Lockheed Martin Gandeng PT CMI Teknologi

Rahardjo Pratjihno, CMI presiden, dan Chuck Turbe, Lockheed Martin Direktur Pengembangan Bisnis, menandatangani perjanjian bekerja sama dalam upacara penandatanganan di Singapore Airshow.
TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Lockheed Martin menandatangani perjanjian bekerja sama dengan teknologi perusahaan Indonesia PT CMI Teknologi untuk meningkatkan pengawasan wilayah udara, keamanan, dan manajemen atas kepulauan Indonesia dalam mendukung inisiatif pertahanan revitalisasi pemerintah s.
Upacara penandatanganan kerjasama pengembangan radar Lockheed Martin 'AN/TPS-77 dilakukan dalam ajang Singapore Air Show 2012 , kedua perusahaan sepakat untuk bersama-sama mengembangkan program Udara Nasional Surveilans Republik Indonesia (Nasri) dengan tujuan untuk menghasilkan lebih dari 40 baru TPS-77 dan FPS-117 jarak radar pengawasan di-negara.
Usai penandatangan yang dilansir Defense presiden Lockheed Martin untuk kawasan Asia Pasifik James Gribbon mengatakan, kerjasama antara PT CMI Teknologi dan Lockheed Martin merupakan mitra yang kuat dalam pembuatan sistim radar jangka di Indonesia.
"Dengan mengintegrasikan sensor baru dengan perintah dari Indonesia dan sistem kontrol, jaringan Nasri akan sangat meningkatkan kedaulatan udara dan pengawasan selama lebih dari 17.000 negara kepulauan, yang mencakup jarak lebih lebar dari Amerika Serikat."

Radar fps-117
• Tribunnews
Posted in: Radar
Radar sipil dan militer saling melengkapi
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan, komposisi dan sebaran radar di seluruh wilayah Indonesia akan diperlengkap. Untuk saat ini, radar sipil dan miiter bersifat saling melengkapi.
"Radar primernya dari militer kita dan radar sekundernya sipil, selama ini bekerja bersama dengan radar-radar TNI," katanya, di Jakarta, Selasa.
Dia menjadi pembicara kunci dalam seminar Air Power Club of Indonesia, di Klub Persada. Seminar bertemakan "Peran, Komando, dan Kendali Angkatan Udara dalam Perang Modern dan Inkonvensional", itu terkait dengan HUT ke-66 TNI-AU.
Hadir Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, dan segenap jajaran pimpinan matra udara TNI itu. Pula hadir sejumlah atase pertahanan negara sahabat dan kalangan sipil pemerhati gatra dirgantara nasional.
Lingkupan radar di seluruh Indonesia merupakan satu keharusan jika negara ini tidak ingin wilayah udaranya diganggu pihak luar.
Dari 33 lokasi penempatan radar dalam jajaran Komando Pertahanan Udara Nasional TNI, baru 20 lokasi yang dipasangi radar. Komando di dalam tubuh Markas Besar TNI itu sendiri terbagi dalam empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional, mulai dari Medan, Jakarta, Makassar, dan Biak.
Direncanakan ke-33 radar itu akan beroperasi semuanya pada 2014 mengikuti postur pertahanan nasional dalam tataran kesiagaan minimum esensial. (*)
• ANTARA News
Posted in: Alutsista,Radar
Radar Militer dan Sipil Diintegrasikan
Perusahaan swasta nasional dalam bidang elektronika dan sistem informasi PT Infoglobal dilibatkan dalam proyek integrasi radar militer dan sipil tersebut (photo : Infoglobal)
JAKARTA, KOMPAS — Tentara Nasional Indonesia mengintegrasikan radar militer dan sipil di bandara-bandara untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengurangi blank spot atau daerah yang tidak terpantau radar.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat mengatakan hal tersebut seusai Upacara Ulang Tahun Ke-66 TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (9/4). Imam mengatakan, pihaknya tidak bisa mengungkapkan daerah yang belum terpantau radar di Indonesia. "Itu untuk alasan keamanan," katanya.
Imam menambahkan, pihaknya mengoptimalkan operasional radar untuk mengawasi ruang udara RI. Saat ini, TNI AU terus menambah Satuan Radar (Satrad) terutama di daerah-daerah terluar Indonesia.
Untuk menunjang operasional, kesiapan operasional (serviceable) pesawat dan helikopter TNI AU juga ditingkatkan. Imam optimistis, di tahun 2014, tingkat serviceable pesawat dan helikopter TNI AU mencapai 80 persen. Saat ini tingkat serviceable baru mencapai 50 persen. Beberapa tahun silam, kesiapan armada TNI AU sempat berada di kisaran 40 persen dari 200 armada yang ada.
Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo mengatakan modernisasi pembelian pesawat dan helikopter baru tidak bisa ditawar-tawar bagi negara seluas Indonesia "Angkatan Udara mencakup 100 persen wilayah Indonesia. Mereka harus diberi peralatan modern, tetapi tentu saja pengadaan harus transparan dan kesejahteraan pilot serta prajurit ditingkatkan," ujar Dudi.
Imam mengatakan, hingga 2014 diperkirakan akan ada tarnbahan sejumlah pesawat baru.
Ada enam Sukhoi, pesawat latih jet tempur T-50 Golden Eagle, dan lima Super Tucano yang dipersiapkan untuk menggantikan OV-10 Bronco, dan sembilan CN 295, serta dua heli Super Puma dan enam heli Combat & SAR.
Selain itu juga ada empat radar peringatan dini dan Ground Control Interception (GCI), serta rudal pesawat udara.
"Kami sudah hitung cermat, pembelian Sukhoi memang sudah direncanakan sesuai dengan dasar operasi sebelumnya," kata Imam.
Terkait dengan datangnya banyak pesawat baru tersebut, Imam mengatakan, akan ada program percepatan pengadaan penerbang. Sekolah penerbang dinaikkan kapasitasnya dari 30 orang menjadi 40 orang per tahun. Selain itu, kuota untuk ikatan dinas ditambah 10 orang.
Dalam peringatan HUT TNI AU tersebut, dikerahkan 64 pesawat dan helikopter dalam pelbagai atraksi udara. Puluhan atase militer asing turut menyaksikan demonstrasi pesawat ternpur, latih, helikopter, dan Pasukan Khas TNI AU. (ONG/EDN)
• KOMPAS.com
Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Radar
Northrop Grumman akan Bekerjasama dengan Perusahaan Mitra di Indonesia untuk Membuat Sistem Radar di Darat
![]() |
| Northrop Grumman AN/TPS-78 |
Northrop Grumman AN/TPS-78 adalah generasi terbaru radar mutakhir yang diciptakan dengan kemajuan teknologi transistor berdaya tinggi serta dirancang untuk beroperasi di lingkungan yang sulit dan penuh hambatan. AN/TPS-78 jarak jauh S-Band, yang telah terbukti di lapangan, adalah pilihan Angkatan Laut Amerika dan pelanggan di seluruh dunia.
"Dengan perjanjian ini, Northrop Grumman akan membawa kepemimpinan terkemuka dalam radar di darat bersama dengan keahlian terpadu mitra bisnis kami di Indonesia dalam penelitian dan produksi elektronik serta pengetahuan akan kebutuhan unik pemerintah Indonesia," ungkap Robert Royer, Wakil Presiden Sistem Internasional Divisi Sistem Perlindungan Lahan dan Diri Northrop Grumman. "Tim kami ingin berpartisipasi dalam kompetisi radar di darat yang akan digelar di Indonesia dan dirancang untuk membantu Indonesia meningkatkan pengawasan udara dan mengamankan wilayah perbatasan."
Northrop Grumman adalah perusahaan keamanan global terkemuka yang memberikan sistem, produk dan solusi inovatif dalam kedirgantaraan, elektronika, sistem informasi dan layanan teknik bagi pemerintah dan pelanggan komersial di seluruh dunia. Silakan kunjungi http://www.northropgrumman.com untuk informasi lebih lanjut.
Posted in: INTI,LIPI,Radar
China siap bantu radar pengawasan laut Indonesia
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah China menawarkan pemberian bantuan radar kepada Indonesia untuk pengawasan dan pengamanan alur laut kepulauan Indonesia.
"Kami belum bicarakan apakah bantuan radar ini bentuknya hibah atau seperti apa. Masalah ini baru akan dibicarakan," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemhan) Marsekal Madya Eris Herryanto usai mendampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat menerima kunjungan Anggota Komisi Militer Pusat dan Panglima Korp Artileri II (Strategic Missile Corps) CPLA Jenderal Jing Zhiyuan di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin.
Menurut dia, pengamanan di wilayah alur laut kepulauan Indonesia memerlukan pengawasan ketat guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam kunjungannya Jenderal Jing Zhiyuan itu, kata dia, juga dibicarakan tentang pengiriman sejumlah penerbang pesawat tempur Indonesia (TNI Angkatan Udara) untuk melakukan latihan dengan simulator pesawat Sukhoi di China.
"China membuka diri untuk membantu kebutuhan Indonesia ini," katanya.
Menurut dia, China menyediakan tempat bagi prajurit TNI yang akan mengikuti latihan ini dengan kapasitas maksimal sepuluh orang.
Kerja sama ini dilakukan lantaran Indonesia belum memiliki simulator Sukhoi, namun Kemhan telah merencanakan pengadaan simulator Sukhoi untuk memudahkan latihan prajurit TNI yang akan menerbangkan pesawat tempur buatan Rusia itu.
"Rencana pengadaannya pada 2012 dan sudah masuk dalam `blue book`, tinggal pelaksanaannya," kata Eris. (S037/N002)
♣ ANTARA News
smoga Indonesia bisa mandiri dalam teknologi Radar
Posted in: Radar
Radar Cuaca BPPT Sudah Dipindahkan dari Monas
| Pekerja dari BPPT memasang alat pantau cuaca di Monas, Jakarta |
Jakarta � Radar cuaca Multi Parameter Radar (MPR) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kini telah dipindahkan kembali ke Serpong. Sebelumnya radar itu dipasang di Monumen Nasional, Jakarta Pusat selama empat hari, pada 18-21 Januari 2013.
Manajer Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana BPPT, Fadly Syamsudin, mengatakan, radar itu digunakan untuk memantau cuaca selama banjir yang melanda Ibu Kota pada pekan lalu. "Dipasang di sana memang hanya sementara, stasiun permanennya berada di Serpong," ujar Fadly ketika dihubungi, Jumat, 25 Januari 2013.
Dia mengatakan, kinerja radar untuk memperkirakan cuaca di wilayah Jakarta tak akan terganggu meski kini terpasang di Serpong, Tangerang Selatan. Soalnya radar tersebut dapat membaca pergerakan angin dan curah hujan dalam radius 170 kilometer. "Jadi wilayah yang bisa dibaca termasuk Jabodetabek, Selat Sunda, dan Teluk Jakarta," kata Fadly.
Berdasarkan pantauan radar tersebut, Jakarta dan wilayah sekitarnya diperkirakan tak akan mengalami cuaca ekstrem seperti yang terjadi pekan lalu. "Curah hujan masih tinggi, tetapi dengan intensitas yang normal di waktu musim hujan," ujar dia. Soalnya, angin musim timur laut atau northeasterly monsoon surge dari Laut China Selatan sudah tak bertiup ke arah Jakarta.
Angin itulah yang membawa awan-awan yang mengandung uap air tinggi pada pekan lalu. Akibatnya, Jakarta dan wilayah sekitarnya diguyur hujan deras dengan durasi panjang yang pada akhirnya menyebabkan banjir besar di Ibu Kota.
• Tempo.Co

