swedia, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Swiss, Austria, India, Azerbaijan, Ceko, Belarus, Kazakstan, Armenia dan beberapa negara Afrika.
Selain itu, pameran ini juga melibatkan kerjasama dan partisipasi dari 46 daerah dari seluruh Rusia.
"Hal ini dilakukan dalam rangka terus mendorong peningkatan kerjasama internasional di sektor industri antara Indonesia dengan Rusia," ujar Antara.
⚓️ antara

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Industri,Inhan,Kendaraan Militer,PINDAD
Pemerintah dorong Rusia investasi kemaritiman
Ilustrasi KRI Tombak 629 produksi PT PAL Indonesia
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong para investor asal Rusia untuk berinvestasi dibidang industri kemaritiman, di antaranya industri galangan kapal di Indonesia.
"Sesuai Nawacita, Indonesia kan mau mengembangkan kemaritiman. Sehingga, kami ajak rusia untuk bisa investasi dibidang maritim, untuk memperkuat maritim kita," kata Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Achmad Dwiwahjono, di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan, Rusia memiliki industri galangan kapal yang kuat di negaranya, sehingga dinilai mampu berkontribusi untuk memajukan industri galangan kapal Tanah Air.
DIa menambahkan, Menteri Perindustrian, Saleh Husin, rencanya akan berkunjung ke Rusia untuk membahas wacana investasi bidang industri kemaritiman tersebut secara lebih rinci.
Selain bidang kemaritiman, Dwiahjono menyampaikan, pihaknya juga mendorong Rusia untuk berinvestasi bidang kimia hulu, di mana saat ini, impor produk kimia hulu masih sangat banyak.
"Kami ingin dorong untuk mempererat hubungan ini. Mereka sangat berpengalaman untuk kimia hulu dan intermediate chemical. Kalau bisa dimajukan akan sangat mendorong struktur industri nasional kita," ujarnya.
⚓️ antara

Posted in: Industri,Investasi,Kapal
Gudang Kapas di Malaysia akan Dipindah ke RI
♙ Pengusaha Senang Pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) senang dengan rencana penerapan pusat logistik berikat di dalam negeri. Kebijakan ini akan menguntungkan dunia usaha hingga pemerintah termasuk soal penggunaan rupiah.
Pusat Logistik Berikat bakal mempermudah pelaku industri TPT mendatangkan bahan baku. Salah satunya industri tekstil bisa memindahkan bahan baku kapas yang selama ini ada di Gudang Pelabuhan Port Klang Malaysia ke gudang di Indonesia dalam Pusat Logistik Berikat. Rencananya akan dibuat di Cikarang, Jawa Barat.
Hal ini disampaikan oleh Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy dalam Tindak Lanjut Pengadaan Kapas Nasional dan Pusat Logistik Nasional’ di Kantor Pusat API Graha Surveyor Indonesia Lantai 16 Jalan Gatot Subroto, Kav 56, Jakarta, Kamis (1/10/2015).
"Pemilik kapas bisa menempatkan kapasnya di Indonesia. Perputaran uang dari jual beli kapas ada di Indonesia ditambah pembayarannya dengan rupiah. Selain itu, persentase jual beli kapas bisa terus bertambah oleh 285 industri pemintalan nasional dalam rangka memenuhi kebutuhan industri hilirnya," jelas Ernovian.
Ia melanjutkan, Saat ini di Indonesia ada 1.479 industri pembuat kain, 2.873 industri pakaian jadi dan 726 industri barang jadi tekstil lainnya.
"Para pengusaha ini tidak lagi perlu merisaukan stok kapasnya ada di luar negeri sebab bisa disimpan di dalam negeri, makin dekat dengan pusat produksi. Kerugian akan fluktuasi nilai mata uang pun bisa diminimalisir," katanya.
Selama ini, Indonesia belum menganut ketentuan untuk membolehkan sistem gudang internasional, barang impor yang masuk harus berasal dari importir. Pemerintah belum mengantur trader (bukan importir) yang memiliki stok bahan baku untuk memasukan barang ke dalam negeri, dan bebas bea masuk impor. Kondisi ini membuat industri dalam negeri tak efisien.
Sedangkan di Malaysia justru sebaliknya, ada ketentuan trader boleh memasukan barang bebas bea masuk bukan untuk keperluan impor namun hanya sebagai gudang internasional. Di sana sudah punya infrastruktur gudang yang baik dan lengkap. Di Indonesia, ketentuan barang bebas masuk impor baru bisa diterapkan di perusahaan/importir yang berada di kawasan berikat, yang produknya harus berorientasi ekspor atau tak dijual ke dalam negeri.
Dengan adanya Pusat logistik berikat, maka memungkinkan kapas-kapas impor dan bahan baku lainnya yang selama ini milik trader yang ditempatkan di Port Klang Malaysia bisa langsung masuk ke industri pengguna dalam negeri tanpa harus singgah di pelabuhan Malaysia.
Kapas-kapas impor tersebut selama ini memang disimpah dahulu oleh trader global di Port Klang sebelum masuk ke Indonesia. Sebagian besar kapas-kapas milik trader akan masuk ke Indonesia, namun kenyataannya trader memilih menaruh di Malaysia untuk menghindari kena bea masuk impor.
Bila sistem gudang internasional berlaku di dalam negeri maka Indonesia akan lebih bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dampaknya biaya logistik khususnya biaya penyimpanan akan bisa ditekan terutama oleh industri di dalam negeri.
Para trader kapas sudah bisa masuk Indonesia tanpa bea masuk, maka industri pengguna di dalam negeri bisa langsung mendapatkan pasokan dari gudang trader yang ada di dalam negeri. Pengenaan bea masuk impor baru akan berlaku setelah ada perpindahan barang dari gudang trader di dalam negeri ke industri pengguna.
Dampaknya akan bikin industri efisien, pabrik tak perlu simpan kapas di gudang mereka sampai 3 bulan, cukup 1 bulan saja karena sudah ada di gudang-gudang trader. Sehingga biaya inventori atau penyimpanan lebih rendah, karena tak banyak simpan barang sehingga biaya asuransi (barang) lebih hemat.
Selama ini para industri tekstil dan produk tekstil harus mendatangkan bahan baku kapas dari Port Klang Malaysia. Sedangkan bila sudah ada ketentuan baru, maka gudang-gudang trader kapas bisa berada di sekitar industri, misalnya di Jakarta.♙ 300.000 Ton Kapas Bisa Masuk RISelama ini Indonesia konsumen kapas terbesar di dunia termasuk di ASEAN untuk kebutuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Namun bahan baku kapas yang dimiliki trader tersebut banyak tersimpan di gudang-gudang Port Klang Malaysia.
