Loading Website
Tampilkan postingan dengan label Dahana. Tampilkan semua postingan

Dahana to Produce Sukhoi Fuse Bomb Soon

20130501 The technology of military defense industry is no longer dominated by and depending on foreign countries, especially the US and Europe.

Indonesia had already acquired the technology and is now able to produce its own various military needs, which previously had to be imported. To support the primary defense weapon system (alutsista) independency, several potential SOEs are synergized by the government as Strategic Industry SOEs (BUMNIS).

One of the Strategic Industry SOEs is PT Dahana (Persero), the only local industry focusing on various explosives for military needs. Among others, Dahana is currently exploring the development of fuse bomb mass production for domestic military needs. The project itself is a continuation of Dahana’s success in producing the P-100 bomb filling.

Fuse itself is an automatic part of the device that initiates the function, which is to direct the bomb to its correct target without having to be controlled. Without the fuse technology planted in the P-100 bomb, the bomb would only be able to explode with low target accuracy after being shot from the fighter aircraft. The fuse bomb produced by Dahana would later be used for the Sukhoi aircrafts owned by the Indonesian military air force. Aside from that, it is also possible that the fuse bomb, which is planned to be produced in Subang, will be exported to the much potential Asian markets, considering the somewhat rarely present fuse technology at the moment.

The vital Dahana project itself is planned to be completed and start its fuse bomb production by 2015. This is also in accordance with the government’s plan to turn the Sukhoi fighter aircraft armada into one squadron by adding more aircrafts. Currently the Indonesian military air force only has 10 units of the Russian manufactured aircrafts. Through the Defense Ministry, the company will be working with Armaco from Bulgaria to learn about fuse bomb manufacturing technology by means of continuous technology transfer scheme.

As explained by Bambang Agung, PT Dahana (Persero)’s Director of Development and Technology, the fuse bomb project will be synergized with the explosives filling industry which has already been carried out, such as P-100 Bomb, R-Han rocket and Blast Effect Bomb. “Should the project be realized, it would save foreign exchange used to buy alutsista from foreign countries,” said Bambang Agung.

 Dahana Shows off Dayaprime on National Technology Revival Day Launching

20130701

Carrying the title as one of the national strategic industries, PT DAHANA (Persero) was present at the launching of the National Technology Revival Day (Hakteknas) on Monday (24/06).

Also present at the launching event, which was held at the same time as the technology product exhibition, were some other SOEs and strategic institutions. The event also acted as a showcase for various latest technology products.

Located at BPPT Building on MH Thamrin Street, the nation’s creations in the sector of the primary means of defense system (alutsista) were shown at the event. The creations were of the latest innovations and each year different innovations are displayed. The innovations displayed include Unmanned Aerial Vehicle belonging to LAPAN, Sniper Rifle from PT Pindad, bulletproof steel made by PT Krakatau Steel (Persero) and the latest generation airplane from PT Dirgantara Indonesia.

Not wanting to fall behind, PT Dahana also introduced its latest booster product. The dynamite labeled “Dayaprime” became one of PT Dahana’s main flagship products at the exhibition which only ran shortly for 3 hours. Using the latest technology, Dayaprime was boasted as having higher explosives energy compared to the former dynamite product, Dayagel Magnum. Also shown in the event was the P-100 live bomb which was a result of the collaboration between Dahana and PT Sari Bahari, a national private company.

As revealed by Bambang Agung, PT DAHANA’s Director of Technology & Development, the government was still unable to completely lose its dependency towards imported explosives. “Every year Indonesia still imports bombs similar to P-100 with an amount of up to 1.2 million pieces. Right now, Dahana is gradually starting to be able to substitute the need of bombs which have similar capabilities to P-100.” Bambang explained. The P-100 bombs which act as warhead to Sukhoi and F-16 fighter aircrafts had gradually replaced foreign explosives used by the Ministry of Defense.

Similar to the P-100 bomb, the latest explosives “Dayaprime” was also projected to replace booster needed in the mines industry which was currently fulfilled through importation. According to Bambang, the dynamite produced by joint operation between PT Dahana and DAK Energetic Limited from USA was targeted to reach 3 million pieces. “I think that Dahana could compete with foreign players. Next year we have a production target of 9 million pieces, which will still be increased until the production capacity reaches 15 million pieces of Dayaprime every year.” said Bambang Agung.

PT DAHANA (Persero)’s participation in the event which was opened by the Minister of Defense was a proof of the company’s serious commitment in supporting the independency of the country’s primary means of defense system. Hakteknas is commemorated as an appreciation to the work of the nation which spawned various technology innovation products, especially since the first flight of the N-250 airplane. The airplane which was designed by IPTN took its first flight on 10th August 1995. The peak of the commemoration will be celebrated on 27th August until 1st September 2013 at TMII.(IDR)

  ● Dahana

Posted in: Alutsista,Dahana

#Tag : Alutsista Dahana

Menengok Lebih Dekat Pabrik Bom Terbesar se-ASEAN di Subang

Mampu mengembangkan dan memproduksi bahan peledak untuk keperluan militer dan industri non militer http://images.detik.com/content/2014/05/12/1036/kampuspt.dahana_grandy_020.jpg Subang ★ Siapa sangka Indonesia punya fasilitas pengembangan dan produksi bahan peledak modern dan terbesar di Asia Tenggara atau ASEAN. Fasilitas tersebut dimiliki oleh PT Dahana (Persero).

Perusahaan pelat merah yang telah berdiri sejak tahun 1966 ini mampu mengembangkan dan memproduksi bahan peledak untuk keperluan militer dan industri non militer di dalam dan luar negeri.

Pabrik milik Dahana tersebar di seluruh negeri namun pusat produki bahan peledak tingkat tinggi (high explosive) berada di area pabrik energetic material center, Kantor Manajemen Pusat (Kampus) di Desa Sadawarna, Kecematan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

detikFinance pun memperoleh kesempatan istimewa berkunjung dan wawancara khusus Chief Executive Officer (CEO) Dahana, Harry Sampurno di area energetic material center milik Dahana di Subang.

Untuk menjangkau lokasi, harus menempuh perjalanan darat selama 3,5 jam dari Jakarta. Setelah keluar gerbang tol Cikampek arah Sadang, mobil harus bertarung dengan buruknya kualitas jalan selama 1 jam hingga memasuki bibir pabrik.

Ketika tiba di lokasi, tampak gedung megah dengan arsitektur ramah lingkungan (green) menyambut kedatangan. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk. Pabrik dan Kampus Dahana diapit oleh 2 buah sungai serta dikelilingi pohon yang menjulang tinggi.

Saat memasuki area perkantoran, sistem pengamanan terasa cukup longgar. Kantor pusat dan pabrik milik BUMN bom tersebut menempati lahan seluas 600 hektar.

“Pengamanan kita biasa di awal. Nanti ring 1 baru ketat,” kata Harry kepada detikFinance di Kampus dan Pabrik Dahana di Subang, Jumat (9/5/2014).

Pada awal pertemuan, Harry dengan ramah dan jelas menerangkan bisnis dan apa yang dilakukan perseroan. Termasuk menjelaskan beberapa ruangan yang ada di gedung berkonsep ramah lingkungan tersebut.

Harry pun mengajak kami mengelilingi area pabrik dan melihat lebih dekat proses pembuatan salah satu jenis produk bahan peledak (non electric detonator). Pabrik di Subang merupakan pusat pengembangan produk bom komersial dan militer berdaya ledak tinggi (high explosive).

Didampingi Harry dan beberapa petugas keamanan, kami mengendarai kendaraan khusus milik perseroan. Benar saja, saat akan memasuki area pabrik atau berada di gerbang ring 1, seorang petugas bermimik serius mencegat kami.

“Selamat siang. Izin hape dalam keadaan dimatikan,” perintah seorang petugas keamanan kepada seluruh rombongan termasuk kepada Dirut Dahana yang ada di dalam mobil.

Akhirnya rombongan yang terdiri detikFinance dan Dirut Dahana mengikuti standar keamanan yang diperintahkan. Tugas petugas tersebut tidak berhenti di situ, ia memeriksa sekeliling kendaraan dan tas yang dibawa setiap orang di dalam mobil secara seksama.

Ketika diperbolehkan memasuki area pabrik, Harry yang bertugas sebagai pemandu kami. Ia menunjukkan lokasi pertama yakni bangunan tempat perakitan mobil khusus (mobile mixing unit) untuk mendukung operasional Dahana di lokasi tambang.

“Kita sebutnya pabrik bergerak. Kita buat di sini,” jelasnya.

Sambil bercerita, mobil dinas layaknya kendaraan wisata yang kami tumpangi mengelilingi area pabrik. Sesekali ia menujuk lokasi gudang dan pabrik yang berukuran kecil dan memiliki tanggul khusus.

“Kalau ada tanggul itu tandanya ada bahan peledaknya. Itu sebagai perisai kalau terjadi hal-hal terburuk seperti ledakan,” sebutnya.

Harry menjelaskan alasan ukuran pabrik dibuat kecil dan lokasinya berjauhan. Dasarnya adalah bagian dari standar keamanan. Dengan konsep safety distance atau jarak aman, ada pertimbangan jangkauan ledakan jika terjadi musibah di area pabrik. Meski ada musibah, dampak ledakan tidak akan dirasakan hingga ke luar lokasi pabrik.

“Ada safety distance. Semua di sini pabrik high explosive,” paparnya.

Rombongan sempat bertemu dengan kendaraan yang akan membawa bahan peledak ke luar lokasi pabrik. Selanjutnya rombongan melewati hutan di tengah pabrik dan memutuskan berhenti pada pabrik Non-Electric Detonator (Nonel).

Di sini Harry yang didampingi manager pabrik menjelaskan proses produksi. Kami pun diizinkan melihat dari dekat proses pembuatan hingga pengujian Nonel. Bangunan untuk pembuatan dan pengujian dilakukan di dalam kontainer khusus. Nonel sendiri biasa digunakan sebagai pemicu ledakan (initiating explosive).

“Pabriknya kecil pakai kontainer, masalah safety dan security,” katanya.

Harry menjelaskan rombongan tidak diizinkan memasuki area pabrik untuk pembuatan bom khusus militer. Pasalnya pabrik tersebut sangat berbahaya.

Very high explosive jadi nggak boleh masuk,” tegasnya.

