Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Unibraw. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa Unibraw Produksi Kerupuk Cangkang Telur

SURYA Online, MALANG - Mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, memproduksi krupuk berbahan dasar cangkang telur, tepung jagung dan tapioka yang diberi nama "Canggung".

Krupuk canggung yang renyah dan kaya kalsium itu menggunakan bahan dasar cangkang telur, tepung jagung dan tapioka, kata salah satu mahasiswa pembuat krupuk Canggung, Nadia Rachmawati, di Malang, Kamis.

"Proses pembuatan krupuk cangkang ini juga tidak terlalu sulit, yakni cangkang telur dibersihkan terlebih dahulu dari mikroba (bakteri) dengan cara direbus dalam air mendidih dan dibentuk menjadi tepung," katanya.

Ia mengemukakan, karena memiliki kandungan kalsium cukup tinggi, krupuk ini sangat bagus untuk pembentukan serta pertumbuhan organ yang sangat keras, seperti tulang dan gigi.

Krupuk Canggung tersebut dibuat dan diproduksi oleh lima mahasiswa THP UB, yakni Nadia rachmawati, Nur Wachida, Mudanifah, Suriah Yuli H serta Rizky Dwi P.

Harga produk olahan alami yang dihasilkan para mahasiswa tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp 2.500 sampai Rp 5.000 per biji.

SURYA Online

Posted in: Inovasi,Unibraw

#Tag : Inovasi Unibraw

Mahasiswa UB Energi Alternatif dari Perbedaan Suhu

Surabaya � Mahasiswa Universitas Brawijaya menciptakan energi alternatif memanfaatkan perbedaan suhu udara. Temuan yang mengacu pada sistem kerja dispencer ini diberi nama Hybrid Micro Thermoelectric Generator.

Hybrid Micro Thermoelectric Generator merupakan energi alternatif yang diciptakan oleh tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya: Rahmat Ananta, Dessy Lina Rachmawati, dan Rifka Fahriza Jauhari. Berkat inovasi itu, ketiga mahasiswa tersebut sukses meraih medali emas di World Inventor Award Festival di Seoul, Korea Selatan, pada Desember 2012 lalu.

Ide membuat energi alternatif itu tercetus dari sebuah dispenser. Jika dispenser menghasilkan air dingin dan panas karena energi listrik, Hybrid Micro Thermoelectric Generator membalik konsep tersebut. “Energi listrik bisa diciptakan dari suhu dingin dan panas,” kata Rahmat, seorang penemu, dalam siaran persnya, Sabtu lalu.

Hybrid Micro Thermoelectric Generator adalah sejenis pembangkit listrik yang dihasilkan lebih dari satu sumber. Menurut Rahmat, sumber tersebut berasal dari panas dan dingin. Untuk menciptakan sebuah energi listrik memerlukan suhu panas dan dingin dengan menggunakan perbandingan satu dibanding dua. Jika suhu dinginnya 60 derajat Celsius, suhu panasnya berkisar 30 derajat Celsius, atau bisa juga sebaliknya. “Yang penting mempunyai perbandingan satu banding dua," kata Rahmat.

Untuk mendapatkan suhu panas dan dingin sangat mudah. Suhu di dalam dan di luar rumah juga bisa digunakan. Misalnya, jika di luar rumah suhunya dingin, otomatis di dalam rumah lebih hangat. Sumber suhu yang lain juga bisa didapat melalui air panas, air dingin, es, geiser, atau salju.

Untuk daerah yang mempunyai suhu ekstrem, seperti daerah kutub dan padang pasir, alat tersebut masih bisa digunakan selama ada perbedaan suhu. "Contohnya, di daerah Kutub Selatan yang sangat ekstrem dengan suhu dinginnya, suhu di bawah dan di atas es pasti mempunyai perbedaan. Jadi, dengan menggunakan perbandingan satu banding dua, maka alat tersebut bisa digunakan," kata Rahmat.

Selain kelebihannya menggunakan suhu, Hybrid Micro Thermoelectric Generator juga bisa digunakan dalam skala besar, seperti menggerakkan mesin-mesin industri.

Menurut Rahmat, sumber dari energi listrik yang dihasilkan oleh Hybrid Micro Thermoelectric Generator berasal dari suatu lempeng yang bernama Elemen Peltier. Elemen Peltier inilah yang nantinya mentransmisikan suhu dingin dan panas menjadi suatu energi listrik. "Satu lempeng elemen bisa menampung minimal 12 volt ampere hingga maksimal 80 volt ampere," Dessy menambahkan.

