Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Kerjasama. Tampilkan semua postingan

Panglima TNI Tandatangani MoU Pembuatan Prototipe ke-2 Rantis 4 x 4

KORANBOGOR.COM, (Puspen TNI, 8/2) – Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. bersama delapan mitra pendukung menandatangani Nota Kesepakatan Pembuatan Prototipe ke-2 Kendaraan Taktis (Rantis) 4 x 4 TNI guna memenuhi standarisasi Kendaraan Taktis 4 x 4 TNI (AD, AL dan AU) dengan bentuk working group TNI, di Mabes TNI Cilangkap, Rabu (8/2). Delapan mitra yang mendukung dalam pembuatan Prototipe ke-2 Rantis 4 x 4 ini adalah :

  • PT. Pindad (Persero) sebagai leading sector industri, termasuk pelaksana integrator desain, pengerjaan break system, steering system, serta senjata.
  • PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. sebagai penyedia material baja bahan baku Rantis 4 x 4;.
  • PT. Autocar Industri Komponen sebagai pelaksana penyedia power train / drive line, power pack (engine dan transmisi), electrical AC dan engine, wich, driver set/tool kit, pengerjaan pengecatan body assembling.
  • PT. Yudistira Komponen sebagai pelaksana pengerjaan chassis dan komponen body.
  • PT. Petrodriil Manufaktur Indonesia sebagai pelaksana pengerjaan suspension assy, hub reduction, transfer case dan propeller shaft.
  • CV Indopulley Perkasa sebagai penyedia mounting engine dan transimisi, rubber part, seal, velg dan ban run flat.
  • PT. Gajah Tunggal Tbk. sebagai penyedia ban.
  • PT. Pilarmas Kursindo Persada, sebagai penyedia jok/kursi kompartemen, glass dan griil, body dashboard dan aksesories/interior.

Pada TA. 2009, TNI telah membentuk tim working group yang bekerjasama dengan industri pertahanan nasional untuk membuat Prototipe Rantis 4×4 dengan mengadopsi filosofi humvee Amerika Serikat yang terbukti cukup tangguh dan stabil. Pembuatan Prototipe ke-2 Rantis ini merupakan tindaklanjut dari Rantis Prototipe ke-1 yang telah dipamerkan di PTDI Bandung bersamaan dengan peresmian pesawat CN-235 oleh Presiden RI. Selanjutnya tim working group bersama 8 mitra TNI siap untuk memenuhi tantangan Presiden untuk memproduksi Rantis tersebut.

Saat ini Rantis yang digunakan TNI terdiri dari berbagai tipe dan jenis yang dibuat dari berbagai negara. Dihadapkan dengan medan yang ada dan kondisi yang semakin tua menyebabkan manuver taktisTNI dalam melaksanakan tugas pokoknya kurang maksimal, sehingga diperlukan Rantis pengganti yang dibuat oleh industri dalam negeri disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta didukung spesifikasi yang sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini.

Panglima TNI berharap kepada tim working group dan 8 mitra industri dapat menghasilkan karya nyata terbaik bangsa berupa Rantis 4×4 yang menggunakan komponen dalam negeri dan mengurangi penggunaan komponen luar negeri, guna memenuhi kebutuhan alutsista dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI, khususnya bagi satuan – satuan manuver TNI di lapangan.

Adapun Rantis yang akan dibuat adalah tipe komando dan tipe angkutan personel dengan spesifikasi berat kendaraan 2.500 kg, berat muatan 250 – 1.500 kg, panjang 480 – 540 cm, lebar 200 cm, tinggi 183 cm, jarak bebas dasar 39 cm, lintas kedalaman air 78 cm, Vmaks di jalan raya 120 km/jam, mesin diesel 4200 cc – 6000 cc Turbo Charger Intercooler, sistem kemudi power steering, sistem rem hydraulik dengan cakram depan dan belakang + Anti Blocking System (ABS),Transmisi Automatic, suspensi independen Suspension Modul Portal, daya jelajah 500 km, sistem komunikasi VHF, HF dan Intercom Set.

Turut hadir dalam acara penandatanganan Nota Kesepakatan antara lain, Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi, para Asisten Panglima TNI dan Asisten Kepala Staf Angkatan, Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, S.E. serta para pejabat TNI dan mitra industri pertahanan nasional.

Presiden SBY mendapat penjelasan prototype rantis 4x4 di bandung, prototype rantis ini sama seperti rantis Garda 4x4 (Foto DETIKFOTO.COM)

Authentikasi : Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl. Ir. Minulyo Suprapto, M.Sc, M.Si, M.A.

• Koranbogor.com

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Kendaraan Militer,Kerjasama,TNI

RI-Jerman tandatangani MoU kerjasama pertahanan

Penandatanganan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden RI dan Presiden Jerman pada tahun 2011 lalu, yang salah satunya adalah kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan, demikian keterangan Counsellor Pensosbud KBRI Berlin, Ayodhia GL Kalake kepada ANTARA London, Selasa.

Wamenhan RI, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan penandatangan kerjasama itu bertujuan sebagai kerangka untuk memajukan kerja sama bilateral berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan dan saling menghormati, kedua pihak.

Selain itu juga disepakat kerja sama dibidang pelatihan, penelitian dan pengembangan, bantuan kemanusian dan penanggulangan bencana, logistik militer dan pelayanan kesehatan serta misi perdamaian.

Wamenhan berharap bahwa kerja sama semacam ini akan dapat meningkatkan mutu SDM Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam membentuk tentara yang profesional dan tangguh, selain juga mendorong modernisasi TNI.

Delegasi Indonesia antara lain Wamenhan, KASAD, Dirjen Strahan, Asops KASAD, Aster KASAD, dan para pejabat dari Kemhan dan Mabes TNI AD dengan didampingi Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) RI, Diah W.M. Rubianto dan Atase Pertahanan, Kol (Pnb) Fachri Adamy. Sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan pejabat Kemhan Jerman dalam kerangka peningkatan kerja sama antara kedua pihak.

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan KASAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo beserta rombongan berkesempatan pula mengadakan tatap muka dan diskusi dengan para pejabat KBRI Berlin serta masyarakat Indonesia di Berlin dan sekitarnya dengan tema "Kebijakan Pertahanan" dan "Reformasi TNI" dengan moderator KUAI RI, Diah W.M Rubianto.

Diah W.M. Rubianto dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia dan Jerman membangun kemitraan strategis. Kelebihan Jerman dalam teknologi, misalkan, hendaknya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk meningkatkan sistem Alutsista TNI selain juga peningkatan SDM personil TNI, ujarnya.

Ia juga mengharapkan penandatanganan MOU kerja sama tersebut akan semakin memperkokoh hubungan kedua negara yang memasuki usia 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jerman pada tahun 2012.

