Tiga Pesawat Sukhoi Uji Coba Bom Buatan TNI AU dan Pindad

Dalam siaran persnya, TNI AU menyatakan, ketiga pesawat Sukhoi tersebut menguji Bom Tajam Nasional (BTN)-250 dan Bom Latih Asap Practice (BLA P)-50, dengan tujuan untuk mengetahui daya ledak serta ketepatan sasaran. Kepala Penerangan dan Perpustakan (Kapentak) Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sutrisno, menuturkan jika uji coba Bom Tajam Nasional (BTN)-250 tersebut sukses sesuai dengan yang diharapkan, serta mendapat sertifikat kelaikan dari Dislitbangau, kemandirian di bidang alat utama sistem senjata atau alutsista akan terwujud.
"Sehingga pesawat TNI-AU, khususnya Sukhoi memiliki bom sendiri tanpa tergantung dari luar negeri," katanya.
Uji coba disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsekal Pertama TNI Basuki Purwanto, mulai dari pemasangan bom di body maupun wing pesawat Sukhoi hingga pelaksanaan pengeboman di AWR Pandanwangi, Lumajang. (Nurmulia Rekso Purnomo)
• KOMPAS.com
Posted in: Alutsista,Amunisi,Pesawat,PINDAD,TNI AU
Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim

Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim, Beberapa Rumah Terbakar
![]() |
| Ilustrasi Fokker 27 TNI AU |
Informasi seorang saksi mata kepada detikcom, pesawat itu jatuh pada pukul 14.45 WIB, Kamis (21/6/2012). Pesawat jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah.
"Ada sekitar 6-8 rumah warga yang terbakar. Rumah itu berada di sekitar Jalan Beranjangan," kata saksi mata tersebut.
Hingga kini beberapa mobil pemadan kebakaran sudah tiba di bandara Halim Perdana Kusumah.(asy/gah)
Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim Saat akan Mendarat
Jakarta Pesawat Fokker TNI AU jatuh di sekitar Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur dan menimpa beberapa rumah warga. Pesawat itu jatuh saat akan mendarat.
"Pesawat Fokker jatuh saat akan mendarat. Proses pendaratannya terganggu," kata seorang saksi mata kepada detikcom, Kamis (21/6/2012).
Pesawat itu menimpa beberapa rumah warga di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan. Rumah-rumah itu akhirnya terbakar. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.
Saat ini, beberapa unit mobil pemadam kebakaran sudah tiba di Bandara Halim.(asy/gah)
Asap Mengepul dari Rumah yang Tertimpa Fokker
Jakarta Asap masih mengepul dari rumah yang tertimpa Fokker 27 di kawasan Lanud Halim Perdanakusumah, Jaktim. Percikan api juga sesekali masih terlihat.
"Pemadam kebakaran sudah berada di lokasi," kata warga sekitar, Yayan, saat dikonfirmasi, Kamis (21/6/2012) pukul 15.15 WIB.
Petugas pemadam juga berjibaku menjinakkan api. Sedang lokasi sudah dijaga petugas TNI. Warga tidak diperkenankan mendekat. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.
"Warga juga sudah berkerumun, asap masih mengepul," jelasnya.
Hingga kini belum diketahui ada berapa korban jiwa yang jatuh akibat insiden ini. Rumah yang tertimpa pesawat milik TNI AU itu terletak di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan.(ndr/nrl)
Fokker Jatuh di Halim Dipiloti Mayor Hery & Kopilot Lettu Paulus
Jakarta Pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di kawasan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, dipiloti Mayor Pnb Hery.
"Sampai saat ini diketahui pilotnya bernama Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus," kata Kapuspen TNI Laksamana Pertama Iskandar Sitompul saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Iskandar mengatakan masih belum diketahui berapa penumpang yang berada di dalam pesawat. Pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut.
"Masih pilot dan kopilotnya saja yang baru diketahui. Penyebab dan penumpang lainnya masih didalami lagi," jelasnya.
Pesawat itu menimpa beberapa rumah warga di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan, yang berdekatan dengan bandara. Rumah-rumah itu akhirnya terbakar. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.
Saat ini, beberapa unit mobil pemadam kebakaran dan ambulans sudah tiba di Bandara Halim.(gus/nrl)
RSAU Esnawan Halim Kirim 10 Ambulans Evakuasi Korban Fokker
Jakarta RSAU dr Esnawan Antariksa sudah mengirimkan semua ambulansnya untuk mengevakuasi korban pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan, Halim, Jakarta Timur. Ambulans dan tim medis sedang melakukan evakuasi.
"Semua sudah dikirim ambulansnya. Posisi pesawat di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan," jelas operator RS dr Esnawan Antariksa Halim Perdanakusumah, Serka Lisma, ketika dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Berapa ambulans yang dikirim? "Ya sekitar 10-an kurang lebihnya," jawab Lisma.(nwk/nrl)
Fokker TNI AU Jatuh, 10 Mobil Damkar Dikerahkan ke Halim
Jakarta Asap hitam mengepul di kawasan Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, menyusul jatuhnya pesawat Fokker milik TNI AU. 10 Mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi.
"Kita sudah kirim 10 mobil pemadam ke Halim," kata petugas pemadam kebakaran, Sugiarto, kepada detikcom, Kamis (21/6/2012). Pesawat Fokker jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.
Ia mengaku belum mengetahui kondisi selanjutnya. "Petugasnya belum pulang," ujarnya.(aan/vit)
Sudah Ada Korban Pesawat Fokker yang Ditangani RSAU Halim
| Fokker 27 TNI AU terbang oleng. (foto: Pasya) |
"Sudah, sudah ada yang ditangani. Tapi mohon maaf karena saya bukan humas, tidak bisa menjelaskan kondisinya. Sekarang sedang fokus menangani korban," jelas petugas UGD RSAU dr Esnawan Antariksa yang tidak mau menyebutkan namanya ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Petugas UGD tersebut enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai jumlah dan kondisi korban yang sedang ditangani.
Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh pukul 14.45 WIB saat sedang latihan rutin. Pesawat jatuh menimpa 6-8 rumah di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan, tak jauh Lanud Halim, saat hendak mendarat. Pesawat itu dipiloti oleh Mayor Hery dan Kopilot Lettu Paulus.(nwk/nrl)
Ini Dia Penampakan Fokker Jelang Jatuh Hingga Timpa Rumah Warga
| (Foto: Pasya/pembaca detikcom) |
Adalah Pasya, seorang warga yang saat itu berada di gedung Blue Bird Halim, menyaksikan pesawat Fokker TNI AU terbang rendah saat akan mendarat di Halim. "Kebetulan saya membawa kamera, jadi saya potret," kata dia kepada detikcom.
Dia mengirimkan foto-foto itu kepada detikcom. Dari fotonya tersebut, pesawat yang dipiloti Mayor Pnb Hery itu tampak terbang rendah di atas bandara Halim.
Beberapa detik kemudian, terlihat api berkobar dari beberapa rumah di perumahan Rajawali Jalan Branjangan. Rumah-rumah ini berada persis di samping bandara. Asap hitam mengepul hebat dari perumahan itu. Ternyata pesawat itu jatuh menimpa beberapa rumah warga.
Dipastikan ada korban dalam kecelakaan ini. Beberapa korban sudah dilarikan ke RSAU Esnawan untuk ditangani, meski belum diketahui apakah ada korban meninggal atau tidak. Namun, hingga kini belum ada informasi pasti dari TNI AU maupun pejabat berwenang mengenai korban.(asy/gah)
Fokker-27 Jatuh Saat Latihan Rutin
Jakarta Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh saat sedang melakukan latihan rutin. Pesawat ini dipiloti Mayor Hery dan Kopilot Lettu Paulus.
"Sedang latihan rutin. Beberapa menit lalu baru jatuh," kata Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Sebelumnya Fokker ini jatuh di sekitar Kompleks Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur. Fokker ini jatuh menimpa sebuah rumah warga di sekitar bandara, tepatnya di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan, Jakarta Timur.
Ada sekitar 6-8 rumah yang terbakar akibat ketimpa Fokker tersebut. 10 Unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar rumah warga tersebut. Hingga kini masih belum diketahui korban jiwa akibat jatuhnya Fokker pada pukul 14.45 WIB ini.(gus/nrl)
Ledakan Keras Terdengar Saat Fokker-27 Jatuh di Halim
| (Foto Tribunnews) |
"Ada ledakan cukup keras kemudian terlihat asap hitam," kata Pasya, seorang pekerja di kawasan Halim, Jakarta Timur, kepada detikcom, Kamis (21/6/2012). Pasya saat itu sedang mengambil foto burung-burung di angkasa dari kantornya di Gedung Bluebird Halim.
Di saat memfoto-foto itulah Pasya melihat ada pesawat Fokker terlihat oleng dan terbang cukup rendah. "Sesaat kemudian pesawat itu menghilang, lalu terdengar ledakan dan juga asap hitam," kata Pasya yang juga sempat mengabadikan pesawat yang oleng itu.
Tak berapa lama kemudian terlihat armada pemadam kebakaran menuju Halim. Menurutnya saat ini kepulan asap sudah tak setebal saat awal kecelakaan terjadi.
"Asapnya masih ada, tapi tak setebal tadi," katanya.(nal/nrl)
TNI : Pilot, Kopilot & 1 Kru Fokker Meninggal Dunia
Jakarta TNI mengkonfirmasikan bahwa 3 awak yang ada di dalam pesawat Fokker F-27 meninggal dunia. Yang meninggal di dalam pesawat adalah pilot, kopilot dan seorang kru.
"Pilot, kopilot dan kru di RS, ini meninggal dunia," jelas Kapuspen Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Iskandar mengatakan nama pilot adalah Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus. Sedangkan kru yang meninggal adalah Lettu Fahroni.
"Pesawat Fokker-27 nomor ekornya A 2708," jelas Iskandar.(nwk/nrl)
Ini Nama 7 Orang di Fokker yang Jatuh
Jakarta Pesawat Fokker F-27 milik TNI AU jatuh di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan, yang berdekatan dengan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta. Pesawat tersebut berisi tujuh orang.
"Ada 7 orang di dalam pesawat itu," ujar Kadispen AU, Marsma Azman Yunus, saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Berikut ini nama 7 orang yang berada dalam pesawat nahas tersebut:
1. Mayor Penerbang Ari Setyawan (pilot) - versi lain Hery
2. Letu Penerbang Paulus (kopilot)
3. Letda Penerbang Syahroni (kru) - versi lain menyebut Fahroni.
4. Kapten Teknik Agus
5. Serma Simulato
6. Serka Wahyudi
7. Sertu Purwo
"Informasi sementara itu. Korban tewas masih didata," kata Azman.
Dia menjelaskan pesawat itu take off pukul 13.10 WIB. Beberapa saat kemudian saat akan mendarat, pesawat jatuh pukul 14.45 WIB.
Sebelumnya, Kapuspen TNI AU Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyebut 3 awak pesawat tewas yaitu pilot, kopilot dan 1 kru.(vit/nrl)
TNI: Korban Tertimpa Fokker Sekitar 3 Orang, Bisa Bertambah
| F27 TNI AU (foto Kaskus) |
"Dari 8 rumah yang tertimpa (pesawat) ada korban 3 atau berapa, lagi didata. Korban yang ketimpa pesawat harus diidentifikasi secara tertib," jelas Kapuspen Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).
Belum diketahui kondisi korban yang tertimpa pesawat yang sedang ditangani di RSAU dr Esnawan Antariksa itu.
Iskandar membenarkan ada korban anak-anak dalam kecelakaan yang terjadi pukul 14.45 WIB itu. "Betul ada anak-anak 1, orang dewasa 2. Sementara akan didalami dulu, bisa bertambah," kata Iskandar.
Sebelumnya dia menjelaskan, 3 kru di pesawat tersebut meninggal dunia. Mereka adalah pilot Mayor Pnb Hery, kopilot Lettu Paulus. Sedangkan kru yang meninggal adalah Lettu Fahroni.(nwk/nrl)
Ini Dia Bangkai Pesawat Fokker yang Jatuh di Halim
| (Foto: Rio/detikcom) |
Pemantauan detikcom, Kamis (21/6/2012), pesawat itu terbelah dan teronggok di rumah warga yang hancur tertimpa pesawat tersebut. Sebagian badan pesawat gosong karena terbakar beserta rumah-rumah yang tertimpa. Sebagian bagian pesawat lainnya masih bisa dilihat jelas.
Di antara yang masih terlihat jelas adalah bagian sayap dan potongan badan pesawat. Roda pesawat yang sudah terlepas dari badan pesawat juga terlihat jelas.
Hingga pukul 16.45 WIB, bangkai pesawat tersebut masih belum dievakuasi. Beberapa petugas dari TNI AU masih tampak berada di lokasi untuk membicarakan bagaimana mengangkut bangkai pesawat itu.(asy/nrl)
TNI AU: 6 Orang di Fokker Tewas, Kopilot Kritis
Jakarta Enam orang yang berada di perut Fokker-27 meninggal dunia. Satu orang lainnya, yakni kopilot Lettu Paulus dalam keadaan kritis.
"Lettu Paulus kritis. Itu kopilot," kata Kadispen AU Marsma Azman Yunus dalam jumpa pers di Halim, Kamis (21/6/2012). Berita ini juga meluruskan pernyataan Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul bahwa kopilot turut tewas dalam musibah itu.
Berikut nama korban tewas akibat kecelakaan ini:
1. Kapten Hery (pilot)
2. Letda Syahroni
3. Kapten teknis Agus
4. Serma Simulato
5. Serka Wahyudi
6. Sertu Purwo
Azman mendapat kabar 8 rumah hancur tertimpa pesawat tersebut. Dia juga mendengar ada korban sipil tetapi belum jelas keadaannya.
"Saya baru dapat kabar ada ibu-ibu yang kena. Tapi saya belum bisa memastikan keadaannya," tuturnya.(gah/nrl)
Black Box Fokker-27 Sudah Diamankan TNI AU
Jakarta Black box Fokker-27 yang menyimpan data selama penerbangan sudah ditemukan anggota TNI AU. Kini alat yang sangat vital untuk menemukan penyebab kecelakaan itu sudah diamankan pihak berwenang.
"Saya kira black boxnya sudah diamankan," tutur Kasubdispenum TNI AU Kol Agung Sasongko Jati dalam jumpa pers di Gedung Air Tower Center of Indonesia, Jl Cendrawasih, Kompleks Rajawali, Halim, Jakarta Timur, Kamis (21/6/2012) malam.
Sementara itu bangkai pesawat buatan Belanda ini akan dievakuasi dulu. Saat ini petugas dari TNI AU sedang melakukan pendataan tentang kecelakaan.
"Saya kira black boxnya sudah diamankan dan bangkai pesawat akan dievakuasi besok setelah pendataan tentang kecelakaan ini selesai," terangnya.(gah/nrl)
10 Orang Luka Ringan dan 2 Kritis Akibat Kecelakaan Fokker
Jakarta Komandan Lanud Halim Perdanakusumah Marsekal Pertama TNI Asep Adang Supriyadi, mengatakan, ada 12 korban luka dalam kecelakaan pesawat Fokker-27. Dua di antaranya kritis.
"Total ada 12 korban luka dirawat di di RSUP AU Esnawan Antariksa, Halim, Jakarta Timur," kata Asep di Lanud Halim, Jakarta, Kamis (21/6/2012) malam.
Dari 12 korban luka itu, 10 mengalami luka ringan. "Keterangan identitasnya belum bisa disampaikan," ujarnya.
Pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan, Halim, Jakarta Timur, pukul 14.45 WIB.
Pesawat itu bernomor register A 2708 buatan tahun 1977. Pesawat nahas itu dipiloti Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus. Pesawat jatuh saat latihan rutin.(rvk/nrl)
Korban Tewas Pesawat Fokker 27 Jadi 10 Orang
| Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional |
Dalam keterangan baru TNI AU, jumlah korban tewas bertambah menjadi 10 orang. Lettu (Pnb) Paulus, kopilot pesawat Fokker 27 yang sebelumnya dikabarkan kritis, akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. "Dari 10 korban, tujuh orang merupakan awak pesawat. Sementara, tiga orang lainnya berasal dari sipil," ujar Kasubdis Penum AU Kolonel Agung Sasongkojati dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/6).
Tiga korban sipil tersebut adalah Bryan (6), Naflin (2), serta seorang pembantu rumah tangga. Bryan dan Naflin merupakan anak dan keponakan Mayor Johanes yang rumahnya hancur tertimpa pesawat. Selain anak dan keponakan, istri Johanes, Martina, juga ikut menjadi korban dan saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.
Sementara tujuh orang awak pesawat adalah Mayor (Pnb) Heri Setiawan (instruktur), Lettu (Pnb) Paulus Adi, Letda (Pnb) Syahroni, Kapten (tek) Agus, Serma Simulato, Serka Wahyudi dan Sertu Purwo. Agung juga mengatakan, hanya ada satu rumah yang hancur, yaitu rumah Mayor Johanes.
"Delapan rumah lainnya hanya terbakar," katanya. Rumah yang terbakar diantaranya merupakan kediaman Letkol Sutarno, Mayor Muhlisin, Mayor Ali, Mayor Grahadi, dan Mayor Azwar. Sementara itu, penyebab terjadinya kecelakaan juga belum diketahui.
"Tidak ada yang mencurigakan, semua berjalan normal. Tiba-tiba saja peswat dikabarkan jatuh," ujarnya. Menurutnya, ini baru pertama kali terjadi seperti ini. Biasanya, kecelakaan pesawat latih terjadi saat pesawat dalam perjalanan terbang, bukan jatuh di tempat. Ia mengatakan, pesawat jatuh saat melakukan latihan touch and go.
"Mereka sedang latihan lepas landas sebentar kemudian take off. Diperkirakan pesawat jatuh di tengah-tengah proses tersebut," katanya menjelaskan. Ia menambahkan kontak terakhir pesawat dengan menara pengawas hanya permohonan izin landing dan take off.
Hingga saat ini, proses evakuasi bangkai pesawat masih dilakukan dan diperkirakan baru akan selesai esok hari. Kondisi pesawat sendiri hancur terbelah dua. "Saat ini kami masih mengumpulkan data dan bukti di lokasi kejadian sebagai bahan penyelidikan," katanya.
Kondisi pesawat masih bagus dan secara teratur dilakukan pengecekan. Pesawat Fokker 27 ini buatan Belanda tahun 1977 tersebut sudah mengoleksi 14.936 jam terbang. "Pesawat masih layak terbang, meskipun ada rencana untuk menggantikannya dengan peswat CN 25," ujarnya.
Rencananya, jenazah korban akan disemayamkan di hanggar Skaadron II, Halim Perdanakusumah. Tapi, masih harus menunggu proses autopsi di rumah sakit.
... Rest In Peace ...
Posted in: Pesawat,TNI AU
Indonesia Bakal Dapat Bantuan Pesawat Militer dari Australia
Bantuan Pesawat Militer dari Australia
![]() |
| C-130 TNI AU (Gambar Sinang Aribowo) |
"Sore ini ada agenda yang dihadiri oleh menteri pertahanan kita dan menteri pertahanan Australia tentang pengadaan pesawat Hercules C130 yang kita bahas beberapa saat lalu, yang akan kita adakan dari Australia, dengan format hibah. Tapi tentu ada biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, jadi sebetulnya setengah hibah, setengah kita beli," ujar SBY di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (2/7/2012).
SBY menjelaskan, Indonesia saat ini tidak lagi menerbangkan pesawat jenis Fokker 27. Oleh karena itu, diperlukan alat transportasi udara dengan muatan yang lebih banyak seperti pesawat transport militer menengah CN295. Selain itu, pengadaan pesawat C130 ini diharapkan bisa menjadi solusi sebagai guna memenuhi kebutuhan TNI Angkatan Udara (TNI-AU).
"Pesawat udara transport itu, diperlukan policy yang telah kita keluarkan kemarin. Kita tidak menerbangkan lagi Fokker 27 dan kita memerlukan sarana angkut yang lebih banyak lagi. Alhamdulilah program CN295 telah berjalan dan akan menjadi pengganti dari Fokker-27, bahkan dengan kapasitas yang lebih besar. Di samping itu kita juga menghidupkan kembali pesawat C130 dengan sparepart baru, termasuk pengadaan yang akan kita laksanakan dari Australia," jelasnya.
Seperti diketahui, pagi ini SBY bertolak ke Darwin, Australia. Agenda utama kunjungan kerjanya adalah mengikuti pertemuan konsultasi tahunan antara pemerintah RI dan Australia. Selain melakukan evaluasi atas tindak lanjut kesepakatan hasil pertemuan pertama di Bali, fokus pertemuan Presiden SBY dengan PM Julia Gillard adalah peningkatan kerjasama bilateral di bidang ekonomi.
Turut hadir dalam rombongan presiden menuju Australia tersebut, Ani Yudhoyono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Kepala BKPM Chatib Basri, Ketua Kadin Bambang Suryo Sulistio, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, KSAU Marsekal Imam Sufaat, Wamenkum HAM Denny Indrayana dan Kepala BNPB Syamsul Maarif.(mok/mok)(Detik)
Indonesia Terima Hibah 5 Pesawat C130 dari Australia
| Hercules Australia (Foto Airliners,net) |
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia akan menerima hibah lima pesawat C130 dari Pemerintah Australia. Penerimaan hibah ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Indonesia untuk memperkuat alutsista TNI. Proses hibah ini dilakukan pada kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Darwin, Australia, 2-4 Juli 2012.
"Tetap ada biaya yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia. Jadi sebetulnya setengah hibah, setengah beli," kata Presiden di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (2/7/2012).
Presiden melakukan kunjungan kerja ke Darwin, Australia, pada 2-4 Juli 2012. Presiden juga mengatakan, Pemerintah Indonesia akan menghidupkan kembali pesawat C130 dengan suku cadang baru. Terkait pengadaan suku cadang baru, pemerintah akan menggandeng Pemerintah Australia.
Peremajaan C130 ini dipandang penting, terutama setelah Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak menerbangkan pesawat Fokker 27-500 yang salah satu di antaranya jatuh pada 21 Juni 2012. Pada kunjungan kali ini, Pemerintah Indonesia-Australia juga akan membahas kerja sama di bidang penegakan hukum dan keamanan, utamanya dalam menghadapi kejahatan transnasional, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Pemerintah kedua negara juga akan membahas peningkatan kerja sama di bidang ekonomi.(Kompas)
Indonesia-Australia Tanda Tangani MOU Hibah 4 Hercules

