AgustaWestland Signs Contract with Basarnas Indonesia for An AW139 SAR
The first contract announced at the LIMA show in Malaysia is the sale by AgustaWestland of a SAR-configured AW139 helicopter to Indonesia’s national Search-And-Rescue service, Badan SAR Nasional. This is the first AW139 sale in Indonesia (AW file photo) ♔
♔ The first AW139 sale in Indonesia for search and rescue mission
♔ AW139 delivers best in class performance
♔ AgustaWestland success in the growing Indonesian helicopter market
AgustaWestland announced today it has signed a contract with Badan SAR Nasional (Basarnas), the national search and rescue agency of the Republic of Indonesia, for an AW139 intermediate twin engine helicopter equipped for SAR operations. The contract also includes training for aircrew and technicians as well as an initial support package. The aircraft will be delivered by the end of 2015 and will be equipped with rescue hoist, radar, cabin console and other SAR equipment.
This sale represents an important milestone for AgustaWestland in the Indonesian public sector helicopter market and will enable it to increase cooperation with local industry to support the growing Indonesian helicopter market.
Basarnas will benefit from a range of support services for their AW139 provided by Indopelita Aircraft Service. This follows an agreement signed by AgustaWestland and Indopelita last November to establish support and maintenance services in Indonesia. AgustaWestland has recently achieved significant sales success in Indonesia with the AW119 single engine, GrandNew light twin engine and AW139 intermediate twin engine helicopters for a variety of roles.
The AW139 provides Search and Rescue (SAR) operators best in-class performance, high cruise speed (165 knots / 306 kph), long range of (up to 675 nm / 1250 km) and endurance up to 6 hours for extended search patrols. With its high power reserve, thanks to its powerful PT6-67C turboshaft engines, the AW139 has excellent hover performance, including One Engine Inoperative (OEI) condition, even in extreme hot-and-high environments.
The AW139's large, versatile cabin (8 m3 / 283 ft3) can be configured in a variety of layouts, with accommodation for FLIR station operation, medical treatment and casualty evacuation requirements. A large sliding door on each side of the cabin provides clear access to the cabin for survivors and stretchers. Uniquely the AW139 has an additional 3.4 m3 (120 ft3) of baggage compartment which is accessible from inside or outside the helicopter.
State-of-the-art avionics and large cockpit displays, together with the 4-axis digital autopilot (with hover mode) and full digital electronic engine control (FADEC) minimise pilot workload and optimise operational efficiency. The AW139's ergonomic design, excellent handling characteristics and low vibration levels minimise pilot fatigue and enhance passenger comfort. A state-of-the-art Health Usage Monitoring System (HUMS) and diagnostic tools are available to maximise aircraft safety and minimise time on the ground.
Over 900 AW139 helicopters have been sold to more than 220 customers in over 70 countries worldwide to date. The AW139 has been selected by and is now performing search and rescue missions with a large number of operators in Asia and elsewhere around the globe. The AW139, as the market leader in its class, is also widely used for offshore transport, passenger transport, law enforcement, emergency medical transport, passenger transport and firefighting services.
The AW139 helicopter is part of AgustaWestland's family of new generation helicopters that also includes the AW169 and AW189. These helicopters possess the same high-performance flight characteristics and safety features whilst sharing the same common cockpit concept and design philosophy. This approach facilitates synergies for operators of these models in areas such as training, maintenance and support.
♔ defense aerospace

Posted in: BNPP,Helikopter
[Foto] Peresmian kapal KN SAR Sadewa
Sebuah perahu melintas di dekat kapal KN SAR Sadewa 231 milik Basarnas, pada peresmian kapal tersebut di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jateng, Jumat (20/3).
Kapal bermesin tiga yang memiliki panjang 40 meter dan lebar 7,5 meter serta mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot itu juga dilengkapi dengan ruangan medis dan peralatannya sehingga diharapkan dapat menunjang dalam setiap upaya pencarian dan pertolongan saat terjadi kecelakaan di laut. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)
♞ Antara

Posted in: BNPP,Foto,Kapal
Basarnas pastikan lokasi temuan serpihan pesawat Trigana
Badan SAR Nasional telah memastikan lokasi temuan serpihan pesawat milik Trigana Air yang jatuh dalam penerbangan dari Jayapura menuju Oksibil di di Pegunungan Bintang Papua. Basarnas telah mendapat foto serpihan pesawat. ☆
Badan SAR Nasional telah memastikan lokasi temuan serpihan pesawat milik Trigana Air yang jatuh dalam penerbangan dari Jayapura menuju Oksibil di di Pegunungan Bintang Papua.
Hal itu dikemukakan Mayjen TNI Heronimus Guru, selaku Deputi Bidang Operasional Basarnas, dalam jumpa pers Senin (17/08).
"Kami telah mendapat foto serpihan pesawat yang diambil dari udara. Dan dari tiga kali penerbangan, kami bisa memastikan itu pesawat yang dicari," kata Heronimus.
Meski demikian, tim SAR gabungan belum bisa mencapai lokasi karena kabut telah turun. Heronimus mengatakan pasukan darat harus sampai ke lokasi untuk menyiapkan helipad sehingga memudahkan helikopter mendarat.
"Sudah tertutup (kabut), helikopter sudah tidak bisa masuk. Itu hutan ekstrem, sulit ditembus. Mereka pun kini bermalam di Oksibil. Besok kita lanjutkan sepagi mungkin, 06.30 WIT sudah bergerak. Namun, itu tergantung cuaca," ujarnya.
Kepulan asap
Sebelumnya, Kepala Badan SAR Nasional, Bambang Soelistyo, menyatakan pihaknya menyiapkan dua tim SAR darat gabungan setelah tim SAR yang menggunakan pesawat melihat serpihan dan kepulan asap yang diduga berasal dari pesawat Trigana Air tipe ATR 42.
“Lokasinya berada pada ketinggian 8.500 kaki di atas permukaan laut dan berada sekitar 50 kilometer dari Bandara Oksibil,” kata Kepala Basarnas, Bambang Soelistyo kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Dua tim gabungan itu terdiri dari 50 anggota SAR, polisi, dan TNI. Di antara anggota tim, Kapolri Badrodin Haiti mengaku telah menyertakan tim forensik, DNA, dan DVI untuk bisa membantu mengidentifikasi korban.
Selain mengerahkan personel, tim SAR gabungan turut menerbangkan satu helikopter jenis Bell milik TNI Angkatan Darat, dua helikopter milik Angkatan Udara, satu pesawat Pilatus milik Susi Air, dan satu unit pesawat Caravan milik Asosiasi Misi Penerbangan (AMA).
Dalam keterangan yang dirilis melalui Twitter, Basarnas menyebutkan luas lokasi pencarian mencapai sekitar 1.879 mil.
Pesawat Trigana Air tipe ATR 42 mengangkut 44 orang dewasa, dua anak, tiga balita dan 5 kru pesawat., antara lain Kapten Pilot Hasanudin.
Pesawat dengan rute Sentani-Oksibil itu hilang kontak pada Minggu (16/08) siang.
Rute pesawat melewati wilayah pegunungan, Oksibil merupakan ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang Papua.Pesawat Trigana Air angkut dana pemerintah sebesar Rp 6,5 miliar Uang yang dibawa adalah dana program simpanan keluarga sejahtera (PSKS) dari Kementerian Sosial yang hendak disalurkan untuk masyarakat miskin di Oksibil. Pesawat Trigana Air tipe ATR 42 mengangkut 44 orang dewasa, dua anak, tiga balita dan 5 kru pesawat., antara lain Kapten Pilot Hasanudin. ☆
Pesawat Trigana Air yang jatuh di Gunung Tangok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, dipastikan membawa dana pemerintah sebesar Rp 6,5 miliar.
Menurut Kepala Kantor Pos Jayapura, Haryono, uang tunai tersebut dijinjing empat pegawai PT Pos Indonesia yang menumpang pesawat. Mereka adalah Agustinus Luarmase, Teguh Warisman, MN Aragae, dan Yustinus Hurulean.
Uang itu adalah dana program simpanan keluarga sejahtera (PSKS) dari Kementerian Sosial yang hendak disalurkan Kantor Pos Jayapura untuk masyarakat miskin di Oksibil.
“Kami memang mengutus mereka ke sana mengingat dana yang dibawa dalam jumlah besar,” ujar Haryono kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Haryono menyebutkan pemberian dana dalam bentuk tunai ke wilayah-wilayah terpencil ialah sesuatu yang rutin. Pasalnya, di daerah yang dituju kerap tidak dilengkapi fasilitas bank. Tidak jarang pula daerah tujuan belum memiliki listrik.
Infrastruktur
Soal minimnya infrastruktur di sejumlah daerah di Papua juga diutarakan Gerry Soejatman, pengamat penerbangan.
Disebutkan Gerry, landasan udara di Papua banyak yang belum memiliki menara pengatur lalu lintas udara (air traffic controller/ATC) dan stasiun pemantau cuaca.
