Loading Website
Tampilkan postingan dengan label UNY. Tampilkan semua postingan

Solusi Penyaring Air Kotor Jadi Air Bersih

Sekelompok mahasiswa Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, yang terdiri dari Bambang, Dedik Sumaryanta, dan Alfian Syahril Mustofa menciptakan alat penyaring air sederhana. Proyek akhir di bawah bimbingan Jarwo Puspito, M.P. (dosen FT UNY) ini, berfungsi untuk menyaring air kotor yang terdapat di lingkungan masyarakat menjadi air bersih yang layak digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci hal-hal lain. Sementara untuk minum tetap memerlukan proses perebusan agar lebih aman. Selain itu, alat ini dapat juga digunakan untuk sirkulasi air yang digunakan untuk kolam ikan dengan tujuan menjadikan derajat keasaman (pH) netral sehingga tidak perlu mengganti air.

Kepada redaksi Web UNY, Alfian, salah satu anggota kelompok, menjelaskan latar belakang pembuataan alat ini disebabkan oleh banyaknya air tanah dan air permukaan yang telah tercemar kotoran. Saat ini di sebagian kota-kota besar Indonesia, banyak air kotor yang tersebar untuk keperluan rumah tangga. Selain itu, air juga dicemari logam-logam berat yang bersifat racun atau memiliki kandungan ion besi dan mangan yang tinggi.

“Padahal, air yang mengandung bakteri patogen atau zat-zat terlarut lainnya dapat berakibat langsung pada kesehatan. Penggunaan air yang tercemar untuk keperluan mandi ataupun cuci dapat berakibat langsung pada kesehatan mata dan kulit seperti kuman, kudis, kurap, dan borok. Penyakit mata juga mudah ditularkan lewat air. Lebih jauh lagi, kulit dapat mengalami iritasi, kering, kusam, dan kehitaman bila menggunakan air dengan kandungan ion besi dan mangan yang tinggi. Makanan juga dapat terkontaminasi akibat peralatan dapur atau alat makan dicuci dengan air yang tercemar. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari seharusnya dilakukan pengolahan air terlebih dahulu agar dapat memenuhi syarat kesehatan”, terangnya Alfian lebih lanjut.

Alfian menjelaskan cara kerja alat ini sebagai berikut. “Pertama, tutup keran 1 dan keran 2, kemudian, isi bak pertama dengan air olahan. Beri koagulan dari arang aktif dan diamkan selama 30 menit. Setelah didiamkan, salurkan air ke tabung yang berisi bahan penyaring yang terdiri dari pasir, kerikil, arang, dan ijuk dengan membuka keran 1 dan tutup keran 2 supaya pasir tetap terendam. Lalu isikan kembali tabung pertama dan lakukan proses koagulasi kembali. Setelah itu, buka keran 1 dan keran 2 sehingga keluar air bersih. Jika air dalam tabung pertama habis, keran 2 cepat ditutup. Pasir tetap dibiarkan dalam keadaan terendam terus meski tidak dioperasikan,”terangnya.

Mahasiswa asal Magelang ini menuturkan bahwa alatnya terdiri dari beberapa komponen utama, antara lain: kerangka alat, bahan penyaring, wadah penampung air/tabung atas, dan wadah bahan penyaring/tabung bawah dengan sistem kerja yang sederhana. Dengan demikian, memungkinkan setiap orang dapat mengoperasikannya. Desain alat ini juga cukup sederhana sehingga mudah dipindahkan ketempat lain tanpa memerlukan alat angkat khusus.

 “Alat dengan taksiran seharga Rp1.800.500,00 ini memiliki dimensi alat panjang 1600, lebar 80, tinggi 1800 mm. Kapasitas tabung 225 liter air dan ± 358 kg bahan penyaring serta memiliki waktu produksi ± 13 detik untuk botol berukuran 500 ml. Sementara bahan yang digunakan untuk konstruksi alat penyaring air sederhana ini adalah kerangka menggunakan baja profil siku bahan ST. 37 dan tabung bahan penyaring menggunakan plat stainless steel,” jelasnya.

“Tingkat keamanan desain konstruksi  alat penyaring air sederhana dapat dikategorikan cukup baik karena memenuhi beberapa syarat, antara lain, konstruksi  alat  yang kuat  dengan didukung rangka yang kokoh dari bahan baja prosil siku, sumber penggerak yang bebas polusi dan tidak bising, dan memenuhi syarat keselamatan kerja bagi operator,” imbuhnya.

Alfian dan kelompoknya berharap alat ini dapat disempurnakan lagi di kemudian hari. “Adapun beberapa saran yang didapat dari para dosen dan kolega untuk langkah pengembangan dan penyempurnaan alat ini. Salah satunya, untuk menghasilkan penyaringan yang baik, alat ini memerlukan komponen tambahan yaitu bahan yang bisa menjadikan air menjadi air murni. Perawatan alat harus selalu diperhatikan yakni bila air yang keluar telah keruh atau alirannya kurang lancar, artinya dalam saringan sudah banyak lumpur, maka bahan penyaring perlu dibersihkan. Terlebih lagi harus senantiasa dilakukan pemeriksaan berkala dan harian,” pungkasnya. (uny.ac.id/ humasristek)

• Ristek

Posted in: Ristek,UNY

#Tag : Ristek UNY

Mahasiswa UNY kembangkan peta wisata elektronik

Yogyakarta (ANTARA News) - Seorang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta mengembangkan peta wisata elektronik Kota Yogyakarta untuk memudahkan wisatawan mencari lokasi yang ingin dituju.

"Peta elektronik itu dapat membantu para pendatang menemukan tempat-tempat wisata di Kota Yogyakarta. Peta tersebut dibuat dengan dimensi panjang 54 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 81 cm," kata Hadi Rismanto di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, Yogyakarta merupakan tempat dengan predikat kota pendidikan, budaya, dan seni yang menjadi salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia. Namun, bagi wisatawan dari luar Yogyakarta yang baru pertama kali datang, bisa jadi kebingungan ketika berada di kota tersebut. Mereka tidak tahu mana saja tempat menarik yang dapat dikunjungi.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Yogyakarta telah menyediakan fasilitas layanan petunjuk jalan, di beberapa tempat dipasang peta berbentuk kotak persegi. Namun, peralatan penunjuk arah dan lokasi tersebut belum lengkap.

Akibatnya, kata dia, para pengunjung kurang jelas dalam memperoleh alamat yang diinginkan. Ada pula jasa pemandu wisata, tetapi mereka cenderung memasang tarif dengan harga tinggi, sehingga tidak terjangkau masyarakat secara luas.

"Hal itu yang menginspirasi saya untuk mengembangkan peta wisata elektronik berbasis mikrokontroler ATmega 8535. Pada alat itu terdapat delapan tombol menu," katanya.

Ia mengatakan, jika salah satu tombol ditekan, lampu indikator pada peta akan menyala, menunjukan lokasi tempat yang ingin dituju dan pada layar LCD menampilkan alamat lokasi tempat tersebut.

"Kategori tempat-tempat wisata, di antaranya museum, tempat bersejarah, pusat kerajinan, pasar, pantai, kuliner, dan hotel. Total lokasi wisata pada alat itu adalah 40 lokasi, dan pada masing-masing tombol terdapat lima referensi tempat wisata," katanya.