Setelah berkeliling di area pabrik selama 25 menit, rombongan meninggalkan area pabrik menuju kantor pusat. Saat akan meninggalkan area pabrik, petugas keamanan kembali mencegat rombongan. Masih dengan wajah serius, ia menelisik ke dalam kendaraan.

“Sudah selesai pak,” kata petugas keamanan sambil memberi salam usai melakukan pemeriksaan.

Pada kesempatan tersebut, Harry mengatakan untuk izin masuk area pabrik bagi warga negara asing berlaku peraturan yang sangat ketat. Khusus warga negara asing, harus memperoleh clearance dari TNI AU dan Dahana. Sedangkan WNI cukup memperoleh clearance dari perseroan. Sedangkan untuk kenyamanan area pabrik, sistem keamanan modern dan alamiah telah dibangun.

“Kita kemananan nggak pakai listrik, pakai natural barrier. Di sini pakai barrier sungai, bukit sama tanggul tinggi,” ujarnya.

Area pabrik di Subang, dijelaskan Herry akan dipersiapkan untuk membangun dan mengembangkan teknologi tertinggi dari bom. Seperti teknologi bom untuk airbag mobil, pengelasan rel kereta hingga hujan buatan.

Hingga saat ini, Dahana mampu menghasilkan puluhan paten produk bom yang telah berlebel Standar Nasional Indonesia. Produk Dahana di antaranya: dayagel seismic, dayagel series, dayadet non electric, shaped charges, dayagel sivor, grenade detonator, Bomb P-100 hingga Blast Effect Bomb.

Produk karya Dahana juga dijual hingga ke 26 negara. Bahkan berencana mendirikan pabrik di area pertambangan di Australia. Untuk mengembangkan, memproduksi, memasarkan produk bom, Dahana mempekerjakan hingga 1.300 karyawan.

  ★ detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana



Bom Produksi PT Dahana

Produsen Bom Kelas Dunia Berlomba-lomba Jualan di Indonesia http://images.detik.com/content/2014/05/12/1036/kampuspt.dahana_grandy_008.jpg Subang ☆ Kebutuhan produk bahan peledak di Indonesia masih tinggi. Permintaan bahan peledak umumnya datang dari perusahaan tambang batu bara, semen, minyak, hingga emas yang berlokasi di bumi pertiwi.

Dari permintaan bahan peledak sekitar 400.000 ton per tahun, mayoritas masih dipasok oleh perusahaan pembuat bom nomor 1 dan 2 dunia. Layaknya madu, pasar bom Indonesia menjadi rebutan bagi produsen bahan peledak dalam dan luar negeri.

“Namun sebagian besar pasarnya masih dipegang oleh pemain asing. Nomer 1 di dunia Orica yang nomer 2 itu Dyno. Mereka pemainnya,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat, Jumat (9/5/2014).

Dahana sendiri merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kategori strategis yang mengembangkan dan memproduksi produk bom untuk kebutuhan industri dan militer.

Harry menjelaskan Dahana mampu menghasilkan produk bom tambang hingga kapasitas 150.000 ton. Kapasitas ini diperoleh dari tambahan pasokan bahan baku (Amonium Nitrat). Pasokan itu datang dari pabrik bahan baku di Bontang, Kalimantan Timur.

“Sekarang menjadi 75.000 ton. Karena kita melakukan services di lapangan sudah di 30 lokasi. Sehingga totalnya menjadi sekitar 150.000 ton,” sebutnya.

Harry menuturkan pasar terbesar produk bahan peledak datang dari tambang milik perusahaan sekelas Newmont, Freeport Indonesia, Adaro, hingga Kaltim Prima Coal.

Khusus tambang terbesar di Indonesia seperti milik Freeport dan Newmont, pasokan bahan peledak dikuasai oleh perusahaan asing dunia.

“Kalau Freeport dan Newmont belum. Kalau saja dikurangi. Di luar dikuasai asing itu. Dahana kira-kira 60% menguasai pasar. Memang besar. Kalau digabung dengan 2 besar itu, kita menjadi kurang dari 20%,” paparnya.

Meski harus bersaing ketat dengan perusahaan asing, produk dalam negeri tak kalah bersaing. Putra-putri Indonesia mampu mengembangkan dan memproduksi produk bahan peledak bersertifikasi.

“Kalau dari sisi produk, itu nggak kalah. Yang kalah itu dari soal branding, kemampuan modal, kemampuan manajerial itu yang kita kalah. Itu kita akui,” tegasnya.

Untuk industri tambang, Dahana terus memperluas ekspansi usahanya. Hal ini didukung dengan kapasitas produksi yang terus ditingkatkan.Produk Bom Made in Subang Diekspor ke 26 Negara http://images.detik.com/content/2014/05/12/1036/bom1.jpg PT Dahana (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen bahan peledak untuk keperluan industri dan militer. Produk bahan peledak Dahana telah dijual hingga ke 26 negara.

Hampir sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara telah membeli produk bahan peledak dari pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat.

“Kita sudah ekspor bahan peledak ke 26 negara,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.

Selain negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Kamboja, negara-negara di Timur Tengah hingga Kanada juga menjadi konsumen PT Dahana.

“Kita mulai dari Malaysia (Serawak), Thailand, kemudian Filipina, kemudian Kamboja sudah kirim, Timor Leste. Kita sedang penetrasi ke Vietnam dan Burma,” jelasnya.

Untuk produk bom versi industri, Dahana menjual jenis detonator, booster, hingga catridge emulsion (dinamit). Sedangkan untuk versi militer, Dahana mengekspor tipe bom plastik (dayagel sivor).

“Yang kita ekspor itu ada detonator (Nonel) kemudian kedua adalah booster ketiga adalah catridge emulsion (semacam dinamit). Itu komersial semua. Tapi yang untuk militer. Kita baru ekspor beberapa tempat,” paparnya.

Perseroan tidak terlalu mengkhawatirkan rencana dimulainya pasar bebas ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Pasalnya produk Dahana justru telah dipakai di beberapa negara Asia Tenggara.

“Kalau tahun 2015 ada MEA. Kita banyak yang nggak tahu, itu nggak berpengaruh terhadap industri karena AFTA sudah berlaku sejak tahun 2007. Kita sudah mulai ekspor sejak 2005. Walau jumlah kecil tapi makin lama makin besar,” sebutnya.

Meski pasar di tanah air menjadi rebutan pemain dunia, namun Dahana perlahan tapi pasti menjajaki mendirikan pabrik bahan peledak di Australia. Begitu pula dengan pasar ASEAN. Dahana sedang menjajaki menjual produk bom ke Eropa hingga negara ASEAN yang belum tersentuh.

“Tahun ini kita sedang negosiasi untuk bisa ekspansi ke Australia. Kalau berhasil maka tahun depan kita bangun pabriknya,” jelasnya.

Aktivitas ekspor Dahana menyumbang 10% dari total pendapatan perseroan. Sedangkan 5% dari militer dan 85% dari industri tambang. Dahana pada tahun 2013 berhasil meraup pendapatan Rp 1 triliun dengan perolehan laba bersih sebanyak Rp 50 miliar.

“Struktur pendapatan kita itu untuk ekspor masih kecil atau sekitar 10%. Dan ini membuat kita kaget. Untuk militer hanya 5%. Di luar itu adalah dalam negeri untuk komersial. Strukturnya seperti itu,” paparnyaPT Dahana Produksi Bom untuk Jet Tempur Sukhoi Hingga Roket http://images.detik.com/content/2014/05/12/1036/bom3.jpg Industri pertahanan di Tanah Air menjadi tumpuan untuk mengurangi ketergantungan dari produk militer impor. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan produk pertahanan asli dalam negeri seperti yang dilakukan BUMN PT Dahana (Persero).

BUMN yang bermarkas di Subang, Jawa Barat ini telah berhasil mengembangkan dan memproduksi produk canggih untuk keperluan militer. Produk yang dibuat antaralain bom canggih P 100 Live untuk jet tempur Sukhoi.

Selain itu, Dahana berencana memproduksi bom kejut untuk jet tempur F5 (blast effect bomb). Guna bom sebagai anti huru hara mampu membuat pengunjuk rasa terpental dan membubarkan konsentrasi massa ketika bom dijatuhkan dari pesawat. Blast effect bomb ini tidak mematikan berbeda dengan bom P 100 Live yang bisa mematikan.

“TNI AU. Untuk Sukhoi. Itu Bom Udara, Bom P100 Live untuk pesawat Sukhoi. Kita juga sudah buat untuk pesawat F5. Yang kita buat untuk anti huru-hara. Namanya blast effect bomb. Itu sudah dimulai cuma kontrak pembelian yang bom baru dimulai tahun ini,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.

Selain itu, Dahana juga telah terlibat memproduksi dan mengembangkan roket R Han 122.

Produk unggulan versi militer yang telah diproduksi Dahana adalah dayagel dan dayagel sivor. Khusus dayagel sivor biasa ditemui pada aksi film laga untuk penyerbuan lokasi musuh. Bom tipe ini ditempelkan di pintu kemudian meledak. Beberapa negara telah memakai bom produksi Dahana ini.

“Kalau di film, bom ditaruh di pintu. Bisa meledak," katanya.

Dahana juga mengembangkan komponen penting di dalam peluru dan roket. Di lokasi pabrik di Subang, Dahana berencana memproduksi propelan. Propelan biasa dipakai untuk meluncurkan amunisi.

“Ini sangat strategis. Mungkin nggak bisa banyak cerita. Itu bahan pendorong amunisi. Itu untuk roket. Peluru-peluru di dalamnya ada propelan. Sekarang ini kita 100% masih impor. Nantinya kita buat di Dahana,” paparnya.

Dahana tidak hanya menggarap pasar industri pertambangan, selain itu pasar militer juga terus ditingkatkan. Porsi penjualan untuk militer dari 5% ditingkatkan menjadi 15%.

“Selama ini militer beli untuk bahan peledak biasa. Sekarang kita tingkatkan jadi bom dan roket,” jelasnya.

