Rayakan Kemerdekaan, 58 BUMN Pamer Produk di Senayan
Pameran Produk BUMN di Senayan
Perusahaan-perusahaan yang bernaung di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggelar pameran bertajuk Indonesia Hebat dalam rangka memperingati HUT ke-70 Kemerdekaan RI. Tercatat, 58 perusahaan memamerkan produk unggulannya di Parkir Selatan, Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, melalui pameran tersebut perusahaan BUMN mencoba menunjukkan eksistensinya dalam membangun Indonesia dan bukan hanya mencari keuntungan semata.
"BUMN bukan hanya alat negara buat cari keuntungan lewat dividen dan pajak, tapi juga memberi manfaat luas kepada masyarakat," kata Rini saat membukan pameran tersebut, Jakarta, Jumat (21/8/2015).
Anoa Amphibi Pindad [detik]
Rini menambahkan, melalui pameran tersebut, perusahaan BUMN menunjukkan kekuatannya ke masyarakat dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan mulai berlangsung di akhir 2015 nanti.
"Pameran ini bagian dari BUMN hadir untuk negeri. Apalagi akhir tahun ini kita akan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Saya berharap lewat pameran ini masyarakat bisa lihat kesiapan BUMN memasuki ajang global," tutupnya.
Pameran Indonesia Hebat, diselengarakan oleh Kementerian BUMN, berlangsung mulai 21 hingga 23 Agustus 2015. UAV Wulung produksi PT DI [detik]
Produk Perusahaan yang dipamerkan dalam pameran tersebut diantaranya adalah kendaraan lapis baja Anoa 2 6X6 Amphibious yang diproduksi PT Pindad (persero) dan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerival Vehicle /UAV) Wulung yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (Persero).
Perusahaan BUMN ya melakukan pameran diantaranya adalah, PT Pos Indonesia, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Pindad Indonesia (persero), PT Dirgantara Indonesia (persero), PT Garuda Indonesia dan PT Jasa Marga (Persero). (Pew/Gdn)
♘ Liputan 6

Posted in: BUMNIS,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Kendaraan industri,UAV
★ Excava 200
Ekskavator Pertama Produksi Dalam Negeri Ekskavator produksi PT Pindad, Bandung [vivanews] Excava 200 produksi PT Pindad menjadi ekskavator (alat berat untuk mengeruk tanah) pertama yang diproduksi di dalam negeri oleh BUMN tersebut."Produk ini tinggal menunggu sertifikasi saja, Insya Allah sertifikasi dilakukan pada September hingga Oktober tahun ini, setelah itu kita siap untuk produksi," kata Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Kantor Pindad saat Menteri BUMN Rini Soemarno mengunjungi kantor Pindad di Bandung, Sabtu (27/6).Pindad sengaja mewarnai ekskavator tersebut dengan warna merah dan putih seperti warna bendera Indonesia untuk melambangkan produk itu buatan anak bangsa.Dia mengatakan, Pindad memproduksi alat berat itu sesuai instruksi Presiden agar Pindad juga memproduksi alat diluar alat utama sistem pertahanan (alutsista) sebesar 25 persen dari total produksi mereka.Lebih lanjut Silmy menjelaskan teknologi yang dipakai untuk Excava 200 itu adalah gabungan dari kompetensi hidrolik yang biasa dipakai untuk Anoa Recovery dan Crane serta kompetensi kendaraan roda rantai."Malah sebenarnya lebih gampang membuat ekskavator ini, tapi masalah estetika akan diperbaiki secara bertahap," kata dia.Alat ini sudah diuji coba dan dapat berjalan dengan baik, menurut dia hal yang perlu dibenahi adalah menjaga kualitas produk tersebut dan purna jual produk tersebut.Dia berharap alat berat itu dapat memperoleh 10 persen pasar industri alat berat. Satu unit Excava 200 akan dijual sekitar 90 ribu hingga 110 ribu dolar AS, atau sekitar Rp 1,17 miliar sampai Rp 1,43 miliar.Menteri BUMN Rini Soemarno dalam kunjungannya menyempatkan untuk mencoba ekskavator tersebut, setelah mencoba dia merasa bangga karena Pindad berhasil membuat alat berat itu."Saya bangga, dengan alat diproduksi di dalam negri kita harapkan ketergantungan kita dengan barang impor akan berkurang," kaya Rini.Dia mengaku awalnya sempat tidak percaya saat Direktur Utama Pindad mengabarkan bahwa pihaknya dapat memproduksi alat tersebut, untuk itu dia menyempatkan diri berkunjung ke perusahaan BUMN tersebut. Rini pun langsung menandatangani untuk menggunakan 100 ekskavator milik Pindad untuk BUMN Karya."Saya harap sertifikasinya jangan lama-lama, agar tahun ini sudah bisa mulai produksi," kata Rini.