Menurut dia, untuk pengembangan ke depan akan dilakukan penambahan pada "port" sehingga jumlah objek atau tempat wisata bisa termuat lebih banyak lagi. Selain itu, juga masih diperlukan instalasi `keypad` agar data pada mikrokontroler bisa diubah sewaktu-waktu jika lokasi atau nama tempat berubah.(ANT)

ANTARA News

Posted in: Komputer,UNY

#Tag : Komputer UNY

Mahasiswa UNY Manfaatkan Kenikir untuk Deodoran Anti-Bakteri

Mahasiswa UNY Manfaatkan Kenikir untuk Deodoran Anti-Bakteri
Tanaman Kenikir

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memanfaatkan ekstrak daun kenikir (Tagetes erectus) sebagai alternatif antibakteri Staphylococcus epidermidis pada deodoran 'parfume spray'.

"Pemilihan tanaman kenikir sebagai bahan antibakteri Staphylococcus epidermidis yang merupakan penyebab bau badan itu, karena tanaman tersebut murah, dan mudah diperoleh, serta pemanfaatannya masih belum optimal," kata Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Atika Salma, di Yogyakarta, Kamis (7/6).

Menurut dia, penelitian tentang pemanfaatan ekstrak daun kenikir sebagai antibakteri Staphylococcus epidermidis pada deodoran 'parfume spray' dilakukan dengan destilasi uap untuk mendapatkan ekstrak kenikir. Pelarut yang digunakan dalam destilasi uap itu adalah air.

Selanjutnya, kata dia, membuat deodoran 'parfume spray' dari ekstrak daun kenikir. Untuk menguji efektivitas deodoran 'parfume spray' terhadap aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis ini, dilakukan isolasi terhadap bakteri tersebut, kemudian dilakukan metode 'Standard Plate Count' (SPC) dengan variabel kontrol deodoran 'parfume spray' yang beredar di pasaran.

Ia mengatakan langkah selanjutnya adalah melakukan uji khalayak terbatas pada 15 orang probandus untuk mengetahui kualitas dari produk tersebut. Selain itu, juga untuk memastikan kelayakan produk ini untuk digunakan pada kulit manusia.

"Untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun kenikir yang paling efektif secara statistik, data diolah menggunakan uji 't student'. Untuk mengetahui persentase minat masyarakat terhadap produk itu, maka dilakukan uji deskriptif statistika," katanya.

Anggota Tim PKM Fakultas MIPA UNY Meita Wulan Sari mengatakan bau badan merupakan salah satu masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari, karena sering membuat seseorang merasa kurang percaya diri. Meskipun keringat tidak berbau, adanya aktivitas bakteri pada ketiak atau bagian tubuh lainnya, membuat keringat menjadi berbau.

"Biasanya bau yang tidak sedap timbul bersama bau badan yang disebabkan oleh aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis. Untuk menekan timbulnya bau badan, sebagian besar orang lebih senang menggunakan deodoran dalam berbagai bentuk dan variasi model yang ada saat ini," bebernya.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan deodoran bentuk lain, deodoran 'parfume spray' memiliki beberapa keunggulan, di antaranya lebih praktis, tidak lengket, tidak meninggalkan noda pada baju, tidak menyebabkan ketiak berwarna hitam, serta dapat digunakan di mana saja, dan kapan saja.

Namun, kata dia, adanya kandungan alumunium chlorohydrat yang merupakan bahan antipersirant utama pada deodoran, diketahui dapat menjadi penyebab kanker, terutama kanker payudara yang saat ini menjadi penyakit yang cukup ditakuti kaum perempuan.

"Berdasarkan fakta itu, Tim PKM Fakultas MIPA UNY memanfaatkan ekstrak daun kenikir sebagai alternatif antibakteri Staphylococcus epidermidis pada deodoran 'parfume spray', yang merupakan produk herbal," katanya.

Anggota Tim PKM Fakultas MIPA UNY yang juga ikut mengembangkan produk herbal tersebut adalah Eko Budiyanto, Latifah Zuliyanti, dan Reni Dwi Astuti.

REPUBLIKA.CO.ID

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Mahasiswa UNY ciptakan robot pelacak bom

Yogyakarta (ANTARA News) - Sekelompok mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan robot pelacak bom.

"Robot itu dikendalikan secara manual dengan komputer dari jarak jauh, dan dapat memberikan gambar keadaan di sekitarnya," kata ketua kelompok tersebut, Doni Ermawan, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, robot itu diharapkan dapat mempermudah pencarian benda yang dicurigai sebagai bom. Namun, robot pelacak itu bukan untuk mencari bom yang diletakkan di beberapa tempat oleh teroris.

Robot itu, kata dia, belum mampu mendeteksi keberadaan bom dalam skala besar yang diletakkan di beberapa ruang tertentu, karena belum peka terhadap sensor dinding.

"Fungsi utamanya adalah mendeteksi adanya benda yang dicurigai sebagai bom pada radius 100 hingga 200 meter," kata Doni.

Ia mengatakan robot itu diciptakan dengan suku cadang yang sudah ada di dalam negeri, di antaranya motor penggerak, motor servo sebagai lengan penjepit benda yang terdeteksi sebagai bom, pengendali, kamera atau webcam, sensor, dan kontroler.

"Selain itu, software yang digunakan untuk mendukung proses kontrol. Perangkat lunak itu berfungsi menggerakkan robot dari jarak jauh," katanya.

Menurut dia, bahan yang paling mahal dan vital digunakan pada robot adalah motor penggerak yang berfungsi sebagai kaki robot. Kekuatan robot terletak pada dua hal, yakni motor penggerak dan webcam yang diletakkan di atas robot.

Motor penggerak bisa menjadi alat penggerak robot melewati jalan berbatu dan berkelok, sedangkan kamera untuk melihat keadaan di sekitar area yang terdeteksi terdapat bom.

"Gambar-gambar yang tertangkap kamera itu nanti akan diproses dan dikontrol melalui perangkat lunak di notebook," katanya.

Anggota kelompok Hadi Sutrisno mengatakan robot kreasi mereka masih berupa prototipe, nanti akan lebih dimodifikasi bentuknya agar terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Namun, menurut dia, bentuk robot yang menyerupai mobil perang layaknya tank itu akan terus dipertahankan. Selanjutnya akan ditambah beberapa fasilitas yang mendukung komunikasi dan kontrol terhadap robot yang lebih maksimal.

"Selain itu, ke depan kami ingin menambahkan sensor logam pada robot, sehingga akurasi dalam mendeteksi benda yang diduga bom menjadi lebih baik," kata Hadi.

Anggota kelompok mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) lainnya adalah Dedi Hermawan, Endro Tri Nugroho, dan Hasnanto Riantiarno.(U.B015/M008)

ANTARA News

 Robot Pengaman Benda Yang Diduga Bom

Teroris di negeri ini tidak hentinya memunculkan cara baru untuk melakukan aksi terror Bom. Kasus bom sendiri dapat membuat cara pandang negara lain terhadap bangsa kita jadi buruk, selain itu juga akan memperlemah perekonomian Indonesia. Hal ini memacu sekelompok mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FT UNY untuk membuat robot pelacak bom. Robot ini dikendalikan secara manual dengan komputer dari jarak jauh dan dapat memberikan gambar keadaan di sekitarnya. Robot ini diharapkan dapat mempermudah pencarian benda yang dicurigai sebagai bom. Tetapi, robot pelacak ini bukan untuk mencari bom yang diletakkan di beberapa tempat oleh teroris. Fungsi utamanya adalah mendeteksi adanya benda yang dicurigai sebagai bom pada radius 100–200 meter.