  ★ detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana



Indonesia Masih Impor Bahan Peledak untuk Airbag Mobil

PT Dahana sudah punya masterplan sampai dengan tahun 2025 http://images.detik.com/content/2014/05/12/1036/airbag.jpg Subang ☆ Industri otomotif di dalam negeri masih mengimpor 100% bahan peledak ringan untuk keperluan pembuatan airbag (kantung udara) sebagai alat keselamatan di kendaraan. Kondisi ini lah yang membuat Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Dahana Harry Sampurno ingin membuat dan memasok bahan peledak ringan untuk industri otomotif.

Dahana saat ini memproduksi bahan peledak untuk keperluan industri seperti pertambangan dan militer. BUMN yang bermarkas di Subang, Jawa Barat ini memiliki rencana jauh lebih besar hingga 10 tahun ke depan.

Rencananya Dahana akan masuk ke produk bahan peledak generasi yang lebih maju. Produk ini akan dikembangkan pada pabrik Dahana di area energetic material center, Subang, Jawa Barat.

"Kita sudah punya masterplan sampai dengan tahun 2025. Impiannya kenapa ini bukan namanya bahan peledak. Impian kita membuat energetic material center. Impiannya ke sana. Jadi beyond explosive atau di atasnya bahan peledak,” kata Harry kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.

Sebagai wujudnya, produk yang dikembangkan pada area energetic material center seluas 600 hektar seperti bom untuk keperluan industri otomotif. Bahan peledak ringan bisa mengaktifkan airbag saat terjadi kecelakaan mobil.

“Tahu mobil ada airbag-nya. Airbag itu dari bahan peledak. Kita ingin masuk ke sana,” jelasnya.

Saat ini, Indonesia belum memiliki teknologi pembuatan bahan peledak ringan untuk airbag, namun secara pasar potensi sangat menjanjikan bagi Dahana.

"Kita masih impor. Karena kita nggak pernah pakai. Itu airbag semua pakai Toyota, Mazda. Nggak ada di sini, semua impor,” katanya.

Pada area pabrik di Subang tersebut, Dahana hingga tahun 2025 juga berencana meluncurkan bom khusus untuk proses pengelasan rel kereta. Dengan bom tersebut, sambungan rel kereta bisa menyatu tanpa ada celah yang mampu menimbulkan suara atau getaran saat kereta melintas.

“Bahan peledaknya taruh di tengah terus diledakkan. Langsung nyambung. Itu advance yang akan datang,” paparnya.

Selain itu, untuk menciptakan teknologi hujan buatan bisa memakai bahan peledak. “Bikin hujan buatan. Bukan nebar-nebarin lagi. Kita nanti pakai bahan peledak. Itu yang advance jadi bukan hanya untuk militer,” jelasnya.

Dahana terus mempersiapkan diri dan terus berbenah secara bertahap, karena sebuah peralatan hebat tidak dihasilkan dalam waktu singkat. Perlu ada penyempurnaan yang tidak sebentar.

“Kita pelan-pelan makanya kita punya masterplan sampai 2025. Apa untuk militer, komersial. Kita maju pelan-pelan,” sebutnya.

  ★ detik

Posted in: BUMN,Dahana



#Tag : BUMN Dahana

Pabrik Bahan Baku Roket Dibangun di Subang, RI akan Hemat Devisa Rp 1 T

Keberadaan pabrik ini bisa menghemat impor atau devisa dari pembelian propelan Jakarta □ PT Dahana (Persero) dengan mitra asal Prancis akan membangun pabrik propelan di Subang, Jawa Barat Oktober tahun ini. Propelan merupakan bahan baku untuk pembuatan peluru, roket, peluru kendali hingga amunisi. Keberadaan pabrik ini akan memangkas 100% impor bahan baku amunisi hingga roket. Selama ini Indonesia masih tergantung produk propelan dari Belgia. Keberadaan pabrik ini bisa menghemat impor atau devisa dari pembelian propelan Rp 1 triliun per tahun. "Penghematan bisa signifikan. Kita perkirakan dengan proyeksi kebutuhan itu kurang lebih Rp 1 triliun per tahun," kata Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Badan Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim saat press conference pembangunan pabrik propelan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014). Untuk pembangunan pabruk propelan ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bahan peledak, PT Dahana (Persero) menggandeng perusahaan produsen propelan asal Prancis, Eurenco dan Roxel. Total alokasi anggaran pendirian pabrik sebanyak 400 juta Euro untuk fase I. Pada produksi tahap awal, Dahana mampu memproduksi nitrogliserin sebanyak 200 ton/tahun, spherical powder sebanyak 400 ton/tahun, propelan double base roket sebanyak 80 ton/tahun dan propelan komposit sebanyak 200 ton/tahun. Untuk tahap awal, Dahana memproduksi 3 jenis propelan untuk kebutuhan amunisi, roket dan misil. "Pabrik di Subang, itu milik fasilitas Dahana. Ada 3 jenis propelan akan diproduksi tahap awal yakni amunisi kaliber kecil, roket, dan peluru kendali," sebutnya. Ide pembangunan pabrik sudah dimulai sejak 2010. Targetnya produksi perdana propelan bisa dilakukan mulai 2018.   ★ detik

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana

Pabrik Propelan sebagai Kado TNI

Indonesia memasuki era kemandirian http://www.the-marketeers.com/wp-content/uploads/MaketDahana.jpg Jakarta ★ Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.

Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan menargetkan ground breaking pembangunan pabrik propelan pertama pada Oktober 2014, atau sebelum HUT TNI.

"Diharapkan groundbreaking sebelum HUT TNI, ini sebagai kado, sebelum 5 Oktober," kata Silmy saat Konferensi pers di Balai Media, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Silmy menjelaskan, dalam kerjasama yang dilakukan Indonesia melalui PT Dahana (Persero) dengan dua perusahaan asal Prancis, yakni Eurenco dan Roxel juga memberikan nilai-nilai strategis terhadap sistem pertahanan yang berbasis teknologi dari kedua negara tersebut.

"Ke depannya nilai strategis dari Prancis, banyak peluru kendali dari Prancis, ada transfer teknologinya," tambahnya.

Tidak hanya itu, dengan kerjasama pembangunan pabrik propelan pertama di Indonesia ini juga membuktikan bahwa Indonesia sudah mulai menjajaki era kemandirian. Pasalnya, selama ini Indonesia 100 persen impor bahan baku amunisi atau propelan dari Belgia.

"Ini akan menjadi lokal konten, karena propelanenya kita produksi sendiri, kita memberikan pemahaman Indonesia itu memasuki era kemandirian, sudah selesai kita yang namanya membeli barang, kita membangun alat pertahanan bangun sendiri, kita menuju kesana dari sekarang, makanya kita mulai," tukas dia.(rzy)

  ★ Okezone

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana

Produksi Alutsista PT Dahana

Alasan Pembangunan Pabrik Propelan di Subang http://www.the-marketeers.com/wp-content/uploads/MaketDahana.jpg Jakarta ★ Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis.

Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.

Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan alasan mengapa pemerintah setuju pembangunan pabrik propelan tersebut di area sekitar perusahaan Dahana.

"Kebetulan Subang itu sudah disiapkan sejak 20 tahun, kenapa subang karena infrastrukturnya terbangun," kata Harry di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Tidak hanya infrastruktur, pemilihan Subang sebagai lokasi dibangunnya pabrik propelan ini juga lantaran terpaku dengan bahan baku dasar yang lain, sudah tersedia, dan tidak bisa dilakur atau pemindahan ke lokasi lain.

"Ada komponen bahan baku seperti asam nitrat 98 persen yang tidak ditransfer dan tidak bisa diimpor, makanya kita bangun disana (Subang)," tambahnya.

Menurut Harry, dirinya sama sekali tidak mengkhawatirkan soal defisit listrik yang akan terjadi di Pulau Jawa. Dirinya mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini tidak banyak menghabiskan energi listrik.

"Energi listriknya tidak terlalu besar, dan kita menggunakan PLTA jati besar yang 2 tahun lagi, dan Subang yang 10 tahun lagi selesai," ungkapnya.

Tidak hanya itu, pemilihan dua perusahaan asal Prancis ini juga lantaran pada 2011 silam sudah melakukan kerjasama yang konteksnya lebih besar dibandingkan perjanjian pembangunan pabrik.

"Kita juga melihatnya karena mereka itu pemilik teknologi yang tercanggih," tukas dia.Pabrik Baru Dahana Produksi 1.500 Ton Amunisi/Tahun PT Dahana (Persero) ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk membangun pabrik propelan atau bahan baku amunisi persenjataan Indonesia.

Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan, pabrik propelan yang dibangun di luas lahan 50 hektare serta membutuhkan investasi sekitar 400 juta euro, diproyeksikan akan mampu memproduksi propelan 1.500 ton setiap tahunnya.

"Kapasitasnya 1.500 ton per tahun," kata Harry usai konferensi pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Harry mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini merupakan sebagai pabrik propelan pertama yang dimiliki Indonesia. "Pabrik ini kita sudah bercita-cita dari 20 tahun lalu," tambahnya.

Harry mengungkapkan, meski terbilang sebagai pabrik propelan pertama di Indonesia, akan tetapi dirinya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor propelan kepada negara lain yang membutuhkan.

"Kalau lebih diserap kesemua negara yang produksi peluru," tukas dia.

Diketahui, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Francis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.

Adapun, penandatanganan MoU pembangunan pabrik propelan ini dilakukan oleh Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno, Senior VP Bussines Development Jean Claude dan CEO Roxel France Jacques Desclaux yang disaksikan oleh Plt. Dirjen Pothan Kemhan Timbul Siahaan, Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Kemhan Brigjen TNI Zaelan Arifin, dan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim.Dahana Targetkan Produksi 63 Ribu Ton Bahan Peledak Guna meningkatkan produksi, PT Dahana (Persero) tengah membidik enam proyek baru dengan nilai kontrak sebesar USD15 juta hingga USD20 juta.

Adapun posisi produksi Dahana saat ini sebesar 56 ribu ton bahan peledak (handak).

Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno mengatakan, jika enam proyek yang tengah dibidik oleh perseroan. Maka, volume produksi bahan peledak Dahana dapat meningkat menjadi 63 ribu ton per tahunnya.

"Sekarang kan volume kita 56 ribu ton, kalau yang enam ini berhasil, akan menjadi 63 ribu ton," kata Harry saat bincang-bincang di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (14/3/2014).

Harry menjelaskan, 56 ribu ton volume produksi Dahana saat ini terbilang masih jauh dari kebutuhan nasional akan bahan peledak. Di mana, nasional membutuhkan 300 ribu bahan peledak setiap tahunnya.