Karena keunggulan yang dimiliki Hybrid Micro Thermoelectric Generator, maka ketiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya tersebut berinisiatif untuk segera mematenkannya. "Saat ini kami sedang berusaha mencari perusahaan yang mau bekerja sama dan mematenkan produk atas nama kami bertiga," kata Rahmat.

• Tempo.Co

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Energi,Ilmu Pengetahuan,Unibraw

Universitas Brawijaya-Telkomsel Jalin Kerjasama Penelitian

Universitas Brawijaya-Telkomsel Jalin Kerjasama Penelitian Malang � Telkomsel mendukung penyaluran kreativitas dan inovasi para mahasiswa Universitas Brawijaya Malang dan siap menjembatani pemasaran aplikasi hasil karya mereka.

Dukungan itu merupakan salah satu peluang dari isi nota kesepahaman yang ditandatangani Direktur Network Telkomsel Abdus Somad Arief dan Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Yogi Sugito di Kampus UB Malang, Jawa Timur, Senin.

"Kami mengajak para mahasiswa UB untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi yang menarik dan kami siap memasarkannya melalui Telkomsel Application Market," kata Abdus Somad usai penandatanganan.

Kerja sama Telkomsel dengan UB mencakup empat bidang, yakni pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Pendidikan adalah faktor penentu dari keunggulan kompetitif sehingga kami bersama UB akan bersama-sama mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, sejahtera, berkualitas, dan sadar teknologi," katanya.

Dalam hal pendidikan dan peningkatan SDM, lanjut Abdus Somad, Telkomsel akan berpartisipasi aktif dalam kegiatan peningkatan kualitas pendidikan, seperti melalui seminar, pameran teknologi, kuliah tamu terkait bidang informasi, komunikasi dan teknologi.

Sementara untuk pengabdian masyarakat, operator anak perusahaan PT Telkom Tbk akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa UB untuk melakukan penelitian, tesis, kerja praktek dan magang di Telkomsel.

Dalam kesempatan itu, Abdus Somad juga menyerahkan bantuan seperangkat peralatan praktikum transmisi radio link yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk pelatihan dan penelitian.

"Dalam waktu dekat, kami segera menambah BTS di lima lokasi dalam kampus UB, tapi tidak dalam bentuk menara, melainkan menyatu dengan bangunan gedung sehingga tidak merusak estetika. Penambahan BTS untuk meningkatkan kualitas akses layanan data di kampus UB," ujar Abdus Somad.

Rektor UB Prof Dr Yogi Sugito mengatakan bahwa UB yang memiliki lebih kurang 53.000 orang mahasiswa merupakan salah satu perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa terbesar di Indonesia.

"Tahun depan jumlah mahasiswa diproyeksikan bertambah menjadi sekitar 60.000 orang dan itu menjadi potensi pasar yang sangat besar bagi Telkomsel," ujarnya.

Yogi berharap kerja sama yang berlaku selama lima tahun tersebut, mampu memberikan keuntungan dan nilai tambah bagi kedua belah pihak, serta mendorong mahasiswanya untuk terus mengembangkan inovasi di bidang teknologi.

• Republika

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Aplikasi,Telkomsel,Unibraw

Mahasiswa Unibraw Temukan Bakteri Anti-diabetes

Mahasiswa Unibraw Temukan Bakteri Anti-diabetes   Malang | Lima mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, lintas jurusan berhasil menciptakan alat elektronik untuk membunuh bakteri diabetes mellitus. Mereka adalah Fahad Arwani, Reno Muktiaji Herdhiansyah (Teknik Elektro), Arfianita Ramadhani, Putro Aneswari (Ilmu Keperawatan), dan Muhammad Fahri Akbar (Ekonomi Pembangunan)

"Alat elektronik itu mampu membunuh bakteri diabetes mellitus serta mempercepat pengobatan luka." Fahad menjelaskannya dalam siaran pers, Jumat, 1 Maret 2013. Para mahasiswa itu menamakan alat tersebut KYUBI atau Kill Your Bacteria. KYUBI menggunakan tegangan 9 volt untuk membunuh bakteri. Menurut Fahad, tegangan 9 volt merupakan tegangan yang dapat ditoleransi oleh tubuh.

Prinsip kerjanya, alat yang dilengkapi gel elektrolit tersebut diletakkan di antara anggota tubuh yang terluka. Saat alat dihidupkan, keluar impuls listrik dengan arus searah. Frekuensi impuls disesuaikan dengan kebutuhan. Impuls listrik akan merambat ke daerah luka dan melakukan kompresi listrik serta memecah membran sel bakteri. Dalam tempo lima menit, KYUBI mampu membasmi seluruh bakteri.