Kelompok yang terdiri dari Doni Ermawan,Dedi Hermawan, Endro Tri Nugroho, Hasnanto Riantiarno dan Hadi Sutrisno ini menciptakan robot dengan suku cadang yang sudah ada di dalam negeri. Di antaranya, motor penggerak, motor servo sebagai lengan penjepit benda yang terdeteksi sebagai bom, pengendali, kamera atau webcam, sensor, controller, dan software (perangkat lunak) yang digunakan untuk mendukung proses kontrol. Software ini berfungsi menggerakkan robot dari jarak jauh.

Bahan yang paling mahal dan vital digunakan pada robot adalah motor penggerak yang berfungsi sebagai kaki robot. Kekuatan robot terletak pada dua hal, yaitu motor penggerak dan webcam yang diletakkan di atas robot. Motor penggerak bisa menjadi alat penggerak robot melewati jalan berbatu dan berkelok, sedangkan kamera untuk melihat keadaan di sekitar area yang terdeteksi terdapat bom. Gambar-gambar yang tertangkap kamera ini nantinya diproses dan dikontrol melalui software di notebook.

“Robot ini belum mampu mendeteksi keberadaan bom dalam skala besar yang diletakkan di beberapa ruang tertentu, karena belum peka terhadap sensor dinding,” papar Doni. Anggota tim lainnya, Hadi Sutrisno mengatakan robot kreasi mereka ini masihlah prototype, nantinya akan lebih dimodifikasi bentuknya agar terlihat lebih baik dari sebelumnya. Sementara ini, bentuk robot yang menyerupai mobil perang layaknya tank ini akan terus dipertahankan. Selanjutnya akan ditambah beberapa fasilitas yang mendukung komunikasi dan kontrol terhadap robot yang lebih maksimal. “Selain itu, ke depan kami ingin menambahkan sensor logam pada robot, sehingga akurasi dalam mendeteksi benda yang diduga bom menjadi lebih baik, pungkas Hadi. (uny.ac.id/ humasristek)

Posted in: Robot,UNY

#Tag : Robot UNY

Universitas Negeri Yogyakarta Kembangkan Mobil Listrik

Tim Mobil Power Listrik UNY
JAKARTA--MICOM: Tim Mobil Power Listrik Universitas Negeri Yogyakarta yang beranggotakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik berhasil membuat dan mengembangkan mobil listrik generasi keempat yang diberi nama Electric Vehicle Odyssey (EVO).

"Mobil kreasi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu akan diikutkan dalam Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) IV 2012 Tingkat Nasional yang diselenggarakan Politeknik Negeri Bandung," kata pembimbing Tim Mobil Power Listrik (MPL) UNY Bambang Sulistyo di Yogyakarta, Senin (2/7).

Ia mengatakan, KMLI IV yang mengusung tema Mobil listrik kendaraan efisien dan bebas polusi itu akan diselenggarakan di arena sirkuit balap Politeknik Negeri Bandung pada 2-4 November 2012.

"Dalam kompetisi itu akan dilombakan lima kategori, yakni uji tanjakan, uji kecepatan (akselerasi), uji pengereman, adu balap, dan uji efisiensi," katanya.

Ia mengatakan, kegiatan itu untuk memicu kreativitas mahasiswa dalam pengembangan penggunaan energi listrik dalam sistem transportasi sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Selain itu, kata dia, melalui kompetisi itu diharapkan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan bersih yang berkelanjutan.

Menurut dia, mobil listrik EVO yang dihasilkan Tim MPL UNY itu memiliki dimensi lebar 125 sentimeter, panjang 180 sentimeter, dan tinggi 100 sentimeter dengan berat 150 kilogram.

"Mobil tersebut menggunakan empat baterai 12 volt, 40 Ah. Sumber penggerak yang digunakan adalah dua dinamo DC tanpa sikat dengan daya 4.500 watt secara kontinu dan secara sesaat mampu mencapai 5.200 watt," katanya.

Mobil itu memiliki kecepatan maksimum 60 kilometer per jam dengan jarak tempuh 45 kilometer. Mobil yang dibuat sejak Januari 2012 itu telah mengalami empat kali pengembangan.

"Ke depan mobil itu diharapkan dapat terus dikembangkan dan dimodifikasi agar dapat mencapai persyaratan standarisasi untuk diproduksi secara massal. Dalam jangka pendek, mobil itu diharapkan dapat mencapai prestasi terbaik di ajang KMLI IV," kata Bambang. (Ant/OL-5)

MediaIndonesia

Posted in: Mobil,UNY

#Tag : Mobil UNY

Mahasiswa UNY manfaatkan kulit kakao serap karbonmonoksida

Yogyakarta (ANTARA News) - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan arang aktif berbahan kulit kakao untuk menyerap polutan gas beracun karbonmonoksida.

"Kulit kakao merupakan limbah perkebunan yang biasanya hanya dibuang, dan ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia. Kulit kakao merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat arang aktif," kata Koordinator Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Fakultas MIPA UNY Chanel Tri Handoko di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, prosedur pembuatan arang aktif dari limbah kulit kakao yaitu kulit kakao dipotong kecil-kecil, dikeringkan, kemudian disangrai dengan menggunakan wajan hingga menjadi arang.

Selanjutnya, arang dihaluskan dengan mortar, kemudian ditimbang sebanyak 150 gram. Arang direndam dalam larutan CaCl 210 persen sebanyak 500 mililiter selama waktu yang bervariasi, yaitu satu hingga tiga hari.

"Setelah direndam, arang ditiriskan atau disaring dan dimasukkan ke dalam muffle bersuhu 350 derajat Celsius selama satu jam. Selanjutnya, arang digerus kembali hingga halus, dan diayak dengan ayakan 50 mesh, dan arang aktif siap digunakan," katanya.

Ia mengatakan untuk menghindari atau mengurangi konsentrasi gas karbonmonoksida (CO) yang berpotensi dihirup manusia, selama ini diupayakan dengan menggunakan sensor gas CO. Dengan sendor itu orang dapat menghindari ruangan dengan konsentrasi gas CO yang tinggi.

"Namun, upaya tersebut dirasa kurang efektif, karena hanya dapat digunakan dalam ruangan. Oleh karena itu, diperlukan suatu zat yang dapat berpotensi menyerap gas CO agar konsentrasi gas CO di udara dapat berkurang," katanya.

Menurut dia, absorben yang berpotensi menyerap gas CO adalah arang aktif atau yang dikenal juga dengan karbon aktif (activated carbon).

"Arang aktif adalah karbon dengan struktur amorphous, yang dengan perlakuan khusus dapat memiliki luas permukaan dalam yang sangat besar antara 300-2000 meter persegi per gram. Arang aktif dapat digunakan untuk menghilangkan bau, rasa, warna, dan kontaminan organik lainnya," katanya.