"Kita hanya sekitar seperenamnya saja, makanya kita cari alternatif bisnis biar kita fleksibel," jelasnya.

Adapun, keenam proyek yang tengah dibidik Dahana antara lain PT Kasongan Bumi Kencana, Tambang Emas, ABN Grup Toba, PT Cabuse, MPO (Mitra Perdana Utama) di Malino, Kontruksi Pulau Seram, Tambang Emas di Banyuwangi Bukit Pitu, dan Malino Kalimantan Utara, namun pihaknya masih berkompetisi dengan luar negeri.Produk Propelan Dahana akan Berubah Jadi Peluru di Pindad https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj54eQrtSb1Y1RDZcHGf3c7rq90GviLfXdI7WYTZpk1THxpvSGoJ9-3lkbDmZcImK-bP49QuPZ_eegPRBkpKPNQPJy1qN7RMeGJzJo9cQDN9GHT8NZoB5plcNcsh88LW4zUcsCB-uMu62cW/s500/130312_RMN-BISNIS-01-PT-DAHANA-SUBANG.jpg PT Dahana (Persero) menyatakan, pembangunan pabrik propelan yang ditargetkan ground breaking pada Oktober 2014, ini akan disuplai kembali kepada PT Pindad (Persero), sebagai tahap finalisasi pembuatan amunisi atau peluru persejataan.

"Kita buat bahan bakunya, nanti kita serahkan ke Pindad, Pindad yang akan membuat produksinya," kata Direktur Utama PT Dahana, Harry Sampurno usai preskon pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Harry mengungkapkan, kebutuhan amunisi pertahanan di Indonesia sekitar 400 ton sampai 500 ron per tahunnya. Dengan adanya pabrik propelan pertama di Indonesia ini akan memenuhi kebutuhan amunisi persenjataan selama lima tahun ke depan.

Tidak hanya itu, mengenai komposisi kepemilikan saham pabrik propelan ini, Harry menyebutkan mayoritas kepemilikan dipegang oleh Indonesia, dalam hal ini PT Dahana (Persero).

"Kepemilikan tetap BUMN, karena kepemilikan saham asing tidak boleh lebih dari 49%," tambahnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Kemhan Brigjen TNI Zaelan Arifin mengungkapkan, selama ini Indonesia selalu melakukan impor propelan dari Belgia, sebagai bahan baku yang akan dimasukan kedalam casing peluru produksi Pindad.

"Propelane ini untuk isian, sehingga ke depan diharapkan bisa bekerjasama untuk mengisi casing yang dibuat oleh Pindad," tukas dia.

  ★ okezone

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana











BUMN Pembuat Alat Utama Sistem Persenjataan

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia telah mampu mengembangkan, memproduksi dan menjual peralatan militer berbagai jenis super canggih dan modern. Pengembangan peralatan militer ternyata sudah berlangsung sejak lama.

Seperti PT Pindad (Persero) yang memproduksi senjata dan kendaraan tempur berbagai varian atau PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang memproduksi berbagai tipe pesawat dan helikopter. Apalagi dengan adanya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

Industri pertahanan pelat merah memperoleh angin segar. Mau tahu BUMN produsen pelatan militer canggih. Berikut ini hasil penelusuran detikFinance, Rabu (4/12/2013).

1. PT Pindad (Persero)

Pindad merupakan BUMN senjata dan kendaraan tempur yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan negara strategis ini merupakan salah satu ujung tombak pemasok peralatan militer bagi TNI dan Polri.

Bahkan telah dipasarkan ke luar negeri. Produk senjata yang dihasilkan seperti: SS1, SS2, SPR, PM dan

senjata genggam. Pindad juga memproduksi berbagai varian amunisi ringan hingga berat.

Untuk kendaraan tempur, Pindad mampu mengembangkan dan memproduksi Panser Anoa, Water Canon, kendaraan taktis Komodo hingga tank versi medium.

2. PT Dirgantara Indonesia (Persero)

PTDI merupakan BUMN produsen pesawat dan helikopter versi militer dan sipil. Hasil karya BUMN pesawat ini telah digunakan di dalam dan luar negeri. Untuk meningkatkan kualitas pesawatnya, Dirgantara Indonesia mengandeng produsen kelas dunia seperti induk produsen pesawat Airbus, EADS.

Produk pesawat dan helikopter yang dihasilkan antara lain: pesawat NC 212-200, C212-400, CN 235-220M, CN235-200MPA, CN 295 Helikopter Bell 412 EP dan Helikopter Super Puma.

Dirgantara Indonesia saat ini sedang mengembangkan pesawat tempur KFX/IFX, pesawat penumpang N219 dan pesawat mata-mata nir awak.

3. PT LEN Industri (Persero)

LEN merupakan BUMN teknologi yang memproduksi berbagai peralatan canggih untuk energi terbarukan, kereta, pertahanan hingga telekomunikasi. Untuk bidang pertahanan, LEN berhasil memproduksi dan mengembangkan otak dari kapal perang yakni combat management system (CMS).

LEN juga memproduksi peralatan telekomunikasi untuk militer dan polisi seperti tactical radio communication HF dan VHF transceiver.

4. PT PAL (Persero)

PAL merupakan BUMN produsen kapal varian sipil dan militer. Perusahaan negara yang bermarkas di Surabaya Jawa Timur ini mampu memproduksi kapal perang untuk keperluan industri pertahanan tanah air. Bahkan PAL memperluas jaringan bisnisnya dengan menawarkan varian kapal perangnya ke Filipina.

Produk kapal perang dan kapal cepat PAL antara lain: Landing Platform Dock 125M, Kapal Patroli Cepat 57 meter NAV V, Kapal Patroli Cepat 15 Meter, Kapal Cepat Rudal 60 M. Selain itu, PAL saat ini bersama Korea Selatan tengan mengembangkan kapal selam.

5. PT Dahana (Persero)

Dahana merupakan BUMN produsen bahan peledak untuk keperluan industri dan militer. Salah satu bahan peledak versi militer terbaru yang dikembangkan adalah bom P-100 L dan P-100 untuk bom latih.

Bom pintar ini dilengkapi fuse sehingga bisa tepat sasaran. Bom P-100 ini nantinya dirancang untuk pesawat tempur Sukhoi milik TNI AU.

  ● detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana,DI,LEN,PAL,PINDAD

BUMN Penyuplai Amunisi TNI

Jakarta ☆ BUMN pembuat amunisi, PT Dahana (Persero), sedang mengembangkan bahan peledak bagi pesawat sukhoi TNI AU. Perseroan menargetkan bisa memproduksi 1.500 bom fuse untuk pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara.

"Iya kami sedang mengembangkan bom untuk Sukhoi. Jumlahnya sekitar 1500," ujar Juli Jajuli, Humas PT Dahana di Gedung BUMN Jakarta, (14/3/2014).

Menuru Juli, PT Dahana sudah mengisi bom-bom tersebut dengan bahan peledak, dan bisa menambah persenjataan Sukhoi. Setiap pesawat Sukhoi bisa membawa sampai 40 bom fuse.

Selain bom untuk Sukhoi, PT Dahana juga mengembangkan Rudal Penangkis Serangan Udara (PSU) yang akan digunakan dalam Sistem Pertahanan Udara Nasional (Sishanudnas). Pengembangan tersebut bekerjasama dengan TNI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Rencananya, PT dahana akan membuat 1.000 composite bahan peledak rudal.

"Target kita 1.000 composite untuk PSU, jarak jangkaunnya mencapai 24 sampai 45 kilometer," katanya.

Namun hingga kini anggaran mengenai Bom Fuse Sukhoi belum ada. PT Dahana hanya mengikuti instruksi mengenai pengembangan bahan peledak bagi TNI.

PT Dahana merupakan perusahan BUMN yang bergerak dibidang industri bahan peledak. Sejak berdirinya tahun 1975, Dahana merupakan pemegang hak industri peledak. Perseroan sempat kolaps pada tahun 1997-1998 karena krisis ekonomi.

Setelah reformasi, keran industri bahan peledak kembali dibuka. Dahana melakukan perbaikan sejak 2002 dan mulai memperlihatkan hasil sejak 2006.

Perkembangan Dahana terus berkembang, tahun 2008 dahana memulai ekspor hasil produksinya keberbagai negara yaitu Austraria, Malaysia, Filipina, Myanmar dan negara-negara di Timur Tengah.

  ♞ Kompas

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana

LAPAN uji roket Rhan dan pesawat EDF

Jakarta ☆ Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melaksanakan uji terbang roket hasil sinergitas Tim Konsorsium Roket Pertahanan dan pesawat Electric Ducted Fan (EDF) serta Turbo Jet di Garut, Jawa Barat.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN Jasyanto dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa uji terbang roket dilakukan pada Kamis (6/3), di Landasan Udara TNI AU, Cikelet, Garut sedangkan uji terbang pesawat EDF dan Turbo Jet dilaksanakan di Landasan Pesawat Pameungpeuk, Garut, Rabu (5/3).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa roket yang telah diuji coba tersebut merupakan kontribusi berbagai instansi mulai dari Lapan, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perindustrian, Kepolisian Republik Indonesia, BPPT, LIPI, Batan, TNI AD, TNI AL, TNI AU, UI, UGM, ITB, ITS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PT Krakatau Steel, PT Dahana, dan PT PAL.

Maksud pelaksanaan uji roket tersebut, ia mengatakan bertujuan untuk meningkatkan penelitian, pengembangan, dan perekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam uji terbang ini, diluncurkan tiga jenis roket yaitu tiga buah RX 2020, tiga buah Rhan 122b, dan dua buah Rhan 122.

Roket RX 2020 dan Rhan 122b yang membawa muatan radar dan GPS berhasil meluncur dengan jarak jangkau lebih dari 30 kilometer (km). Sementara itu, Rhan 122 diluncurkan untuk menguji launcher (alat peluncur).

Sedangkan uji terbang pesawat Electric Ducted Fan (EDF) dan Turbo Jet yang dilakukan di Landasan Pesawat Pameungpeuk, menurut dia, merupakan bagian dari rangkaian pengujian LSU atau pesawat tanpa awak dan rangkaian pengembangan bidang peroketan. Electric Ducted Fan dapat menempuh kecepatan terbang minimal 200 km per jam.