Menurut Diah W.M. Rubianto, Indonesia dan Jerman telah menetapkan lima bidang kerja sama yang menjadi prioritas kemitraan strategis antara Indonesia dan Jerman, yaitu perdagangan dan investasi, riset dan teknologi, kedokteran, pendidikan dan pertahanan.

Adalah suatu tantangan bagi kedua pihak, untuk dapat merealisasikan prioritas tersebut kedalam bentuk kerja sama yang bermanfaat bagi rakyat kedua negara, ujarnya.

Rencana kunjungan Kanselir Angela Merkel ke Indonesia pada tahun 2012 juga akan melengkapi langkah menuju kemitraan strategis Indonesia-Jerman. KUAI RI optimis bahwa Indonesia dan Jerman akan dapat terus menjalin hubungan kemitraan yang konstruktif dan bermanfaat bagi kedua bangsa. (ZG)

• ANTARA News

Posted in: Alutsista,Ilmu Pengetahuan,Kerjasama

Bulgaria Transfer Teknologi Fuse Bomb Ke Indonesia

Indonesia akan siap menghasilkan bom untuk pesawat tempur, khususnya pesawat Sukhoi 27 SK dan 30 MK, sebagai produsen senjata PT Sari Bahari, Malang akan menerima teknologi fuse bomb produksi Armaco dari Bulgaria.

Indonesia selama ini baru mampu memproduksi casing, hulu ledak (warheads) dan bubuk mesiu, dan masih mengimpor fuse bomb.

"Ini adalah langkah kemajuan yang besar bagi Indonesia. Mulai sekarang kita tidak akan lagi tergantung pada negara lain karena kita mampu memenuhi kebutuhan militer Indonesia [TNI] dalam pengadaan bom," kata direktur perusahaan Ricky Hendrik Egam kepada The Jakarta Post pada hari Rabu di Surabaya, Jawa Timur.

Namun Ricky menolak untuk mengungkapkan biaya dari kerjasama antara perusahaannya dengan Armaco.

Dia mengatakan bahwa dengan kerja sama itu, Indonesia memiliki kesempatan untuk memjual fuse bomb kepada negara-negara di Asia yang menggunakan jet tempur pesawat Sukhoi buatan Rusia.

Sebelumnya Perusahaan menghadapi kesulitan dalam mencari negara produsen fuse bomb yang bersedia untuk mentransfer teknologi. Cina telah menolak permintaan perusahaan untuk kerjasama.

PT Sari Bahari telah berhasil menghasilkan bom untuk jet tempur pesawat Sukhoi, baik bom asap dan versi live bomb , dengan bobot antara 100 kilogram sampai 250 kilogram. Perusahaan juga telah mengekspor 70 mm hulu ledak roket asap kepada Angkatan Udara Chili. (SWD)(Jakartapost)(GM)

Posted in: Alutsista,Kerjasama,Roket

Kerja Sama RI-Korea Bidang Industri Pertahanan

 Transfer Teknologi Prioritas Kerja Sama RI-Korea Bidang Industri Pertahanan

transfer teknologi Korea

Jurnas.com | INDONESIA dan Korea Selatan sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang industri pertahanan, utamanya transfer teknologi industri pertahanan. Demikian disampaikan Sekjen Kemhan, Marsekal Madya TNI Eris Heryanto di Kantor Kemahan, Jakarta, Kamis (24/5), usai mendampingi Menhan Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan delegasi Defense Industry Cooperation Committee (DICC) yang dipimpin oleh Mr. Noh Dae-Lae.

Menurut Eris, kerja sama industri pertahanan antara Kemhan RI dan Kemhan Korea dimaksudkan untuk mendorong pemanfaatan peluang terlibat aktif dalam kerja sama produksi dan alih teknologi alutsista untuk mendukung pertahanan negara. Kerja sama industri pertahanan ini juga diharapkan dapat meningkatkan teknologi industri pertahanan dibarengi dengan nilai ekonominya.

Menurutnya, kegiatan kerja sama industri pertahanan antara lain pengembangan dan produksi bersama serta proyek bersama pada peralatan pertahanan dan suku cadang, pertukaran dan peralihan informasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi pertahanan nasional, dan pemasaran bersama produk pertahanan sebagai barang dagangan internasional.

 Lakukan ToT Alutsista, Kemampuan Industri Pertahanan Nasional Perlu Ditingkatkan

Jurnas.com | UNTUK menunjang program transfer of technology (ToT) dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista), pemerintah harus menyiapkan beberapa hal agar ToT ini berjalan lancar. Persiapan ini penting dilakukan mengingat kondisi industri pertahanan dalam negeri berbeda dengan negara yang diajak bekerja sama.

“Memang ada yang harus disiapkan seperti sarana prasarana, SDM, dan manajemen. Biasanya kami akan meminta pada mereka, mana yang bisa dilakukan lebih awal, hingga bisa berjalan. Kami berupaya agar sejajar,” kata Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto usai bertemu dengan delegasi Defense Industry Cooperation Committee (DICC) Kementerian Pertahanan Korea di Kementerian Pertahanan Jakarta, Kamis (24/5).

Menurut Eris, Indonesia dan Korea Selatan yang banyak melakukan kerjasama produksi alat utama sistem senjata (alutsista) dengan skema ToT ini memiliki sistem industri pertahanan yang berbeda. Dia mencontohkan, Industri pertahanan di Korsel adalah milik swasta, sedangkan di Indonesia merupakan BUMN. Status yang berbeda ini, kata dia, berujung pada karakter yang juga berbeda. Selain itu, sarana prasarana dan manajemen serta sumberdaya manusia yang ada pun memiliki spesifikasi yang berbeda.

“Yang pertama dilakukan dalam persiapan kerja sama ToT ini adalah pembangunan sarana dan prasarana, baru manajemen, semua kami siapkan termasuk SDM-nya,” katanya.

Upaya mensejajarkan industri pertahanan nasional dengan Korea Selatan ini, lanjut Eris, juga memerlukan dukungan dana. Namun begitu, Eris tidak merinci berapa besaran dana yang diperlukan dalam proses ini.

Usai menghadiri rapat kerja ke VI Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di PT PAL Surabaya kemarin (24/5), Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyampaikan hal serupa. Menurutnya, kesiapan industri pertahanan nasional perlu ditingkatkan untuk menunjang program ToT. Pemerintah, kata Menhan, akan memberi dukungan untuk peningkatan infrastruktur industri pertahanan nasional.

• Jurnas.com

Posted in: Alutsista,Ilmu Pengetahuan,Kerjasama

Afsel Ingin Gandeng RI Kembangkan Industri Strategis

Berita Armabar

Panser Pindad (foto audryliahepburn)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Afrika Selatan berkeinginan menggandeng Indonesia untuk mengembangkan kerjasama industri strategis. Keinginan itu mencuat dalam kunjungan Paramount Group, sebuah perusahaan berskala global yang bergerak dalam bidang industri pertahanan berbasis di Afrika Selatan, ke Indonesia (5-6/6).