“Fasilitas di Papua memang tidak memadai sehingga menimbulkan risiko. Karena itu, kapten penerbang di Papua tidak hanya harus benar-benar berpengalaman, tapi juga berpengalaman terbang di Papua. Pengetahuan navigasi dan kemampuan membaca perilaku cuaca para pilot di Papua mesti sangat bagus” ujarnya.
Konsekuensinya, kata Gerry, para pilot di Papua dapat menjadi instruktur penerbangan yang handal. “Mereka menjadi sumber pengalaman yang bagus.”
Menurutnya, wilayah Papua berbeda dengan wilayah lain di Indonesia. Selain pergerakan cuacanya berbeda, kontur pegunungan di Papua menyulitkan penerbang.
“Kalau hari ini hujan lebat, misalnya, keesokan harinya kabut sepanjang hari. Namun, penerbangan tidak bisa dibatalkan karena banyak orang tergantung dengan bahan makanan yang dibawa pesawat,” katanya.
Pencarian
Pesawat Trigana Air tipe ATR 42 mengangkut 44 orang dewasa, dua anak, tiga balita dan 5 kru pesawat, antara lain Kapten Pilot Hasanudin.
Pesawat dengan rute Sentani-Oksibil itu hilang kontak pada Minggu (16/08) siang.
Rute pesawat melewati wilayah pegunungan, Oksibil merupakan ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang Papua.
Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Teguh Pujiharjo, mengatakan pihak Basarnas, TNI, dan Polri saat ini tengah mengerahkan 260 personel dari Oksibil untuk menemukan badan pesawat.
Adapun sebanyak delapan pesawat, termasuk tiga helikopter, diterbangkan dari Jayapura ke kawasan Gunung Tangok.
⚓️ BBC

Posted in: BNPP,Breaknews
[RIP] Pesawat Trigana Air Diketemukan Hancur
Delapan pesawat siap dikerahkan evakuasi korban Trigana Ilustrasi Trigana Air (detik) ☠
Sebanyak delapan pesawat kini siap dikerahkan untuk mengevakui korban pesawat Trigana yang jatuh di Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
Komandan Lanud Jayapura Kol (Pnb) I Made Susila Adyana kepada Antara, Selasa mengatakan, kedelapan pesawat dari berbagai jenis itu selain siap di bandara Sentani juga ada yang di Oksibil.
Pesawat yang disiapkan itu jenis Philatus milik Susi Air, Twin Otter dan ATR milik Trigana, Caravan milik AMA, Heli Bell milik Airfast dan helikopter MI milik TNI AD.
Dari bandara Sentani, pagi ini akan diterbangkan pesawat ATR Trigana guna mengangkut logistik, kata Kol Pnb Adyana seraya menambahkan, helikopter Airfast sudah berada di Oksibil.
"Mudah-mudahan cuaca bersahabat sehingga evakuasi dapat segera dilakukan," ucap Dan Lanud Jayapura Kol (pnb) Adyana.
Sementara itu Kapolres Pegunungan Bintang Akbp Yunus Wally secara terpisah mengakui, saat ini tim SAR baik udara maupun darat sudah bergerak.
Bahkan helikopter Airfast sudah menerbangkan tim SAR ke Oksob untuk mempersiapkan helipad guna memudahkan proses evakuasi, kata AKBP Wally.SAR temukan 20 jenazah korban kecelakaan Trigana Kerabat penumpang pesawat Trigana Air berjalan keluar dari kantor pusat Trigana Air di Jakarta, Minggu (16/8). Kementerian Perhubungan menyatakan berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pesawat dengan rute Jayapura-Oksibil yang membawa lima orang awak serta 49 penumpang tersebut menabrak gunung di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) ☠
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo menyatakan hingga pukul 11.05 WIT tim penyelamat sudah menemukan 20 jenazah korban kecelakaan pesawat Trigana Air.
"Informasi terkini, 20 jenazah telah ditemukan tim SAR dan masyarakat, dalam keadaan utuh dan terbakar," katanya di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa.
Ke-20 jenazah korban yang sudah ditemukan selanjutnya akan dievakuasi ke Jayapura. Jenazah korban akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Distrik Abepura, Kota Jayapura untuk diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identifications (DVI).
"Tim SAR di sana sedang menyiapkan segala sesuatu untuk proses evakuasi ke Jayapura. Kami juga telah telah menyiapkan RS Bhayangkara untuk digelarnya proses identifikasi," katanya.
"Kita juga siapkan tim DVI di Jayapura untuk proses identifikasi. Semoga evakuasi hari ini berjalan aman dan lancar," katanya.
Kepala Badan SAR Nasionalmengatakan pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 yang hilang kontak Minggu (16/8) ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.SAR darat tiba di lokasi pesawat Trigana Helikopter Evakuasi Korban Trigana Sebuah helikopter milik TNI Angkatan Udara bersiap melakukan evakuasi di Base Operasi Lanud Jayapura, Papua, Senin (17/8). Helikopter tersebut rencananya akan dipakai untuk mengevakuasi korban jatuhnya Trigana. (ANTARA FOTO/Lucky R) ☠
Kepala SAR Jayapura, Ludianto menyatakan, saat ini tim SAR yang menempuh jalan darat sudah tiba di lokasi jatuhnya pesawat Trigana di Oksob.
"Tim SAR yang tiba di lokasi berasal dari paskhas TNI AU sudah di lokasi, sedangkan yang lainnya menyusul di belakang," kata Ludianto, di Jayapura, Selasa.
Dia menjelaskan, selain anggota paskhas, tim SAR udara juga sudah berhasil mendekati lokasi dan sedang mempersiapkan tempat pendaratan heli atau helipad.
Jenazah korban pesawat jatuh itu, akan dibawa ke Oksibil dan selanjutnya ke Jayapura. Saat ini tercatat 20 orang korban sudah ditemukan.
Kondisi pesawat dilaporkan hancur dan berada di lereng gunung.Pesawat Trigana ditemukan dalam keadaan hancur Lokasi Trigana Air Jatuh (Reuters) ☠
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo pada Selasa mengatakan pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 yang hilang kontak Minggu (16/8) ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
"Saat ini kami fokus pada proses evakuasi korban, juga mencari black box dan serpihan pesawat yang bisa diperiksa dan membantu proses pencarian," katanya di Jayapura, Selasa.
Menurut dia hingga pukul 11.05 WIT tim SAR yang ada di daerah operasi sudah berhasil menemukan 20 jenazah korban di lokasi jatuhnya pesawat.
"Sampai saat ini belum ditemukan adanya penumpang yang selamat," katanya.
Dia berharap evakuasi bisa berjalan lancar di tengah cuaca yang kurang bersahabat.
Jenazah korban yang sudah ditemukan selanjutnya akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Jayapura untuk diidentifikasi.
Pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 dengan rute Jayapura-Oksibil yang lepas landas dari Bandara Sentani pukul 14.22 WIT hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua, Minggu (16/8).
Pesawat yang diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT itu terakhir melakukan kontak dengan menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT. 38 jenazah korban kecelakaan Trigana sudah ditemukan Kepala Badan SAR Nasional FH Bambang Soelistyo saat berdialog dengan keluarga korban kecelakaan pesawat Trigana Air di halaman kantor Dirjen Perhubungan Udara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (17/8).(ANTARA FOTO/Lucky R) ☠
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal FH Bambang Soelistyo menyatakan tim sudah menemukan 18 jenazah lagi sehingga total 38 jenazah korban kecelakaan pesawat Trigana Air sudah ditemukan pada Selasa pukul 11.37 WIT.
"Perinciannya 37 dewasa dan satu bayi, ditemukan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat," katanya di hadapan keluarga korban di Bandara Udara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa.
Tim SAR sedang menyiapkan berbagai keperluan untuk mengevakuasi jenazah korban ke Jayapura. Rencananya jenazah korban akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diidentifikasi.
"Kita juga siapkan tim DVI di Jayapura untuk proses identifikasi. Semoga evakuasi hari ini berjalan aman dan lancar," katanya.
Pesawat Trigana Air PK-YRN nomor penerbangan IL-267 rute Jayapura-Oksibil yang lepas landas dari Bandara Sentani pada Minggu (16/8) pukul 14.22 WIT hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua.
Pesawat yang diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT itu terakhir melakukan kontak dengan menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT.
Kepala Badan SAR Nasional mengatakan pesawat itu ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
☠ antara

Posted in: BNPP,OMSP,TNI
[RIP] 54 Jenazah Korban Trigana Ditemukan
Dalam Kondisi Tak Utuh Lokasi jatuhnya pesawat Trigana Air [Viva] ☠
Tim SAR telah menemukan 54 jenazah korban jatuhnya Trigana Air. Korban ditemukan dalam keadaan tidak utuh.
"Sekarang pukul 12.44 WIT upaya evakuasi korban sudah ditemukan total 54 jenazah. Kondisi tidak utuh," ujar Kabasarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo kepada wartawan di Base Ops Lanud Jayapura, Selasa (18/8/2015).
Menurut Soelitsyo, 54 korban yang ditemukan termasuk kru dan penumpang. "Kesimpulannya kru dan penumpang ditemukan semua," katanya.
Puing pesawat Trigana Air ditemukan di wilayah Okbape, 14 km dari bandara Oksibil.