Pemerintah kini menyiapkan ketentuan Pusat Logistik Berikat (PLB) di Cikarang, Jawa Barat. Sehingga adanya gudang ini, memungkinkan stok bahan baku kapas yang ada di Port Klang bisa masuk ke Indonesia hingga 300.000 ton setiap tahun.
"Poin penting dari adanya Pusat Logistik Berikat yaitu bahan baku kapas yang semula disimpan di luar Indonesia, yaitu di Malaysia bisa dipindahkan ke RI. Harus mau pemilik barang pindah ke Indonesia. Makanya dibuat aturan yang membuat mereka mau pindah," ungkap Ernovian G Ismy, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) ditemui usai Pertemuan Tindak Lanjut Pengadaan Kapas Nasional dan Pusat Logistik Nasional’ di Kantor Pusat API Graha Surveyor Indonesia Lantai 16 Jalan Gatot Subroto, Kav 56, Jakarta, Kamis (1/10/2015)
Ernov menjelaskan pengusaha bisa diuntungkan dengan berkurangnya biaya logistik dengan PLB dan memasukkan barang via Cikarang Dry Port (CDP).
"Selama ini hampir sebagian besar 60% lewat Tanjung Priok. Sebetulnya wajib dibangun dry port di Cikarang dan Jateng. Respons para pengusaha dengan PLB dan masuk lewat CDP mereka diuntungkan. Selain itu, langkah ini bisa membuat kegiatan yang semula diurus calo, bisa di-cut. Semua anggota API lebih baik ngurus sendiri-sendiri karena selama ini pakai pihak ketiga," ujarnya.
Selama ini, Ernov menjelaskan sebanyak 40% bahan baku kapas masih disimpan di gudang Malaysia. "40% kapas disimpan di Malaysia yang tiap tahun nilainya US$ 420 juta. Saya berharap bisa 100% disimpan di RI," tambahnya.
Keuntungan lainnya, lanjut Ernov pengusaha bisa menghemat sampai 8% dari biaya logistik dan gudang yang menyumbang 25-35%. "Bisa pangkas 8% dari 25-35% biaya ngurus clearance, administrasi perizinan, logistik, gudang dengan catatan kalau pakai Cikarang Dry Port," tuturnya.
Setiap tahun Indonesia mengimpor kapas dengan nilai US$ 1,4 miliar/tahun dengan volume sekitar 700.000 ton. Sebagian sebanyak 300.000 ton berasal dari Port Klang, Malaysia.
"Selama ini sekitar 300.000 ton ada di Malaysia dan sudah berjalan 30 tahun. Adanya PLB bisa memangkas itu, kami ingin semua pindah ke Indonesia," kata Ernov. (hen/hen)
♙ detik

Posted in: Ekonomi,Ilmu Pengetahuan,Industri
Rusia bidik kerja sama empat industri dengan Indonesia
Ilustrasi Helikopter Rusia di Indonesia ♙
Rusia membidik kerja sama di empat bidang industri dengan Indonesia, yakni di sektor kemaritiman, kedirgantaraan, logam dan otomotif.
"Untuk pengolahan logam, Rusia menawarkan kerja sama tambang bauksit di Kalimantan. Saya tidak ingat persis detail kerja samanya," kataDirektur Industri Alat Transportasi Darat Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Jumat.
Soerjono menyampaikan hal tersebut usai mendampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, bersama Delegasi Federasi Rusia, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Soerjono menambahkan, soal kerja sama maritim, pihak Rusia berencana untuk masuk ke industri pembangunan kapal baru dan reparasi kapal.
Menurut dia, "nelayan Indonesia membutuhkan teknologi yang bisa memastikan ikan itu ditangkap. Mereka yang sangat tertarik," ujar Soerjono.
Diketahui, perusahaan yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu United Shipbuilding Corporation.
Menurut Soerjono, pihak Rusia juga meminati dunia otomotif Indonesia, di mana mereka punya pabrikan bagus dan menguasai pasar dalam negeri Rusia.
Kerja sama dengan Rusia perkuat Indonesia di jaringan global Kerja sama perusahaan Indonesia dan Rusia di industri manufaktur akan memperkuat peran nasional di jaringan suplai global, kata Menteri Perindustrian, Saleh Husin.
"Kemitraan ini membuka akses lebih luas di pasar komoditas dan investasi dunia," kata Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Achmad Dwiwahjono, melalui siaran pers di Jakarta, Jumat.
Dijetahui, Direktur Industri Alat Transportasi Darat di Direktorat Jenderal ILMATE Kemenperin, Soerjono, menambahkan, delegasi Rusia juga ingin meramaikan bisnis otomotif khususnya kendaraan roda empat dan alat berat.
“Ini menarik karena akan memeriahkan bisnis otomotif karena selama ini konsumen kita akrab dengan merek Jepang, Eropa, dan belakangan China,” paparnya.
Di sektor alat berat, produk Rusia telah dikenal kekuatan dan ketahanannya.
Delegasi Rusia juga mengungkapkan rencana mereka menanamkan modal di proyek kereta api di Kalimantan. Mereka mengincar pula investasi di bidang kedirgantaraan dan perkapalan (shipbuilding).
Diperkirakan saat ini terdapat sekitar 15.000 kapal termasuk penangkap ikan, yang telah berusia 30 tahun ke atas. Separo dari populasi kapal tersebut atau lebih kurang 7.000 unit perlu diperbarui.
“Rusia tertarik ke bisnis galangan untuk pergantian kapal tua, mereka juga menawarkan teknologi pemetaan posisi ikan berbasis satelit. Ini dapat menjawab keluhan rekan-rekan nelayan yang kesulitan melacak ikan dengan presisi,” kata Soerjono.
Pada pertemuan dengan Menperin, turut pula Dr Alexander Glubokov, pakar biologi dari All-Russia Research Institute of Fisheries and Oceanography serta perwakilan Irkut Corporation (industri pesawat terbang) dan United Shipbuilding Corporation (pembuatan, perbaikan dan pemeliharaan kapal).
Pihak Irkut mengaku berminat ikut mengembangkan pesawat penumpang N219 produksi PT Dirgantara Indonesia.
“Mereka memiliki konsep untuk kerjasama, joint-operation produksi pesawat PT DI. Ini peluang kita untuk mendapat teknologi baru, menambah nilai produk dan meningkatkan hubungan dengan perusahaan multinasional," kata dia.
♙ antara

Posted in: Industri,Kerjasama
Damen Schelde Naval Shipbuilding Diajak Investasi di Indonesia
Membangun galangan kapal di Indonesia
Proses Kerjasama Damen bersama PT PAL Indonesia [Gatra] ○
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengunjungi industri galangan kapal milik Damen Schelde Naval Shipbuilding di Vissingen, barat daya Amsterdam, saat kunjungan kerja ke Rotterdam, Belanda.