Ia mengatakan saat ini sistem transportasi didominasi kendaraan bermotor dengan bahan bakar minyak (BBM). Pembakaran BBM pada kendaraan bermotor menghasilkan limbah buangan berupa gas CO, hidrokarbon (HC), dan sisanya oksida nitrogen (NOx), sulfat oksida (SOx), dan partikulat.

"Gas buangan tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika dihirup manusia. Karbonmonoksida merupakan gas beracun, dan dapat menyebabkan keracunan sistem saraf pusat dan jantung, bahkan dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kematian pada manusia," katanya.

Anggota Tim PKMP Fakultas MIPA UNY yang meneliti "Efektivitas Penyerapan Polutan Gas Beracun Karbonmonoksida (CO) Menggunakan Arang Aktif Berbahan Dasar Limbah Kulit Kakao" itu adalah Elisabeth Pratidhina Founda dan Halimatus Syadiyah.(B015/M008)

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Mahasiswa UNY Promo Wayang Lewat Software

http://static.republika.co.id/uploads/images/square/wayang_kulit_110208142131.jpg fREPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta mengembangkan "software" atau perangkat lunak yang berisi berbagai seri cerita wayang, dan penokohannya.

"Perangkat lunak yang dinamakan 'puppet comics mobile' itu mengombinasikan perkembangan software aplikasi pada java dan aspek budaya wayang," kata Koordinator Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Fera Zulkarnain, di Yogyakarta, Rabu (18/7).

Menurut dia, perangkat lunak itu menyediakan dua menu bahasa, yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Karya tersebut diharapkan dapat menjadi titik awal untuk sarana promosi dan pengembangan media wayang dan bukan justru mematikan pentas pewayangan yang telah ada.

"Aplikasi itu mudah digunakan karena proses instalasi yang tidak rumit. Setelah pengguna memasukkan file instalasi program ke dalam perangkat telepon seluler, program akan terpasang, dan sudah siap digunakan," katanya.

Ia mengatakan aplikasi tersebut memberikan fasilitas kepada pengguna untuk mendapatkan informasi mengenai cerita wayang. Selain itu, pengguna juga dapat mengenal tokoh-tokoh wayang yang ada pada cerita tersebut.

"Ke depan akan terus dikembangkan dan diperbaiki, khususnya dalam interaktivitas agar dapat menghasilkan produk yang lebih baik lagi," kata Fera.

Sumber : Republika

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Mahasiswa UNY Buat Pewarna Tekstil Antibakteri

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Bukan hanya tubuh yang harus terhindar dari bakteri, tetapi pakaian yang menempel di tubuh kita juga harus bebas dari bakteri. Mandi merupakan salah satu cara membersihkan badan dari bakteri, namun untuk membersihkan pakaian, bisa dengan cara mencucinya. Hanya, bakteri di pakaian sendiri sering datang ketika pakaian tersebut kita pakai.

Hal ini menginspirasi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk membuat sebuah bahan khusus yang bermanfaat mencegah bakteri menempel di pakaian. Mereka adalah Rimma Hilda Kusumaningtyas, Senja Dewi UN, dan Danar.

Mereka bahkan memenangkan Program Kreativitas Mahasiswa yang digelar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2012 ini. Melalui penelitian dengan judul Titanium Dioksida (TiO2) Teremban Pewarna Tekstil sebagai Zat Warna Pakaian Antibakteri, ketiga mahasiswa ini berhasil menciptakan zat warna tekstil antibakteri.

Rimma mengatakan, salah satu bahan yang memiliki aktivitas antibakteri adalah titanium dioksida. "Kemampuan fotoaktif titanium dioksida terbukti efektif sebagai bahan antibakteri. Interaksi titanium dioksida terhadap bakteri yang melekat pada pakaian terbukti cukup kuat untuk mereduksi jumlah bakteri itu sendiri," terangnya, Jumat (27/7).

Dalam jumlah yang sangat kecil, kata dia, aktivitas fotokatalitik titanium dioksida mampu menurunkan kadar bakteri hingga di bawah 10 persen. Penurunan kadar bakteri itu dengan bantuan penyinaran panjang gelombang >324 nanometer (nm) (merupakan fraksi panjang gelombang sinar matahari selama 15 menit.

“Interaksi titanium dioksida dengan pakaian biasanya hanya berlangsung tidak lebih dari 2 jam, yaitu pada saat perendaman pakaian dengan deterjen. Setelah dibilas, titanium dioksida tersebut akan terlarut bersama air. Hal ini disayangkan karena sebenarnya titanium dioksida tersebut masih bisa digunakan kembali meski sudah digunakan berulangkali," lanjutnya

Sumber : Republika

Posted in: UNY

#Tag : UNY

UNY Kembangkan Bio-Baterai Alternatif Energi Listrik

http://www.beritasatu.com/media/images//medium/19092012075105.jpg
Ilustrasi

Berasal dari lumpur aktif yang mengandung lebih dari 300 jenis bakteri yang ramah lingkungan.

Tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berhasil mengembangkan bio-baterai dari lumpur aktif sebagai alternatif energi listrik di masa depan.

Terobosan ini dibuat, karena baterai kering dan litium yang beredar di pasaran mempunyai kelemahan, yakni memiliki komponen elektrolit yang rentan bocor dan bisa menjadi limbah beracun dan mencemari lingkungan.

"Oleh karena itu, diperlukan alternatif komponen baterai yang ramah lingkungan dan mudah diperoleh, yakni lumpur aktif," kata Ketua Tim, Atini Wahyu Utami di Yogyakarta, Rabu (19/9).

Lumpur aktif, lanjut dia, mengandung lebih dari 300 jenis bakteri. Kandungan mikroorganisme itu dapat mengantarkan arus listrik, sehingga memungkinkan lumpur aktif dimanfaatkan sebagai elektrolit bio-baterai," imbuhnya.

Menurut Atini, lumpur aktif adalah flok yang terbentuk oleh mikroorganisme terutama bakteri, partikel inorganik, dan polimer exoselular yang mengendap di tangki penjernihan. Lumpur aktif biasa digunakan dalam pengolahan air limbah.

"Tahapan pengembangan dimulai dengan mengambil sampel lumpur aktif pada kolam fakultatif I Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT Sari Husada Tbk Yogyakarta. Sampel yang diperoleh telah diuji secara kualitatif di laboratorium tersebut," katanya.

Atini mengatakan dari uji karakterisasi jenis bakteri, fungi, protozoa, cilliata, dan rotifiers dalam lumpur aktif tersebut terbukti sampel mengandung bakteri-bakteri aerob yakni pseudomonas, alkaligenes, dan paracoccus.

Tahap selanjutnya adalah pembuatan larutan induk lumpur aktif dan varian konsentrasi elektrolit lumpur aktif. Larutan induk lumpur aktif diperoleh dengan melakukan penyaringan dengan kertas saring hingga terpisah antara lumpur aktif pekat dan filtrat.

Menurut dia, agar bakteri-bakteri yang berada dalam lumpur aktif tidak mati, maka baik lumpur aktif yang telah disaring maupun yang belum disaring diaerasi. Aerasi bertujuan agar kandungan oksigen dalam lumpur tetap terjaga, sehingga kehidupan bakteri aerob dalam lumpur tetap berjalan baik.

