Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Amunisi. Tampilkan semua postingan

Tiga Pesawat Sukhoi Uji Coba Bom Buatan TNI AU dan Pindad

Dalam siaran persnya, TNI AU menyatakan, ketiga pesawat Sukhoi tersebut menguji Bom Tajam Nasional (BTN)-250 dan Bom Latih Asap Practice (BLA P)-50, dengan tujuan untuk mengetahui daya ledak serta ketepatan sasaran. Kepala Penerangan dan Perpustakan (Kapentak) Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sutrisno, menuturkan jika uji coba Bom Tajam Nasional (BTN)-250 tersebut sukses sesuai dengan yang diharapkan, serta mendapat sertifikat kelaikan dari Dislitbangau, kemandirian di bidang alat utama sistem senjata atau alutsista akan terwujud.

"Sehingga pesawat TNI-AU, khususnya Sukhoi memiliki bom sendiri tanpa tergantung dari luar negeri," katanya.

Uji coba disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsekal Pertama TNI Basuki Purwanto, mulai dari pemasangan bom di body maupun wing pesawat Sukhoi hingga pelaksanaan pengeboman di AWR Pandanwangi, Lumajang. (Nurmulia Rekso Purnomo)

KOMPAS.com

Posted in: Alutsista,Amunisi,Pesawat,PINDAD,TNI AU

Pabrik Amonium Nitrate di Kaltim Sudah Mulai Berproduksi

Jakarta, DMC - PT. Kaltim Nitrate Indonesia sebagai salah satu perusahaan industri strategis serta merupakan perusahaan baru dan terbesar di Indonesia yang memproduksi ammonium nitrate telah selesai pembangunannya di Bontang, Kalimantan Timur. Pabrik baru yang dibangun untuk melayani kebutuhan ammonium nitrate dari industri dalam negeri ini sudah memulai proses produksinya pada 19 April 2012 yang lalu.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT. Kaltim Nitrate Indonesia Ir. Antung Pandoyo, saat melaporkan perkembangan PT. Kaltim Nitrate Indonesia kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Senin (23/4) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut Direktur Utama PT. Kaltim Nitrate Indonesia sekaligus juga mengundang Menhan untuk meresmikan PT. Kaltim Nitrate Indonesia pada bulan Juni 2012 mendatang.

Lebih lanjut Direktur Utama PT. Kaltim Nitrate Indonesia menjelaskan, status dari proyek pembangunan PT. Kaltim Nitrate Indonesia sudah 100 % selesai. Proses dari pelaksanaan proyek pembangunan pabrik ini mencapai prestasi yang luar biasa dengan tingkat kecelakaan kerja yang sangat kecil.

Untuk selanjutnya, PT. Kaltim Nitrate Indonesia saat ini sedang berusaha memantapkan kualitas dan volume dari produksi. Dalam enam bulan, PT. Kaltim Nitrate Indonesia yakin dengan dukungan teknologi, mesin serta tenaga kerja terampil dari dalam negeri sebanyak 200 orang akan mampu memproduksi produk ammonium nitrate yang berstandar dunia.

Turut mendampangi Menhan dalam kesempatan tersebut antara lain, Staf Ahli Menhan Bidang Teknologi dan Industri Dr. Drs. Timbul Siahaan, M.M., Direktur Teknik dan Industri Pertahanan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso dan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin.(BDI/SR)

- DMC -

Posted in: Alutsista,Amunisi

Pindad Siap Jadi Pemasok Amunisi Leopard

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxBJ1d1gRz1DjwWhcZMRckdOHKfj0cfwJC2QuTx8FoQ4qFQvq95PGKVrhP3-CHkHi9DW0tyFyAj6b86PmKzLhnYO6cwNHkC8aQkm98dW1SejfgRt7k4Nspcepe5GK4xxsUa8xDF73bdCQ/s280/munisi-pindad.jpg Amunisis produksi Pindad

PT Pindad Persero siap menjadi pemasok amunisi tank tempur utama atau Main Battle Tank (MBT) Leopard buatan Jerman dengan kaliber besar 120 milimeter.

"Kita sudah membeli tank Leopard dari Jerman. Makanya, kita siap menjadi pemasok amunisi tank Leopard. Strategi bisnis kita ubah, siapa saja di Asia yang punya (Leopard), butuh berapa? Kita telah mengirimkan 7 tenaga ahlinya ke Jerman dalam rangka bagian transfer of technology (ToT)," kata Kepala Divisi Munisi PT Pindad I Wayan Sutama di kantornya, Turen, Malang, Jawa Timur, Rabu (19/11).

Guna mempersiapkan pembuatan amunisi berkaliber besar seperti tank Leopard, Pindad telah menyiapkan lahan seluas tiga hektare di Gunung Layar, Malang. Namun dirinya belum bisa memastikan apakah Pindad akan membuatnya secara keseluruhan atau hanya perakitan.