Posted in: BPPT,Radar
Kemenhub Siapkan Radar Baru untuk Soekarno-Hatta
Mangindaan mengakui radar bandara mati selama 15 menit.
Jakarta � Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengatakan pihaknya akan segera membeli radar baru untuk Bandara Soekarno Hatta. Proses pengadaan sudah berjalan.
"Mati 15 menit menang kita akui, itu disebabkan karena naiknya voltase yang begitu cepat. Namun kita sudah bisa kendalikan secara manual," kata Mangindaan di Jakarta, Jumat, 21 Desember 2012.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Kementerian Perhubungan akan segera menyediakan radar baru untuk bandara Soekarno-Hatta. "Antisipasi ke depan sudah ada pengadaan radar," ungkap dia.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhyono memerintahkan peristiwa terbakarnya kapasitor Uninterruptible Power Supply (UPS) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu sore 16 Desember 2012, segera diinvestigasi. Terbakarnya UPS itu mengakibatkan radar bandara mati selama 15 menit.
Peristiwa matinya radar bandara adalah insiden buruk dan tidak bisa dianggap sebagai hal biasa. “Dampaknya luar biasa. Harus ada investigasi menyeluruh,” ujar Presiden SBY di Bandara Halim Perdanakusuma, setibanya dari lawatan dari Malaysia dan India.
SBY mengatakan, jika dalam kejadian tersebut ada sumber daya manusia yang terbukti lalai menjalankan tugasnya sehingga berimplikasi luas, maka harus segera ditindak dan diberi sanksi. Apalagi peristiwa matinya radar di bandara bukan sekali ini terjadi.
“Harus ada tindakan, sanksi, dan perbaikan di Bandara Internasional Cengkareng,” kata SBY. Apabila ada instrumen yang diperlukan untuk mengganti kerusakan yang sebelumnya terjadi, SBY minta pengadaannya dipercepat. (umi)
© VIVA.co.id

