Loading Website
Tampilkan postingan dengan label LEN. Tampilkan semua postingan

Mandiri dengan R-Han 122

 ☮ Roket Pertahanan

Memiliki wilayah luas dengan belasan ribu pulau yang terpencar, Indonesia mengembangkan sistem pertahanan yang strategis untuk mengamankannya. Salah satu sarananya adalah roket. Kemandirian di bidang peroketan mulai dibangun dengan merintis pembuatan roket pertahanan R-Han 122.

Rancang bangun dan rekayasa roket pertahanan merupakan upaya Indonesia membangun kemandirian dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan. Rintisan dimulai lewat prototipe roket pertahanan sistem balistik berdiameter 122 milimeter disebut R-Han 122.

Roket pertahanan ini merupakan derivasi roket eksperimen rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), D230 tipe Rx 1210.

Roket eksperimen (Rx) dikembangkan untuk misi nonmiliter, seperti pemantauan cuaca, pemantauan pelayaran, pertanian, bencana, dan observasi untuk perencanaan tata ruang. Roket dimuati radio, kamera, dan sensor. Adapun roket untuk pertahanan (R-Han) dipasang bahan peledak, demikian paparan Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bidang Hankam.

Sebagai sarana yang dapat digunakan untuk tujuan militer, penguasaan teknologi peroketan tak mudah. Penyebarannya dipagari dengan beberapa aturan, antara lain, missile technology control regime dan center for information on security trade control.

Saat ini teknologi hankam tersebut hanya dimiliki negara tertentu. Di Asia negara yang tergolong maju dalam teknologi ini antara lain China, India, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Kemampuan rekayasa dan rancang bangun peroketan sampai batas tertentu dimiliki oleh BPPT, Balitbang Kemhan, dan PT LEN Industri. Dengan kemampuan masing-masing lembaga, kata Gunawan Wibisono, Asisten Deputi Menristek Bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis, terbentuk Konsorsium Roket Nasional tahun 2007.

Konsorsium terdiri dari Kementerian Ristek, Kementerian Pertahanan, TNI AL, lembaga riset (BPPT dan Lapan), perguruan tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dan Undip), serta industri strategis PT DI, Krakatau Steel, LEN Industri, Pindad, dan Perum Dahana. Konsorsium inti terdiri atas beberapa plasma yang menangani riset material, mekatronika, dan sistem kontrol atau kendali.

Kementerian Ristek menyediakan dana insentif untuk pembuatan prototipe roket. PT DI melaksanakan pengembangan struktur dan desain roket. PT Krakatau Steel menyediakan material untuk tabung dan struktur roket. Bahan bakar roket, yakni propelan, disediakan PT Dahana.

Bagian PT DI adalah membangun sarana peluncur roket dan sistem penembaknya dengan laras sebanyak 16. Kendaraan yang digunakan sebagai anjungan untuk peluncuran adalah jip GAZ buatan Rusia, Nissan Jepang, dan Perkasa buatan Tata, India.

 ☮ Muatan teknologi

Meski bentuk roket sederhana, tabung bermoncong lancip, pembuatannya tidak sederhana. Di dalamnya termuat berbagai komponen berteknologi mutakhir, seperti material maju, mekatronika, dan propulsi.

Dibandingkan roket generasi lama, R-Han 122 mengalami beberapa pengembangan desain dan material. Pada roket eksperimen menggunakan baja. Pada R-Han digunakan aluminium dan karbon yang dua kali lebih ringan. Bahan itu lebih tahan panas. Untuk menjaga kestabilan dan daya jangkau yang tinggi, material yang digunakan harus tahan terhadap suhu 3.000 derajat celsius, kata Ketua Program Penggabungan Roket Nasional Sutrisno.

Pengembangan lain pada konstruksi roket, pada versi terdahulu, roket menggunakan sirip tetap. Untuk meluncurkan, roket harus ditumpangkan pada peluncur dilengkapi rel. Pada roket generasi baru dipasang sirip lipat yang dilengkapi pegas yang akan menegakkan sirip secara otomatis setelah keluar dari tabung peluncur.

Pada roket terdahulu, tabung propelan diisi langsung dan terikat permanen di tabung roket. Kini tabung propelan dibuat terpisah dan diberi lapisan isolasi termal. Saat ini bahan propelan masih diimpor. Untuk membangun kemandirian, pabrik propelan akan dibangun PT Dahana.

Untuk wahana peluncur, dilakukan modifikasi kendaraan jip berbobot 2,5 ton dan truk berkapasitas 5 ton. Dirancang pula bangun unit peluncur yang memuat 16 roket dan mampu meluncurkan secara otomatis sejumlah roket tersebut dengan hanya menekan satu tombol.

 ☮ Uji peluncuran

Adi Indra Hermanu, Kepala Subbidang Analis Teknologi Hankam Kementerian Ristek, menyatakan, uji coba peluncuran roket R-Han 122 dilaksanakan akhir Maret di Baturaja, Sumatera Selatan. Sebanyak 50 roket diluncurkan di hutan lindung itu. ”Roket R-Han 122 yang diluncurkan rata-rata mampu melesat dengan kecepatan 1,8 mach atau 2.205 km per jam,” ujarnya.

Pada tahap peluncuran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berperan mengoperasikan sistem radar untuk memantau posisi jatuh roket. ITB memasang sistem kamera nirkabel untuk merekam gambar saat roket meluncur sampai di lokasi sasaran.

Dalam penggunaannya, R-Han 122 pada tahap awal akan menjadi senjata dengan sasaran target di darat yang berjarak tembak 15 km. Roket ini akan digunakan TNI AL untuk pengamanan pantai.

Menurut Sonny S Ibrahim, Asisten Direktur Utama PTDI, tahun ini tahap pengembangan teknis selesai. Persiapan industrialisasi saat ini sudah 80 persen.

(Kompas, 31 Mei 2012/ humasristek)

Posted in: Alutsista,BPPT,DI,LAPAN,LEN,PINDAD,Roket

TNI AL Kembangkan Rekayasa Elektronik Pertahanan

CMS PT LEN
Jakarta, InfoPublik - TNI Angkatan Laut dan PT LEN, menandatangani piagam kesepakatan kerja sama saling menguntungkan, untuk mengembangkan kemampuan di bidang penelitian dan pembuatan rekayasa elektronik pertahanan di lingkungan TNI AL.

Penandatanganan dilakukan di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (19/6). Sebagai pihak pertama, PT LEN Industri (Persero) diwakili oleh Wahyuddin Bagenda selaku Direktur Utama, sedangkan TNI AL sebagai pihak kedua diwakili oleh Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Laut (Asrena Kasal) Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E.

Asrena Kasal, mengatakan kerja sama antara kedua instansi tersebut antara lain melingkupi, kerja sama dalam bidang penelitian, pengembangan Combat Management System, alat komunikasi militer, alat instruksi atau penolong instruksi, serta peperangan elektronika. Selain itu dalam bidang peningkatan kemampuan sumber daya manusia di bidang rekayasa elektronika pertahanan juga menjadi hal pokok pada kerja sama tersebut.

Kerja sama ini merupakan upaya untuk mensinergikan sumber daya yang dimiliki TNI AL dengan PT LEN Industri (Persero), sekaligus dalam rangka mendayagunakan kemampuan industri dalam negeri guna mendukung kemandirian pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI AL dan penguasaan teknologi elektronika pertahanan, ujarnya.

Mengenai waktunya, kerja sama ini kata dia, dipastikan akan berjalan hingga lima tahun kedepan terhitung sejak 19 Juni 2012.

Kami optimis realisasi kerja sama ini dapat mensejajarkan industri pertahanan dalam negeri dengan industri pertahanan di dunia internasional, dan menumbuhkan kemandirian Indonesia akan pemenuhan kebutuhan Alutsista.