Darwin (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Australia menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) hibah empat pesawat Hercules tipe C-130 H dari Australia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Haryanto dan Panglima Angkatan Bersenjata Australia David Hurley menandatangani MoU tentang hibah pesawat tersebut di RAAF Darwin, Australia, Senin.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan koleganya, Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith, menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman hibah yang dilakukan di depan pesawat Hercules yang akan dihibahkan itu.
Dalam sambutannya, Smith mengatakan Australia sudah mendapat persetujuan Amerika Serikat (AS), sebagai produsen pesawat Hercules, untuk menghibahkan ke Indonesia. Ia menambahkan pemberian hibah produk-produk militer asal AS harus seizin negara tersebut.
Menteri Purnomo Yusgiantoro mengatakan hibah pesawat Hercules itu dibutuhkan Indonesia, terutama untuk mendukung operasi-operasi militer bukan perang seperti penanganan bencana.
"Atas nama pemerintah, saya sangat mengapresiasi hal ini," katanya.
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, empat pesawat hibah tersebut tidak bisa langsung dibawa pulang karena akan direnovasi terlebih dulu.
Perbaikan, termasuk pengecatan dan penggantian suku cadang, untuk pesawat yang dihibahkan membutuhkan dana sekitar 50 juta dolar Australia. (M041)(Antara)
Posted in: Alutsista,Pesawat,TNI AU
★ Litbag TNI AU Kembangkan Prototipe Smart Bomb JDAM
Indo Defense 2012
Jakarta - Divisi Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbang AU), pamerkan berbagai macam produk hasil penelitiannya di Indo Defence Expo and Forum 2012. Salah satu produk andalannya adalah smart bomb.
Seperti namanya, smart bomb merupakan bom pintar karena telah dilengkapi peralatan sensor elektronik berupa guidance kit. Guidance kit yang terletak di bagian ujung belakang bom ini dilengkapi GPS yang siap dioperasikan oleh pilot.
Menurut petugas jaga stand Dislitbang AU, Mashuri, sirip bom yang berwarna orange ini dapat berubah posisi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan baterai.
"Pilot akan mengendalikan dengan langsung menentukan berapa koordinat sasaran. Sehingga tingkat akurasi jatuhnya bom lebih tepat," terangnya dalam pameran yang digelar di JIE, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (8/11/2012).
Bom yang memiliki panjang lebih dari 1 meter ini adalah buatan Jerman dan telah digunakan pada pesawat NATO dan Hawk. Namun sayangnya belum pernah dilakukan uji coba di Indonesia.
"Kami baru melakukan penelitian. Memang tahun ini sasarannya prototype dulu," ucap Mashuri.
Walau mengusung kata 'smart' yang berarti pintar, produk ini juga masih memiliki keterbatasan yakni belum mampu digunakan untuk sasaran yang bergerak. Sebab kendalinya disetting sebelum bom diluncurkan. Sehingga ketika koordinat sasaran berubah, bom ini belum mampu mendeteksi pergerakannya.
Menurut Mashuri, smart bomb akan diuji coba tahun depan. Selanjutnya akan dibuka tender untuk produksi bom baru ini.
© Detik
Posted in: Alutsista,TNI AU
Pesawat Latih KT-1B TNI AU Bertambah
Bandung - Pangkalan Udara Utama TNI AU Adisutjipto, Yogyakarta, mendapat tambahan satu pesawat latih baru jenis KT-1B Wong Bee buatan Korea Selatan yang dirakit PT Dirgantara Indonesia, Bandung.
"Dengan penambahan pesawat tersebut diharapkan program pembinaan penerbang TNI AU dapat lebih baik," kata Komandan Pangkalan Udara Utama TNI AU Adisutjipto, Marsekal Pertama TNI Abdul Muis, di Yogyakarta, Rabu.
Dengan demikian, menurut dia, kebutuhan penerbang dapat terpenuhi secara ideal dan berlanjut. Hal ini juga merupakan upaya pimpinan TNI AU dalam penyediaan sumber daya manusia penerbang yang profesional dan andal dalam setiap pelaksanaan tugas.
"Di Sekolah Penerbang di sini, pesawat jenis itu dipakai sehari-hari untuk kegiatan latih lanjut dan digunakanJupiter Aerobatic Team (JAT) karena keandalannya," katanya.
Ia mengatakan kedatangan pesawat itu merupakan realisasi pemesanan pemerintah Indonesia kepada pemerintah Korea Selatan dalam hal ini Korean Aerospace Industries.
"Kedatangan pesawat KT-1B itu merupakan tahap terakhir pada 2012. Pesawat itu diterbangkan Komandan Skuadron Pendidikan102, Letnan Kolonel Penerbang Dedy Susanto, dari perusahaan yang merakitnya PT Dirgantara Indonesia, Bandung," katanya.
Menurut dia, sejak 2003 Korsel mengekspor pesawat KT-1B, yang merupakan modifikasi KT-1, kepada TNI AU dan perakitannya dipercayakan kepada PT Dirgantara Indonesia.
Pesawat KT-1B merupakan pesawat kecil dengan baling-baling bermesin turbo, cukup lincah, dan bisa bermanuver dalam banyak formasi. Pesawat itu lebih besar dari pesawat Maserati.
"Korsel mengirimkan beberapa unit pesawat KT-1B ditambah komponennya ke Indonesia. Pada 2003 TNI AU telah mendapat tujuh pesawat, selanjutnya pada 2007 memperoleh lima pesawat, dan pada 2012 mendapatkan lima pesawat," katanya.
© Antara
Posted in: Pesawat,TNI AU
★ Upaya Menjadikannya Elang Pengintai
Pensiunnya pesawat tempur A-4 Skyhawk, meninggalkan pula berbagai peralatan yang sejatinya masih bisa dan layak digunakan. Salah satunya adalah pod kamera pengintai Vicon 70.
Dengan telah berakhirnya masa operasional pesawat A4 Sky Hawk, maka berakhir pula pengoperasian kamera pod Vicon 70. Hal tersebut berdampak pada menurunnya kemampuan TNI-AU dalam hal pengamatan udara.
Akan tetapi, bukan TNI-AU namanya kalau tidak kreatif. Pod kamera yang ada oleh Dislitbang TNI-AU kini sedang diteliti agar bisa dimanfaatkan di pesawat Hawk 109/209. Proses penelitian itu sendiri diantaranya mempelajari sistem wiring kamera pod Vicon 70 dan sistem wiring pesawat Hawk 109/209, memperbaiki dan mengoperasikan kembali kamera pod vicon 70, mempelajari sistem penempatan kamera pod vicon 70 pada pesawat Hawk 109/209 dan membuat simulasi aerodinamika kamera pod. Selain itu, turut dibuat pula switch on-off pengoperasian kamera pada kokpit pesawat.
Vicon 70 sendiri merupakan kamera pengintai yang biasa digunakan oleh pesawat tempur subsonik. Meski berusia lumayan tua, Vicon 70 sudah menganut konsep modular. Isi dari pod bisa diganti berbagai tipe kamera sesuai kebutuhan. Standarnya, Vicon 70 total mempunyai 4 kamera. Yaitu sebuah kamera oblique ke depan, 2 buah kamera vertikal serta sebuah kamera panoramic.
Diduga, sampai saat ini Pod kamera tersebut belum diuji terbang di pesawat Hawk 109/209. Jika upaya ini berhasil, maka TNI-AU kembali mampu mengoperasikan Elang Pengintai. BRAVO TNI-AU..!!
© ARC
Posted in: Alutsista,TNI AU
Dislitbangau Ujicoba Bom Anti Personal
Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) akan mengadakan uji coba bom anti personel di Lanud Iswahjudi. Uji coba bom ini guna mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk luar negeri dan sebagai wujud kemandirian terhadap industri pertahanan di tanah air.
Terkait uji coba bom tersebut, Tim dari Dislitbangau, sebelum pelaksanaan uji coba bom, memaparkan terlebih dahulu produk yang akan di uji coba, serta menyamakan persepsi terhadap hasil penelitian dan pengembangan dengan satuan pengguna.
Tim yang dipimpin oleh Kolonel Tek Agus Rudi Supriyadi iterima langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., didamping Komandan Wing 3, Kolonel Pnb Teddi Rizalihadi dan para pejabat Lanud Iswahjudi, di Ruang Briefing Teddy Kustari, Kamis, 17 Januari 2013.
Dalam paparan tersebut, Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., merasa bersyukur dan bangga atas hasil yang dicapai Dislitbangau dalam kaitan dengan keterbatasan anggaran. "Diharapkan produk yang dihasikan Dislitbangau ini kedepan dapat dikembangkan sehingga dapat menghemat anggaran," Ungkap Marsma TNI Yuyu.
Lebih lanjut, Danlanud berpesan agar pelaksanaan uji coba bom ini dikaji sedetail mungkin, ikuti prosedur yang ada serta koordinasikan sebaik-baiknya dengan pihak-pihak terkait, dan yang tidak kalah pentingnya utamakan keamanan dan keselamatan dalam rangkaian uji coba bom tersebut, sehingga dapat berjalan dengan lancar, aman dan sukses.
Sementara, Tim Dislitbangau memaparkan hasil penelitian dan pembuatan Blast Effect Bom Anti Personel yang merupakan bom yang dirancang khusus untuk menghasilkan serpihan yang disesuaikan dengan sasaran, dan akan diuji coba akhir bulan Januari 2013 dengan menggunakan pesawat F-16/Fighting Falcon di ASR Pandanwangi, Lumajang Jawa Timur.
● Pentak Lanud Iswahjud

