Loading Website
Tampilkan postingan dengan label OMSP. Tampilkan semua postingan

[RIP] Pesawat Trigana Air Diketemukan Hancur

Delapan pesawat siap dikerahkan evakuasi korban Trigana Ilustrasi Trigana Air (detik) ☠

Sebanyak delapan pesawat kini siap dikerahkan untuk mengevakui korban pesawat Trigana yang jatuh di Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Komandan Lanud Jayapura Kol (Pnb) I Made Susila Adyana kepada Antara, Selasa mengatakan, kedelapan pesawat dari berbagai jenis itu selain siap di bandara Sentani juga ada yang di Oksibil.

Pesawat yang disiapkan itu jenis Philatus milik Susi Air, Twin Otter dan ATR milik Trigana, Caravan milik AMA, Heli Bell milik Airfast dan helikopter MI milik TNI AD.

Dari bandara Sentani, pagi ini akan diterbangkan pesawat ATR Trigana guna mengangkut logistik, kata Kol Pnb Adyana seraya menambahkan, helikopter Airfast sudah berada di Oksibil.

"Mudah-mudahan cuaca bersahabat sehingga evakuasi dapat segera dilakukan," ucap Dan Lanud Jayapura Kol (pnb) Adyana.

Sementara itu Kapolres Pegunungan Bintang Akbp Yunus Wally secara terpisah mengakui, saat ini tim SAR baik udara maupun darat sudah bergerak.

Bahkan helikopter Airfast sudah menerbangkan tim SAR ke Oksob untuk mempersiapkan helipad guna memudahkan proses evakuasi, kata AKBP Wally.SAR temukan 20 jenazah korban kecelakaan Trigana Kerabat penumpang pesawat Trigana Air berjalan keluar dari kantor pusat Trigana Air di Jakarta, Minggu (16/8). Kementerian Perhubungan menyatakan berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pesawat dengan rute Jayapura-Oksibil yang membawa lima orang awak serta 49 penumpang tersebut menabrak gunung di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) ☠

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo menyatakan hingga pukul 11.05 WIT tim penyelamat sudah menemukan 20 jenazah korban kecelakaan pesawat Trigana Air.

"Informasi terkini, 20 jenazah telah ditemukan tim SAR dan masyarakat, dalam keadaan utuh dan terbakar," katanya di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa.

Ke-20 jenazah korban yang sudah ditemukan selanjutnya akan dievakuasi ke Jayapura. Jenazah korban akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Distrik Abepura, Kota Jayapura untuk diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identifications (DVI).

"Tim SAR di sana sedang menyiapkan segala sesuatu untuk proses evakuasi ke Jayapura. Kami juga telah telah menyiapkan RS Bhayangkara untuk digelarnya proses identifikasi," katanya.

"Kita juga siapkan tim DVI di Jayapura untuk proses identifikasi. Semoga evakuasi hari ini berjalan aman dan lancar," katanya.

Kepala Badan SAR Nasionalmengatakan pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 yang hilang kontak Minggu (16/8) ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.SAR darat tiba di lokasi pesawat Trigana Helikopter Evakuasi Korban Trigana Sebuah helikopter milik TNI Angkatan Udara bersiap melakukan evakuasi di Base Operasi Lanud Jayapura, Papua, Senin (17/8). Helikopter tersebut rencananya akan dipakai untuk mengevakuasi korban jatuhnya Trigana. (ANTARA FOTO/Lucky R) ☠

Kepala SAR Jayapura, Ludianto menyatakan, saat ini tim SAR yang menempuh jalan darat sudah tiba di lokasi jatuhnya pesawat Trigana di Oksob.

"Tim SAR yang tiba di lokasi berasal dari paskhas TNI AU sudah di lokasi, sedangkan yang lainnya menyusul di belakang," kata Ludianto, di Jayapura, Selasa.

Dia menjelaskan, selain anggota paskhas, tim SAR udara juga sudah berhasil mendekati lokasi dan sedang mempersiapkan tempat pendaratan heli atau helipad.

Jenazah korban pesawat jatuh itu, akan dibawa ke Oksibil dan selanjutnya ke Jayapura. Saat ini tercatat 20 orang korban sudah ditemukan.

Kondisi pesawat dilaporkan hancur dan berada di lereng gunung.Pesawat Trigana ditemukan dalam keadaan hancur Lokasi Trigana Air Jatuh (Reuters) ☠

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo pada Selasa mengatakan pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 yang hilang kontak Minggu (16/8) ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

"Saat ini kami fokus pada proses evakuasi korban, juga mencari black box dan serpihan pesawat yang bisa diperiksa dan membantu proses pencarian," katanya di Jayapura, Selasa.

Menurut dia hingga pukul 11.05 WIT tim SAR yang ada di daerah operasi sudah berhasil menemukan 20 jenazah korban di lokasi jatuhnya pesawat.

"Sampai saat ini belum ditemukan adanya penumpang yang selamat," katanya.

Dia berharap evakuasi bisa berjalan lancar di tengah cuaca yang kurang bersahabat.

Jenazah korban yang sudah ditemukan selanjutnya akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Jayapura untuk diidentifikasi.

Pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 dengan rute Jayapura-Oksibil yang lepas landas dari Bandara Sentani pukul 14.22 WIT hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua, Minggu (16/8).

Pesawat yang diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT itu terakhir melakukan kontak dengan menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT. 38 jenazah korban kecelakaan Trigana sudah ditemukan Kepala Badan SAR Nasional FH Bambang Soelistyo saat berdialog dengan keluarga korban kecelakaan pesawat Trigana Air di halaman kantor Dirjen Perhubungan Udara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (17/8).(ANTARA FOTO/Lucky R) ☠

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal FH Bambang Soelistyo menyatakan tim sudah menemukan 18 jenazah lagi sehingga total 38 jenazah korban kecelakaan pesawat Trigana Air sudah ditemukan pada Selasa pukul 11.37 WIT.

"Perinciannya 37 dewasa dan satu bayi, ditemukan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat," katanya di hadapan keluarga korban di Bandara Udara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa.

Tim SAR sedang menyiapkan berbagai keperluan untuk mengevakuasi jenazah korban ke Jayapura. Rencananya jenazah korban akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diidentifikasi.

"Kita juga siapkan tim DVI di Jayapura untuk proses identifikasi. Semoga evakuasi hari ini berjalan aman dan lancar," katanya.

Pesawat Trigana Air PK-YRN nomor penerbangan IL-267 rute Jayapura-Oksibil yang lepas landas dari Bandara Sentani pada Minggu (16/8) pukul 14.22 WIT hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua.

Pesawat yang diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT itu terakhir melakukan kontak dengan menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT.

Kepala Badan SAR Nasional mengatakan pesawat itu ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

  ☠ antara

Posted in: BNPP,OMSP,TNI

#Tag : BNPP OMSP TNI

[RIP] 54 Jenazah Korban Trigana Ditemukan

Dalam Kondisi Tak Utuh Lokasi jatuhnya pesawat Trigana Air [Viva] ☠

Tim SAR telah menemukan 54 jenazah korban jatuhnya Trigana Air. Korban ditemukan dalam keadaan tidak utuh.

"Sekarang pukul 12.44 WIT upaya evakuasi korban sudah ditemukan total 54 jenazah. Kondisi tidak utuh," ujar Kabasarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo kepada wartawan di Base Ops Lanud Jayapura, Selasa (18/8/2015).

Menurut Soelitsyo, 54 korban yang ditemukan termasuk kru dan penumpang. "Kesimpulannya kru dan penumpang ditemukan semua," katanya.

Puing pesawat Trigana Air ditemukan di wilayah Okbape, 14 km dari bandara Oksibil.

Pesawat Trigana Air ATR 42 dengan nomor penerbangan PK-YRN itu lepas landas dari Bandara Sentani Jayapura pukul 14.22 WIT dengan waktu tiba diperkirakan di Oksibil 15.04 WIT Minggu (16/8/2015). Pesawat mengangkut 49 penumpang dengan 5 awak pesawat. Pesawat itu dilaporkan hilang kontak sejak pukul 15.00 WIT pada Minggu (16/8/2015). (nwy/nrl)Menhub Sampaikan Belasungkawa untuk Keluarga Kabasarnas (Wilpret Siagian) ☠

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban pesawat Trigana Air IL 267. Saat ini Tim SAR tengah menyiapkan evakuasi 54 jenazah dari lokasi kecelakaan ke Bandara Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua.

"Atas nama pemerintah saya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para korban kecelakaan Trigana IL 267 dan semoga dikuatkan oleh Tuhan yang Maha Esa," kata Menhub Jonan dalam pesan singkatnya, Selasa (18/8/2015).

Selain itu Jonan menyampaikan terima kasih terhadap tim gabungan SAR yang berhasil menemukan jenazah korban.

"Saya juga menghaturkan terima kasih atas kepemimpinan Kabasarnas untuk kooordinasi bersama TNI dan Polri serta tim Kemenhub, khususnya kepemimpinan tim gabungan SAR yaitu Kol Sugiyono Danrem 172 yang telah menemukan seluruh 54 jenazah korban. Salut buat Tim SAR dan kerjasama semua pihak pencarian di lokasi," ujarnya.

Proses pencarian di jalur darat memang tidak mudah. Tim SAR gabungan harus bermalam di wilayah pegunungan dengan hutan yang lebat.

Tim akhirnya bisa menembus ke lokasi setelah mendapat petunjuk visual dari tim pencari udara yang kemudian ditentukan titik koordinat lokasi puing pesawat.

Terkait penemuan jenazah, Disaster Victim Identification (DVI) Polri mengirimkan tiga orang dalam penanganan korban Trigana Air yang jatuh di Distrik Okbape, Pegunungan Bintang, Papua.