Selama ini, lanjut Atini, lumpur aktif yang telah digunakan dalam pengolahan air limbah dikeluarkan dan digunakan sebagai tanah perkebunan. Padahal lumpur aktif memiliki potensi yang besar untuk dijadikan bio-baterai.

"Dengan pemanfaatan lumpur aktif sebagai bio-baterai, selain dapat mengatasi kebutuhan alternatif energi listrik juga dapat mengatasi masalah lumpur aktif yang menjadi limbah setelah digunakan," katanya.

Anggota tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY yang mengembangkan bio-baterai itu adalah Novika Indriyani, dan Dwi Meyliana.

( Berita Satu )

Posted in: UNY

#Tag : UNY

UNY manfaatkan tembelek untuk lotion anti nyamuk

Yogyakarta - Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan tanaman tembelek (Lantana camara) untuk bahan pembuatan lotion antinyamuk yang aman bagi kulit.

"Tembelek merupakan tanaman liar yang banyak ditemui dan mudah ditanam di Indonesia. Daun dan bunga tembelek berpotensi sebagai insektisida nabati," kata Ketua Tim Maisel Priskila Sisilia di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, daun dan bunga tembelek mengandung lantadene A, lantadene B, lantanolic acid, lantic acid, humule (minyak atsiri), b caryophyllene, g terpidene, a pinene, dan rcymene.

"Serangga tidak menyukai itu, sehingga tanaman tembelek berpotensi sebagai penolak serangga," kata mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA Fakultas MIPA UNY itu.

Ia mengatakan tahap pembuatan lotion antinyamuk berbahan tembelek meliputi persiapan, ekstraksi, dan pembuatan lotion. Tahap ekstraksi tanaman tembelek dilakukan dengan memetik daun dan bunga tembelek.

Daun dan bunga tembelek kemudian dicuci dengan aquades. Bahan yang sudah dicuci selanjutnya dihancurkan atau dihaluskan dan diperas menggunakan kain kasa, sehingga diperoleh larutan ekstrak daun dan bunga tembelek.

Hasil ekstraksi tanaman tembelek langsung digunakan untuk membuat lotion. Pembuatan lotion dilakukan dengan mencampurkan hasil ekstraksi dengan minyak kayu putih dan "cleansing milk".

Selanjutnya semua bahan diaduk hingga rata dan ditambah "parfume aromatic". Kemudian diaduk kembali hingga tercampur dan ditunggu beberapa saat.

Menurut dia, langkah berikutnya adalah memasukkan hasil eksperimen (lotion nyamuk) ke dalam botol, dan menutup rapat untuk menghindari pengeringan.

"Berdasarkan hasil eksperimen secara keseluruhan, lotion antinyamuk yang mengandung ekstrak tanaman tembelek sebanyak 20 persen memiliki kualitas yang paling baik dari segi keefektifan, tekstur, warna, bau, dan tampilan," kata Maisel.

Anggota tim yang mengembangkan penelitian pemanfaatan tembelek sebagai bahan pembuatan lotion antinyamuk adalah Dwi Sutanti, dan Arief Noviartara. (B015/M008)

(Antara)

Posted in: Ristek,UNY

#Tag : Ristek UNY

Mahasiswa UNY kembangkan mesin ketik braille

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/54/Logo_uny.gif Yogyakarta |  Mahasiswa Jurusan Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Zaenal Mutaqin mengembangkan mesin ketik huruf braille dengan memanfaatkan printer bekas.

"Mesin ketik itu membantu orang awam membuat huruf braille dengan mudah, tanpa harus menghapal setiap motif huruf. Kelebihan lain adalah harga relatif terjangkau, sekitar Rp700.000 per unit," kata Zaenal di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, semua perintah kerja pada mesin ketik itu terdapat pada keyboard. Beberapa tombol utama seperti F9 berfungsi menarik kertas ke bawah dan tombol F10 untuk menarik kertas ke arah sebaliknya.

Tombol F11 dan F12 berfungsi untuk menggeser solenoid ke kiri dan ke kanan untuk mendapatkan posisi yang tepat pada kertas.

"Untuk menghentikan perintah dari tombol-tombol tersebut kita dapat menggunakan tombol spasi, sedangkan untuk menurunkan solenoid satu baris kita dapat menggunakan tombol F8," katanya.

Ia mengatakan pada mesin ketik tersebut setiap tombol huruf, angka, dan tanda baca yang ditekan akan menghasilkan output berupa gerakan dua buah motor stepper dan solenoid sehingga akan menghasilkan motif huruf braille yang dimaksud pada kertas.

"Mesin ketik huruf braille elektronik itu berbasis mikrokontroler ATmega16 yang terdiri atas tiga bagian," katanya.

Bagian pertama terdiri atas sebuah keyboard dengan spesifikasi votre sturdy ps2. Keyboard tersebut menghasilkan data serial pada setiap tombol yang ditekan.

Bagian kedua adalah sistem minimum. Pada rangkaian itu terdapat sebuah mikrokontroler ATmega16 sebagai pengontrol kerja seluruh bagian mesin ketik.

Bagian ketiga adalah tiga buah output mekanik yang terdapat dua buah motor stepper dan sebuah solenoid, motor stepper pertama berfungsi untuk menarik kertas, sedangkan motor stepper kedua berfungsi menggeser posisi solenoid.

"Pengembangan mesik ketik huruf braille itu di bawah bimbingan dosen Pendidikan Teknik Elektronika Fakultas Teknik UNY Putu Sudira," katanya.(B015*H010/H008)

• Antara

Posted in: UNY

#Tag : UNY

UNY buat duri bandeng, biji ketapang jadi nugget bergizi

http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/01/logo_uny.gif?w=293&h=300 Yogyakarta - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan duri ikan bandeng dan biji ketapang sebagai bahan pembuatan makanan alternatif nugget yang bergizi karena mengandung protein dan kalsium.

"Duri bandeng kaya kalsium yang baik untuk pertumbuhan tubuh, sedangkan biji ketapang banyak mengandung asam lemak, protein, dan asam amino yang diperlukan tubuh," kata Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Niar Suhartini di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia tingkat kebutuhan konsumen terhadap ikan bandeng tidak sinergis dengan durinya sehingga duri bandeng yang tidak dimanfaatkan akan terbuang sebagai limbah. Begitu pula dengan pemanfaatan ketapang yang masih kurang optimal sehingga banyak biji ketapang yang hanya dibiarkan jatuh dan membusuk.

"Oleh karena itu kami memanfaatkan duri bandeng dan biji ketapang sebagai bahan untuk membuat suatu ragam makanan olahan yang unik, lezat, dan kaya zat gizi. Makanan olahan itu berupa nugget duri ikan bandeng yang dimodifikasi dengan biji ketapang," katanya.

Dengan tambahan duri ikan bandeng dan variasi biji ketapang, kata dia, nugget duri ikan bandeng dan biji ketapang itu dijadikan makanan yang kaya protein dan kalsium yang sangat bermanfaat bagi tubuh.

Ia mengatakan hasil pengujian kadar protein menunjukkan nugget yang dimodifikasi dengan duri ikan bandeng dan biji ketapang memiliki kadar protein lebih tinggi sekitar 2,7 persen dibandingkan dengan nugget yang tidak dimodifikasi.