“Kunjungan Paramount Group ke Indonesia bertujuan untuk menjajaki kemungkinan terbentuknya kerja sama dan kemitraan di bidang industri strategis dengan pihak Indonesia serta membentuk kerja sama bisnis dan teknik yang saling menguntungkan melalui proses alih teknologi dan penelitian dan pengembangan,” demikian rilis yang dikeluarkan Direktorat Afrika Kemlu, Jumat (8/6).

Delegasi Paramount Group diwakili oleh direksi dan pimpinan manajerial, yang dipimpin oleh John Craig, Under CEO, Paramount Group.

Dalam kunjungan ke PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia, delegasi Paramount Group yang didampingi oleh Direktorat Afrika dan pejabat fungsi ekonomi KBRI Pretoria menyatakan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk memperdalam dan memperluas bisnis dalam produk industri peralatan militer dan keamanan. Selain itu dinyatakan bahwa Indonesia juga terlibat aktif dalam kegiatan peace keeping forces untuk perdamaian global.

Dengan modalitas demikian, Paramount Group memiliki keinginan untuk memperluas jaringan akses kerja sama industri dan teknologi dengan Indonesia. Lebih lanjut, Paramount Group juga ingin menjadikan Indonesia sebagai basis pengembangan produk industrinya di kawasan Asia Tenggara.

Menanggapi tawaran kerja sama dari Paramount Group tersebut, direksi PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia mengemukakan bahwa Paramount Group menawarkan kontinuitas kerja sama yang bersifat jangka panjang melalui mekanisme pendanaan yang teratur dan tidak menekankan hanya pada proses jual-beli serta profit semata.

Oleh karena itu, kunjungan ini merupakan sarana dan wadah yang baik untuk memulai langkah awal kerja sama, sehingga ke depan Indonesia dapat mengembangkan sayap lebih jauh melalui kemitraan strategis dengan pihak yang tepat dan berdaya guna optimal. ( Rifki / CN34 / JBSM )(suaramerdeka)

Posted in: Alutsista,DI,Kerjasama,PINDAD

PENANDA TANGANAN KONTRAK RANCANG BANGUN TDR DENGAN PT DI

Penanda tanganan kontrak rancang bangun TDR (Target Data Receiver) bersama PT DI bertempat di Sdirbinlitbang Pussenarhanud pada tanggal 13 Juni 2012 di tanda tangani oleh Dirbinlitbang Pussenarhanud Kol Arh Dedi Sholihin sebagai wakil dari Pussenarhanud dengan Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI, Dita Ardonni Jafri, target akhir TA 2012 sudah tergelar TDR (Target Data Receiver) yang akan digabungkan dengan Mer 23 mm Zur composit Rudal Grom. TDR ini akan membantu dalam pendeteksi pesawat musuh dan data tersebut akan dikirimkan ke Satuan Tembak (Satbak).

Pengendalian tempur oleh Battery Command and Control Vehicle (BCCV) terhadap pucuk-pucuk Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom menggunakan kabel sepanjang 200 m, sehingga hal ini mempengaruhi daerah gelar dalam rangka melaksanakan pertahanan udara terhadap obyek yang dilindungi. Apabila pengendalian tempur dalam bentuk koneksi data dan komunikasi tersebut tidak menggunakan kabel (wireless), maka selain diperoleh penggelaran meriam yang lebih luas, juga dapat berperannya setiap pucuk Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom sebagai Satbak. Dengan demikian, konfigurasi Detasemen dapat dikembangkan menjadi 1 Radar, 2 BCCV, 4 Satbak Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom dan 4 Satbak Rudal Poprad. Konfigurasi seperti ini diharapkan akan memperluas daerah pertahanan udara (coverage area) dan secara taktis, diperoleh kepadatan penyerangan sasaran sehingga efektivitas pertahanan udara semakin optimal.

Berawal dari pemikiran tersebut diatas, maka pada TA 2010, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD telah melaksanakan program Litbang yaitu Rancang Bangun Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom. Pada pelaksanaan program Litbang TA 2010, telah diperoleh tujuan dan sasaran yang diinginkan yaitu terwujudnya suatu peralatan TDR untuk pengendalian tempur meriam 23 mm/Zur, yang bertindak sebagai satuan tembak. Dari hasil evaluasi program, diperoleh beberapa hal perlu pengembangan program lebih lanjut demi kesinambungannya program Litbanghan. Hal-hal yang perlu dikembangkan dari pencapaian program Litbanghan TA 2010 antara lain perubahan bentuk dan ukuran serta kemampuan laptop sehingga lebih mudah dalam penggunaannya di lapangan. Selain itu karakteristik dan kemampuan radio perlu ditingkatkan untuk menjangkau jarak penyaluran data sasaran. Pengembangan komponen laptop dan radio pada proposal kegiatan program ini selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan unit TDR, juga mempertimbangkan kesesuaian operasional unit TDR ini di lapangan.

Untuk menjamin berkelanjutannya program Litbanghan Pussenarhanud, maka perlu diajukan program Litbang untuk mengembangkan program Rancang Bangun Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom sebagai program pengembangan untuk program kerja dan anggaran TA 2012. Melalui pengembangan sistem dan metode, diharapkan kesinambungan program Litbang ini dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan Alut Sista Rudal Grom.

Laptop yang ada pada TDR Sista Rudal Grom hasil program Litbang TA 2010 walaupun memiliki kriteria semi rugged laptop, namun masih kurang portable, sehingga akan menyulitkan awak meriam untuk mengoperasikannya di lapangan. Pengembangan ukuran dan jenis laptop yang lebih bersifat portable dan memiliki GPS built-in, selain akan memudahkan operasional awak meriam, juga akan meningkatkan efisiensi penggelarannya.

Radio yang ada pada TDR Sista Rudal Grom hasil program Litbang TA 2010 merupakan radio komersial sehingga tidak memiliki kemampuan anti jamming terhadap gangguan transmisi data pada saat operasional. Pengembangan kriteria radio menjadi milspec radio dan berjenis manpack selain akan memudahkan operasional awak meriam dan meningkatkan kemampuan jarak jangkau transmisi data sasaran, juga akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggelarannya.

Melalui pengembangan sistem dan peralatan pada model TDR, akan diperoleh model Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom yang memiliki kemampuan dan kesesuaian operasional yang tinggi. Dengan diperolehnya TDR yang handal, pucuk meriam 23 mm/Zur pada Sista Rudal Grom dapat berperan sebagai satuan tembak sehingga dapat digelar secara lebih fleksibel dengan jarak lebih jauh, dapat memperluas coverage area, serta secara taktis akan diperoleh kemungkinan menembak seawal mungkin demi terwujudnya efektivitas pertahanan udara.(pussenarhanud)

Posted in: Alutsista,DI,Kerjasama

Indonesia-Prancis kerja sama perangi pencurian ikan

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Prancis menjalin kerja sama untuk memerangi pencurian ikan dengan mengembangkan infrastruktur untuk memantau wilayah perairan Indonesia.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, pemerintah kedua negara akan mewujudkan kerja sama itu melalui proyek pengembangan infrastruktur oseanografi (Infrastructure Development for Space Oceanography/INDESO).