Posted in: Alutsista,TNI AU
TNI AU Terlibat dalam Misi Modifikasi Cuaca bersama BPPT
Jakarta � HARI ini (27/12013) diperkirakan akan muncul pasang surut air laut dan curah hujan tinggi yang berpotensi banjir di Jakarta.
Untuk mengurangi resiko itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan TNI Angkatan Udara melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya menggunakan Hercules C-130 dan Skadron Udara 31.
Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC ini bertujuan mengurangi hujan sehingga banjir dapat diredam.
“Ada dua upaya yang dilakukankan yaitu menghambat pertumbuhan awan, dan menjatuhkkan hujan di luar daerah rawan banjir,” ujar Ketua pelaksana rekayasa cuaca Dr Tri Handoko Seto,
Pertama “mempercepat proses awan menjadi terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah ‘upwind’ yang bergerak memasuki Daerah Aliran Sugai (DAS).
Kedua mengganggu proses pertumbuhan awan di dalam DAS yang bergerak meninggalkan DASagar awan tidak menjadi hujan di dalam DAS.
“Lanud Halim sebagai pelaksana operasional siap melaksanakan tugas dan membatu apaun yang bisa” ujar Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI A. Asep Adang Supriyadi, saat menyaksikan loading 4 ton garam di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma .
Pesawat yang digunakan dalam kondisi siap dan baru selesai dimodifikasi khusus untuk rekayasa cuaca.
“Awak pesawatnya sudah professional,” tegasnya.
Ia berharap. mudah-mudahan selama pelaksanakan rekayasa cuaca ini dapat berjalan dengan aman dan lancar karena kita berkerja dan berbuat untuk kepentingan masyarakat, Negara dan bangsa.
● Pelita Online