Kadar kalsium pada nugget yang dimodifikasi dengan duri ikan bandeng dan biji ketapang juga lebih tinggi, yakni sekitar 0,433 persen dibandingkan dengan nugget yang tidak dimodifikasi.

"Dari hasil itu dapat disimpulkan bahwa penambahan duri ikan bandeng dan biji ketapang mampu meningkatkan kadar protein dan kalsium pada nugget," kata Niar.

Anggota Tim PKMP UNY yang ikut dalam kegiatan itu adalah Dwi Prihastuti dan Laela Mukaromah. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNY. (ANT)

© Antara

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Sereal ubi jalar UNY

http://img.antaranews.com/new/2012/12/thumb/20121201serubi.jpg Yogyakarta - Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan mengembangkan sereal berbahan ubi jalar.

"Sereal berbahan ubi jalar atau Ipomoea batatas Poir itu kami beri nama Serubi. Serubi merupakan minuman seduh berenergi tinggi untuk meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar," kata ketua tim, Nopi Yudi Pramono, di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, sereal untuk sarapan itu akan dapat meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar yang menyehatkan dan mudah dibuat.

"Kandungan gizi yang dimiliki ubi jalar sangat melimpah, antara lain karohidrat, protein, vitamin, dan berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tubuh," katanya.

Ia mengatakan, jenis produk yang dihasilkan Serubi adalah minuman dalam kemasan terbuat dari bahan ubi jalar yang mudah disajikan, sehat, dan mengenyangkan dengan harga terjangkau.

"Kandungan karbohidrat yang terkandung dalam 100 gram ubi jalar merah mencapai 27,9 gram. Ubi jalar merah mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan beberapa zat tubuh lainnya," katanya.

Dengan kandungan gizi ubi jalar tersebut, kata dia, akan dihasilkan produk sereal yang dapat digunakan sebagai pengganti sarapan.

Menurut dia, Serubi dipasarkan melalui warung-warung dan toko-toko, agar masyarakat dapat secara mudah memperoleh produk tersebut.

"Selain itu, kami juga mengadakan kerja sama dengan koperasi mahasiswa di UNY yang dapat dijadikan tempat mahasiswa berlatih berwirausaha. Produk yang sudah jadi dijual di koperasi mahasiswa agar mahasiswa dan masyarakat dapat memperoleh Serubi dengan mudah," katanya.

Ia mengatakan, pembuatan sereal ubi jalar dengan bahan baku tepung ubi jalar. Tepung ini kemudian disangrai sampai matang kemudian dicampur dengan susu dan gula agar siap dihidangkan.

"Perbandingan untuk tepung ubi jalar, gula, dan susu adalah 2:2:1. Dengan perbandingan ini diperoleh rasa sereal yang pas tanpa kehilangan rasa khas ubi jalar," katanya.

Menurut dia ,setelah dicampur kemudian dikemas dengan berat 30 gram setiap bungkus. Beratnya sudah disesuaikan dengan penyajian untuk 150 mililiter air hangat.

"Biaya produksi untuk satu bungkus Serubi sebesar Rp780 sehingga dapat dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus. Biaya produksi tersebut terdiri atas pembelian tepung ubi, gula, susu, dan biaya untuk pembuatan kemasan," katanya.

Anggota tim yang mengembangkan Serubi, antara lain Suhufa Alfarisa, Tri Nugroho, dan Dwi Ana Rizki.(L.B015*H010/H008)

Antara

Posted in: Pangan,UNY

#Tag : Pangan UNY

Mahasiswa UNY ciptakan bak sampah otomatis

http://img.antaranews.com/new/2012/09/small/20120901UNY.jpg Yogyakarta | Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Febri Megantara menciptakan pembuka dan penutup bak sampah otomatis.

"Saya menciptakan inovasi itu untuk memudahkan orang yang ingin membuang sampah tanpa perlu menyentuh tutup tempat sampahnya," kata Febri di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia selama ini banyak orang membuang sampah tidak pada tempatnya. Saat ditanya, berbagai alasan mereka kemukakan, salah satunya yang paling sering digunakan untuk berkilah adalah malas.

Rasa malas muncul karena jika ingin membuang sampah pada bak sampah harus terlebih dulu membuka tutup tempat sampah. Fakta yang ada, menurut mereka tutup tempat sampah sangat kotor dan bau.

"Oleh karena itu saya menciptakan pembuka dan penutup bak sampah otomatis berbasis mikrokontroler ATMega 8 yang terdiri atas tiga elemen penting, yakni input, proses, dan output," katanya.

Menurut dia sensor jarak ultrasonik sebagai input, bagian proses menggunakan mikrokontroler ATMega 8, sedangkan motor servo sebagai outputnya.

"Tiga elemen tersebut tidak terlepas dari catu daya menggunakan tegangan DC dari konverter dan tegangan AC dari PLN," katanya.

Ia mengatakan cara kerja pembuka dan penutup bak sampah otomatis itu berdasarkan inputan dari sensor jarak ultrasonik.

Jika sensor jarak ultrasonik menangkap suatu aktivitas di dekat bak sampah, dalam hal ini tangan seseorang dengan jarak lebih dari 35 cm maka motor servo akan bergerak dan membuka tutup bak sampah.

"Setelah terbuka akan ditunda selama lima detik, tetapi jika lima detik di sekitar bak sampah tidak ada aktivitas maka motor servo akan bergerak untuk menutup bak sampah," katanya.

Menurut dia alat yang menghabiskan dana sekitar Rp600.000 itu diharapkan akan membantu seseorang membuang sampah, agar tangan tidak kotor dan bau saat membuang sampah karena harus membuka tutup bak sampahnya terlebih dulu.

Kelebihan lainnya adalah alat itu dikendalikan oleh sensor yang tidak terlihat, dan antiair sehingga dapat diletakkan di berbagai tempat.

"Inovasi itu di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Herlambang Sigit Pramono," katanya. (B015*H010/N002)

• Antara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Mahasiswa UNY ubah "smartphone" jadi robot pemantau

Yogyakarta | Mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Wahyu Privantoro melakukan inovasi mengubah telepon seluler android "smartphone" menjadi alat pemantau yang diberi nama "mobile robot pemantau".

"Robot pemantau benda mencurigakan itu memanfaatkan android `smartphone` sebagai IP Webcam dengan komunikasi bluetooth dan Wi-Fi berbasis mikrokontroler ATmega8," kata Wahyu di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia dirinya memanfaatkan perangkat andorid "smartphone" karena saat ini hampir semua orang memilikinya sebagai perangkat telekomunikasi.

"Telepon seluler atau handphone semacam itu memiliki kemampuan Wi-Fi thetering sebagai IP Webcam yang kemudian dihubungkan dengan Wi-Fi laptop operator oleh pengguna sehingga mampu menampilkan audio video secara `realtime`," katanya.

Ia mengatakan cara kerjanya adalah fitur bluetooth dan Wi-Fi pada laptop itu digunakan untuk mengirimkan perintah pergerakan "mobile robot pemantau" yang kemudian dikirim melalui bluetooth ke modul bluetooth yang ada pada sistem mikrokontroler.

"Sistem tersebut selanjutnya akan menampilkan hasil pantuan berupa visual dan dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi dan ditampilkan pada browser yang ada pada laptop," katanya.

Menurut dia berdasarkan pengujian yang dilakukan, robot pemantau tersebut dapat melakukan pengiriman video yang direkam menggunakan kamera "smartphone" dengan baik.