“Saya harap seluruh pihak akan segera menindaklanjuti kesepakatan ini dengan penuh rasa tanggung jawab, sesuai dengan peran, fungsi, dan tugas masing-masing,” kata Ade Supandi. Sementara Dirut PT LEN Industri Wahyuddin Bagenda, berharap, kerja sama ini dapat terlaksana dengan baik, dan implementasinya di lapangan dapat diwujudkan secara nyata.(rm)(bipnewsroom)

Posted in: BUMNIS,LEN,TNI AL

#Tag : BUMNIS LEN TNI AL

Len Jajaki Potensi Kerjasama dengan Perusahaan Pertahanan Turki

Bandung (29/05/2012) - Len menerima kunjungan dari dua perusahaan Turki yang bergerak dalam bidang pertahanan, yaitu Aselsan dan Havelsan. Kunjungan diterima oleh Direktur Teknologi & Produksi Darman Mappangara, Direktur Pemasaran Abraham Mose, GM UB Sistem Kendali & Pertahanan Nurman Setiawan dan Tim Len lainnya, pada tanggal 29 Mei 2012 bertempat di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Karya Utama.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk menjajaki potensi kerjasama dalam bidang pertahanan dalam rangka peningkatan alutsista RI. Aselsan adalah perusahaan elektronik pertahanan, sedangkan Havelsan merupakan perusahaan  yayasan  angkatan bersenjata Turki (Armed Forces Foundation Company).

Seperti yang telah kita ketahui, Turki memiliki hubungan politik yang semakin baik dengan RI, dan hubungan kerjasama industri antara kedua negara terus meningkat. Kedua negara telah memutuskan untuk meningkatkan kerjasama pertahanan, ketika Presiden Abdullah Gul mengunjungi Indonesia pada bulan April yang disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika kedua negara tersebut menandatangani kerjasama industri pertahanan.(LEN)

Posted in: Kerjasama,LEN

#Tag : Kerjasama LEN

PT Len siap bangun sinyal monorail Jakarta

PT Len Industri, yang berpusat di Bandung, menyatakan kesiapannya membangun persinyalan monorail Jakarta. Perseroan akan berkolaborasi bersama PT Telkom dan PT Inka.

Direktur Utama Len Industri Abraham Mose mengungkapkan kompetensi perseroan sudah teruji dalam bidang persinyalan. Saat ini pihaknya memiliki anak perusahaan khusus transportasi, yakni PT Len Railway Systems, yang juga fokus pada pembangunan mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), serta monorail.

"Kami diajak dan berkomunikasi untuk coba lakukan evaluasi desain dan pengembangan sistem persinyalan monorail," katanya seperti dilansir kantor berita antara, di Jakarta, Senin (29/10).

Dia menegaskan anak usaha perseroan telah berpengalaman menangani proyek engineering, procurement, and construction (EPC). Dalam proyek monorail, porsi persinyalan yang akan dikerjakan perseroan mencapai 20 persen, sedangkan populsi (PT Inka) 25 persen, sipil dan telekomunikasi 60 persen.

"Artinya, porsi tersebut sama dengan dana yang akan dikeluarkan oleh perseroan. Begitu juga dengan BUMN yang lain," katanya.

PT Len mengaku tidak mempermasalahkan porsi minoritas dalam proyek sinyal monorail Jakarta. Perseroan masih berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta BUMD dapat berpartisipasi dalam proyek monorail tersebut agar biaya yang dibebankan kepada setiap perusahaan lebih terjangkau.

Pemerintah DKI, bisa memberikan lahan untuk merealisasikan proyek itu. Sehingga harga tiket bisa Rp 12 ribu. "Kalau Pemprov DKI dan BUMD ikut share, justru lebih bagus karena kami pasti kembali lagi ke cash flow," ujarnya.(mdk/arr)

© Merdeka

Posted in: LEN,Transportasi

#Tag : LEN Transportasi

PT LEN Siap Garap Alat Kontrol & Persinyalan MRT Jakarta

Jakarta - PT Lembaga Elektronika Nasional Industri (PT LEN Industri) mengaku akan masuk ke dalam proyek pengembangan MRT Jakarta. BUMN teknologi ini, akan masuk ke sistem komputerisasi untuk pengontrolan dan persinyalan MRT Jakarta.

Langkah ini, didorong oleh kemampuan dan penguasaan teknologi yang dimiliki LEN selama ini.

"Kita punya kemampuan computer based control train. Itu kotrol perjalanan keret secara computerize," tutur Direktur Utama PT LEN Industri Abraham Mose pada acara diskusi Kembangkitan BUMN di Hotel Sahid Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Untuk rencana ini, LEN akan bertindak sebagai sub kotraktor dari pemenang tender proyek MRT Jakarta. LEN juga telah menjajaki kerjasama dengan perusahaan asal Jepang yang terlibat dalam pengembangan MRT Jakarta.

"Kita nggak masuk dari main contractor. Kalau sedang bicara dengan perusahaan Jepang," tambahnya.

Selain MRT Jakarta, LEN telah meluncurkan prototype sistem pengawasan dan pengaturan lalu lintas monorel Jabodetabek secara komputerisasi. Sistem ini, serupa dengan MRT Jakarta.

"Kita kerjakan, computer based. Jadi on board yang mengatur dan mengontrol perjalan kereta monorel secara otomatis. Di rel akan semacam RFID, sinyal dikirim yang ada di kereta. Kereta akan terpantau di ruang monitor. Di kereta nangkep sinyalnya. Posisi disampaikan, di posisi sekian. Sampai pintu kereta terbuka otomatis," tegasnya.(feb/hen)

  ● detikFinance

Posted in: LEN,Transportasi

#Tag : LEN Transportasi

PT LEN Mampu Produksi Radar Canggih untuk Kapal Perang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3BHd-Fnz2dGns_kqQDh4nX0u31sd4r9SBr8HEHOA8WkS5wKE_lu1O8MlxWD-xHE-ao4tuwbWBuyhyphenhyphenRKVXZYtiHxgxVgQ0H5lDdA-GwogSgIRgSr85l4kAODqGDxgdRtxR1TpXVZGszfk/s1600/CMS.JPG Jakarta - PT LEN Industri (Persero) memiliki kemampuan mengembangan sistem keamanan canggih untuk militer. BUMN teknologi ini telah memproduksi peralatan radar untuk kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL).

Peralatan radar ini, mampu menangkap kapal musuh hingga kemudian kapal berhasil dihancurkan.

"Kita membuat, Combat Management System (CMS) untuk sistem mengatur bagaimana radar menangkap, me-lock target sampai menembak target. Berapa banyak musuh yang mengancam, itu terekam. Kita sudah bangun," tutur Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Abraham Mose dalam diskusi kebangkitan BUMN, di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Abraham menambahkan, peralatan radar yang dibuat di Bandung tersebut, telah dikembangkan sejak 2011. Alat ini, bisa dipasang pada kapal perang berjenis Van Spijk dan Parchim class

"Sudah ditahun 2011 mulainya 2012, kemudian 2013. Kapal Van Spijk dan Parchim class, itu KRI," jelasnya.(feb/hen)

  ● detikFinance

Posted in: KRI TNI-AL,LEN,Radar

Indonesia-Turki Kerjasama bikin Alat Komunikasi.

Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Turki telah menandatangani nota kesepahaman mengenai pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista) berupa tank ringan atau tank medium.

Penandatangan kerja sama itu dilakukan di sela kegiatan Internasional Defense Industri Fair (IDEF) ke-11 di Istanbul, Turki, awal Mei lalu, kata Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Pos Hutabarat, yang mempin Delegasi Indonesia menghadiri kegiatan itu.