Modernisasi dong Pak !! jangan terlambat terus ...
Posted in: Radar
Peringatan Dini Berbasis Radar
Jakarta � Massa udara yang mengisi ruang udara baik berupa awan, asap, maupun debu dalam jumlah yang masif berpotensi mengancam aktivitas manusia di bumi hingga menimbulkan bencana. Pemantauan dengan sistem radar dapat mengantisipasi hingga menjadi bagian dari peringatan dini bencana.
Teknologi radar (radio detection and ranging) pertama kali diterapkan di dunia penerbangan untuk memantau lalu lintas.
Teknologi ini menggunakan alat pemancar gelombang elektromagnetik. Pancaran gelombang akan mengenai obyek dan memantulkan. Pantulan ditangkap oleh alat penerima di sistem radar. Sinyal yang diterima dianalisis oleh sistem komputer untuk menentukan lokasi dan jenis obyek yang ”tertangkap” radar.
Penggunaan gelombang elektromagnetik diperkenalkan oleh Christian Hulsmeyer pada tahun 1904. Gelombang itu mampu mendeteksi kapal pada cuaca berkabut tebal. Radar mulai banyak dikembangkan sebelum Perang Dunia II oleh ilmuwan Amerika Serikat dan Eropa. Yang paling berperan adalah Robert Watson-Watt dari Skotlandia. Ia mengembangkan peralatan navigasi dan menara radio mulai tahun 1915. Ia menciptakan radar yang mampu mendeteksi pesawat terbang sejarak 64 kilometer.
Tahun 1939 ditemukan pemancar gelombang mikro berkekuatan tinggi dengan antena kecil yang dapat mendeteksi sasaran dalam cuaca gelap dan berkabut. Selanjutnya, teknologi radar berkembang pesat, tingkat resolusi dan portabilitas makin tinggi. Aplikasinya meluas, termasuk untuk memantau atmosfer, cuaca, dan aktivitas vulkanik.
Pemantauan cuaca
Pengamatan kondisi atmosfer di Indonesia menggunakan radar dilakukan sejak pertengahan 1980-an, di International Center for Equatorial Atmosphere Research (ICEAR) di Kototabang, Sumatera Barat.
Di perbukitan itu dipasang sistem radar untuk mengamati kondisi atmosfer di khatulistiwa. Dari pemantauan dapat diketahui perilaku atau dinamika atmosfer dan profilnya. Stasiun EAR menggunakan radar Doppler beroperasi sejak Maret 2001. Riset dilaksanakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bekerja sama dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH), Kyoto University, kata Thomas Djamaluddin, Deputi Kepala Lapan Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan.
Stasiun pengamatan ini memiliki 560 rangkaian antena membentuk formasi lingkaran berdiameter 110 meter. Konfigurasi sistem ini memungkinkan penembakan gelombang berkecepatan 5.000 kali per detik, demikian Mamoru Yamamoto, Profesor dari Universitas Kyoto, menguraikan.
Fasilitas ini dapat mengobservasi turbulensi angin di ketinggian hingga 20 kilometer di atas permukaan bumi dan gangguan udara di lapisan ionosfer di ketinggian lebih dari 90 kilometer.
Dengan fasilitas radar beresolusi tinggi dilakukan pemantauan angin untuk mengetahui secara detail struktur atmosfer ekuator, terkait dengan pertumbuhan dan konveksi awan kumulonimbus, kata Eddy Hermawan, peneliti di Stasiun EAR.
Penelitian pola angin monsun di lapisan tersebut bertujuan untuk pemodelan prakiraan terjadinya penyimpangan dan kondisi cuaca ekstrem, seperti kekeringan dan musim basah. ”Hasil pemantauan, pola pergerakan ozon dan gas rumah kaca di atmosfer akan meningkatkan pemahaman kita pada fenomena El Nino dan perubahan iklim,” Eddy menguraikan.
Prakiraan cuaca perkotaan
Pengamatan atmosfer dengan radar juga dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melibatkan peneliti dari beberapa negara, antara lain Jepang, untuk mengoperasikan Boundary Layer Radar dan Middle Frequency Radar.
Sistem radar beresolusi tinggi, menurut Fadli Syamsudin, Manajer Proyek Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps) Maritime Continent Center of Excellence (MCCOE) dapat digunakan untuk membuat pemodelan pola cuaca dalam skala perkotaan.
Pemodelan curah hujan sangat diperlukan di wilayah perkotaan, yaitu dalam penataan ruang dan mitigasi bencana banjir. Pengembangan model peramalan cuaca untuk kawasan khatulistiwa dilakukan BPPT bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-earth Science and Technology (Jamstec).
Model tersebut berbasis data pengamatan dari jejaring stasiun radar Hydrometeorological Array for Intraseasonal Variation Monsoon Automonitoring (Harimau). Dalam jejaring ini ada lima stasiun radar yang terpasang di beberapa lokasi di sekitar garis khatulistiwa Indonesia.
Sistem yang diterapkan di Tokyo menjadi acuan pemodelan ini. Menurut Takeshi Maesaka, peneliti di National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED), pemodelan curah hujan atau Estimasi Presipitasi Kuantitatif (QPE) di Jepang menggunakan radar X-band multi-parameter (MP).
Jejaring radar tersebut diuji coba di sekitar kota metropolitan Tokyo sejak tahun 2006 untuk memantau potensi bencana cuaca. Tahun 2008, jejaring dikembangkan di kota besar lain. Kini di Jepang ada 35 radar di 13 kawasan rawan banjir.
Jejaring ini dapat memprediksi curah hujan secara akurat tanpa perlu kalibrasi penakar hujan. Estimasi Presipitasi Kuantitatif dihasilkan dalam satu menit.
Takeshi menyarankan penerapan sistem itu di Indonesia dengan mengombinasikan dengan radar S band yang ada. Radar X-band mengestimasi lingkup lokal, radar S/C-band untuk observasi kawasan yang lebih luas.
Selain itu, radar juga digunakan untuk memantau aktivitas gunung api.
• Kompas