"Kami sedang menggeliatkan, membantu pemerintah, untuk mengurangi impor di bidang amunisi. Ini harapan saya jangan sampai devisa kita terkoyak ke luar. Kami sudah berhasil mendesain meriam Howitzer 105 mm," ujar Wayan.

Menurut Wayan, teknologi laras smoothbore yang diaplikasikan pada Leopard merupakan teknologi baru yang harus melalui alih teknologi agar pengembangan peluru untuk tank 62 ton itu bisa sesuai harapan.

"Tak hanya dalam negeri, jika pasokan peluru untuk Leopard telah terpenuhi, Pindad juga mengincar pasar Asia yang menggunakan Leopard. Pangsa pasar munisi tank Leopard di Asia masih terbatas, hanya ada Singapura dan Indonesia serta Australia," kata Wayan.

Pindad telah memiliki fasilitas pembuatan munisi kaliber besar dan munisi kaliber besar roket di Malang. Industri plat merah ini menargetkan pada tahun 2019 sudah bisa memproduksi kaliber 76 mm, 90 mm dan 105 mm yang memang banyak digunakan oleh pasar internasional dengan keuntungan yang menjanjikan.

"Tapi Pindad harus memenuhi kebutuhan TNI lebih dulu, baru lebihnya bisa diekspor," kata Wayan.

Wayan menerangkan, ke depan, Indonesia jangan sampai bergantung impor. Saat ini perusahaan sedang meningkatkan kualitas dan kuantitas produk alutsista dan menargetkan akan menjadi produsen alutsista terkemuka di Asia pada 2023.

"Kita sudah melaksanakan peningkatan kemampuan produksi dan kemampuan desain serta kapasitas produksi sudah direncanakan tiga tahun. Jadi per 2015, 2019, dan 2023 itu visi Pindad tahun 2023 kita akan menjadi industri alutsista terkemuka di Asia.

Karena, kan, setiap tahun desain-desain atau memang kebutuhan dari TNI itu di-review kembali. Hal itu senada dengan UU No 16/2012. Makanya, kami memiliki target, tahun 2023 Indonesia mampu memuncaki industri pertahanan di kawasan Asia," katanya.

Pindad terus memproduksi munisi kaliber kecil yang biasa digunakan untuk pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu. Untuk memperbanyak jumlah produksi munisi kecil ini, Pindad telah mendatangkan mesin baru dengan teknologi termutakhir.

"Yang munisi kaliber kecil sifatnya umum. Kita sudah memiliki penambahan kapasitas untuk memberi mesin-mesin produksi yang modern. Apabila semua terpasang di 2015, saya bisa melipatgandakan kapasitas produksi kaliber kecil, 140 juta butir per tahun," ujar Wayan.

 ★ Republika

Posted in: Alutsista,Amunisi,PINDAD

Gandeng Indonesia, Rusia Kembangkan Peluru Meriam BMP Terbaru

http://sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/600876_335949973175128_584488226_n.jpg Industri Rusia dan Indonesia tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk mengembangkan peluru meriam 100 mm bagi kendaraan tempur infanteri generasi terbaru milik Rusia, BMP.

“Kami berharap dalam waktu dekat dapat memasuki tahap uji coba konstruksi bersama dengan Indonesia. Hal ini terkait dengan rencana pembuatan peluru meriam baru untuk BMP.

Ini benar-benar bidang pekerjaan yang baru bagi institusi kami,” terang perwakilan resmi perusahaan Mechanical Engineering Research Institute (NIMI), salah satu anak perusahaan pemerintah Rusia Rostec, dalam pameran Indo Defence 2014.

“Tahap uji coba konstruksi mencakup pembuatan dokumen teknis grafis dan tertulis peluru meriam baru tersebut yang sesuai dengan spesifikasi dari pihak Indonesia, pembuatan prototip, serta pelaksanaan uji coba,” demikian tertulis dalam siaran pers Kementerian Perdagangan dan Perindustrian Rusia mengutip pernyataan perwakilan NIMI.

Transfer teknologi dan pembuatan pabrik berlisensi di wilayah Indonesia pun bisa menjadi langkah lanjutan yang dapat meningkatkan hubungan kerja sama bilateral. "Pemberian lisensi tersebut akan membantu mempersiapkan kader-kader lokal untuk perindustrian militer Indonesia kelak," ujar perwakilan NIMI tersebut.

BMP-3F adalah kendaraan tempur BMP-3 yang diperuntukan bagi operasi kelautan pasukan marinir, penjaga berbatasan dan garis pantai, pelaksanaan operasi militer di pesisir dan garis pantai, serta pendaratan pasukan amfibi.

BMP-3F dipersenjatai oleh meriam 100 mm, senapan kaliber 30 mm, rudal, dan senapan mesin. BMP dirancang untuk dikendalikan tiga awak dan mengangkut tujuh orang.