Posted in: BPPT,TNI AU
Dislitbangau Berhasil Uji Coba Parasut Terjun Freefall
DINAS Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) berhasil meneliti, membuat dan menguji coba parasut (payung) untuk terjun Freefall. Ujicoba dilaksanakan belum lama ini di Pangkalan TNI AU Suryadarma, Kalijati, Subang dengan menggunakan dua Pesawat Helikopter EC 120 Colibri dari Skadron Udara 7 dan personel Paskhasau dari Wing 3 Paskhas Bandung sebagai penerjun.
Menurut Kolonel Tek Christian Shahmo, Kasubdis Matsus Dislitbangau, selaku Kalakgiat mengatakan pembuatan payung tersebut Dislitbangau bekerjasama dengan PT Langit Biru Parasut Bandung dan berhasil di uji coba dengan hasil baik dan memuaskan sehingga layak untuk diterbitkan sertifikat uji coba oleh Kadislitbangau, Marsma TNI Edy Yuwono.
Dijelaskan Kolonel Tek Christian uji coba dilakukan sebanyak tiga sorty dengan dua pesawat Helikopter EC 120 Colibri yang diawaki Letkol Pnb Daan Sulfi, Kadisops Lanud Suryadarma, Lettu Pnb Kadek, Mayor Pnb Anggit Budi W, Lettu Pnb Trio Agung dan penerjun dari Wing 3 Paskhas, Pelda Rusli, Serka Petrus, Serka Almustofa (Juru Kamera) dan Pelda Dwijo sebagai Jump master.
Sorty Pertama uji coba dilakukan dengan menggunakan dummy seberat 95 kg dan berhasil mengembang dan mendarat dengan baik, akhirnya sorty ke dua dan ketiga dilaksanakan uji coba langsung oleh penerjun dengan sistem HAHO dan HALO dari ketinggian diatas 7000 feet.
"Standar parasut baik dan layak untuk digunakan” Kata dua penerjun uji coba Rusli dan Petrus ketika mendarat setelah beberapa menit melayang di udara.
Hadir dalam uji coba tersebut sebagai penilai Kolonel Tek Andi PS, Dislambangjaau, Kolonel Tek Hadi Purnomo dan Kolonel Tek Didik Bangun, Dislitbangau, Letkol Pnb Agung Nugroho, Sopsau,Letkol Tek Iwan Tahandi, Srenaau dan beberapa Pamen dari Koharmatau, Korpaskhasau, Dispotdirga dan Depohar 70.(red)
● Majalah Potret Indonesia