Sementara untuk antemortem dan postmortem, tim DVI melakukan identifikasi di Jayapura guna memudahkan keluarga korban untuk memberikan data korban. (fdn/nrl)Black Box Trigana Juga Sudah Ditemukan Menhub Jonan (Herianto Batubara) ☠

Kurang dari 48 jam sejak peristiwa jatuhnya Trigana Air di Okbape, Papua, tim gabungan telah berhasil mendapatkan seluruh jenazah yang ada di pesawat itu. Kotak hitam juga sudah ditemukan.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada tim karena telah menemukan seluruh 54 jenasah korban dan black box dalam kurun waktu kurang dari 48 jam sejak kecelakaan terjadi," kata Jonan, Selasa (18/8/2015).

Tim pencari tersebut terdiri dari unsur Basarnas, TNI dan Polri serta tim dari Kemenhub. Tim gabungan SAR dipimpin Kol Sugiyono dari Danrem 172.

"Atas nama Pemerintah saya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga para korban kecelakaan Trigana IL 267 dan semoga dikuatkan oleh Tuhan yang Maha Esa," ujar Jonan.

Mayoritas kondisi jenazah tidak utuh. Jenazah-jenazah itu akan dibawa ke Jayapura melalui Oksibil. Khusus untuk yang warga Oksibil, akan langsung dibawa oleh pihak keluarga. (dnl/faj)Cara Basarnas Bawa 54 Jenazah Trigana Air dari Hutan Belantara (REUTERS/Handout via Basarnas) ☠

Sebanyak 54 orang jenazah kru dan penumpang pesawat Trigana Air telah ditemukan tim SAR gabungan. Semua jenazah akan dievakuasi dari lokasi untuk diidentifikasi.

"Opsinya dievakuasi bisa dengan jalan darat, bisa dengan helipad, bisa dengan jaring atau net. Dari 3 ini perkiraan saya net yang paling memungkinkan dan cepat," kata Kepala Basarnas Marsdya FHB Soelistyo kepada wartawan di Base Ops Lanud Jayapura, Selasa (18/8/2015).

Dijelaskan Soelistyo, akan susah jika semua jenazah dibawa melalui jalan darat. Helipad pun tak bisa dibuat di lokasi karena hutannya sangat lebat, dan permukaannya miring.

"Makanya kemungkinan besar kita putuskan dengan net. Jadi jenazah itu dimasukkan semua di net, dihoisting, masuk ke heli dan dibawa," jelas Soelistyo yang menggunakan seragam dinas Basarnas.

"Kita berharap semua (jenazah) sore ini bisa diangkat, atau paling lambat besok," sambung Soelistyo. Ditambahkan dia, tim SAR gabungan hingga kini masih berupaya mencari kotak hitam.

Puing pesawat Trigana Air ditemukan di wilayah Okbape, sekitar 14 km dari bandara Oksibil. 54 orang jenazah yang ditemukan sudah dalam kondisi tidak utuh, dan pesawat pun hancur berantakan menjadi puing-puing.

Pesawat Trigana Air ATR 42 dengan nomor penerbangan PK-YRN itu lepas landas dari Bandara Sentani Jayapura pukul 14.22 WIT dengan waktu tiba diperkirakan di Oksibil 15.04 WIT Minggu (16/8/2015). Pesawat mengangkut 49 penumpang dengan 5 awak pesawat. Pesawat itu dilaporkan hilang kontak sejak pukul 15.00 WIT pada Minggu (16/8/2015). (hri/faj)

  ☠ detik

Posted in: BNPP,OMSP,TNI

#Tag : BNPP OMSP TNI

Kisah Seputar Evakuasi korban Trigana

Evakuasi korban Trigana tertunda karena cuaca Sebuah helikopter milik TNI Angkatan Udara bersiap melakukan evakuasi di Base Operasi Lanud Jayapura, Papua, Senin (17/8). Helikopter tersebut rencananya akan dipakai untuk mengevakuasi korban jatuhnya Trigana. (ANTARA FOTO/Lucky R) ○

Rencana evakuasi 54 jenasah korban jatuhnya pesawat Trigana hingga kini masih tertunda akibat cuaca yang tidak bersahabat, baik di Oksibil maupun di lokasi di kawasan Oksob.

Komandan Lanud Jayapura Kolonel (Pnb) I Made Susila Adyana kepada Antara di Jayapura, Rabu mengatakan akibat cuaca buruk itu hingga saat ini belum ada pergerakan dari Lanud Jayapura.

"Awan tebal dilaporkan masih menyelimuti Oksibil dan sekitarnya," ujar Adyana seraya menambahkan pesawat twin otter yang dijadwalkan ke Oksibil masih berada di Sentani.

Diakui, faktor cuaca memang menghambat proses evakuasi, termasuk evakuasi korban yang hingga kini masih berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat di Pegunungan Oksob.

Ke-54 jenazah sudah dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan siap dievakuasi ke Oksibil kemudian dilanjutkan ke Jayapura, kata Adyana.

Sementara itu Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Yunus Wally secara terpisah kepada Antara, mengakui awan tebal dan kabut masih menyelimuti wilayah Oksibil dan sekitarnya.

Tim SAR belum bergerak dan masih menunggu cuaca terang baru melakukan evakuasi dengan menggunakan pesawat helikopter Bell milik Airfast.

Saat ini di Oksibil terdapat dua helikopter yang siap melakukan evakuasi, yakni heli Bell 212 Airfast dan heli MI milik TNI AD.

"Mudah-mudahan cuaca cepat cerah sehingga evakuasi dapat segera dilaksanakan," kata Wally. Jarak pandang 50 m hambat evakuasi korban Trigana Orang tua korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN Matius menunjukkan foto anaknya Eki Kimki yang menjadi penumpang pesawat nahas tersebut di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). Tim SAR gabungan dan masyarakat pada hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 12.42 WIT telah menemukan lokasi kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN serta 54 jenazah korban di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ○

Hujan sejak pagi dan jarak pandang yang hanya sekitar 50 meter membuat tim gabungan hingga kini belum bisa lakukan evakuasi korban pesawat Trigana yang jatuh di Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.

"Evakuasi lewat udara secara umum belum bisa dilakukan karena hujan," kata Komandan Korem 172/PWY Kolonel Sugiono ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Rabu.

Menurut dia, jarak pandang yang hanya bisa mencapai 50 meter juga menyebabkan evakuasi lewat udara sementara ini belum bisa dilakukan.

"Kalau di lokasi, di Oksob cuaca sudah agak terang, hanya di Oksibil saja yang belum," katanya.

Namun, lanjut Sugiono yang pertama kali bertugas militer di Korem 172/PWY pada 1990 itu mengatakan tim evakuasi tetap siaga menunggu cuaca memungkinkan untuk melakukan pengangkutan para korban pesawat Trigana Air yang jatuh pada Minggu (16/8) sore.

"Personil gabungan sudah siap, kami hanya menunggu cuaca baik dan memungkin untuk terbang," katanya.

Sebelumnya, Ka Basarnas Marsekal Madya FH Bambang Sulistyo mengatakan 54 korban pesawat Trigana Air masih ada disekitar pegunungan Oksob karena terhambat cuaca yang tidak bersahabat.Posindo jemput sisa uang terbakar di Oksibil Tim SAR dari unsur TNI dan Warga menunjukkan puing serpihan pesawat Trigana Air PK-YRN di kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (17/8). (ANTARA FOTO/Kila/pras) ○

Manajemen PT Pos Indonesia (Posindo) Regional XI Papua mengutus perwakilan ke Bandara Oksibil, untuk menjemput sisa uang terbakar dalam kecelakaan pesawat Trigana Air di Pegunungan Bintang.

"Kami dapat informasi uang tersebut akan diserahkan oleh pihak SAR gabungan di Bandara Oksibil, siang ini, sehingga kami utus perwakilan ke sana," kata Kepala PT Posindo Regional XI Papua Agus Budi Satriyo, di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu.

Ia mengatakan, meskipun uang miliaran rupiah yang diangkut Trigana Air itu ditemukan tim SAR gabungan dalam kondisi terbakar, uang tersebut harus tetap diambil sebagai barang bukti.

Menurut kabar, umumnya uang tersebut tidak lagi utuh atau telah terbakar pada bagian tertentu.

"Kami tidak mengejar uang itu sesuai nilainya, karena musibah dan sudah ada proteksi asuransi, tapi memang harus diambil sesuai kondisi yang ada," ujar Agus.

Sebanyak empat orang pegawai Posindo Papua ikut menumpangi Trigana Air IL 267 rute Jayapura-Oksibil pada Minggu (16/8) siang. Keempat orang itu masing-masing membawa tas berisi uang, yang totalnya mencapai Rp 6,5 miliar lebih.

Empat orang pegawai Posindo itu yakni Agustinus Wanmase asal Ambon, Teguh Warisman Sane asal Palu, Sulawesi Tengah (manajer pelayanan), Yustinus Hurulean asal Papua dan Mateos Nikolas Aragae asal Papua (manager mutu).

Mereka memangku tas tersebut saat duduk di kursi dalam kabin pesawat.

Pesawat itu kemudian mengalami musibah menabrak Gunung Tangok yang berada di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan meledak, hingga seluruh awak dan penumpang yang berjumlah 54 orang tewas.

Uang miliaran rupiah yang sedianya akan digunakan untuk membayar dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) untuk 10.000 lebih rumah tangga sasaran di Kabupaten Pegunungan Bintang, ikut terbakar meskipun masih ada yang tersisa.

"Sebenarnya sesuai hasil koordinasi dengan bupati setempat, dana PSKS itu akan dibagikan usai upacara HUT RI tanggal 17 Agustus 2015, tapi musibah terjadi," ujar Agus yang didampingi pegawai Posindo Papua lainnya.

Dengan demikian. Posindo akan menjadwalkan ulang pendistribusian dana PSKS di Kabupaten Pegunungan Bintang, beberapa pekan ke depan.