Rusia memiliki catatan positif dalam upaya pengembangan senjata bersama dengan negara lain, salah satunya adalah kerja sama perusahaan asal Rusia Bazalt dengan Yordania, yang telah menghasilkan peluncur granat Khoshim.

Selain itu, Rusia juga sukses bekerja sama dengan India dalam proyek pembuatan roket Brahmos. Hal itu tertulis dalam situs resmi Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di VPK.

 ★ RBTH

Posted in: Alutsista,Amunisi,Kerjasama

Kerjasama Bikin Amunisi di Malang

Pindad dan Rheinmetall Denel Munition Rintis Kerjasama http://images.detik.com/content/2014/08/07/1036/moupindad.jpg Satu lagi rintisan kerjasama untuk kebangkitan Industri pertahanan dirintis. Kali ini PT. Pindad berupaya menjalin kerjasama dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk memproduksi Amunisi Kaliber Khusus dan Kaliber Besar. Penandatangan MoU kerjasama ini dilakukan di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis siang. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Dirut PT. Pindad, Sudirman Said dengan CEO RDM, Robert Schulze.

CEO RDM menyatakan, memilih PT. Pindad lantaran sudah memiliki kapabilitas produksi amunisi terutama kaliber kecil. Yang terpenting Pindad memiliki keahlian dasar produksi amunisi. "Memang banyak mesin Pindad yang sudah tua, tapi nanti ini akan diperbaiki melalui kerjasama ini", jelas Robert Schulze kepada ARC.

Dalam keterangan pers-nya, Dirut Pindad menyatakan, penandatanganan MoU ini baru tahap awal dari kerjasama. Seusai tandatangan ini, nantinya akan dibentuk gugus tugas untk mendetailkan kerjasama. Targetnya, akhir tahun ini sudah disepakati apa saja yang akan dilakukan, termasuk jenis munisi yang akan dibuat. "Amunisi yang akan dibuat mulai 30mm hingga 105mm", tandas Sudirman. Lalu pada tahun depan, perusahaan patungan Pindad dan RDM ini diharapkan sudah berdiri. Dalam kerangka kerjasama ini, RDM akan membangun lembaga pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM dari PT.Pindad. Selain memproduksi amunisi kaliber besar, Pindad juga akan pusat produksi dan penjualan untuk kawasan asia pasifik. Hal ini tentu merupakan kesempatan baik bagi Pindad untuk menambah keuntungan.Bikin Pabrik Amunisi di Malang PT Pindad (Persero) sebagai produsen produk pertahanan plat merah menjalin kerjasama dengan produsen senjata asal Afrika Selatan Rheinmetall Denel Munition (RDM). Kedua perusahaan ini akan membangun fasilitas produksi amunisi ukuran besar di Malang, Jawa Timur.

Direktur Utama Pindad Said Sudirman mengatakan, tahap awal kedua belah pihak akan melakukan perencanaan detil. Kerjasama ini ditandai dengan Memorandum of Understanding (MoU) kedua belah pihak.

"MoU ini sebagai dasar bagi kami berdua untuk melakukan detail plan (perencanaan detil) terkait pengembangan industri amunisi," kata Sudirman usai penandatanganan MoU di Hotel Shangri-La, Jakarta, kamis (7/8/2014).

Penandantanganan MoU ini dilakukan oleh Sudirman Said dan Chief Executive Offixer RDM Nobert Shulze.

Sudirman mengatakan, kerjasama ini akan menjadi babak baru perkembangan industri amunisi tanah air yang sudah dikembangkan Pindad selama ini. Kerjasama ini juga menurutnya berpeluang terus dikembangkan untuk memproduksi berbagai jenis amunisi.

Namun untuk langkah awal, jenis amunisi yang akan dikembangkan adalah khusus yang berukuran besar.

"Rekan kami memiliki pengalaman yang sangat panjang di bidang amunisi jadi mungkin banyak hal yang bisa dikerjakan. Tetapi pertama kami akan kembangkan untuk amunisi ukuran besar," sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nobert mengatakan, pihaknya menggandeng Pindad karena telah melihat rekam jejak Pindad yang dianggap sejalan dengan lini bisnis RDM.

"Selain itu, Indonesia juga kami anggap sebagai kawasan yang paling strategis untuk menjangkau pasar Asia Tenggara," sambungnya.(zul/hds)