Tidak hanya menerbangkan EDF, ia mengatakan Lapan juga mengujiterbangkan RKX 200 TJ. Uji terbang tersebut merupakan bagian pengembangan lanjutan dari pesawat EDF.

Lapan di 2014, lanjutnya, juga akan mengembangkan pesawat RKX 200 TJ yang merupakan pesawat EDF dengan mesin jenis turbo jet yang direncanakan dapat terbang dengan kecepatan 250 km per jam.

Selain mengujicobakan roket dan EDF, Lapan juga telah meluncurkan Muatan Balon Atmosfer di Balai Produksi dan Pengujian Roket Lapan di Pameungpeuk.

Peluncuran balon atmosfer tersebut, menurut dia, merupakan persiapan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) yang akan berlangsung pada 14 hingga 16 Juni 2014 di Yogyakarta, yang bersamaan dengan agenda Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo).

Balon bervolume 2000 gram, bermuatan dua unit atmosfer, dan berisi gas hidrogen itu, diluncurkan dengan membawa sensor untuk mengirimkan data ke groundstation (komputer penerima). Sensor yang ditugaskan untuk mengukur variabel atmosfer, yaitu untuk melakukan observasi suhu, tekanan, dan kelembaban udara, dapat bekerja dengan baik.

Pada lokasi yang sama, PSTA juga melakukan pengamatan transportable radar untuk mengobservasi radar atmosfer di lingkungan setempat. Sinyal dari antena yang dipancarkan diharapkan dapat menangkap kondisi awan dalam jarak radius 100 km.(V002/Z002)

  ♞ Antara

Posted in: BPPT,Dahana,LAPAN,Roket

BUMN Bahan Peledak Bersaing Ketat dengan Produsen No 1 Dunia

Mahasiswa Indonesia Juara Lomba Sains di India PT Dahana (Persero) merupakan BUMN yang bergerak di industri strategis. BUMN yang bermarkas di Subang, Jawa Barat ini, mampu memproduksi berbagai jenis bahan peledak untuk keperluan industri dan militer.Pada tahun 2013, perseroan mampu memproduksi 56.000 ton bahan peledak berbagai jenis untuk keperluan industri. Padahal kebutuhan bahan peledak untuk industri tambang di dalam negeri saja mencapai 300.000 ton per tahun.Untuk memasok bahan peledak di dalam negeri, Dahana harus bersaing ketat dengan produsen bahan peledak nomor 1 dan 2 di dunia, asal Amerika Serikat (AS) dan Australia yakni Orica dan Dyno. Para produsen bahan peledak kelas dunia ini merupakan pesaing terberat PT Dahana."Kita kuasai pasar 1/6 di Indonesia. Kita hadapi raksasa dunia. Pemain di sini perusahaan bahan peledak nomor 1 dan 2 di dunia. Orica nomor 1 dunia yakni dari Australia dan AS. Gedenya 100 kali Dahana. Nomor 2 itu, Dyno dari AS. Mereka kuasai tambang besar di Indonesia," kata Direktur Utama Dahana Harry Sampurno pada acara diskusi di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (14/3/2014).Dahana berhasil menjadi pemasok bahan peledak untuk PT Adaro Energy Tbk. Sedangkan perusahaan tambang raksasa asing di Indonesia masih dikuasai produsen bahan peledak dunia.Lini bisnis Dahana antara lain explosive manufacturing dan drilling and blasting. Untuk produksi bahan peledak (explosive manufacturing), produk yang dijual dan dihasilkan antara lain dayagel sesmic, dayagel series, dayadet electric, daya prime, bomb P-10, shaped charged hingga blast effect bomb. Produk terlaris Dahana adalah dayadet electric dan dayaprime.Pada tahun 2013, perseroan meraup pendapatan Rp 1 triliun dan laba bersih senilai Rp 60 miliar. Sedangkan pada tahun 2014, Dahana menargetkan meraup laba bersih sebesar Rp 70 miliar dan pendapatan senilai Rp 1,1 triliun. Perseroan pada tahun 2014 berencana membidik 6 proyek pertambangan besar. Dahana berencana menjadi pemasok utama untuk bahan peledak dari 6 lokasi pertambangan. Tambang yang dibidik adalah batu bara dan emas. Untuk ekspansi bisnis tersebut, Dahana harus bersaing ketat dengan Orica dan Dyno."Misal Kasongan Bumini Kencana. Dia perusahaan tambang emas. Terus ABN groupnya Toba untuk tambang batu bara. Ke-3 dia Kapuse dia Malinau Kalimantan Utara, ke-4 MBO di Malino. Malino punya batu bara kalori tinggi. Ke-5 konstruksi di Pulau Seram. Tambang emas bukit bitu Banyuwangi," sebutnya.Minimal setiap 1 tender memiliki nilai proyek US$ 15 juta hingga US$ 20 juta. Untuk mendukung proses peledakan pertambangan, Dahana biasanya mendirikan On Site Plant di dekat lokasi tambang."Produksi 63.000 ton-65.000 ton bahan peledak. Dengan syarat 6 proyek menang. Tahun lalu kita produksi 56.000 ton," jelasnya.Perseroan pada tahun 2014 mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 140 miliar. Angka ini untuk mendukung tender-tender pertambangan yang dimenangkan Dahana."Investasi Rp 140 miliar. Itu tergantung proyek yang dimenangkan. Kita bangun on side plant, ada alat berat. Itu disesuaikan dengan penjualan kita," katanya.Bahan Peledak Made in Subang Diekspor ke ASEAN dan Australia Produk bahan peledak PT Dahana (Persero) tak hanya dipakai di dalam negeri. BUMN pemasok dan penjual produk bahan peledak ini juga mengekspor produknya ke Australia, Asia Tenggara, hingga ke Timur Tengah."Ekspor kita masuk ke Australia. Terus kita ekspor ke negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Myanmar," kata Direktur Operasi Dahana dalam diskusi di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (14/3/2014).Produk bahan peledak yang dijual untuk pasar ekspor antara lain cartridged emulsion, detonator dan booster. Untuk pasar luar negeri, Dahana mampu menjual bahan peledak hingga 80.000 pieces per tahun."Kita ekspor rata-rata 3 bulan sekali sebanyak 20.000-80.000 pieces. Meliputi, cartridged emulsion, detonator dan booster. Kita kirim rata-rata 2 kontainer per 3 bulan. Setahun ada 4 kali pengiriman. Jadi totalnya senilai US$ 480.000 per tahun.Pada tahun 2014, BUMN bahan peledak yang bermarkas di Subang Jawa Barat ini berencana membidik pasar Kamboja dan memperluas pasar di Australia.Agung menuturkan, Australia merupakan negara yang memiliki banyak pusat pertambangan. Untuk rencana di Australia ini, Dahana tidak bersaing dengan produsen bahan peledak kelas dunia. Alasannya, Dahana membidik tender bahan peledak di bawah 1.500 ton, yang nilai tender ini jarang dibidik oleh produsen bahan peledak dunia."Kita sedang masuk ke Australia. Tambang di Australia besar. Dia punya perusahaan handak (bahan peledak) dunia tapi untuk pasar kecil nggak diambil. Maka kita gerilya di sana," sebutnya.Jika tender berhasil dimenangkan, Dahana akan mendirikan on site plant di lokasi tambang Australia. On site plant merupakan pabrik bahan peledak kecil milik Dahana yang dibangun di dekat lokasi pertambangan.

  ♞ Detik

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbuuz_SZ7cKCwhpqa99bDUTs8z7eBdTBJgWOAzt77XI8cD84x5m60kJ97F5cSaRXGxcpzOzYYlOIYFY-3yJVAxLe-NvnjGPY8xy-QDlIMaL_2BIwAgbZjGA-BkFOT_TPB5x3WJfqI7IX0/s35/cinta-indonesia.jpg

Posted in: BUMNIS,Dahana

#Tag : BUMNIS Dahana

Bom untuk Jet Tempur Sukhoi akan Dibuat di Subang

Siap produksi Massal http://assets.kompas.com/data/photo/2013/03/25/1302483-foto-bom-p100-live-sukhoi.jpg-p.jpg Bom P100 Live Dahana Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen bahan peledak, PT Dahana (Persero) mulai tahun depan memproduksi bom khusus untuk pesawat jet tempur Sukhoi 27/30 milik TNI AU. Produk bom tersebut merupakan hasil sinergi antara perusahaan swasta dengan PT Dahana. Perusahaan swasta akan membuat badan bom sedangkan, konten dari bom akan dibuat di Pabrik Dahana di Subang Jawa Barat. Bom untuk jet tempur Sukhoi yang diproduksi antara lain P-100 Live dan Ovab. "Kita siap produksi. Kita rencana dapatkan pesanan Kemenhan (kementerian pertahanan) 600 unit bom P-100 kemudian 400 bom Ovab. Produksi mulai tahun depan," kata Direktur Utama Dahana Harry Sampurno di Kantor Pusat Dahana, Subang, Jawa Barat, Jumat (10/10/2014). Bom P-100 live bisa dipakai membidik satu sasaran sedangkan bom Ovab dipakai atau bisa dijatuhnya beberapa bom dalam sekaligus. "Jenis P-100 drop bom, untuk bom titik tertentu. Selama ini impor," katanya. Rencananya kontrak tahap awal sebesar US$ 6 juta untuk bom P100 Live dan sekitar US$ 3 juta untuk Ovab. Bahan baku isi dari bom Sukhoi saat ini sedang dipersiapkan oleh PT Dahana. PT Dahana memulai membangun pabrik bahan baku bom atau peledak (NAC/SAC). Sedangkan untuk komponen fuse, saat ini masih diimpor dari Bulgaria. "Fuse kita tetap impor. Tapi dengan skema transfer teknologi. Kita impor dari Bulgaria," jelasnya.(feb/hen)   ★ detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana,Inhan,PINDAD