Sedangkan empat jenazah korban Trigana Air yang tercatat sebagai pegawai Posindo akan dimakamkan di lokasi sesuai daerah asalnya.Empat jenazah korban Trigana dipikul selama lima jam Menunggu Evakuasi Korban Trigana Air. Keluarga korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN membaca berita terkait pesawat naas tersebut di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). Tim SAR gabungan dan masyarakat pada hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 12.42 WIT telah menemukan 54 jenazah korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu/pras) ○

Empat jenazah korban pesawat Trigana, saat ini dievakuassi melalui darat dengan cara dipikul secara bergantian oleh masyarakat yang ikut dalam tim pencarian dari Oksob ke Oksibil.

Perjalanan ini memerlukan waktu tempuh sekitar sekitar lima jam perjalanan.

Sebelumnya Pemerintah Provinsi Papua telah menyiapkan 24 ambulans untuk mengevakuasi korban pesawat Trigana Air yang jatuh di Kabupaten Pegunungan Bintang.

"Pada Selasa malam, kami sudah siagakan 24 mobil ambulans keliling di Bandara Sentani, untuk mengevakuasi jenazah korban pesawat Trigana," kata Kepala Dinas Kesehatan Papua drg Aloysius Giyai, di Jayapura, Rabu.

Dia mengatakan 24 mobil ambulans itu dikoordinir langsung oleh tim pusat krisis (crisis center) Dinas Kesehatan Papua.

Dinas Kesehatan Papua menyediakan ambulans itu dari berbagai rumah sakit yang ada di Jayapura, "Di antaranya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura tiga mobil ambulans, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebanyak lima mobil ambulans dan dari rumah sakit swasta di Jayapura," ujarnya.

Selain itu, RS Bhayakara Jayapura dan Basarnas juga menyiapkan mobil ambulan sehingga jumlah totalnya sebanyak 24 mobil ambulans.

"Saya punya staf dalam tim crisis center yang telah siap 24 jam di Bandara Sentani untuk evakuasi korban, dan mereka rutin memberikan informasi terkini menyangkut kondisi korban ke saya selaku kepala Dinas Kesehatan Papua," ujarnya.

Mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abepura ini menambahkan, peralatan kesehatan penunjang lainnya untuk evakuasi korban seperti hanskul dan lainnya juga sudah siap dan aman.Tim siapkan tiga opsi evakuasi korban Trigana Anggota TNI dari Yonif 133 Sertu Agus Harahap membawa Kotak Hitam (Black Box) pesawat Trigana yang ditemukan di lokasi kecelakaan di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Selasa (18/8). (ANTARA FOTO/Pendam Cenderawasih/pras) ○

Tim gabungan menyiapkan tiga opsi evakuasi korban kecelakaan pesawat Trigana Air dari lokasi jatuhnya pesawat di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, guna mengantisipasi cuaca yang sedang kurang bersahabat di wilayah Papua.

"Ada tiga opsi atau pilihan yang akan kami gunakan untuk mengangkut korban (kecelakaan) pesawat Trigana dari lokasi terdekat ke Oksibil," kata Komandan Resort Militer 172/PWY Kolonel Sugiono ketika dihubungi dari Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu.

Opsi pertama, ia menjelaskan, jenazah ke-54 korban akan dievakuasi langsung lewat jalur udara ke lokasi terdekat.

"Kedua, para korban dibawa lewat jalan darat ke lokasi terdekat, lalu gunakan helikopter. Atau opsi terakhir, semuanya lewat darat, dibawa ke lokasi terdekat lalu gunakan kendaraan ke Oksibil," katanya.

Suami Dewi Sinta Setyawati itu mengatakan sekarang cuaca masih kurang bersahabat sehingga belum memungkinkan untuk evakuasi langsung.

"Hingga kini cuaca belum memungkinkan untuk evakuasi secara langsung, makanya kami buat tiga opsi untuk pengangkutan ke Oksibil," katanya.

"Sekarang juga sudah ada masyarakat yang jalan darat angkut korban, diperkirakan sore baru tiba di Oksibil," kata mantan Komandan Resimen Induk Daerah Militer Aceh itu.

Sementara mengenai kotak hitam pesawat yang sudah ditemukan kemarin, alumni Akabri tahun 1989 itu menjelaskan, masih ada di Papua.

"Nanti saya serahkan dulu ke Ka Basarnas, lalu dari Ka Basarnas diserahkan kepada tim KNKT," tambah dia.

Pesawat Trigana Air PK-YRN nomor penerbangan IL-267 rute Jayapura-Oksibil yang lepas landas dari Bandara Sentani pada Minggu (16/8) pukul 14.22 WIT hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua.

Pesawat yang diperkirakan tiba di Oksibil pukul 15.04 WIT itu terakhir melakukan kontak dengan menara Oksibil pada pukul 14.55 WIT.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal FH Bambang Soelistyo, Selasa (18/8) mengatakan pesawat itu ditemukan dalam keadaan hancur dan terbakar di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.Tim DVI berhasil identifikasi 48 sampel DNA korban pesawat Trigana Menunggu Evakuasi Korban Trigana Air Keluarga korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN menunggu di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). Tim SAR gabungan dan masyarakat pada hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 12.42 WIT telah menemukan lokasi kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN serta 54 jenazah korban di Kampung Oksob, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ○

Tim DVI Polda Papua telah berhasil mengidentifikasi 48 sampel DNA korban pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-257 yang jatuh di Kampung Atenok, Distrik Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Ketua Tim DVI Polda Papua dr. Ramon Amiman, di Jayapura, Rabu, mengatakan ke-48 sampel DNA ini diambil di Jayapura oleh petugas posko di Rumah Sakit Bhayangkara.

"Petugas kami di Oksibil juga sudah melakukan identifikasi 21 sampel DNA sehingga nantinya akan dicocokkan dengan sampel di Jayapura," katanya.

Menurut Ramon, persiapan baik tempat maupun tenaga sudah siap, namun di Oksibil belum memungkinkan untuk dilakukan evakuasi.

"Nantinya jenazah dari lokasi jatuhnya pesawat akan dibawa ke Oksibil untuk dilakukan pemeriksaan dan selanjutnya akan diturunkan ke Jayapura," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa ia telah menyiapkan tim dokter yang terdiri dari dua ahli forensik, enam dokter umum, satu ahli DNA, dua dokter gigi forensik dan paramedis.

"Sedangkan untuk posko tim identifikasi, satu dibangun di bandara dan satu lainnya di Rumah Sakit Bhayangkara," katanya lagi.

Dia menambahkan khusus untuk posko di Rumah Sakit Bhayangkara, dari 48 sampel DNA yang diambil, tinggal enam keluarga yang belum melaporkan diri.

"Keenam keluarga tersebut terdiri dari tiga penumpang dan tiga kru pesawat, dimana hingga kini masih belum ada yang melapor," ujarnya lagi.

Pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-257 hilang kontak di sekitar wilayah Oksibil, Papua.

Pesawat hilang saat hendak menempuh rute Jayapura (DJJ)-Oksibil (OKS). Pesawat nahas itu lepas landas dari Bandara Sentani pukul 14.22 WIT, dengan estimasi tiba pada pukul 15.04 WIT.

Pukul 14.55 pesawat tersebut melakukan kontak dengan menara Oksibil, ternyata kontak tersebut merupakan kontak terakhir, setelah pada pukul 15.00 tidak ada jawaban dari pesawat tersebut.

Penumpang dalam pesawat tersebut berjumlah 49 orang ditambah dengan lima kru pesawat. Semua penumpang dinyatakan meninggal dunia.Evakuasi korban Trigana lewat udara kembali terkendala cuaca buruk Kru pesawat CN 212 TNI Angkatan Laut mengecek kondisi pesawat yang disiagakan untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat Trigana Air PK-YRN di crisis center kompleks Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/8). (ANTARA FOTO/Andika Wahyu) ○

Evakuasi korban pesawat Trigana PK-YRN dengan nomor penerbangan IL-267 di Kampung Atenok, Distrik Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua kembali terkendala cuaca buruk.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Teguh Pudji Raharjo di Jayapura, Rabu mengatakan ada tiga opsi untuk evakuasi para korban.

"Opsi pertama adalah evakuasi melalui udara, jadi dari lokasi jatuhnya pesawat diangkat menggunakan helikopter ke Oksibil," katanya.

Menurut Kapendam, opsi kedua jalan darat di mana evakuasi akan menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian, kemudian sampai di tempat yang memungkinkan baru diangkut helikopter ke Oksibil.

"Opsi ketiga adalah murni evakuasi menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian ke Oksibil, baru selanjutnya diterbangkan ke Jayapura," ujarnya.

Dia menjelaskan opsi pertama bisa dilakukan jika cuaca memungkinkan atau mendukung, tetapi saat ini kondisi belum memungkinkan untuk melaksanakan evakuasi menggunakan helikopter.

"Oleh karena itu, hingga kini kami masih menggunakan opsi ketiga yaitu murni menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian menuju ke Oksibil," katanya lagi.

Dia menambahkan berdasarkan laporan Komandan Kodim 1702 Jayawijaya, sebelum pukul 12.00 WIT sudah ada empat jenazah yang diberangkatkan ke Oksibil menggunakan jalan darat.

"Setelah pukul 12.00 WIT kembali diberangkatkan dua jenazah lainnya ke Oksibil menggunakan jalan darat, jadi totalnya sudah enam jenazah dalam perjalanan ke Oksibil," ujarnya lagi.