”Ke depan, saya ingin ajak Damen bekerja sama ke tingkat yang lebih lanjut yaitu membangun galangan kapal di Indonesia," kata Menperin melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menperin menegaskan bahwa galangan kapal Indonesia di Batam, Surabaya dan daerah lain di Indonesia siap bermitra.
Pada kesempatan tersebut, pendiri dan Chairman Damen Shipyard, Kommer Damen dan Presiden Direktur Hein van Ameijden menyambut langsung rombongan Menperin dan delegasi dari Indonesia.
Perusahaan tersebut merupakan salah satu mitra PT PAL Indonesia di Surabaya, di mana keduanya bekerja sama membangun kapal Perusak Kawal Rudal 10514 model korvet/frigate sigma class.
“Format kerja sama dengan PT Pal adalah joint production, beberapa modul dikerjakan di Surabaya dan lainnya di Belanda lalu disatukan. Ini membuka kesempatan terjadinya transfer of technology,” ujar Menperin. Pada pertemuan itu, pihak Damen mengungkapkan bahwa mereka agresif melakukan investasi di Asia Tenggara khususnya Vietnam.
Untuk itu, Menperin meminta Damen menanam investasi langsung di Indonesia dan mengembangkan industri perkapalan.
★ Antara
Posted in: Bisnis,Industri,Investasi,Kapal,PAL
Presiden resmikan pabrik pupuk terbesar Asia Tenggara
Pabrik ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional Presiden Joko Widodo meninjau pengoperasian Pabrik V Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur, 19 November 2015. Jokowi meresmikan pabrik Kaltim V yang merupakan pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara dan akan memperkuat posisi Indonesia di pasar pupuk internasional. [ANTARA/Wahyu Putro] ☆
Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik Kaltim V yang merupakan pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara dan akan memperkuat posisi Indonesia di pasar pupuk internasional.
"Pabrik ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional," kata Dirut PT Kalimantan Timur (PKT) Aas Asikin Idat di Bontang, Kalimantan Timur, Kamis, pada peresmian pabrik yang merupakan realisasi pertama program pemerintah untuk revitalisasi industri pupuk.
Hadir pada peresmian pabrik pupuk terbesar itu antara lain Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan Kepala Bappenas Sofyan Djalil.
Ia menjelaskan pihak konsorsium kontraktor PT IKPT-Toyo telah menyerahterimakan pabrik yang pembangunannya menelan dana 576 juta dolar AS itu pada 9 November 2015.
Kini pabrik tersebut, lanjut Aas, telah berproduksi dengan baik dengan kapasitas 825 ribu ton amoniak dan 1,5 juta ton urea per tahun, sehingga kapasitas produksi PKT bertambah kini bertambah menjadi 2,74 juta ton amoniak dan 3,43 juta ton urea.
Kaltim V, kata dia, menjadi pabrik pupuk hemat energi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
Pabrik baru itu menghemat penggunaan gas sebesar 14 mmbtu dibandingkan pabrik yang ada sebelumnya. "Dengan asumsi harga gas tujuh dolar AS, kami bisa menghemat biaya bahan baku hingga Rp 1,5 triliun per tahun," ujar Aas.
Pabrik baru itu menyerap tenaga kerja baru untuk operasional sebanyak 250 orang dan selama pembangunan mempekerjakan sekitar 6.000 orang.
Selain meresmikan pabrik Kaltim V, Presiden juga meresmikan pabrik asam fosfat II yang menelan investasi senilai 203 juta dolar AS milik PT Petrokimia Gresik (Petrogres), di Jawa Timur, untuk menekan impor bahan baku pupuk NPK.
PKT dan Petrogres merupakan anak perusahaan PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), di samping tujuh BUMN lainnya yang tergabung dalam induk perusahaan pupuk itu.
Dirut PIHC Arifin Tasrif mengatakan banyak proyek-proyek investasi lainnya yang kini sedang dijajaki dan dalam pelaksanaan untuk menjadikan BUMN pupuk sebagai pemain internasional yang tidak hanya mampu mendukung kedaulatan pangan, namun juga mampu bersaing di pasar dunia.
Proyek yang akan dibangun itu antara lain pabrik asam fosfat dan asam sulfur di Bontang, Kaltim, senilai 225 juta dolar. Proyek tersebut merupakan kerja sama antara PKT dengan Jordan Phospate Mines Company yang penandatangan nota kesepahaman (MoU) dilakukan di hadapan presiden hari ini.
Selain itu, melalui PKT, PIHC juga akan membangun pabrik amonium nitrat senilai 124 juta dolar AS untuk industri pertambangan, konstruksi, dan pertahanan, bekerja sama dengan BUMN lain yaitu PT Dahana.
Pada kesempatan itu, Arifin juga melaporkan sejumlah proyek yang telah diselesaikan tahun ini antara lain pabrik NPK di Cikampek (PT Pupuk Kujang), pembelian kapal amoniak dengan kapasitas 13.800 ton melalui anak perusahaan PT PT Pupuk Indonesia Logistik, yang mampu menghemat biaya distribusi senilai dua juta dolar AS.
Sedangkan proyek yang masih berjalan saat ini di antaranya, proyek amurea II berkapasitas amoniak 660 ribu ton dan urea 570 ribu ton per tahun di Jawa Timur (Petrogres) dan pabrik Pupuk Pusri II B berkapasitas 660 ribu ton amoniak dan 907.500 ton urea per tahun di Palembang, Sumatera Selatan.
"Berbagai proyek tersebut adalah upaya kami untuk mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan yang selaras dengan program Nawa Cita," kata Arifin.
Sementara itu dalam sambutannya Presiden Joko Widodo menegaskan keberadaan industri pupuk sangat penting untuk mendukung target pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan ekspor.
"Strategi negara ke depan selain memenuhi kebutuhan pangan sendiri, dalam 3-4 tahun harus bisa mengekspor (pangan), dan itu harus didukung oleh industri pupuk," kata Presiden.
☠ Antara

Posted in: BUMN,Ilmu Pengetahuan,Industri
Kemenperin dorong industri otomotif kembangkan mobil listrik
”Masih terbuka peluang untuk pengembangan mobil listrik secara mandiri oleh industri dalam negeri karena teknologinya masih berkembang dan belum ada pemain yang dominan di industri ini” Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan memberikan sambutan pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Mobil Listrik di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 24 Februari 2016. (Antaranews/Humas Kementerian Perindustrian) ★
Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri otomotif nasional mulai mengembangkan mobil listrik, mengingat tren kendaraan masa depan menuju konsep yang hemat energi dan ramah lingkungan.
Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, AlatTransportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan dalam sambutannya pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Mobil Listrik di Jakarta, Rabu.