Posted in: Indonesia Teknologi,TNI AU
Komandan Skadron Udara 31 Siap Dukung TMC
KOMANDAN Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik menegasakan Skadron Udara 31 sebagai pelaksana teknis dilapangan siap melaksanakan perintah Dari komando atas untuk membantu pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) oleh BPPT bekerjasama dengan BNPB Jumat, 8/02 di Taxy Way Echo Lanud Halim.
Sejak dicanangkan Posko Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca pada akhir Januari lalu, hingga Hari ini Jumat (8/2), Lanud Halim Perdanakusuma yang dikomandoi oleh Komandan Lanud Halim Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; sebagai perpanjangan tangan Mabes TNI telah melaksanakan beberapa kali penerbangan.
Setiap pagi sebelum penerbangan dilaksanakan briefing untuk perkiraan penentuan lokasi penaburan garam di daerah mana, koordinat berapa dan di ketinggian berapa dilanjutkan pelaksanaan yaitu setiap hari dua sorti penerbangan berdasarkan perencanaan dari BPPT. Untuk redistribusikan curah hujan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kerjasama BPPT dan BNPB didukung oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta, TNI dan BMKG.
Seperti yang diberitakan selama ini, sejak adanya surat pernyataan darurat bencana banjir yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Serta adanya permintaan bantuan penanggulangan banjir oleh Jokowi kepada BNPB. Maka BNPB menggandeng BPPT bersama TNI Angkatan Udara untuk menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca yang direncanakan sampai akhir Maret.
Menurut Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik, TNI tentu saja sangat mendukung kegiatan kemanusiaan ini dengan mempersiapkan pesawat Hercules C-130 yang memiliki daya angkut cukup besar untuk menyebarkan berton-ton garam dapur (Natrium Klorida) melalui udara yang hingga hari ini, Jumat hampir 68 ton garam dapur yang sudah ditabur.
Pada bagian lain Ketua Penanggungjawab Lapangan BPPT, Dr Tri Handoko Seto, Msc, yang juga Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT menjelaskan bahwa “Realisasi TMC ini berubah-ubah tergantung kondisi cuacanya”. Ujarnya kepada media.
“Ada dua jenis teknik TMC yakni dengan teknik kompetisi dan teknik mempercepat hujan di daerah sebelum masuk di wilayah Jakarta atau mengurangi curah hujan yang jatuh di DKI” tegasnya.
Lebih jauh dikatakan, Teknologi Modifikasi Cuaca ini harus memiliki tiga unsur yakni, pesawat, bahan semai dan Flight Scientist. Disamping menggunakan pesawat, BPPT juga memiliki sistem Ground Base Generator yang terletak di daerah Puncak Jawa Barat.
Diharapkan Penduduk DKI Jakarta tetap waspada dengan turut serta dengan disiplin seperti membuang sampah pada tempatnya, namun juga harus optimis, sebab segala daya upaya telah dilakukan oleh pemerintah bersama TNI dalam menanggulangi bencana banjir ini. Kesiap-siagaan Lanud Halim Perdanakusuma dengan Skadron Udara-nya patut dibanggakan.
Keterangan gambar: Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik bersama Ketua Penanggungjawab Lapangan BPPT, Dr Tri Handoko Seto, Msc saat mengecek garam yang akan dimasukan ke pesawat untuk ditabur. (Foto: Pentak Lanud Halim P).
● Majalah Potret Indonesia

Posted in: BPPT,TNI AU
108,6 Ton Garam Ditabur Ke Awan Atasi Banjir Jakarta
Sejak digelarnya operasi modifikasi cuaca oleh BNPB bersama BPPT didukung BMKG dan TNI pada 26 Januari 2013 hingga hari ini sudah 108,6 ton bahan semai berupa NaCl (garam dapur yang sudah diolah menjadi tepung) disebarkan ke dalam awan. Dengan demikian, hujan bisa dialihkan ke tempat lain.
"Total sudah 36 sorti penerbangan untuk menaburkan bahan semai ke dalam awan. 24 sorti dengan pesawat Hercules C-130 dan 12 sorti dengan pesawat Casa 212-200," kata Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (10/2).
Berdasarkan evaluasi sementara menunjukkan bahwa upaya modifikasi cuaca ini telah berhasil mendistribusikan hujan. Dibandingkan dengan rata-rata hujan wilayah Jakarta, curah hujan yang terjadi selama pelaksanaan modifikasi cuaca lebih kecil. Berarti ada penurunan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya.
Target awal adalah hujan berkurang 30 persen daripada hujan normalnya. Evaluasi menyeluruh akan segera dilakukan untuk menentukan apakah operasi diteruskan atau dipindah ke daerah lain yang rawan banjir.
"Rencana awal operasi hingga 25 Maret 2013 dengan disesuaikan kebutuhan di lapangan," kata Sutopo.
Hari ini dilakukan 3 sorti penerbangan. Sorti pertama pada pukul 10.56-12.53 WIB menggunakan pesawat Hercules. Penyemaian dilakukan pada sel-sel awan Cumulus pada ketinggian 11.000-13.000 kaki di Timur Jatiluhur sampai Lembang dan di daerah Laut Utara Pantai Indramayu dengan bahan 4 ton.
Sorti kedua pukul 11.28-12.57 WIB menggunakan pesawat CASA 212-200. Penyemaian dilakukan pada sel-sel awan Cumulus dengan ketinggian 13.000 - 14.000 feet di daerah Cikotok. Ketinggian penyemaian 10.000 feet dan menghabiskan bahan semai 1 ton.
"Sorti ketiga dengan pesawat Hercules A-1323 pada pukul 14:45 - 16:06. Penyemaian dilakukan di daerah Purwakarta, Cikampek dan Subang pada ketinggian 10.000 feet. Di darat telah dilakukan pengoperasian GBG dengan 23 flare di 13 lokasi, dan GBG sistem larutan di 3 lokasi selama masing-masing 6,5 jam," kata Sutopo.(mdk/ian)
● Merdeka

Posted in: BPPT,TNI AU
KSAU Kunjungi Industri Elektronika
Meninjau Ruang Simulator Pesawat Boeing Bandung ★ Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia bersama rombongan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Marsetio beserta para pejabat Asisten Panglima TNI, mengunjungi PT LEN yakni perusahaan industri elektronika, Jumat (11/4). PT LEN yang berada di Jalan Soekarno-Hatta di Bandung itu antara lain memproduksi Radar maupun Simulator.
Setibanya di PT. LEN Industri, KSAU yang didampingi oleh Dankoharmat Marsda TNI Sumarno, Dankorpaskhas Marsda TNI M. Harpin Ondeh, S.H., Kadislitbangau Marsma TNI Amirudin Ahkmad, Koorsmin Kasau Kolonel Pnb Imran Baidirus, Kadisops Lanud Husein Sastranegara Letkol Pnb Herdy Arief S diterima langsung oleh Direktur Utama PT. LEN Industri, Abraham Mose.
Dalam kunjungan tersebut, KSAU beserta rombongan juga berkesempatan untuk menerima paparan singkat tentang perusahaan tersebut dan dilanjutkan meninjau ruang simulator pesawat boeing milik PT. LEN.
Kepala Penerangan Lanud Husein Sastranegara, Kapten Sus. Sundoko, dalam siaran persnya, mengatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko beserta Para Asisten Panglima TNI melakukan kunjungan kerja ke Sesko TNI dalam rangka memberikan ceramah kepada Pasis Dikreg XLI Sesko TNI.
★ Jurnas