★ Berita satu

Posted in: BUMNIS,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Kendaraan industri,PINDAD
★ Escavator Pindad
Produksi Escavator, Bukti Pindad Sinergi dengan BUMN Lain
Produksi escavator, bukti Pindad sinergi dengan BUMN lain. (Foto: Okezone) Direktur Utama PT Pindad (Persero) Silmy Karim mengatakan, escavator merupakan produk yang bisa didorong pengunaannya oleh seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya, terutama kepada sektor konstruksi. "Terjadi kegiatan penodongan, bentuk sinergi, dan mengedepankan produk dalam negeri di mana saat kita mandiri duitnya selalu ada di Indonesia, ngapain menghidupkan produk luar," kata Silmy di Kantor Pindad, Bandung, Sabtu (27/6/2015). Silmy menjelaskan, produk alat beratnya itu dipastikan tokcer sama seperti yang diharapkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno. Di mana, berfungsi dengan baik, manuver maupun saat digunakan pengerukan. "Escavatornya jalan, bisa ngeruk, kalau misalnya di adu tidak kalah," tambahnya. Mengenai harga, Silmy menyebutkan, escavator Pindad sampai saat ini belum ditentukan harganya. Namun, Perseroan telah memiliki rata-rata harga sebesar USD 90 ribu sampai USD 110 ribu. Dia mengaku, sempat bingung dengan pemikiran pengusaha lokal yang lebih ingin membeli produk nasional lebih murah dibandingkan dengan produk luar negeri. "Saya agak protes sedikit kenapa produk dalam negeri selalu lebih murah, kenapa tidak produk Indonesia yang harus lebih mahal. Kita tetap akan kompetitif, purna jualnya pun akan lebih baik," tutupnya.Empat Menteri Dukung Pindad Produksi Alat Berat
Empat menteri dukung Pindad produksi alat berat. (Foto: Okezone) Direktur Utama PT Pindad (Persero) Silmy Karim mengatakan, awal mula yang mendukung BUMN senjata memproduksi escavator atau alat berat adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. "Ini adalah inisiasi Menteri PU, Bappenas, Menteri Industri, dan gong-nya ada di Menteri BUMN," kata Silmy di Kantor Pindad, Bandung, Sabtu (27/6/2015). Silmy menyebutkan, beragam produk Pindad yang di luar dari sektor industri pertahan akan menjadi potensi untuk BUMN itu sendiri. "Ketika masuk kegiatan syarat teknologi ada turunan yang baru menjadi potensi Indonesia ke depan, kita terus melakukan pengembangan," tambahnya. Oleh karena itu, sambung Silmy, produk escavator Pindad arus mendapat dukungan dari seluruh BUMN melalui skema sinergi. "BUMN konstruksi yang akan memesan, ini bisa mengembangkan dan menumbuh kembangkan Pindad," tutupnya.Produksi 100 Escavator, Pindad Butuh Rp50 Miliar