“Masih terbuka peluang untuk pengembangan mobil listrik secara mandiri oleh industri dalam negeri karena teknologinya masih berkembang dan belum ada pemain yang dominan di industri ini,” kata Putu melalui siaran pers.
Di samping itu, pengembangan mobil listrik sebagai salah satu komitmen Pemerintah Indonesia dalam upaya menurunkan emisi sebesar 29 persen di bawah business as usual pada tahun 2030.
Hingga saat ini, populasi mobil listrik di dunia sekitar 4 juta unit dan diperkirakan pada tahun 2020 mencapai 10 juta unit.
Menurut Putu, agar industri otomotif dalam negeri dapat terus berdaya saing, pengembangannya harus sinergi dengan tuntutan pasar. “Mobil listrik ini menjadi target market untuk pengembangan industri otomotif kita ke depan. Kalo tidak diantisipasi perkembangan teknologi ini, hanya menjadikan kitasebagai pengguna,” tuturnya.
Ia menyampaikan, teknologi kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan mengarah kepada advance diesel/petrol engine, bahan bakar alternatif (biofuel), bahan bakar gas (CNG atau LGV), kendaraan listrik, hybrid, dual fuel (gasoline-gas) dan fuelcell (hydrogen).
Perlu sinergi kembangkan mobil listrik
Diperlukan sinergi dukungan berbagai instansi terkait untukmelakukan penelitian dan pengembangan serta penetapan regulasi terkait perkembangan teknologi tersebut.
Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan dalam sambutannya pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Mobil Listrik di Jakarta, Rabu.
“Untuk mobillistrik, teknologi yang perlu dikembangkan antara lain charging station, battery, dan motor listrik,” ungkap Putu.
Saat ini, Kemenperin telah membuat langkah strategis yang disebut triplex helix, merupakan kolaborasi antara pemerintah dengan asosiasi industri dan akademisi. “Bila perlu kerja sama yang selama ini sudah terjalin dapat terus diperkuat dalam pelaksanaan development bersama,” ujarnya.
Putu juga memastikan, pihaknya siap memfasilitasi pembetukan engineering center. “Kita harus berbagi peran agar bisa saling mengisi. Misalnya ada institusi yang fokus pada pengembangan battery, fokus pada pengembangan motor atau fokus pada charging station, dan lain-lain,” pungkasnya.
Dorong prinsipal bangun industri komponen
Apa kabar Mobil listrik Indonesia, 'Selo'?
Menteri Perindustrian, Saleh Husin, meminta para prinsipal otomotif untuk membangun industri komponen yang berpusat di Tanah Air agar Indonesia tidak perlu mengimpor dari negara lain.
"Kami meminta pada prinsipal untuk mendorong industri komponennya agar dibangun di Indonesia," kata Husin usai Rapat Koordinasi Ditjen Pengembangan Perwilayahan Industri di Solo, Jawa Tengah, Kamis.
Dia mengatakan, saat ini industri komponen yang ada di Indonesia baru berjumlah 1.000 industri sementara di Thailand sudah mencapai 3.000 industri komponen.
Kekurangan jumlah pemain dalam industri komponen membuat Indonesia terpaksa melancarkan impor suku cadang dari negara lain, Thailand misalnya.
"Saat ini alat-alat komponen lainnya pun masih impor, makanya kami dorong untuk terus bertumbuh," kata Husin.
Kementerian Perindustrian tidak pernah jenuh untuk meminta para pabrikan otomotif Jepang dan Tiongkok alias China yang sedang membangun industri otomotif di Indonesia supaya sekaligus membangun pabrik suku cadang.
"Kami ajak Jepang, atau Tiongkok yang sedang membangun industri otomotifnya di Indonesia," ucap dia.
Husin yang pada pekan lalu mengunjungi pabrik Toyota, Mitsubishi dan pengusaha komponen di Osaka mengatakan siap mengundang mereka ke Indonesia pada bulan depan untuk menjajaki industri kecil menengah di bidang otomotif hingga industri makanan dan minuman.
"Kemarin saya baru pulang dari Jepang, melihat pabrik Toyota dan Mitsubishi dan bertemu dengan beberapa pengusaha UKM di Osaka yang berencana bulan depan akan ke Indonesia," kata dia.
Pertumbuhan industri otomotif dinilai semakin baik
Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan, pertumbuhan industri otomotif di Indonesia semakin membaik ditandai dengan penambahan investasi pabrikan otomotif di Tanah Air.
"Industri otomotif memang pertumbuhannya baik. Salah satunya karena Toyota berinvestasi mulai 2015 sampai 2019 dengan nilai sekitar Rp 20 triliun," kata Husin, usai Rapat Koordinasi Ditjen Pengembangan Perwilayahan Industri, di Solo, Jawa Tengah, Kamis.
"Pada 2015 mereka sudah mengeluarkan Rp 5 triliun dan pada 2016 ini akan menambah investasi Rp 5,4 triliun," lanjut Husin.
Menurut data Kementerian Perindustrian, Toyota menguasai 31 sampai 32 persen pasar di Indonesia. Toyota telah mewujudkan investasi Rp 40 triliun di Indonesia hingga 2014 sedangkan untuk periode 2015 sampai 2019 Toyota tengah merampungkan pabrik mesin di Karawang.
Husin juga mengapresiasi langkah pabrikan otomotif lain yang serius berinvestasi di Indonesia dengan membuka pabrik baru baik untuk perakitan maupun suku cadang.
"Mitsubishi sudah membangun pabrik baru dengan nilai investasi Rp 6 triliun, Isuzu Rp 3,5 triliun dan Wuling (pabrikan Tiongkok) mengeluarkan nilai investasi Rp 11 triliun," jelas Husin.
Dia mengaku telah berkoordinasi dengan kementerian lain untuk menjaga iklim investasi di Indonesia tetap kondusif sehingga investor tidak lari ke negara tetangga.
"Jika di Vietnam ada insentif, investornya akan lari ke sana. Jadi kami harus berlomba dengan mereka. Pada intinya kami berkoordinasi lintas kementerian guna menciptakan iklim investasi dunia usaha agar lebih kondusif dan nyaman," kata dia.
★ antara

Posted in: Artikel,Industri,Mobil
Pertamina Pesan 8 Kapal Tanker
Senilai Rp 2,66 T MT Musi (Tempo) ☆
PT Pertamina (Persero) berkomitmen tinggi untuk memberdayakan industri galangan kapal nasional berikut pendukungnya melalui pemesanan kapal tanker dari galangan dalam negeri.
Saat ini, Pertamina bersama para mitra dalam negerinya dalam proses penuntasan 8 proyek kapal tanker tipe GP dengan bobot mati 17.500 DWT. Proyek bernilai total sekitar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,66 triliun (kurs Rp 13.300) tersebut ditargetkan tuntas pada tahun ini.