  ★ Antara

Posted in: Artikel,BNPP,OMSP,TNI

#Tag : Artikel BNPP OMSP TNI

Tantangan berat tim SAR evakuasi korban Trigana Air di hutan Papua

Tidak mudah bagi tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban jatuhnya pesawat Trigana Air di Gunung Tangok Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Selain terkendala cuaca, juga terkendala kondisi hutan yang hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Tim SAR berupaya mengevakuasi jenazah menggunakan helikopter Bell 212 Airfast dan MI milik TNI AD. Tetapi usaha ini tidak sampai ke titik penjemputan lantaran kehadang kabut tebal di sekitar lokasi.

"Awan tebal dilaporkan masih menyelimuti Oksibil dan sekitarnya," kata Komandan Lanud Jayapura Kolonel (Pnb) I Made Susila Adyana, Rabu (19/8).

Padahal tim sudah mempersiapkan rencana matang evakuasi menggunakan jalur udara. Kepala Badan Search And Rescue Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya FH Bambang Sulistyo mengungkapkan, evakuasi 54 jenazah yang telah ditemukan akan dilakukan dengan sistem jaring.

"Evakuasi besok itu (Rabu) akan dilakukan dengan cara sistem jala 'netting' gabung dengan sistem 'hoist', karena itu saya pikir yang paling efektif," kata Bambang terpisah.

Karena jalur udara tidak memungkinkan, maka tim SAR gabungan memutuskan mengevakuasi jenazah melalui jalur darat. Evakuasi pun dilakukan secara bertahap, mengingat medan yang berat.

Seperti yang terjadi kemarin, tim SAR mengevakuasi 22 jenazah menuju Distrik Oksibil. Tim harus berjalan sejauh lima jam sambil memanggul kantong jenazah.

"Evakuasi terpaksa dilakukan lewat darat dengan berjalan kaki sekitar lima jam," kata Kapolres Pegunungan Bintang Akbp Yunus Wally.

Dari 22 jenazah yang berhasil dievakuasi, empat di antaranya diterbangkan menuju Jayapura dengan menggunakan pesawat ATR 42 Trigana. Tiba Rabu sore, jenazah segera dimasukkan ke gedung Sekretariat Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara. Sedangkan jenazah yang lain saat ini masih berada di RSUD Oksibil.

Selama prose evakuasi, tim SAR gabungan memakai tiga opsi. Pertama evakuasi melalui udara, jadi dari lokasi jatuhnya pesawat diangkat menggunakan helikopter ke Oksibil.

Kedua jalan darat, di mana evakuasi akan menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian, kemudian sampai di tempat yang memungkinkan baru diangkut helikopter ke Oksibil.

Dan ketiga murni evakuasi menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian ke Oksibil, baru selanjutnya diterbangkan ke Jayapura.

"Oleh karena itu, hingga kini kami masih menggunakan opsi ketiga yaitu murni menggunakan jalan darat dari lokasi kejadian menuju ke Oksibil," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Teguh Pudji Raharjo.

Sementara itu, agar kondisi jenazah bisa bertahan lama, Pemerintah Provinsi Papua mengirim satu kontainer pendingin ke RS Bhayangkara Jayapura untuk dipakai menyimpan jasad korban. Kontainer pendingin berkapasitas menampung 100 sampai 200 orang.

"Sudah ada kontainer pendingin maka untuk evakuasi dan penampungan korban sudah tidak ada masalah," kata Kabid Dokes Polda Papua, dr Ramon Amiman.

Sebelumnya diberitakan, pesawat ATR 42-300 milik Trigana Air bernomor penerbangan IL267 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (16/8). Setelah dicari, burung besi itu ternyata menabrak dan meledak di Gunung Tangok, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Seluruh penumpang dan kru berjumlah 54 ditemukan tewas. Pesawat itu juga mengangkut uang Program Simpanan Keluarga Sejahtera lebih dari Rp 6,5 miliar.

Hingga saat ini, proses evakuasi masih dilakukan, hanya saja terhambat kondisi cuaca.

  ⚓️ Merdeka

Posted in: Artikel,BNPP,OMSP,TNI

#Tag : Artikel BNPP OMSP TNI

Sekilas Berita AirAsia yang Hilang Kontak

PM Singapura Telepon Presiden Jokowi Tawarkan Bantuan Cari AirAsia Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menelepon Presiden Joko Widodo untuk menawarkan bantuan untuk mencari lokasi pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak. PM Lee juga mengucapkan kesedihan mendalam mendengar kabar tersebut.

"Called Pres @jokowi_do2 to offer help. Two RSAF C-130 search & locate aircrafts are on standby. Our ministers will follow up. - LHL #QZ8501," ucap PM Lee melalui akun twitternya, Minggu (28/12/2014).

"Saddened to hear of missing flight #QZ8501. My thoughts are with the passengers and their families. - LHL," sambung PM Lee.

Presiden Jokowi saat ini sedang berada di Papua. Jokowi telah memerintahkan jajarannya untuk all out mencari keberadaan pesawat berisi 162 orang itu. Jokowi juga berdoa agar pesawat dan isinya selamat.

Sedangkan media Malaysia The Star memberitakan, dua pesawat C130 telah siap dan standby untuk diperbantukan. LHL di akhir cuitan PM Lee berarti dia sendiri yang mencuit kicauan tersebut.

Otoritas Singapura sedang mempersiapkan operasi SAR (search and rescue) untuk mencari pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak. Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) menyebutkan pihaknya telah bersiap dan menawarkan bantuan kepada pihak Indonesia.

Lembaga lainnya yang mendukung upaya pencarian itu termasuk Angkatan Udara dan Laut Singapura. Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Changi Airport Group Crisis Management Centres telah aktif dan siap.

Selain itu disebutkan bahwa ruang tunggu dan seluruh fasilitas pendukung penting telah disiapkan untuk seluruh keluarga dan kerabat dari para penumpang di terminal 2 level 3 di Bandara Changi.

Selain itu, pihak maskapai AirAsia menyebut ada 155 penumpang, 2 orang pilot dan 5 kru kabin yang berada di dalam pesawat tersebut. Disebutkan bahwa terdapat 156 orang berkewarganegaraan Indonesia, lalu 3 WN Korea Selatan, 1 WN Prancis, 1 WN Malaysia, dan 1 WN Singapura. Penumpang dewasa berjenis kelamin laki-laki berjumlah 70, dan penumpang berjenis kelamin perempuan berjumlah 68 orang.

Informasi dari PT Angkasa Pura I, pesawat dipiloti Kapten Iriyanto dengan Kopilot Remi Emmanuel P dan awak kabin yakni Wanti Setiawati, Khairunnisa Haijar, Oscar Desano, Wismoyo Ari Prambudi dan seorang engineer Saiful Rahmat.

Pesawat itu tadinya menyampaikan rencana rute penerbangan dan meminta untuk mengubah rute karena cuaca yang buruk sebelum komunikasi dengan menara ATC hilang kontak.

Pesawat itu sendiri merupakan jenis Airbus A320-200 dengan nomor registrasi PK-AXC. Saat ini, pencarian dan operasi penyelamatan sedang dilakukan di bawah panduan dari Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.Australia Juga Tawarkan Bantuan Cari Pesawat AirAsia QZ8501 Pemerintah mengerahkan kekuatannya untuk mencari Pesawat AirAsia QZ8501‎ rute Surabaya-Singapura yang hilang kontak pukul 06.17 WIB‎. ‎Negara tetangga pun sudah menawarkan bantuan dalam tim pencarian.

"Tadi sudah ditelepon dari PM Singapura, 'Kalau diperbolehkan ingin bantu'," kata Jokowi.

"Australia juga ingin bantu," lanjut Jokowi lagi di Sorong, Papua, Minggu (28/12/2014).

Sebelumnya, Menhub Ignasius Jonan memastikan SAR Singapura akan ikut membantu. Dengan kehadiran Australia, semakin banyak negara-negara tetangga yang ikut membantu pencarian.

Jokowi sendiri sudah memberi instruksi kepada Basarnas, KNKT dan armada TNI-Polri untuk membantu pencarian.‎ Namun hingga kini belum ada titik terang keberadaan pesawat tersebut.Pesawat Intai Hingga Hercules Dikerahkan TNI Untuk Cari AirAsia QZ8501 Presiden Joko Widodo sudah memberi instruksi kepada TNI agar mengerahkan armada perangnya untuk ikut mencari pesawat AirAsia QZ8501‎ rute Surabaya-Singapura yang hilang kontak pukul 06.17 WIB‎. Ini armada TNI yang diturunkan untuk mencari pesawat tersebut.

"Dari TNI AU pesawat intai Boeing, terus Hercules 1, terus Puma 1 yang ada di Pontianak. Terus yang TNI AL ada N235 dengan 1 heli yang biasa nempel dan empat kapal perang," kata Panglima TNI Jend ‎Moeldoko di Sorong, Papua, Minggu (28/12/2014).

Moeldoko mengaku belum mengetahui perkembangan terbaru pencarian pesawat tersebut. Termasuk penyebab pesawat tersebut bisa sampai hilang kontak.

"Pastinya belum ketahuan. Yang diketahui titik kontak terakhirnya. Tapi problem utama yang dihadapi apa belum diketahui," tandas Moeldoko yang terus menemani Jokowi blusukan di Papua.Jokowi Sudah Komunikasi dengan Singapura Hingga Inggris Terkait AirAsia Logo AirAsia menjadi Abu-abu

Seskab Andi Widjajanto memastikan pemerintah Indonesia serius mencari pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang. Presiden Jokowi bahkan sudah berkomunikasi dengan pemerintah negara tetangga.

"Sudah berkomunikasi dengan pemerintah Singapura, Malaysia, Korsel, dan Inggris," kata Seskab Andi Widjajanto dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (28/12/2014).

Menurut Andi, upaya pencarian pesawat berpenumpang 155 orang itu dilakukan secara gabungan. Mulai dari Kementerian, TNI, Polri, Basarnas hingga Bakamla.