Produksi 100 escavator, Pindad butuh Rp50 miliar. (Foto: Okezone) PT Pindad (Persero) membutuhkan investasi untuk memproduksi 100 escavator dalam satu tahun. BUMN ini akan menyediakan dana investasi sekira Rp 50 miliar. "Ini bukan PMN, ini dari dalam dan pinjaman bisa, kalau gak ada modal kerja, bisa dari bank," kata Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Kantor Pindad, Bandung, Sabtu (27/6/2015). Silmy menyebutkan, jika produksi escavator Pindad akan ditambah menjadi 200 unit per tahun, maka dibutuhkan kembali investasi tambahan. Saat ini, produk escavator Pindad sudah disinergikan dengan BUMN Karya, yang mana BUMN karya akan membeli escavator. "Nanti tinggal ditentukan. Terutama yang ditekankan adalah WIKA, Waskita, HK, ADHI, dan PP. Karena tahun ini yang punya project yang cukup banyak tentang jalan tol," tambahnya. Mengenai komponen, Silmy menyebutkan, escavator buatan Pindad hanya mesin yang masih diimpor yang mana sisanya telah diproduksi sendiri. "Tapi kalau kita lihat ada economic skill ketemu, kenapa ga buat sendiri. Lakukan integrasi. Industri turunan. Ada pembinaan supplier dan vendor. Engine ada dari alternatif," tutupnya. (wdi)
★ Okezone

Posted in: Kendaraan industri,PINDAD
[Video] Satu Jam Bersama Silmy Karim
Direktur utama PT Pindad S osok dibalik keberhasilan PT. PINDAD sebagai produsen senjata di belakang personel TNI dan POLRI yang memenangkan berbagai kejuaraan menembak internasional. Saksikan satu jam bersama “Silmy Karim, Dirut PT.Pindad”
Wawancara khusus dipandu dengan akrab, hangat dan mendalam oleh jurnalis senior RTV, Cheryl Tanzil. Melalui pertanyaan kritis, 1 Jam Bersama mengupas perjalanan hidup para narasumber.
Berikut penampakan video dari Youtube :
♔ Garuda Militer

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Inhan,Kendaraan industri,Kendaraan Militer,PINDAD,Video
Delegasi Negara-negara Afrika Sub-Sahara Tertarik dengan Produk Pindad
Delegasi Negara-negara Afrika Sub-Sahara melaksanakan kunjungan ke PT Pindad (Persero) dalam rangka peningkatan hubungan kerjasama IPTEK antara Indonesia dan negara-negara Afrika Sub-Sahara. Delegasi didampingi oleh pejabat dari Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan maksud kunjungan untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dengan melihat secara langsung kemajuan industri dan teknologi di Indonesia.
Kepala Divisi Pemasaran Ekspor, Ridi Djayakusuma dan Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan, Biben Akbar menerima delegasi di Gedung Direktorat Pindad Bandung. Ridi mengatakan produk PT Pindad (Persero) terbukti kualitasnya dan mampu bersaing dengan buatan negara lain. "Produk kami, Anoa telah beroperasi dalam misi perdamaian di kawasan Afrika. Senjata kami juga terbukti kualitasnya dengan memenangi berbagai lomba tembak internasional seperti AASAM (Australian Army Skill at Arms Meeting), AARM (ASEAN Armies Rifle Meet) dan BISAM (Brunei International Skill Arms Meet)," tutur Ridi.
Setelah pemutaran Video profile, rombongan kemudian mengunjungi fasilitas produksi Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata. Delegasi mencoba secara langsung berbagai senjata di Lapangan Tembak Divisi Senjata.