  ★ ARC | detik

Posted in: Alutsista,Amunisi,Inhan,Kerjasama,PINDAD

Pindad Pede Jadi Produsen Amunisi Terbesar di ASEAN

http://images.detik.com/content/2014/08/07/1036/moupindad.jpg PT Pindad (Persero) membangun pabrik amunisi di Malang (Jawa Timur) dengan menggandeng Rheinmetall Denel Munition (RDM), perusahaan asal Afrika Selatan. Ini akan menggenjot sektor bisnis Pindad di divisi amunisi. Direktur Utama Pindad Sudirman Said mengatakan, dengan pembangunan pabrik ini perseroan akan memiliki akses untuk masuk ke pasar amunisi dengan skala internasional dimulai dari Asia Tenggara, sehingga Pindad bisa menggenjot bisnis perusahaan di sektor produksi amunisi. "Di Pindad ada dua lini industri. Pertama persenjataan dan peralatan tempur., kedua industri amunisi. Sampai saat ini divisi amunisi telah menyumbang lebih dari 50% ke profit kami. Jadi memang sebagian besar dari amunisi," papar Sudirman usai penandatangan tersebut di Hotel Shangrilla, Jakarta, Kamis (7/8/2014). Hingga akhir 2013, Pindad mencatat laba sebesar Rp 97 miliar. Artinya pada periode tersebut, bisnis amunisi telah menyumbang lebih dari Rp 49 miliar terhadap total laba perusahaan. "Bukan angka yang besar, tapi yang penting itu trennya. Kita lihat trennya ini mengalami kenaikan. Dalam tiga tahun ini rata-rata pertumbuhannya 24% per tahun, itu yang ingin kita tingkatkan. Kami harapkan dengan kerja sama ini, peningkatannya akan lebih agresif bagi perusahaan," sebut dia. Sudirman optimistis langkah strategis ini dapat menggenjot kinerja perusahaan secara keseluruhan. Karena menurutnya di Asia Tenggara belum banyak industri amunisi. Pabrik ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. "Tidak banyak negara di Asia Tenggara yang bisa memproduksi amunisi seperti kita (Pindad). Kerja sama ini akan menjadikan fasilitas produksi amunisi ini sebagai yang tebesar di Asia Tenggara," sebut dia. Terkait dengan pabrik amunisi yang akan dibangun bersama RDM, ia menyebut pembangunan akan dilengkapi dengan area uji coba peledakan. "Kita sudah ada bangunan, sudah jadi lokasinya di Malang. Selain gedung, ada lahan terbuka juga. Luas total 168 hektar. Ada tempat peledakan percobaan. Jarak dari malang 20 km. Jauh dari pemukiman sehingga cocok untuk tempat pengembangan industri ledakan," terang Sudirman. Investasi yang sudah digelontorkan untuk bangunan tersebut adalah sekitar Rp 20 miliar. "Bukan angka yang signifikan, karena bangunan saja itu belum apa-apa. Kita masih harus mendatangkan mesin, peralatan dan lain-lain," lanjut dia. Selain itu, Pindad dan RDM bersepakat untuk membangun akademi atau lembaga pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia. "Untuk mengoperasikan gedung ini tentu kita butuh tenaga ahli. Di Malang kita sudah ada 1.000 orang tenaga ahli. Tapi kalau kita mau masuk level berikutnya karena kita ingin menjangkau pasar Asia, berarti kita butuh tenaga ahli lebih banyak lagi. Kita belum tahu berapa, tapi semua sedang kita persiapkan," paparnya. Ditambahkan Sudirman, dari kerjasama ini nantinya juga akan dibentuk sebuah perusahaan patungan atau joint venture (JV) yang akan menjadi perusahaan pelaksana atas rencana pengembangan industri amunisi ini. Sudirman mengatakan, sebagai langkah awal realisasi rencana tersebut pihaknya bersama RDM akan melakukan pembicaraan rutin untuk menentukan strategi detil pengembangan usaha atau detail plan. "Kita harapkan sampai akhir tahun ini sudah ada detail plan-nya. Jadi dalam 3-4 bulan ini kita harapkan sudah didapat perencanaan dasarnya seperti apa," kata Sudirman. Setelah rencana detil diperoleh, lanjut Sudirman, maka akan langsung dibahas perencanaan teknisnya termasuk pembagian porsi investasi masing-masing pihak atas perusahaan patungan ini. "Yang saya ingin, secara keahlian kita punya banyak ahli, investasi tergantung kemampuan kita, tapi kalau bisa kita juga taruh uang (investasi finansial). Jadi kita bukan hanya sebagai mitra lokal yang hanya urus perizinan. Tapi true partner, benar-benar sebagai partner yang mengembangkan industri," kata Sudirman.Spesifikasi Amunisi Senjata Buatan Pindad di Pabrik Malang PT Pindad (Persero) bakal membangun pabrik amunisi dengan perusahaan senjata asal Afrika Selatan Rheinmetall Denel Munition (RDM). Pabrik itu akan memproduksi amunisi berukuran besar yakni 60mm hingga 155mm. "Rekan kami memiliki pengalaman yang sangat panjang di bidang amunisi jadi mungkin banyak hal yang bisa dikerjakan. Tetapi pertama kami akan kembangkan untuk amunisi ukuran besar," kata Direktur Utama Pindad, Sudirman Said di Hotel Shangrilla, Jakarta, Kamis (7/8/2014). Untuk kawasan Asia Tenggara, pemenuhan Amunisi ukuran ini separuhnya masih dipasok dari negara-negara di luar kawasan ini. RDM merupakan salah satu pemasok amunisi ukuran tersebut. Sudirman mengatakan, RDM sebagai mitranya punya banyak pengalaman memproduksi dan memasok amunisi ke Asia Tenggara. Selama ini, semua amunisi diproduksi di Afrika Selatan dan diekspor ke Asia Tenggara. Dengan dibangunnya pabrik yang berlokasi di Malang, Jatim ini, diharapkan proses distribusi dan pasokan amunisi ke kawasan Asia Tenggara akan lebih lancar. "Bagian terpenting dari barang explosif (peledak) itu kan ada di transportasinya. Kalau bisa bangun di Indonesia, maka akan ada efisiensi dari segi transportasi jadi lebih mudah menjangkau pasar Malaysia, Singapura dan negara Asia Tenggara lainnya," kata dia. Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Offixer RDM Nobert Shulze mengungkapkan, dalam industri amunisi, akses memegang peran yang sangat penting. "Bisa membangun pusat industri amunisi di Indonesia merupakan strategi yang sudah disiapkan 1 tahun lalu bukan hanya untuk memproduksi amunisi di kawasan Asia Tenggara. Tetapi juga membuat kemungkinan baru untuk membangun industri amunisi yang kualitasnya sama dengan yang sudah kami kembangkan di seluruh dunia," kata Nobert. Amunisi yang bakal diproduksi Pindad dan RDM itu berkaliber 155 mm dan memiliki spesifikasi yang sangat mendukung pertempuran jarak jauh. Berbobot 47 kg, amunisi berbentuk runcing ini memiliki daya tembak hingga 39 Km. Fisik amunisi raksasa ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah bagian tabung yang berisi mesiu. Bagian kedua adalah sumbu (fuse) yang terletak di bagian ujung yang runcing. Biasanya, amunisi ini digunakan sebagai kelengkapan senjata pada kendaran tempur seperti Leopard. Amunisi jenis ini juga biasa digunakan sebagai peluru meriam Cesar 155 berdaya tembak 39 KM yang biasanya diangkut dengan kendaraan besar seperti truk. Perusahaan asal Afrika Selatan itu memiliki protofolio produk amunisi yang sangat beragam dan telah berpengalaman di lebih dari 84 negara di seluruh dunia. Adapun portofolio amunisi yang diproduksi perusahaan ini adalah: 1. Artillery ammunition (105mm dan 155mm) 2. Mortar ammunition (60,81mm dan 120mm) 3. Bomb pesawat udara 4. Amunisi untuk kendaran tempur naval 5. Amunisi senjata infantri kaliber 40mm 6. Serta berbagai amunisi dan komponen lainnya.