Kementerian Pertahanan, lanjut dia, juga menjalin kerja sama dalam pembuatan alat komunikasi.

Menurut dia, kerja sama pembuatan tank dan alat komunikasi itu melibatkan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Pindad dan PT LEN.

Ia menambahkan, dalam hal ini mitra PT LEN dari Turki adalah ASELSAN, perusahaan yang sudah memiliki pengalaman memproduksi  peralatan pertahanan dan keamanan.

Asisten Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama, Silmy Karim, menambahkan kerjasama itu merupakan bagian dari upaya mempercepat kemandirian produksi alutsista.

"Lebih dari itu pihak Turki siap untuk bekerjasama dari awal proses yaitu desain, sampai dengan akhir yaitu produksi. Bahkan tidak menutup kemungkinan pemasaran bersama," katanya.

Dalam pembuatan tank tersebut, kata Silmy, PT Pindad akan bekerja sama dengan pihak Turki yang diwakili oleh FNSS Defense System.

"Keduanya melakukan kerja sama untuk membuat tank. Waktu kerja sama diperkirakan tiga hingga lima tahun. Tahun ini diusahakan grand design tank selesai, sehingga tahun depan bisa dibuat prototipenya," katanya.

  ● Antara

Posted in: Kendaraan Militer,Kerjasama,LEN,PINDAD

Kerjasama Pertahanan, Mulai dari Kapal Selam hingga Rudal

Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) memastikan kerjasama alutsista dengan sejumlah negara terus berlanjut, termasuk dengan Korea Selatan, China serta Turki. Dalam jumpa pers di gedung Kemhan Rabu (15/05) siang, KKIP menjelaskan panjang lebar sejumlah kerjasama yang tengah dan akan berlangsung.

Baru-baru ini terjadi polemik tentang pengadaan Kapal Selam dari Korea Selatan. Untuk menjawabnya Kementrian Pertahanan menyatakan, akan mengamandemen kontrak dengan pihak DSME Korea Selatan. Salah satu amandemen adalah jika sebelumnya kapal selam ke-3 dirakit di PT. PAL, maka pada perubahan ini kapal selam tersebut sepenuhnya dibuat total di Surabaya. Sehingga mulai dari modul, bagian-perbagian hingga perakitan sepenuhnya dilakukan PT. PAL.

Lebih lanjut, ARC juga mendapat penjelasan, Kementrian BUMN sudah mengajukan dana sebesar US$ 150 Juta untuk menambah fasilitas di PT. PAL. Pasalnya fasilitas produksi yang ada tidak dirancang untuk membangun kapal selam, tetapi kapal permukaan saja. DSME sendiri dikabarkan setuju dengan amandemen kontrak, dengan syarat Kementrian Pertahanan menjamin PT. PAL mampu melaksanakannya.

Khusus dengan Turki, Kementrian Pertahanan baru saja memastikan akan melakukan kerjasama pembuatan Tank. Selain Tank, masih ada kerjasama lainnya. Yaitu antara PT. LEN dan Aselsan. Sesuai bidangnya, kerjasama dengan Aselsan adalah pada pengadaan alat komunikasi untuk di perbatasan. Prosesnya sendiri sudah dimulai dan sudah masuk tahapan kontrak. Namun tidak dijelaskan alat komunikasi yang dimaksud, yang pasti alat komunikasi yang dibutuhkan adalah yang canggih sehingga anti jamming dan tak bisa diintersept.

Sementara dengan China, Kementrian Pertahanan juga terus melanjutkan kerjasama pembuatan rudal C-705. Saat ini prosesnya sudah masuk tahap feasiblity studies yang dilakukan oleh Kementrian Ristek. Dalam catatan ARC, rudal C-705 ini nantinya akan mempersenjatai kapal perang cepat jenis KCR-40 dan KCR-60 yang jumlah diperkirakan cukup banyak.

  ● ARC

Posted in: Alutsista,Kapal Selam,Kerjasama,LEN,PAL,PINDAD,Rudal

PT LEN, Industri Pertahanan RI yang Kurang Dikenal (1)

http://1.bp.blogspot.com/-2Rz5whDCaqY/UXNyfjCffxI/AAAAAAAAAYM/pbNioeG62tI/s1600/compact_len_industri-logo.jpg 65 tahun Indonesia merdeka, tentunya bangsa ini sudah melewati berbagai pengalaman, termasuk dalam mengembangkan industri pertahanan, untuk memenuhi kebutuhan akan peralatan militer bagi TNI.

Jika sebelumnya perang selalu diartikan dengan mengangkat senjata konvensional yang membutuhkan peralatan seperti senapan serbu dan alat angkut personel, seperti pesawat dan panser. Kini perang telah berkembang menjadi sebuah perang yang tidak hanya membutuhkan senjata, melainkan perang elektronik.

Indonesia sebagai negara yang pernah di jajah Belanda sebenarnya beruntung, karena mampu membangun industri strategisnya dari sisa-sisa penjajahan. Bahkan dari sisa-sia peninggalan tersebut, kini Indonesia sudah mampu mengembangkan industri pertahanan sampai ke bidang elektronik yang diserahkan kepada PT. LEN Industri (Persero).

Tetapi walau sudah berumur cukup lama, entah mengapa nama BUMN Strategis satu ini seakan tenggelam, jika dibandingkan dengan PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) dan PT. Pindad (Pindad).

Kepada INTELIJEN, pengamat pertahanan dari Universitas Padjajaran, Muradi, mengatakan, secara prinsip sebenarnya LEN bukan menjadi lembaga yang dapat menerjemahkan tantangan zaman, karena situasi di lembaga itu sudah menjadi beban, seperti PT. Dirgantara Indonesia dan lainnya.

Karena situasi di dalam lembaga tersebut juga bukan situasi yang secara normal bisa diharapkan. Apalagi political willnya tidak memberikan kenyamanan bagi pelaku industri pertahanan. Oleh sebab itu, banyak sumber daya manusia menyeberang ke luar negeri.

Sejarah

PT. LEN Industri (Persero), didirikan sejak 1965 dengan nama Lembaga Elektronik Nasional yang kemudian disingkat menjadi LEN. Seiring dengan berjalannya waktu, LEN kemudian bertransformasi menjadi sebuah BUMN pada 1991.

Sejak berubah menjadi BUMN, LEN tidak lagi menjadi kepanjangan dari Lembaga Elektronik Nasional, tetapi telah menjadi entitas bisnis profesional dengan nama PT. LEN Industri yang berada di bawah koordinasi Kementerian Negara BUMN.

Dengan visi menjadi perusahaan elektronika kelas dunia, dan misi meningkatkan kesejahteraan stakeholder melalui inovasi produk elektronika industri dan prasarana. LEN telah mengembangkan bisnis dan berbagai produk dalam bidang elektronika, untuk industri dan prasarana serta telah menunjukan pengalamannya.

Khusus di bidang industri pertahanan, LEN adalah pemain utama dalam industri pengembangan dan aplikasi peralatan elektronika untuk pertahanan di Indonesia saat ini.

BUMNIS ini telah berhasil mengembangkan berbagai peralatan seperti Manpack FH Tranceiver dan Manpack VHF Tranceiver, sebuah peralatan komunikasi radio portable untuk tentara, agar dapat berkomunikasi satu dengan lainnya di medan tempur.

Combat Management System (CMS), yang digunakan kapal TNI Angkatan Laut untuk mengetahui posisi sasaran dengan tepat. CMS didukung oleh pralatan navigasi dan peralatan perang lainnya.

Alkom HF LRT-08H, sebuah alat komunikasi radio portabel untuk tentara, agar dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Menurut informasi yang beredar, Alkom HF LRT-08H ini tidak mudah di kacaukan jaringannya oleh pihak lawan.