Pesawat Trigana Air ATR 42 dengan nomor penerbangan PK-YRN itu lepas landas dari Bandara Sentani Jayapura pukul 14.22 WIT dengan waktu tiba diperkirakan di Oksibil 15.04 WIT Minggu (16/8/2015). Pesawat mengangkut 49 penumpang dengan 5 awak pesawat. Pesawat itu dilaporkan hilang kontak sejak pukul 15.00 WIT pada Minggu (16/8/2015). (nwy/nrl)Menhub Sampaikan Belasungkawa untuk Keluarga Kabasarnas (Wilpret Siagian) ☠
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban pesawat Trigana Air IL 267. Saat ini Tim SAR tengah menyiapkan evakuasi 54 jenazah dari lokasi kecelakaan ke Bandara Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua.
"Atas nama pemerintah saya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para korban kecelakaan Trigana IL 267 dan semoga dikuatkan oleh Tuhan yang Maha Esa," kata Menhub Jonan dalam pesan singkatnya, Selasa (18/8/2015).
Selain itu Jonan menyampaikan terima kasih terhadap tim gabungan SAR yang berhasil menemukan jenazah korban.
"Saya juga menghaturkan terima kasih atas kepemimpinan Kabasarnas untuk kooordinasi bersama TNI dan Polri serta tim Kemenhub, khususnya kepemimpinan tim gabungan SAR yaitu Kol Sugiyono Danrem 172 yang telah menemukan seluruh 54 jenazah korban. Salut buat Tim SAR dan kerjasama semua pihak pencarian di lokasi," ujarnya.
Proses pencarian di jalur darat memang tidak mudah. Tim SAR gabungan harus bermalam di wilayah pegunungan dengan hutan yang lebat.
Tim akhirnya bisa menembus ke lokasi setelah mendapat petunjuk visual dari tim pencari udara yang kemudian ditentukan titik koordinat lokasi puing pesawat.
Terkait penemuan jenazah, Disaster Victim Identification (DVI) Polri mengirimkan tiga orang dalam penanganan korban Trigana Air yang jatuh di Distrik Okbape, Pegunungan Bintang, Papua.
Sementara untuk antemortem dan postmortem, tim DVI melakukan identifikasi di Jayapura guna memudahkan keluarga korban untuk memberikan data korban. (fdn/nrl)Black Box Trigana Juga Sudah Ditemukan Menhub Jonan (Herianto Batubara) ☠
Kurang dari 48 jam sejak peristiwa jatuhnya Trigana Air di Okbape, Papua, tim gabungan telah berhasil mendapatkan seluruh jenazah yang ada di pesawat itu. Kotak hitam juga sudah ditemukan.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada tim karena telah menemukan seluruh 54 jenasah korban dan black box dalam kurun waktu kurang dari 48 jam sejak kecelakaan terjadi," kata Jonan, Selasa (18/8/2015).
Tim pencari tersebut terdiri dari unsur Basarnas, TNI dan Polri serta tim dari Kemenhub. Tim gabungan SAR dipimpin Kol Sugiyono dari Danrem 172.
"Atas nama Pemerintah saya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para korban kecelakaan Trigana IL 267 dan semoga dikuatkan oleh Tuhan yang Maha Esa," ujar Jonan.
Mayoritas kondisi jenazah tidak utuh. Jenazah-jenazah itu akan dibawa ke Jayapura melalui Oksibil. Khusus untuk yang warga Oksibil, akan langsung dibawa oleh pihak keluarga. (dnl/faj)Cara Basarnas Bawa 54 Jenazah Trigana Air dari Hutan Belantara (REUTERS/Handout via Basarnas) ☠
Sebanyak 54 orang jenazah kru dan penumpang pesawat Trigana Air telah ditemukan tim SAR gabungan. Semua jenazah akan dievakuasi dari lokasi untuk diidentifikasi.
"Opsinya dievakuasi bisa dengan jalan darat, bisa dengan helipad, bisa dengan jaring atau net. Dari 3 ini perkiraan saya net yang paling memungkinkan dan cepat," kata Kepala Basarnas Marsdya FHB Soelistyo kepada wartawan di Base Ops Lanud Jayapura, Selasa (18/8/2015).
Dijelaskan Soelistyo, akan susah jika semua jenazah dibawa melalui jalan darat. Helipad pun tak bisa dibuat di lokasi karena hutannya sangat lebat, dan permukaannya miring.
"Makanya kemungkinan besar kita putuskan dengan net. Jadi jenazah itu dimasukkan semua di net, dihoisting, masuk ke heli dan dibawa," jelas Soelistyo yang menggunakan seragam dinas Basarnas.
"Kita berharap semua (jenazah) sore ini bisa diangkat, atau paling lambat besok," sambung Soelistyo. Ditambahkan dia, tim SAR gabungan hingga kini masih berupaya mencari kotak hitam.
Puing pesawat Trigana Air ditemukan di wilayah Okbape, sekitar 14 km dari bandara Oksibil. 54 orang jenazah yang ditemukan sudah dalam kondisi tidak utuh, dan pesawat pun hancur berantakan menjadi puing-puing.
Pesawat Trigana Air ATR 42 dengan nomor penerbangan PK-YRN itu lepas landas dari Bandara Sentani Jayapura pukul 14.22 WIT dengan waktu tiba diperkirakan di Oksibil 15.04 WIT Minggu (16/8/2015). Pesawat mengangkut 49 penumpang dengan 5 awak pesawat. Pesawat itu dilaporkan hilang kontak sejak pukul 15.00 WIT pada Minggu (16/8/2015). (hri/faj)
☠ detik

Posted in: BNPP,OMSP,TNI
Kisah Seputar Evakuasi korban Trigana
Evakuasi korban Trigana tertunda karena cuaca Sebuah helikopter milik TNI Angkatan Udara bersiap melakukan evakuasi di Base Operasi Lanud Jayapura, Papua, Senin (17/8). Helikopter tersebut rencananya akan dipakai untuk mengevakuasi korban jatuhnya Trigana. (ANTARA FOTO/Lucky R) ○
Rencana evakuasi 54 jenasah korban jatuhnya pesawat Trigana hingga kini masih tertunda akibat cuaca yang tidak bersahabat, baik di Oksibil maupun di lokasi di kawasan Oksob.
Komandan Lanud Jayapura Kolonel (Pnb) I Made Susila Adyana kepada Antara di Jayapura, Rabu mengatakan akibat cuaca buruk itu hingga saat ini belum ada pergerakan dari Lanud Jayapura.
"Awan tebal dilaporkan masih menyelimuti Oksibil dan sekitarnya," ujar Adyana seraya menambahkan pesawat twin otter yang dijadwalkan ke Oksibil masih berada di Sentani.
Diakui, faktor cuaca memang menghambat proses evakuasi, termasuk evakuasi korban yang hingga kini masih berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat di Pegunungan Oksob.
Ke-54 jenazah sudah dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan siap dievakuasi ke Oksibil kemudian dilanjutkan ke Jayapura, kata Adyana.
Sementara itu Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Yunus Wally secara terpisah kepada Antara, mengakui awan tebal dan kabut masih menyelimuti wilayah Oksibil dan sekitarnya.
Tim SAR belum bergerak dan masih menunggu cuaca terang baru melakukan evakuasi dengan menggunakan pesawat helikopter Bell milik Airfast.
Saat ini di Oksibil terdapat dua helikopter yang siap melakukan evakuasi, yakni heli Bell 212 Airfast dan heli MI milik TNI AD.
"Mudah-mudahan cuaca cepat cerah sehingga evakuasi dapat segera dilaksanakan," kata Wally. Jarak pandang 50 m hambat evakuasi korban Trigana Orang tua korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN Matius menunjukkan foto anaknya Eki Kimki yang menjadi penumpang pesawat nahas tersebut di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). Tim SAR gabungan dan masyarakat pada hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 12.42 WIT telah menemukan lokasi kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN serta 54 jenazah korban di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ○
Hujan sejak pagi dan jarak pandang yang hanya sekitar 50 meter membuat tim gabungan hingga kini belum bisa lakukan evakuasi korban pesawat Trigana yang jatuh di Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.
"Evakuasi lewat udara secara umum belum bisa dilakukan karena hujan," kata Komandan Korem 172/PWY Kolonel Sugiono ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Rabu.
Menurut dia, jarak pandang yang hanya bisa mencapai 50 meter juga menyebabkan evakuasi lewat udara sementara ini belum bisa dilakukan.
"Kalau di lokasi, di Oksob cuaca sudah agak terang, hanya di Oksibil saja yang belum," katanya.
Namun, lanjut Sugiono yang pertama kali bertugas militer di Korem 172/PWY pada 1990 itu mengatakan tim evakuasi tetap siaga menunggu cuaca memungkinkan untuk melakukan pengangkutan para korban pesawat Trigana Air yang jatuh pada Minggu (16/8) sore.
"Personil gabungan sudah siap, kami hanya menunggu cuaca baik dan memungkin untuk terbang," katanya.