  ★ detik

Posted in: Alutsista,Amunisi,Kerjasama,PINDAD

[Foto] Mengintip Pabrik Alutsista Pindad

Alutsista Made In Indonesia

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad1.jpg?w=600

Senjata varian terbaru Pindad kini dipakai oleh pasukan elite TNI. Senapan unggulan tersebut seperti SS-2 hingga senjata untuk penembak jitu (sniper) tipe SPR-2 dan SPR-3. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

Apa

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad2.jpg?w=600

Per tahun, Pindad mampu memproduksi sekitar 40.000 senjata berbagai tipe. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad3.jpg?w=600

Produk senjata hingga amunisi yang dibuat di Bandung dan Malang ini ternyata juga telah dieskpor ke beberapa negara. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad4.jpg?w=600

Tidak hanya menjual senapan dan amunisi, Pindad berhasil menghasilkan produk kendaraan tempur seperti Panser ANOA hingga si Humvee 'KOMODO'. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad5.jpg?w=600

Varian panser ANOA merupakan produk laris Pindad dan telah diproduksi mencapai ratusan unit. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad6.jpg?w=600

Perkembangan terbaru, Pindad berhasil mengembangkan purwarupa (Prototye) tank bernama SBS. Tank ini mengadopsi desain dari Panser ANOA yang telah lebih dahulu diproduksi. Pindad juga bekerjasama dengan Turki mengembangkan medium tank. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/pindad7.jpg?w=600

Selain itu, perseroan memperoleh order Kemenhan untuk merombak total dan meningkatkan teknologi tank lawas, AMX13. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

http://images.detik.com/customthumb/2014/11/12/157/komodo1.jpg?w=600

PT Pindad juga memproduksi Humvee “KOMODO” pesanan Brimob dan Kopassus. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono/detikFoto.

 ★ detik

Posted in: Alutsista,Amunisi,Foto,Kendaraan Militer,PINDAD

★ Len Kirim Radio VHF LenVDR10-MP untuk Seluruh Batalyon TNI

PT Len Industri (Persero) mengirimkan 734 unit alat komunikasi Radio VHF Manpack tipe LenVDR10-MP berikut perlengkapannya untuk TNI Angkatan Darat yang siap dioperasikan ke semua batalyon di Indonesia dari Aceh hingga Papua.