Pabrik Propelan di Subang

Punya Pabrik Bahan Baku Roket Pertama, RI Bisa Hindari Embargo Asing //images.detik.com/content/2014/10/10/1036/141843_roket.jpg Rhan produk lokalKebutuhan produk bahan baku peledak (propelan) untuk amunisi kaliber kecil dan amunisi kaliber besar masih 100% diimpor. Akibatnya pertahanan Indonesia masih sangat bergantung dengan produk luar. Kini, BUMN strategis PT Dahana (Persero) mulai membangun pabrik propelan pertama di Indonesia yang lokasinya di Subang, Jawa Barat. Propelan merupakan bahan baku untuk pembuatan peluru, roket, peluru kendali hingga untuk amunisi. Melalui pembangunan komponen pemenuhan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dari industri dalam negeri maka Indonesia setidaknya ke depan bisa tetap punya pertahanan baik, bila ada risiko terkena embargo dari pihak asing. "Kita Bisa hindari embargo asing, serta bisa memenuhi kebutuhan pendorong roket higga amunisi. Itu sangat dibutuhkan oleh TNI dan Polri," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat saat acara groundbreaking pabrik propelan di area Energic Material Center di PT Dahana (Persero), Subang Jawa Barat, Jumat (10/10/2014). Untuk pengembangan pabrik ini, PT Dahana menggandeng perusahaan propelan dunia asal Prancis yakni Roxel dan Eurenco. Alasan menggandeng produsen asal Prancis, karena Indonesia belum memiliki kemampuan dan teknologi untuk memproduksi propelan, maka diperlukan mitra untuk program transfer teknologi. "Gagasan pabrik propelan sudah cukup lama namun R&D sulit dilakukan karena bahan baku utama sulit didapatkan," sebutnya. Sedangkan Direktur Utama PT Dahana Harry Sampurno mengatakan pada tahap awal akan memprioritaskan produksi propelan untuk amunisi kaliber kecil. Pembangunan pabrik propelan fase I akan tuntas dalam 3 tahun ke depan. Kebutuhan propelan dalam negeri sebanyak 400 ton per tahun nantinya akan terpenuhi dari pabrik di Subang. Selama ini 100% propelan harus diimpor. "Mulai produksi tahap pertama. Ini selesai selama 36 bulan. Kapasitas produksi total mencapai 800-1.000 ton per tahun," sebutnya.(feb/hen)

  ♞ detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana,Inhan

Pembangunan Industri Propelan

Menperin hadiri "ground breaking" pembangunan industri propelan Menperin: pembangunan industri propelan tegaskan eksistensi NKRI Menteri Perindustrian MS Hidayat (ANTARA)

Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat menghadiri peletakan batu pertama atau "ground breaking" pembangunan industri propelan di Subang, Jawa Barat, guna mewujudkan kemandirian bangsa khususnya untuk penguasaan kemampuan di bidang industri alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Pembangunan industri propelan tersebut merupakan salah satu hubungan bisnis antara Indonesia dengan Perancis, dalam hal ini Roxel dan Eurenco.

"Semoga hubungan dua negara yang diwujudkan dalam kerjasama bidang industri alutsista ini semakin meningkat di masa mendatang," kata Mohamad S Hidayat saat memberikan sambutan pada acara tersebut berdasarkan siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.

Dalam kerja sama ini, Eurenco bertindak sebagai perusahaan yang mengembangkan, memproduksi dan menyediakan aneka ragam bahan energetik untuk pertahanan dan pasar komersial.

Sementara itu, Roxel France sebagai perusahaan yang memiliki keahlian dalam bidang desain, pengembangan, produksi serta pemasaran motor roket dan peralatan terkait hardware dan perangkat ledak.

Sedangkan PT. Dahana (Persero), sebagai perusahaan milik negara yang bergerak di bidang industri bahan peledak, bersama dengan Eurenco serta Roxel berkomitmen untuk saling membantu dan mendukung Pemerintah RI dalam mempersiapkan pabrik propelan dan spherical powders di Indonesia.

Produk yang dihasilkan nantinya akan diserap oleh industri pertahanan dalam negeri, karena produk tersebut merupakan bahan baku pembuatan peluru, roket, peluru kendali (missile), serta propelan untuk amunisi kaliber kecil, menengah dan besar. Diharapkan, berdirinya pabrik propelan ini dapat memenuhi kebutuhan propelan di Indonesia dengan kemampuan produksi nitrogliserin sebanyak 200 ton per tahun, spherical powder (propelan double base untuk MKK) sebanyak 400 ton per tahun, propelan double base roket sebanyak 80 ton per tahun dan propelan komposit sebanyak 200 ton per tahun.

Pada acara yang juga dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kedubes Perancis, dan Direksi PT. Dahana (Persero) tersebut, Menperin mengatakan, gagasan untuk mendirikan pabrik propelan di dalam negeri sudah cukup lama.

Oleh karena itu, lanjutnya, penelitian dan pengembangan terus dilakukan, karena untuk memproduksi propelan memerlukan teknologi yang cukup sulit, ditambah sulitnya mendapatkan bahan baku utama, seperti nitrogliserin.

“Apabila ditinjau dari aspek ekonomi dan bisnis, pembuatan pabrik propelan ini membutuhkan investasi yang cukup besar dan tidak pada skala ekonomis sehingga tidak layak secara financial, sehingga tidak memungkinkan apabila pabrik ini didirikan oleh industri," kata Menperin.

Namun, lanjutnya, ada beberapa aspek lainnya yang tidak kalah penting yang dapat memungkinkan didirikan pabrik propelan, salah satunya adalah aspek penguasaan teknologi, yang dinilai penting dalam pengembangan industri nasional.Pembangunan industri propelan tegaskan eksistensi NKRI "Ancaman ini dapat berupa ancaman konvesional dan non-konvensional. Untuk mengantisipasi adanya potensi ancaman tersebut, diperlukan kemandirian kemampuan terutama dalam hal Hankamnas dan penyediaan Alutsista," https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj54eQrtSb1Y1RDZcHGf3c7rq90GviLfXdI7WYTZpk1THxpvSGoJ9-3lkbDmZcImK-bP49QuPZ_eegPRBkpKPNQPJy1qN7RMeGJzJo9cQDN9GHT8NZoB5plcNcsh88LW4zUcsCB-uMu62cW/s1600/130312_RMN-BISNIS-01-PT-DAHANA-SUBANG.jpg Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat mengatakan pembangunan industri propelan di dalam negeri mampu menegaskan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, yang harus dapat mempertahankan dari ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

"Ancaman ini dapat berupa ancaman konvesional dan non-konvensional. Untuk mengantisipasi adanya potensi ancaman tersebut, diperlukan kemandirian kemampuan terutama dalam hal Hankamnas dan penyediaan Alutsista," kata Menperin Mohamad S Hidayat melalui siaran pers di Jakarta, Jumat.

Menperin mengatakan, dalam menghadapi situasi global yang semakin tidak menentu, stabilitas nasional menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Oleh karena itu, lanjutnya, memantapkan stabilitas nasional dibutuhkan dukungan berbagai pihak, tidak hanya dari TNI semata, tetapi juga dari Industri Pertahanan dalam negeri.

Menurut Menperin, pendirian pabrik propelan di Subang, Jawa Barat, ini dalam jangka pendek bertujuan untuk memproduksi propelan amunisi dan roket serta dapat menghemat devisa karena selama ini kebutuhan propelan Indonesia diimpor dari luar negeri.

Sedangkan dalam jangka panjang, pabrik ini bertujuan untuk diversifikasi produk propelan dan penetrasi pasar regional, sehingga dengan adanya pabrik ini diharapkan dapat tercipta kemandirian propelan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan kepada pihak asing.

Selain itu, tambahnya, pendirian pabrik propelan di dalam negeri juga diharapkan mampu mendukung kebutuhan operasi baik kuantitas maupun kualitas, seperti kegiatan komando pendidikan, bekal persediaan di seluruh Kodam, serta bekal pertahanan di tempat-tempat maupun instalasi strategis dan latihan rutin untuk pasukan.(*)

  ★ antara

Posted in: Alutsista,Dahana,Ilmu Pengetahuan,Inhan







Produksi Bom P100L

TNI AU cek persiapan PT Dahana Ujicoba Bom P100 Sari Bahari

PT DAHANA (Persero) kini tengah menggarap persiapan produksi bahan peledak militernya, yaitu bomb P 100 Live untuk amunisi pesawat Sukhoi. Sebelum jauh memasuki produksi massal, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Amirudin Akhmad mengecek langsung perkembangan persiapan alat produksi yang dimiliki oleh Dahana yang berada kawasan Energetic Material Center (EMC) Dahana Subang. Kedatangan Amirrudin Akhmad pada Selasa, 30 September 2014 bersama timnya disambut langsung oleh F. Harry Sampurno Direktur Utama PT DAHANA (Persero) beserta tiga direksi lainnya.

“Kami ingin mengetahui, sudah sejauh mana perkembangan persiapan proyek Bomb P 100 L yang sudah dilakukan oleh DAHANA, karena sebelum menuju produksi massal, DAHANA sudah harus mempersiapkan Protoype P 100 L yang nantinya akan kami uji untuk mendapat sertifikasi, apakah cocok dengan kebutuhan kita,” terang Amirudin Akhmad kepada Dfile.

Untuk melihat langsung persiapan yang telah dilakukan oleh DAHANA, Tim EMC mengajaknya untuk meninjau langsung perlengkapan yang sudah dipersiapkan dan disimpan sementara di Gedung Workshop DAHANA. Nampak beberapa perlengkapan yang telah disiapkan pada tahap awal ini. Lempengan cetakan untuk uji kepadatan handak serta alat pemanas dan pendingin yang akan digunakan saat pengisian bahan peledak pada bomb produksi P 100L. Tim juga diajak mengecek laboratorium sebagai tempat uji formula serta meninjau langsung pabrik meltpour yang nantinya sebagai tempat pengisian handak bomb pesawat Shukoi.

Melihat apa yang telah disiapkan oleh DAHANA, Amirudin Akhmad pun berharap DAHANA untuk segera menyelesaikan tahap awal pembuatan P 100 L. “Kita kan mulai lagi dari nol, jika melihat apa yang telah disiapkan untuk langkah awal sudah sangat memadai, oleh karena itu saya berharap ini secepatnya terealisasi agar nantinya bisa memasuki tahap produksi massal,” ujar Amirudin Akhmad.

Dalam menangani proyek ini, PT DAHANA (Persero) tidak sendirian, namun menggandeng perusahaan swasta untuk bekerjasama, PT Sari Bahari dalam pembuatan body P 100 L.