Selain produk militer, delegasi Negara-negara Afrika Sub-Sahara Juga tertarik dengan produk non militer yang mampu dibuat Pindad seperti Excavator dan berbagai produk lainnya. (Ryan)
♖ Pindad

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Inhan,Kendaraan industri,Kendaraan Militer,Kerjasama,PINDAD
Indonesia-Jepang perkuat kerja sama industri baja
Delegasi Indonesia dan Jepang berfoto pada Forum Indonesia-Japan Steel Dialog (IJSD) yg ke-6 di Tokyo, Jepang, Rabu (27/4/2016). Dari pihak Indonesia, delegasi dipimpin oleh Direktur Industri Logam, Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Budi Irmawan. Dari pihak Jepang, delegasi dipimpin oleh Direktur Industri Besi dan Baja, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI) Takanari Yamashita. (Antaranews.com/ Sella Panduarsa Gareta) ★
Kerja sama industri dan investasi baja antara Indonesia dan Jepang terus diperkuat, salah satunya dilakukan dengan Forum Indonesia-Japan Steel Dialog (IJSD) ke-6 tahun 2016 di Tokyo, Jepang.
"Kita terus dorong industri baja untuk memperlebar produksidan investasi sehingga menopang industri lain seperti otomotif, permesinan dan elektronika, selain baja untuk konstruksi," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin melalui siaran pers di Jakarta, Minggu.
IJSD merupakan Forum Konsultasi industri baja antara IISIA (Asosiasi Industri Baja Indonesia) yang didampingi Kementerian Perindustrian dan JISF (Asosiasi Industri Baja Jepang) yang didampingi METI (Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang).
Pemerintah Indonesia, imbuh Saleh, sudah beberapa kali tegas mendesak Jepang dan negara lain untuk lebih aktif memperkuat struktur industri di Tanah Air. Pada sektor otomotif misalnya, jika sebelumnya lebih marak perakitan, kini beberapa pabrikan mulai membangun pabrik mesin dan komponen, begitu juga dengan elektronika dan produksi mesin.
"Produk akhir sudah dibeli masyarakat kita, sudah semestinya proses produksi juga memberi benefit ke dalam negeri. Forum dialog khusus baja seperti itu juga demi mempercepat pendalaman industri, menegaskan posisi serta visi industri kita," jelas Saleh.
Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi danElektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan, pembentukan Forum IJSD pada tahun 2011 dilatar belakangi adanya kerjasama ekonomi Indonesia dan Jepang yang ditandatangani pada 2008.
“Pembentukan forum ini juga didorong oleh pentingnya rantaipasok industri di kedua negara yang dapat dilihat daribanyaknya investasi Jepang di Indonesia khususnya yg berbahanbaku baja,” ujarnya yang turut hadir pada pertemuan yang digelar minggu.
Pertemuan dilaksanakan secara tahunan antara Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian dan pihak Pemerintah Jepang yakni Ministry of Economic, Trade, and Industry (METI).
Steel Dialogue pertama dilaksanakan pada 2011 di Jakarta, tahun berikutnya di Tokyo, Bali, Osaka, dan kembali digelar di Jakarta pada tahun 2015 lalu.
Putu merinci, beberapa investasi Jepang di Indonesia yang terjadi setelah ada forum ini antara lain PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) dan PT JFE Steel Galvanizing yang memproduksi CRC dan BjLS untuk mendukung bahan baku industri otomotif, permesinan dan elektronika.
"Investasi masing-masing sebesar 400 juta dollar AS (Kapasitas 400 ribu ton/tahun) dan USD 325 juta (Kapasitas 300 ributon/tahun)," ujar Putu.
Disamping itu juga ada PT. Krakatau Osaka Steel (KOS) dgn investasi 200 juta dollar AS yang memproduksi steel bar dan baja profil untuk mendukung industri konstruksi dan pembangunan infrastruktur.
Dari pihak Indonesia, delegasi di forum itu dipimpin oleh Direktur Industri Logam, Ditjen ILMATE Kemenperin Budi Irmawan.
Sedangkan dari pihak Jepang, delegasi dipimpin olehDirektur Industri Besi dan Baja (METI) Takanari Yamashita.
★ antara

Posted in: Kendaraan industri,Kerjasama
PT Pindad Produksi Alat Mesin Pertanian
Berupa Tiga mesin pertanian modern Tiga mesin pertanian modern dipamerkan [aceh.net] ★
Sebanyak tiga alat mesin pertanian produksi PT Pindad (Persero) Bandung diperkenalkan pada Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) ke-15, Sabtu 6 Mei 2017. Presiden RI Joko Widodo bahkan langsung meninjau acara yang digelar di Stadion Harapan Bangsa, Lhoong Raya, Banda Aceh itu.