Lalu yang terakhir adalah Transpoder TPO TLM-01, sebuah target bergerak bawah air yang digunakan dalam suatu latihan peperangan anti kapal selam.

Selain itu, LEN juga mampu memberikan solusai terhadap kebutuhan pertahanan di Indonesia dengan biaya yang dapat menghemat devisa negara. Hal itu dapat dilakukan karena LEN memiliki tenaga ahli dalam neger untuk pemeliharaan selama masa pengoperasian.

Salah Kebijakan

Jika melihat sejarahnya, LEN telah memiliki banyak pengalaman dalam mengembangkan berbagai peralatan elektronik pertahanan, dan menjadi pemain utama di bidangnya. Tetapi faktanya LEN seakan-akan tersingkir dari kancah industri pertahanan nasional, tenggelam di balik kebesaran nama PT. DI dan Pindad.

Kepada INTELIJEN, Muradi mengatakan, Indonesia tidak memiliki kebijakan yang mendukung. Dahulu harapan itu diserahkan kepada B.J. Habibie, tetapi ahli teknologi pesawat itu datang diwaktu yang salah. Jka dia dalam waktu yang benar, maka Indonesia tidak akan seperti ini. Karena tidak ada presiden pasca Habibie yang memiliki kebijakan untuk membangun industri pertahanan.

Di sisi lain, adanya ketersediaan anggaran. Bicara industri strategis maka akan bicara dana yang tidak terbatas. Ini tidak disanggupi oleh pemerintah.  Ketiga, SDMnya itu harus dirawat, karena frustasi maka banyak SDM yang keluar.

Dari ketiga hal ini, sebagus apapun tanpa ada kebijakan yang berpihak, tanpa ada anggaran dan SDM, maka Indonesia tidak akan menjadi apapun, jauh dari harapan yang dibayangkan.

Dalam konteks kebijakan pertahanan, masih sangat konvensional melihatnya, ancamannya pun masih bersifat konvensional. Sementara dalam buku pertahanan, tertulis akan ada perang non konvensional. Tetapi secara praktek, semua itu tidak dilakukan dalam bentuk konkrit.

Secara kebijakan, Indonesia masih disibukan dengan hal-hal yang bersifat konvensional, artinya masyarakat masih melihat hal yang nyata, itulah yang diterjemahkan oleh pemerintah.

Menurut Muradi, SBY masih disibukan dengan masalah pencitraan. Mungkin niat baik ada, tetapi belum sampai pada tahapan untuk memulai kembali pembangunan industri strategis, baru sebatas omongan saja.

  ● Intelijen

Posted in: Artikel,LEN

#Tag : Artikel LEN

PT LEN, Gali Potensi di Bidang Komersial (2)

Perubahan taktik peperangan dari perang konvensional menggunakan senjata api, menjadi perang non-konvensional yang mengutamakan perangkat elekronik canggih tidak dapat dihindari. Taktik perangnya pun berubah, tidak lagi harus saling berhadap-hadapan secara langsung dengan musuh, melainkan cukup dengan penginderaan jarak jauh dan mengirimkan pesan singkat kepada markas, apakah ancaman akan ditindaklanjuti atau tidak.

Untuk itulah peralatan elektronik seperti radar dan alat komunikasi menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi keberadaannya, di setiap instansi militer dalam menjalankan operasi militernya. Menurut Direktur Eksekutif Institute of Defense, Securities and Peace Studies (IDSPS), Mufti Makarim, kebutuhan elektronik di kalangan militer mencapai 60 hingga 70 persen dari total perangkat persenjataan. Persenjataan konvensional, baru akan digunakan pada lapisan ketiga atau keempat.

TNI sebagai garda terdepan ketika terdapat ancaman yang membahayakan negara, tentunya memerlukan berbagai peralatan elektronik, baik itu berupa radar atau pun peralatan komunikasi yang mumpuni. Sehingga TNI siap menghadapi peperangan non-konvensional.

LEN sebagai salah satu BUMN Strategis yang berkecimpung dalam industri pertahanan dalam negeri Indonesia, tentunya memiliki peran penting. Sebagai perusahaan negara yang memiliki kemampuan membuat peralatan militer, khususnya peralatan elekronik, LEN terus berupaya mengembangkan serta menciptakan teknologi yang dapat digunakan oleh TNI dalam menghadapi perang non konvensional.

Namun entah mengapa nama LEN tidak juga beranjak ke permukaan. Padahal jika sesuai dengan rencana SBY mengenai program revitalisasi industri pertahanan dalam negeri, LEN seharusnya menjadi bagian dari program tersebut, dan mulai menerima pesanan berupa alat komunikasi militer untuk personel TNI.

Paradigma Konvensional

Kurang terdengarnya nama LEN di kancah industri pertahanan dalam negeri, tidak dapat disalahkan sepenuhnya kepada BUMNIS ini seluruhnya. Karena perubahan paradigma mengenai peperangan di benak orang Indonesia belum beranjak sepenuhnya dari konsep perang konvensional.

Jika melihat tiga BUMNIS seperti PT. PAL, Pindad dan PT. DI, rata-rata orientasinya lebih kepada pengadaan persenjataan yang bersifat lethal atau mematikan. Maka tidak heran untuk pengembangan elektronik di bidang militer sendiri masih jauh tertinggal.

Padahal jika melihat konteks perang modern, justru mengandalkan segala aspek yang berbau teknologi, mulai dari pengintaian lewat radar, saluran komunikasi juga pemanfaatan teknologi-teknologi untuk mendukung operasi militer di lapangan, yang sifatnya non senjata tetapi memberikan kontribusi signifikan. Disinilah keahlian LEN dibutuhkan.

Selain masih kuatnya paradigma konvensional tentang perang, hal lain yang memperparah adalah adanya pemikiran cupet di kalangan petinggi negeri ini. Banyak yang masih beranggapan bahwa produk dalam negeri selalu terkendala masalah kualitas, harga dan lain sebagainya.

Padahal pengalaman di luar negeri, seperti Siemen, justru menyokong teknologi komunikasi militer Jerman. Hal itu terjadi karena pemerintahnya memberikan dukungan, untuk melakukan berbagai riset, sehingga kualitasnya terus mengalami kemajuan serta ada kepastian bahwa produk dalam negeri akan dibeli pemerintah.

Di Indonesia sendiri, untuk melakukan riset sangat sulit, karena jika tidak ada yang membeli, maka pelaku industri pertahanan akan rugi. Karena riset memerlukan dana besar dan memerlukan jaminan bahwa nantinya investasi dari riset itu bisa diukur, dalam jangka waktu berapa lama akan kembali.

Komersil

Seperti kebanyakan pelaku industri pertahanan dalam negeri, nasib serupa juga menimpa LEN. BUMN Strategis asal Bandung ini mengalihkan sektor produksi ke arah produk sipil bukanlah hal yang aneh. Karena untuk terus hidup, LEN harus mencari penghasilan untuk menutup biaya riset dan produksinya.

Mufti Makarim menuturkan, bahwa dahulu industri pertahanan juga pernah diarahkan untuk tidak hanya berorientasi pada produk pertahanan. Tetapi juga memenuhi kebutuhan teknologi di sektor lain, misalnya teknologi pemindaian yang bisa jauh lebih komersil, sehingga tidak membuat pelaku industri ini tidak melulu bergantung kepada pemerintah.

Hal inilah yang kemudian menjadi acuan berbagai BUMNIS seperti PT. DI yang pernah membuat lapisan anti lengket untuk panci, dan kendaraan yang bisa digunakan di gang sempit, gangcar. Semuanya dilakukan demi untuk bertahan hidup.