Bom P 100 L merupakan bomb yang akan dipasang pada pesawat Sukhoi. Bomb ini memiliki warna khas yaitu hijau yang panjangnya 1.130 mm dengan berat 100 sampai 125 kg, berdiameter 27 mm dan memiliki ekor yang panjangnya 410 mm.

  ♞ BUMN

Posted in: Alutsista,Dahana,TNI AU

Industri Propelan Dibangun di Subang dengan Investasi Rp 20 Triliun

Bordeaux ● PT Dahana menggandeng anak perusahaan Artha Graha, Indo Pacific Communication and Defence untuk membuat perusahaan patungan bagi industri propelan dengan dua perusahaan Prancis Roxel dan Eurinco. Perusahaan munisi yang akan dibangun di Subang itu akan menelan investasi US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meminta agar pembangunan industri propelan di Subang bisa direalisasikan sebelum bulan Oktober.Saat mengunjungi Industri Propelan Roxel di Bordeaux, Prancis, Jumat (20/6/2014), Sjafrie mengatakan perjanjian kerja sama pertahanan antara Pemerintah Indonesia dan Prancis harus direalisasikan ke dalam kegiatan nyata. Ia mengapresiasi langkah yang ditempuh PT Dahana dan Roxel untuk membuat perusahaan patungan."Saya sangat mengharapkan rencana pendirian perusahaan patungan antara Dahana dan Roxel di Subang bisa segera berjalan. Saya akan membantu agar produk industri propelan nanti tidak hanya dipakai oleh TNI, tetapi juga oleh negara-negara ASEAN," kata Sjafrie.Presiden Direktur Roxel, Jacques Desclaux mengaku kaget atas semangat yang diperlihatkan Wamenhan. Ia akan berusaha dengan PT Dahana untuk bisa segera melaksanakan rencana pembangunan industri propelan di Subang. Investasi Rp 20 triliun  Direktur Utama PT Dahana F. Harry Sampurno melihat pembangunan industri propelan merupakan sesuatu yang harus dilakukan Indonesia. Masalahnya, sekarang ini hampir semua kebutuhan amunisi bagi TNI dipenuhi dari impor."Pengadaan amunisi melalui impor sangatlah riskan. Pertama, pasokan kebutuhannya tergantung kepada pasokan pihak produsen. Kedua, jumlah impor amunisi mudah diketahui negara lain dan itu berkaitan dengan kemampuan pertahanan negara kita," kata Harry.Atas dasar itu PT Dahana mendukung langkah Kementerian Pertahanan untuk membangun industri propelan di dalam negeri. Kehadiran industri propelan akan memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia.Menurut Harry, PT Dahana sudah menyiapkan lahan bagi pembangunan industri propelan di Subang. Di sanalah diharapkan bisa dibangun industri propelan yang bukan hanya memasok kebutuhan TNI, tetapi juga untuk keperluan ekspor.Harry merasa bersyukur bisa bekerja sama dengan Roxel dan juga Eurinco. Sebab, Roxel sudah mengembangkan munisi dan industri propelan sejak tahun 1660. Investasi yang diperlukan untuk membangun industri propelan, menurut Harry, diperkirakan mencapai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Indonesia akan memiliki 51 persen saham, sementara Roxel dan Eurinco sebanyak 49 persen.Anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan Muhammad Said Didu mengatakan kerja sama yang dilakukan PT Dahana dan Roxel serta Eurinco sangat baik bagi Indonesia. Dengan model membentuk perusahaan patungan, maka Indonesia akan terlibat langsung dalam proses produksi, sehingga alih teknologi bisa terjadi."Pihak Roxel akan menyerahkan seluruh kepemilikan saham kepada Indonesia apabila putra-putra Indonesia bisa mengerjakannya sendiri. Divestasi itu diperkirakan akan terjadi setelah enam tahun perusahaan berjalan," kata Said Didu.Untuk memenuhi kebutuhan investasi, PT Dahana menggandeng anak perusahaan Kelompok Artha Graha untuk bergabung. Apabila groundbreaking bisa dilaksanakan bulan Oktober, pembangunan industri propelan diharapkan bisa selesai dalam waktu 40 bulan.Produk munisi yang dihasilkan akan mampu memenuhi kebutuhan peluru yang diperlukan TNI dan juga peluru kendali. Bahkan peluru kendali yang diproduksi bisa berbentuk peluru kendali dari darat ke darat, dari darat ke udara, dan dari udara ke udara.

  ★ detik

Posted in: Alutsista,BUMNIS,Dahana,Inhan,Kerjasama

Bahan Peledak Made in Indonesia

Kerjasama Pindad dan Dahana //images.detik.com/content/2014/09/15/1036/122732_pindaddahana.jpg PT Pindad (Persero) mulai serius menggunakan propelan buatan dalam negeri guna keperluan pembuatan amunisi. Propelan itu hasil racikan PT Dahana (Persero). Selama ini Pindad melakukan proses impor untuk memperoleh propelan atau bahan peledak yang digunakan sebagai pembentuk gas pendorong bagi peluru atau roket. Pindad sepakat membeli propelan produksi Dahana. Nota kesepahaman antar kedua perusahaan pelat merah tersebut ditandatangani Direktur Utama Pindad Sudirman Said dan Direktur Dahana F. Harry Sampurno di kanto Pindad, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Senin (15/9/2014). Kedua bos BUMN strategis tersebut mengakui kerjasama yang terjalin ini sebagai simbol ikhtiar menuju kemandirian industri pertahanan di dalam negeri oleh anak negeri sendiri. "Adanya kerjasama ini, maka kami bisa memperoleh jaminan pasokan propelan produksi dalam negeri. Kami kerjasama dengan saudara kandung (Dahana)," ucap Sudirman. Guna memenuhi kebutuhan propelan untuk memproduksi ratusan juta butir peluru, Pindad mengimpor propelan dari Belgia, Korea, dan Taiwan. Kebutuhan propelan 200 hingga 250 ton perbtahun. "Kami berharap setelah pabrik propelan Dahana rampung pembangunannya, kami akan mendapat pasokan yang lebih kompetitif harganya ketimbang produk impor. "Kita lihat pesyaratan teknis. Kalau sesuai spek, kita stop impor propelan," tutur Sudirman. Hadirnya propelan racikan Dahana akan membuat produksi amunisi Pindad lebih efesien dan kompetitif di pasaran. Pindad sebagai produsen alat utama sistem persenjataan (alutsista) ini tengah menyelesaikan proses kerjasama dengan Rheinmetall Danel Munition (RDM) guna produksi amunisi kaliber besar di Turen, Malang. Bisa dipastikan terjadi peningkatan kebutuhan propelan untuk memenuhi kebutuhan amunisi produk kerjasama dengan perusahaan patungan Jerman-Afrika Selatan tersebut. Bagi Dahana perjanjian dengan Pindad ini merupakan langkah strategis bagi perkembangan usaha. Pihak Dahana menyebut tengah menuntaskan pembangunan pabrik bahan peledak di Kabupaten Subang, Jabar. Kesepakatan kerjasama tersebut memungkinkan Dahana memperoleh jaminan pembelian produksi propelan oleh industri pertahanan dalam negeri. "Kami (Dahana) dan Pindad itu saudara. Tentu kami berharap, ini bukan satu-satunya kerjasama yang dilakukan, tapi bisa kerjasama lainnya," Harry Sampurno. Tak dipungkiri selama ini penguasaan teknologi, suntikan modal kerja dan pasar produk pertahanan masih didominasi pihak asing. "Cikal bakal kerjasama seperti ini yang kelak bisa menjadi bisnis model antar BUMN. Kami siap melayani keperluan industri pertahanan dalam negeri," kata Harry.   ★ detik

Posted in: Alutsista,Dahana,Inhan,Kerjasama,PINDAD

Membumikan Mimpi Propelan

Anggaria Maharani, Pengembangan Produk PT DAHANA (Persero)★

Digagas sejak lima tahun silam, pembangunan pabrik bahan bakar pendorong roket (propelan) pertama di Indonesia akhirnya terwujud pada tahun ini. Tak mudah bagi PT DAHANA (Persero) merealisasikan industri yang sarat dengan teknologi tinggi ini. Masih dianggap sebagai produk yang belum banyak diminati pasar dan nilai investasi tinggi, membuat industri propelan hanya dimiliki segelintir pemain di dunia.

Kendati demikian, hal tersebut tak lantas menyurutkan langkah DAHANA merealisasikan industri propelan di dalam negeri. Tanpa mengesamping aspek bisnis, pembangunan pabrik propelan ditujukan sebagai sabagai salah satu lokomotif utama kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Sesuai dengan transformasi perusahaan menjadi serving the nation better, dari sebelumnya serving your company better, pembangunan industri propelan akan mendorong industri alutsista terkait lainnya dan tidak lagi bergantung pada propelan impor.

Berbagai langkah strategis pun telah disusun untuk memuluskan proyek senilai lebih dari US$ 300 ini. Pengembangan pasar, inovasi teknologi, hingga penyiapan SDM terus dikebut BUMN bahan peledak ini sejak tahun lalu. Berikut petikan wawancara DFile DAHANA dengan Anggaria Maharani dari Bagian Pengembangan Produk yang sekaligus menangani propelan.

Apa rencana strategis jangka panjang pengembangan propelan?

Pengembangan propelan di DAHANA jangka pendek (1 s.d 2 tahun) adalah penelitian dan pengembangan prototipe Nitrogliserin (NG) yang digunakan sebagai bahan baku propelan double/triple base. Rencana pengembangan NG diharapkan pada tahun 2015 ini dapat terealisasi. Sedangkan jangka menengah (2 s.d 5 tahun), rencana pembangunan dilakukan untuk double base propellant untuk munisi kaliber kecil (spherical powder) dan double base propellant untuk roket menggunakan metode extruded double base (EDB). Sementara, rencana pengembangan jangka panjang atau lima tahun ke depan di antaranya pengembangan Composite propellan, Rocket motor, Single base dan multibase propellant untuk munisi kaliber besar, dan high explosives, energetic nitrocellulose untuk military purposes.

Bagaimana langkah penyediaan SDM untuk indutri propelan Dahana?