"INDESO diharapkan memberi sumbangsih dalam memerangi illegal, unreported and unregulated fishing yang telah banyak merugikan perekonomian Indonesia," katanya pada acara penandatanganan persetujuan fasilitas kredit proyek INDESO antara Indonesia dan Prancis di Jakarta, Senin.

Ia memaparkan, proyek itu akan membangun fasilitas infrastruktur yang memungkinkan pengamatan penangkapan ikan menggunakan satelit.

"Dengan alat yang disebut Vessel Monitoring System dan pantauan satelit, maka akan dapat diketahui kapal-kapal asing mana yang sedang melakukan penangkapan ikan secara ilegal," katanya.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Bertrand Lortholary, mengatakan, kedua negara telah membangun kemitraan strategis sejak beberapa tahun lalu dan salah satu area kunci yang akan diperkuat adalah kerja sama sektor kelautan dan perikanan.

Total anggaran proyek INDESO, yang akan memasuki tahap implementasi pada 2012 dan diperkirakan berlangsung selama empat tahun, sebesar 31,5 juta dolar AS.

Dana itu berasal dari pinjaman lunak dan hibah Badan Pemerintah Prancis untuk Pembangunan (AFD) sebesar 30 juta dolar AS, dan kontribusi pemerintah Indonesia sebesar 1,5 juta dolar AS.(M040)

ANTARA News

Posted in: Bisnis,Kerjasama

#Tag : Bisnis Kerjasama

Len Jajaki Potensi Kerjasama dengan Perusahaan Pertahanan Turki

Bandung (29/05/2012) - Len menerima kunjungan dari dua perusahaan Turki yang bergerak dalam bidang pertahanan, yaitu Aselsan dan Havelsan. Kunjungan diterima oleh Direktur Teknologi & Produksi Darman Mappangara, Direktur Pemasaran Abraham Mose, GM UB Sistem Kendali & Pertahanan Nurman Setiawan dan Tim Len lainnya, pada tanggal 29 Mei 2012 bertempat di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Karya Utama.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk menjajaki potensi kerjasama dalam bidang pertahanan dalam rangka peningkatan alutsista RI. Aselsan adalah perusahaan elektronik pertahanan, sedangkan Havelsan merupakan perusahaan  yayasan  angkatan bersenjata Turki (Armed Forces Foundation Company).

Seperti yang telah kita ketahui, Turki memiliki hubungan politik yang semakin baik dengan RI, dan hubungan kerjasama industri antara kedua negara terus meningkat. Kedua negara telah memutuskan untuk meningkatkan kerjasama pertahanan, ketika Presiden Abdullah Gul mengunjungi Indonesia pada bulan April yang disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika kedua negara tersebut menandatangani kerjasama industri pertahanan.(LEN)

Posted in: Kerjasama,LEN

#Tag : Kerjasama LEN

Indonesia-Jerman akan tingkatkan kerja sama

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Jerman akan meningkatkan kerja sama dalam bidang-bidang tertentu untuk mendorong kemajuan pembangunan, termasuk bidang ekonomi.

Keterangan tertulis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) yang diterima di Jakarta, Selasa, menyebutkan bahwa Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana, telah menerima kunjungan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Norbert Baas, pada Senin (25/6).

Pertemuan tersebut sebagai salam perpisahan Norbert Baas yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Duta Besar Jerman di Jakarta pada akhir Juli 2012, setelah bekerja selama tiga tahun di Indonesia.

Norbert Baas juga menyampaikan rencana Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang akan mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 10 Juli 2012.

Angela Merkel tidak akan membawa seorang menteripun, hanya beberapa deputi menteri saja karena semua menteri harus mengerjakan tugas di tempat masing-masing.

Norbert Baas juga ingin mendapat kepastian protokoler yang harus diikuti selama kunjungan kenegaraan tersebut. Satu prosedur yang sudah standar adalah adanya penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) hubungan kerja sama di bidang-bidang tertentu.

Baas juga menyampaikan bahwa kunjungan kenegaraan itu akan ditindaklanjuti dengan kunjungan Menteri Kerjasama Ekonomi Jerman ke Indonesia pada Oktober 2012.

Pada pertemuan di Gedung Bappenas itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas didampingi oleh Sekretaris Menteri PPN/Sekretaris Utama Kepala Bappenas, Slamet Seno Adji, dan Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Dedy Supriadi.(Tz.A039/A023)

ANTARA News

Posted in: Kerjasama

#Tag : Kerjasama

Kerjasama Produksi Rudal Indonesia-Tiongkok Perkuat TNI AL

Pengamat intelijen Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN) mengatakan kemitraan Indonesia dan Tiongkok dalam memproduksi peluru kendali, alias rudal, dinilai cukup strategis karena memperkuat kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut dalam melindungi wilayah perbatasan Indonesia.

Menurut Wawan, di samping modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut, kerjasama produksi rudal tersebut oleh pihak pemerintah Indonesia dilakukan dengan menekankan mekanisme alih teknologi antar pakar kedua negara.

“Itu sangat konkrit, tampak ada kemajuan-kemajuan. Berbagai kepentingan terkait persenjataan, baik di darat, laut, udara dan Kepolisian didorong untuk 60 persen dipenuhi dari dalam negeri, tentu saja dengan persetujuan rakyat melalui DPR RI,” ujar Wawan di Jakarta pada Jumat (22/6).

Wawan menambahkan kemitraan Indonesia dan Tiongkok secara menyeluruh memiliki nilai strategis dalam mewujudkan stabilitas dan kerjasama pertahanan di kawasan Asia dan Pasifik.

“Di antara negara-negara tetangga, perlu ada suatu transparansi bahwa semua hubungan ini, yang terkait dengan kerjasama pesenjataan (alutsista), yang menyangkut alih teknologi maupun penggunaan sejata itu sendiri, tidak terkait dengan masalah-masalah ekspansi tetapi terkait dengan masalah ketahanan nasional Indonesia,” katanya.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kerjasama produksi rudal Indonesia dan Tiongkok merupakan salah satu butir kesepakatan kemitraan yang lebih menyeluruh dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.

”Ini penting, agar Indonesia bisa menjaga hubungan dengan banyak negara, dan Tiongkok merupakan mitra strategis di kawasan ini. Kementrian Pertahanan saat ini tengah menyusun mekanisme kemitraan kedua negara terkait kerja sama produksi rudal tersebut,” ujarnya.

Kementerian Luar Negeri  melalui Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing baru-baru ini menyatakan, kerjasama Indonesia dengan Tiongkok berlandaskan mekanisme alih teknologi teknologi untuk produksi bersama peluru kendali (rudal) jenis C-705 yang akan digunakan TNI Angkatan Laut.