Sebelumnya, Ka Basarnas Marsekal Madya FH Bambang Sulistyo mengatakan 54 korban pesawat Trigana Air masih ada disekitar pegunungan Oksob karena terhambat cuaca yang tidak bersahabat.Posindo jemput sisa uang terbakar di Oksibil Tim SAR dari unsur TNI dan Warga menunjukkan puing serpihan pesawat Trigana Air PK-YRN di kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (17/8). (ANTARA FOTO/Kila/pras) ○
Manajemen PT Pos Indonesia (Posindo) Regional XI Papua mengutus perwakilan ke Bandara Oksibil, untuk menjemput sisa uang terbakar dalam kecelakaan pesawat Trigana Air di Pegunungan Bintang.
"Kami dapat informasi uang tersebut akan diserahkan oleh pihak SAR gabungan di Bandara Oksibil, siang ini, sehingga kami utus perwakilan ke sana," kata Kepala PT Posindo Regional XI Papua Agus Budi Satriyo, di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu.
Ia mengatakan, meskipun uang miliaran rupiah yang diangkut Trigana Air itu ditemukan tim SAR gabungan dalam kondisi terbakar, uang tersebut harus tetap diambil sebagai barang bukti.
Menurut kabar, umumnya uang tersebut tidak lagi utuh atau telah terbakar pada bagian tertentu.
"Kami tidak mengejar uang itu sesuai nilainya, karena musibah dan sudah ada proteksi asuransi, tapi memang harus diambil sesuai kondisi yang ada," ujar Agus.
Sebanyak empat orang pegawai Posindo Papua ikut menumpangi Trigana Air IL 267 rute Jayapura-Oksibil pada Minggu (16/8) siang. Keempat orang itu masing-masing membawa tas berisi uang, yang totalnya mencapai Rp 6,5 miliar lebih.
Empat orang pegawai Posindo itu yakni Agustinus Wanmase asal Ambon, Teguh Warisman Sane asal Palu, Sulawesi Tengah (manajer pelayanan), Yustinus Hurulean asal Papua dan Mateos Nikolas Aragae asal Papua (manager mutu).
Mereka memangku tas tersebut saat duduk di kursi dalam kabin pesawat.
Pesawat itu kemudian mengalami musibah menabrak Gunung Tangok yang berada di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan meledak, hingga seluruh awak dan penumpang yang berjumlah 54 orang tewas.
Uang miliaran rupiah yang sedianya akan digunakan untuk membayar dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) untuk 10.000 lebih rumah tangga sasaran di Kabupaten Pegunungan Bintang, ikut terbakar meskipun masih ada yang tersisa.
"Sebenarnya sesuai hasil koordinasi dengan bupati setempat, dana PSKS itu akan dibagikan usai upacara HUT RI tanggal 17 Agustus 2015, tapi musibah terjadi," ujar Agus yang didampingi pegawai Posindo Papua lainnya.
Dengan demikian. Posindo akan menjadwalkan ulang pendistribusian dana PSKS di Kabupaten Pegunungan Bintang, beberapa pekan ke depan.
Sedangkan empat jenazah korban Trigana Air yang tercatat sebagai pegawai Posindo akan dimakamkan di lokasi sesuai daerah asalnya.Empat jenazah korban Trigana dipikul selama lima jam Menunggu Evakuasi Korban Trigana Air. Keluarga korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN membaca berita terkait pesawat naas tersebut di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). Tim SAR gabungan dan masyarakat pada hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 12.42 WIT telah menemukan 54 jenazah korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/pras) ○
Empat jenazah korban pesawat Trigana, saat ini dievakuassi melalui darat dengan cara dipikul secara bergantian oleh masyarakat yang ikut dalam tim pencarian dari Oksob ke Oksibil.
Perjalanan ini memerlukan waktu tempuh sekitar sekitar lima jam perjalanan.
Sebelumnya Pemerintah Provinsi Papua telah menyiapkan 24 ambulans untuk mengevakuasi korban pesawat Trigana Air yang jatuh di Kabupaten Pegunungan Bintang.
"Pada Selasa malam, kami sudah siagakan 24 mobil ambulans keliling di Bandara Sentani, untuk mengevakuasi jenazah korban pesawat Trigana," kata Kepala Dinas Kesehatan Papua drg Aloysius Giyai, di Jayapura, Rabu.
Dia mengatakan 24 mobil ambulans itu dikoordinir langsung oleh tim pusat krisis (crisis center) Dinas Kesehatan Papua.
Dinas Kesehatan Papua menyediakan ambulans itu dari berbagai rumah sakit yang ada di Jayapura, "Di antaranya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura tiga mobil ambulans, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebanyak lima mobil ambulans dan dari rumah sakit swasta di Jayapura," ujarnya.
Selain itu, RS Bhayakara Jayapura dan Basarnas juga menyiapkan mobil ambulan sehingga jumlah totalnya sebanyak 24 mobil ambulans.
"Saya punya staf dalam tim crisis center yang telah siap 24 jam di Bandara Sentani untuk evakuasi korban, dan mereka rutin memberikan informasi terkini menyangkut kondisi korban ke saya selaku kepala Dinas Kesehatan Papua," ujarnya.
Mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abepura ini menambahkan, peralatan kesehatan penunjang lainnya untuk evakuasi korban seperti hanskul dan lainnya juga sudah siap dan aman.Tim siapkan tiga opsi evakuasi korban Trigana Anggota TNI dari Yonif 133 Sertu Agus Harahap membawa Kotak Hitam (Black Box) pesawat Trigana yang ditemukan di lokasi kecelakaan di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Selasa (18/8). (ANTARA FOTO/Pendam Cenderawasih/pras) ○
Tim gabungan menyiapkan tiga opsi evakuasi korban kecelakaan pesawat Trigana Air dari lokasi jatuhnya pesawat di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, guna mengantisipasi cuaca yang sedang kurang bersahabat di wilayah Papua.
"Ada tiga opsi atau pilihan yang akan kami gunakan untuk mengangkut korban (kecelakaan) pesawat Trigana dari lokasi terdekat ke Oksibil," kata Komandan Resort Militer 172/PWY Kolonel Sugiono ketika dihubungi dari Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu.
Opsi pertama, ia menjelaskan, jenazah ke-54 korban akan dievakuasi langsung lewat jalur udara ke lokasi terdekat.
"Kedua, para korban dibawa lewat jalan darat ke lokasi terdekat, lalu gunakan helikopter. Atau opsi terakhir, semuanya lewat darat, dibawa ke lokasi terdekat lalu gunakan kendaraan ke Oksibil," katanya.
Suami Dewi Sinta Setyawati itu mengatakan sekarang cuaca masih kurang bersahabat sehingga belum memungkinkan untuk evakuasi langsung.
"Hingga kini cuaca belum memungkinkan untuk evakuasi secara langsung, makanya kami buat tiga opsi untuk pengangkutan ke Oksibil," katanya.
"Sekarang juga sudah ada masyarakat yang jalan darat angkut korban, diperkirakan sore baru tiba di Oksibil," kata mantan Komandan Resimen Induk Daerah Militer Aceh itu.
Sementara mengenai kotak hitam pesawat yang sudah ditemukan kemarin, alumni Akabri tahun 1989 itu menjelaskan, masih ada di Papua.
"Nanti saya serahkan dulu ke Ka Basarnas, lalu dari Ka Basarnas diserahkan kepada tim KNKT," tambah dia.
Pesawat Trigana Air PK-YRN nomor penerbangan IL-267 rute Jayapura-Oksibil yang lepas landas dari Bandara Sentani pada Minggu (16/8) pukul 14.22 WIT hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua.
Pesawat yang diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT itu terakhir melakukan kontak dengan menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT.
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal FH Bambang Soelistyo, Selasa (18/8) mengatakan pesawat itu ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.Tim DVI berhasil identifikasi 48 sampel DNA korban pesawat Trigana Menunggu Evakuasi Korban Trigana Air Keluarga korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN menunggu di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). Tim SAR gabungan dan masyarakat pada hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 12.42 WIT telah menemukan lokasi kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN serta 54 jenazah korban di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ○
Tim DVI Polda Papua telah berhasil mengidentifikasi 48 sampel DNA korban pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-257 yang jatuh di Kampung Atenok, Distrik Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang.
Ketua Tim DVI Polda Papua dr. Ramon Amiman, di Jayapura, Rabu, mengatakan ke-48 sampel DNA ini diambil di Jayapura oleh petugas posko di Rumah Sakit Bhayangkara.
"Petugas kami di Oksibil juga sudah melakukan identifikasi 21 sampel DNA sehingga nantinya akan dicocokkan dengan sampel di Jayapura," katanya.
Menurut Ramon, persiapan baik tempat maupun tenaga sudah siap, namun di Oksibil belum memungkinkan untuk dilakukan evakuasi.
"Nantinya jenazah dari lokasi jatuhnya pesawat akan dibawa ke Oksibil untuk dilakukan pemeriksaan dan selanjutnya akan diturunkan ke Jayapura," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa ia telah menyiapkan tim dokter yang terdiri dari dua ahli forensik, enam dokter umum, satu ahli DNA, dua dokter gigi forensik dan paramedis.
"Sedangkan untuk posko tim identifikasi, satu dibangun di bandara dan satu lainnya di Rumah Sakit Bhayangkara," katanya lagi.