"Alat ini menjadi terapi yang murah." Arfianita menjelaskan. Menurutnya, pengobatan luka diabetes mellitus tergolong mahal. Harga setiap butir obat mencapai Rp 500 ribu lebih. KYUBI mencegah tindakan amputasi yang menganggu gerakan pasien.

Alat penemuan mahasiswa lintas jurusan ini diganjar peringkat pertama Entrepreneur Spirit (ESPRIEX) di Fakultas Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Kini, penemuan ini tengah menempuh uji klinis serta mendapat hak paten. Mereka berharap produsen peralatan kesehatan tertarik untuk memproduksinya secara massal.

  ● Tempo

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Ristek,Unibraw

Teh Kulit Salak Penurun Diabetes Karya Mahasiswa FPUB

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/05/Teh-Kulit-Salak.jpg Terobosan terbaru lima mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menciptakan inovasi  berbahan dasar kulit salak yang meraka sebut “LITLAK Tea” ini pada dasarnya tak luput dari pemanfaatan limbah bermanfaat seperti kulit salak yang mengandung unsur aktif seperti Cinnamic acid derivatives yaitu senyawa yang mendorong regenerasi sel epitel. Zat tersebut diatas berperan penting dalam proses perbaikan pancreas pada penderita diabetes tipe I serta Pterostilbene yaitu zat anti diabetes dan berperan langsung dalam menurunkan kadar gula darah.

Dari kandungan kulit salak yang sangat bermanfaat tersebut lima mahasiswa FPUB Mhas Agoes Triambada, Audisty Oktavian, Saraswati, Wildan Noor dan Rahayu ini menyulap limbah dari kulit salak menjadi minuman sehat penurun diabetes.

“Litlak Tea kami dijual dengan harga Rp 3.000,- dengan varian rasa original, cokelat dan Vanila dengan ukuran gelas sedang” tutur Mhas Agoes. Rasa original dikhususkan kepada para penderita diabetes, sedangkan rasa cokelat dan vanilla ditujukan kepada kalangan non-diabetes sehingga minuman sehat ini diharap akan diterima disemua kalangan sebagai minuman sehat dan nikmat. Dengan harga yang sangat terjangkau ini terobosan penurun diabetes diharap akan menjadikan pioneer terbukanya peluang bisnis bagi para mahasiswa, kerja sama dari seluruh elemen akan sangat membantu terciptanya kemajuan bersama dengan itu “kami berharap ada investor yang bergabung untuk ikut memajukan karya kami hingga dipasarkan secara luas” tegas Mhas.

  ● Agriwarta

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Unibraw

Takoyaki Jantung Pisang Mahasiswa FPUB

Satu lagi produk hasil dari PKM Expo 2013 FPUB, kali ini adalah jantung pisang yang keberadaannya dikesampingkan ternyata mengandung berbagai zat yang baik bagi kesehatan seperti protein, fosfor, mineral, kalsium vitamin B1, C dan kandungan serat yang cukup tinggi. Jantung pisang sendiri sangat bermanfaat untuk proses diet karena kandungan lemaknya sangat sedikit dan memberi rasa kenyang lebih lama. Bukan hanya baik untuk diet, bagi para penderita diabetes juga aman mengkonsumsi jantung pisang karena indeks glikemiknya yang rendah. Mengkonsumsi jantung pisang secara rutin juga dapat mencegah stroke dan serangan jantung karena makanan ini bersifat antikoagulan yang dapat mencegah penggumpalan darah.

Jantung pisang di Indonesia sendiri pada umumnya hanya dimasak secara sederhana oleh masyarakat Indonesia. Dan hali ini ternyata mampu menggugah daya inovasi dan kreativitas dari 5 mahasiswa Fakultras Pertanian Universitas Brawijaya yaitu, Nurul Arum Dewi, Beni Ardiyanto, Kadhung Prayoga, Indri Dwi Arini dan Kuni Annisa Fatimah untuk mengubahnya menjadi makanan Internasional dengan cita rasa lokal.

Dibawah bimbingan Wisynu Ari Gutama dan beberapa kali proses percobaan akhirnya mereka berlima berhasil untuk membuat Takoyaki Jantung Pisang. Menurut mereka, di zaman yang serba modern ini orang-orang lebih suka makan makanan cepat saji dan makanan kebarat-baratan, hingga keberadaan jantung pisang seakan semakin tersingkir dan dianggap sampah. Oleh karena itu, mereka ingin mengangkat nama jantung pisang sebagai jajanan instan internasional namun dengan sejuta manfaatnya.