Dari kerjasama tersebut, diharapkan di masa depan Indonesia juga lebih mampu mengembangkan jenis rudal canggih untuk keperluan militer. Menurut kesepakatan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara, pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah dan disertai alih teknologi peralatan militer yang antara lain mencakup cara perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, dan pelatihan.

Indonesia menetapkan anggaran sebesar 72 triliun rupiah untuk kebutuhan pertahanannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2012.( VoA)

Posted in: Kerjasama,Rudal,TNI AL

Indonesia dan Jepang Kerja Sama Atasi Kemacetan

TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dan Jepang bekerja sama untuk mengatasi kemacetan melalui intelligent transport system. "Seminar hari ini baru untuk meluaskan informasi, sedangkan investasi nanti dalam tahap berikutnya," ujar Wakil Menteri Infrastruktur dan Transportasi Jepang Naoyoshi Sato, Kamis, 28 Juni 2012. Sato menuturkan intelligent transport system telah diimplementasikan di Jepang dan memberikan manfaat.

Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan menyatakan akan ada konsep bersama di Indonesia untuk mengimplementasikan sistem tersebut. Namun, untuk kebutuhan teknologi, Indonesia harus bekerja sama dengan Jepang. Dia menambahkan, masih harus ada nota kesepahaman yang ditandatangani untuk mengimplementasikan sistem tersebut.

Mangindaan berharap, intelligent transport system dapat diimplementasikan secepatnya. Sistem tersebut menggunakan pendekatan lalu lintas melalui suatu alat pengaturan. Tahun ini ditargetkan sudah ada konsep mengenai sistem itu untuk diterapkan di Indonesia. "Harusnya siap diimplementasikan tahun 2013."

Anggaran untuk proyek tersebut tidak hanya berasal dari Kementerian Perhubungan, tapi juga Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Menurut Mangindaan, pembangunan jalan saat ini belum mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan bermotor. "Akibatnya macet di mana-mana, apalagi Jakarta," ujarnya.[MARIA YUNIAR]

♣ TEMPO.CO

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Kerjasama

"MoU RI-Irak Tidak Sebatas Kerjasama Energi"

JAKARTA (IT) - Pemerintah menyebut kerjasama Indonesia dengan Irak tidak hanya di bidang Minyak dan Gas Bumi tetapi juga di beberapa bidang lain termasuk infrastruktur di luar bidang migas.

"Kerjasamanya bukan hanya di bidang minyak dan gas bumi, kerjasamanya kemarin itu tertarik untuk kerja sama di bidang RnD, listrik, training education, dan infrastruktur di luar Kementerian ESDM," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo di Hotel Gren Melia, Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Evita menambahkan, Untuk memastikan kerjasama Indonesia dengan Irak tersebut, pemerintah menyebut harus ada tindak lanjut dengan mengadakan pertemuan di antara kedua belah pihak.

"Ini akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan lagi, kalau kami ini targetnya harus segera direalisasi," tambah Evita.

Sementara di bidang energi, khususnya minyak, Evita menyebut, Pertamina sudah siap mengirimkan minyak mentah semester pertama tahun depan. Pertamina menargetkan mengelola tiga blok minyak di negeri mantan Saddam Husein tersebut.

"Kalau kita memerlukan impor crude oil, Irak sudah siap semester I-2013," jelas Evita.

Sebagai informasi, keterlibatan Indonesia-Irak akan diwujudkan dalam bentuk kerjasama Indonesia-Irak dan akan dipayungi dalam program Indonesia Incorporated yang akan memberikan dukungan dalam pembangunan pembangkit listrik, jaringan pipa, perumahan, rumah sakit, sekolah-sekolah, dan pabrik pupuk.

Program ini diinisiasi oleh BUMN dengan Pertamina sebagai lokomotif dan didukung oleh PT PLN (Persero), PT Wijaya Karya (Persero), PT Adhi Karya (Persero), dan PT Hutama Karya (Persero) sebagai subkontraktor. (gna)(rhs)

detik

Posted in: Energi,Kerjasama,Ristek

Meksiko tawari Indonesia kerja sama perdagangan

Jakarta - Menteri Perdagangan Meksiko Bruno Ferrari memberikan penawaran kepada Indonesia untuk menjalin kerja sama perdagangan dengan aliansi empat negara Amerika Latin yang disebut Pacific Alliance.

"Kami sudah bicara secara bilateral dan saya rasa kita harus meningkatkan hubungan kedua negara. Pacific Alliance memandang Indonesia sebagai pintu masuk yang penting bagi wilayah ASEAN," kata Bruno seusai penutupan Forum Bisnis ASEAN-Amerika Latin (ALBF) di Jakarta, Selasa.

Total perdagangan sejumlah negara anggota Pacific Alliance yang terdiri dari Cile, Peru, Kolumbia, dan Meksiko adalah sebesar 50 persen dari seluruh perdagangan di sekitar kawasan Amerika Latin.

Menurut Bruno, rencana pola perdagangan yang digunakan oleh kedua wilayah bisa serupa dengan kerjasama perdagangan yang telah dilakukan ASEAN dengan sejumlah negara lain seperti Korea Selatan, China dan Jepang.

Pacific Alliance sebelumnya juga menjalin kerjasama dengan Panama, Kosta Rika, dan Jepang.

Dia menilai peningkatan kerja sama perdagangan merupakan salah satu upaya yang dibutuhkan oleh negara berkembang dengan melihat keterbukaan ekonomi yang diukur dari barang yang dapat diekspor oleh suatu negara.

Sementara itu Menteri Perdagangan Republik Indonesia Gita Wirjawan mengatakan untuk sementara ini Indonesia baru bisa menjadi pengamat perhimpunan dagang wilayah tersebut.

Dia menjelaskan Indonesia sendiri belum siap ikut dalam kancah perdagangan bebas Trans Pacific Partnership.

Gita mengaku peluang perdagangan yang bisa dilakukan antara kedua negara berada pada sektor pangan dimana persediaan pangan Meksiko banyak masuk melalui negara di luar Amerika Latin.

Pertemuan ALBF mengikutsertakan sejumlah negara asal Amerika Latin dan ASEAN guna menyambungkan silaturahmi ekonomi kedua wilayah.

Tujuannya adalah meningkatkan nilai perdagangan yang selama ini baru berjalan sedikit karena terkendala konektivitas serta ketidakmengenalan antara kebutuhan satu dan lainnya.

Total perdagangan Amerika Latin ke mancanegara tercatat sekitar 8,4 triliun dolar AS, sedangkan total perdagangan ASEAN ke mancanegara sebesar 2,5 triliun dolar AS.