"Jadi alhamdulillah 734 unit Radio Manpack tipe LenVDR10-MP dan kita akan deliver bertahap. Hari ini sekitar 400 unit dan sisa sekian unit dikirim pada hari Rabu mendatang (2/12), sekaligus mulai pengetesan," kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Abraham Mose, di Bandung, Senin.

Pihaknya mengaku bangga bisa diberikan kesempatan pertama kalinya oleh TNI AD untuk membuat alat komunikasi radio VHF tersebut karena selama ini untuk memenuhi kebutuhan alat komunikasi itu, TNI AD masih mengimpor dari Perancis.

Ia menuturkan pengerjaan kontrak pembuatan alat komunikasi Radio VHF LendVRDR10-MP itu membutuhkan waktu yang cukup singkat yakni sekitar tujuh bulan darii Mei hingga November 2015.

"Namun ada sedikit masalah dikontruksinya. Ini waktu yang relatif singkat, tapi alhamdulillah kita bisa komit dan untuk kami diberikan kesempatan sehingga hari ini bisa mengirimkan 734 unit secara bertahap," kata dia.

Seluruh software, brainware, desain/kontruksi dari alat komunikasi Radio VHF LenVDR10-MP tersebut dibuat di dalam negeri.

"Memang untuk komponen, ini problem nasional kalau bicara produk elektronik dari luar karena industrinya belum ada di Indonesia. Kurang lebih (50 persen komponen impor) dan nilai kontraknya relatif masih kecil yakni Rp 66 miliar," ujar dia.

Proses produksi radio udah menggunakan mesin Surface Mount Technology atau SMT yakni teknologi terkini yang digunakan untuk memasang komponen elektronik ke permukaan PCB.

Dengan adanya teknologi SMT, peralatan atau gadget elektronik saat ini sudah dapat didesain dengan ukuran yang lebih kecil karena mesin SMT memiliki kemampuan yang dapat memasangkan chip yang berukuran kecil hingga 0,4 mm x 0,2 mm (Chip SMD resistor 0402) dengan kecepatan sangat tinggi.

Selain itu, dalam kontrak juga terdapat ToT (Transfer of Technology) antara PT Len dengan TNI di mana Len akan melakukan transfer teknologi kepada Bengkel Pusat Perhubungan TNI AD, di bawah koordinasi Direktor Perhubungan Darat yakni tempat pemeliharaan semua perangkat komunikasi di TNI AD.

Berkomunikasi Tanpa Terlacak Radio VHF manpack LenVDR10-MP (Len, Dislitbangad)

Lebih Lanjut Abraham Mose mengatakan alkom Radio VHF LenVDR10-MP tersebut memiliki beberapa kelebihan seperti sistem komunikasi digitalnya didesain dan dibuat sendiri algoritmanya oleh Len dan diperkuat dengan sistem kemanan baik dari segi transec (transceiver security) dan comsec (communication security) yang telah dikembangkan sejak lama oleh para teknisi Len.

Ia menambahkan dari segi transec, LenVDR10-MP sudah menerapkan teknologi hopping 100 hop/second, artinya dalam satu detik komunikasi terjadi perubahan frekuensi 100 kali. "Iya itu (berkomunikasi tanpa terlacak) karena hoppingnya 100 hop per second jadi 100 kali hop dalam satu detik. Sedangkan dari segi comsec LenVDR10-MP ini telah menggunakan enkripsi daya berbasis AES 128," kata dia.

Sementara itu, Wakil Direktur Perhubungan TNI AD Kolonel Chb Sonny W Pondaag menambahkan pihaknya menyampaikan rasa terima kasih karena bisa bekerjasama dengan PT Len Industri (Persero) dalam pembuatan alat komunikasi Radio VHF LenVDR10-MP tersebut.

"Dan alkom radion ini sudah diuji coba di medan hutan karet, dan sudah cukup bagus dan membanggakan dan karena seperti yang dilaporkan tadi hoppingnya 100 hopping per detiknya," kata Sonny.

  ♆ Antara

Posted in: Amunisi,Hankam,Indonesia Teknologi,LEN,TNI

Pindad Genjot Kapasitas Produksi Alutsista

Pakai PMN Rp700 M https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTcRuaZZF2jO-XHOx4HrefG1wRbMbboW-H_4yABxrdrDkAsX2163xMIOZKJdm9hlVRYfPpmdsrd_rZCHpW9SA9lKhtpjnuiqkfr_d1_VY2_De7sgOa9ZFUMtbwgnGG88LIlmI7GRoTg2nd/s1600/armored-vehicle-pindad.jpg Alutsista produksi PT Pindad ☆

PT Pindad (Persero) akan fokus pada lini produksi alat utama sistem persenjataan atau alutsista dengan meningkatkan kapasitas produksinya guna mendukung pertahanan dan keamanan negara, terutama bagi Tentara Negara Indonesia sebagai end user.

Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan perseroannya fokus ke produk alutsista dengan menerapkan pola korporasi dimana proses bisnis yang dijalankan akan di-review untuk menjaga efisiensi dengan tetap mempertahankan kualitas.

Sebagai BUMN industri strategis, PT Pindad senantiasa berusaha memenuhi penyediaan kebutuhan alutsista secara mandiri,” katanya dalam keterangan perseroan menyambut peringatan HUT ke-71 TNI, Rabu (5/10'/2016).

Sebagai upaya peningkatan kapasitas produksi alutsista, PT Pindad akan mengoptimalkan penyertaan modal negara (PMN) tahun anggaran 2015 yang mengalir senilai Rp 700 miliar dari pemerintah ke perseroan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwvuRv5BUjNpKlzPpvTPBpCybjcQoXoDb8UpkDftBVsIEERP5aaWWVjTgLuKjmyR80GD8UHA6jMnStU3UYQO7XcCsMumhNVXotHyLfS9KOY_eb7NaeWJf6Yf5ENBdMQFa8AlIFfNoKkdpQ/s1600/blogger-image-386791044.jpg Alokasi yang terbesar dari dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan lini produksi munisi kaliber kecil (MKK) dan munisi kaliber besar (MKB), serta untuk pengembangan lini produksi tank, kendaraan tempur (ranpur) dan persenjataan lainnya.

Di samping itu, Abraham menjelaskan ada juga alokasi khusus untuk pengembangan produk dan proses guna memastikan hadirnya produk-produk PT Pindad yang lebih terbarui dengan teknologi yang lebih maju.

Upaya ini sejalan dengan rencana strategis pemenuhan kebutuhan pokok minimum atau minimum essential forces TNI dalam rentang 2009-2024,” ujarnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrXmzagzvc9bcbv-540Twz2wwLWae-Yz5bmh3VWC4a6NLt7mWf4lzISr6nfnZ5GWkVnq6zAbKHUnHvy156uKj6-PNL2xAQx5dPcz0SLEMl-xiVlA1n-fQfYZh-izwIrCvow64oQLNap6Sv/s1600/14364879_Yon+Armed+12%252C+Divif+2+Kostrad..jpg Pada 2016, perseroan telah meluncurkan empat produk senjata baru yang telah diresmikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan untuk mendukung performa prajurit dalam berbagai macam operasi.

Pengembangan varian terhadap produk ranpur juga terus dilakukan seperti pada ranpur Badak, Anoa, dan Komodo dengan menambah fitur-fitur yang lebih diandalkan,” sebut Abraham.

Dia menegaskan perseroannya mendukung sepenuhnya TNI untuk menjadi angkatan bersenjata yang tangguh dengan persenjataan modern yang dapat diandalkan. “Sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi agar alutsista ke depan harus dilakukan modernisasi.

Produsen senjata yang telah menjadi perusahaan pelat merah sejak 1983 itu secara aktif memproduksi berbagai alutsista untuk kebutuhan TNI dan mengekspor sejumlah produk unggulan, seperti amunisi dan kendaraan tempur ke pasar global.

Selain menghasilkan alutsista, PT Pindad memproduksi komponen pendukung kegiatan industrial, seperti pengait rel kereta api, motor traksi, generator, crane kapal laut, dan ekskavator bermerek Pindad Excava 200 pada 2015 yang diproyeksikan mendukung proyek pembangunan.

  ★ Bisnis

Posted in: Alutsista,Amunisi,Artikel,BUMNIS,Hankam,Inhan,Kendaraan Militer,PINDAD

Indonesia Bangun Pabrik Propelan

✈️ Terbesar Di Asia ✈️ Gedung PT Dahana di kawasan Energetic Material Center [Dahana]

PT Dahana (Persero) tengah menggarap proyek ambisius. BUMN produsen bahan peledak dan senjata tersebut sedang membangun pabrik komponen rudal dan roket pertama serta terbesar di Asia.

Pabrik akan dibangun di atas lahan seluas lima hektar. Lokasinya di Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Senior Manager Pengelola Aset PT Dahana, Andri Pugiantoro mengatakan, pembangunan pabrik propelan (bahan kimia) tersebut ditargetkan harus selesai dalam kurun waktu selama 3 tahun ke depan.

"Jika pabrik ini sudah selesai, maka akan mampu memproduksi hingga 800 ton Propelan per tahun," ujar Andri, Jumat (16/12).

http://www.dahana.id/assets/Uploads/news/newsJan03.jpg "Ini pertama di Asia, dan baru ada di Indonesia, tepatnya di Kabupaten Subang, yang diharapakan pembangunan pabriknya ini bisa selesai sesuai dengan target," lanjut dia.

Seperti diketahui, propelan merupakan sejenis bahan kimia yang digunakan untuk komponen pembuatan rudal dan roket.