Posted in: Ilmu Pengetahuan,Radar
★ ITS dan PT Solusi-247 Kembangkan Radar Maritim
CONTOH: Integrated Maritime Surveillance System (IMSS), sistem radar maritim bernilai Rp 543,9 miliar ini merupakan bantuan AS kepada Indonesia. Secara konkret, IMSS terdiri atas 18 stasiun pengawas pantai (CSS), 11 radar berbasis kapal, dua pusat komando regional, dan dua pusat komando armada di Jakarta dan Surabaya. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Radar Maritim IMSS TNI-AL Efektifkan Pengamanan Laut Di Selat Malaka. (Ist)
Surabaya • Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan perusahaan penyedia layanan teknologi komunikasi PT Solusi-247 menjalin kerja sama untuk mengembangkan "marine radar" (radar maritim).
Kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT Solusi-247, Beno Pradekso, bersama Pembantu Rektor IV ITS Prof Dr Darminto di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Rabu.
Beno Pradekso mengatakan pihaknya kini sedang gencar melakukan riset untuk pengembangan produk perusahaannya, karena itu pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, seperti ITS.
"Beberapa bidang riset yang akan kami lakukan dengan ITS antara lain Marine Radar, Electric Support Measure (ESM), Radio Direction Finding (RDF) Receiver , Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), dan Integrated Surveillance framework," katanya.
Menurut dia, perusahaannya telah melakukan riset ESM hampir 90 persen dan telah diuji di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Pengawasan laut yang belum optimal, karena keterbatasan fasilitas menjadi dasar bagi Solusi 247 untuk mendalami aplikasi teknologi produk itu di bidang maritim," katanya.
Hingga saat ini, persoalan mengenai kecelakaan kapal, "illegal traffic", pencurian ikan, hingga pembajakan kapal nelayan menjadi masalah tak terpecahkan karena lemahnya aktivitas monitoring.
"Oleh karena itu, kami mengajak ITS, kami memiliki pengetahuan tentang sensor dan radarnya, sedangkan ITS punya pengetahuan di bidang maritim dan perkapalannya," katanya.
Beno mengatakan ITS adalah mitra yang sangat sesuai untuk melaksanakan kerja sama ini, karena ITS unggul di bidang maritim, lalu keberadaan sentra nelayan, pelabuhan internasional, dan armada pertahanan laut di Surabaya juga menjadi nilai tambah tersendiri.
Senada dengan itu, Prof Dr Darminto mengatakan kerja sama itu bukan pertama kalinya ITS bekerja sama dengan pihak swasta.
"Kami berharap produk-produk yang dikembangkan nanti dapat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat," katanya.
Untuk tahap awal, kerja sama akan dilangsungkan selama dua tahun. "Tidak perlu kita menggunakan produk asing untuk aplikasi ICT di Indonesia. Lebih baik kita buat sendiri dan kita kuasai teknologinya," katanya.(*/Ant)
● Formatnews

Posted in: ITS,Radar
PT LEN Mampu Produksi Radar Canggih untuk Kapal Perang
Jakarta - PT LEN Industri (Persero) memiliki kemampuan mengembangan sistem keamanan canggih untuk militer. BUMN teknologi ini telah memproduksi peralatan radar untuk kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Peralatan radar ini, mampu menangkap kapal musuh hingga kemudian kapal berhasil dihancurkan.
"Kita membuat, Combat Management System (CMS) untuk sistem mengatur bagaimana radar menangkap, me-lock target sampai menembak target. Berapa banyak musuh yang mengancam, itu terekam. Kita sudah bangun," tutur Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Abraham Mose dalam diskusi kebangkitan BUMN, di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/5/2013).
Abraham menambahkan, peralatan radar yang dibuat di Bandung tersebut, telah dikembangkan sejak 2011. Alat ini, bisa dipasang pada kapal perang berjenis Van Spijk dan Parchim class
"Sudah ditahun 2011 mulainya 2012, kemudian 2013. Kapal Van Spijk dan Parchim class, itu KRI," jelasnya.(feb/hen)
● detikFinance

Posted in: KRI TNI-AL,LEN,Radar
Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) di Tanjung Mangkalihat
![]() |
| IIMS TNI-AL (Foto Dentusbol) |
Untuk kepentingan strategis tersebut, Kementerian Pertahanan RI bersama TNI AL menempatkan piranti khusus di berbagai titik pantau strategis. Salah satunya di Tanjung Mangkalihat, bagian paling timur dari Pulau Kalimantan.
Piranti tersebut dinamakan Integrated Maritime Surveillance System (IMSS).
IMSS merupakan suatu sistem pengawasan maritim yang terintegrasi antara Coastal Surveillance Station (CSS) atau stasiun pengawas di darat dengan sentra pengawasan lainnya.
"CSS terintergrasi dengan Kapal Perang Indonesia (KRI), Regional Command Center (RCC) atau pusat pengendalian regional, dan Fleet Command Center (FCC) atau pusat pengendalian armada," kata Komandan Lanal Sangatta, Letkol Laut (E) Yudhi Bramantyo, didampingi Komandan Pos TNI AL Tanjung Mangkalihat, Letda Laut (P) Machfudz Azhari.
Fungsi IMSS adalah untuk kewaspadaan di bidang maritim (maritime domain awareness), yaitu mengamankan wilayah perairan Indonesia, khususnya yang berada di daerah yang padat untuk melintas kapal-kapal yang keluar masuk Selat Malaka (ALKI I) dan Selat Makassar (ALKI II), dan perairan wilayah Indonesia (melalui KRI) Untuk kawasan Tanjung Mangkalihat, IMSS mulai difungsikan tahun 2010. Berbagai peralatan yang berada di IMSS antara lain Radio Detection and Ranging (RADAR) yang berfungsi sebagai deteksi kontak yang berada di atas permukaan laut (kapal-kapal).
![]() |
| IMSS TNI-AL (Foto: Dentusbol) |
"Ada pula Automatic Identification Station (AIS) yang berfungsi sebagai pemberi informasi tentang nama kapal dan nama panggilan kapal, nomor IMO, dimensi dan tipe kapal, draft kapal, waktu keberangkatan dan kedatangan kapal, tujuan kapal, posisi Lintang Bujur, halu kapal, dan kecepatan kapal," kata Danlanal.
Data-data tentang kapal selalu diperbarui dalam periode tertentu pada skala internasional. Sehingga kapal-kapal yang tidak terdaftar bisa didefinisikan sebagai kapal tak dikenal. Kapal rakyat pun tetap terdeteksi dalam radar ini.
IMSS dilengkapi dengan VHF Radio yang berfungsi sebagai alat komunikasi dengan kapal-kapal yang melintas di sekitar stasiun pengawas di darat. Plus HF Radio yang berfungsi sebagai backup data komunikasi ke RCC apabila VSAT tidak bisa digunakan dan juga sebagai alat komunikasi dengan RCC ataupun dengan kapal-kapal yang melintas di sekitar CSS.
Ada pula Day Camera (kamera siang hari) dan FLIR camera (kamera malam hari) yang berfungsi untuk mengambil gambar (memotret) kapal-kapal yang melintas di sekitar CSS. "Kamera tersebut bisa digerakkan langsung dari RCC maupun FCC tanpa memberi tahu CSS," kata Machfudz.
Sarana pendukung lain di IMSS adalah Nobletec yang berfungsi sebagai monitor posisi kapal-kapal yang melintas di sekitar CSS dan sebagai alat komunikasi dengan RCC dan FCC melalui text message application. "Adapun sumber tenaga sistem CSS berasal dari dua buah diesel generator 15 Kwh," katanya.
IMSS merupakan salah satu piranti teknologi militer yang mutakhir. Banyak negara di dunia yang menggunakannya sebagai salah satu perangkat sistem pertahanan dan keamanan negara.
Saat ini Indonesia memiliki 20 buah Coastal Surveillance System (CSS). 10 buah berada di Selat Malaka dan 10 buah berada di Selat Makassar. Juga 11 KRI yang dilengkapi IMSS. Tiga KRI di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat, dan delapan KRI di bawah Komando Armada RI Kawasan Timur.
Indonesia juga memiliki dua Regional Command Center, yaitu RCC Batam dan RCC Manado, dua Fleet Command Center, yaitu FCC Jakarta dan FCC Surabaya, serta satu Headquarters (HQ), yaitu HQ Cilangkap.
![]() |
| IMSS TNI-AL (Foto: Dentusbol) |
Mengamankan perairan di ujung timur Pulau Kalimantan juga menyisakan berbagai cerita. Machfudz mengatakan, mereka tetap berjuang untuk mengemban tugas negara secara maksimal dalam segala keterbatasan.
"Yang paling terasa adalah akses menuju lokasi yang sangat sulit. Setelah menggunakan speed boat dari Sangkulirang menuju Manubar, perjalanan harus dilanjutkan dengan kapal rakyat menuju Tanjung Mangkalihat selama beberapa jam," katanya.
Saat ini Mako Lanal Sangatta menugaskan empat personel di Pos TNI AL Tanjung Mangkalihat. Mereka harus apel di Mako Lanal dalam dua bulan sekali. Dalam kondisi ini, Machfudz mengatakan mereka berupaya mengemban tugas dengan sebaik baiknya.
Yang menarik, karena belum ada BTS tower, mereka hanya bisa berkomunikasi dengan pesan singkat. "Untuk mencari sinyal, kami harus naik motor tujuh kilometer. Itu pun sinyalnya terputus-putus. Jadi komunikasi dengan Mako Lanal lebih banyak lewat SMS. Kami mengecek dua hari sekali," katanya.
Karena merasakan sendiri kendala yang dialami, Machfudz menyampaikan beberapa kebutuhan mendasar kawasan yang dihuni sekitar 300 KK tersebut. "Yang utama adalah jalan darat. Selama ini kami harus lewat laut atau memutar ke arah Berau melalui Teluk Sulaiman. Jalan tembus ke Manubar sangat diperlukan," katanya.
Selain itu, pasokan listrik masih mengandalkan genset. Kalaupun ada genset, masih mengandalkan pasokan solar dari Sulawesi. "Masyarakat banyak tergantung pada pasokan dari Sulawesi. Baik pangan maupun BBM," katanya.
Salah satu solusi untuk mengatasi problem listrik adalah dengan penggunaan solar cell atau pembangkit listrik tenaga surya. Hal ini perlu diupayakan secara serius. "Di kawasan tersebut juga belum ada dermaga. Perjalanan harus disambung dengan kapal kecil sampai ke tepian," katanya.
Selaku personel TNI yang juga berposisi sebagai masyarakat, Machfudz pun berharap agar geliat pembangunan bisa ditularkan secara proporsional di kawasan tersebut. Sehingga mampu menjadi "pelepas dahaga" bagi para warga yang terpisah jarak ratusan kilometer dengan ibukota kabupaten.
● Tribunnews