Walau tidak seekstrim PT. DI yang keluar dari core perusahaan pembuat pesawat terbang. LEN juga mengalami hal yang sama, hanya saja tetap di bidang elektronik, khususnya telekomunikasi.

Di tahun 2009, BUMN Strategis ini yang sudah membuat lima peralatan militer ini mendapatkan kontrak senilai Rp 700 miliar dalam program pengerjaan perangkat lokal untuk WiMax. Sehingga LEN berani menargetkan mendapatkan pendapatan sebesar 800 miliar hingga 900 miliar rupiah, dengan laba sekitar 80 miliar rupiah.

LEN juga pernah diminta SBY untuk mengembangkan kapasitas solar energy yang dimiliki perusahaan yang telah berumur 45 tahun pada 2010 ini.

Walau sibuk dengan kontrak yang diperoleh dari kalangan sipil, LEN tetap tidak lupa perannya sebagai BUMN Strategis penghasil peralatan militer. Ditahun 2009 juga, LEN mendapatkan penghargaan Anugerah Rintisan Teknologi Industri 2009, atas teknologi Manpack Alkom FISCOR-100.

Ditahun yang sama, LEN juga mulai melakukan pemasangan Sensor Weapon and Control (SEWACO) atau Combat Management System (CMS), di kapal Patroli Cepat milik TNI AL.

Program ini adalah tindak lanjut dari kerjasama Kemristek dengan PT. LEN Industri (Persero) semenjak 1998, yang dibuktikan dengan pemasangan sepuluh unit Multi Function Display (MFD) untuk sonar di sepuluh kapal kelas Parchim.

Jika melihat potensi yang ada, seharusnya LEN bisa menjadi pionir dalam hal membuat peralatan elektronik untuk militer. Tinggal menunggu niat baik pemerintah, apakah tetap konsisten menjalankan kebijakannya atau tidak.

  ● Intelijen

Posted in: Artikel,LEN

#Tag : Artikel LEN

PT LEN, Terus Berinovasi Walau "Dikhianati" (3)

Alkom PT LEN (Dok. INTELIJEN) Dalam doktrin perang modern, kemampuan komunikasi suatu pasukan bisa menjadi penentu jalannya peperangan, siapa menjadi pemenang dan siapa menjadi pecundang. Untuk menunjang hal tersebut, maka dibutuhkan sebuah Alat Komunikasi (Alkom) militer yang memadai.

Alkom menjadi unsur yang penting dalam suatu operasi militer (pertahanan). Yakni, sebagai sarana untuk menyampaikan informasi untuk mendukung koordinasi dan sub-ordinasi.

Berbeda dengan Alkom yang biasa digunakan kalangan sipil, Alkom yang digunakan militer harus memiliki beberapa kriteria wajib, seperti memiliki kemampuan anti sadap dan anti jamming yang berguna untuk mengurangi kemungkinan komunikasi terdengar oleh musuh, atau pun menghindar dari frekuensi yang dimiliki musuh.

Atas dasar kebutuhan itulah, LEN sebagai BUMN strategis yang bergerak dibidang alat elektronik pertahanan, mengembangkan sebuah Alkom militer untuk kebutuhan TNI. Alkom ini diberi nama Manpack FISCOR-100, yang sesuai dengan kebutuhan militer di medan perang.

Kepada INTELIJEN, Anggota Dewan Komisi I DPR RI, Roy Suryo mengatakan, LEN sebenarnya memiliki kontribusi yang sangat baik di bidang industri perangkat lunak, misalnya membuat perangkat lunak bagi Alutsita TNI.

Namun disayangkan, Alkom buatan anak bangsa belum dilirik oleh pemerintah. Bahkan Alkom buatan LEN dinilai ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan produk luar.

Padahal produk LEN yang satu ini dikembangkan dengan biaya investasi yang tidak sedikit dan layak digunakan. PT LEN mengembangkan MAnpack dengan memperhatikan persyaratan yang diajukan oleh TNI.

Kepada INTELIJEN mantan Wakil Komisi I DPR RI Periode 2004-2009, Yusron Ihza mengatakan, LEN itu sudah marah kepada pemerintah, sehingga LEN tidak tergantung lagi kepada pesanan dari pemerintah.

Penghargaan

Sebagaimana pengertian alat komunikasi, Alkom Manpack FISCOR-100 adalah peralatan militer berbentuk radio portable untuk tentara. Fungsinya untuk dapat berkomunikasi satu dengan lainnya di medan pertempuran.

Produk buatan BUMNIS asal kota Bandung ini beroperasi pada rentang frekuensi 2 MegaHerzt hingga 30 MegaHerzt dengan 256 channel, yang memerlukan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Alkom ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level peleton hingga batalion.

Teknologi Manpack Alkom FISCOR-100, pada awalnya dikembangkan bersama Pemerintah Australia. Namun di tengah jalan kerjasama itu dialihkan kepada Thales, yang merupakan perusahaan elektronik terbesar di Perancis.

Tetapi kerjasama itu hanya sebatas pada matrikulasi frekuensi radio saja, sebab rogram tersebut belum bisa diimplementasikan di Indonesia, serta tidak menyangkut kerahasiaan data telekomunikasi dari pesawat komunikasi tersebut. Kerahasiaan adalah suatu hal penting bagi Alkom pertahanan, karena dibuat secara rahasia oleh negara, dan  juga untuk menghindari dari tindakan jamming oleh musuh.

Untuk menghindari jamming lawan, LEN mencangkokkan teknologi spread spectrum. Alkom dengan teknologi ini memungkinkan prajurit melakukan komunikasi dimana sinyal yang dikirimkan, akan ditebar ke dalam area frekuensi yang lebar.

Perbedaannya dengan produk sipil, jika pada komunikasi normal, sinyal suara dikirim dengan memodulasi ke dalam frekuensi carrier tertentu. Tetapi dengan teknologi spread spectrum, informasi suara tersebut akan ditebarkan secara acak ke dalam frekuensi carrier yang lebar.

Karena keunikan kemampuan itulah, Manpack Alkom FISCOR-100 mendapatkan penghargaan Rintisan Teknologi Industri 2009. Karena LEN dianggap mampu menciptakan produk dengan kriteria inovatif, kompetitif, memiliki nilai komersial dan mengusung keunikan lokal.

Untuk kemampuan produksi pesawat komunikasi ini, LEN mengklaim mampu memproduksi antara 1.000 hinga 1.500 unit pertahunnya. Jumlah yang cukup banyak untuk perusahaan sekelas LEN.

Janji Pemerintah

Alkom buatan PT LEN dianggap sebagai produk inovatif, kompetitif, memiliki nilai komersial dan mengusung kearifan lokal, yang berarti harganya bisa menjadi lebih murah ketimbang produk sejenis dari luar. Kenytaannya, alat komunikasi ini belum dipesan satu pun oleh TNI. Padahal Kementerian Pertahanan telah menguji coba enam unit Alkom buatan LEN di Mabes TNI.

Nasib sial Alkom buatan anak bangsa ini tidak sampai di situ. Manpack FISCOR-100 pernah kalah tender dari produk Afrika untuk pengadaan Alkom untuk TNI. Padahal jika dibandingkan, Alkom buatan LEN memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Alkom buatan luar negeri tersebut.

Apalagi menurut informasi yang beredar, Alkom buatan asing itu ternyata tidak dilengkapi dengan teknologi anti sadap dan anti jamming yang disyaratkan oleh TNI. Secara fisik alkom buatan luar negeri tersebut juga memiliki dimensi yang lebih besar, sehingga memakan tempat dan tidak praktis dibawa.