Dari informasi dikirimkan PT Pindad, diproduksinya ketiga alat mesin pertanian itu untuk mendukung kemandirian dan percepatan program ketahanan pangan pemerintah. Semua komponen untuk produk ini berasal dari dalam negeri dan diproduksi di Pindad kecuali engine, dan transmisi. Jika diberi kesempatan, maka seluruh komponen itu bisa diproduksi di dalam negeri.
Diharapkan, dengan diproduksinya ketiga alat mesin pertanian itu maka Indonesia tidak lagi mengimpor bahan pangan, tapi bisa berswasembada. Seperti diketahui, selama ini Indonesia masih mengimpor berbagai bahan pangan dari negara-negara lain.
Ketiga alat mesin pertanian itu adalah:
★ Pengolah Tanah Amphibi, PA-1800. Alat ini memiliki fungsi mengolah tanah sekaligus mencacah sisa jerami padi, jagung, dan gulma serta mencampur dengan tanah, sehingga akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah.
★ Mesin panen, PP-160 untuk memanen jagung dan padi sekaligus memasukan hasil panen ke dalam karung.
★ Traktor Multiguna, PTM-90 sebagai loader untuk berbagai jenis material seperti tanah, batu, pasir atau puing bangunan dengan kapasitas yang cukup besar, sebagai ekskavator kecil yang dilengkapi fungsi drilling dan jack hammer untuk keperluan konstruksi, pertanian, serta pemeliharaan fasilitas akses jalan pedesaan.
Dalam memproduksi ketiga mesin itu, Pindad bersinergi dengan PT Bhirawa dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian.
Hajatan akbar Penas ini rutin dilaksanakan tiga tahun sekali, dikuti lebih dari dari 35.000 peserta yang terdiri dari perwakilan petani nelayan yang tergabung dalam KTNA dari semua provinsi di Indonesia, para pelaku usaha sektor pertanian, para pejabat lingkup pertanian baik pusat maupun daerah. ***
★ Pikiran Rakyat

Posted in: Artikel,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Industri,Kendaraan industri,PINDAD
Kemenangan TNI Berdampak Besar
Aksi Kontingen Indonesia pada ajang AASAM 2017 ✬
Pasukan TNI kembali menorehkan prestasi di dunia internasional. Prajurit dari TNI Angkatan Darat menjadi juara umum dalam Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) 2017 di Australia, Mei 2017.
Kemenangan tersebut tak hanya menjadi kebanggaan buat TNI. Tapi juga buat PT Pindad. BUMN yang mengkhususkan diri dalam industri teknologi pertahanan ini secara tak langsung terlibat dalam kemenangan TNI.
Ini karena senjata yang digunakan prajurit TNI merupakan bikinan Pindad. “Makanya, saya berterima kasih ke TNI,” ujar Direktur Utama PT Abraham Mose.
Abraham, yang belum genap setahun menggantikan Silmy Karim, menilai kemenangan TNI ini melempangkan jalan buat Pindad menguasai bisnis teknologi pertahanan. Bagi Abraham, target ini bukan sesuatu yang mustahil dicapai.
Pertengahan Juni 2017, Abraham menerima kunjungan Liputan6.com di kantor PT Pindad, kawasan Kiara Condong, Kota Bandung, Jawa Barat.
Produk Utama Pindad
[Ikahan]
TNI menang di AASAM 2017 dan mereka menggunakan senjata Pindad. Apa pengaruhnya?
Prajurit kita menggunakan senjata dan pistol dari Pindad. Ini yang ke-10 kalinya, Indonesia memenangkan turnamen ini. Ini secara tidak langsung menjadi strategi mengenalkan produk Pindad keluar negeri. Sebab, setelah itu, negara itu (saingan TNI di AASAM 2017, red.) datang ke Pindad.