Jajanan sehat karya mahasiswa FPUB ini sangat berbeda dengan Takoyaki yang sudah ada, karena Takoyaki Japang ini berisikan jantung pisang yang sudah dijabarkan manfaatnya tadi. Selain itu Takoyaki Japang ini sendiri juga sangat berisi tanpa banyak rongga udara, sehingga lebih memanjakan mulut penikmatnya. Selain Takoyaki isi jantung pisang, kelima mahasiswa ini juga menyediakan varian lain seperti Takoyaki isi coklat, keju dan fruit (pisang dan strawberry). Dimana Takoyaki isi buah juga masih sangat baru dan sangat unik.

Bagi anda yang merasa penasaran dengan cita rasa dari Takoyaki Japang ini sendiri, anda cukup merogoh kocek sebesar Rp. 6.000 dan anda sudah mendapatkan 4 biji Takoyakin dan bisa menikmatinya kelezatannya. Anda ingin mencobanya? Langsung saja order melalui twitter di @takoyakijapang atau menghubungi 085645085085. Gratis delivery order untuk kawasan UB, UM dan UIN.

  ● Agriwarta

Posted in: Unibraw

#Tag : Unibraw

Mahasiswa Unibraw Luncurkan Mobil Listrik Aristo

Dua mahasiswa memperbaiki mesin mobil listrik 'Aristo' sebelum dibawa ke Malaysia untuk dilombakan di Gedung Samantha Krida, Malang, Jawa Timur, Kamis (30/5). MALANG -- Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, yang tergabung dalam Tim Apatte-62 meluncurkan mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan yang diberi nama Aristo, Kamis (30/5).

Tim Apatte-62 yang diketuai Agustian Adi Gunawan itu melakukan uji kemudia (test drive) dengan mengelilingi Samantha Krida kampus setempat disaksikan Rektor Universitas Brawijaya Yogi Sugito dan Dekan Fakultas Teknik Prof Harnen Sulistyo.

"Aristo ini akan berkompetisi pada Shell Eco-Marathon Asia 2013 yang diselenggarakan 4-7 Juli 2013 di Sirkuit Sepang, Malaysia. Lomba ini terdiri dari dua kategori yakni prototype dan urban concept," terang Agustian.

Aristo, katanya, akan berlomba pada kategori prototype yaitu untuk kendaraan futuristik yang bertujuan memaksimalkan efisiensi bahan bakar melalui elemen inovatif.

Agus mengemukakan Aristo ditargetkan berkecepatan maksimal 300 kilometer per kilo watt jam, namun sampai saat ini baru mencapai 200 km per kilo watt jam.

Untuk rangka menggunakan bahan Honeycom agar konstruksinya ringan untuk menahan beban. Bahan ini biasanya digunakan untuk lantai pesawat terbang.

Bahan bakarnya memiliki dua baterai masing-masing berarus 10 dan 20 Ampere. "Kalau yang 10 Ampere di-charge selama empat jam bisa digunakan sejauh 40 kilometer," kata Agus.

Prof Harnen Sulistyo mengungkapkan kebanggannya pada tim Apatte-62, karena kampusnya adalah satu-satunya tim dari Indonesia yang berlomba dalam kategori prototype listrik.

Sebelum mengikuti kompetisi Shell Eco-Marathon 2013, Tim Apatte-62 pada 2012 juga mengikuti Indonesian Energy Marathon Challenge dan menempati urutan keempat.

Untuk lomba tingkat Asia ini, walau baru pertama kali diikuti oTeknik Mesin universitas ini, dosen pembimbing Dr. Eng. Eko Siswanto, ST, MT mengharapkan tim bisa pulang dengan kemenangan.

Shell Eco Marathon tahun ini akan diikuti 150 tim dari 16 negara. Indonesia diwakili 20 tim dari berbagai perguruan tinggi yang telah lulus seleksi teknis.

Tim-tim tersebut adalah ITB (2 tim), USU (2 tim), ITS (2 tim), UPI (1 tim), UI (2 tim), Poltek Jakarta (1 tim), Poltek Pontianak (1 tim), UGM (2 tim), STKIP Bandung (1 tim), UB (1 tim), UNS (1 tim), UNS (2 tim), UNJ (1 tim), dan AKPRIN (1 tim).

  ● Republika

Posted in: Mobil,Unibraw

#Tag : Mobil Unibraw

Mobil Listrik Apatte 62

 Apatte 62, Mobil Listrik Irit Mahasiswa Unibraw

Apatte 62, Mobil Listrik Irit Mahasiswa Unibraw

Malang • Mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang membuat mobil listrik yang diklaim hemat energi. Mobil bernama Apatte 62 Aristo ini diikutkan dalam ajang lomba tahunan Shell Eco Maratahon Asia 2013 di sirkuit Sepang, Malaysia pada 4-7 Juli 2013. "Satu kilo watt mampu menempuh 700 kilometer," kata koordinator tim, Agustian Adi Gunawan, Kamis, 30 Mei 2013.