Kedelapan proyek tersebut meliputi MT Parigi dan MT Pattimura oleh PT Angrek Hitam Shipyard, MT Panderman, MT Papandayan, dan MT Putri oleh PT Daya Radar Utama, serta MT Pasaman, MT Panjang, dan MT Pangrango oleh PT Multi Ocean Shipyard.
"Pertamina selalu memberikan tantangan kepada industri dalam negeri baik dalam hal besaran kapal maupun standar kapal. Galangan kapal nasional harus bisa membangun kapal berstandar Internasional yang dapat diterima berlayar ke negara mana pun di dunia. Kapal tanker Pertamina juga dituntut untuk ramah lingkungan dan tingkat safety tinggi dan taat terhadap ketentuan-ketentuan Internasional lainnya," kata New Ship Project Coordinator Pertamina I Ketut Sudana, dalam keterangan resminya, Minggu (28/2/2016).
Saat ini, kapal milik terbesar yang diproduksi galangan kapal nasional berukuran 30.000 DWT, yaitu MT Fastron yang dibangun oleh PT PAL. Kapal dengan ukuran sebesar itu dipercayakan pembangunannya setelah sukses membangun kapal sekelas di bawahnya.
"Seperti Daya Radar Utama, setelah sukses membangun MT Musi berbobot 3.500 DWT dengan panjang kapal 90 meter, terbesar yang pernah mereka buat saat itu, kami berikan lagi mereka tantangan membuat tiga kapal 17.500 DWT yang panjangnya 157 meter, lebar 28 meter dan tinggi 12 meter. Kami juga meminta DRU dan juga galangan kapal lain agar bisa membangun dengan kualitas yang sama dengan kapal produksi Korea Selatan. Dan terbukti berhasil sejauh ini," jelas dia.
Pertamina juga menantang industri pendukung galangan kapal untuk lebih bisa berkembang sehingga kandungan lokal kapal dapat terus ditingkatkan. Saat ini, kandungan lokal untuk kapal-kapal tanker buatan dalam negeri umumnya sekitar 30-35%.
Business Development Director Daya Radar Utama Steven Angga Prana mengakui, besarnya peran Pertamina untuk membangun kapasitas dan kemampuan galangan kapal dalam negeri. Kesuksesan membangun MT Musi pada 2012 memicu banyaknya order kapal-kapal besar dan modern kepada perusahaannya, termasuk KRI Bintuni milik TNI AL.
"Kami sangat mengapresiasi Pertamina yang berani memberikan order kepada galangan nasional. Semula kami hanya memproduksi kapal-kapal konvensional dan tidak hightech, dengan supervisi Pertamina yang telah berpengalaman membangun kapal di luar negeri, sekarang kami mampu dengan proses modern dan alat otomatis. Tanpa order Pertamina, galangan kapal mungkin tidur semua dan tidak ada transfer teknologi," kata Steven.
Steven mengatakan, untuk menyelesaikan kapal berukuran 17.500 DWT umumnya memerlukan waktu 24 bulan. Dengan tiga kapal yang diorder Pertamina, Daya Radar Utama mempekerjakan sekitar 1.500 orang tenaga kerja.
"Kami optimistis dapat berkembang dan Daya Radar Utama yang memiliki luas lahan 40 ha dan garis pantai sekitar 600 meter ke depan akan mengembangkan galangan yang mampu membangun kapal tanker dengan kapasitas 100.000 DWT," ungkap Steven. (dnl/drk)
☆ detik

Posted in: Industri,Kapal,Pertamina
Pertamina Tingkatkan Kemampuan Galangan Kapal Nasional
PT Pertamina (Persero) berkomitmen tinggi untuk memberdayakan industri galangan kapal nasional berikut pendukungnya melalui pemesanan kapal tanker dari galangan dalam negeri.
Saat ini, Pertamina bersama para mitra dalam negerinya dalam proses penuntasan 8 proyek kapal tanker tipe GP dengan bobot mati 17.500 DWT. Proyek bernilai total sekitar 200 juta dolar AS tersebut ditargetkan tuntas pada tahun ini.
Kedelapan proyek tersebut meliputi MT Parigi dan MT Pattimura oleh PT Angrek Hitam Shipyard, MT Panderman, MT Papandayan, dan MT Putri oleh PT Daya Radar Utama, serta MT Pasaman, MT Panjang, dan MT Pangrango oleh PT Multi Ocean Shipyard.
"Pertamina selalu memberikan tantangan kepada industri dalam negeri baik dalam hal besaran kapal maupun standard kapal. Galangan kapal nasional harus bisa membangun kapal berstandar Internasional yang dapat diterima berlayar ke negara manapun di dunia. Kapal tanker Pertamina juga dituntut untuk ramah lingkungan dan tingkat safety tinggi dan taat terhadap ketentuan-ketentuan Internasional lainnya," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro, Sabtu (27/2/2016).
Saat ini, kapal milik terbesar yang diproduksi galangan kapal nasional berukuran 30.000 DWT, yaitu MT Fastron yang dibangun oleh PT PAL. Kapal dengan ukuran sebesar itu dipercayakan pembangunannya setelah sukses membangun kapal sekelas di bawahnya.
"Seperti Daya Radar Utama, setelah sukses membangun MT Musi berbobot 3.500 DWT dengan panjang kapal 90 meter, terbesar yang pernah mereka buat saat itu, kami berikan lagi mereka tantangan membuat tiga kapal 17.500 DWT yang panjangnya 157 meter, lebar 28 meter dan tinggi 12 meter. Kami juga meminta DRU dan juga galangan kapal lain agar bisa membangun dengan kualitas yang sama dengan kapal produksi Korea Selatan. Dan terbukti berhasil sejauh ini."
Pertamina juga menantang industri pendukung galangan kapal untuk lebih bisa berkembang sehingga kandungan lokal kapal dapat terus ditingkatkan. Saat ini, kandungan lokal untuk kapal-kapal tanker buatan dalam negeri umumnya sekitar 30-35 persen.
Business Development Director Daya Radar Utama Steven Angga Prana mengakui besarnya peran Pertamina untuk membangun kapasitas dan kemampuan galangan kapal dalam negeri. Kesuksesan membangun MT Musi pada 2012 memicu banyaknya order kapal-kapal besar dan modern kepada perusahaannya, termasuk KRI Bintuni milik TNI AL.
"Kami sangat mengapresiasi Pertamina yang berani memberikan order kepada galangan nasional. Semula kami hanya memproduksi kapal-kapal konvensional dan tidak hightech, dengan supervisi Pertamina yang telah berpengalaman membangun kapal di luar negeri, sekarang kami mampu dengan proses modern dan alat otomatis. Tanpa order Pertamina, galangan kapal mungkin tidur semua dan tidak ada transfer teknologi," kata Steven.