Berarti berdampak besar?
Dampaknya sangat besar, makanya saya berterima kasih ke TNI. Ini jadi strategi kami, spread the wing untuk menguasai pasar di bidang industri pertahanan.
Apa sih produk terlaris dari Pindad?
Yang terlaris itu amunisi. Kemudian senjata dan pistol. Tapi kalau bicara produk paling laris, sudah pasti SS2 dan SS1.
Kenapa bisa laris?
Kalau bicara teknologi, kurang lebih sama. Kalau bicara material, saat ini kita juga masih beli material dari luar negeri. Mungkin dari sisi desain.
Desainnya bagaimana?
Karakteristiknya kami sesuaikan dengan karakteristik pengguna dan iklim di Indonesia. Kami selalu berdiskusi dengan pengguna, dalam hal ini TNI. Mereka yang tahu karakteristik yang mereka butuhkan untuk bertempur.
Apakah ada produk Pindad, tapi tidak dibuat negara lain?
Banyak. Panser dan tank untuk gurun.
Itu kan bukan spesifikasi utama Pindad?
Spesifikasi kami tidak ke arah sana, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Saat ini, kami inovasi atas permintaan mereka.
Cuma untuk gurun?
Ada tank boat. Itu produk Pindad yang khusus digunakan di kawasan perairan Indonesia.
Tank boat bisa dimodifikasi juga?
Ada permintaan dari Timur tengah untuk bekerja sama mengembangkan produk tank boat. Tentunya menyesuaikan karakteristik negara di sana.
Target Utama Pindad
Kaplan MT [FNSS]
Dengan kata lain, kemenangan ini jadi cara Pindad untuk menguasai bisnis teknologi militer?
Kami berpatokan ke visi Pindad. Di 2023, kami menjadi industri yang unggul dan industri yang terbesar di Asia dalam bidang industri pertahanan.
Memang mungkin?
Ini sangat mungkin. Kalau kita berbicara Pindad, perusahaan ini ada sejak 1808. Jadi kalau bicara penguasaan teknologi, bicara profesionalisme, bicara keahlian untuk memproduksi senjata, rasanya dengan waktu yang panjang itu kita sudah kuasai.
Sejauh ini Pindad sudah cukup menguasai industri pertahanan?
Tidak serta merta. Kami harus punya strategi. Strateginya adalah dengan melakukan dua pendekatan. Pertama, terus berinovasi secara internal. Sisi lain strategi kita adalah melakukan ekspansi pasar, dengan melakukan strategic partnership.
Inovasinya dengan menghasilkan produk baru?
Ini sudah menjadi KPI kami sebagai BUMN. Minimal dua produk inovatif yang harus kita luncurkan. Tahun ini kami punya rencana (produk baru) di bawah 10 produk
Apa saja produk baru Pindad?
Di Industri pertahanan kita akan launching produk baru kita, yang disebut senjata serbu bawah air, sniper yang baru, kemudian ada pistol. Kalau pistol dan senjata mungkin ada empat atau lima buah. Jadi kurang lebih ada sembilan produk inovatif.
Kalau untuk bidang industrial, produk-produk Alsintani, yang kemarin di Aceh dalam pameran pertanian.
Kalau bicara peminat, siapa peminat Pindad?
Kalau berminat yang membeli produk Pindad sudah banyak. Dari Timur Tengah, Eropa, kemudian dari Australia, dan lain-lain. Tentunya, kami tetap melihat, bagaimana regulasi. Kami juga harus mengutamakan keunggulan dalam negeri.
Pasar Produk Pindad
Kendaraan pertanian produksi PT Pindad [def.pk]
Memang target market-nya ke mana saja?
Saat ini, market yang menjadi sasaran adalah Timur Tengah, sebagian dari Asia Tenggara. Itu sudah ada beberapa kontak. Mudah-mudahan tahun ini juga akan punya kontrak untuk ekspor amunisi ke beberapa negara di Asia Tenggara dan Timur tengah.