"Doa Presiden untuk keselamatan crew dan penumpang QZ 8501," tambahnya.Menhan Singapura Telepon Menhan Ryamizard, Tawarkan Bantuan Menhan Singapura Chan Chung Sing menelepon Menhan Ryamizard Ryacudu terkait dengan hilangnya pesawat AirAsia pukul 11.51 WIB. Sing menawarkan bantuan untuk turut mencari.

Dalam pernyataan tertulis kepada detikcom, Minggu (28/12/2014), Ryamizard menyebutkan bahwa Menhan Sing menyampaikan:

1. Turut prihatin dan bersimpati atas hilangnya kontak dengan Air Asia QZ8501.

2. Singapura menyampaikan bila membutuhkan apapun akan dibantu Singapura.

3. Singapura menyiapkan pesawat C130, kapan pun dibutuhkan oleh Indonesia maka Singapura akan siap membantu.

"Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dari Singapura, bila nanti Indonesia membutuhkan bantuan akan menghubungi pihak Singapura," ujar Ryamizard.

Pesawat AirAsia tersebut berisi 155 penumpang dan 7 kru. Salah satu penumpang merupakan warga Singapura.(nrl/nrl)Dukungan Malaysia Airlines Untuk AirAsia Terkait Pesawat Hilang Maskapai penerbangan dunia ramai-ramai mendoakan agar pesawat AirAsia Airlines QZ 8501 yang hilang bisa segera ditemukan. Salah satunya adalah Malaysia Airlines, yang mengalami dua tragedi mengerikan selama dua tahun terakhir.

"#Staystrong @AirAsia- Our thoughts and prayers are with all family and friends of those on board QZ8501," demikian tulis akun twitter Malaysia Airlines @MAS, Minggu (28/12/2014).

Malaysia Airlines mengalami dua peristiwa yang menarik perhatian dunia. Pertama adalah hilangnya MH370 yang hingga kini belum jelas rimbanya. Satu lagi adalah ditembaknya pesawat MH17 di wilayah Ukraina.

Garuda Indonesia pun demikian. Maskapai penerbangan terbesar di Indonesia itu menyampaikan ucapan dukungan dan doa agar pesawat bisa terlacak.

"Our thought and prayers go to all the passengers, crew and families affected on board the AirAsia flight #QZ8501," demikian twitt dari Garuda Indonesia.Pilot AirAsia Kapten Iriyanto Pernah Jadi Pilot F-16 TNI AU Kapten Iriyanto menjadi pilot dari pesawat AirAsia bernomor penerbangan QZ8501 yang hilang kontak pada pagi ini. Ternyata, Iriyanto merupakan mantan pilot TNI AU yang pernah menerbangkan jet tempur F 16.

"Om Iriyanto adalah mantan penerbang TNI AU yang pensiun dini. Dulu dia menerbangkan pesawat F 16," kata keponakan Iriyanto bernama Doni kepada detikcom, Minggu (28/12/2014).

Istri Doni merupakan kerabat Iriyanto. Doni menyatakan Iriyanto pernah menjadi pilot TNI AU yang bertugas di skuadron di Bandara Iswahyudi, Jawa Timur. Iriyanto lantas mengajukan pensiun dini dan menjadi pilot pesawat komersial.

"Pertama kali masuk maskapai Merpati, kemudian masuk AirAsia," kata Doni yang berusia 32 tahun ini.

Doni tak tahu persis periode masa tugas dan masa kerja Iriyanto, baik di militer maupun di maskapai komersial, Doni memperkirakan Iryanto bersuai 50 tahun.

"Dia pilot senior, jam terbang tinggi," kata Doni.(dnu/van)

  ♆ detik

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgifNaVpYbqlJc5lfrrUOZQLZ4dYmyEQ_2I9teeGqvzFs3__i6LcZIdkukfj2jtta5xN8k4DnTIJR_6X2v6kqIfzrnVXMTpdfRJHUAF19uckVrDVfUMHcfzNhT4Tjgojk__dJS396Gl9a8/s1600/KCR40+Garuda+Militer.gif

Posted in: Breaknews,OMSP

#Tag : Breaknews OMSP

Dilengkapi Sensor Khusus, Kapal Canggih BPPT Ikut Diterjunkan Cari QZ 8501

Pencarian AirAsia Yang Hilang Kontak Kapal Riset BPPT Baruna Jaya IV

Seluruh upaya dikerahkan untuk melakukan pencarian AirAsia QZ 8501 yang hilang di antara Pontianak-Tanjung Pandan. Sebuah kapal canggih milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang memiliki sensor khusus, ikut diterjunkan.

"Yang terhormat Pak Menhub, saya sudah tugaskan Kapal Riset BPPT Baruna Jaya IV untuk bergerak ke perairan Belitung guna ikut operasi search," demikian pesan singkat dari Menko Maritim Indroyono Susilo kepada Menhub Ignasius Jonan, Minggu (28/12/2014).

Kapal Baruna Jaya bukan kapal sembarangan. Dia dilengkapi peralatan sensor multi beam echo sounder dan side scan sonnar.

"Kapal itu sudah berpengalaman menemukan KM Gurita yang tenggelam di Sabang (1996), menemukan Boeing 737 Adam Air yang tenggelam di Selat Makassar (2007) dan menemukan KM Bahuga Jaya di Selat Sunda (2012)," ujar Indroyono.

Malam ini pencarian dihentikan sementara. Mulai Senin pagi besok, pencarian kembali dilakukan. Pusat kendali pencarian ada di Pangkal Pinang, ibukota Provinsi Bangka-Belitung.

  ★ detik

Posted in: BPPT,Kapal,OMSP

#Tag : BPPT Kapal OMSP

Sinyal AirAsia QZ 8501 tidak bisa ditangkap

Kepala Badan SAR Nasional, Bambang Soelistyo, mengaku pihaknya tidak bisa menangkap sinyal darurat pesawat AirAsia QZ 8501. Pakar dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi mengatakan hal itu lumrah terjadi jika pesawat jatuh ke laut. Sinyal darurat pesawat AirAsia QZ 8501 belum bisa ditangkap Badan SAR Nasional. Melalui jumpa pers pada Senin (29/12), Kepala Basarnas, Bambang Soelistyo, mengatakan setiap pesawat memiliki Emergency Local Transmitter (ELT) atau pemancar sinyal darurat. Alat itu secara otomatis bekerja memancarkan sinyal darurat jika pesawat bertabrakan atau jatuh. “Seharusnya sinyal ditangkap sistem kita dan memberikan peringatan. Namun, sampai detik ini, sinyal itu tidak tertangkap dalam sistem kita. Negara-negara tetangga sudah kita cek dan mereka juga tidak menangkap sinyal ELT (AirAsia QZ 8501),” ujar Bambang. Penyelidik senior Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno, yang menangani penyelidikan jatuhnya pesawat Adam Air di perairan Majene, Sulawesi Barat pada 1 Januari 2007, mengatakan hal itu bisa saja terjadi. “Masalahnya, kalau antena ELT terlepas, sinyal tidak terpancar, seperti kasus jatuhnya Sukhoi di Gunung Salak. Lalu kalau terendam air laut, ELT juga tidak bisa memancarkan sinyal,” kata Mardjono. Di dalam laut, sambungnya, fungsi ELT digantikan dengan Underwater Locator Beacon atau pinger. "Alat itu menempel pada black box dan memancarkan terus menerus suara ping, ping, ping selama 30 hari. Suara tersebut memancar dalam frekuensi dan interval tertentu dengan jarak 500 meter dari posisi ULB," jelasnya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.Deteksi Badan SAR Nasional akan meminjam perangkat deteksi dari sejumlah negara. Untuk mendeteksi suara ULB, sonar harus digunakan. Biasanya kapal perang punya perangkat sonar. Cara lain ialah menyeret TPL (Towed Pinger Locator) menggunakan kapal. Kepala Basarnas, Bambang Soelistyo, mengaku spesifikasi peralatan yang dimiliki pihaknya belum seperti yang diharapkan. Karena itu, Basarnas akan melibatkan kapal riset milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Atas kekurangan teknologi, kita juga telah berkoordinasi melalui Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi) untuk meminjam perangkat dari negara-negara yang sudah menawarkan, di antaranya Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat,” kata Bambang. Soal lokasi pencarian, Mardjono optimistis pesawat AirAsia QZ 8501 akan bisa ditemukan relatif lebih mudah mengingat perairan sekitar Pulau Bangka, Pulau Belitung, dan Selat Karimata lebih dangkal ketimbang di perairan Sulawesi—lokasi jatuhnya Adam Air pada 2007. “Saat itu, pesawat Adam Air berada 2.000 meter permukaan laut.”   ★ BBC