Ini memang penyakit lama di Indonesia. Para pengambil keputusan di negeri ini lebih memilih produk luar yang dianggap telah memiliki predikat battle proven, ketimbang memilih produk dalam negeri yang lebih murah tapi memiliki kualitas yang tidak kalah bagus.

Kepada INTELIJEN, Roy Suryo mengatakan, memang harus ada itikad baik dan didukung oleh political will yang benar dari pemerintah. Maka dengan optimisme dan niat baik untuk mengembangkan industri pertahanan, maka kemandirian bisa tercapai.

Mudah-mudahan, dengan adanya program revitalisasi industri pertahanan yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di awal masa kepemimpinannya yang kedua, dapat membawa angin segar bagi LEN.

  ● Intelijen

Posted in: Artikel,LEN

#Tag : Artikel LEN

★ Alkom Fiscor – 100

http://www.bumn.go.id/len/files/2011/10/Alkom_02.jpg Dalam dunia militer, alat komunikasi (Alkom) memiliki nilai penting bagi keberhasilan suatu kegiatan operasi militer. Alat komunikasi dibutuhkan antara lain untuk membantu pasukan yang ada di lapangan berhubungan dengan unit-unit lainnya yang berada di tempat berbeda.

Alat komunikasi yang banyak dipakai pihak militer di dunia sekarang ini adalah yang mudah dibawah ke mana-mana dalam berbagai medan. Saat ini, kebanyakan alat komunikasi untuk kegiatan militer diproduksi oleh perusahaan-perusahaan di luar negeri. Tentunya harga jual yang dipatok juga tergolong mahal.

Namun saat ini, Indonesia juga sudah mampu memproduksi alat komunikasi untuk dunia militer yang tidak kalah kualitasnya dengan produk-produk serupa buatan luar negeri. Adalah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) yang menggalang kerjasama dengan PT Len Industri (Persero) untuk membuat dan mengembangkan alat komunikasi untuk dunia militer. Kerjasama tersebut telah menghasilkan suatu produk alat komunikasi yang diberi nama Alkom Fiscor-100.

Kegiatan produksi Fiscor-100 telah mulai dilaksanakan PT Len Industri sejak Agustus 2010 lalu. Hingga Oktober 2010, sudah 30 unit yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. Ke-30 unit Alkom Fiscor-100 itu telah diserahkan Menristek kepada Kementerian Pertahanan untuk dilakukan ujicoba oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di berbagai medan terhadap alat tersebut.

Menurut Nurman Setiawan, bagian pemasaran PT Len Industri, kegiatan ujicoba itu dilakukan agar user (pengguna) bisa mencoba alat komunikasi tersebut sebelum membeli dan diharapkan adanya masukan-masukan dari user mengenai kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki pada alat itu.

Selain itu, ujicoba di lapangan dengan berbagai medan juga diperuntukkan agar produsen bisa mendapatkan bahan masukan bagi pengembangan alat tersebut di kemudian hari. Kegiatan ujicoba diperkirakan memakan waktu paling cepat tiga bulan dan paling lambat satu tahun.

Miliki Keunggulan

Nurman menjelaskan, Alkom Fiscor-100 merupakan alat komunikasi yang dibuat oleh tenaga-tenaga ahli dari dalam negeri yang berasal dari Kemenristek dan PT Len Industri. Alat ini dibuat dengan mengkombinasikan teknologi yang ada pada alkom buatan Australia dan Prancis sehingga dipastikan Alkom Fiscor-100 lebih maju dari produk kedua negara tersebut.

Kandungan lokal yang dimiliki oleh alat itu kini telah mencapai 85%. Hanya komponen berupa handset, komponen elektronika dan conector yng masih harus diimpor. Menurut Nurman, kegiatan impor terhadap komponen-komponen itu terpaksa dilakukan karena di dalam negeri sendiri belum ada pabrik yang membuat komponen-komponen tersebut.

Karena dibuat oleh tenaga ahli dari dalam negeri, Alkom Fiscor-100 juga memiliki sejumlah keunggulan lainnya jika digunakan oleh pihak TNI. Keunggulannya itu antara lain siitem sekuriti nya bisa didesain oleh tenaga-tenaga lokal sehingga tidak sama dengan sistem yang digunakan di luar negeri. Alat ini juga bisa dicustomisasi sesuai keinginan.

Desain operasional dan maintenance dibuat sederhana sehingga mudah bagi pengguna dan teknisi untuk melakukan kegiatan operasional dan perawatan. Selain itu, di kelas HF, Alkom Fiscor-100 memiliki kecepatan hoping yang sangat tinggi sehingga bisa dipilih kecepatan 5 hope/second, 10 hope/second, 20 hope/second dan 50 hope/second.

Keunggulan lainnya adalah soal harga jual. Menurut perhitungan PT Len Industri, harga jual satu unit Alkom Fiscor-100 berkisar antara Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Harga itu jauh lebih murah jika dibandingkan dengan produk serupa buatan luar negeri yang mencapai Rp 250 juta hingga Rp 500 juta/unit.

Kemampuan Alkom Fiscor-100 untuk menembus pasar yang sangat potensial itu kini bergantung pada hasil ujicoba yang tengah dilakukan pihak TNI di sejumlah medan. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri juga memegang peranan penting bagi pengembangan Alkom Fiscor-100.(Sumber : Majalah Kina, Edisi 01 – 2011, Halaman 38-39)

Spesifikasi:

Technology Base:  Software Based Radio

Security System Base:  ISCOP100 (Integrated Secure Communication Protocol)

Hop Speed:  Programmable  5/10/25/50/Random hop/sec

Frequency Range:  2-30Mhz

Channel Capacity:  100 programmable Channel

Modulation Mode:  J3E (LSB;USB) ; J2A (CW); J2B (AFSK)

Tuning Step:  100Hz

Clarify Step:  10Hz

RF Output Power:  Max 20W PEP

Sensitivity:  -110 dBm for 10 dB S/N

Frequency Stability:  2ppm

Receiver Selectivity:  2.4kHz @-6db; 4kHz @-60dB

RF Connection:  Whip with internal ATU (selecable WHIP : W1.5, W3.0, Wire) & Dipole @50 Ω

Supply Voltage:  12-16.8 VDC

Average battery life:  24 hour

Audio Output:  250mW @8Ohm

Temperature Range:  -10C – 50C

IP Rating:  IP67

Vibration:  Ground Tactical

Immertion:  1 meter of water for 1 hour

Dimension:  250mm (width) x 90mm(deep) x 320mm (high)

Weight:  3.5kg (without battery pack), 5.5kg (with battery pack)

Standard:  MIL-STD-810F shock, vibration, dust & amp; spray

  ● BUMN

Posted in: Artikel,LEN

#Tag : Artikel LEN

PT Len Targetkan Pendapatan Rp 2,6 triliun

JAKARTA - PT Len Industri (Persero) tahun ini optimis dapat meningkatkan pendapatan, serta membangkitkan kemandirian teknologi yang berdaya saing. Di tahun 2012 perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 2,3 triliun dan memperoleh laba bersih sebesar Rp 67 miliar.

"Pencapaian pendapatan tersebut melebihi target yang ditetapkan dalan RKAP tahun 2012 sebesar Rp 1,8 triliun," ujar Direktur Keuangan PT Len Industri Andra Yoga Agussalam di Jakarta, Minggu (30/6).

Atas pencapaian itulah, PT Len memprediksi keberhasilan itu akan terulang kembali di tahun ini. "Kami memprediksi pendapatan akan berlanjut di tahun 2013 dengan target pendapatan sebesar Rp 2,6 triliun," jelasnya.

Sampai bulan Mei lalu, perseroan kata Andra telah berhasil memperoleh kontrak (contract on hand) sebesar Rp 2,25 triliun.