"Setelah itu dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi yang menghubungkan laptop dengan `smartphone` dan ditampilkan melalui browser Mozilla Firefox sebagai `output` `mobile robot pemantau` yang `realtime`," katanya.

Namun demikian, kata dia, alat itu masih memerlukan beberapa pengembangan. Salah satunya adalah kamera tidak bisa merekam situasi di bawah dan di atas karena posisi kamera tidak dapat bergerak ke atas dan ke bawah.

"Selain itu `output` video masih kurang baik karena spesifikasi kamera `smartphone` yang digunakan masih rendah," katanya. (ANT)

• Antara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Wahyu Ubah Ponsel Android Jadi Robot Pemantau

YOGYAKARTA � Mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Wahyu Privantoro melakukan inovasi mengubah smartphone android menjadi alat pemantau yang diberi nama "mobile robot pemantau".

"Robot pemantau benda mencurigakan itu memanfaatkan android smartphone sebagai IP Webcam dengan komunikasi bluetooth dan Wi-Fi berbasis mikrokontroler ATmega8," kata Wahyu di Yogyakarta, Selasa (6/2).

Menurut dia dirinya memanfaatkan perangkat smartphone Android karena saat ini hampir semua orang memilikinya sebagai perangkat telekomunikasi.

"Telepon seluler atau handphone semacam itu memiliki kemampuan Wi-Fi thetering sebagai IP Webcam yang kemudian dihubungkan dengan Wi-Fi laptop operator oleh pengguna sehingga mampu menampilkan audio video secara realtime," katanya.

Ia mengatakan cara kerjanya adalah fitur bluetooth dan Wi-Fi pada laptop itu digunakan untuk mengirimkan perintah pergerakan "mobile robot pemantau" yang kemudian dikirim melalui bluetooth ke modul bluetooth yang ada pada sistem mikrokontroler.

"Sistem tersebut selanjutnya akan menampilkan hasil pantuan berupa visual dan dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi dan ditampilkan pada browser yang ada pada laptop," katanya.

Menurut dia berdasarkan pengujian yang dilakukan, robot pemantau tersebut dapat melakukan pengiriman video yang direkam menggunakan kamera smartphone dengan baik.

"Setelah itu dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi yang menghubungkan laptop dengan smartphone dan ditampilkan melalui browser Mozilla Firefox sebagai output 'mobile robot pemantau`yang realtime," katanya.

Namun demikian, kata dia, alat itu masih memerlukan beberapa pengembangan. Salah satunya adalah kamera tidak bisa merekam situasi di bawah dan di atas karena posisi kamera tidak dapat bergerak ke atas dan ke bawah.

"Selain itu output video masih kurang baik karena spesifikasi kamera smartphone yang digunakan masih rendah," katanya.

 ● Republika

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Robot,UNY

#Tag : Robot UNY

Mahasiswa UNY Raih Juara NIC ITB

Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian UNY yang terdiri dari Syafiq (Pendidikan Teknik Mesin FT), Nurlaila Khurnia (Teknik Elektronika FT) dengan memperoleh juara III dalam National Inovation Contest (NIC) yang merupakan rangkaian acara Mechanical Festival 2013 di ITB.

Kontes inovasi itu dimaksudkan sebagai wadah untuk menyalurkan ide dan inovasi para mahasiswa dalam merancang suatu teknologi. Inovasi dan teknologi yang dirancang harus dapat mendukung konsep sustainable development, yaitu pengembangan teknologi yang dapat mempertahankan ketersediaan sumberdaya alam dan menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi di masa mendatang.

Kontes inovasi teknologi tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Mesin ITB dengan tema 'Engineering for Sustainable Development'.

Dalam kontes itu dipilih 20 finalis yang berhak lolos ke tahap penjurian kedua. Universitas yang berpartisipasi dalam lomba itu antara lain UNY, UI, ITB, UB, ITS, PENS Surabaya, Unri, UPI. Tim UNY membawakan karya ''Prototype Mesin Pengering Tipe Single-Rotary Drum Dryer Berbasis Solar Thermal dengan Tracking Compound Parabolic Concentrators (CPC)'.

Karya tersebut berhasil memperoleh juara III yang diumumkan saat gala dinner di restoran The Centrum Bandung. Sementara juara I diraih oleh tim Universitas Airlangga dan juara II diraih oleh tim dari ITB.

Hasil penentuan juara tersebut berasal dari penilaian karya yang didasarkan pada presentasi dan prototype yang dibuat.

Syafiq menjelaskan bahwa inovasi teknologi yang dibuat merupakan teknologi terbarukan dan ramah lingkungan yang difungsikan untuk mengeringkan produk biji-bijian dan hasil perkebunan. Alat itu berbasis energi solar termal dengan menggunakan tracking compound parabolic concentrator dan elemen pemanas sehingga alat itu memiliki kemampuan untuk mengurangi pengguanaan bahan bakar fosil dan konsumsi energi listrik berlebih.

Rancangan alat itu juga berorientasi pada kualitas produk yang unggul dan kuantitas yang cukup besar sehingga akan berpengaruh terhadap harga jual produk supaya produk atau komoditas tersebut mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif.

  • itoday

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Awards,UNY

#Tag : Awards UNY

Mahasiswa UNY Buat Donat Dari Biji Nangka

Jogyakarta | Tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan biji nangka untuk membuat kue donat yang diberi nama Dobina.

"Biji nangka merupakan sumber karbohidrat, protein, dan energi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang potensial. Biji nangka juga merupakan sumber mineral yang baik," kata koordinator tim mahasiswa, Senja Dewi, di Yogyakarta, Minggu (10/3/2013).

Menurut dia, pembuatan donat merupakan salah satu cara mengolah makanan agar dapat bervariasi dan memenuhi cita rasa. Meskipun banyak variasi, yang paling penting dari pembuatan kue donat adalah bahan bakunya yakni tepung.

"Tepung biji nangka mengandung nilai gizi lebih tinggi dibandingkan dengan tepung terigu. Pembuatan tepung biji nangka, yakni mencuci biji nangka kemudian merebusnya hingga matang untuk membuang getahnya," katanya.

Ia mengatakan biji nangka yang sudah masak didinginkan, kemudian dipotong tipis-tipis, dan dikeringkan di bawah sinar matahari kemudian digiling untuk dijadikan tepung. Untuk mendapatkan tepung yang halus, tepung diayak terlebih dulu agar terpisah dari serat-serat yang masih kasar.

"Dari hasil komparasi bisa disimpulkan bahwa tepung biji nangka mengandung karbohidrat, lemak, protein, dan amilum yang lebih baik dibandingkan dengan tepung terigu," katanya.

Menurut dia, selama ini masyarakat hanya memanfaatkan daging nangka, sedangkan bijinya belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, biji nangka mengandung karbohidrat cukup tinggi yakni dalam 100 gram biji nangka mengandung karbohidrat sebesar 36,7 gram.

Kandungan karbohidrat biji nangka, kata dia, memang lebih rendah dibandingkan dengan beras. Kandungan karbohidrat 100 gram beras sebesar 78,9 gram.