Agustian yang pengemudi kendaraan ini mengatakan dari segi efisiensi energi Apatte hemat. Kecepatan maksimal kendaraan mencapai 47 kilometer per jam. Sebagai penggerak Apatte dipasang motor listrik BL DC 48 volt 800 watt. Sumber energi dipasok baterai 48 volt 20 ampere hours.

Dalam perlombaan itu, Apatte harus melaju di sirkuit Sepang sejauh 12 kilometer dengan target waktu 30 menit. "Jadi minimal kecepatan 30 kilometer per jam,” kata dia. “Sementara Apatte bisa menempuh 47 kilometer per jam."

Agustian optimistis bisa meraih kemenangan dalam kompetisi yang diikuti 150 tim dari 16 negara itu. Indonesia nantinya mengirimkan 20 tim. Universitas Brawijaya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bertarung di kelas elektrik atau mobil listrik. Mobil konsep ini merupakan pengembangan Apatte yang juara tiga Indonesian Energi Marathon Challenge di Surabaya 2012.

 Mobil Listrik Irit Apatte 62 Telan Rp 289 Juta

Malang:Mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang akan menyertakan mobil listrik irit Apatte 62 dalam ajang Shell Eco Maratahon Asia 2013 di sirkuit Sepang, Malaysia pada 4-7 Juli 2013.. Untuk merancang mobil yang diklaim hemat energi ini dibutuhkan dana Rp 289 juta.

Dana itu diperoleh dari Universitas Brawijaya dan sponsor. Universitas Brawijaya mendanai Rp 200 juta. Sisanya dari sponsor. Koordinator tim dan pengemudi Apatte, Agustian Adi Gunawan, Kamis, 30 Mei 2013, mengatakan dana yang besar itu dipakai untuk inovasi kendaraan yang telah menjadi juara tiga Indonesian Energi Marathon Challenge di Surabaya 2012 itu.

Tim telah memangkas beban bodi kendaraan dari semula 60 kilogram menjadi 45 kilogram. Bodi kendaraan diganti dari semula serat fiber menjadi serat karbon yang jauh lebih ringan.

Chassis menggunakan honeycomb panel yang biasa dipakai sebagai komponen lantai pesawat terbang. Bahan ini lebih ringan sekaligus kuat. Rancang bangun kendaraan sejak tahap desain membutuhkan waktu enam bulan. "Sedangkan rancang bangun cukup 1,5 bulan," kata dia.

Rancang bangun kendaraan dilakukan di bengkel GMF Aero Asia (Garuda Indonesia Group). Sejumlah komponen menggunakan konstruksi komponen pesawat terbang. "Kabin sempit, kurang nyaman," kata Agustian. Kendaraan sengaja didesain kecil guna efisiensi konsumsi listrik sesuai materi lomba.

Pembinbing 12 mahasiswa tadi sekaligus Dosen Teknik Mesin, Eko Siswanto menyampaikan material kendaraan teruji kuat dan aman. Kendaraan tersebut telah melalui uji coba dan memenuhi standar keamanan. "Selama proses manufaktur tak ada hambatan yang berarti," kata Eko.

  ● Tempo

Posted in: Mobil,Unibraw

#Tag : Mobil Unibraw

Mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan pupuk organik multifungsi

Mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan pupuk organik multifungsi Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, menciptakan pupuk organik multifungsi berbahan baku limbah perikanan atau ikan yang sudah rusak, sisa olahan ikan dan ikan tidak layak konsumsi. Menurut Lini Murni, salah seorang anggota tim yang menciptakan pupuk multifungsi berbahan baku limbah ikan, di Malang, Kamis, banyaknya limbah perikanan yang dibuang sia-sia inilah yang mendasari inovasi yang dituangkan dalam program kreativitas mahasiswa (PKM) dengan judul "PEMIMPIN S.P.O.K". "PEMIMPIN S.P.O.K ini untuk mengurangi ledakan limbah perikanan melalui sistem teknologi tepat guna. Salah satu bentuk pengolahan limbah perikanannya adalah limbah perikanan untuk pupuk organik karena nutrisi dan kandungan gizinya cukup tinggi, bahkan biaya produksinya pun juga terjangkau," kata Lini. Tim yang menciptakan pupuk multifungsi dari limbah perikanan itu, selain Lini Murni, juga dibantu empat mahasiswa lainnya, yakni Ratna Trisnaningrum, Anis Infitharika, Khoirul Anwar, dan Rine Sri Arini. Selain dengan bahan baku limbah perikanan dan bahan pendukung lainnya, tim tersebut menciptakan pupuk organik yang tidak hanya bisa digunakan untuk pertanian, namun juga untuk perikanan itu sendiri. Pupuk organik ini dapat digunakan untuk budidaya ikan lele, nila, patin, kultur pakan alami atau plankton, serta masih banyak kegunaan lainnya. Sedangkan untuk pertanian dapat digunakan pada tanaman mangga, tomat, terong, sawi, cabai, dan masih banyak jenis tanaman lainnya. Menurut Lini, pupuk ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat, sebab limbah industri pengolahan ikan dapat menjadi alternatif pupuk yang mahal, ramah lingkungan, serta dapat digunakan untuk budidaya perikanan dan budidaya pertanian. Pupuk yang diciptakan oleh Tim PEMIMPIN S.P.O.K tersebut dipatok dengan harga Rp25.000 per liter. Menyinggung legalitas produk, Lini mengatakan saat ini tim PEMIMPIN S.P.O.K sedang melakukan pengurusan legalitas produk dengan mendaftar di Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya (LPPM UB) dan pendaftaran izin dagang pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar. "Kami berharap upaya kami untuk melegalkan produk yang kami temukan ini segera selesai, baik di HKI maupun di Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar agar masyarakat bisa mendapatkan pupuk yang berkualitas guna memacu produktivitas tanaman pertanian maupun perikanannya," ujarnya.   ★ antara

Posted in: Unibraw

#Tag : Unibraw

Mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan deterjen dari getah biduri

http://www.infoakademika.com/wp-content/uploads/2012/04/BRAWIJAYA-MALANG.jpg Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, menciptakan detergen berbahan baku ekstrak getah biduri atau calotropis gigantae dengan teknologi nano, yakni "Bio-Nano Surf".

Ketua tim peneliti deterjen tersebut Devy Setyana, Selasa, mengatakan getah tanaman biduri memiliki kandungan saponin dan enzim protease yang mampu bertindak sebagai deterjen alami.

Saponin adalah jenis glikosida yang dapat membentuk buih dalam air serta dapat mengangkat kotoran dan menurunkan tegangan air, sedangkan protease adalah enzim yang dapat merombak protein.

"Keberadaan enzim protease dapat membantu kinerja saponin dalam membersihkan noda karena kemampuannya dalam memecah protein yang merupakan salah satu komponen utama kotoran pakaian," kata Devy.

Ia mengatakan biduri merupakan tanaman lokal Indonesia yang ketersediaannya cukup melimpah. Tanaman ini termasuk mudah tumbuh dan tidak bersifat musiman, tapi masih minim pemanfaatan, bahkan sebagian masyarakat masih menganggap hama karena mengandung kalsium oksalat yang menyebabkan gatal-gatal.

Dengan netralisasi menggunakan HCl pada konsentrasi aman sebesar 0,2-1 persen, sebenarnya hal itu dapat diatasi, sehingga masyarakat bisa mengambil manfaat dari saponin dan protease yang ada pada tanaman biduri.

Menyinggung proses pembuatan deterjen alami itu, Devy menjelaskan, menggunakan nanoteknologi sebagai suatu rekayasa molekuler yang mengubah partikel berskala nanometer.

Nanoteknologi ini akan meningkatkan kemampuan deterjen untuk membersihkan noda karena makin kecil partikel akan makin memudahkan masuk ke serat kain terkecil.

Selain itu partikel nano yang berukuran kecil juga akan meningkatkan daya degradasi deterjen, sehingga lebih mudah diurai oleh mikroorganisme. Proses nanofikasi ini menggunakan freeze drying (mesin pengering beku pada suhu minus) yang mampu mengecilkan partikel deterjen sampai 800 nanometer.

Teknologi ini, kata Devy, juga memungkinkan terbentuknya kristalisasi ekstrak getah biduri sehingga menjadi bubuk. Setelah mengalami proses pengujiian yang dilakukan dengan mencuci noda coklat pada kain dengan perendaman 5 menit dan pengucekan 1 menit, terbukti deterjen alami berbahan getah biduri ini mampu menyamai kemampuan deterjen komersial.

Deterjen dari getah biduri itu juga diuji toksisitas dan nilai baku mutu limbah deterjen untuk menguji tingkat biodegradable (kemampuan terurai di alam).

Hasilnya, nilai baku mutu limbah deterjen getah biduri lebih rendah dari batas maksimum ketetapan baku mutu limbah pada deterjen komersial, sehingga lebih ramah lingkungan.

"Saat ini hasil penelitian Bio-Nano Surf sudah didaftarkan untuk memperoleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan akan diikutkan pada konferensi ilmiah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Selandia Baru," ujarnya.