Posted in: Radar,TNI
★ Radar Canggih LPI Buatan Indonesia
Jakarta ☆ Kecanggihan dan nilai battle proven kapal perang modern tidak terlepas dari persenjataan dan teknologi radarnya. Seperti radar Low Probability of Intercept (LPI), radar yang dirancang untuk menjadikan kapal sulit dideteksi kapal musuh. Rata-rata teknologinya dari negara besar seperti Scout MK2 buatan Thales Eropa, SPN 730 buatan Selex ES Inggris, dan negara-negara besar lainnya. Meski tertinggal dalam teknologi persenjataan, Indonesia ternyata sejak 2009 telah membuat radar canggih ini. Namanya LPI Radar-IRCS, radar buatan PT Infra RCS Indonesia ini menggunakan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FM-CW). "Dengan teknologi ini maka daya pancar yang digunakan sangat rendah yaitu di bawah 10 watt untuk dapat memperoleh jarak jangkauan radar yang luas. Di Asia belum ada (produsen), apalagi di Asia Tenggara. Rata-rata mereka menggunakan produk negara maju," ucap Technical Advisor PT Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di Plaza Aminta, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan frekuensi X-band, Doopler speed bisa mencapai maksimal 40 knot membuat radar LPI semakin penting untuk pengawasan rahasia, pelacakan target, dan operasi siluman. Selain radar LPI, PT Infra RCS Indonesia juga telah memproduksi Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) dan Electronik Support Measures (ESM). "Radar kami bersifat Low Probability of Intercept kita jual satu paket dengan ECDIS bisa juga dengan ESM. Alat ini cocok untuk electronic warfare. Radar LPI dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh menggunakan detektor yang disebut ESM. Keunggulan radar LPI, musuh akan melihat kita sebagai kapal sipil," tutur Mashruri. Selain untuk kapal laut, Radar LPI juga dikembangkan untuk wilayah perairan seperti portable coastal radar yang bisa digunakan secara mobile. Radar ini memiliki keunggulan yaitu ukuran lebih kecil, jangkauan deteksi cukup jauh, dengan probabilitas rendah membuat radar ini tidak mudah diketahui pihak lain. "Sementara untuk di wilayah pantai untuk tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL. Seperti kita tahu garis pantai kita kan panjang jadi perlu sekali radar pengawas pantai. Karena wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing, lalu juga illegal fishing, kecelakaan, penyelundupan dan lain-lain. Seperti di Maluku, Kalimantan, dan lain-lain," ungkap pria lulusan sebuah universitas Australia ini. Untuk komponen radar, menurut Mashruri, ada beberapa material masih impor dari negara lain karena belum tersedia di dalam negeri. Ia berharap adanya kebijakan dari pemerintah agar nilai komponen lokal pembuatan radar tanah air bisa meningkat. "Ada yang kita buat sendiri seperti software dan beberapa hardware. Dan memang untuk material ada yang kita impor ya karena di dalam negeri nggak ada," keluhnya. Sementara di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia, Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan saat ini timnya masih berfokus untuk mengembangkan radar Coastal dan ke depan akan mengembangkan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS). "Untuk Infra ini kan punya misi untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia. Sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan," jelas Wiwiek. Apakah akan mencoba menjual ke luar negeri? "Rencana ada, tapi masih fokus untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Kalau nggak kita akan bergantung dengan negara lain terus dan ini menjadi tantangan bagi kami untuk memajukan teknologi bangsa," jawab wanita berkerudung ini.(Muhammad Ali)
★ Liputan 6