"Dua kilogram biji nangka sebanding dengan satu kilogram beras. Biji nangka dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan pangan yang cukup bergizi karena masih adanya kandungan zat lain yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan penghasil karbohidrat lainnya seperti zat besi dan vitamin B1," katanya.

Anggota tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY, yang melakukan penelitian berjudul "Komparasi Uji Karbohidrat, Lemak, Protein, dan Amilum antara Donat Tepung Biji Nangka dan Donat Tepung Terigu" itu adalah Gibson SH Marbun, Pambudi Tedjo YR, dan Ragil Nurjannah R.

  ● Kompas

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Mahasiswa UNY Ciptakan Pendeteksi Kadar Ozon

Yogyakarta • Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, Fredy Setya Pradana, menciptakan alat untuk mendeteksi atau mengetahui parameter kadar ozon.

"Alat yang menggunakan sensor MQ-131 sebagai detektor kadar gas ozon itu berfungsi memonitor tingkat polusi udara untuk mengetahui indeks polusi ozon di setiap kawasan," kata Fredy, di Yogyakarta, Jumat (22/3/2013).

Menurut dia, sensor itu akan bekerja jika mendapatkan rangsangan dari gas ozon sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tegangan dan hambatan di dalam sensor.

Selanjutnya, tegangan itu akan menjadi masukan pada sistem yang telah terprogram dan ditampilkan ke LCD untuk mengetahui seberapa besar kadar gas dalam area lingkungan tersebut dengan satuan ppb.

"Sistem itu akan menyimpulkan kadar gas dalam kondisi normal atau bahaya. Jika sumber gas ozon menunjukan besaran 121-2000 ppb, maka LCD akan menampilkan kondisi ’bahaya’," katanya.

Ia mengatakan, pada tahap pengujian dilakukan pengukuran kadar gas ozon di beberapa tempat, yakni dataran rendah dan dataran tinggi, seperti Yogyakarta, Tambi Wonosobo, dan Dieng.

"Satu kali percobaan diperlukan waktu sekitar 20 detik hingga penunjukan stabil atau berhenti bergerak, dan dari percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi area suatu tempat, semakin kecil kadar gas ozonnya," katanya.

Menurut dia, hal itu bisa dimaklumi karena di dataran tinggi belum banyak terdapat sentra industri dan penggunaan kendaraan bermotor juga masih cukup rendah. Selain itu, banyaknya pepohonan di daerah dataran tinggi juga menjadi faktor pembeda rendahnya kadar gas ozon.

"Kondisi itu berbeda dengan di Yogyakarta yang telah padat dengan kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang cukup tinggi," kata Fredy yang menciptakan alat itu di bawah bimbingan dosen Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNY, Herlambang Sigit Pramono.

Ia mengatakan, ozon berguna untuk melindungi bumi dari sinar radiasi ultraviolet matahari tempat lapisan itu berada pada ketinggian 8-50 km di atas permukaan bumi.

Namun, adanya ozon di sekitar permukaan bumi dengan konsentrasi tertentu akan membahayakan kesehatan manusia seperti infeksi dan iritasi saluran napas atau bahkan bisa merusak paru-paru.

"Ozon bisa terjadi secara alamiah di dalam smog (kabut) terutama di kota-kota besar tempat gas NOx dan hydrocarbon dari asap buangan kendaraan bermotor serta berbagai kegiatan industri yang merupakan sumber pembawa terbentuknya ozon," katanya.

  ● Kompas

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: UNY

#Tag : UNY

Empat Universitas Beradu Mobil Berbahan Bakar Alternatif

Mobil Listrik UNY EVO Tim Garuda
Surabaya • Empat universitas beradu dalam "Indonesia Chem-E-Car Competition 2013" yang merupakan kompetisi nasional untuk mobil berbahan bakar alternatif di Gedung Robotika ITS Surabaya, Sabtu.

"Ada tujuh mobil dari UGM, Politeknik Negeri Bandung, UI, dan ITS yang bertanding. Mereka umumnya menggerakkan mobil dengan reaksi kimia dari alat pemutih lumut di toilet atau kamar mandi," kata Ketua Panitia Chem-E-Car Hanif Mubarok.

Didampingi Ketua "Chernival Chemical Engineering Innovation Festival" (festival yang di dalamnya ada even Chem-E-Car), Raymond Vensky Rattu, ia menjelaskan Chem-E-Car tahun 2011 diikuti 11 tim, tapi tahun 2013 hanya tujuh tim dari empat universitas.

"Tahun 2011 cukup banyak, karena ada peserta dari luar negeri, tapi tahun ini tidak ada karena bersamaan dengan kegiatan serupa di negera lain seperti Malaysia, Thailand, dan sebagainya, sedangkan kompetisi tingkat dunia di Australia pada Juni mendatang," katanya.

Tentang penilaian, ia mengatakan hal itu ditentukan studi kasus dengan dua undian yakni undian beban dan undian jarak. "Beban akan diberikan dalam kisaran 0-20 persen dari bobot mobil, lalu berat beban itu yang menentukan undian jarak yang harus dicapai," katanya.

Bagi pemenang, panitia akan menyiapkan bantuan dana Rp10 juta untuk juara pertama, Rp7 juta untuk juara kedua, dan Rp4 juta untuk juara ketiga. "Khusus juara pertama akan difasilitasi Aptekindo untuk beradu ke kegiatan tingkat dunia," katanya.

Dari tujuh tim peserta itu, UGM mengeluarkan tiga mobil yakni mobil "Sugriwa III" yang berbahan bakar Asam Chlorida (HCl) untuk sistem rem dan Magnesium untuk sistem penggerak. "Itu merupakan alat pemutih lumut di toilet atau kamar mandi," katanya.

Selain itu, UGM juga mengeluarkan mobil "Subali IV Car" yang berbahan bakar Hydrogen Peroxida sebagai penghasil gerak. "Hydorgen Peroxida itu alat pemutih yang lebih ampuh lagi, tapi mobil Subali itu juga Bejana Tekanan yang merupakan penggerak," katanya.

Mobil berbahan bakar alternatif yang lain dari UGM adalah "Anjani" yang menggunakan penggerak "fuel cell" dari Zodium Peroksida.

Sementara tim dari Politeknik Negeri Bandung ada dua yakni tim mobil "Sangkuriang" dan tim mobil "The Warrior". Sangkuriang memakai "fuel cell" buatan sendiri dari zinc dan asam sulfat, sedangkan The Warrior menggunakan baterai alumunim yang menghasilkan listrik.

"Untuk mobil Spektronics 5 dari ITS juga menggunakan reaksi kimia dari alat pemutih, lalu reaksi itulah yang mengisi Bejana Tekanan mirip tabung gas yang akhirnya menggerakkan mobil," katanya.

Tahun 2011, alat pemutih yang sama juga digunakan, tapi reaksi kimia yang ada menggerakkan piston, bukan turbin. "Kalau dengan turbin tidak ada energi yang terbuang," katanya.

Ia menambahkan tim UI juga mengeluarkan satu mobil yakni "Altair 1.0". Bahan bakar yang digunakan dari elektroda alumunium yang bisa menghasilkan gas bila bereaksi dengan udara, lalu reaksi itu menghasilkan listrik yang diubah jadi energi penggerak," katanya. (E011/T007)

  ● Antara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: ITS,Mobil,UGM,UI,UNY

#Tag : ITS Mobil UGM UI UNY