Dia menambahkan khusus untuk posko di Rumah Sakit Bhayangkara, dari 48 sampel DNA yang diambil, tinggal enam keluarga yang belum melaporkan diri.
"Keenam keluarga tersebut terdiri dari tiga penumpang dan tiga kru pesawat, dimana hingga kini masih belum ada yang melapor," ujarnya lagi.
Pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-257 hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua.
Pesawat hilang saat hendak menempuh rute Jayapura (DJJ)-Oksibil (OKS). Pesawat nahas itu lepas landas dari Bandara Sentani pukul 14.22 WIT, dengan estimasi tiba pada pukul 15.04 WIT.
Pukul 14.55 pesawat tersebut melakukan kontak dengan menara Oksibil, ternyata kontak tersebut merupakan kontak terakhir, setelah pada pukul 15.00 tidak ada jawaban dari pesawat tersebut.
Penumpang dalam pesawat tersebut berjumlah 49 orang ditambah dengan lima kru pesawat. Semua penumpang dinyatakan meninggal dunia.Evakuasi korban Trigana lewat udara kembali terkendala cuaca buruk Kru pesawat CN 212 TNI Angkatan Laut mengecek kondisi pesawat yang disiagakan untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ○
Evakuasi korban pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 di Kampung Atenok, Distrik Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua kembali terkendala cuaca buruk.
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Teguh Pudji Raharjo di Jayapura, Rabu mengatakan ada tiga opsi untuk evakuasi para korban.
"Opsi pertama adalah evakuasi melalui udara, jadi dari lokasi jatuhnya pesawat diangkat menggunakan helikopter ke Oksibil," katanya.
Menurut Kapendam, opsi kedua jalan darat di mana evakuasi akan menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian, kemudian sampai di tempat yang memungkinkan baru diangkut helikopter ke Oksibil.
"Opsi ketiga adalah murni evakuasi menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian ke Oksibil, baru selanjutnya diterbangkan ke Jayapura," ujarnya.
Dia menjelaskan opsi pertama bisa dilakukan jika cuaca memungkinkan atau mendukung, tetapi saat ini kondisi belum memungkinkan untuk melaksanakan evakuasi menggunakan helikopter.
"Oleh karena itu, hingga kini kami masih menggunakan opsi ketiga yaitu murni menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian menuju ke Oksibil," katanya lagi.
Dia menambahkan berdasarkan laporan Komandan Kodim 1702 Jayawijaya, sebelum pukul 12.00 WIT sudah ada empat jenazah yang diberangkatkan ke Oksibil menggunakan jalan darat.
"Setelah pukul 12.00 WIT kembali diberangkatkan dua jenazah lainnya ke Oksibil menggunakan jalan darat, jadi totalnya sudah enam jenazah dalam perjalanan ke Oksibil," ujarnya lagi.
★ Antara
Posted in: Artikel,BNPP,OMSP,TNI
Tantangan berat tim SAR evakuasi korban Trigana Air di hutan Papua
Tidak mudah bagi tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban jatuhnya pesawat Trigana Air di Gunung Tangok Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Selain terkendala cuaca, juga terkendala kondisi hutan yang hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki.
Tim SAR berupaya mengevakuasi jenazah menggunakan helikopter Bell 212 Airfast dan MI milik TNI AD. Tetapi usaha ini tidak sampai ke titik penjemputan lantaran kehadang kabut tebal di sekitar lokasi.
"Awan tebal dilaporkan masih menyelimuti Oksibil dan sekitarnya," kata Komandan Lanud Jayapura Kolonel (Pnb) I Made Susila Adyana, Rabu (19/8).
Padahal tim sudah mempersiapkan rencana matang evakuasi menggunakan jalur udara. Kepala Badan Search And Rescue Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya FH Bambang Sulistyo mengungkapkan, evakuasi 54 jenazah yang telah ditemukan akan dilakukan dengan sistem jaring.
"Evakuasi besok itu (Rabu) akan dilakukan dengan cara sistem jala 'netting' gabung dengan sistem 'hoist', karena itu saya pikir yang paling efektif," kata Bambang terpisah.
Karena jalur udara tidak memungkinkan, maka tim SAR gabungan memutuskan mengevakuasi jenazah melalui jalur darat. Evakuasi pun dilakukan secara bertahap, mengingat medan yang berat.
Seperti yang terjadi kemarin, tim SAR mengevakuasi 22 jenazah menuju Distrik Oksibil. Tim harus berjalan sejauh lima jam sambil memanggul kantong jenazah.
"Evakuasi terpaksa dilakukan lewat darat dengan berjalan kaki sekitar lima jam," kata Kapolres Pegunungan Bintang Akbp Yunus Wally.
Dari 22 jenazah yang berhasil dievakuasi, empat di antaranya diterbangkan menuju Jayapura dengan menggunakan pesawat ATR 42 Trigana. Tiba Rabu sore, jenazah segera dimasukkan ke gedung Sekretariat Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara. Sedangkan jenazah yang lain saat ini masih berada di RSUD Oksibil.
Selama prose evakuasi, tim SAR gabungan memakai tiga opsi. Pertama evakuasi melalui udara, jadi dari lokasi jatuhnya pesawat diangkat menggunakan helikopter ke Oksibil.
Kedua jalan darat, di mana evakuasi akan menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian, kemudian sampai di tempat yang memungkinkan baru diangkut helikopter ke Oksibil.
Dan ketiga murni evakuasi menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian ke Oksibil, baru selanjutnya diterbangkan ke Jayapura.
"Oleh karena itu, hingga kini kami masih menggunakan opsi ketiga yaitu murni menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian menuju ke Oksibil," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Teguh Pudji Raharjo.
Sementara itu, agar kondisi jenazah bisa bertahan lama, Pemerintah Provinsi Papua mengirim satu kontainer pendingin ke RS Bhayangkara Jayapura untuk dipakai menyimpan jasad korban. Kontainer pendingin berkapasitas menampung 100 sampai 200 orang.
"Sudah ada kontainer pendingin maka untuk evakuasi dan penampungan korban sudah tidak ada masalah," kata Kabid Dokes Polda Papua, dr Ramon Amiman.
Sebelumnya diberitakan, pesawat ATR 42-300 milik Trigana Air bernomor penerbangan IL267 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (16/8). Setelah dicari, burung besi itu ternyata menabrak dan meledak di Gunung Tangok, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang.
Seluruh penumpang dan kru berjumlah 54 ditemukan tewas. Pesawat itu juga mengangkut uang Program Simpanan Keluarga Sejahtera lebih dari Rp 6,5 miliar.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih dilakukan, hanya saja terhambat kondisi cuaca.