Posted in: LEN,TNI AU
Cegah Banjir, Tim Rekayasa Cuaca Tebar Garam di Langit DKI
Tahun ini, tim melakukan metode baru penyemaian garam di atas awan.
Jakarta ♞ Tim rekayasa cuaca mulai melakukan operasi modifikasi cuaca di kawasan Jabodetabek, Selasa 14 Januari 2014. Tim yang terdiri dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan TNI Angkatan Udara menggunakan dua buah pesawat pengangkut Hercules dan Casa 212-200. Kedua pesawat ini dibantu satu buah helikopter Colibri sebagai pemantau kondisi di darat.
"Dengan dilakukannya teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini kita menggunakan dua metode. Mempercepat proses awan menjadi hujan dan jumping process terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah Jabotabek agar bergeser keluar Jabotabek," kata Kepala UPT Hujan Buatan, BPPT Heru Widodo di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa 14 Januari 2014.
Heru menjelaskan, tahun ini proses TMC Jabotabek menggunakan teknologi baru. Consule TMC (peralatan mekanisasi seeding) dan modifikasi ramp door pada pesawat Hercules C-130. Menurutnya, consule ini berbentuk tangki yang diletakkan dalam satu konstruksi rangka yang dilengkapi dengan roda. Setiap Consule berisi 3 (tiga) tangki, kapasitas setiap tangki sekitar 850 kg.
Dengan sistem consule TMC ini lanjut Heru, sebaran bubuk garam di dalam kabin pesawat dapat diminimalisir dan ancaman korosi pada pesawat Hercules dapat dicegah, karena Consule TMC dirancang bekerja dengan kondisi pressurized sistem.
"Kami telah berhasil membuat enam buah consule TMC. Ini disiapkan untuk modifikasi cuaca Jabotabek," ucap Heru.
Dengan teknologi baru ini, Heru berharap efektifitas kerja semakin cepat. "Dengan teknologi ini penyemayan garam di atas awan bisa dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit. Jauh lebih efektif dibanding dahulu dengan merobek karung garam dan menyebarkan secara manual. Selain itu penyebaran garam akan lebih tepat sasaran," katanya.
Dari catatan BPPT hasil TMC tahun lalu hujan di wilayah Jaotabek berkurang 35 persen. "Dengan teknologi baru tahun ini kita harapkan lebih. Berapa besarannya kita lihat nanti setelah TMC selesai. Intinya penyemayan garam kita akan lakukan setiap hari hingga dua bulan ke depan," kata Heru.
Selain itu proses penyemayan awan yang dilakukan menggunakan menggunakan bahan ramah lingkungan."Yang kita gunakan sejenis garam dapur yang tidak berdampak buruk pada lingkungan termasuk bila jatuh langsung ke tanah," ucapnya.(eh)
Modifikasi Cuaca Jakarta Habiskan Anggaran Rp 40 M
Anggaran ini belum diketok palu DPRD DKI Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hari ini menggelar operasi modifikasi cuaca di langit Jakarta dan sekitarnya. Operasi ini akan berlangsung selama dua bulan ke depan.
Kepala BNPB Syamsul Maarif mengungkapkan, operasi menggunakan teknologi itu akan menghabiskan anggaran daerah sebesar Rp 40 miliar. "Dana ini bersumber dari anggaran operasi BNPB yang bersumber dari APBN dan APBD Pemprov DKI," kata Syamsul di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 14 Januari 2014.
Dalam operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hari ini, BNPB terpaksa menombok lebih dulu karena anggaran dari Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp 20 miliar belum cair. Syamsul mendapat kabar, pencairan anggaran tersebut masih menunggu ketok palu DPRD DKI Jakarta.
Sementara waktu, operasi ini dibiayai dari dana tanggap darurat BNPB. Menurut Syamsul, BNPB punya dana tanggap darurat bencana sebesar Rp 100 miliar. Dana ini bersifat standby dan bisa dicairkan kapan saja bila ada bencana di wilayah Indonesia.
Syamsul juga menjelaskan mengapa operasi TMC sangat mahal. Penyebab pertama, kata dia, harga berbagai material untuk penyemaian hujan memang mahal. "Selain itu, ongkos opersional sebuah pesawat tidak bisa dibilang murah," katanya.
TMC ini akan dibantu pesawat Hercules, Casa 212-200, dan satu buah helikopter Colibri sebagai pemantau kondisi di darat merupakan bantuan dari TNI AU.
Adapun operasi TMC tersebut merupakan tindak lanjut dari status Siaga Darurat Banjir DKI Jakarta yang dicanangkan Gubernur Joko Widodo, kemarin. Senin 13 Januari 2014, sebagian wilayah Jakarta dan sekitarnya direndam banjir setelah hujan terus mengguyur sejak Minggu 12 Januari lalu.(eh)
● Vivanews

Posted in: BPPT,Ilmu Pengetahuan,Metro,TNI AU
Pesawat CN-295 Kembali Perkuat TNI
KUPANG---Kolonel dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Gita Amperiawan mengatakan TNI Angkatan Udara akan kembali menerima pesawat transportasi teknis jenis CN-295 pada bulan depan.
"Dari sembilan pesawat CN-295 yang kita pesan untuk skuadron dua TNI AU tahun ini, sebanyak dua pesawat sudah datang dan sudah dipakai. Dua lagi akan datang 35 hari mendatang, atau kira-kira bulan depan," kata Kolonel dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Gita Amperiawan, kepada wartawan dalam perjalanan dari Jakarta menuju Kupang menumpang pesawat CN-295, bersama rombongan Kementerian BUMN, Jumat (23/8) malam.
Pesawat CN-295 merupakan pesawat yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia, namun saat ini masih dirakit di Spanyol. Gita mengatakan meskipun dirakit di Spanyol, namun dua pesawat CN-295 yang telah datang, dilakukan pengecatan dan penyelesaian di Indonesia. Pesawat ketiga dan keempat yang diperkirakan tiba September, juga akan dicat dan diselesaikan di Indonesia.
Selanjutnya, pesawat kelima, keenam dan ketujuh yang datang berikutnya, akan mulai dikustomisasi di Indonesia. Sedangkan pesawat kedelapan dan kesembilan sepenuhnya akan dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia di Bandung. "Mulai tahun depan, mudah-mudahan PT Dirgantara Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri di Indonesia," kata dia.
Gita mngemukakan TNI AU akan terus menambah pesawat jenis CN-295 hingga berjumlah 16 buah untuk memenuhi kebutuhan skuadron dua TNI AU di Halim Perdanakusuma Jakarta. Dia menjelaskan, pesawat jenis CN-295 berkapasitas penumpang 79 orang (jika dimodifikasi dengan bangku model memanjang). Pesawat tipe medium itu memiliki kekuatan mesin dan kecepatan lebih besar dibandingkan tipe sebelumnya yakni CN-235. "Kemampuan terbangnya sembilan jam jika bahan bakar penuh," ujar dia.
Menurut dia, CN-295 merupakan pesawat khusus transportasi baik untuk prajurit maupun logistik. Dalam kondisi perang, pesawat jenis tersebut harus dikawal oleh pesawat tempur, karena CN-295 tidak dirancang untuk bertempur. "Pesawat ini tidak dipersenjatai dan memang tidak bisa dipasangi senjata, hanya khusus untuk 'dropping' pasukan dan logistik. Jadi dalam kondisi perang harus ada pesawat 'escort' atau pendamping," kata dia.
● Republika

Posted in: Pesawat,TNI AU
Uji Statis Roket 80 mm Hasil LITBANGBUAT DISLITBANGAU
Tim Peneliti Roket 80 mm Dislitbangau yang dipimpin Kasubdis Rudalsen Kol. Tek Adang Heri Raspati melaksanakan Uji Statis terhadap Roket 80 mm hasil penelitian pengembangan dan pembuatan Subdis Rudalsen Dislitbangau. Uji Statis ini dilaksanakan di Pustek Roket Lapan Rumpin Bogor, belum lama ini.
Pengujian berjalan dengan baik, aman dan lancar dengan melibatkan tim dari Pustek Roket Lapan. Kegiatan penelitian pengembangan dan pembuatan Roket 80 mm akan dilanjutkan pada tahap selanjutnya pada TA 2014 yang akan datang.
♞ TNI AU