Krisis ekonomi yang terjadi di Eropa membuat ekspor kedua wilayah melambat, sehingga dengan adanya tambahan kerjasama perdagangan di kedua wilayah bisa menjadi pengalih pasar dari Eropa dan Amerika Serika.(B019/N002)

Sumber : Antara

Posted in: Kerjasama

#Tag : Kerjasama

Jerman Perkuat Kerjasama Ekonomi dengan Indonesia

Kerangka kerjasama yang ditawarkan Jerman antara lain keahlian dan pengalaman di bidang infrastruktur.

Jerman menyatakan ingin meningkatkan kerjasama ekonomi dengan Indonesia menyusul bagusnya fundamental adn potensi ekonomi nasional.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Menurut Merkel, saat ini kekuatan ekonomi Indonesia dalam posisi kuat. Melihat potensi ini, Jerman ingin mengembangkan peluang kerjasama ekonomi dengan Indonesia.

”Kami ingin kemitraan kita dapat lebih maju lagi. Seperti hubungan kami dengan China, kami ingin mengembangkan hubungan seperti itu,” ujar Merkel, di Istana Merdeka, hari ini.

Merkel mengungkapkan, kerangka kerjasama yang ditawarkan Jerman antara lain keahlian dan pengalaman di bidang infrastruktur dan bidang lainnya.

Di dalam kesempatan yang sama, Presiden SBY mengatakan, kedatangan Kanselir Jerman ke Indonesia sebagai tonggak sejarah baru peningkatan kerjasama kedua negara. Pasalnya, kunjungan kali ini bertepatan dengan perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Jerman dan Indonesia.

Menurut SBY, hubungan bilateral kedua negara terus menunjukkan perkembangan. Hal ini terihat dari volume perdagangan antara kedua negara yang terus meningkat. "Pada tahun lalu saja perdagangan ke Jerman mencapai US$6,69 miliar. Naik sekitar 11 persen dari tahun sebelumnya,” ujar SBY.

SBY juga menyatakan, kunjungan ini juga akan ditandai melalui kemitraan comprehensive partnership dalam Jakarta Declaration yang memiliki agenda dan prioritas yang jelas dan bermanfaat.

Dalam pertemuan yang berlangsung sore ini, SBY didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.

Selanjutnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, Menteri Pendidikan M. Nuh, Menteri Sekertaris Negara Sudi Silalahi, Sekertaris Kabinet Dipo Alam, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Kepala BKPM Chatib Basri.

Sementara Merkel didampingi Anne-Ruth Herkes, Sekretaris Negara dan Menteri Ekonomi dan Teknologi, Christoph Heusgen, Penasihat Kebijakan Asing dan Keamanan, Lars Hendrik Roller, Penasihat Ekonomi dan Keuangan dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Nobert Baas dan delegasi lainnya.

Sumber : BeritaSatu

Posted in: Kerjasama

#Tag : Kerjasama

RI-Australia Saling Perkuat Industri Pertahanan, Ada Apa?

http://static.republika.co.id/uploads/images/square/menteri-pertahanan-australia-stephen-smith-kanan-bersama-menteri-pertahanan-_120904191730-110.jpg JAKARTA - Hubungan bilateral Indonesia Australia diperkuat dengan kesepakatan kerja sama pengembangan industri pertahanan antara kedua negara.

Dalam MOU yang ditandatangani Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Australia, Stephen Smith, disepakati kedua negara akan saling menjajaki kerja sama untuk saling memperkuat industri pertahanan di masing-masing negara.

Pembahasan kerja sama  yang berlangsung di Kementerian Pertahanan Indonesia Jakarta, dipimpin oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta dan Menteri urusan Alutsista sekaligus Menteri Dalam Negeri dan Hukum Australia, Jason Clare.

Menristek Gusti Muhammad Hatta mengatakan dalam diskusi, perwakilan kedua negara saling bertukar pengalaman mengenai perkembangan industri pertahanan masing-masing. Selanjutnya, kedua negara akan mengidentifikasi industri pertahanan yang memiliki potensial kerja sama jangka pendek maupun jangka panjang.

“Diskusinya bagus sekali, dan kita akan menindaklanjuti pertemuan ini. Ke depan akan ada pertemuan antar industri pertahanan Indonesia dan Australia,” tegas Menristek.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat sebelum penggelaran Indonesia Defence Expo akan ada pertemuan lanjutan untuk membahas lebih detail rencana kerjasama di sektor industri pertahanan.

Sementara itu, Menteri Urusan Alutsista sekaligus Menteri Dalam Negeri dan Hukum Australia, Jason Clare, mengatakan Australia sangat tertarik untuk menjajaki kerja sama di sektor pertahanan tersebut. Dalam pameran industri pertahanan Indonesia yang akan digelar 7-9 November 2012 nanti, akan ada 20 perusahaan industri pertahanan Australia yang akan ikut berpartisipasi.

Ini adalah peningkatan pesat dari pameran sebelumnya. “Pada Indo Defence Expo yang digelar 4 tahun lalu, hanya 1 perusahaan industri pertahanan Australia yang ikut. Kami sangat menanti tindak lanjut dari kerjasama ini,” Katanya dalam jumpa pers di Kementerian Pertahanan.

Kerja sama ini merupakan satu dari 3 MOU kerjasama yang ditanda tangani antara pemerintah Indonesia dan Australia pekan ini. Kemarin kedua delegasi telah menyepakati MOU kerjasama pertahanan dan kerjasama maritim dan SAR.

( Republika )

Posted in: Alutsista,Kerjasama

Indonesia-Korsel Jajaki Kerjasama Industri Kreatif

Termasuk pengembangan animasi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan dan film.

Indonesia dan Korea Selatan menjajaki kemungkinan untuk bekerja sama di bidang perfilman termasuk pengembangan animasi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan dan film.

"Kami sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Korea Selatan terkait dengan pengembangan animasi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan dan film," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu, dalam keterangan persnya di Jakarta, hari ini.

Hal tersebut diutarakan setelah Menteri Mari Elka Pangestu melakukan kunjungan tiga hari ke Korsel. Dalam kunjungannya, Mari Pangestu mendatangi beberapa lokasi, di antaranya; KOCCA (lembaga pengembang industri kreatif di Korsel), KOFIC (lembaga yang bertugas untuk meningkatkan dana pengembangan film), dan CJ E&M (pelaku usaha dalam industri hiburan).

Saat bertemu dengan KOCCA, Mari Pangestu menjajaki kemungkinan kerjasama dengan lembaga tersebut terkait pengembangan animasi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, dan film.

"Video Gangnam Style yang sukses dibawakan oleh Psy, merupakan salah satu contoh Korean Wave yang berhasil mendunia," katanya.

Video Gangnam Style selain mendapat lebih dari 260 juta hit di YouTube, juga menjadi iTunes Top Songs Chart di 19 negara termasuk di Amerika, Eropa, dan Asia bahkan,  lagu itu masuk dalam peringkat 11 American Billboard Singles Chart.

Pada kesempatan itu Direktur Utama dan CEO KOCCA Hong Sang-Pyo, menyatakan pihaknya memang memberikan perhatian yang lebih dari aspek penciptaan ide-ide.