Posted in: BNPP,BPPT,Ilmu Pengetahuan,KNKT,OMSP

Basarnas Butuh Drone Bawah Laut untuk Cari AirAsia QZ8501

Calon penumpang Air Asia menunggu keberangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Minggu (28/12). (CNN Indonesia/Safir Makki) Badan SAR Nasional (Basarnas) menyatakan butuh bantuan pesawat tanpa awak atau drone bawah laut untuk mencari keberadaan fisik pesawat AirAsia QZ8501 di dasar lautan. Teknologi yang digunakan selama ini dinilai belum cukup memadai untuk mencari tubuh pesawat hingga kedalaman tertentu. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI F.H. Bambang Soelistyo mengatakan saat ini teknologi yang digunakan pihaknya berupa marine detector dengan sistem sonar. "Kami memang memakai teknologi sistem sonar, tetapi spesifikasinya kurang tinggi untuk kedalaman laut tertentu," kata dia kepada CNN Indonesia, Senin (29/12). Minggu petang (28/12), tim Basarnas telah berangkat menuju perairan Belitung Timur. Salah satu kapal mereka, KM 224, membawa alat ROV, pendeteksi benda bawah laut, serta marine detector untuk mencari sinyal dan tubuh fisik pesawat. Sistem sonar memiliki spesifikasi kedalaman terbatas, hanya sampai 50 meter dan sangat tergantung dengan kondisi kualitas air laut. "Jadi alat bisa semakin baik dipakai kalau airnya jernih. Ini cukup membatasi pencarian," ujar Bambang. Untuk memaksimalkan pencarian, tegas Bambang, tim membutuhkan bantuan teknologi pendeteksi dengan spesifikasi yang lebih baik. Drone bawah laut berbentuk kapsul adalah jawabannya. "Kapsul bawah laut ini mampu mencari di dasar laut dan membantu evakuasi," kata dia. Sementara sistem sonar yang digunakan Basarnas sekarang hanya bisa menentukan benda metal yang ada di bawah laut, tetapi masih diperlukan evakuasi. Teknologinya kalah dengan kapsul bawah laut yang bisa turun higga ke dasar laut. "Drone bawah laut itu bentuknya semacam robot yang bisa dikendalikan oleh manusia. Kita belum punya sama sekali alat itu," kata Bambang. Pesawat AirAsia QZ8501 lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya, dengan membawa 155 penumpang. Pesawat dinyatakan hilang kontak dengan menara pemandu lalu lintas udara di Jakarta pukul 07.15. Dalam pesawat menuju Singapura tersebut juga terdapat dua pilot, empat awak kabin, dan seorang mekanik. Dari total orang di dalam pesawat, 149 merupakan warga negara Indonesia, tiga Korea Selatan, dan tiga lainnya Prancis, Malaysia, dan Singapura.(utd/agk)   ★ CNN

Posted in: BNPP,OMSP,UAV

#Tag : BNPP OMSP UAV

AirAsia QZ8501 Berhadapan dengan Awan Kumulonimbus hingga 48.000 Kaki

Citra tutupan awan di Indonesia berdasarkan MTSAT dalam 6 jam terakhir, Minggu (28/12/2014). Pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 8501 dari Surabaya tujuan Singapura yang hilang kontak pada Minggu (28/12/2014) tak lama setelah lepas landas dari bandara Juanda. Flightradar24 merilis data sementara perkiraan lokasi pesawat berdasarkan waktu pesawat hilang kontak yang dirilis oleh Angkatan Laut Indonesia. Perkiraan posisi pesawat hilang bisa dilihat pada gambar di atas, yakni di Laut Jawa, antara Belitung dan Kalimantan. Menurut Flightradar24, pesawat hilang kontak saat terbang pada ketinggian 32.000 kaki dan terbang dengan kecepatan 469 knots. Di situsnya, Flighradar24 menyatakan, status pesawat "landed". Status itu biasa diterima ketika pesawat hilang kontak. Prakiraan posisi Air Asia QZ 8501 hilang kontak menurut FlightRadar24. Pelaksana tugas Dirjen Perhubungan Udara Joko Murdjatmojo mengatakan pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 itu sempat melakukan kontak terakhir dengan ATC di Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.12 WIB. Saat itu pesawat melaporkan akan menghindari awan dengan berbelok ke arah kiri. Pesawat yang terbang dengan ketinggian 32.000 kaki dan minta izin untuk menaikkan ketinggian pesawat menjadi 38.000 kaki. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, saat menyatakan bahwa usaha pesawat untuk terbang dengan ketinggian lebih tinggi masuk akal melihat kondisi cuaca di lokasi. "Berdasarkan data kami, di lokasi hilangnya pesawat memang tampak awan yang sangat tebal. Itu awan kumulonimbus. Ketebalannya bisa sampai 5 - 10 kilometer," ungkap Andi saat dihubungi Kompas.com, hari ini. Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG Jakarta, Syamsul Huda, mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, pesawat memang terbang dalam kondisi cuaca berawan. "Kemudian pesawat menghadapi awan yang sangat tebal di lokasi (antara Belitung dan Kalimantan). Berdasarkan data, ketinggian puncak awan kumulonimbus yang dihadapi pesawat 48.000 kaki," kata Syamsul. Ketinggian minimum biasanya tidak dinyatakan. Menilik ketinggiannya saja, pesawat mungkin masih akan berhadapan dengan awan bila naik ke ketinggian 38.000 kaki. Namun, apakah pesawat bisa menghindar dari awan atau tidak, hal itu sangat tergantung pada besarnya awan itu sendiri. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, mengungkapkan bahwa masalah cuaca seperti awan adalah hal biasa yang dihadapi dalam penerbangan modern saat ini. "Sebelum terbang juga kita sudah mengisi flight plan dan melihat cuaca sepanjang jalur penerbangan. Pesawat A320 yang dipakai Air Asia sendiri adalah pesawat canggih yang sudah dilengkapi dengan radar cuaca yang baik," ungkapnya. Dengan teknologi dan perencanaan penerbangan yang baik, Chappy mengungkapkan, "Kasus pesawat hilang atau jatuh akibat faktor cuaca itu sudah jarang terjadi dalam penerbangan modern." Pesawat yang hilang kontak dapat terjadi karena berbagai sebab, mulai kesengajaan hingga masalah teknis. Tapi Chappy mengatakan, saat ini masih terlalu dini untuk memprediksi apa yang terjadi pada Air Asia QZ 8501. Masih diperlukan lebih banyak data. QZ 8501 membawa 155 penumpang, di mana 149 diantaranya adalah warga negara Indonesia. Pesawat itu seharusnya tiba di Changi Airport pada pukul 8.30 WIB. Hingga kini, posisinya secara pasti belum diketahui. Pesawat yang hilang adalah jenis Airbus A320-200 dengan nomor registrasi PK-AXC. Dalam keterangan di akun Facebook-nya, Air Asia telah mengonfirmasi hilangnya pesawat tersebut dan akan segera menginformasikan kepada publik bila telah ada kabar.   ★ Kompas

Posted in: BMKG,Ilmu Pengetahuan,OMSP

Suasana Pencarian AirAsia QZ8501

Puskodal TNI AL image Pusat Komando TNI AL (Puskodal) terus memonitor pergerakan seluruh alutsistanya dalam membantu evakuasi pesawat AirAsia QZ8501. Dari Puskodal, semua informasi dan kondisi di lapangan dapat terpantau.

Puskodal terletak di Mabes TNI AL, Cilangkap. Ruangan tersebut dilengkapi 3 layar monitor besar dan beberapa monitor-monitor kecil. Sekitar 7 orang petugas berseragam TNI AL tampak mengoperasikan layar informasi tersebut.

"Seluruh informasi di lapangan dapat kita pantau dari sini," kata Kadispenal, Laksamana Pertama Manahan Simorangkir di Puskodal, Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (29/12/2014).

Berbagai informasi yang dapat diketahui antara lain pergerakan seluruh kapal di perairan di Indonesia, pergerakan seluruh pesawat di atas kawasan NKRI hingga kondisi cuaca di seluruh Indonesia.

"Kita tahu pesawat apa saja yang sedang melintas, tujuannya ke mana dan sedang sampai mana. Informasinya real time," tutur Manahan sambil menunjuk ratusan pesawat yang sedang bergerak di monitor.

Sehingga, menurut Manahan, jika ada pesawat ilegal, juga dapat terdeteksi dari Puskodal. Pesawat tersebut tidak akan menunjukkan informasi apapun saat diklik oleh petugas.

Dalam layar monitor yang terpampang di puskodal, terlihat 3 lingkaran, di mana lingkaran tersebut merupakan area diduga jatuhnya pesawat. 3 lingkaran itu merupakan hasil perhitungan dari berbagai instansi seperti Basarnas dan Lanud Pontianak.

"Cuaca di lokasi saat ini terlihat cerah. Mudah-mudahan evakuasi bisa terus dilakukan dan segera ketemu," ujarnya.

Kapal-kapal milik TNI AL telah diberangkatkan menuju ke lokasi perkiraan jatuhnya pesawat yang mengangkut 155 penumpang ini. Diperkirakan siang ini, kapal-kapal tersebut telah tiba di lokasi.

"Semua dapat kita monitor dari sini. Namun pusat komando tetap berada di Basarnas," tutupnya.Proses Pencarian Pesawat AirAsia Tak Beda Jauh dengan Adam Air image Konferensi Pers BPPT (Foto: Aditya/detikcom)

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengirimkan 2 kapal berteknologi canggih untuk membantu melakukan pencarian pesawat AirAsia QZ8501. Berdasarkan kondisi di lapangan, BPPT mengatakan bahwa proses pencarian pesawat ini tak berbeda jauh dengan yang dilakukan dalam pencarian puing dalam insiden maskapai Adam Air.

"Teknologi yang digunakan tidak berbeda jauh dengan hilangnya pesawat Adam Air. Kondisi yang sama terulang kembali," ujar Ridwan Djamaludin, Kepala Deputi bagian Teknologi dan Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT dalam jumpa pers di gedung Kemenko Maritim, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2014).

Ridwan menjelaskan, kondisi dugaan lokasi hilangnya pesawat yang berada di kawasan laut memiliki kemiripan dengan kondisi pada saat kecelakaan pesawat Adam Air pada 2007 silam. Belajar dari pengalaman terdahulu, BPPT berusaha memproyeksikan kondisi yang mungkin akan terjadi di lapangan.

Di Indonesia, rumitnya pencarian kotak hitam di bawah laut pernah dilakukan maskapai Adam Air saat pesawatnya jatuh di perairan Majene, Sulawesi Selatan, pada 2007 lalu.

"Tingkat kesulitan di Selat Karimata dengan kedalaman laut yang dangkal serta topografi yang tidak terlalu dalam membantu dalam pencarian yang tidak berbeda jauh dengan Adam Air," jelasnya.

"Untuk kesiapan, saat ini BPPT sedang berkoordinasi dengan Basarnas dan Dinas Perhubungan Laut untuk membantu berbagi wilayah pencarian agar efisien," kata Ridwan.