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Radar
★ INFRA RCS, Industri Radar Swasta dalam Negeri
Harganya Bersaing dari China, cuman 50%-nya
Jakarta ★ Kemandirian anak bangsa Indonesia dalam membuat alat utama sistem senjata (alutsista) telah banyak menoreh prestasi di dalam maupun luar negeri, seperti pembuatan pesawat, kapal perang, kendaraan tempur, senjata ringan maupun berat. Alutsista-alutsista strategis ini tidak terlepas dari peran BUMN Industri Strategis dan industri swasta lainnya.
PT Infra RCS Indonesia adalah salah satu industri strategis swasta yang terlibat dalam memajukan teknologi radar dalam negeri. Beberapa produk perusahaan yang telah berdiri sejak 2009 ini telah dipasang di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Parchim.
"Ada 4 KRI Van Speijk dan 1 Parchim. Di situ ada radar LPI (Low Probability of Intercept) dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh, ada ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) karena 1 paket dan ada juga ESM (Electronic Support Measures) untuk KRI Yos Sudarso dan KRI OWA," ucap Technical Advisor PT Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (7/4/2014).
Selain itu saat ini Infra RCS sedang mengembangkan Coastal Radar yang berfungsi untuk mengawasi pesisir pantai dan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS). Dalam pengembangan ini, Infra RCS bekerjasama dengan Dislitbang TNI AL sebagai end user.
"Coastal Radar kita kebanyakan dari luar, dan seperti kita ketahui garis pantai kita itu kan panjang. Jadi perlu banyak radar pengawas pantai, jadi wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing lalu juga illegal fishing seperti di Maluku dan lain-lain. Tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL," ujar pria murah senyum itu.
Di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan selain dipasarkan ke TNI AL, radar-radar pabrikannya juga bisa dijual ke kalangan swasta dan pemerintah. Tawaran dari institusi pemerintah juga sudah mulai berdatangan.
"Kita pemasarannya bisa kalangan kecil, swasta dan pemerintah, jadi terbuka ya. Kita rencananya kerjasama dengan asosiasi galangan kapal, tentu untuk dipasang di on-board ya. Kalau untuk coastal rencananya dengan Bakorkamla, Kementerian Perikanan. Pertamina juga berminat untuk pengawasan oil rig-nya," imbuh wanita berkerudung ini.
Untuk masalah harga, Wiwiek menilai, produk buatan perusahaannya lebih kompetitif dibanding radar impor. Selain itu, perusahaannya memberikan pelatihan berkala sampai pihak user mengerti tentang kegunaan radar pabrikannya.
"Secara cost kita sangat kompetitif, seperti kalau beli dari China di kita harganya cuman 50%-nya," tutur Wiwiek.
Meski dengan keterbatasan SDM, PT Infra RCS Indonesia bercita-cita untuk mendukung revitalisasi dan kemandirian bangsa dalam bidang penelitian dan produk radar dalam negeri. Untuk anggaran Research and Development (R&D) awalnya dari hasil patungan dan akhirnya dibantu Ditlitbang TNI AL.
"Untuk Infra ini kan kita punya misi untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis. Jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan. Kalau lihat produk luar biasanya setelah instalasi lalu ditinggal, itu banyak kita lihat di lapangan itu," katanya.
"Ada (anggaran) dari internal ada juga kerjasama dengan litbang. Kalau coastal ini kita kerjasama dengan litbang TNI AL. Dengan keuntungan sedikit kita akan pakai lagi untuk R&D dan pengembangan varian-varian baru agar kemandirian bangsa dalam teknologi radar bisa setara dengan negara maju. Saat ini fokus 70% untuk radar maritim dan sisanya untuk radar lainnya." (Rizki Gunawan)
★ Liputan 6

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Radar
Radar Firefinder TNI AD
Pameran Alutsista TNI AD di Monas pekan lalu banyak menampilkan peralatan tempur baru bagi TNI AD. Satu hal yang menarik perhatian adalah Radar Firefinder untuk satuan Artileri Medan. Dibandingkan peralatan lainnya, pada stan radar ini relatif sepi dari pengunjung, padahal fungsi peralatan radar ini sangat vital bagi satuan artileri modern.
Radar firefinder/weapon locating radar adalah radar yang digunakan untuk mendeteksi dan menemukan lokasi artileri lawan yang dipakai untuk menembak dengan pelacakan yang diperoleh dari lintasan proyektil. Lintasan proyektil dari artileri medan biasanya berbentuk parabola, dengan menemukan masing-masing satu titik saja pada lintasan naik dan turun parabola maka lokasi asal-usul proyektil dapat ditemukan.
Radar firefinder TNI AD ini ternyata masih berupa prototipe hasil penelitian dan pengembangan (Litbang) TNI AD. Pengumuman pemenang tender rancang bangunnya pernah diumumkan pada bulan April 2012 oleh Pussenarmed, dan ini adalah kemunculan pertama radar hasil Litbang tersebut.
Radar ini diklaim mampu menghasilkan data kaliber, kecepatan lintasan, waktu terbang, titik jatuh dan kedudukan senjata asal proyektil. Data tersebut diperoleh dari pancaran sinyal dengan kelebaran 45 derajat dengan jarak hingga 5 km.
Platform kendaraan pengusung radar ini dipilih Toyota Hi-Lux 4x4 kelas 3/4 ton. Hanya diperlukan 2 orang untuk mengoperasikannya dan radar ini dapat dioperasikan secara terus menerus sesuai kebutuhan.
Negara-negara tetangga telah lama mengoperasikan radar firefinder, Singapore baru saja mengajukan pembelian 6 radar tipe AN/TPQ-53 (V) buatan Lockheed Martin sebelumnya negara ini menggunakan radar Saab Arthur dengan platform kendaraan roda-rantai Hagglund Bv 206, Malaysia juga menggunakan radar Arthur buatan Saab dengan platform kendaraan yang sama. Australia mengoperasikan radar AN-TPQ-63 tipe tarik buatan Northrop Grumman sama seperti yang dioperasikan oleh Angkatan Darat Thailand, namun Marinir Thailand tahun lalu mengundang demo radar Arthur buatan Saab dengan platform truk beroda 4.
● Defense Studies