"Hal yang kami lakukan misalnya dengan mengadakan kompetisi membuat cerita dan memberikan tempat bagi penulis cerita berupa tempat untuk berdiskusi dan bekerja minimal selama setahun, sehingga mereka dapat membuat tulisan-tulisan yang baik, yang nantinya dapat diproduksi menjadi sebuah film TV, film layar lebar, games, atau buku," katanya.

Dari segi produksi, sudah banyak pihak swasta yang tertarik melakukan bisnis itu, sehingga KOCCA pun lebih memfokuskan pada dukungan terhadap aspek pra produksi, walaupun tetap memberikan bantuan dana bagi produksi, khususnya bagi perusahaan kelas kecil dan menengah.

 Bentuk Kerjasama

Dalam siaran pers juga tertulis harapan Mari Pangestu agar KOCCA dapat membuka kantornya di Indonesia, cabang tambahan dari yang sudah ada di Los Angeles, London, Tokyo, dan Beijing.

Mari juga berharap KOCCA membantu mendistribusikan konten Indonesia ke Korsel, memberikan pendampingan dalam pengembangan industri kreatif, melakukan pertukaran karya kreatif dengan Indonesia, ataupun melakukan pengembangan SDM Indonesia khususnya di sektor Industri kreatif.

Untuk mengembangkan perfilman di Korea Selatan, KOFIC dipercayai untuk mengelola dana pengembangan film yang nilainya mencapai 430 juta dolar AS, dan 86 juta dolar sisa tahun anggaran sebelumnya.

Separuh dari dana tersebut berasal dari pemerintah, sedangkan sisanya berasal dari hasil penjualan tiket menonton film, yang penggunaannya harus mendapatkan persetujuan dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata sebagai induk, Kementerian Keuangan, dan Parlemen Korea Selatan.

Sementara dalam kesempatan diskusi dengan CJ E&M, pelaku industri hiburan itu menawarkan beberapa kerja sama, yaitu pertukaran konten kreatif, kerjasama produksi konten, maupun kerjasama dalam mendistribusikan konten.

Mari Pangestu menyambut baik tawaran tersebut, dan diharapkan Indonesia dapat segera melakukan kerjasama produksi dengan CJ E&M.

"Indonesia saat ini sudah memiliki konten kreatif yang berkualitas, sehingga diharapkan CJ juga dapat segera melakukan pertukaran konten kreatif dengan Indonesia," katanya.

( Berita Satu )

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Kerjasama

RI Tawarkan Kerja Sama Penelitian

NEW YORK - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai transfer teknologi dalam kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan berbagai pihak asing sulit diwujudkan. Menurut dia, yang paling mungkin dilakukan adalah mengembangkan penelitian dengan bekerja sama dengan pihak luar.

"Saya sadar, kalau itu hanya 'technology sharing, technology transfer', mudah diucapkan, tapi dalam praktiknya kandas," kata dia, di New York, Amerika Serikat, Jumat (28/9) malam, dalam jumpa pers dengan para wartawan Indonesia sebelum bertolak kembali menuju Jakarta.

Hal tersebut dikatakan Presiden Yudhoyono menjawab pertanyaan tentang keuntungan yang bisa dinikmati Indonesia dari pembelian pesawat bernilai miliaran dollar AS oleh Indonesia dari Boeing, termasuk kemungkinan keuntungan dalam hal transfer teknologi dan pengetahuan dari perusahaan raksasa pembuat pesawat Amerika itu.

"Kalau berbicara tentang 'transfer of technology', itu sangat tidak mudah. Saya sudah kenyang, delapan tahun bertemu dengan para pemimpin dunia dalam forum G-20, APEC, ASEAN Summit, negosiasi 'climate change'. 'Technology transfer' dari negara yang menguasai teknologi tidak mudah dilakukan," kata Presiden.

"Mengapa? Puluhan tahun mereka mengembangkan untuk menguasai suatu teknologi tertentu. Puluhan tahun, dengan sumber daya yang besar, dengan segala yang dia lakukan, tidak begitu saja bisa ditransfer dan dialihkan ke negara lain," tambah dia.

Oleh karena itu, ujar Presiden, Indonesia lebih baik mengembangkan kebijakan yang bersifat penelitian dan pengembangan bersama, investasi bersama, dan produksi bersama seperti yang dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan sejumlah industri strategis Indonesia dengan negara-negara asing.

"Itu yang paling baik. Akhirnya, setelah bersama-sama lima, sepuluh, lima belas tahun, teknologi akan beralih. Itu masuk akal dan mereka juga tidak merasa diambil jerih payahnya selama puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi," kata Yudhoyono.

Berkaitan dengan Boeing, ia mengatakan Indonesia berjuang untuk mendapatkan porsi keuntungan dari nilai pembelian miliaran dollar AS. "Perjuangan kita adalah bisa mendapatkan porsi keuntungan itu untuk bangsa kita, untuk industri strategis kita, untuk komponen dalam negeri kita," ujar dia.

Pemerintah Indonesia dan pihak Boeing Amerika Serikat pada awal pekan ini menandatangani nota kesepahaman kerja sama bidang industri. Penandatangan dilakukan di sela-sela Indonesia Investment Day di New York, oleh Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal, dan Wakil Presiden Boeing, Stanley Rooth, disaksikan oleh Presiden Yudhoyono.

Maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, dan Boeing tahun lalu menyepakati pembelian pesawat senilai 23 miliar dollar. Dengan pembelian itu, Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya, baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unit pesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900. Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.

Sementara itu, Jumat siang waktu setempat atau Sabtu WIB, Presiden Yudhoyono mengakhiri kunjungan kerjanya di New York, Amerika Serikat, dan bertolak menuju Tanah Air. Kepala Negara beserta rombongan dijadwalkan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pada Minggu (30/9) pagi.

Kehadiran Presiden Yudhoyono di New York adalah untuk memimpin delegasi Indonesia mengikuti sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan Sidang ke-67 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Presiden juga menyampaikan pandangannya di sesi debat Sidang Majelis Umum PBB. Selain itu, Kepala Negara menghadiri Indonesia Investment Day dan melakukan pertemuan dengan para pengusaha Amerika Serikat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi. Ant/AR-4

© koran-jakarta

Posted in: Kerjasama,Ristek

#Tag : Kerjasama Ristek

Hasil Penelitian Mangkrak, Hipmi Gandeng IPB

Logo Hipmi Jakarta - Hasil penelitian baik di sektor pertanian, pangan, hingga teknologi yang mangkrak di gudang-gudang universitas memunculkan simpati bagi para pengusaha.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari mengatakan hasil-hasil penelitian tersebut bisa diterjemahkan ke pasar.

"Hasil riset itu ada nilai ekonomisnya. Sayang jika hanya jadi pajangan di gudang," kata Okto, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (4/10/2012).