⚓️ Merdeka

Posted in: Artikel,BNPP,OMSP,TNI
Sinyal AirAsia QZ 8501 tidak bisa ditangkap
Kepala Badan SAR Nasional, Bambang Soelistyo, mengaku pihaknya tidak bisa menangkap sinyal darurat pesawat AirAsia QZ 8501. Pakar dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi mengatakan hal itu lumrah terjadi jika pesawat jatuh ke laut. Sinyal darurat pesawat AirAsia QZ 8501 belum bisa ditangkap Badan SAR Nasional. Melalui jumpa pers pada Senin (29/12), Kepala Basarnas, Bambang Soelistyo, mengatakan setiap pesawat memiliki Emergency Local Transmitter (ELT) atau pemancar sinyal darurat. Alat itu secara otomatis bekerja memancarkan sinyal darurat jika pesawat bertabrakan atau jatuh. “Seharusnya sinyal ditangkap sistem kita dan memberikan peringatan. Namun, sampai detik ini, sinyal itu tidak tertangkap dalam sistem kita. Negara-negara tetangga sudah kita cek dan mereka juga tidak menangkap sinyal ELT (AirAsia QZ 8501),” ujar Bambang. Penyelidik senior Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno, yang menangani penyelidikan jatuhnya pesawat Adam Air di perairan Majene, Sulawesi Barat pada 1 Januari 2007, mengatakan hal itu bisa saja terjadi. “Masalahnya, kalau antena ELT terlepas, sinyal tidak terpancar, seperti kasus jatuhnya Sukhoi di Gunung Salak. Lalu kalau terendam air laut, ELT juga tidak bisa memancarkan sinyal,” kata Mardjono. Di dalam laut, sambungnya, fungsi ELT digantikan dengan Underwater Locator Beacon atau pinger. "Alat itu menempel pada black box dan memancarkan terus menerus suara ping, ping, ping selama 30 hari. Suara tersebut memancar dalam frekuensi dan interval tertentu dengan jarak 500 meter dari posisi ULB," jelasnya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.Deteksi
Badan SAR Nasional akan meminjam perangkat deteksi dari sejumlah negara. Untuk mendeteksi suara ULB, sonar harus digunakan. Biasanya kapal perang punya perangkat sonar. Cara lain ialah menyeret TPL (Towed Pinger Locator) menggunakan kapal. Kepala Basarnas, Bambang Soelistyo, mengaku spesifikasi peralatan yang dimiliki pihaknya belum seperti yang diharapkan. Karena itu, Basarnas akan melibatkan kapal riset milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Atas kekurangan teknologi, kita juga telah berkoordinasi melalui Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi) untuk meminjam perangkat dari negara-negara yang sudah menawarkan, di antaranya Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat,” kata Bambang. Soal lokasi pencarian, Mardjono optimistis pesawat AirAsia QZ 8501 akan bisa ditemukan relatif lebih mudah mengingat perairan sekitar Pulau Bangka, Pulau Belitung, dan Selat Karimata lebih dangkal ketimbang di perairan Sulawesi—lokasi jatuhnya Adam Air pada 2007. “Saat itu, pesawat Adam Air berada 2.000 meter permukaan laut.” ★ BBC

Posted in: BNPP,BPPT,Ilmu Pengetahuan,KNKT,OMSP
Basarnas Butuh Drone Bawah Laut untuk Cari AirAsia QZ8501
Calon penumpang Air Asia menunggu keberangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Minggu (28/12). (CNN Indonesia/Safir Makki) Badan SAR Nasional (Basarnas) menyatakan butuh bantuan pesawat tanpa awak atau drone bawah laut untuk mencari keberadaan fisik pesawat AirAsia QZ8501 di dasar lautan. Teknologi yang digunakan selama ini dinilai belum cukup memadai untuk mencari tubuh pesawat hingga kedalaman tertentu. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI F.H. Bambang Soelistyo mengatakan saat ini teknologi yang digunakan pihaknya berupa marine detector dengan sistem sonar. "Kami memang memakai teknologi sistem sonar, tetapi spesifikasinya kurang tinggi untuk kedalaman laut tertentu," kata dia kepada CNN Indonesia, Senin (29/12). Minggu petang (28/12), tim Basarnas telah berangkat menuju perairan Belitung Timur. Salah satu kapal mereka, KM 224, membawa alat ROV, pendeteksi benda bawah laut, serta marine detector untuk mencari sinyal dan tubuh fisik pesawat. Sistem sonar memiliki spesifikasi kedalaman terbatas, hanya sampai 50 meter dan sangat tergantung dengan kondisi kualitas air laut. "Jadi alat bisa semakin baik dipakai kalau airnya jernih. Ini cukup membatasi pencarian," ujar Bambang. Untuk memaksimalkan pencarian, tegas Bambang, tim membutuhkan bantuan teknologi pendeteksi dengan spesifikasi yang lebih baik. Drone bawah laut berbentuk kapsul adalah jawabannya. "Kapsul bawah laut ini mampu mencari di dasar laut dan membantu evakuasi," kata dia. Sementara sistem sonar yang digunakan Basarnas sekarang hanya bisa menentukan benda metal yang ada di bawah laut, tetapi masih diperlukan evakuasi. Teknologinya kalah dengan kapsul bawah laut yang bisa turun higga ke dasar laut. "Drone bawah laut itu bentuknya semacam robot yang bisa dikendalikan oleh manusia. Kita belum punya sama sekali alat itu," kata Bambang. Pesawat AirAsia QZ8501 lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya, dengan membawa 155 penumpang. Pesawat dinyatakan hilang kontak dengan menara pemandu lalu lintas udara di Jakarta pukul 07.15. Dalam pesawat menuju Singapura tersebut juga terdapat dua pilot, empat awak kabin, dan seorang mekanik. Dari total orang di dalam pesawat, 149 merupakan warga negara Indonesia, tiga Korea Selatan, dan tiga lainnya Prancis, Malaysia, dan Singapura.(utd/agk) ★ CNN

Posted in: BNPP,OMSP,UAV
Pencarian Blackbox AirAsia QZ8501
KNKT Sebar Tim ke Pangkalan Bun dan Tanjung Pandan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus berupaya melakukan investigasi terkiat tragedi AirAsia QZ8501 yang hilang kontak. Rabu (31/12) pagi, KNKT akan mengirim dua tim untuk mencari blackbox pesawat berjenis Airbus A320-200 itu.
"Keterlibatan KNKT sudah sejak awal-awal persiapan (pencarian). Besok mulai melakukan pencarian blackbox. Dua tim akan dikirim ke Pangkalan Bun dan Tanjung Pandan," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2014) malam.
Sementara tim melakukan pencarian blackbox, Tatang berada di Surabaya untuk mengumpulkan data-data yang bisa diolah menjadi sebuah titik terang. "Di sini mengumpulkan data-data," ujar Tatang.
Pesawat komersil berpenumpang 155 orang tersebut diduga hilang kontak antara Tanjung Pandan dan Pontianak. Penyebab hilangnya pesawat masih misterius. Meski begitu disebut-sebut karena cuaca buruk dan pesawat menabrak awan comulonimbus.
Pihak Airbus sendiri siap membantu KNKT untuk mencari keberadaan blackbox dan mengidentifikasi setiap serpihan pesawat yang ditemukan.
"Dengan menempatkan keselamatan pada prioritas tertinggi, Airbus menegaskan kembali komitmen penuhnya untuk memberikan semua bantuan teknis yang diperlukan kepada para otoritas investigasi agar dapat menemukan penyebab tragedi ini," demikian siaran pers Airbus dalam keterangannya, Selasa (30/12).(rna/jor)Kapal Basarnas dan TNI AL Sudah 'Kepung' Area Penemuan Serpihan AirAsia
KRI Bung Tomo [supermarine]
Kapal Basarnas, TNI AL, serta sejumlah kapal lainnya merapat ke lokasi penemuan serpihan AirAsia. Pesawat TNI AU juga bergerak menyisir di sekitar lokasi.
Menurut Kepala Basarnas Soelistyo di Kemayoran, Rabu (31/12/2014) seluruh armada 80 persen bergerak ke titik di sektor V itu.
"Perkiraan prediksi, serpihan keluar dari area akan tertangkap satuan laut kita," jelas Soelistyo.
Menurut dia, saat ini cuaca masih belum bersahabat. Cuaca masih gerimis dan gelombang setinggi 2-3 meter.
Ada KRI Bung Tomo, KRI Banda Aceh, KRI Pattimura, serta beberapa KRI lainnya. Ada juga 17 helikopter dan 9 pesawat siap bergerak.
"Setelah cuaca bagus unsur-unsur melakukan," urai dia.Bantu KNKT, Basarnas Siap Cari Blackbox dengan Hati-hati Basarnas telah menemukan lokasi pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang, yakni di perairan Selat Karimata dan diyakini ada di kedalaman 30 meter. Untuk urusan blackbox pesawat tersebut, Basarnas menyerahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan KNKT terkait pencarian kotak hitam tersebut. Untuk menemukannya, digunakan alat khusus pelacak sinyal.
Soelistyo mengatakan, alat itu hanya dimiliki oleh KNKT. Namun jika diperlukan, Basarnas siap untuk membantu mencari dan mengambil kotak perekam data penerbangan tersebut.
"Ada alat dari KNKT, yaitu pinger, untuk mencari blackbox, tapi KNKT yang akan mencari itu, dan nanti kita akan bantu," ujar Bambang di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (31/12/2014).
"Kita koordinasi bagaimana cara mengambilnya supaya tidak merusak maupun tidak mengganggu flight recorder itu," tambahnya.(jor/mad)Inggris, Singapura dan Perancis Siap Bantu KNKT Cari Blackbox AirAsia QZ8501 Dukungan dunia internasional terhadap pencarian pesawat AirAsia QZ8501 begitu terasa. Inggris, Singapura, dan Perancis siap membantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan keberadaan blackbox pesawat tersebut.
"Kita akan kirim tim ke Pangkalan Bun dan Tanjung Pandan. Tim yang ke Tanjung Pandan terdiri dari KNKT, KNKT Singapura, KNKT inggris Air Incident Investigation Branch (AAIB), sama KNKT Perancis," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2014) malam.
Tim yang akan mencari blackbox di kawasan Pangkalan Bun terdiri dari satu dokter dan satu pihak dari Airbus. Airbus memang telah berkomitmen membantu KNKT mencari keberadaan blackbox.
"Mereka akan melakukan identifikasi, terutama pesawatnya," ujar Tatang.
Operasi pencarian akan dimulai Rabu (31/12), sekitar pukul 07.00 WIB.(rna/jor)Basarnas Kirim 20 Penyelam Tambahan, Statusnya Wait and See Sedikitnya 20 panyelam tambahan diterjunkan Basarnas untuk mengevakuasi penumpang dan pesawat AirAsia yang ditemukan didalam Laut Jawa di dekat Selat Karimata. Proses evakuasi belum dapat dilakukan karena cuaca buruk.
"Kita berangkatkan TNI, Kopaska, sebanyak 47 penyelam. Basarnas, kita tambahkan 20 personel penyelam dari Basarnas special grup," kata Kepala Basarnas Marsdya TNI F Henry Bambang Soelistyo dalam jumpa pers di kantor Basarnas, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat,Jakarta, Rabu (31/12/2014).
Menurut Soelistyo, evakuasi belum bisa dilakukan karena kondisi cuaca yang buruk dan gelombang tinggi.