Kapal canggih milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang memiliki sensor khusus, ikut diterjunkan untuk mencari AirAsia QZ8501 yang hilang. Kapal yang diberi nama Baruna Jaya I dan IV tersebut memang memiliki kemampuan mencari kapal atau pesawat yang tenggelam di dasar laut.

Kapal Baruna Jaya bukan kapal sembarangan. Kapal tersebut memiliki track record bagus dengan berhasil menemukan bangkai pesawat Adam Air Boeing 737 dan Kapal Bahuga Jaya yang tenggelam di laut.LAPAN Bantu Cari AirAsia via Citra Satelit image Citra satelit cuaca di Indonesia saat AirAsia hilang (foto: bmkg.go.id)

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga turut membantu mencari AirAsia QZ8510 yang hilang pada Minggu (28/12/2014). LAPAN akan memanfaatkan teknologi satelit mencari pesawat yang hilang.

"LAPAN juga bentuk tim pencarian menggunakan data satelit. Karena dengan data satelit penginderaan jauh, diupayakan mencari indikasi keberadaan pesawat tersebut," tutur Kepala LAPAN Prof Thomas Djamaluddin saat dihubungi detikcom, Senin (29/12/2014).

Karena kondisi cuaca berawan, imbuh Thomas, sangat sulit mengindera dengan citra satelit optis. Maka LAPAN akan menggunakan citra satelit radar.

"Semua indikasi keberadaan pesawat tersebut akan coba dilihat itu atau mungkin kemudian terjadi kecelakaan dan pecah, puing-puingnya coba diindera. Kalau ada pesawat utuh, mendarat di suatu tempat atau laut dicoba dilihat. Satelit kan bisa mencari luas," imbuhnya.

Apa yang dilakukan pihak LAPAN, imbuhnya, merupakan salah satu upaya pencarian selain yang dilakukan Basarnas melalui kapal laut dan pesawat udara. Namun citra satelit itu juga harus dipilah secara teliti. Data-data yang didapatkan LAPAN akan diserahkan ke Basarnas.

"Pantauan melihat itu luas, melalui satelit gunakan data citra satelit cakupannya menjadi terbatas dan harus dipilah secara terliti. Upaya pencarian juga dilakukan Tim SAR dan kapal. Kalau nanti ada indikasi yang bisa bantu upaya pencarian tersebut akan ke Basarnas, koordinator dengan pencarian pesawat hilang," tuturnya.Daftar Armada yang Cari AirAsia QZ8501 Lost Contact image Peta Lokasi Pencarian Air Asia

Armada dari berbagai instansi dikerahkan untuk melakukan pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang mengalami kontak hilang pada Minggu pagi kemarin.

Hari ini dilakukan pencarian lagi dengan mengerahkan berbagai armada yang dimiliki dari berbagai instansi.

Ini armada yang dikerahkan untuk melakukan pencarian baik melalui udara maupun laut.

1. Instansi Basarnas Pangkal Pinang - Jenis unsur RB-201, jumlah 1.

2. Instansi Basarnas Palembang - Jenis unsur RB-219, jumlah 1.

3. Instansi Basarnas TG Pinang - Jenis unsur RB-209, jumlah 1.

4. Instansi Basarnas Jakarta - Jenis unsur KN-214, jumlah 1.

5. Instansi Basarnas Jakarta - Jenis unsur KN-224, jumlah 1.

6. Instansi Basarnas Pontianak dan Jambi - Jenis unsur RIB, jumlah 2.

7. Instansi Basarnas Pusat - Jenis unsur Helly Dauphin, jumlah 2.

8. Instansi Basarnas Pusat - Jenis unsur Helly BO-105, jumlah 1.

9. Instansi Basarnas TNI-AU - Jenis unsur Helly Super Puma, jumlah 2.

10. Instansi Basarnas TNI-AU - Jenis unsur Hercules C-130, jumlah 2.

11. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur CN-235, jumlah 2.

12. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI Bung Tomo, jumlah 1.

13. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI Yos Sudarso, jumlah 1.

14. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI P. Rengat, jumlah 1.

15. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI Suetedi, jumlah 1.

16. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI Patimura, jumlah 1.

17. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI Manoe, jumlah 1.

18. Instansi Basarnas TNI-AL - Jenis unsur KRI SSA, jumlah 1.

19. Instansi Basarnas TNI-AU - Jenis unsur Boeing 737 jmh 1.

"TNI AL, TNI AU dan TNI AD serta semua pihak akan terus all out untuk mencari sampai ketemu," ujar Danpuspenerbal Laksma Sigit Setianta.

  ♞ detik

Posted in: BPPT,LAPAN,OMSP,TNI AL

9 Satelit Bantu Pencarian AirAsia

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengerahkan sembilan satelit untuk membantu mencari AirAsia yang hilang. Pengaktifan satelit diharapkan dapat memberi titik terang keberadaan pesawat QZ8501. Kepala Pusat Teknologi dan Data LAPAN, Dedi Irawadi, pihaknya mendapatkan penawaran dari beberapa pemilik satelit untuk mencari AirAsia dengan penginderaan jauh. Ada sembilan satelit yang diaktifkan untuk membantu menyisir titik-titik di mana pesawat yang membawa 155 penumpang dan tujuh kru terakhir melakukan kontak dengan Air Traffic Controler (ATC). "Banyak satelit yang kita kerahkan, semoga ini dapat membantu pencarian," kata Dedi saat berbincang dengan detikcom, di kantor Lapan Kedeputian Penginderaan Jauh, Jl Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Selatan, Senin (29/12/2014). Satelit-satelit yang dikerahkan itu adalah Spot 6 dan Spot 7 yang ada di atas Parepare-Sulawesi Selatan, Pleiades, Terra Sar x, dan digital globe, konsorsium perusahaan satelit di Amerika, yang mengerahkan lima satelitnya, seperti Ikonos, World View dan Quick Bird. Aktifasi pun berdasarkan bantuan dari perusahaan-perusahaan tersebut untuk ikut membantu misi kemanusiaan. "Mereka yang menawarkan, semuanya free. Seperti Airbus yang menawarkan Spot 6 dan Spot 7 atau Digital Globe," kata Dedi. Delapan di antara sembilan satelit yang diaktifkan tersebut, secara teknis mereka akan menggambarkan citra yang terekam oleh satelit atau optis. Sementara Terra Sar X menghasilkan citra melalui radar. "Dalam keadaan berawan, radar lebih baik. Karena objek terlalu kecil," beber Dedi. Data-data citra dari 9 satelit akan diterima di ruang server LAPAN ini (Foto: Andry Haryanto/detikcom) Menurut Dedi, perlu waktu hingga besok untuk mengetahui hasil pencitraan satelit. Berhubung beberapa satelit baru diaktifasi Minggu (28/12/2014) malam dan Senin (29/12/2014) pagi. Adapun kendala yang dihadapi Lapan selain faktor teknis awan yang akan menyulitkan citra satelit, kendala lainnya titik fokus lokasi yang akan dipotret. "Maka dari itu seluruh satelit difokuskan di koordinat terakhir hilangnya kontak," kata Dedi. Citra dari 9 satelit itu akan diterima server LAPAN di Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta. Nah, dari hasil citra satelit, LAPAN akan menganalisa dan membandingkan, misalnya dua gambar berbeda waktu, misal foto bulan lalu dan hari ini, di koordinat yang sama. Perbedaan adanya objek bisa terlihat dari perbandingan itu. "Citra satelit pun hanya bisa menangkap di wilayah permukaan. Kalau di dalam air, hanya beberapa meter saja yang bisa ditembus sinar matahari," imbuhnya, Namun, bilamana satelit menemukan ada objek di permukaan, maka data citra satelit tersebut dapat digunakan oleh pihak-pihak yang melakukan pencarian.   ★ detik

Posted in: LAPAN,OMSP,Satelit

#Tag : LAPAN OMSP Satelit

"Mengintip" KRI Banda Aceh yang Diterjunkan Cari AirAsia QZ8501

http://assets.kompas.com/data/photo/2014/12/29/191855820141229-181403780x390.JPG T NI Angkatan Laut ikut menerjunkan delapan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) untuk mencari Pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak sejak Minggu (28/12/2014).

Salah satu kapal yang menjadi andalan adalah KRI Banda Aceh 593, yang diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Senin (29/12/2014) malam.

Reporter Kompas.com, Ihsanuddin, berkesempatan untuk ikut melakukan pencarian bersama prajurit TNI AL dengan menumpang kapal ini. KRI Banda Aceh adalah kapal buatan dalam negeri, diproduksi oleh PT PAL (persero) pada 2011 lalu.

Karena baru, kapal yang hampir seluruh bagiannya berwarna abu-abu gelap ini terlihat masih bersih dan terawat.

"Ini jadi kebanggaan kita juga karena produksi negeri sendiri. Walaupun secara kualitas masih kalah (dari produksi luar negeri), tapi sudah cukup lumayan," kata Komandan KRI Banda Aceh 593, Letnan Kolonel Laut (P) Arief Budiman.

KRI Banda Aceh merupakan kapal perang berjenis Landing Platform Dock dengan ukuran panjang 22.004 meter dan lebar 125 meter. Berat kapal ini mencapai 7.286 ton. Kapal perang ini memiliki kecepatan maksimum 15 knot dan memiliki daya angkut sebanyak 344 personel.

Kapal ini juga mampu menampung 5 unit helikopter jenis MI-2 atau Bell 412, 2 unit LCVP, 3 unit meriam Howitzer, dan 20 Tank. Untuk persenjataan perang, kapal ini dilengkapi meriam kaliber 20 mm dan 40 mm.