Okto menilai, selama ini terdapat missing link antara dunia penelitian dengan pasar. Seharusnya, kata dia, setiap penelitian itu bisa dikoneksikan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menjembatani antara dunia akademisi dengan usaha, Hipmi telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang kerja sama pengembangan kewirausahaan di lingkungan kampus dan pengembangan agribisnis.

"Kami berharap dengan kerja sama ini dapat meningkatkan kewirausahaan dan menjembatani dunia penelitian dan pengusaha," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor IPB Herry Suhardiyanto mengungkapkan, dari ribuan penelitian yang dilaksanakan oleh IPB, hanya 10 persen yang bisa diterjemahkan ke pasar.

"Hanya 10 persen saja hasil kreasi kami, yang saat ini ada di masyarakat. Sisanya ya hanya berupa laporan di meja-meja saja. Ini sungguh disayangkan," jelasnya.

Menurutnya, saat ini banyak mahasiswa yang orientasinya bukan hanya kuliah tapi juga bisnis. Dia berharap, dengan semakin banyak mahasiswa yang berwirausaha, maka akan semakin besar pula hasil-hasil penelitian yang bisa diterjemahkan ke pasar. (gna)

© Okezone

Posted in: IPB,Kerjasama,Ristek

RI-Inggris Sepakat Perkuat Kemitraan

http://www.seputar-indonesia.com/publics/imagecache/detail/11/images/news/02%20November%202012/20121102berutama1.jpg

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono berpose bersama Ratu Elizabeth dan PangeranPhilip sebelum mendapat gelar Knight Grand Cross in the Order of the Bath di Istana Buckingham, London, Rabu (31/10) waktu setempat. Dalam kunjungan kenegaraan itu, Presiden juga membahas penguatan kerja sama dengan Inggris.

London – Pemerintah Inggris memuji transformasi demokrasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam kaitan itu, Inggris merasa perlu memperkuat dan mengembangkan kemitraan dengan RI di berbagai bidang.

Dalam jamuan santap malam kenegaraan di Istana Buckingham, London, Inggris, Rabu (31/10) waktu setempat, Ratu Elizabeth II yang menerima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengemukakan, kunjungan kenegaraan SBY memiliki arti penting dalam peningkatan kerja sama antar kedua negara.

”Kunjungan Anda merupakan peluang bagi kita untuk mengembangkan kerja sama di semua aspek. Mulai dari perdagangan, invetasi, hingga perubahan iklim dan pendidikan. Kemitraan antara Inggris dengan Indonesia akan terus berkembang,” ujar ratu yang sudah 60 tahun berkuasa tersebut. Merespons pernyataan itu, Presiden SBY menyampaikan Indonesia siap membawa hubungan kerja sama bilateral dengan Inggris ke level lebih tinggi. Hal ini mengingat besarnya manfaat yang akan diperoleh bagi masyarakat kedua negara.

”Indonesia senantiasa siap untuk menjalin kerja sama dengan Inggris. Kerjasama yang tentunya saling menguntungkan, baik bagi kedua negara maupun bagi dunia,” kata dia. Komitmen Presiden ini langsung ditindak lanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman dalam bidang kreatif oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dengan Menteri Kebudayaan, Komunikasi, dan Industri Kreatif Inggris Ed Vaizey, disaksikan Presiden SBY dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

”Kita berharap akan ada pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam dan intensif dengan pemerintah Inggris, untuk bersama-sama memajukan ekonomi kreatif,” kata Mari. Dalam kerja sama ini nantinya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan The British Council akan menyusun kelompok kerja. Kelompok ini bertugas merancang program dan aktivitas terkait pembelajaran di bidang kebijakan, kerja sama konkret, dan memfasilitasi antar pelaku.

Kemenparekraf juga akan menindaklanjuti dengan mengunjungi beberapa perusahaan dan berbagai dewan dalam bidang film, musik, mode, dan desain. Dalam kunjungannya ke Inggris, Presiden SBY dianugerahi Knight Grand Cross in the Order of the Batholeh Ratu Elizabeth II dalam jamuan makan siang di Blue Drawing Room, Istana Buckingham. Penghargaan berupa selempang dan bintang tersebut, atas keberhasilan SBY dalam memimpin Indonesia. Di matanya, sejak SBY berkuasa pada 2004, Indonesia mengalami transformasi luar biasa.

Penghargaan tertinggi dari Order of The Bath itu juga pernah diberikan kepada pemimpin negara lainnya, termasuk Ronald Reagan (Presiden Amerika Serikat 1981–1989) dan Presiden Turki Abdullah Gul. Kedatangan SBY di Inggris mendapat sambutan megah. Ratu Elizabeth II serta suaminya, Pangeran Philip, menerima Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono di paviliun berkarpet merah di Horse Guards Parade, tanah parade besar di pusat Kota London.

Diiringi 41 tembakan, Indonesia Raya pun dikumandangkan. Kepala Negara juga menyempatkan berkunjung ke markas Arsenal di London. Dalam kunjungan tersebut terungkap Arsenal akan mengunjungi Indonesia pada 2013. Pada Official website Arsenal, www.arsenal. com disebutkan kedatangan Arsenal nanti akan menggandeng RCTI dan Pro Event.[ant/susi susanti]

© Sindo

Posted in: Bisnis,Investasi,Kerjasama

Garuda - Rolls Royce Kerja Sama

http://statik.tempo.co/data/2012/02/19/id_106743/106743_275.jpg Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menandatangani kerja sama program perawatan (total care) untuk mesin Trent 700 dengan pabrikan Inggris, Rolls Royce. Menurut Senior Manager Public Relations Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, kerja sama ini dilakukan pada 21 pesawat Airbus A330 miik Garuda.

"Pesawat-pesawat ini akan datang pada November 2012-2017," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin 5 November 2012.

Kerja sama tersebut ditandatangani Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dan Presiden Direktur Rolls Royce Indonesia, Adrian Short, di Saint James Palace, London.

Ikhsan mengatakan, total care program sebetulnya sudah dilaksanakan sejak 2008 untuk 14 unit pesawat Airbus A330 yang sudah beroperasi saat ini. Dalam program ini, Rolls Royce menangani seluruh perawatan mesin, termasuk memenuhi kebutuhan mesin cadangan, komponen, overhaul, serta pemeriksaan kesehatan mesin.

Garuda, menurut Ikhsan, menilai perawatan yang dilakukan oleh Rolls Royce menambah tingkat keandalan mesin. Jaminan ketersediaan mesin cadangan dan pemeriksaan kesehatan mesin dapat menghindarkan pesawat diparkir terlalu lama di Bandara atau hangar.

"Semakin lama berada di darat, potensi pendapatan perusahaan akan hilang," ujarnya.

Saat ini Garuda Indonesia telah mengoperasikan 104 pesawat. Maskapai tersebut memasang target untuk memiliki 144 unit pesawat pada 2015.

© Tempo

Posted in: Kerjasama,Pesawat