Mengenai latar belakang penelitian untuk menciptakan deterjen alami tersebut, Devy mengaku penggunaan zat aktif surfaktan Alkil Benzena Sulfonat (ABS) dan Linear Alkil Sulfonat (LAS) pada produk pembersih detergen diketahui menimbulkan dampak negatif bagi makhluk hidup.

Sebab, zat tersebut adalah bahan aktif berbahaya yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme, sehingga dapat mencemari lingkungan, khususnya air sungai, bahkan menyebabkan kematian pada biota laut.

Selain itu, kandungan ABS dan LAS pada deterjen juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan akibat residu cemaran yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan iritasi kulit.

Kelima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) yang melakukan penelitian tersebut adalah Devy Setyana, M.Arham, Sugiyati Ningrum, Anggi Nurvianti dan Nur Oktavia Suci. Lima mahasiswa tersebut dibimbing dua dosen, yakni Endrika Widyastuti dan Nur Ida Panca.Turung

  ♞ antara

Posted in: Unibraw

#Tag : Unibraw

Mahasiswa FT-UB Ciptakan Prototipe Mobil Berbahan Bakar Batu Kapur

http://ristek.go.id/file/gallery/2014/07/edit_1.jpg Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya kembali berinovasi. Setelah mobil listrik, kali ini mahasiswa FT berhasil membuat prototipe mobil dengan bahan bakar batu kapur.

Mobil berbahan bakar batu kapur ini dibuat oleh Dobita A Feliciana, Rizka Dwi Octaria, Dwi C Pujayanti, Afida Khofsoh, mahasiswa Teknik Kimia angkatan 2011 dan Sidiq Darmawan dari Teknik Mesin angakatan 2011, Universitas Brawijaya. Prototipe mobil yang diberi nama EXOTRIC ini telah diikutkan dalam kompetisi mobil tingkat internasional pada ajang 3rd Chem-E-Car Indonesia Competition 2014 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (11-12/4) dengan bimbingan Ir. Bambang Poerwadi, MS.

Prinsip kerja mobil ini memangfaatkan reaksi antara batu kapur dengan Hcl yang akan menghasilkan reaksi eksotermis. "Panas reaksi ini akan diubah menjadi energi listrik menggunakan susunan bahan semikonduktor tipe-p dan tipe-n yang disusun sedemikian rupa. Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan motor DC dan akan ditransmisikan ke roda mobil", ujar Sidiq.

Chem-E-Car adalah kompetisi untuk menciptakan prototipe mobil berbahan bakar energi alternatif. Kompetisi ini merupakan ke tiga kali diselenggarakan di Indonesia. Sidiq menambahkan, pada kompetisi ini tim FT-UB bersaing dengan 12 tim dari luar dan dalam negeri, antara lain. ITB, ITS, UB, UGM, UI, UNS, UPN, Politeknik Negeri Bandung dan Universiti Teknologi Petronas (Malaysia).

"Pada kompetisi ini UB, UNS dan UPN Jatim adalah pendatang baru. Kami dari FT memulai semuanya dari 0 dengan autodidak. Sistem perlombaan ini adalah semua tim akan ditantang untuk membuat mobil berjalan sejauh 19m dengan diberi beban tambahan 10% dari berat mobil. Jarak 19 meter dan beban 10% ini ditentukan satu jam sebelum Race, jadi kami harus membuat komposisi bahan bakar yang tepat agar mobil dapat berjalan sejauh 19m. Tim FT-UB pada 1st race mencapai jarak 17,26m dan 2nd race mencapai 17,68m", jelasnya.

Dobita Amanda selaku ketua tim mengaku bangga karena mobil EXOTRIC adalah mobil menempati urutan ke tiga yang menempuh jarak yang paling mendekati jarak 19m setelah Universiti Teknologi Petronas dan ITS. "Bahkan kami bisa menglahakan beberapa Universitas Besar lainnya saat Race," ungkapnya. "Ini kompetisi kami yang pertama, meskipun belum mendapatkan juara, tim EXOTRIC akan terus berupaya memperbaiki mobil kami", pungkasnya.(prasetya.ub.ac.id/ humasristek)

  ★ ristek

Posted in: Energi,Inovasi,Unibraw

Mahasiswa FT-UB Ciptakan Prototipe Mobil Berbahan Bakar Batu Kapur

image Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya kembali berinovasi. Setelah mobil listrik, kali ini mahasiswa FT berhasil membuat prototipe mobil dengan bahan bakar batu kapur.