Dijelaskannya, selama ini Indonesia selalu mendatangkan propelan untuk bahan baku rudal dan roket dari luar negeri, tetapi ke depan, Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri, sehingga akan mendatangkan devisa negara, apalagi bahan bakunya 60 persen ada di Indonesia.

http://www.wiratman.co.id/uploads/mainimage/33.jpg "Propelan sendiri terdiri dari senyawa fuel, oksidator, dan adiktif. Proses pengayaan senyawa tersebut menghasilkan propelan base, dengan fuel, dan oksidator, yang terpadu dalam satu senyawa kimia, seperti nitroselulosa, nitrogliserin dan nitroguaridin, yang menjadi bahan baku rudal dan roket," imbuhnya.

Andri menegaskan, sebelum pabrik Propelan dibangun, pihaknya terlebih dahulu sudah membangun pabrik Nitro Gloserin (NG), dan pabrik Nitro celullose (NC), yang menjadi bahan utama pembuatan propelan di kawasan Energetic Material Center (EMC). Adapun dana investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik Propelan tersebut diperkirakan lebih dari Rp 5 triliun.

"Paling sedikit kita butuh dana Rp 5 triliun. Dan kemungkinan besar lebih dari itu," pungkasnya.(jar/rmol/mam/JPG)

  ✈️ Jawapos

Posted in: Alutsista,Amunisi,BUMN,Dahana,Hankam,Ilmu Pengetahuan

TNI AD Kembangkan Senjata Otomatis

Senjata Mesin Multilaras Amati Senjata - Seorang anggota prajurit TNI AD sedang mengamati senjata mesin multi laras kaliber 7,62 mm yang sedangkan dikembangkan TNI AD, di Markas Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD, Jakarta, Rabu (22/3) ☆

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) sedang mengembangkan senjata mesin multi laras (SMML) kaliber 7,62 mm dan senjata otomatis kaliber 5,56 mm. Pengembangan senjata tersebut dilakukan di Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD (Dislitbangad). “Dislitbangad ini berkedudukan langsung di bawah Kepala Staf TNI AD (KSAD) yang bertugas pokok membina dan menyelenggarakan fungsi penelitian dan pengembangan dalam rangka mendukung tugas pokok TNI AD,” kata Plh Sekertaris Dislitbangad, Kolonel Czi Gunawan Pakki saat memberikan pemaparan di Markas Dislitbangad, Jakarta, Rabu (22/3).

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, lanjut Gunawan, Dislitbangad menyelenggarakan fungsi-fungsi pengkajian, penelitian, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu ada juga penelitian dan pengembangan insani meliputi aspek kesehatan, psikologi, mentaI, dan jasmani serta pengembangan organisasi dan sistem metode. “Dislitbangad juga menyelenggarakan kegiatan pengujian, percobaan, rekayasa pengembangan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang terdiri dari senjata, amunisi, bahan peledak, kendaraan dan alat angkut, alat komunikasi dan sistem pengendalian senjata (Sisdaljat) serta alat utama sistem senjata lain,” ucap Gunawan.

Sementara itu, Kasie Rencana Kegiatan Bagian Materiil Umum Dislitbangad, Mayor Inf Darmaji mengatakan pengembangan senjata mesin multi laras (SMML) kaliber 7,62 mm ini dilakukan bersama PT Pindad. ”Sudah dua kali dilakukan pengembangan bersama PT Pindad pertama terkait Integrated dan kedua Disintegrated,” kata Mayor Darmaji. Ia menjelaskan senjata mesin ini memiliki jangkauan sampai 1.500 meter dengan jarak efektif 600 meter.

Untuk satu menit pemakaian senjata ini bisa mengeluarkan 3.000 amunisi,”jelas dia. Sementara itu, untuk senjata otomatis kaliber 5,56 mm masih terus dalam penelitian dan diharapkan untuk produksi massal tahun 2018.

Selain soal senjata, Dislitbangad juga mengembangkan kendaraan transportasi darat-air. Kendaraan ini sudah dalam rangkaian uji fungsi dari tim Dislitbangad. ”Uji fungsi ini dilakukan untuk membuktikan rancang bangun sudah sesuai apa belum. Dan setelah diuji tepat dengan spesifikasi teknis yang direncanakan pada tahun 2016,” kata Mayor Cpl Untung Sutopo.

Kendaraan transportasi darat-air ini adalah penyempurnaan kendaraan yang dibuat pada tahun 2014. “Jadi, Prototipe pertama yang dibuat 2014 memerlukan penyempurnaan, maka dilakukanlah pada 2016 yang menjadi Prototipe kedua,” tutup Mayor Untung seraya menambahkan kendaraan darat-air prototipe pertama sudah pernah dipakai untuk membantu evakuasi banjir di Jakarta.

  ☠ Koran Jakarta

Posted in: Alutsista,Amunisi,Ilmu Pengetahuan,Indonesia Teknologi,PINDAD,TNI AD