Ia menjelaskan para penyelam memiliki dua tugas. "Mencari lokasi yang diduga di bawahnya ada bagian pesawat. Kedua mencari dan mengevakuasi (penumpang)," ujar dia.
Soelistyo menambahkan penyelam dilengkapi alat untuk dapat menyelam ke kedalaman laut rata-rata 25 meter hingga 32 meter maka dengan perlengkapan standar sudah mampu dan bisa menyelam ke kedalaman laut tersebut. "Jika sulit pakai alat khusus untuk memotong. Kita masih wait and see, tetapi sudah diposisi tugas masing-masing. Saat ini sedang hujan deras dan cuaca buruk," kata Soelistyo.
★ detik

Posted in: BNPP,Hankam,KNKT,KRI TNI-AL,OMSP
5 Alat Canggih ini Bakal Dilibatkan Mencari Black Box AirAsia
Pengangkatan black box Adam Air (Foto: KNKT)
Setelah serpihan pesawat AirAsia ditemukan, tahap pencarian selanjutnya adalah mencari black box, yang bisa menjadi kunci penyebab AirAsia jatuh ke laut. Laut Jawa, tempat ditemukannya serpihan-serpihan itu, berkedalaman 25-30 meter. Maka, selain melibatkan penyelam, alat-alat canggih juga dilibatkan seperti ini:Pinger Detector (Foto: noaa.gov)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berusaha mencari tahu keberadaan black box pesawat AirAsia QZ8501. Alat yang digunakan berupa 6 buah Pinger Detection.
"Ada 6 Pinger Detector yang akan dipakai untuk mencari sinyal emergency yang menempel di blackbox (kotak hitam)," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2014) malam.
Alat emergency yang dimaksud Tatang adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang menempel di black box yang mengeluarkan sinyal darurat. Pinger detector selanjutnya akan mendeteksi bunyi tersebut.
"Bisa mendeteksi suara hingga 200 meter," ujar Tatang.
Enam alat Pinger Detector yang akan digunakan merupakan milik KNKT, KNKT Singapura dan KNKT Inggris. Rencananya, tim pencari blackbox ini akan mulai bergerak dari Tanjung Pandan sekitar pukul 06.00 WIB.Remote Operator Vehicle (ROV) Bila lokasi black box sudah diketemukan, maka robot yang disebut Remote Operated Vehicle (ROV) akan digunakan. Alat ini akan mengangkat benda-benda dalam laut yang dalam.
ROV digunakan untuk banyak hal di dalam air, beberapa di antaranya untuk kepentingan eksplorasi minyak lepas pantai, termasuk perakitan pipa, elektronik, dan konstruksi.
ROV ini juga digunakan untuk mengangkat black box Adam Air di perairan Majene Sulbar dari kedalaman laut 2.000 meter. ROV yang digunakan untuk mengangkat AdamAir saat itu adalah jenis ROV Remora yang bisa menjelajah hingga kedalaman 6 ribu meter.
Yang akan membawa ROV dalam SAR AirAsia adalah tim survei yang beranggotakan Ikatan Surveyor Indonesia dan Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia membawa sejumlah peralatan canggih yang biasa digunakan untuk pemetaan bawah laut.
"Jadi nanti kami akan cari objek dengan sonar, setelah itu akan dibuat peta dalam bentuk 3D setelah itu ROV akan diturunkan untuk mengambil gambar visual berupa video dan foto," kata kata Ketua Ikatan Alumni Geodesi ITB yang tergabung dalam tim survei, Henky Suharto, di pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (31/12/2014).Multibeam Echosounder Multibeam echosounder, menurut situs National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), alat ini digunakan untuk survei di laut dalam, menentukan letak kedalaman benda seperti bangkai kapal, penghalang, dan objek-objek lainnya.
Alat ini juga akan dibawa tim survei dari Ikatan Surveyor Indonesia dan Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia.
Alat ini, seperti sistem sonar lainnya, memancarkan gelombang suara dalam bentuk kipas yang dari langsung di bawah lambung kapal. Sistem ini mengukur dan mencatat waktu yang dibutuhkan sinyal akustik dari transmitter atau pemancar ke dasar laut atau objek dan kembali lagi. Dari pergerakan sinyal akustik itu, bisa diketahui jarak kedalaman benda.
Dengan cara ini alat ini menghasilkan cakupan area luas survei. Cakupan area di dasar laut tergantung pada kedalaman air, biasanya dua sampai empat kali kedalaman air.Side Scan Sonar Tim dari Ikatan Surveyor Indonesia dan Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia juga akan membawa side scan sonar. Side scan sonar adalah sistem khusus untuk mendeteksi benda-benda di dasar laut. Kebanyakan sistem pemindaian samping tidak dapat memberikan informasi mendalam.
Seperti sonar lainnya, side scan sonar ini memancarkan energi suara dan menganalisa sinyal kembali (echo/gaung) yang kembali dari dasar laut atau benda lainnya. Side scan sonar biasanya terdiri dari tiga komponen dasar: towfish, kabel transmisi, dan unit pengolahan.Submersible Vehicle Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) menyatakan butuh suatu alat bernama submersible vehicle untuk mengevakuasi pesawat AirAsia bernomor penerbangan QZ 8501. Tapi Indonesia tak punya alat itu dan harus meminjamnya dari mancanegara. Apa sebenarnya submersible vehicle itu?
Submersible vehicle bila diterjemahkan tentu saja berarti kendaraan selam. Namun bukan berarti ini sama dengan kapal selam. Bila diperhatikan, submersible vehicle terlihat lebih ringkas secara ukuran. Dikutip dari berbagai sumber, submersible vehicle merupakan kendaraan kecil yang didesain untuk menjangkau kedalaman lautan, bahkan hingga kedalaman bertekanan tinggi yang tak mungkin manusia bisa berada pada titik kedalaman itu.
Submersible vehicle tak bisa beroperasi sendiri layaknya kapal selam, melainkan butuh 'kapal induk' yang berada di atas permukaan air. Kendaraan yang tidak sepenuhnya otonom ini masih membutuhkan dukungan dari kapal di permukaan laut, mereka dihubungkan oleh semacam tali atau saluran.
Submersible hanya memuat sedikit awak dengan ruang yang sempit. Kendaraan ini dirancang sedemikian rupa untuk tahan terhadap tekanan air yang tinggi di kedalaman laut. Ada pula sejenis submersible yang dinamakan marine remotely operated vehicles (MROV) yang tak menggunakan awak.
Namun demikian, submersible jenis apa yang bakal digunakan untuk mengevakuasi AirAsia? Pihak Basarnas belum jelas betul menjelaskannya. Hanya saja, submersible itu bukan ROV yang tak berawak.
"Kita masih belum bisa bicara lebih jauh, karena ini masih minta bantuan. Sekarang masih fokus untuk pencarian. Kalau submersible vehicle itu untuk evakuasi. Kalau nanti sudah ketemu lokasinya dan ketemu kedalamannya, baru submersible dibutuhkan. Submersible ini biasanya ada awaknya, dan awaknya mengoperasikan," kata Kepala Humas Basarnas Dianta Bangun di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta, Senin (29/12).(nwk/nrl)
✈ detik

Posted in: BNPP,Ilmu Pengetahuan,KNKT,OMSP
Kisah Pilot Garuda Lolos Awan Badai dengan Pesawat Crash
Pesawat Garuda Indonesia. (Reuters/Beawiharta)
Pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura hilang kontak tak lama setelah menghindari awan kumulonimbus Minggu pagi (28/12). Ada dugaan pesawat tersebut gagal menghindar dari awan badai yang menjulang 52 ribu kaki di langit di atas perairan antara Tanjung Pandan dan Pontianak.
Bila itu terjadi, pun bukan kali pertama ada pesawat yang memasuki kumulonimbus. Seorang pilot Garuda Indonesia, Abdul Rozaq, berbagi kisah saat pesawat yang ia piloti terjebak di tengah awan badai dan putus komunikasi dengan menara pemantau lalu-lintas udara atau air traffic controller (ATC) bandara.
Rozaq adalah pilot dari pesawat Garuda Indonesia 421 yang mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah, 16 Januari 2002. Saat itu satu awak kabin tewas, 12 penumpang mengalami luka berat, dan 10 penumpang luka ringan. Namun Rozaq lolos dari maut dan hingga kini setia pada profesinya sebagai pilot.
Pendaratan darurat GA 421 ketika itu diawali dengan cuaca buruk di langit sekitar Solo. Kumulonimbus menghadang laju pesawat. Boeing 737-200 yang dipiloti Rozaq tak bisa menghindar dari awan badai itu. Pesawat itu tak bisa bermanuver ke kanan atau ke kiri.
“Saat itu di kanan pesawat ada gunung. Jadi mau-tidak mau saya harus masuk awan kumulonimbus. Peristiwa berlangsung cepat,” ujar Rozaq mengenang pengalaman pahitnya di Kantor Otoritas Bandara Wilayah 1 Soekarno-Hatta, Senin malam (29/12).
GA 421 waktu itu menempuh rute Mataram-Yogyakarta. Ketinggian pesawat 23 ribu kaki. Saat masuk kumulonimbus, GA 421 sudah tak bisa berkomunikasi dengan ATC terdekat. Rozaq kehilangan pemandu di darat. Dia harus mengambil keputusan apapun seorang diri.