Mobil berbahan bakar batu kapur ini dibuat oleh Dobita A Feliciana, Rizka Dwi Octaria, Dwi C Pujayanti, Afida Khofsoh, mahasiswa Teknik Kimia angkatan 2011 dan Sidiq Darmawan dari Teknik Mesin angakatan 2011, Universitas Brawijaya. Prototipe mobil yang diberi nama EXOTRIC ini telah diikutkan dalam kompetisi mobil tingkat internasional pada ajang 3rd Chem-E-Car Indonesia Competition 2014 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (11-12/4) dengan bimbingan Ir. Bambang Poerwadi, MS.

Prinsip kerja mobil ini memangfaatkan reaksi antara batu kapur dengan Hcl yang akan menghasilkan reaksi eksotermis. "Panas reaksi ini akan diubah menjadi energi listrik menggunakan susunan bahan semikonduktor tipe-p dan tipe-n yang disusun sedemikian rupa. Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan motor DC dan akan ditransmisikan ke roda mobil", ujar Sidiq.

Chem-E-Car adalah kompetisi untuk menciptakan prototipe mobil berbahan bakar energi alternatif. Kompetisi ini merupakan ke tiga kali diselenggarakan di Indonesia. Sidiq menambahkan, pada kompetisi ini tim FT-UB bersaing dengan 12 tim dari luar dan dalam negeri, antara lain. ITB, ITS, UB, UGM, UI, UNS, UPN, Politeknik Negeri Bandung dan Universiti Teknologi Petronas (Malaysia).

"Pada kompetisi ini UB, UNS dan UPN Jatim adalah pendatang baru. Kami dari FT memulai semuanya dari 0 dengan autodidak. Sistem perlombaan ini adalah semua tim akan ditantang untuk membuat mobil berjalan sejauh 19m dengan diberi beban tambahan 10% dari berat mobil. Jarak 19 meter dan beban 10% ini ditentukan satu jam sebelum Race, jadi kami harus membuat komposisi bahan bakar yang tepat agar mobil dapat berjalan sejauh 19m. Tim FT-UB pada 1st race mencapai jarak 17,26m dan 2nd race mencapai 17,68m", jelasnya.

Dobita Amanda selaku ketua tim mengaku bangga karena mobil EXOTRIC adalah mobil menempati urutan ke tiga yang menempuh jarak yang paling mendekati jarak 19m setelah Universiti Teknologi Petronas dan ITS. "Bahkan kami bisa menglahakan beberapa Universitas Besar lainnya saat Race," ungkapnya. "Ini kompetisi kami yang pertama, meskipun belum mendapatkan juara, tim EXOTRIC akan terus berupaya memperbaiki mobil kami", pungkasnya. (prasetya.ub.ac.id/ humasristek)

  ♞ Ristek

Posted in: Artikel,Energi,Ilmu Pengetahuan,Unibraw

★ Mahasiswa Brawijaya buat alat pengubah air keran jadi listrik

Inovasi Mahasiswa UB Malang http://dmc.kemhan.go.id/images/uploads/989822kapal-angkut-tank-3.jpg Tiga mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya mengembangkan prototipe teknologi alternatif untuk mengubah air keran menjadi energi listrik untuk keperluan rumah tangga.

Muhammad Fatahila, Hasan, dan Rosihan Arby Harahap membuat alat bernama OASE yang bisa mengubah air keran menjadi energi listrik.

"Alat ini bisa menghasilkan tegangan dan daya listrik optimal di angka 5 Volt dan 1 Watt, sehingga dapat digunakan untuk memasok kebutuhan listrik lampu LED atau diintegrasikan dengan pembangkit lain melalui sistem grid," kata Muhammad Fatahila di Malang, Rabu.

Perangkat pembangkit listrik mini OASE, menurut dia, juga bisa untuk lampu neon tetapi masih butuh inverter dan prosesnya lebih lama.

Yang bisa dipasok energi lisatriknya neon jenis LED karena lebih terang dan berdaya rendah, kata dia.

Dia menjelaskan bahwa perangkat yang dibuat dalam waktu dua pekan itu bisa disambungkan dengan penyimpan berupa baterai polimer atau aki. Selain untuk menyimpan, baterai atau aki juga berfungsi untuk menjaga tegangan dan arus keluaran tetap stabil.

Pada pengembangan selanjutnya, perangkat itu akan dilengkapi dengan kontroler. Jika sudah disempurnakan, OASE bisa dipadukan dengan produk keran untuk menghasilkan energi rumah tangga.

"Biaya produksi alat ini sangat murah, hanya Rp 120 ribu," katanya tentang alat yang masuk peringkat tiga teratas di National Innovative Product Exhibition Contest (NAPEC) 2015 itu.

  ♞ Antara

Posted in: Energi,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Inovasi,Unibraw