Posted in: Alutsista,Indonesia Teknologi,Radar
Ahli Rusia Direncanakan Alan Mengkaji Mi-17 TNI AD
Helikopter Mi-17V5 seperti yang dimiliki TNI AD memiliki keterbatasan terhadap empasan angin dari belakang atau dari kanan. Jika terkena empasan pada titik tertentu akan oleng dan mundur, sehingga helikopter harus mendarat dalam kondisi yang benar-benar cocok dengan arah angin (photo : kompas)
MAGELANG — Pemerintah akan mengundang ahli dari Rusia untuk me-review ulang kinerja semua helikopter yang dimiliki negara, termasuk helikopter Mi-17. Langkah ini dilakukan untuk lebih mengenal karakter setiap jenis helikopter hingga dapat menghindari hal buruk, seperti kecelakaan.
Demikian dituturkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (16/11).
Pada Sabtu, sebuah helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat jatuh di Long Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Sebanyak 14 orang tewas dalam peristiwa itu.
Purnomo mengatakan, review tentang kinerja pesawat dan helikopter juga telah dilakukan oleh TNI AD. Dari review tersebut diketahui, Mi-17 yang jatuh di Malinau dalam kondisi bagus, tanpa ada masalah teknis, dan penyebab kecelakaan diduga terseret oleh pusaran angin.
Sebelum kecelakaan di Malinau, Purnomo mengatakan helikopter Mi-17 berfungsi baik, Untuk menjalankan tugas misi perdamaian di Kongo misalnya, PBB bahkan sering kali meminta pasukan dari Indonesia memakai helikopter Mi-17.
Sejumlah helikopter Mi-17 TNI AD saat ini dioperasikan untuk membantu misi PBB di Kongo sebelah timur. Helikopter TNI AD tersebut merupakan bagian dari Skuadron 21 SENA yang bermarkas di Pangkalan Udara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah.
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman menjanjikan, tahun 2014, semua heliopter Mi-17 akan dilengkapi dengan radar buatan dalam negeri. Radar itu dibuat di Bandung oleh perusahaan swasta yang biasa memasok radar bagi Lockheed Martin, sebuah industri pesawat tempur dan senjata di Amerika Serikat.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pilot Helikopter Indonesia (APHI) Kapten Imanuddin Yunus memuji langkah Kementerian Pertahanan mengundang tenaga ahli Rusia untuk membantu investigasi jatuhnya helikopter Mi-17. Dalam penerbangan sipil ada rekaman percakapan dan rekaman penerbangan pesawat atau helikopter, yang dijadikan dasar investigasi sebuah kecelakaan penerbangan.
"Bagus sekali kalau mendatangkan pakar dari Rusia. Helikopter Mi-17 digunakan banyak negara dan memiliki reputasi baik sebagai kuda beban pengangkut penumpang dan peralatan," kata Yunus.
● Kompas

Posted in: Helikopter,Radar,TNI AD
LIPI & Iran Elektronik Industri, pengembangan sistem radar
Produknya akan dilabeli 'Made in Indonesia" Batam ★ Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Industri Elektronik Iran (IEI) akan bergabung untuk mengembangkan dan memproduksi sistem radar aktif dan pasif untuk kepentingan sipil dan militer.
Joint venture yang pertama di bidang telekomunikasi, karena, Iran dianggap memiliki ilmu di kemajuan teknologi dan transfer teknologi.
Kepala Divisi LIPI telekomunikasi Mashury Wahab kepada The Jakarta Post di Batam, Kepulauan Riau, bahwa LIPI akan bekerja dengan IEI untuk mengembangkan dan manufaktur sistem radar dengan bekerja sama dengan perusahaan Indonesia PT Dirgantara Aviation Enterprise.
Mereka akan mengembangkan kedua sistem radar aktif dan pasif. Sistem radar pasif mendeteksi sinyal dari sebuah partikel yang berbeda, sedangkan sistem radar aktif memiliki kemampuan untuk melawan musuh.
“Iran dan Indonesia akan bekerja sama dalam mengembangkan dan memproduksi dua sistem radar. Mereka akan digunakan dalam kepentingan pihak militer Indonesia [TNI] sistem senjata utama serta penerbangan sipil di bandar niaga,“ kata Mashury.
“Iran memiliki teknologi dalam bidang ini, seperti kapasitas hingga 500 kilometer radius. Iran juga memiliki teknologi bagus dan komponen mereka digunakan oleh lebih dari 52 negara,” ujarnya di sela-sela konferensi internasional ke-3 pada Radar, antena, Microwave, elektronik dan telekomunikasi (ICRAMET) di Batam.
Menurut Mashury, kolaborasi ini diharapkan dapat terwujud tahun ini, sehingga PT Dirgantara Aviation Enterprise segera bisa menghasilkan sistem radar.
Produk akan dicap sebagai “made in Indonesia”, sedangkan untuk penggunaan militer, LIPI akan menyampaikan masalah kepada Komite kebijakan industri pertahanan (KKIP) untuk dimasukkan dalam alat utama sistem senjata TNI.
Sementara itu, perwakilan IEI Ali Nasheer Ahmadi pada konferensi ICRAMET, mengatakan bahwa teknologi dapat memberikan keamanan bagi Indonesia dan Iran.
“Indonesia dan Iran, negara-negara Muslim, dapat bekerja sama untuk mengembangkan berbagai teknologi telekomunikasi di masa depan,” katanya.
Berdasarkan pernyataan dari LIPI, IEI adalah perusahaan negara Iran yang terlibat dalam pengembangan teknologi dan mempekerjakan hingga 5.000 orang.
★ the jakarta post

Posted in: Kerjasama,LIPI,Radar
CMS LEN Pengaman Kapal Perang TNI AL
Jakarta ☆ PT Len Industri (persero) saat ini terus mengembangkan sayap bisnisnya, salah satunya adalah pemasangan teknologi sistem radar kapal perang Indonesia jenis Van Spiejk dan Parcism class. Teknologi milik perusahaan pelat merah ini berguna untuk meningkatkan kualitas sistem pengamanan negara.
Direktur Utama Len Industri Abraham Mose menjelaskan, sistem buatannya tersebut berbentuk radar yang dipasang di kapal perang milik TNI angkatan laut. Sudah dua tahun ini program ini dijalankan menggandeng militer.
"Radar tersebut dipasang pada kapal perang berjenis Van Spiejk dan Parcsim class, proyek pemasangan radar dilakukan sejak tahun 2011 hingga tahun ini," kata Abraham saat ditemui di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/5).
Teknologi buatan perusahaan pelat merah tersebut berguna untuk mengantisipasi ancaman musuh yang bekerja layaknya radar.
Radar yang dipasang di kapal milik TNI tersebut langsung dapat menangkap sinyal jika terjadi potensi ancaman di Indonesia.
Radar tersebut dilengkapi dengan Control and Monitoring System (CMS), yaitu sistem yang mengatur bagaimana radar menangkap sinyal, lalu mengunci target, serta menembak sasaran sesuai target.
"Kita membuat CMS untuk sistem mengatur bagaimana radar menangkap mengunci target sampai menembak target, berapa banyak musuh yang ancam itu CMS kita sudah bangun," jelasnya.[noe]
♞ Merdeka

Posted in: LEN,Radar
BUMN Produksi Radar Untuk Militer
Jakarta ☆ PT INTI (Persero) salah satu BUMN dibidang teknologi, mampu membuat produk radar canggih untuk menjaga perairan Indonesia yang dapat mengawasi pantai dari penyusup seperti kapal perang negara lain. PT. INTI dan BPPT Kerjasama Ciptakan Sistem Radar Batas Pantai. "Kami menyediakan sistem radar batas pantai. Radar ini kita desain dengan bekerjasama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi)," ujar Humas PT INTI, Andy Nugroho kepada detikFinance, Minggu (23/2/2014). Andy mengungkapkan, radar ini dibuat untuk mengawasi pantai dan pengaturan lalu lintas pelabuhan. "Kelebihan radar ini dapat bekerja dengan daya listrik rendah, tidak terdeteksi oleh radar pemindai, dan dalam kategori radar tenang," ucapnya. Untuk kelas radar ini untuk militer, maka untuk pembeliannya tidak bisa di jual bebas oleh masyarakat umum. "Kalau membeli harus melalui kontrak penjualan berbasis kerjasama atau kontrak," tutupnya.
♞ detik