“Saya mengendarai pesawat secara manual karena komunikasi terputus. Pesawat lalu turun hingga ketinggian 7 ribu kaki hanya dalam waktu lima menit. Pada ketinggian itu, saya bisa melihat ada sungai,” kata pria 58 tahun itu. Ia belakangan tahu sungai itu adalah Bengawan Solo.
GA 421 pun mendarat darurat di Bengawan Solo, crash. Rozaq beruntung karena lolos dari maut. Namun satu krunya harus meregang nyawa meski semua penumpang selamat. Pengalaman buruk itu membuat Rozaq memberi sedikit pesan kepada rekannya sesama pilot jika suatu saat menghadapi situasi yang sama dengan dia.
“Saat masuk kumulonimbus, pilot harus mencari gumpalan awan paling tipis agar lebih mudah dilewati dan turbulensi yang terjadi tidak begitu besar,” ujar pilot dengan 26 ribu jam terbang itu.
Kumulonimbus memiliki karakteristik beragam. Awan yang dihadapi Rozaq ketika itu, menurutnya, sangat besar dan tebal. Untuk menghindari kumulonimbus, ujar Rozaq, paling aman dengan menggeser pesawat ke kanan atau ke kiri, bukan dengan menaikkan ketinggian pesawat, sebab kumulonimbus biasanya menjulang tinggi.(agk)
★ CNN

Posted in: Artikel,BNPP,KNKT,Pesawat
Profil Empat Grup Elite Penyelam Pencari AirAsia QZ8501
Proses evakuasi penumpang pesawat AirAsia yang jatuh di Selat Karimata melibatkan empat grup atau satuan elite. Mereka terdiri dari Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), Batalyon Intai Amfibi (Taifib), Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan Basarnas Special Group (BSG).
Empat grup elite itu harus menyelam di kedalaman 25 meter sampai 30 meter di lokasi ditemukan pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501, perairan Selat Karimata, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Barat.
Disebut grup elite karena personel masing-masing kelompok itu adalah orang-orang pilihan atau terbaik dari yang terbaik. Mereka dilatih khusus untuk situasi yang tak biasa dan tidak dapat dilakukan kebanyakan orang. Mereka tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga mental dan intelektual.
Berikut ini profil singkat masing-masing grup itu:
Denjaka
Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Anggota Denjaka dididik dalam suatu pendidikan yang disebut Penanggulangan Teror Aspek Laut (PTAL), yang memang dikhususkan untuk satuan antiteror walau mereka juga bisa dioperasikan di mana saja, terutama antiteror aspek laut.
Denjaka memiliki tugas pokok membina kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan klandestin (operasi rahasia) aspek laut.
Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Satuan khusus itu dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara.
Prajurit Denjaka dituntut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Di samping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.
Aktivitas Denjaka bersifat rahasia dan sangat jarang dipublikasikan. Tapi mereka dikenal sangat tangguh di medan operasi. Kemampuan Denjaka tak hanya dapat bertempur, tapi juga berperan sebagai satuan intelijen tempur yang andal.
Denjaka mampu bertempur di darat, laut, udara dan bawah permukaaan air. Mereka juga memiliki keterampilan yang dimiliki pasukan Kopaska dan Linud (setingkat Parako) untuk menjalankan misinya di TNI. Ada yang menganggap kemampuan satu pasukan Denjaka setara dengan sepuluh prajurit TNI biasa.
Setiap prajurit Denjaka memiliki kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara.
Selain itu juga menguasai taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik operasi klandestin aspek laut.
Personel Denjaka juga menguasai pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.
Taifib
Batalyon Intai Amfibi atau disingkat Yontaifib adalah satuan elite dalam Korps Marinir seperti Kopassus dalam jajaran TNI Angkatan Darat. Satuan ini dahulu dikenal dengan nama KIPAM (Komando Intai Para Amfibi).
Untuk menjadi anggota Yontaifib, calon diseleksi dari prajurit marinir yang memenuhi persyaratan mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif minimal dua tahun. Salah satu program latihan bagi siswa pendidikan intai amfibi adalah berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sejauh tiga kilometer.
Dari satuan ini kemudian direkrut lagi prajurit terbaik untuk masuk ke Detasemen Jala Mengkara, pasukan elite TNI Angkatan Laut.
Yontaifib mempunyai tugas pokok membina dan menyediakan kekuatan serta membina kemampuan unsur-unsur amfibi maupun pengintaian darat serta tugas-tugas operasi khusus dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, operasi oleh satuan tugas TNI Angkatan Laut atau tugas-tugas operasi lainnya.
Personel Taifib mempunyai kemampuan melaksanakan tugas secara sendiri dari induk pasukan. Artinya, seorang prajurit Taifib mampu melaksanakan survival secara tim maupun perorangan, mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan mampu mengatasi tekanan mental di daerah penugasan.
Setiap Taifib juga memiliki kemampuan infiltrasi dan eksfiltrasi ke atau dari daerah musuh melalui media, antara lain, berenang, menyelam, serta salah satu kemampuan bawah air atau combat swimmer melalui peluncur torpedo kapal selam.
Kopaska
Komando Pasukan Katak (Kopaska) dibentuk oleh Presiden Sukarno untuk mendukung kampanye militer di Irian Jaya (kini Papua) 31 Maret 1962.
Setiap personel Kopaska memiliki kemampuan peledakan/demolisi bawah air termasuk sabotase/penyerangan rahasia ke kapal lawan dan sabotase pangkalan musuh. Mereka juga bisa melakukan penghancuran instalasi bawah air, pengintaian, mempersiapkan pantai pendaratan untuk operasi amfibi yang lebih besar serta antiteror di laut.
Kopaska diperkirakan berjumlah 300 personel. Tapi data itu tidak valid karena Kopaska mempunyai tingkat kerahasian yang tinggi dalam hal personel dan operasi). Kopaska ada dua grup, yaitu satu grup di Armada Barat di Jakarta, dan satu grup di Armada Timur di Surabaya.
Pendidikan awal Kopaska adalah indoktrinasi dan gemblengan fisik. Keahlian utama Kopaska adalah menyelam dan bertempur di bawah air. Kemampuan bawah air inilah kesaktian utama para manusia katak. Sesuai namanya, Kopaska adalah biang segala metode pertempuran yang berunsur air.
Semua pasukan khusus Angkatab Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang mendalami ilmu tempur bawah air pasti akan berurusan dengan Kopaska.
Untuk menjadi anggota pasukan katak, harus mempunyai kemampuan di atas rata–rata dan bisa bergerak secara individual. Standard yang tinggi, pengalaman bertugas di kapal perang dan inteligensia di atas rata–rata adalah syarat mutlak seorang prajurit Kopaska.
Rentang penugasan Kopaska cukup panjang. Dimulai tahun 1962, operasi infiltrasi, sabotase, pengamanan KRI, operasi tempur bawah air dan mempersiapkan daerah pendaratan, hingga menjebol kapal induk Belanda Karel Doorman dengan torpedo berjiwa. Segelintir pasukan katak jemput bola di terusan Suez dan terusan Panama untuk menghancurkan Karel Doorman.
Di masa Dwikora, Kopaska ditugasi menyusup ke Singapura untuk menghancurkan beberapa target penting. Bahkan operasi pembersihan ranjau yang harus dilakoni Kopaska adalah dari Sabang sampai Sulawesi.
Kopaska punya slogan: “Kopaska tidak takut salah, tidak takut kalah, tidak takut jatuh, tidak takut mati. Takut mati, mati saja".
BSG
Basarnas Special Group (BSG) adalah semacam pasukan khusus/elite yang dimiliki Badan SAR Nasional (Basarnas). Mereka adalah personel-personel terpilih yang dilatih khusus untuk kemampuan search and rescue.
Mereka juga dilatih keterampilan terjun payung seperti militer sehingga mampu menjalankan tugas di medan sulit yang hanya bisa dijangkau dengan teknik terjun payung. Personel BSG bisa lebih cepat dan tanggap dalam melakukan upaya pertolongan korban bencana alam atau kecelakaan.
BSG merupakan pasukan khusus Basarnas yang siap bereaksi cepat. Mereka segera menindaklanjuti panggilan telepon darurat di nomor 115.
Kemampuan dan kualifikasi mereka di atas rata-rata dan siap membantu korban di lokasi bencana di darat, laut dan udara. BSG terdiri 60 personel. Mereka diambil dari anggota pilihan di setiap kantor SAR di daerah dan dididik khusus dengan kemampuan lebih.
BSG dibentuk sejak kasus jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Jawa Barat, pada 2012. Bermula dari medan pencarian yang berat, minim biaya dan sumber daya muncul ide membentuk BSG. Tim ini seperti Kopassus milik TNI Angkatan Darat, Kopaskhas milik TNI Angkatan Laut, atau Kopaska milik TNI Angkatan Laut, yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk bisa menolong korban dengan hasil maksimal dan biaya minimal.
♆ Vivanews

Posted in: BNPP,Hankam,OMSP,TNI AL