Steven mengatakan untuk menyelesaikan kapal berukuran 17.500 DWT umumnya memerlukan waktu 24 bulan. Dengan tiga kapal yang diorder Pertamina, Daya Radar Utama mempekerjakan sekitar 1.500 orang tenaga kerja.
"Kami optimis dapat berkembang dan Daya Radar Utama yang memiliki luas lahan 40 ha dan garis pantai sekitar 600 meter ke depan akan mengembangkan galangan yang mampu membangun kapal tanker dengan kapasitas 100.000 DWT," ungkap Steven.
★ Tribunnews

Posted in: Artikel,Industri,Kapal,Pertamina
Kembangkan Jet Tempur, Tonggak Baru Industri Dirgantara RI
Proyek KF-X/IF-X jadi debut Indonesia ikut mengembangkan jet tempur canggih. (Dok. PT Dirgantara Indonesia) ★

Salah satu pejabat Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menyebut proyek pengembangan pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) antara Korea Selatan dan Indonesia sebagai tonggak baru dalam industri dirgantara nasional.
“Ini satu lompatan. Indonesia mesti memberdayakan industri pertahanannya secara maksimal,” kata Anne Kusmayati, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/2).
Pilihan kalimat berbeda diucapkan Eris Herryanto, Wakil Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan RI. Menurut mantan penerbang TNI Angkatan Udara itu, memang sudah saatnya Indonesia sampai pada tahap pengembangan jet tempur, sebab Indonesia telah memiliki tekad membuat pesawat bahkan sebelum merdeka.
“Ini perjalanan sejarah, kesinambungan sejarah bangsa untuk menguasai teknologi di bidang kerdirgantaraan,” ujar Eris.
Dalam proses perjalanan itu, kata Eris, kabut-badai pasti ada, dan itu semua perlu dihadapi untuk mencapai kemandirian bangsa di industri dirgantara.
Indonesia bahkan telah membuat pesawat tempur secara mandiri hanya dalam kurun waktu 10 tahun setelah merdeka. Prototipe pesawat serang antigerilya Sikumbang diuji terbang pada Agustus 1954.
Sikumbang dirancang oleh Komando Depot Perawatan Teknik Angkatan Udara Republik Indonesia, Laksamana Muda Nurtanio Pringgoadisurjo –perintis industri dirgantara Indonesia yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama perusahaan industri pesawat terbang Indonesia, PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (selanjutnya berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara, dan kini berubah jadi PT Dirgantara Indonesia setelah restrukturisasi)
Pesawat Sikumbang ketika itu bahkan diulas di majalah penerbangan Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang.
Empat tahun setelah prototipe Sikumbang terbang, 1958, Subdepot Penyelidikan, Percobaan, dan Pembuatan AURI menerbangkan Belalang, prototipe pesawat latih dasar yang kemudian digunakan untuk mendidik calon penerbang di Akademi Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat.
Masih pada tahun yang sama, Indonesia menerbangkan Kunang, pesawat berkursi tunggal. Seperti Sikumbang, Kunang dan Belalang pun dirancang oleh Nurtanio.
Sebelum ketiga pesawat itu, pesawat terbang bermotor WEL-X/RI-X telah lebih dulu dibuat oleh Wiweko Soepono pada 1948.
Tahun 1938 sebelum Indonesia merdeka pun, putra-putra Indonesia dipelopori Tossin membuat pesawat terbang di salah satu bengkel di Pasirkaliki, Bandung. Pesawat itu kemudian diberi nama PK.KKH.
Kepak sayap Indonesia membangun industri dirgantaranya berlanjut pada era Bacharuddin Jusuf Habibie yang pernah mengemban jabatan Presiden Direktur PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio.
“Indonesia membuat pesawat NC-212, CN-235, N-250, dan masih banyak lagi,” kata Eris.
Proses produksi pesawat CN-235 di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat. (ANTARA/Novrian Arbi)
Jadi, ujar Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisjahbana, industri dirgantara Indonesia sesungguhnya telah berkembang sejak dulu. “Hanya ini kali pertama Indonesia ikut membuat pesawat tempur secanggih ini.”
“Kebangkitan industri dirgantara RI misal 10 Agustus 1995, saat penerbangan pertama N-250. Indonesia sekarang bisa ikut membuat jet tempur karena, salah satunya, pernah membuat N-250,” ujar Andi.
N-250 merupakan pesawat penumpang sipil rancangan asli Indonesia. Kode N di depan angka 250 merupakan singkatan dari ‘Nusantara’ –menunjukkan bahwa desain dan produksi pesawat sepenuhnya dikerjakan di Indonesia. N juga kependekan dari ‘Nurtanio’, perintis industri penerbangan Indonesia.
Terakhir, 10 Desember 2015, PTDI meresmikan pesawat perintis N-219 yang seluruhnya murni buatan Indonesia. Seperti N-250, N-219 dirancang sendiri oleh PTDI dan dibuat untuk melayani daerah-daerah terpencil, termasuk di dataran tinggi dan wilayah dengan landasan pacu pendek.
Masuk rantai pasokan global
Ada syarat penting agar industri dirgantara suatu negara berkembang dan diakui dunia: memiliki produk utama, dan harus eksis dengan menjadi bagian dari rantai pasokan global produk-produk dunia.
Soal produk utama, PTDI sudah memiliki CN-235, NC-212, dan sebentar lagi N-219.
Sementara untuk masuk ke rantai pasokan global, perusahaan mesti bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang sudah mapan. PTDI misalnya dengan pabrikan pesawat Airbus asal Eropa yang menerima banyak pesanan pesawat dari berbagai penjuru dunia.
Airbus, berdasarkan data yang dilansir perusahaan itu pada laman resmi mereka di airbus.com, per Januari 2016 telah menerima total pesanan 16.360 pesawat. Dari jumlah itu, 9.542 unit telah dirampungkan dan diserahkan kepada pemesan, sedangkan 6.818 unit lainnya belum rampung.
“Lion Air saja pesan ke Airbus sampai sekian ratus. Itu baru satu pemesan. Padahal maskapai penerbangan di dunia ini banyak. Mungkin baru dalam beberapa tahun semua pesanan itu bisa dipenuhi Airbus. Artinya Airbus pasti overload dan perlu bantuan. Itulah kesempatan yang bisa diambil (PTDI) misal dengan membuat sayap pesawat. Suplai komponen-komponen untuk Airbus,” ujar Eris.
Untuk bisa membuat komponen-komponen tersebut untuk Airbus, PTDI bersaing lebih dulu dengan perusahaan-perusahaan lain melalui tender.
“Di situ ada kompetisi soal kualitas dan harga. Kalau bisa bersaing, akan langsung dipakai (Airbus). Akhirnya kita masuk global supply chain. PTDI sudah melakukan itu,” kata Eris.