Posted in: Indonesia Teknologi,Roket,TNI AU
Indonesia Segera Miliki Rudal Penangkis Serangan Udara
Jakarta ☆ Perang di era modern tak lagi saling berhadapan. Tapi melibatkan persenjataan canggih, termasuk rudal. Sekali tembak, nyawa ribuan orang di posisi target, yang jauhnya ratusan hingga ribuan kilometer, niscaya terancam.
Maka dari itu, rudal penangkal sebagai sistem pertahanan alternatif, menjadi wajib dimiliki. Saat ini, TNI Angkatan Udara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan PT Dahana, sedang mengembangkan rudal Penangkis Serangan Udara (PSU) jarak sedang. Senjata anti-rudal ini akan dikembangkan dari roket-roket yang telah berhasil dibuat Lapan.
Lapan telah berhasil meluncurkan beberapa tipe roket seperti RX-420 yang memiliki daya jangkau di atas 100 km. Lapan juga sedang mengembangkan roket berdaya jangkau 200 km lebih yaitu RX-550.
"Iya dari pengembangan roket Lapan sebelumnya. Mereka sudah berhasil, peluncurannya sudah lurus. Cuman isiannya, pendorongnya itu masih dikembangkan terus," ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama (Marsma) Hadi Tjahjanto saat dihubungi, Jakarta, Selasa (25/02/2014).
Hadi menambahkan, saat ini permasalahan untuk rudal penangkis udara terjadi pada propelannya. Rencananya beberapa tahun ke depan propelan ini sudah bisa diperbaiki dan dilakukan uji coba kembali.
"2 atau 3 tahun ke depan isiannya atau propelannya itu sudah ditemukan akan dibuat uji coba lagi. Kalau memang bagus akan ditawarkan pada BUMN atau Bumnis (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis)," imbuh pria berkumis ini.
Apakah pengembangan ini untuk rudal jarak sedang atau jauh?
"Nanti kalau propelannya itu sudah teruji tinggal isiannya mau dibuat jarak sedang atau jauh. Kalau nama rudal nunggu sudah jadi baru dari BUMN dengan Kemenhan yang nanti ngasih nama rudalnya," jawab Hadi.
Saat ini TNI AU hanya memiliki PSU yang aktif dari kelas jarak pendek seperti Oerlikon, Starstrek, VL Mica dan lain-lain. Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menuturkan saat ini pihaknya sedang menjajaki PSU untuk jarak sedang. Rencana ini akan disusun di Minimum Esential Force (MEF) rentra kedua (2015-2019).
"Untuk 10 sampai 100 km itu perlu kendali jarak sedang, sekarang kita lagi diproses. Mudah-mudahan segera melengkapi sistem pertahanan kita," kata Putu saat menerima 16 unit pesawat T-50i dari Korea Aerospace Industry (KAI) di Lanud Halim Perdakusuma, Jakarta Timur, Kamis 13 Februari 2014.
♞ Liputan 6

Posted in: LAPAN,Rudal,TNI AU
★ PT DI Kembali Produksi CN-235 Pesanan Kemenhan
Spesifikasi pesawat intai TNI AU berbeda dengan milik TNI AL
TNI AU membutuhkan tiga pesawat CN-235MPA untuk membentuk skuadron baru pesawat intai taktis. Spesifikasi pesawat intai TNI AU berbeda dengan milik TNI AL (photos : IAe, Alert5)
Penyerahan pesawat udara CN 235 ke Puspenerbal yang berlangsung hari ini di Apron Base Opps Lanudal Juanda, Selasa (17/9/2014), menjadi pelunasan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dari pesanan Kementerian Pertahanan RI.
PT DI tuntas menyelesaikan pembuatan dan menyerahkan tiga CN 235 220 Patroli Maritim (Patmar) yang digunakan penunjang kinerja TNI AL.
Direktur PT DI Budi Santoso mengatakan, pemesanan pesawat udara oleh Kementerian Pertahanan ini jadi titik awal kontrak kedirgantaraan dalam jumlah besar. Setelah pemenuhan pesanan tahap ini, PT DI kini telah memiliki kotrak untuk menyelesaikan tiga pesawat udara CN 235 lagi oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
“Ada pesanan lagi, satu untuk TNI AU dan dua untuk TNI AL, ini dari kontrak baru, cuman yang satu belum efektif berjalan,” ungkap Budi usai acara penyerahan CN 235 ke Puspenerbal.
Secara teknis Budi menyebut pesawat CN 235 secara keseluruhan telah memenuhi kebutuhan dan teknologi yang digunakan juga sudah terbaik. Kalaupun ada pengembangan lagi bisa dilakukan di mission systemnya saja.
“Pesawatnya sudah cukup cangih, wing juga desain baru, cuman untuk pesanan berikutnya yang kini dikerjakan kemungkinan bisa memiliki kemampuan terbang 11-12 jam, sementara mission systemnya disesuaikan dengan permintaan penggunannya,” kata Budi.
Berikut Foto IAe Alert5 dari Defense Studies:



♞ Suryaonline

Posted in: Alutsista,DI,Inhan,Pesawat,TNI AU
C-130 Hercules TNI AU mulai semai hujan buatan
Dokumentasi pasukan C-130 Hercules TNI AU saat dikerahkan membawa pasukan Batalion Infantri 303 Kostrad di Pangkalan Udara TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Selasa (25/6). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI-AU sudah mulai dioperasikan untuk melakukan operasi udara hujan buatan. "Operasi hujan buatan telah menyebabkan hujan jatuh di beberapa tempat dalam dua hari terakhir di Sumatera dan Kalimantan," kata Kepala Humas BNPB Pusat, Sutopo, di Jakarta, Minggu. Empat ton garam (NaCl) disebar dari ruang kargo pesawat terbang itu, pada pukul 14.00WIB Minggu. Berkat operasi udara itu, Kota Palembang dan sekitarnya mulai diguyur hujan dan sejumlah titik api sudah mulai berkurang. "Hujan buatan telah mempercepat jatuhnya hujan dan meningkatkan intensitas hujan," tutur dia. BNPB akan terus memperkuat pemerintah daerah mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Penegakan hukum juga harus dikedepankan karena dianggap lebih efektif untuk upaya pencegahan. "Peralatan yang dikerahkan meliputi sembilan helikopter pemboman air, yang saat ini empat unit ada di Sumatera Selatan, satu unit di Riau, Kalimantan Barat, dan tiga di Kalimantan Tengah," katanya.
★ antara

Posted in: Alutsista,Pesawat,TNI AU
Galeri Suasana Latihan Ulang Tahun TNI (Hari ke-2)
Episode Fly past dan atraksi Pesawat tempur Semakin banyak aksi yang dipertontonkan pada latihan Ulang Tahun TNI pada hari ke-2, Sabtu 4 Oktober 2014. Aksi Apache dan Sukhoi memberikan kesan tersendiri, nikmati dalam galeri sebanyak 68 foto.
Berikut ini episode Pesawat Udara TNI AU
★ ARC

Posted in: Alutsista,Foto,Pesawat,TNI AU