Posted in: BPPT,BUMNIS,INTI,Radar
Lockheed Martin Mengumumkan Inisiatif Industri Radar Indonesia
Pemasok sistem pertahanan internasional ini bekerjasama dengan mitra-mitra lokal untuk membantu Angkatan Udara Indonesia di dalam Modernisasi Radar Ilustrasi Lockheed Martin Radar
Lockheed Martin (NYSE: LMT) telah meluncurkan inisiatif industri radar Indonesia sebagai bagian dari usaha perusahaan asal AS ini dalam mendukung agenda Indonesia untuk memordenisasikan dan memperluas jangkauan pengawasan udara Republik Indonesia.
Inisiatif ini mencakup transfer teknologi guna membantu pembangunan industri radar Indonesia, serta kerjasama dengan sejumlah universitas lokal guna mengembangkan sumber daya manusia untuk mendukung inisiatif ini. Meningkatkan kemampuan Indonesia untuk membuat beragam komponen radar yang fundamental akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pemasok asing, sekaligus membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.
Lockheed Martin berkomitmen untuk mendukung Indonesia dan rencana revitalisasi industri pertahanannya," ungkap Robert Laing, Eksekutif Nasional, Lockheed Martin, Indonesia. "Tujuan kami adalah untuk menciptakan sebuah sektor teknologi dan lapangan pekerjaan yang baru demi menjamin industri yang berkesinambungan di Indonesia."
Lockheed Martin telah bekerjasama dengan Institut Teknologi bandung (ITB) untuk membuat kurikulum engineering teknologi radar. Selain itu, terdapat sejumlah program lainnya, ditambah dengan berbagai seminar teknis dan peluang pendidikan yang tengah berlangsung, seperti pelatihan pemimpin masa depan untuk pengembangan teknologi radar. Perusahaan ini juga telah mengintegrasikan kapabilitas manufaktur dengan sejumlah mitra lokal Indonesia, yang telah memulai memproduksi komponen-komponen radar.
Lockheed Martin juga kini tengah bersaing memperebutkan program radar Ground Control Intercept (GCI) Indonesia. Jika perusahaan ini berhasil memenangkan program tersebut, maka akan terbuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi mitra-mitra lokal, yang diperkirakan hingga dua juta jam kerja selama masa aktif radar-radar tersebut. Para mitra lokal akan mampu memproduksi komponen radar senilai hampir 100 juta dolar tiap tahun.
Pengalaman ekstensif radar pengawasan udara yang dimiliki Lockheed Martin dapat membantu Indonesia menjadmin keamanan dan keselamatan ruang udara baik bagi lalu lintas udara sipil maupun kedaulatan udara nasional untuk waktu yang sangat lama. Lockheed Martin telah memproduksi dan mengoperasikan lebih dari 200 radar pengawasan udara di 30 negara. Beroperasi di seluruh dunia selama 24 jam, radar-radar Lockheed Martin beroperasi sepenuhnya tanpa awak dan sebagian besar telah puluhan tahun di dalam kondisi lingkungan terpencil yang keras. Tidak ada satupun radar-radar tersebut yang pernah mengalami kerusakan, dan bahkan sebagian besar telah beroperasi dengan baik melampui masa garansi 20 tahun. Kehandalan dan umur yang panjang dari radar-radar tersebut adalah hasil dari investasi berkelanjutan Lockheed Martin di dalam teknologi canggih dan komitmen terhadap misi dan kebutuhan para konsumen.
Berpusat di Bethesda, Maryland, Lockheed Martin adalah perusahaan keamanan dan kedirgantaraan global yang memiliki sekitar 113.000 karyawan di seluruh dunia dan secara khusus terlibat di dalam riset, desain, pengembangan, manufaktur, integrasi, dan pemeliharaan beragam sistem, produk, dan layanan teknologi canggih. Penjualan bersih korporasi untuk tahun 2013 mencapai 45,4 miliar dolar.
♞ Antara

Posted in: Kerjasama,Radar
RI Butuh Alat Canggih Ini untuk Berantas Pencurian Ikan
Pemerintah Indonesia seharusnya membangun sebuah sistem yang canggih untuk memberantas praktik illegal fishing atau pencurian ikan. Saat ini sistem kontrol gerak kapal tangkap ikan di wilayah laut Indonesia masih dilakukan secara sederhana melalui alat yang dinamakan Vessel Monitoring System (VMS).
Penggunaan alat VMS diwajibkan bagi kapal berkapasitas di bawah 30 Gross Ton (GT). Sementara bagi kapal di atas 300 GT diwajibkan memasang peralatan AIS atau Automatic Identification System. Sayangnya kedua peralatan ini masih bersifat manual dan mudah dimatikan oleh nakhoda kapal.
Kasubid Pengelolaan Sistem dan IT Badan Keamanan Laut (Bakamla) Letkol Maritim Arief Meidyanto mengungkapkan pemerintah Indonesia harus mengembangkan teknologi modern untuk sistem operasional kapal tangkap ikan di dalam negeri.
"Kita belum memiliki apa yang dinamakan satelit radar. Untuk memperkuat IT Bakamla, kita butuh itu. Selain itu kita butuh yang namanya radar OTH (Over The Horizon)," kata Arief saat ditemui di Gedung Mina Bahari III, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (30/03/2015).
Radar OTH mampu mendeteksi keberadaan seluruh jenis kapal yang beroperasi di laut. Teknologi ini bahkan sudah digunakan negara-negara maju, namun harga radar OTH cukup mahal.
"Rusia, Inggris, Amerika Serikat, Italia hingga Australia mereka sudah punya. Negara-negara di ASEAN belum punya," katanya.
Alat ini tentu mempermudah petugas pengawas laut dalam mengawasi gerak-gerik kapal di laut. Selain alat ini, sebuah software canggih Google Monitoring System yang dibuat produsen asal AS Google juga diperlukan pemerintah untuk memberantas illegal fishing. Hal ini yang akan dicoba Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
"Mereka lupa kita bisa melihat yang tidak bisa dilihat AIS yang tidak bisa dilihat VMS. Teknologi sudah luar biasa apa yang terjadi di Indonesia itu dilihat oleh dunia, tidak ada hal yang bisa kita sembunyikan lagi. Google saat ini sedang membuat satu software yang sangat luar biasa dan mereka sudah monitor seluruh pergerakan apapun yang di laut, baik itu pakai VMS atau tidak," jelas Susi.(wij/hen)
♘ detik

Posted in: Bakamla,Radar