Pasti ada saingan?
Ada. Tapi kami punya strategi. Karena industri pertahanan itu segmen tersendiri. Hanya beberapa industri pertahanan yang punya kemampuan unggul.
Sehingga kami memilih melakukan strategic partnership dengan beberapa negara dan vendor yang unggul.
Yang jadi partner?
Mereka tahu Indonesia punya kemampuan. Karena kami juga butuh beberapa material dari mereka, butuh teknologi bahan dari mereka.
Konkretnya seperti apa?
Misalnya konsep joint marketing dan joint production. Itu sudah berjalan. Salah satunya dalam waktu dekat kami akan kerja sama membangun munisi di Turen (Malang).
Selain itu?
Kami akan kerja sama, mungkin senjatanya merek Pindad dan kami bisa menjual produk itu di luar.
Negara mana saja yang mau kerja sama?
Beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Apa sih hambatan Pindad?
Untuk memasarkan produk pertahanan, ada satu regulasi yang kita sadari kita tidak bisa melanggar. Karena ini bicara ujung-ujungnya kedaulatan negara. Sehingga apapun kita harus izin dulu jika kita akan ada kerja sama atau penjualan produk.
Tapi sudah ada solusi?
Dengan melakukan strategic partnership itu, kami bisa menjual produk di dalam negeri, kami juga bisa menjual ke luar negeri dan ini sudah berjalan.
♞ Liputan 6

Posted in: Alutsista,Artikel,BUMN,BUMNIS,Hankam,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Kendaraan industri,Kendaraan Militer,Kerjasama,PINDAD
PUPR Borong Ekskavator Buatan Pindad
Ekskavator Buatan Pindad
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) borong 22 ekskavator buatan PT Pindad (Persero), Pindad Excava 200. Kontrak pembelian ekskavator bukanlah kali pertama, sebelumnya pada 2016 Kementerian PUPR pernah juga membeli ekskavator buatan Pindad sebanyak 57 unit.
"Tidak ada spesifikasi khusus, tapi Pindad Excava 200 untuk Kementerian PU Pera dibuat berwarna kuning, itu sesuai permintaan mereka," terang Dirut PT Pindad Abraham Mose dalam keterangan resminya, Jumat (4/8/2017).
Kesepakatan pembelian produk ekskavator buatan dalam negeri itu diteken oleh Direktur Produk Bisnis Industrial PT Pindad Bobby A. Sumardiyat dan PPK Bahan dan Peralatan Jembatan Direktorat Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU Pera Yana Astuti di Jakarta pada Kamis, (3/8).
Abraham Mose mengaku mengapresiasi dukungan dan kepercayaan Kementerian PUPR dalam menggunakan produk alat berat buatan dalam negeri. “Terimakasih atas kepercayaan dan dukungan Kementerian PUPR yang secara bertahap membeli Pindad Excava 200 di tengah banyaknya produk sejenis dari luar negeri," jelas dia.
Lebih lanjut Ia mengklaim, kualitas ekskavator buatan Pindad sangat baik, dapat diandalkan dan tidak kalah dengan produk buatan negara lain. Kelebihan ekskavator kelas 20 ton ini di antaranya telah menerapkan control system yang baik.
Dari sisi mesin, alat berat itu telah mempunyai spesifikasi engine lebih besar (127 kW), struktur lebih kokoh termasuk spesifikasi bucket untuk Heavy Duty dan digunakannya sistem floating pin yang biasanya hanya terdapat pada ekskavator kelas 40 ton ke atas.
Pindad Excava 200 ini telah mengantongi standar SNI dan juga telah ditayangkan di e-katalog LKPP untuk memudahkan proses pemesanan. "Produk kami ini telah melalui proses litbang, studi banding dan mengakomodir masukan dari pengguna serta telah dilakukan pengujian di area tambang," paparnya. (akr)
♞ sindonews

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,Kendaraan industri,PINDAD