Sumber daya manusia (SDM) disipakan melalui pelatihan (training) dan OJT pada saat proyek berlangsung. Teoritical dan practical training dapat dilaksanakan didalam maupun luar Indonesia untuk membangun kompetensi yang handal dalam bahan peledak khususnya propelan. Salah satu training yang telah dijalankan terkait Industri propelan, DAHANA bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi mengadakan lokakarya teknologi propelan yang mengusung tema menuju Indonesia mandiri. Diharapkan Industri propelan dapat terwujud di Indonesia dengan peran sinergi akademisi, pemerintah dan industri.

Pasar yang sudah ada saat ini, dan target pasar yang disasar ke depan?

Pasar propelan dalam negeri yang sudah ada saat ini digunakan oleh kementerian pertahanan seperti marinir untuk pengembangan roket pertahanan (Rhan 122), spherical powder untuk munisi kaliber kecil yang merupakan kebutuhan PT Pindad dalam mendukung kebutuhan operasi TNI & POLRI. Selain untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, ASEAN sebagai pasar propelan akan dijajaki sebagai target pengembangan ke depan.

Kendala dalam pembangunan pabrik propelan?

Kendala utama dalam pembangunan pabrik propelan adalah mengenai dana. Kebutuhan investasi dalam pembangunan pabrik propelan yang tinggi perlu mendapatkan bantuan dana atau modal kerja awal dari pemerintah. Diperlukan juga fasilitas-fasilitas dari pemerintah yang mendukung investasi yang nilainya besar seperti: tax holiday, pembebasan bea masuk, dan sebagainya. Selain dana, penyiapan sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor penting sehingga diperlukan adanya road map dalam penyiapan SDM yang handal dalam segala lini.

Nilai tambah propelan Dahana dibanding produsen propelan lain di dunia?

Pertimbangan utama dalam pembangunan pabrik propelan ini adalah kemandirian pasokan propelan. Kemandirian pasokan propelan ini dapat meningkatkan kecepatan dan fleksibiltas produksi dalam negeri, tidak bergantung pada impor dan mengurangi potensi adanya embargo. Sedangkan dilihat dari sisi harga ini bergantung pada investasi dan serapan pasar.

Bagaimana aspek safety pabrik dan penyimpanan?

Meskipun propelan termasuk dalam low explosives, potensial ledakan dalam site seperti bangunan proses dan penyimpanan bahan peledak dapat terjadi. Aspek keselamatan bangunan proses dan penyimpanan harus diatur dan dipastikan jumlah bahan peledak yang diijinkan serta dihitung jarak aman antar bangunan. Evaluasi estimasi jumlah bahan peledak dalam masing-masing bagian atau bangunan dihitung berdasarkan standar internasional jarak aman.

Ketersediaan bahan mentah?

Bahan baku propelan dapat dipenuhi dalam negeri seperti gliserin, nitroselulosa, asam nitrat dan asam sulfat. Khusus untuk nitroselulosa, bahan baku yang tersedia dalam negeri penggunaannya masih untuk komersial grade, diperlukan peningkatan kadar Nitrogen yang lebih tinggi untuk dapat digunakan dalam aplikasi militer. Pada tahap jangka panjang pengembangan teknologi Energetic nitrocellulose untuk military purposes akan dilakukan.

Apa saja bentuk dukungan nyata pemerintah ?

Dukungan nyata yang diharapkan oleh pemerintah adalah subsidi biaya investasi dan modal kerja untuk pembangunan pabrik propelan. Hal lain yang dapat diperoleh berupa dukungan penyediaan fasilitas fiskal dan lainnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku seperti bantuan pembebasan pajak bea masuk peralatan pabrik, pembebasan pajak, penyertaan modal pemerintah, subsidi dll.

Produk turunan atau lain apa saja yang dapat dikembangkan dari propelan? Produk lain yang dapat dikembangkan dari propelan antara lain air bag pada mobil (automotive airbag), bahan pendorong ejection seat, gas generator grain, gas gun yang melepaskan gas tekanan tinggi untuk merekahkan (fracturing) batuan atau High Energy Gas Fracturing, nama lain yang sering digunakan dalam industri minyak dan gas aerosol spray cans (Aerosol spray propellant).

Bentuk ToT dari perusahaan Perancis?

DAHANA akan menerima exclusive licence untuk digunakan di Indonesia berupa general know how terkait dengan produk yang akan diproduksi. General know how yang dimaksud berupa design, drwaing, pengoperasian pabrik, speksifikasi teknis, kontrol kualitas sampai dengan bantuan teknis dan pelatihan terkait dengan spherical powder ataupun extruded double base (EDB). Bentuk lain yang diberikan adalah pengembangan kemampuan sumber daya manusia, knowledge, teknologi dan metode dalam manufaktur.

  ☠ Dahana

Posted in: Alutsista,Artikel,Dahana

★ Bom Pesawat Produksi Lokal

Rancangan Dislitbang TNI AU bersama Pindad & PT Dahana Pesawat Sukhoi TNI AU melaksanakan bombing carpet [TNI AU] ☆

Berbicara Alutsista satu ini, Indonesia semenjak beberapa tahun lalu sudah menciptakan beberapa macam bom untuk pesawat tempur.

Berbagai macam bom telah dihasilkan PT Pindad bersama PT Dahana sebagai penyuplai bahan peledak dan juga Dislitbang TNI AU. Melihat bermacam pespur TNI AU dari negara barat dan Timur, maka TNI AU harus siap menyediakan berbagai macam bom.

Dengan berusaha mandiri, Dislitbangau merancang berbagai macam bom keperluan TNI AU. Sebagai contoh pesawat Sukhoi menggunakan bom yang berbentuk menyerupai seperti tabung gas, berbeda dengan pesawat dari negara barat.

Dalam MEF pertama, ada sebuah perusahaan PT Sari Bahari turut juga merancang bom P100 khusus pesawat dari Rusia tersebut, dan telah diproduksi untuk kebutuhan pesawat Sukhoi TNI AU.Bom P100 & BT 250 Bom Tajam BTN 250 buatan Pindad (Pindad) ☆

Semenjak tahun 2011 pesawat tempur Sukhoi kini semakin komplet setelah dilengkapi bom tajam nasional BTN-250 dan bom latih asap BLA-50 produksi PT Pindad.

Mengutip media seputar indonesia, bom yang dalam katalog PT Pindad disebut dengan BT-250 ini, di dalamnya terdapat tritonal 90 kilogram dengan daya ledak dan hancur yang besar. Pesawat Sukhoi mencoba bom P100 buatan lokal [TNI AU] ☆

Bom juga dilengkapi fuze pada ekor dan hidung bom, serta arming distance yang dapat diatur sesuai ketinggian pengeboman.

Hal ini memungkinkan bom untuk dapat berfungsi pada segala jenis medan operasi dan penggunaannya, termasuk mengenai prosedur dan parameter pengeboman Sukhoi. Misalnya kapasitas maksimal pesawat untuk single release dan fight data recording.Bom BEP anti personal Bom BEP (Blast Effect Bom) Anti Personel produksi lokal hasil rancangan Dislitbang TNI AU [TNI AU] ☆

Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) membuat bom anti personel, guna mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk luar negeri dan sebagai wujud kemandirian terhadap industri pertahanan di tanah air.

Sementara, Tim Dislitbangau memaparkan hasil penelitian dan pembuatan Blast Effect Bom Anti Personel yang merupakan bom yang dirancang khusus untuk menghasilkan serpihan yang disesuaikan dengan sasaran menggunakan pesawat F-16/Fighting Falcon di ASR Pandanwangi, Lumajang Jawa Timur.Bom Mk Family lokal Bom Mk Family produksi lokal [TNI AU/def.pk] ☆

Bom seberat 250 kilogram karya Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU berhasil diujicoba tahun 2013 di air weapon ring (AWR) Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur.

Pengeboman dari pesawat F16/Fighting Falcon itu bagian dari uji coba bom blast effect antipersonel. Karakter bom jenis ini saat menyentuh sasaran akan meledak dan pecahan cangkangnya menyebar mengenai sasaran.

Kadislitbangau, Marsma TNI Edy Yuwono, mengatakan ke media, bahwa uji coba merupakan upaya mengurangi ketergantungan terhadap alat utama sistem persenjataan luar negeri. “Dengan ketersediaan alutsista produksi dalam negeri yang memadai maka kemampuan operasional TNI Angkatan Udara dapat terlaksana dengan baik,” jelas Edy Yowono dalam keterangan pers. Ujicoba bom 250 produksi lokal pada pesawat F16 [TNI AU] ☆

Di sisi lain, pengembangan bom pesawat di Indonesia dilakukan PT Pindad dan PT Sari Bahari.

Bila setelah membentur sasaran langsung meledak, dan serpihan tidak terarah itu tak tepat,” jelas humas PT Pindad kepada media Bisnis.

Dia menilai bom antipersonel yang baik bila telah menabrak sasaran, masuk beberapa meter dan baru meledak. Efek serpihannya dalam kondisi itu diharapkan bisa melumpuhkan personel, mengenai leher atau badan.

Bambang mengatakan satu bom latih biasanya diproduksi dengan biaya Rp 20 juta sampai Rp 50 juta. Meski demikian semakin banyak bom dibuat maka harganya bisa semakin ditekan.

Berikut dibawah penampakan bom lainnya produksi PT Pindad :

pindad-bom-1.jpg

tni-3.jpg

Bom produksi PT Pindad diujicoba pada pesawat Super Tucano. Berbagai alutsista diproduksi untuk kebutuhan TNI AU. [Dispen TNI AU/def.pk]

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdsGGP0wa0qRr7Be-9vfuSfzcf7EUWW0jphRYhtgY3hPpsWu7vhGWVftVPBWDdwW5nkrxOFWcVHv3XQL2nCjoB7XiESTPFFBYN_zV6vg2HDdI-54LfA1dKXMLEVtlkn33RT7GiclZB1FU/s1600/10416634_543380372436977_6830199534503973074_n.jpg

Uji dinamis Bom BT500 produksi Pindad. Bom ini dikenal sekelas dengan bom Mk 82 produksi barat. [TNI AU]

pindad-jdam.jpg

Bom pintar atau biasa disebut smart bomb atau JDAM (Joint Direct Attack Munition). Rencananya bom produksi PT Pindad ini akan diujicoba secepatnya. [Pindad/def.pk]

  ☆ Garuda Militer

Posted in: Alutsista,Dahana,Foto,Hankam,Indonesia Teknologi,PINDAD,TNI AU