Keberhasilan pendapatan perseroan tahun 2012-2013 ditopang oleh salah satu lini bisnis andalannya, yaitu di bidang Railway Signalling. "Yang sedang melakukan pembangunan paket persinyalan double track lintas utara Pulau Jawa sepanjang lebih dari 400 km dari Stasiun Cirebon sampai Stasiun Pasarturi Surabaya," jelas Andra.

Selain itu, perseroan juga tengah melaksanakan penyelesaian paket persinyalan lainnya untuk lintas Jogja-Solo, Duri-Tangerang dan Parung-Maja.

Dalam bidang renewable energy, dijelaskan Andra bahwa grup perseroan juga telah mendapatkan dan menyelesaikan kontrak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Kementerian ESDM maupun PT PLN (Persero) dengan baik.

Sementara di bidang Defence Electronics ada peningkatan order untuk pekerjaan Alians Alongis, Combat Management System (CSM) dan alat komunikasi (Alkom). Dengan kontrak-kontrak itu, pihaknya yakin dapat meraup pendapatan mencapai target, yakni Rp 2,6 triliun. (chi/jpnn)

  ● JPNN

Posted in: Ekonomi,LEN

#Tag : Ekonomi LEN

Sistem Penghitungan Volume Kendaraan Otomatis

Petugas memantau volume kendaraan menggunakan sistem penghitungan volume kendaraan otomatis atau automatic traffic counting system (ATCS) buatan PT Len Industri (Persero) di Pos Pengamanan Ketupat Lodaya 2013, Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (3/8) dini hari. ATCS menghitung volume kendaraan menggunakan sensor. Menurut data ATCS, volume mobil yang melintas di gerbang tol Cikampek pada Jumat (2/8) mencapai 30,604 unit, sedangkan pada Kamis (1/8) mencapai 16.831 unit. beritasatuphoto/SP-Joanito De Saojoao

  ● Berita Satu

Posted in: Foto,LEN

#Tag : Foto LEN

PT LEN Diminta Buat Sistem Pertahanan Maritim di Kapal Perang RI

http://images.detik.com/content/2014/03/26/1036/kri2.jpg Jakarta ★ Kementrian Pertahanan mengajak PT LEN Industri untuk berkontribusi dalam pembangunan sistem pertahanan maritim dengan Combat Management System (CMS). CMS ini berfungsi untuk mendukung aktivitas pertempuran maupun patroli TNI. Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin saat mengunjungi PT Pindad di Jalan Gatot Subroto Bandung, Rabu (26/3/2014). PT LEN merupakan BUMN yang bergerak di bidang elektronik strategis. "Saya evaluasi peran LEN untuk CMS. Kita ingin beri peran untuk menjadi bagian pembangunan CMS buat kapal perang kita," ujar Sjafrie. Ia menjelaskan, CMS merupakan sistem yang menggabungkan penembakan dengan radar. Sjafrie juga mengatakan saat ini tengah dilakukan pengadaan radar untuk mengisi kerenggangan radar di kawasan Timur Indonesia. "Kalau kawasan Barat sudah oke. Sekarang ini kita masih harus selalu mengkonfigurasikan radar sipil dan militer. Kita inginnya radar militer itu bisa terpenuhi seluruhnya," jelasnya. Untuk pengadaan dalam sistem pertahanan seperti ini, Sjafrie mengatakan, industri pertahanan dalam negeri mendapatkan prioritas. "Tapi tergantung bisa memenuhi spesifikasinya tidak oleh industri dalam negeri kita. Itu tantangannya," kata Sjafrie.(tya/zul)

  ☆ detik

Posted in: KRI TNI-AL,LEN

#Tag : KRI TNI-AL LEN

PT Len Industri Gelontorkan Ratusan Miliar Rupiah

Starstreak Misslile
Bandung  Berinvestasi menjadi salah satu opsi untuk terus mendongkrak kinerja dan performa perusahaan. Adalah PT Len Industri (Persero) yang siap berinvestasi besar pada tahun ini.

“Benar. Tahun ini, kami siap berinvestasi. Nilainya, Rp 176 miliar. Investasi itu untuk membangun instalasi yang terintegrasi dengan sistem pertahanan peluru kendali Star Streak. Ini berkaitan dengan adanya kerjasama dengan industri pertahanan Prancis, Thales,” ujar Direktur Utama PT Len Industri, Abraham Mose, pada sela-sela Transformasi Bisnis PT Len Industri di Hotel Harris Bandung, Jumat (28/2/2014).

Abraham mengutarakan, pembangunan instalasi itu berlokasi di Subang pada areal seluas 10 hektar. Menurutnya, kehadiran instalasi yang bertajuk LEN Techno Park tersebut juga memiliki manfaat lain, yaitu meningkatkan kapasitas produksi solar modul, yang merupakan sumber energi terbarukan. "Kapasitasnya naik menjadi 30 MWP. Sebelumnya, 10 MWP,” kata dia.

Selain di Subang, ungkap dia, pihaknya pun berinvestasi besar di Kupang, Nusa Tenggara. Di Kupang, tambah Abraham, pihaknya berinvestasi sekitar Rp 130 miliar. Investasi itu untuk memproduksi tenaga surya sebagai sumber energi. Di provinsi tersebut, PT Len telah menjalin kontrak jangka panjang, selama 20 tahun. “Yaitu sebagai operator tenaga surya,” tuturnya.

Andra Y Agussalam, Direktur Keuangan PT Len Industri, menambahkan, pembangunan itu juga dapat menopang rencana dan proyeksi bisnis lembaga BUMN tersebut. Pada 2013, sebut dia, pihaknya mencatat pendapatan sebelum audit senilai Rp 2,06 triliun. Angka itu, jelasnya, bersumber pada penjualan beberapa produk.

“Yang tertinggi adalah railway transportation. Penjualannya senilai Rp 1,34 triliun. Lalu, Navigation senilai Rp 434,9 miliar. Kemudian renewable energy, sebesar Rp 263,7 miliar. Selanjutnya, Information and Communication Technology sejumlah Rp 123.9 miliar,” paparnya.

Tahun ini, ucap Andra, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sebesar 15 persen. Selama 2013, sambungnya, PT Len meraup keuntungan bersih sebesar Rp 71 miliar. Angka itu, terang dia, lebih tinggi 8 persen daripada realisasi 2012.

“Target kita tahun ini Rp 2,3 triliun dengan pencapaian laba bersih Rp 78 miliar sampai Rp 79 miliar,” tandas Andra. (VIL)

  ♥Jabartoday

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Alutsista,Investasi,Kerjasama,LEN

KSAU Kunjungi Industri Elektronika

Meninjau Ruang Simulator Pesawat Boeing KSAU Kunjungi Industri Elektronika Bandung ★ Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia bersama rombongan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Marsetio beserta para pejabat Asisten Panglima TNI, mengunjungi PT LEN yakni perusahaan industri elektronika, Jumat (11/4). PT LEN yang berada di Jalan Soekarno-Hatta di Bandung itu antara lain memproduksi Radar maupun Simulator.

Setibanya di PT. LEN Industri, KSAU yang didampingi oleh Dankoharmat Marsda TNI Sumarno, Dankorpaskhas Marsda TNI M. Harpin Ondeh, S.H., Kadislitbangau Marsma TNI Amirudin Ahkmad, Koorsmin Kasau Kolonel Pnb Imran Baidirus, Kadisops Lanud Husein Sastranegara Letkol Pnb Herdy Arief S diterima langsung oleh Direktur Utama PT. LEN Industri, Abraham Mose.

Dalam kunjungan tersebut, KSAU beserta rombongan juga berkesempatan untuk menerima paparan singkat tentang perusahaan tersebut dan dilanjutkan meninjau ruang simulator pesawat boeing milik PT. LEN.