Seluruh Eurocopter E725 Caracal atau Super Couger keluaran Airbus Helicopters misal, tail boom-nya dibuat dibuat oleh PTDI.
Helikopter Super Cougar di hanggar perakitan PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Iwan Hermawan)
“Jadi Airbus tidak membuat sendiri seluruh komponen pesawatnya. PTDI membuatkan sejumlah komponen untuk Airbus, dan dengan demikian menjadi bagian dari global supply chain industri penerbangan. Ini bisa menghidupi dan membuat perusahaan diakui dunia selain punya produk utama buatan sendiri untuk dijual,” papar Eris.
Dua lagi hal penting yang mesti dimiliki industri pertahanan, menurut Anne, ialah kemampuan diversifikasi dan menghasilkan produk komersial.
Pada akhirnya, ujar Andi, Indonesia mutlak memerlukan kemampuan penguasaan teknologi dirgantara. Dengan jumlah penduduk besar –lebih dari 240 juta jiwa– dan wilayah kepulauan amat luas, Indonesia setidaknya membutuhkan sekitar 4.000 pesawat untuk sarana transportasi.
“Lima puluh pesawat tempur tambahan tak akan cukup untuk menjaga seluruh wilayah Indonesia. Butuh lebih banyak. Indonesia juga perlu memperbaiki sistem pertahanannya karena lawan pun makin canggih,” kata Andi. (agk/sip)
★ CNN

Posted in: Artikel,DI,Ilmu Pengetahuan,Industri,Kerjasama,Pesawat
RI-Mesir Bahas Potensi Kerja Sama Industri
Pembuatan gerbong kereta di pabrik PT Industri Kereta Api (INKA). TEMPO/Ishomuddin ★
Negara anggota Developing Eight (D-8), termasuk Indonesia, telah memanfaatkan kerja sama internasional untuk meningkatkan pengembangan industri di tingkat bilateral. “Kami telah melakukan pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzi," kata Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono lewat siaran pers diterima di Surabaya, Kamis, 12 Mei 2016.
Sigit mengatakan, pertemuan tersebut banyak membahas berbagai potensi kerja sama di bidang industri antara Indonesia dan Mesir secara bilateral, baik yang sedang di inisiasi maupun yang berpotensi akan menguntungkan kedua negara.
Salah satu pembahasan yang cukup mendapat perhatian adalah rencana kerja sama PT Industri Kereta Api (INKA) dengan perusahaan BUMN di Mesir yang saat ini masih dalam tahap negosiasi.
“PT. INKA berencana mengadakan kontrak kerja sama industri maupun perdagangan dengan salah satu BUMN terkemuka di Mesir, untuk pengadaan gerbong kereta api dan kepala truk, serta membangun fasilitas perawatan dan perbaikannya di Mesir,” papar Sigit.
Dubes RI untuk Mesir dan Dirjen KPAII bersama-sama menyepakati untuk memberikan dukungan penuh agar kerja sama bilateral dapat terwujud dalam waktu dekat. Selain itu, dilakukan pula kerja sama bantuan teknis dan transfer teknologi sebagai tahap lanjutan dari kerjasama tersebut yang ditujukan untuk menjamin akses pasar produk PT. INKA ke pasar Mesir dan negara-negara sekitarnya.
★ Tempo

Posted in: Industri,INKA,Kerjasama
Galangan Kapal Lokal Kalah Sebelum Perang
Di Tender Internasional [Reuters] ○
Industri galangan kapal merupakan salah satu industri yang jarang mendapat sorotan dari pemerintah. Industri yang harusnya berjaya di negara maritim, kini goyah diterpa persaingan industri kapal global.
Para pelaku industri galangan kapal mengaku sulit bersaing di kancah internasional. Ini karena kurangnya perhatian pemerintah dalam mengembangkan potensi usaha galangan kapal.
"Kita bicara tentang industri maritim campur tangan negara dalam industri itu di Indonesia dilepas sendiri," ujar Direktur Utama PT Krakatau Shipyard, Askan Naim, saat ditemui di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (7/4/2016).
Selain itu, bunga pinjaman di dalam negeri untuk tambahan modal juga dinilai terlalu tinggi, sehingga menyulitkan para pelaku usaha untuk mengembangkan industri galangan kapal. Besaran bunga pinjaman perlu ditekan guna meningkatkan produktivitas industri tersebut.
"Bunga kita 4% sampai 5% saja kalo di maritim, Bank Dunia dan IMF (International Monetary Fund) kecil sekali. Kapal itu harus dilihat sebagai bagian dari infrastruktur. Kalau,sudah diangap sebagai bagian infrastruktur, campur tangan negara wajib itu," tutur Askan.
Ditemui di tempat yang sama, Direktur Utama PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (DKB), Bandung Bismono, menambahkan perlunya pembebasan bea masuk terhadap komponen-komponen kapal. Pembebasan bea masuk ini bertujuan untuk mengembangkan industri kapal dalam negeri.
"Bea masuk untuk komponen kapal kalau bisa dinolkan saja supaya berkembang," ujar Bandung.
Selama ini industri galangan kapal hanya bergantung pada komponen impor. Sebelumnya ada industri komponen kapal dalam negeri, namun karena pertumbuhan industri yang lesu maka satu persatu produksi komponen kapal buatan Indonesia gulung tikar.
"Kalau pendukungnya masih impor kita bisa apa? Kalau dalam negeri dikasih proyek terus kita tumbuh. Di Tegal dulu bisa begitu produksi jendela kapal, Kuningan kita bisa bikin. Tapi karena nggak ada proyek, kita mati semua industri itu," pungkas Bandung. (wdl/wdl)
★ detik
Posted in: Artikel,BUMNIS,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Industri,Kapal
BUMN Ini Pernah Ekspor Kapal Feri Besar Ke Swedia
Ilustrasi ☆
Selama ini industri galangan kapal nasional terdengar lesu dalam aktivitasnya memproduksi kapal di dalam negeri. Namun, siapa sangka salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) galangan kapal pernah berjaya.
PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (DKB) pernah menorehkan sejarah di masa keemasannya di era 1990-an. BUMN galangan kapal yang berdiri sejak tahun 1990 ini, pernah melakukan ekspor kapal Feri Roro Gotland hingga ke Swedia.
"PT DKB pernah bikin kapal ke Swedia. Di tahun 1995 kapal Feri Ro-Ro Gotland," terang Direktur Utama PT DKB, Bandung Bismono, saat ditemui di bilangan Senayan, Kamis (7/4/2016).
Kapal tersebut merupakan kapal terbaik di zamannya, dengan spesifikasi yang mumpuni. Feri Ro-Ro Gotland memiliki panjang 170 meter dengan gross tonasenya mencapai 30.000 ton. Di mana ini termasuk salah satu kapal penumpang terbesar yang pernah dibuat Indonesia.