KRI Banda Aceh ini berangkat dengan 150 penumpang di dalamnya, yang kebanyakan adalah prajurit TNI AL. Selain itu, ada pula awak kapal, awak penerbang helikopter untuk mencari dari ketinggian, pasukan katak untuk menyelam, serta media dan staf dinas penerangan TNI.

 Penghargaan

Meski baru diproduksi, KRI Banda Aceh ini sudah mendapatkan sebuah penghargaan dari Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio, sebagai KRI Berpredikat Operasional Tertinggi Tahun 2014.

Penghargaan itu didapat karena KRI Banda Aceh ini menjadi kapal yang berlayar dalam waktu paling panjang dibandingkan KRI milik TNI angkatan laut lainnya.

"Waktu itu hampir selama tiga bulan non-stop berlayar terus, enggak pulang-pulang," kata Arief.

Selain itu, kapal ini juga telah mengikuti latihan bersama kapal-kapal perang dari berbagai negara dalam ajang Multilateral Rim of the Pacific (Rimpac) 2014.

Ajang tersebut merupakan latihan rutin setiap dua tahun yang digelar oleh armada ketiga US Navy dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan meluas cakupannya dengan melibatkan negara-negara di Asia Tengara.

 Hiburan

Meski sejatinya digunakan untuk perang, kapal ini juga mempunyai banyak sarana hiburan untuk menghibur para prajurit dan awak kapal yang sedang bertugas.

Perjalanan di tengah lautan lepas yang panjang hingga berbulan-bulan bisa membuat penumpangnya jenuh, bahkan bisa stress.

"Supaya tidak sampai stress, kita ada hiburan. Di atas kapal, kesehatan itu yang utama," kata Arief.

Hiburan di kapal ini antara lain lantai kapal yang dicat menjadi lapangan basket, lengkap dengan ringnya. Ada pula panggung kecil yang dapat menjadi tempat organ tunggal bermain musik dan menghibur para prajurit.

Hiburan yang paling menjadi andalan adalah sebuah layar lebar yang bisa disulap untuk menonton film.

"Siapkan film yang banyak ya, yang baru-baru," perintah Arief kepada prajuritnya.

 Jaga Solidaritas

KRI Banda Aceh ini akan melakukan pencarian cukup panjang di lautan lepas, yakni selama 20 hari tanpa singgah ke daratan. Di pelabuhan Tanjung Priok, mulai dari bahan bakar hingga logistik sudah disiapkan secara matang. Karena segala persiapannya ini, KRI Banda Aceh yang seharusnya berangkat pada siang hari, baru tancap gas pada malam harinya.

Sebelum kapal lepas landas, diadakan apel terlebih dahulu untuk mengecek kesiapan seluruh prajurit dan awak kapal. Apel juga bertujuan untuk menghitung jumlah seluruh penumpang kapal, sehingga tidak akan ada awak yang hilang.

"Kita berangkat dengan orang sekian, kembali dengan orang sekian," tegas Arief. Arief yang memimpin langsung apel mengingatkan seluruh awak kapal untuk menjaga solidaritas selama pencarian.

"Saya harapkan selama kegiatan berlangsung, dapat terjadi hubungan yang harmonis dari ABK (Anak Buah Kapal) atau pun non-ABK," ujarnya.

Selain usaha yang keras dalam mencari pesawat yang hilang, Arief juga mengingatkan agar seluruh petugas yang ada turut berdoa demi kelancaran pencarian. "Harapannya pesawat AirAsia yang hilang kontak ditemukan," ucap Arief.

  ✈ Kompas

Posted in: KRI TNI-AL,OMSP

#Tag : KRI TNI-AL OMSP

Pencarian Blackbox AirAsia QZ8501

KNKT Sebar Tim ke Pangkalan Bun dan Tanjung Pandan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus berupaya melakukan investigasi terkiat tragedi AirAsia QZ8501 yang hilang kontak. Rabu (31/12) pagi, KNKT akan mengirim dua tim untuk mencari blackbox pesawat berjenis Airbus A320-200 itu.

"Keterlibatan KNKT sudah sejak awal-awal persiapan (pencarian). Besok mulai melakukan pencarian blackbox. Dua tim akan dikirim ke Pangkalan Bun dan Tanjung Pandan," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2014) malam.

Sementara tim melakukan pencarian blackbox, Tatang berada di Surabaya untuk mengumpulkan data-data yang bisa diolah menjadi sebuah titik terang. "Di sini mengumpulkan data-data," ujar Tatang.

Pesawat komersil berpenumpang 155 orang tersebut diduga hilang kontak antara Tanjung Pandan dan Pontianak. Penyebab hilangnya pesawat masih misterius. Meski begitu disebut-sebut karena cuaca buruk dan pesawat menabrak awan comulonimbus.

Pihak Airbus sendiri siap membantu KNKT untuk mencari keberadaan blackbox dan mengidentifikasi setiap serpihan pesawat yang ditemukan.

"Dengan menempatkan keselamatan pada prioritas tertinggi, Airbus menegaskan kembali komitmen penuhnya untuk memberikan semua bantuan teknis yang diperlukan kepada para otoritas investigasi agar dapat menemukan penyebab tragedi ini," demikian siaran pers Airbus dalam keterangannya, Selasa (30/12).(rna/jor)Kapal Basarnas dan TNI AL Sudah 'Kepung' Area Penemuan Serpihan AirAsia KRI Bung Tomo [supermarine]

Kapal Basarnas, TNI AL, serta sejumlah kapal lainnya merapat ke lokasi penemuan serpihan AirAsia. Pesawat TNI AU juga bergerak menyisir di sekitar lokasi.

Menurut Kepala Basarnas Soelistyo di Kemayoran, Rabu (31/12/2014) seluruh armada 80 persen bergerak ke titik di sektor V itu.

"Perkiraan prediksi, serpihan keluar dari area akan tertangkap satuan laut kita," jelas Soelistyo.

Menurut dia, saat ini cuaca masih belum bersahabat. Cuaca masih gerimis dan gelombang setinggi 2-3 meter.

Ada KRI Bung Tomo, KRI Banda Aceh, KRI Pattimura, serta beberapa KRI lainnya. Ada juga 17 helikopter dan 9 pesawat siap bergerak.

"Setelah cuaca bagus unsur-unsur melakukan," urai dia.Bantu KNKT, Basarnas Siap Cari Blackbox dengan Hati-hati Basarnas telah menemukan lokasi pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang, yakni di perairan Selat Karimata dan diyakini ada di kedalaman 30 meter. Untuk urusan blackbox pesawat tersebut, Basarnas menyerahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan KNKT terkait pencarian kotak hitam tersebut. Untuk menemukannya, digunakan alat khusus pelacak sinyal.

Soelistyo mengatakan, alat itu hanya dimiliki oleh KNKT. Namun jika diperlukan, Basarnas siap untuk membantu mencari dan mengambil kotak perekam data penerbangan tersebut.

"Ada alat dari KNKT, yaitu pinger, untuk mencari blackbox, tapi KNKT yang akan mencari itu, dan nanti kita akan bantu," ujar Bambang di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (31/12/2014).

"Kita koordinasi bagaimana cara mengambilnya supaya tidak merusak maupun tidak mengganggu flight recorder itu," tambahnya.(jor/mad)Inggris, Singapura dan Perancis Siap Bantu KNKT Cari Blackbox AirAsia QZ8501 Dukungan dunia internasional terhadap pencarian pesawat AirAsia QZ8501 begitu terasa. Inggris, Singapura, dan Perancis siap membantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan keberadaan blackbox pesawat tersebut.

"Kita akan kirim tim ke Pangkalan Bun dan Tanjung Pandan. Tim yang ke Tanjung Pandan terdiri dari KNKT, KNKT Singapura, KNKT inggris Air Incident Investigation Branch (AAIB), sama KNKT Perancis," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi, saat dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2014) malam.

Tim yang akan mencari blackbox di kawasan Pangkalan Bun terdiri dari satu dokter dan satu pihak dari Airbus. Airbus memang telah berkomitmen membantu KNKT mencari keberadaan blackbox.

"Mereka akan melakukan identifikasi, terutama pesawatnya," ujar Tatang.

Operasi pencarian akan dimulai Rabu (31/12), sekitar pukul 07.00 WIB.(rna/jor)Basarnas Kirim 20 Penyelam Tambahan, Statusnya Wait and See Sedikitnya 20 panyelam tambahan diterjunkan Basarnas untuk mengevakuasi penumpang dan pesawat AirAsia yang ditemukan didalam Laut Jawa di dekat Selat Karimata. Proses evakuasi belum dapat dilakukan karena cuaca buruk.

"Kita berangkatkan TNI, Kopaska, sebanyak 47 penyelam. Basarnas, kita tambahkan 20 personel penyelam dari Basarnas special grup," kata Kepala Basarnas Marsdya TNI F Henry Bambang Soelistyo dalam jumpa pers di kantor Basarnas, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat,Jakarta, Rabu (31/12/2014).

Menurut Soelistyo, evakuasi belum bisa dilakukan karena kondisi cuaca yang buruk dan gelombang tinggi.

Ia menjelaskan para penyelam memiliki dua tugas. "Mencari lokasi yang diduga di bawahnya ada bagian pesawat. Kedua mencari dan mengevakuasi (penumpang)," ujar dia.

Soelistyo menambahkan penyelam dilengkapi alat untuk dapat menyelam ke kedalaman laut rata-rata 25 meter hingga 32 meter maka dengan perlengkapan standar sudah mampu dan bisa menyelam ke kedalaman laut tersebut. "Jika sulit pakai alat khusus untuk memotong. Kita masih wait and see, tetapi sudah diposisi tugas masing-masing. Saat ini sedang hujan deras dan cuaca buruk," kata Soelistyo.

  ★ detik

Posted in: BNPP,Hankam,KNKT,KRI TNI-AL,OMSP