Kepala Penerangan Lanud Husein Sastranegara, Kapten Sus. Sundoko, dalam siaran persnya, mengatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko beserta Para Asisten Panglima TNI melakukan kunjungan kerja ke Sesko TNI dalam rangka memberikan ceramah kepada Pasis Dikreg XLI Sesko TNI.

  ★ Jurnas

Posted in: LEN,TNI AU

#Tag : LEN TNI AU

PT LEN melengkapi Pesawat TNI AL dengan sistem pengintaian

Tes berhasil sukses dan sekarang beroperasi penuh [ BUMN PT Len bidang elektronik pertahanan telah berhasil melengkapi pesawat patroli maritim (MPA) dengan sistem pengawasan dan pengintaian Retimax 2000. Sistem ini terdiri dari konsol misi, konsol display kokpit dan gimbal dengan tiga sensor yang berbeda, dipasang pada pesawat NC-212 MPA TNI AL pada bulan Desember. Ia telah menjalani beberapa tes yang sukses dan sekarang beroperasi penuh, PT LEN mengatakannya kepada IHS Jane di DSA 2014 pameran pada tanggal 16 April. "This is the first MPA equipped as a trial to fulfill the TNI-AL's requirement for a high-definition real-time surveillance system," kata Yudiansyah Lubis, Insinyur sistem kontrol perusahaan.   ★ Janes

Posted in: LEN,Pesawat,TNI AL

#Tag : LEN Pesawat TNI AL

Lapan dan LEN Siapkan Satelit Mutakhir

Indonesia terus mengembangkan satelit buatan dalam negeri dan berencana mengembangkan satelit senilai Rp 2 triliun. Satelit ini akan siap tahun 2019, ujar Kepala Lapan, Bambang S Tejasukmana dalam konferensi internasional “Integrated Technology Application to Climate Change”, di Jakarta.

Satelit Lapan itu akan memiliki berat 1 ton, melibatkan berbagai pihak dan jauh lebih baik dari satelit-satelit Lapan saat ini. Untuk itu dananya pun mencapai Rp 2 triliun, sementara satelit yang ada saat ini berbiaya Rp 500 miliar.

“Nanti yang memproduksi adalah industri, yang potensial adalah PT LEN,” ujar Bambang.

Pengembangan satelit saat ini masih pada tahap sangat awal, yakni mission requirement. Direncanakan, satelit mampu mendukung program ketahanan pangan, energi, serta dampak perubahan iklim. Lapan nantinya akan berperan dalam memberikan dasar pengetahuan pengembangan satelit.

Pengembangan satelit ini juga dimaksudkan untuk menguatkan peran serta Indonesia dalam keanggotaan Global Earth Observation System of Systems. Saat ini hanya ada beberapa negara yang memiliki satelit canggih pemantau perubahan iklim, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, Brasil, dan Korea Selatan.

Indonesia terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi perubahan iklim, termasuk pengembangan satelit penginderaan jarak jauh.

Deputi Penginderaan Jauh LAPAN Taufik Maulana mengatakan, Indonesia tengah mengembangkan satelit LAPAN A-2 dan LAPAN A-3. Untuk satelit LAPAN A-2 sudah selesai dibuat dan akan segera diluncurkan tahun depan. Peluncurannya akan bekerja sama dengan India karena roket yang dimiliki Indonesia belum sanggup meluncur jarak jauh.

“Ini kan jaraknya 600 kilometer. Diluncurkan sekitar Januari-Juni tahun depan,” kata Taufik. Satelit LAPAN A-2 berbobot 75-100 kilogram.

Sementara itu, satelit LAPAN A-3 sedang dirancang oleh LAPAN bersama IPB. Sama seperti pendahulunya, satelit LAPAN A-3 juga akan diluncurkan dengan menumpang roket peluncuran satelit lain milik negara lain yang lebih besar.

  ● JKGR

Posted in: LAPAN,LEN,Satelit

#Tag : LAPAN LEN Satelit

BUMN Pembuat Alat Utama Sistem Persenjataan

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia telah mampu mengembangkan, memproduksi dan menjual peralatan militer berbagai jenis super canggih dan modern. Pengembangan peralatan militer ternyata sudah berlangsung sejak lama.

Seperti PT Pindad (Persero) yang memproduksi senjata dan kendaraan tempur berbagai varian atau PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang memproduksi berbagai tipe pesawat dan helikopter. Apalagi dengan adanya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

Industri pertahanan pelat merah memperoleh angin segar. Mau tahu BUMN produsen pelatan militer canggih. Berikut ini hasil penelusuran detikFinance, Rabu (4/12/2013).

1. PT Pindad (Persero)

Pindad merupakan BUMN senjata dan kendaraan tempur yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan negara strategis ini merupakan salah satu ujung tombak pemasok peralatan militer bagi TNI dan Polri.

Bahkan telah dipasarkan ke luar negeri. Produk senjata yang dihasilkan seperti: SS1, SS2, SPR, PM dan

senjata genggam. Pindad juga memproduksi berbagai varian amunisi ringan hingga berat.

Untuk kendaraan tempur, Pindad mampu mengembangkan dan memproduksi Panser Anoa, Water Canon, kendaraan taktis Komodo hingga tank versi medium.

2. PT Dirgantara Indonesia (Persero)

PTDI merupakan BUMN produsen pesawat dan helikopter versi militer dan sipil. Hasil karya BUMN pesawat ini telah digunakan di dalam dan luar negeri. Untuk meningkatkan kualitas pesawatnya, Dirgantara Indonesia mengandeng produsen kelas dunia seperti induk produsen pesawat Airbus, EADS.

Produk pesawat dan helikopter yang dihasilkan antara lain: pesawat NC 212-200, C212-400, CN 235-220M, CN235-200MPA, CN 295 Helikopter Bell 412 EP dan Helikopter Super Puma.

Dirgantara Indonesia saat ini sedang mengembangkan pesawat tempur KFX/IFX, pesawat penumpang N219 dan pesawat mata-mata nir awak.

3. PT LEN Industri (Persero)

LEN merupakan BUMN teknologi yang memproduksi berbagai peralatan canggih untuk energi terbarukan, kereta, pertahanan hingga telekomunikasi. Untuk bidang pertahanan, LEN berhasil memproduksi dan mengembangkan otak dari kapal perang yakni combat management system (CMS).

LEN juga memproduksi peralatan telekomunikasi untuk militer dan polisi seperti tactical radio communication HF dan VHF transceiver.

4. PT PAL (Persero)

PAL merupakan BUMN produsen kapal varian sipil dan militer. Perusahaan negara yang bermarkas di Surabaya Jawa Timur ini mampu memproduksi kapal perang untuk keperluan industri pertahanan tanah air. Bahkan PAL memperluas jaringan bisnisnya dengan menawarkan varian kapal perangnya ke Filipina.

Produk kapal perang dan kapal cepat PAL antara lain: Landing Platform Dock 125M, Kapal Patroli Cepat 57 meter NAV V, Kapal Patroli Cepat 15 Meter, Kapal Cepat Rudal 60 M. Selain itu, PAL saat ini bersama Korea Selatan tengan mengembangkan kapal selam.

5. PT Dahana (Persero)

Dahana merupakan BUMN produsen bahan peledak untuk keperluan industri dan militer. Salah satu bahan peledak versi militer terbaru yang dikembangkan adalah bom P-100 L dan P-100 untuk bom latih.

Bom pintar ini dilengkapi fuse sehingga bisa tepat sasaran. Bom P-100 ini nantinya dirancang untuk pesawat tempur Sukhoi milik TNI AU.

  ● detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana,DI,LEN,PAL,PINDAD