"Panjangnya 170 meter, tonasenya 30.000 deadweight tonnage. Itu yang terbesar yang dibangun Indonesia," ujar Bandung.
Kapal Feri Ro-Ro Gotland yang diekspor ke Swedia di 1995 merupakan proyek pembangunan kapal terbesar setelah digabungnya 4 perusahaan galangan kapal di 1990. Keempat perusahaan tersebut adalah PT Dok dan Perkapalan Tanjung Priok (Persero) berdiri tahun 1891 dan PT Kodja (Persero), PT Pelita Bahari (Persero), dan PT Dok & Galangan Kapal Nusantara (Persero) yang ketiganya berdiri pada tahun 1964.
"Konsorsium jadi merger 4 perkapalan besar," tutur Bandung.
Saat ini, PT DKB mengaku sulit kembali memproduksi kapal dengan skala besar karena minimnya infrastruktur pendukung dan butuhnya investasi yang sangat tinggi.
"PT DKB tidak ikut lagi, karena kita ini untuk bangun kapal luar negeri butuh investasi infrastruktur yang memadahi," pungkas Bandung. (wdl/wdl)
☠ detik

Posted in: Artikel,BUMN,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Industri,Kapal
Gabungan 2 BUMN dan 1 Swasta Bidik Pembuatan 30 Kapal Patroli Kemenhub
Kerjasama tiga perusahaan galangan kapal ini akan menjadi terobosan baru dalam poros maritim Indonesia Ilustrasi ★
Produktivitas industri galangan kapal yang belakangan ini lesu mulai digenjot, seiring dengan program Nawacita yang diusung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Industri galangan kapal saat ini mulai berbenah, lantaran ramainya pesanan kapal yang datang dari dalam negeri.
Kementerian perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Laut, berencana melakukan lelang tender proyek pembuatan 30 unit kapal patroli untuk Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP).
Melihat kesempatan ini, tiga industri galangan kapal di Indonesia menyatakan kesiapannya untuk bergabung dalam menjalankan proyek tahun jamak atau multiyears berjangka waktu 3 tahun itu. Ketiga perusahaan tersebut antara lain PT PAL (Persero), PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero), dan PT Krakatau Shipyard.
"Kami menggandeng PT PAL punya teknologi dan sangat bagus. Sudah diakui di tingkat internasional, kualitas PT PAL sangat tinggi. PT DKB punya kemampuan yang sangat bagus, PT PAL juga mumpuni dari desain," ujar Direktur Utama PT Krakatau Shipyard, Askan Naim, saat ditemui di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (7/4/2016).
Konsorsium tiga perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia saat ini tengah berusaha membuat industri galangan kapal Indonesia bisa berjaya di negerinya sendri.
"Kami bertiga dalam konsorsium sudah ikut dalam tahap kualifikasi, sehingga kita berharap dalam tahap berikut di teknis lolos terus. Dalam rangka menyukseskan kapal negara ini," tutur Askan.
Ditemui di tempat yang sama, Direktur Utama PT DKB, Bandung Bismono mengungkapkan, konsorsium ini memiliki bagian yang sama dalam menangani proyek pembangunan kapal nantinya. Ketiga perusahaan galangan kapal ini juga memiliki keunggulan masing-masing yang dapat dipadukan hingga diharapkan mampu menghasilkan hasil akhir yang mumpuni.
"Kami mensinergikan kemampuan itu, membuat konsorsium dengan porsi leadernya PT PAL 35%, PT KS 32,5%, PT DKB sama 32,5%. PT KS punya keunggulan di bidang pengadaan barang, PT DKB produksi karena lokasi paling besar kita peralatan paling besar, kita SDM (Sumber Daya Manusia) paling besar kita ada 1600an, dan PT PAL engineering-nya," ujar Bandung.
Bandung juga menegaskan, kerja sama tiga perusahaan galangan kapal ini akan menjadi terobosan baru dalam poros maritim Indonesia.
"Konsorsium akan menjadi model untuk pembangunan industri kemaritiman," tegas Bandung. (wdl/wdl)
✈️ detik

Posted in: Artikel,BUMN,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Industri,Kapal
PT Pindad Produksi Alat Mesin Pertanian
Berupa Tiga mesin pertanian modern Tiga mesin pertanian modern dipamerkan [aceh.net] ★
Sebanyak tiga alat mesin pertanian produksi PT Pindad (Persero) Bandung diperkenalkan pada Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) ke-15, Sabtu 6 Mei 2017. Presiden RI Joko Widodo bahkan langsung meninjau acara yang digelar di Stadion Harapan Bangsa, Lhoong Raya, Banda Aceh itu.
Dari informasi dikirimkan PT Pindad, diproduksinya ketiga alat mesin pertanian itu untuk mendukung kemandirian dan percepatan program ketahanan pangan pemerintah. Semua komponen untuk produk ini berasal dari dalam negeri dan diproduksi di Pindad kecuali engine, dan transmisi. Jika diberi kesempatan, maka seluruh komponen itu bisa diproduksi di dalam negeri.
Diharapkan, dengan diproduksinya ketiga alat mesin pertanian itu maka Indonesia tidak lagi mengimpor bahan pangan, tapi bisa berswasembada. Seperti diketahui, selama ini Indonesia masih mengimpor berbagai bahan pangan dari negara-negara lain.
Ketiga alat mesin pertanian itu adalah:
★ Pengolah Tanah Amphibi, PA-1800. Alat ini memiliki fungsi mengolah tanah sekaligus mencacah sisa jerami padi, jagung, dan gulma serta mencampur dengan tanah, sehingga akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah.
★ Mesin panen, PP-160 untuk memanen jagung dan padi sekaligus memasukan hasil panen ke dalam karung.
★ Traktor Multiguna, PTM-90 sebagai loader untuk berbagai jenis material seperti tanah, batu, pasir atau puing bangunan dengan kapasitas yang cukup besar, sebagai ekskavator kecil yang dilengkapi fungsi drilling dan jack hammer untuk keperluan konstruksi, pertanian, serta pemeliharaan fasilitas akses jalan pedesaan.
Dalam memproduksi ketiga mesin itu, Pindad bersinergi dengan PT Bhirawa dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian.
Hajatan akbar Penas ini rutin dilaksanakan tiga tahun sekali, dikuti lebih dari dari 35.000 peserta yang terdiri dari perwakilan petani nelayan yang tergabung dalam KTNA dari semua provinsi di Indonesia, para pelaku usaha sektor pertanian, para pejabat lingkup pertanian baik pusat maupun daerah. ***
★ Pikiran Rakyat

Posted in: Artikel,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Industri,Kendaraan industri,PINDAD